WARNING!
IF YOU DON'T LIKE BOYS LOVE/SHOUNEN AI/YAOI, PLEASE JUST IGNORE IT.
Fandom : Super Junior
Cast : Super Junior and SMTown
Pairing : KiHae, KyuHyuk, HanChul, KangTeuk
Rated : M/MPreg
Chapter : 7
Genre : Romance, Hurt/Comfort.
Disclaimer : All cast belongs to God and themselves.
~Nappeun Bam~
"Ketika sang pujaan tak memihak, pada siapa kau kan berpijak. Bunga layu tak berarti ia akan mati. Hanya tinggal menanti akan datangnya bunga indah yang kan mengganti."
Chapter 7: Doubt
Tik tok tik tok
Denting jarum jam berbunyi nyaring mengisi sunyinya sang ruang. Nuansa putih tenang menyelimuti dinding sang penyanggah. Aroma obat-obatan berbaur bersama harumnya pewangi ruangan. Hal yang sama yang selalu ia rasakan ketika ia menunggu, menunggu mereka yang sedang beradu dengan nyawa dan waktu.
Donghae jenuh, rasa bosan menyergap seluruh semangatnya. Hanya berdiam diri, tak ada yang dapat ia lakukan di ruangan Kibum. Jika saja Sooyoung sedang tidak melakukan penyuluhan di luar kota, mungkin ia tidak harus menunggu Kibum di ruangannya. Enam jam ia telah menunggu, menunggu Kibum yang sedang melaksanakan pengabdiannya sebagai dokter. Ia rebahkan tubuhnya di sofa, namun terdengar suara pintu dibuka setelahnya. Menampakkan sang pemilik ruang dengan wajah lelah yang begitu ketara.
"Sudah selesai?" Tanya Donghae, menyambut Kibum dengan senyuman manisnya.
"Hm." Jawab Kibum singkat. Ia terlalu lelah untuk menanggapi lebih. Ia pun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya dengan paha Donghae sebagai bantalannya.
Donghae yang melihatnya pun hanya dapat tersenyum maklum. Ia raih kacamata yang masih bertengger manis di hidung Kibum, meletakkannya pada nakas di samping kursi panjang yang kini mereka tempati. Ia menyisiri dan sedikit menariknya pada rambut Kibum dengan jemarinya, memberikan rasa rileks bagi ia yang kini mulai merasa nyaman.
"Semua berjalan lancar?" Tanya Donghae kembali, yang kini tangannya beralih memijat pelipis Kibum.
"Aku hampir membunuh pasienku." Jawab Kibum dengan lesu. Nada penyesalan terdengar jelas darinya. Ia pun tak habis pikir, mengapa ia dapat selalai itu dalam menangani pasiennya kali ini. Pikirannya kalut.
"Tapi kau berhasil menyelamatkannya bukan." Ujar Donghae mencoba menyemangati kekasihnya. Kibum telah berusaha keras demi keselamatan orang-orang yang menjadi pasiennya. Dan Donghae bangga akannya.
Kibum raih tangan Donghae yang masih setia pada pelipisnya. Ia bimbing tangan itu menuju pipinya, menikmati sensasi yang begitu nyaman dari tangan yang masih dalam genggamannya. Donghae pun mengerti, ia gerakkan ibu jarinya mengusap permukaan lembut wajah Kibum. Memberikan kenyamanan yang lebih pada sosok dalam pangkuannya.
"Menginaplah di apartementku malam ini." Pinta Kibum.
"Baru dua hari yang lalu aku menginap. Kenapa tidak kau saja yang menginap di apartementku?" Tanya Donghae balik.
"Ada si cadel." Jawab Kibum singkat. Ia tidak ingin waktu bersamanya dengan Donghae harus diganggu orang lain.
"Memangnya kenapa bila ada Sehun?" Tanya Donghae kembali. Agak sedikit kesal dengan penuturan Kibum. Apa yang salah dengan Sehun?
"Aku merindukanmu Hae." Jawab Kibum juga sedikit kesal, karena kekasihnya yang tidak peka.
"Ck, Kita bertemu hampir setiap hari, tapi masih saja kau merindukanku. Bagaimana kalau kita hanya bertemu sebulan sekali?" Donghae berceloteh, yang membuat Kibum semakin pening dan ingin mencubit gemas Donghae.
"Aish.." Kibum mendesis, ia pijat pelepisnya menanggapi perlakuan Donghae.
"Araso. Jangan marah seperti itu." Donghae terkekeh, mengerjai kekasihnya sedikit menyenangkan.
Tidak membalas ucapan Donghae, Kibum memilih memutar tubuhnya. Ia peluk tubuh Donghae, wajahnya menghadap perut Donghae yang telah membesar sempurna. Ia cium perut Donghae dengan lembut. Menghantarkan kasih sayangnya pada sosok yang akan hadir menemani mereka.
