HAI HAI HAAAI~ Karena sudah mau mendekati Natal~ Saya Sarasion sebagai Author dari fanfic Here We Are! AGAIN mengucapkan selamat natal kepada yang merayakannya~ *TANGGAL BERAPA INI* *DIBUANG*
Maaf agak telat ya, karena deadline artwork yang menumpuk hehehe~ *YHA*
Sebelumnya, bahas review dulu kuy~
RosyMiranto18 hay hay~ iya, sudah hampir setahun :") maafkan saya yang... entah kenapa sibuk di tahun ini~ Ah, mumpung Xun Yu ada disini, mari langsung dijawab saja~ *tarik Xun Yu*
Xun Yu: hmm? keponakanku baik-baik saja kok *senyum* dan... untuk karakter baru dari DW9, rencana Author akan mengeluarkan karakter-karakter tersebut. Ah, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Karena untuk saat ini berfokus pada Arc-nya Lixia dulu. Setelah arc ini selesai mungkin...?
Lalu, untuk kepala bintang... Ya, mengingat terakhir saya ngetik awal-awal buat chapter kemarin itu sebelum ada pengumuman visual dari Zhang Jiao sih, jadi dikenalnya masih berkepala bintang, untuk besok-besok udah diganti jadi kepala crescent moon kok *wink* *DISANTET*
Iya nih, Lu Xun topinya kembali lagi. Saya juga lebih suka tanpa topi *ambil topinya Lu Xun* *auto buang* *GAGITU*
Lu Xun: H-HIEEEEE- *pungut topinya*
Ah, terima kasih sudah membaca dan review ya~ *wink*
Ayahina YA LORD YA LOOOORDDD DIRIMUUU *pasang traffic light* *SALAHTEMPAT*
Xun Yu: hmm? bukan yang bikin baper, 'kan? *smile*
Lu Xun: emm... rindu... nggak juga sih...
Lu Xun ndak mau jujur~
Zhu Ran: MUNCULIN AKU DONG KAKAK AUTHOR BAIK HATI HUFT. Tenang, aku sedang mencari cara lain untuk menikmati api dengan senjata lain kok! Aku juga sudah tanya-tanya sama Tuan Zhou Yu soal tongkat~
Zhou Yu: ... *facepalm*
Happy holiday juga~ Semoga kita bisa bertemu kembali :") *DOR*
Huwaaah~ saatnya ke cerita ya? Oke oke~ Selamat menikmati~
Benar apa yang dikatakan oleh Xun Yu sebelumnya, cuaca saat ini menjadi cerah, lebih cerah dari masa depan.
…
Nggak, nggak gitu.
Zhao Yun, Lu Xun, Lei Bin, dan Xun Yu kini berada di tengah perjalanan menuju daerah Shu, tepat dimana LiXia sering bertemu dengan Zhao Yun dan Lei Bin secara tiba-tiba. Lei Bin duduk dengan Lu Xun di kursi belakang, sedangkan Zhao Yun duduk di depan, tepat di sebelah guru sekaligus sopir ganteng yang bernama Xun Yu. Ya, mereka akan pergi ke Shu dengan mobil, sama seperti saat mereka berangkat ke Wei dengan mobil polisi milik Diaochan. Kali ini, mobil yang dikemudikan adalah milik Xun Yu, sebuah mobil mahal dan berkilau.
Betapa kaya rayanya orang-orang yang ada di SMA Wei-Jin.
Selama perjalanan, Xun Yu memutar lagu dari radio, sempat juga lagu milik Guan Yinping diputar, membuat Zhao Yun teringat sesuatu.
"Yinping, dia adik kelasmu, bukan?" Xun Yu memulai perbincangan karena lagu yang diputar di radio mobil.
"Hmm? Ya. Sangat adik kelas."
"Oh… Hebat juga, sudah melakukan tour sampai ke negara lain."
