つぼみ、二人差しつぼむ

(tsubomi, futari sashi tsubomu / bud, budding between the two)

Ditulis oleh 生川・明

Bagian VII: 痛み (itami / pain)

.

- pernyataan hak cipta -

Kantai Collection adalah sepenuhnya milik KADOKAWA GAMES dan DMM -dot- com

.

- peringatan -

AU

delusi

.

- ucapan terima kasih -

KBBI

Kobukuro - Tsubomi

Fulare Pad yang telah meng-cover lagu ini dalam untaian petik-petik gitar yang tak habis-habisnya mengulek dada


AKU terbangun untuk merasakan lelah yang telah menghilang beberapa waktu lalu kini kembali menjalar di seluruh tubuhku. Ah... menyebalkan sekali.

Belum seluruh nyawaku terkumpul, aku mendengar ketukan di pintuku. Dengan sangat berat aku menyeret tubuhku turun dari kasur dan membukanya.

Hyuuga.

Aku membuka pintuku lebih lebar.

Hyuuga dan barang-barangnya.

Bingung, aku menatapnya tepat di muka.

Ia memasang wajah khawatir yang bercampur rasa syukur.

"Umm... Selamat pagi?" sapaku.

"Bodoh! Apa yang kaulakukan di dalam sini!?"

Aku terlonjak kaget.

"Uh... Tidur? Ini kamarku, jadi wajar jika aku tidur di sini, bukan?" Aku menjawabnya setengah bertanya balik.

"Seminggu!?"

Aku bengong. Hanya bisa mengeluarkan bunyi, "Ha?"

Hyuuga tampak berpikir. Setelah beberapa lama, ia menarikku turun ke ruang tunggu di dekat ruang administrasi. Di salah satu sofa tampak seorang pria paruh baya tengah sibuk berdialog di telepon. Saat matanya bertemu pandang dengan kami, ia langsung memutus teleponnya dan bangkit.

"Inikah penghuni lain yang kaumaksudkan tadi?"

"Ya."

Kini pria itu hanya menatapku.

"Umm, ada apa sebenarnya ini?" tanyaku kebingungan.

Baik Hyuuga maupun pria itu, keduanya menghela napas dan akhirnya memutuskan untuk membicarakan hal ini sambil duduk.

"Akagi, kau sama sekali menghilang seminggu ini. Kamarmu terkunci dan aku tidak pernah mendapatkan respons apa pun saat mengetuk pintumu. Kupikir kau sudah meninggalkan apartemen ini dan tadinya aku berniat untuk mendobrak paksa kamarmu untuk memastikan keberadaanmu."

Aku mengerutkan dahiku.

"Bicara apa kau? Kemarin kan kau lihat sendiri aku meninggalkan kamarku untuk merayakan Tanabata," ucapku memberi alibi.

Kedua orang di hadapanku kini menggaruk kepala mereka.

"Akagi. Tanabata itu sudah seminggu yang lalu."

Aku kembali bengong dan mengeluarkan bunyi, "Ha?"

Kali ini giliran si pria yang menegakkan duduknya, hendak berbicara.

"Nak, perlu kauketahui bahwa bangunan yang saat ini kalian tinggali seharusnya sudah kuratakan sejak bertahun-tahun lalu. Tempat ini sudah berhenti beroperasi sejak sepuluh tahun yang lalu. Tidak semestinya ada orang yang keluar masuk kemari."

Aku semakin terbengong-bengong mendengar penuturan pria ini.

"Nak, kudengar kau orang barat sini juga?"

Aku mengangguk.

"Setidaknya sampai sepuluh tahun yang lalu." Aku menambahkan.

"Kalau begitu, kau pasti mengetahui tentang kebakaran besar di daerah pertokoan sepuluh tahun lalu, bukan?"

Aku terdiam sejenak. Berusaha membawa diriku kembali ke sepuluh tahun yang lalu. Berengsek, kenapa tidak bisa ingat sama sekali?

"Maaf, tapi aku tidak bisa mengingat apa pun..." ucapku lirih.

Pria itu menghela napas panjang.

"T, tunggu. Tadi Anda bilang tempat ini sudah berhenti beroperasi sejak sepuluh tahun yang lalu, lantas siapa wanita itu?" Aku yang teringat dengan si wanita cerdas langsung bertanya.

Pria itu tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ia malah bertatapan dengan Hyuuga. Kemudian ia bangkit dan memintaku mengikutinya. Hyuuga menahan kami untuk berpamitan.

"Kau sudah mau pergi?" tanyaku padanya.

"Ya. Keretaku akan segera datang."

Aku menatapnya nanar. Masih penuh dengan pertanyaan, namun Hyuuga hanya tersenyum simpul dan mengatakan bahwa aku akan segera mengerti semuanya sebelum akhirnya menghilang bersama dengan menutupnya pintu utama bangunan kuno ini.