"Aku merindukanmu, Hae." Kibum berujar pelan dan terdengar sedikit aneh di telinga Donghae.
"Tapi Bumie.." Ada keraguan dalam kata yang terujar.
"Aku tidak akan menidurimu." Balas Kibum tiba-tiba.
"Eh? Bukan itu yang kumaksud. Tapiiii... memangnya kenapa? Bukankah itu baik untuk persalinanku nanti?" Tanya Donghae dengan suara yang semakin mengecil, karena malu dengan penuturannya.
"Yah memang. Tapi selain itu, dapat membuatmu kontraksi lebih cepat. Dan aku tidak ingin itu terjadi." Ujar Kibum menjelaskan.
"Begitukah? Berarti aku seharusnya menjauhi dirimu." Ujar Donghae kembali menggoda Kibum. Namun tak mendapat respon dari Kibum.
Kini Kibum mendudukkan dirinya di samping Donghae. Ia raih tubuh Donghae, mengantarnya untuk duduk di atas pangkuannya. Ia rengkuh tubuh Donghae, mendekapnya erat. Ia sandarkan kepalanya pada bahu Donghae. Menyandarkan gundahnya pada bahu yang senantiasa menyanggahnya.
"Biarkanlah seperti ini untuk sementara." Pinta Kibum. Mencoba melupakan sejenak rasa gundahnya. Rasa kekhawatiran yang begitu besar pada sosok yang kini dalam dekapannya.
"Apa yang harus kulakukan?" Tanya Kibum membatin.
Flashback
From : EvilKyu
Aku mendapatkan masalah mengenai daftar tamuku. Ini menyangkut keberadaan Donghae. Aku takut ini akan menjadi masalah besar. Datanglah sekarang ke apartemen Hyukjae.
Kibum melaju mobilnya dengan cepat. Setelah mengantarkan Donghae kembali ke apartemennya, ia langsung bergegas berpamitan dengan Donghae ketika membaca pesan dari Kyuhyun untuknya. Apa maksud dari pesan tersebut? Apakah Siwon menjadi salah satu tamu undangan pada pagelaran nanti? Tapi bagaimana bisa? Tak ingin menduga-duga, maka ia laju kemudinya semakin cepat untuk mendapatkan penjelasan segera.
Praakk~
Terdengar suara map tebal yang terbentur dengan meja karena aksi lempar dari Kibum. Ia kesal setelah membaca apa yang terpampang di sana. Hyundai Corps atas nama Choi Siwon tertera jelas di dalam map daftar tamu tersebut. Belum reda rasa amarahnya, Hyukjae menghampiranya dan menunjukkan sebuah pesan yang membuatnya semakin gusar.
From : +8250545xxxx
Terima kasih atas undanganmu. Aku akan datang, dan aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. –Choi Siwon-
Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. Untuk pertama kalinya ia begitu marah kepada orang lain. Apa maksud dari perkataan Siwon tersebut. Mengambil miliknya? Apa? Siapa? Donghae kah? Jika benar, mengapa ia ingin mengambil apa yang telah ia buang? Kibum bena-benar marah dibuatnya.
"Mengapa ini bisa terjadi?" Kibum pun bertanya. Mereka adalah penyelenggara acara tersebut, tapi mengapa mereka mencantumkan nama Siwon yang tak lain adalah sumber masalah Donghae.
"Maaf ini di luar kuasa kami. Kau tahu JYP Nation Group?" Tanya Kyuhyun.
"Hm." Jawab Kibum dingin.
"Mereka adalah donatur terbesar kami. 30% mengenai konsep, tamu dan ticketing di bawah kendali mereka. dan tiga tamu teratas yang tertera di sana adalah tamu undangan khusus dari pihak sana. Dan kami tak dapat melakukan apa-apa." Terang Kyuhyun pada sahabatnya tersebut.
"Kau pemilik acara, kau pasti dapat menolak itu bukan?" tanya Kibum mencoba mendesak.
"Alasan apa yang harus ku gunakan? Mereka adalah perusahaan besar yang tidak bisa kau abaikan begitu saja keberadaannya. Menolak satu sama saja kau menolak semuanya." Ujar Kyuhyun mencoba kembali untuk menjelaskan.
"Apa dalam MOU kau tunduk sepenuhnya kepada mereka?" Kibum mendesak, tidak suka dengan jawaban Kyuhyun yang seakan mereka rela diperbudak.
"Tentu tidak, dalam perjanjian ada yang dapat kau sentuh dan ada yang tidak dapat kau sentuh. Dalam kasus ini, ini dapat dikatakan suatu hal yang kecil namun nyatanya begitu berdampak besar bagi kita. Mana terpikirkan oleh ku bila masalah tamu saja bisa membuat keadaan kita semakin runyam." Kyuhyun beragumen, sedikit kualahan dengan sifat keras kepala lawan bicaranya.