"Ya… Bahkan waktu awal-awal pun saya ikut terlibat… Saya hanya ingin membantunya saja, sih. Tapi luar biasa, perjuangannya benar-benar membuahkan hasil."
"Wah, sangat Zhao Yun."
"Eh? Maksud Anda…?"
"Tidak, tidak ada maksud apa-apa." Jawab Xun Yu dengan senyum.
"Ah, Zhao Yun, aku dengar dari Zhu Ran, setelah dia mengadakan konser di Jerman, dia akan balik lagi dan mengadakan konser di Shu. Katanya untuk mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan." ucap Lu Xun.
"Ah? Oh, iya? Aku belum dengar apa-apa dari Xingcai atau Guan Ping."
"Oh! Mungkin saja untuk surprise, sengaja keluarganya tidak diberitahu kalau akan mengadakan konser? Mungkin." ucap Lei Bin dengan semangat.
"Haha! Lalu, apa kabar si landak?"
"Err… Zhao Yun, dengan berat hati aku harus mengatakan ini padamu… Dia sudah tidak landak lagi."
"Eh? Apa maksudmu, Xunnie?"
"Ya… Tidak landak. Dia jadi sedikit lebih… stylish…?"
"… Perjalanannya di Jerman telah mengubahnya. Aku terharu dia mau berubah sampai segitunya."
"Kalau soal sifat… Dia tidak berubah, kok."
"… Aku menyesal aku mengatakan yang barusan. Kukira dia sudah berubah total."
"A-Aku 'kan hanya bilang dia jadi sedikit lebih stylish, Zhao Yun."
"Aha, maafkan aku, Lu Xun. Dia sudah melakukan banyak dosa kepadaku."
"Zhao Yun, tidak baik seperti itu."
"Kalian~ Sudah, sudah~ Jangan bertengkar~"
Lei Bin berusaha menjadi penengah, sementara Xun Yu hanya tertawa kecil mendengar celotehan mantan murid SMA sebelah.
Perjalanan mereka menuju Shu ditempuh dengan waktu yang cukup lama, akan tetapi cerita selama perjalanan membuat perjalanan mereka menjadi lebih singkat.
"Kita sampai. Teman kalian sering muncul disini, huh?" Xun Yu menatap ke arah tepi sungai."
"Ya. Tapi… Zhao Yun, sepertinya dia sedang tidak ada di sungai?"
"Kita tunggu saja. Sebaiknya kita keluar, Tuan Xun Yu."
"Baik."
Mereka menunggu selama lima belas menit di tepi sungai, tentu saja sambil bermain dengan rerumputan.
Sudah lima belas menit, tidak kunjung muncul.
"Kita sudah menunggu selama lima belas menit. Apa mungkin hari ini dia tidak kemari?" tanya Xun Yu sambil bermain dengan bunga liar yang berada tepat di sebelahnya.
"Uh… Zhao Yun, bagaimana ini?"
"Zhao Yun, sudah hampir malam, lho?"
Zhao Yun terdiam, kemana lagi dia harus mencari Lixia.
"Bagaimana kalau kita berpencar? Karena saya tidak begitu tahu tentang gadis ini, mungkin lebih baik… Saya bersama Lei Bin."
"E-Eh? Tuan Xun Yu bersamaku?"
Xun Yu mengangguk.
"Baiklah, Tuan Xun Yu, tolong jaga Lei Bin. Anak itu susah diatur."
"Hei, hei! Seenaknya saja Zhao Yun ini!"
Akhirnya mereka memutuskan untuk berpencar. Mari kita lihat Lei Bin dan Xun Yu. Mereka terlihat sibuk mencari ke segala arah. Siapa tahu mereka bisa bertemu Lixia di tempat yang tidak terduga.
"Lixia~ Ini aku, Lei Bin~"
"Lei Bin, seperti apa Lixia ini?"
"Uhh… Rambutnya merah muda, pokoknya dia terlihat sangat mencolok!"
Xun Yu menatap sekitarnya, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Lixia.
Waktu juga sudah semakin malam.