.

"Nak, kemarilah."

Aku menurut dan mengekor pria paruh baya ini menuju ruang administrasi. Ia mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu ruang administrasi, lalu masuk ke dalamnya. Aku cukup terkejut melihatnya. Bukankah semua kunci dipegang oleh wanita cerdas? Seraya semua tanyaku berenang ke permukaan, aku turut masuk ke dalam sana.

"Maaf, tapi... siapa Anda sebenarnya?" tanyaku.

Pria itu pun tidak langsung menjawabnya.

"Apakah Anda pemilik bangunan ini?" tanyaku kembali.

Pria itu masih belum menjawab.

"Tuan—"

Pria itu menyerahkan sebuah kertas kusam padaku. Aku menerimanya dan membaliknya. Sebuah foto. Wajah yang sangat familier.

.

Wanita cerdas.

.

Aku menatap pria itu dalam kebingungan, sedang ia hanya menatap nanar barang-barang yang berserakan di ruangan itu.

.

"Anakku."

.

Aku tercekat.

.

"Tewas sepuluh tahun yang lalu dalam kebakaran besar di sini."

.

Mataku membulat.

Pria itu menghela napas panjang.

.

"Shinsei..." gumamku lirih.

.

Pria itu menatapku dengan raut muka terkejut.


AKU memberanikan diri untuk kembali masuk ke dalam ruang administrasi saat hari telah menjadi malam. Memberanikan diri untuk mengacak-acak lemari besar yang menempel di pojok ruangan, menemukan sebuah gitar tua yang sudah usang. Kuraih benda itu, berusaha mengeluarkannya dari dalam sana—

.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

.

"KYAAA!"

.

Aku kaget dan melompat ke belakang, tersandung tumpukan-tumpukan berkas dan jatuh terduduk. Mataku pucat menerawang ke seluruh penjuru ruangan. Si wanita cerdas berdiri menatapku kosong. Aku menelan ludahku berkali-kali. Bulu kudukku berdiri.

.

Ia tertawa kecil.

.

"Kupikir kau akan langsung pergi."

.

Aku masih memandangnya dengan pucat.

.

"Kupikir kau orang yang skeptis? Lihat dirimu. Kau tampak ketakutan?"

.

Keberadaannya terasa begitu nyata. Ketika rasa takutku sedikit mereda, aku memilih untuk bangkit dan mendekatinya. Kusentuh wajahnya. Terus kurengkuh. Hangat.

"Aku tak pernah tahu arwah sebegini nyatanya," bisikku lirih.

Ia tersenyum tipis. Sama seperti biasanya.

"Kau sudah mengingat semuanya kembali?"

Aku menggeleng.

"Aku menolak untuk mengingat semuanya sampai kau yang menuturkan," jawabku lirih.

Ia menyentuh tanganku. Memutar sedikit kepalanya. Mencium telapak tanganku yang sedari tadi merengkuhnya. Tatapannya berubah menjadi sendu. Sentimental.

"Ya, aku yang selalu memainkan gitar itu di malam hari."

"Teruskan."

"Ya, aku mengenal pemilik tempat ini. Dia ayahku. Kau pun mengenalnya. Mestinya."

"Teruskan."

"Kau adalah pengamat bintang yang sangat buruk. Bukan. Pada dasarnya kau tidak pernah menyukai astronomi."

"Teruskan."

"Apa pun demi makanan. Aku tidak akan pernah lupa perburuan jamur musim gugur itu."

Aku terhenti sejenak. Tertawa dengan tertahan. Mata terasa panas.

"Ayo, teruskan."

Kini gantian ia yang terdiam. Ia kembali tersenyum simpul dan menyentuh mataku dengan ibu jarinya. Menyeka air mataku.

"Teruskan, kubilang."

Ia tetap mengunci mulutnya. Kini kedua tangannya merengkuh wajahku balik. Kedua ibu jarinya sibuk menghapus air mataku yang tak berhenti mengalir.

"Berengsek... Teruskan..."

Ia menarikku masuk ke dalam dekapannya. Erat. Sangat erat. Hangat. Sangat hangat.

.

"Kau kekasihku. Kau milikku. Aku mencintaimu."

.

Tangisku meledak.

.

Aku balas mendekapnya seerat yang kubisa.

.

Meraung-raung sesukaku.

.

Tak ingin kehangatan ini berakhir.

.

"Kaga... Kaga..."


bersambung


Catatan penulis:

Genre 1 diubah menjadi tragedy

Supernatural ditambahkan ke genre 2

Kaga ditambahkan ke daftar karakter

Akagi dan Kaga berstatus Pair A