"Bukankan kehilangan satu sumber uangmu, bukan menjadi masalah bagimu?" Kibum terus menyerang Kyuhyun, agar temannya dapat membatalkan atau memblackllist Siwon dari daftar tamu.
"Dimana akal sehatmu Kibum? Kau menyuruhku membatalkan kontrak pada salah satu perusahaan terbesar di Korea yang sudah membantuku bertahun-tahun membangun sanggar ini?" Kyuhyun tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kibum. Sebegitu kalutnya kah Kibum?
Mereka terus beradu argument mengenai kasus ini. Teriakan demi teriakan pun lolos dari bibir mereka. Sedangkan Hyukjae hanya dapat memperhatikan mereka dengan rasa takut. Ia tak bisa melerai mereka atau pun ikut berargumen. Yang dapat mengimbangi pembicaraan mereka ya hanyalah mereka sendiri. Keduanya keras kepala. Maka ia putuskan hanya menunggu.
"Kalau begitu batalkan saja acara ini." Celetuk Kibum, yang tentu menyulut amarah Kyuhyun yang sejak tadi ia tahan.
Buugghh..
Satu pukulan mendarat manis pada rahang Kibum. Hilang sudah kesabarannya. Ia raih kerah baju Kibum yang tersungkur. Ia tatap nyalang wajah Kibum. Namun tatapannya meneduh saat melihat pancaran ketakutan dan kegelisahan terpampang pada netra Kibum. Ia pun mengendurkan cengkramannya. Ia sandarkan kepalanya pada bahu lebar Kibum.
"Aku tahu kau sedang mencoba melindungi orang yang begitu berharga bagimu. Aku pun demikian. Aku ingin melindungi apa yang aku cintai. Pagelaran ini begitu berarti bagi Hyukjae, bertahun-tahun kami membangunnya bersama. Tapi dengan mudahnya kau mengatakan untuk membatalkannya?" Kyuhyun kembali memperkuat cengkramannya.
"Jika aku ingin berbuat egois, aku tidak akan memberitahumu masalah ini. Tak hanya dirimu, aku, Hyukjae dan yang lainnya pun ingin melindungi Donghae. Kami pun sedang berusaha menyelesaikan masalah ini. Bila kita lari dari hal ini, bukan berarti kita akan terlepas dari segalanya. Jadi ku mohon tenangkanlah pikiranmu dan jangan lagi mengatakan hal bodoh yang dapat membuatku memukulmu lagi." Kyuhyun melepaskan cengkramannya. Ia beranjak menghampiri Hyukjae yang kini nampak semakin ketakutan. Ia rengkuh tubuh itu, menenangkan tubuh yang mulai bergetar.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Berdoalah, ia tidak akan lagi mengambil Donghae kita. Aku tidak akan membiarkan itu." Kyuhyun terus merapalkan kata-kata untuk menenangkan Hyukjae dan juga dirirnya sendiri.
"Pabo!" Celetuk Kibum tiba-tiba. Membuat Kyuhyun dan Hyukjae menoleh padanya.
Kibum terduduk di lantai, kepalanya tertunduk. Meruntuki apa yang telah ia lakukan. Mengapa ia bisa mengeluarkan kata-kata itu. Ia hampir saja menghancurkan mimpi sahabatnya. Betapa bodohnya ia, membiarkan rasa ketakutan menenggelamkannya. Ia begitu hina. Ia bersyukur, ada Kyuhyun yang menyadarkannya. Jika tidak, ia tidak tahu hal bodoh apa yang akan ia lakukan nanti.
"Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf, Kyuhyun, Hyukjae." Kibum membungkuk, menyesal akan perbuatanya.
"Kau seperti orang lain saja. Sini kau es batu sialan." Panggil Kyuhyun, yang langsung memiting Kibum.
"Aku tetap lebih tua dari mu, setan sialan. Lepaskan!" Tepis Kibum pada tangan Kyuhyun pada lehernya.
"Cepat sekali baikannya." Celetuk Hyukjae yang menyaksikan kelakuan kekanak-kanakan kekasih dan sahabatnya itu.
"Ku serahkan semuanya padamu. Aku percaya padamu, Kyu." Ujar Kibum, percaya akan sahabatnya. Membuang segala rasa takutnya.
"Serahkan pada kami." Balas Kyuhyun.
"Kalau begitu aku pamit, aku harus ke kantor polisi. Dan terima kasih." Pamit Kibum sambil memakai mantelnya.
"Dan aku percayakan urusan itu padamu." Balas Kyuhyun yang juga mengetahui mengenai penyelidikan yang dilakukan oleh Kibum. Kibum pun meninggalkan kediaman Hyukjae.
"Ku harap semua segera terselesaikan."
Flashback end.
Tok tok tok..
"Masuklah!" Ujar Kibum setelah mendengar ketukan dari pintu ruang kerjanya.
"Kau thudah thiap hyung?" Tanya sosok yang mengetuk pintu tadi, Sehun.
"Maaf aku tidak dapat mengantarmu." Ucap Kibum pada Donghae yang kini sedang bersiap-siap untuk pergi ke sanggar Hyukjae.
"Tak apa, kaukan memang sangat sibuk. Dan fokuslah, jangan sampai kau hampir membunuh pasienmu lagi." Donghae kecup bibir Kibum sebentar, dan pergi setelahnya.
"Pelan-pelan saja kau membawa motornya Sehun. Jika terjadi sesuatu pada Donghae, ku pastikan kau yang akan menggantikan pasienku di meja operasi." Imbau Kibum, yang tentu membuat Sehun bergidik ngeri.
"Jangan kau dengarkan ia. Ayo kita berangkat!" Ajak Donghae, tak membiarkan Sehun mendengarkan ancaman lainnya dari Kibum.
"Kami berangkat." Pamit Donghae, dengan melayangkan sebuah ciuman di udara. Kibum pun hanya terkekeh melihatnya.
~Nappeun Bam~
Nampak sebuah bangunan cukup besar di depan mereka. Terlihat orang-orang berlalu-lalang keluar-masuk bangunan tersebut. Berbagai jenis alat musik dan box-box besar mereka angkut dan memasukkannya ke dalam truk yang telah menanti mereka. Terlihat pula di sana seorang pria dengan tubuh kurus dan sangat tinggi yang sedang memegang sebuah map, yang sepertinya berisi daftar nama-nama barang yang sedang mereka angkut. Merasa diperhatikan, pria itu pun menoleh pada Donghae dan Sehun yang nyatanya memang menatapnya.
"Hyuuuuung!" Panggil pria itu pada Donghae. Pria itu pun menghampiri Donghae.
"Hyung, aku pulang yah?" Pinta Sehun tiba-tiba.
"Loh, kenapa buru-buru? Kita baru saja sampai?" Tanya Donghae, merasa aneh dengan sehun yang tiba-tiba merasa gusar.
"Ahh.. Aku baru teringat, aku mathih ada tugath yang haruth aku kerjakan. Jaljayo hyung." Dengan terburu-buru Sehun meninggalkan Donghae. Membuat Donghae dan pria yag baru sampai terheran karenanya.
"Ada apa dengannya?" Gumam Donghae.
"Sepertinya aku pernah melihatnya." Ujar Chanyeol tiba-tiba, yang sontak membuat Donghae sedikit terkejut.
"Kau mengagetkanku. Memangnya kau pernah melihatnya di mana?" Tanya Donghae penasaran.
"Di sekitar apartemenmu sepertinya, hyung." Jawab Chanyeol agak ragu.
"Dia memang tetanggaku." Balas Donghae.
"Aahh iya. Yang tepat persis di samping apartemenmu, hyung. Kenapa kau tidak menahannya hyuuuuung?" Tanya Chanyeol sedikit merajuk, merasa sedikit kecewa karena harus kehilangan kesempatan untuk bertemu kembali dengan orang yang selama ini ia cari.
"Dia tadi sedang terburu-buru. Memangnya ada apa?"
"Lain kali kau harus mengenalkannya padaku, hyung." Pinta Chanyeol dengan wajah yang sangat senang, karena sudah mengetahui di mana tempat yang harus ia tuju bila ingin bertemu dengan Sehun.
"Aissh.. Mencurigakan. Baiklah.. Sekarang bagaimana urusan kita di sini?" Donghae tersenyum, sepertinya ada yang mengincar adiknya.
"Semua aman terkendali. Sekarang kami sedang mengangkut barang-barang yang diperlukan untuk pagelaran nanti. Untuk kostum sendiri, kita akan fitting hari ini dan barangnya langsung dikirim ke tempat lokasi." Terang Chanyeol.
"Kyuhyun dan Hyukjae di mana?" Tanya Donghae, yang penasaran karena belum melihat dua sahabatnya itu.
"Mereka sudah di lokasi. Setelah semua barang sudah diangkut, kita semua juga akan berangkat ke sana. Kau mau ikut denganku atau naik van bersama yang lainnya?" Tawar Chanyeol kepada Donghae.
"Aku ikut di van saja, biar lebih ramai. Yah walau hanya dengan kau, sebenarnya sudah seperti bersama sepuluh orang." Donghae terkekeh mengingat kelakuan hiperaktif muridnya itu.
Chanyeol pun yang mendengarkannya hanya bisa tertawa. Yah, hyungnya memang tidak salah. Ia memang dikenal sangat hiperaktif, mulutnya tidak akan berhenti mengeluarkan candaan atau mengomentari apapun. Membuat siapa pun senang berada di sekitarnya. Seperti halnya sekarang, tiada hentinya ia menggangu Donghae sebelum keberangkatan mereka.
~Nappeun Bam~
"Tolong letakkan kotak-kotak itu di sebelah kiri."
"Backdrop berkerut, cepat perbaiki!"
"Latar 2 dan latar 3, atur kembali pergantiannya."
"Yak! Kenapa lighting atas ada yang tidak menyala?"
"CEPAT!"
Teriakan demi teriakan, perintah demi perintah menggema di seluruh ruang teater pertunjukkan. Tidak ada yang terdiam, semua sibuk akan tugasnya masing-masing. Raut lelah terpampang jelas pada raga yang bergerak. Namun semangat membara melekat pada jiwa mereka. Pagelaran musik yang mereka nanti-nantikan akan segera terealisasikan.
"Jangan melamun." Ujar Kyuhyun yang sontak membuat Hyukjae terkejut.
"Wae?" Tanya Kyuhyun, khawatir dengan kekasihnya yang sejak tadi hanya melamun. Sedangkan Hyukje hanya membalasnya dengan helaan nafas. Matanya menerawang pada deretan kursi penonton bagian terdepan. Ia sandarkan tubuhnya pada tubuh kokoh yang kini sedang mendekapnya.
"Eottokhae?" Tanyanya sendu.
"Kita harus memberitahunya. Bagaimana pun responnya nanti." Balas Kyuhyun.
"Tapi?" Hyukjae balikkan tubuhnya menghadap Kyuhyun, mencoba mencari kepastian dari tiap kata yang diucapkan kekasihnya tadi.
"Kebohongan hanya menghantarkan keburukan. Tenanglah, bukankah aku selalu di sampingmu, pabo?" Kyuhyun capit hidung kekasihnya, mencoba menghilangkan kegelisahan kekasihnya. Ia dekap kembali tubuh kurus Hyukjae, tak mempedulikan berbagai pasang mata memperhatikan mereka.
"Apakah pertunjukkan kita akan beralih menjadi drama teatrikal?" Celetuk Donghae, yang sontak membuat Hyukjae melepaskan diri dari dekapan Kyuhyun.
"Kenapa kau melepasnya? Bukankah kita biasa melakukannya di depan siapa pun?" Protes Kyuhyun atas sikap kekasihnya. Hyukjae pun hanya dapat tersenyum kaku karenanya, semburat merah pun tak lepas dari wajahnya.
"Sejak kapan kau sampai di sini?" Tanya Hyukjae, setelah berhasil menghilangkan rasa kaget dan malunya.
"Sudah setengah jam yang lalu aku berada di belakang panggung." Jawab Donghae.
"Ah, Hae! Apa kau ada waktu sebentar?" Tanya Kyuhyun, ia ingin segera memberi tahu Donghae mengenai kehadiran Siwon. Ia tidak ingin menutupinya lagi.
"Tentu, kebetulan packing di belakang sudah selesai. Memangnya ada apa?" Tanya Donghae penasaran.
"Aku minta maaf sebelumnya, Hae. Aku harap kau tidak marah kepada kami, kami akan menjelaskan semuanya." Tutur Kyuhyun sambil menyodorkan Daftar tamu kepada Donghae.
"Memangnya ada masalah apa? Sepertinya serius sekali." Tanya Donghae kembali. Donghae pun mengambil daftar tersebut. Namun sebelum daftar tersebut sampai ditangannya, tiba-tiba seseorang menarik tangannya.
"Oppaaaaaaa... Kostum pertunjukkan kita telah sampai. Cepat fitting baju oppa. Aku tidak sabar melihatnya. Kyu oppa kau juga. Ayo cepaaaaaat." Teriak seorang gadis mungil sambil menarik tangan Donghae, Juniel. Donghae yang terus-menerus ditarik pun hanya bisa pasrah. Ia pun meminta maaf kepada Kyuhyun dan memilih mengikuti Juniel.
"Aish.. Yasudahlah. Semoga aku tidak lupa untuk mengatakannya di waktu lain." Kyuhyun mendesah, kesempatannya hilang sudah. Ia takut lupa untuk mengatakannya, karena untuk kedepan mereka akan lebih sibuk lagi. Kyuhyun dan Hyukjae pun menyusul Donghae menuju ruang fitting.
"Howaaa.. Cantiknya!" Semua orang yang berada di ruangan bersorak serempak. Terkagum melihat Donghae yang terlihat begitu anggun mengenakan kostumnya.
Donghae yang mendapat respon seperti itu pun, hanya bisa pasrah. Ia harus membiasakan diri kembali akan keadaan ini. Selama ini ia sudah bersusah payah menyesuaikan pakaiannya agar tidak terlihat seperti wanita namun tetap nyaman digunakan dan dilihat. Tapi sekarang, ia harus mengenakannya kembali, berpakaian seperti wanita. Ia mendesah lelah.
"Bukankah kau bilang akan mengganti kostumku, Kyu?" Tanya Donghae kesal, karena merasa dibohongi.
"Tuxedo akan sangat jelek bila dipakai dengan perut buncitmu itu, mengganggu visualku." Jawab Kyuhyun dengan santai. Membuat Donghae semakin kesal karenanya.
"Tak apa hyung, kau sangat pantas mengenakan itu." Ujar Taeyang, yang diamini oleh yang lainnya.
"Kemari hyung, aku harus mengabadikannya dan memberitahu Kibum hyung, pasti ia akan senang." Celoteh Chanyeol, membuat Donghae memundurkan langkahnya untuk menjauh. Namun tentu ditahan oleh yang lainnya.
"Sudahlah, nanti saja. Bila Kibum mengetahuinya sekarang, tidak akan menyenangkan. Biarkan kita rahasiakan sampai hari H." Sahut Taeyang menanggapi Chanyeol.
"Ah benar sekali. Tapi apa salahnya kita berfoto sekarang. Ayo kemari oppa!" Sahut yang lainnya, Juniel. Mereka pun menghampiri Donghae dan mencoba mengambil gambar Donghae.
"Apa kalian tidak memiliki pekerjaan lain?" Terdengar suara yang begitu mengintimidasi dari belakang mereka. Mereka yang mendengarkannya pun langsung menghentikan aksi mereka dan kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Mereka tak ingin melihat sang raja iblis mengeluarkan tanduknya, membayangkannya pun tak ingin.
"Entah aku harus berterima kasih atau meruntukimu Kyu." Ujar Donghae pasrah, Kyuhyun pun hanya menanggapinya dengan santai. Dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Mereka pun akhirnya sibuk akan pekerjaannya masing-masing.
~Nappeun Bam~
Gelap sang malam telah merebah, mengembalikan semua yang bernyawa pada peraduannya. Berlindung pada hangatnya buaian. Meringkuk pada lembutnya balutan kapas. Menghantarkan mereka pada halusinasi bunga malam. Melelapkan jiwa-jiwa mereka yang terpejam.
"Sudah baikan?" Tanya Kibum yang sedang asyik mengoleskan krim dan memijat kaki Donghae yang mulai membengkak. Yang dibalas hanya dengan senyuman lembut.
"Kalau begitu, tidurlah!" Perintah Kibum sambil menyelimuti Donghae dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Donghae. Mencoba memejamkan mata, mengistirahatkan tubuh lelahnya. Namun, matanya senantiasa terjaga. Mengusik Donghae yang berada dalam dekapannya.
"Tidak tidur?" Tanya Donghae.
"Kau tidurlah duluan." Kibum kecup kening Donghae, kemudian beranjak meninggalkan kamarnya. Yang diperintahkan pun tidak menurut, Donghae memilih untuk mengikuti Kibum yang sepertinya menuju dapur.
"Tidak bisa tidur? Wae?" Tanya Donghae setelah berhasil menyusul Kibum.
"Tidak ada apa-apa. Sudah larut, tidurlah!" Perintah Kibum lagi, tak ingin Donghae kelelahan karena kurang tidur.
"Masih tak mau mengatakannya padaku? Sejak kemarin kau terlihat muram, wae?" Tanya Donghae yang merasa ada yang disembunyikan dari Kibum.
Kibum sandarkan tubuhnya pada sofa di ruang tengah mereka, dengan segelas kopi hangat sebagai pelengkapnya. Ia tidak bisa tidur, kabar mengenai kedatangan Siwon membuatnya merasa takut.
"Bagaimana kau bisa menjadi kekasih Siwon?" Tanya Kibum, tanpa berpaling kepada Donghae.
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" Tanya Donghae balik, heran dengan Kibum yang baru menanyakan hal ini kepadanya.
"Salahkah?" Balas Kibum.
"Tidak, hanya heran saja." Jawab Donghae sambil menatap lekat wajah Kibum.
"Dia selalu ada di sampingku setelah kecelakaan itu. Selalu menyemangatiku kapan pun." Lanjut Donghae, membuat Kibum menguatkan cengkraman pada cangkirnya.
"Tapi sampai saat ini, aku tidak ingat bagaimana awal mula aku mengenalnya." Tutur Donghae.
"Apa ia memberikan segalanya untukmu?" Tanya Kibum kembali. Pandangannya pun masih setia tertuju pada kopinya yang mengepul.
"Ia tidak pernah menolakku." Jawab Donghae.
"Kau bahagia?"
"Tentu."
Donghae menaikkan sebelah alisnya. Mencoba menerka kemana sesungguhnya arah pembicaraan ini. Ia semakin intens menatap Kibum yang masih tidak mau menatapnya. Tidak ada perubahan yang berarti dari raut wajah Kibum. Membuatnya semakin penasaran, apa yang sebenarnya Kibum sembunyikan. Hingga akhirnya Kibum menoleh kepadanya.
Kibum letakkan cangkirnya di atas meja. Pendangannya beralih pada sosok menawan yang kini berada dihadapannya. Ia tatap sepasang mata sendu milik Donghae, mempertemukannya pada sepasang manik hitam miliknya. Mencoba membaca pancaran iris coklat milik Donghae.
"Ia selalu berada di sisimu, dimana pun, kapan pun. Memberikan segalanya hanya untukmu. Bertahun-tahun kau hidup bahagia bersamanya. Bahkan kini kau mengandung hasil buah cinta kalian. Pengkhianatannya pun pasti takkan membuatmu menghilangkan rasamu padanya."
"Ia meninggalkanmu. Aku pun menigggalkanmu, bahkan tidak pernah benar-benar selalu ada di sisimu. Aku bagaikan orang baru dalam kehidupanmu. Lalu dapatkah aku menggantikan posisinya di hatimu? Akankah kau meninggalkanku, ketika ia kembali padamu? Dapatkah aku berlaku egois?" Tutur Kibum. Runtuh sudah pertahanannya, ia sembunyikan wajahnya pada ceruk leher Donghae dan ia dekap erat tubuh itu. Menyalurkan segala rasa gundahnya pada sosok dalam dekapannya.
"Kesetiaan merpati mengalahkan nilainya emas. Dua puluh adalah angka yang lebih besar dari angka enam. Dan ketakutanku mengalahkan kebahagiaanku. Semua itu adalah hal yang membuatku mencintaimu." Ujar Donghae. Ia lepas dekapan Kibum dan ia tangkup wajah itu.
"Siwon memperlakukanku layaknya emas, tak membiarkan siapapun dapat menyentuhku. Sedangkan kau, kau melepaskanku terbang bebas. Namun layaknya merpati, kau selalu membuatku kembali kepadamu. Sejauh apa pun aku terbang jauh darimu."
"Dua puluh tahun kita saling mengenal, apakah tidak cukup menjadi alasan aku memilihmu? Dan aku selalu takut denganmu." Ia kecup lembut bibir Kibum dan mengakhir katanya.
"Aku selalu takut bila kau kan meninggalkanku. Lagi.."
Kibum kecup kembali bibir tipis Donghae, melumatnya lebih dalam. Dapatkah ia merasa lega sekarang? Pantaskah ia merasa bahagia? Semua penuturan Donghae membuang semua ragunya. Menghilangkan sedikit rasa takutnya.
"Kalau ia benar-benar datang untuk mengajakmu kembali lagi?" Tanya Kibum memastikan kembali.
"Sambutlah ia. Dan bantu aku untuk bertahan." Jawab Donghae dengan santai.
"Kau benar-benar membuatku tak kuasa, Hae."
"Kau tak perlu menahannya, Bumie..." Ujar Donghae sambil menuju kamarnya.
"Baiklah jika itu maumu. Aku akan melakukannya dengan hati-hati." Timpal Kibum dengan seringaian di wajah tampannya. Ia pun menyusul Donghae menuju kamarnya. Menghabiskan malam panjang mereka. Menanggalkan segala beban yang selalu dipanggulnya. Menikmati yuvoria malam bersama sang puja.
~Nappeun Bam~
Tok tok tok... Tok tok tok..
"Kibuuuumm... Cepat bangun! Kibuuuuum!" Teriak seorang pria cantik dari luar kamar Kibum, yang nyatanya telah berhasil memasuki apartemen Kibum.
"Mama? Ada apa?" Tanya Kibum pada mamanya yang tiba-tiba berada di apartemennya.
"Bukankah kemarin aku sudah mengingatkanmu, kalau hari ini.." Perkataan Heechul terhenti setelah melihat sosok lain yang sedang terlelap di atas tempat tidur anaknya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Donghae ada di apartemenmu, pabo? Aishh aku harus menghubungi Leeteuk untuk segera kemari. Dan kau Kibum, cepat segera bersiap-siap!" Imbau Heechul pada anaknya, yang nyatanya masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mandi!" Ujar pria lainnya kepada Kibum. Pukulan selamat pagi pun tak absen darinya.
"Ahh.. Aku melupakannya. Xiexie baba." Kibum berterimakasih kepada papanya, karena pukulannya telah mengingatkan Kibum akan rencana mereka hari ini. Dimana mereka akan pergi ke pemakaman bibi dan pamannya, yakni orang tua Donghae. Ia pun melesat menuju kamar mandi. Membiarkan Donghae masih terlelap.
"Kalian?" Tanya Donghae sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat kini. Ketika ia membuka pintu kamar, ia mendapati ruang tengah dipenuhi orang-orang. Orang tua Kibum, orang tua Sooyoung dan sepasang kekasih Kyuhyun Hyukjae sedang duduk manis di ruang tengah dengan banyak makanan di atas meja. Apakah mereka akan piknik?
"Kau sudah bangun Hae? Ayo ikut sarapan dengan kami." Ajak Leeteuk.
"Nae. Kenapa kalian tiba-tiba ada di sini?" Tanya Donghae penasaran.
"Anak itu, Kibum belum memberitahumu?" Tanya Heechul yang disambut dengan anggukan dari Donghae.
"Kita akan pergi ke makam orang tuamu Hae." Lanjut Heechul.
"Benarkah?" Tanya Donghae begitu antusias. Ia sudah begitu lama tidak ke makam orang tuanya, tentu ia tidak akan melepaskan kesempatan ini.
"Iya. Sekarang makanlah dahulu. Setelah itu kau bersiap-siaplah." Timpal Hangeng, sambil menyerahkan semangkuk nasi kepada Donghae.
"Apa itu berat, Hae?" Tanya Hyukjae sambil menunjuk kearah perut Donghae. Yang dibalas hanya dengan anggukkan, karena mulut Donghae yang masih penuh dengan makanan.
"Apakah aku juga bisa seperti itu?" Gumam Hyukjae yang nyatanya didengar Heechul.
"Jika kau mau aku bisa melakukannya padamu." Ujar Heechul menanggapi gumaman Hyukjae.
"Benarkah, ahjusi?" Tanya Hyukjae begitu semangat.
"Aish.. kenapa mendengar kau memanggilku seperti itu terasa begitu menyebalkan?" Ujar Heechul.
"Kau selalu menyuruhku memanggil 'Hyung', itu terasa sangat aneh, imo." Protes Hyukjae.
"Terserah kau sajalah. Siapkanlah dirimu. Jika kau benar-benar sudah siap, datanglah kepadaku." Tutur Heechul meyakinkan Hyukjae.
"Kau tak perlu memaksakan diri, Hyukie." Ujar Kyuhyun.
"Kibum Sudah selesai, sekarang kau bersiap-siaplah, Hae." Ujar Leeteuk, setelah melihat Kibum datang menghampiri mereka.
Setelah mereka selesai sarapan dan bersiap-siap, mereka pun berangkat menuju pemakaman orang tua Donghae. Menuju tempat yang telah lama mereka tidak kunjungi. Tempat persemayaman terakhir orang-orang yang mereka cintai.
Setelah satu jam perjalanan, mereka pun telah sampai di tempat tujuan mereka. Mereka parkirkan mobil mereka tak jauh dari pintu masuk pemakaman. Begitu mereka memasuki pemakaman, bukanlah susunan batu-batu nisan yang mereka jumpai. Melainkan pepohonan rindang dengan penanda di dekatnya menyambut penglihatan mereka. Mereka susuri jalan setapak yang membentang di sana menuju tempat abu kremasi orang tua Donghae ditanam.
Setelah 10 menit berjalan, mereka tiba di depan dua buah pohon besar dengan penanda di dekatnya, Lee Yunho dan Lee Jaejoong. Yah, mereka mengubur abu orang tua Donghae di pemakaman alam. Dimana mereka mengubur abu jenazah dengan pohon sebagai pengganti batu nisan mereka.
"Pohonnya sudah tinggi sekali. Terlihat jelas berapa lama kita tak datang kemari." Celetuk Heechul yang diamini oleh yang lainnya.
"Kau duluan Hae." Ujar Hyukjae kepada Donghae.
"Hae?" Panggil Hyukjae kembali karena tidak mendapat respon dari Donghae.
"Kau kenapa Hae? Apa yang kau cari?" Tanya Kibum yang merasa aneh dengan gelagat Donghae.
"Eh? Tidak ada. Aku hanya merasa ada yang mengikuti kita dan entah mengapa seperti ada yang memperhatikanku." Jawab Donghae, dengan mata yang masih melihat-lihat sekeliling.
"Kau memang tak pernah luput dari perhatian orang, Hae." Gurau Leeteuk, yang disambut tawa oleh yang lainnya, namun tidak dengan Donghae. Rasa penasaran masih menyelimutinya.
"Itu hanya perasaanmu, Hae. Abaikan." Ujar Kibum sambil meraih Donghae untuk kembali berdoa. Meninggalkan seseorang yang nyatanya memang sedang memperhatikan mereka.
"Semua tak seharusnya seperti ini, Hae." Gumam sosok lain yang sedang memperhatikan Donghae dari kejauhan.
TBC..
Huwaaaaaaa miaaan.. *bow
dah lebih dari tiga minggu ga update..
sekalinya update hanya sanggup segini.. jeongmal mianhaeyoooo.. *bow
okeh.. semoga kalian terhibur (?)
dan makasih yang udah setia menunggu hehehe
pai pai..