Apa dihentikan saja, ya?
"Lei Bin!"
Lei Bin tersadar dari pikiran negatif yang mengganggunya, kemudian menoleh ke arah Xun Yu.
"Y-Ya?"
Xun Yu menunjuk ke arah dimana seorang gadis sedang duduk di dekat pohon, seperti sedang menceritakan sesuatu. Ya, gadis itu berambut merah muda dengan style yang aneh. Terlebih lagi, dia benar-benar Lixia.
"Lixi—"
"Stop! Lei Bin, kau tunggu disini. Biar saya yang kesana."
"T-Tuan Xun Yu?! Kenapa—"
"Ada yang aneh dengannya."
Lei Bin semakin bertanya-tanya.
Apakah ini bersangkutan dengan sihir yang dimiliki Lixia?
Xun Yu mencoba untuk mendekatinya secara perlahan, akan tetapi keberadaan Xun Yu dengan cepat ditangkap oleh Lixia. Lixia menoleh ke arah Xun Yu, dengan tatapan kosong dan bingung. Sepertinya memang benar, dia bukan Lixia yang Lei Bin tahu.
Atau bisa dibilang…
Lixia yang lain.
Xun Yu langsung menghentikan langkahnya karena Lixia sudah sadar akan keberadaan Xun Yu. Tidak tahan dengan perintah Xun Yu untuk diam, Lei Bin segera mengambil langkah, maju ke depan menghadap Lixia. Langkah yang telah diambil oleh Lei Bin membuat mata Xun Yu terbelalak lebar, seakan Xun Yu benar-benar tidak ingin Lei Bin mendekati Lixia.
"Lei Bin, mun—"
"Lixia! Ini aku, Lei Bin! Temannya Zhao Yun!"
"Lei—"
CRASH!
###
Aku perlahan membuka mataku pelan, sebuah taman berada di hadapanku.
Aku terdiam, terdiam karena bingung.
Bukankah yang berada di depanku tadi adalah Lixia?
Kemana Lixia dan dimana aku?
Aku menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Lixia.
Berteriak memanggil namanya, tapi sepertinya tak sampai.
"Hei! Apa yang kamu lakukan?! Cepat lempar bolanya!"
Aku terkejut ketika seorang laki-laki berteriak ke arahku, meminta agar bola yang berada di tanganku untuk segera dilemparkan.
Siapa kamu?!
Kesal, aku melemparkan bola ke arahnya.
"Hah! Dasar Lei Bin bodoh! Kamu rindu dengan buku-bukumu, ya? Enyahlah! Bermainlah dengan buku-buku kunomu itu!"
Apa—
Hei! Tidak sopan!
Aku menggerutu kesal, tetapi apa yang kukesalkan benar-benar tak tersampaikan.
Sebenarnya…
Apa yang terjadi?
"Lei Bin."
Terdengar suara yang begitu familiar.
Aku mencari sumber suara itu dan kutemukan seorang gadis berambut merah muda yang kukenal.
Lixia!
Apa yang terjadi?!
Lixia menatapku murung.
"Maafkan aku."
Kemudian semuanya memutih…
Hanya ada suara-suara aneh yang terus kudengar.
Lei Bin payah…
Bermain saja dengan buku kunomu…
Aku tidak mau berteman dengan si kuno…
Aku sengaja membakar buku-bukumu…
Karena aku membencimu…
Enyahlah…
Ah…
Suara-suara yang ingin kulupakan kini muncul kembali.
Aku—
"LEI BIN!"
###
Lei Bin terperanjat mendengar teriakan Xun Yu.
"T-Tuan Xun Yu…? Apa yang—"
"Maafkan saya, Lei Bin. Saya tidak berhasil bicara dengan Lixia."
Mendengar kata 'Lixia' membuat Lei Bin langsung menengok ke arah pohon dimana Lixia berada.
Akan tetapi, Lixia sudah tidak di tempat.
"Lei Bin, kau tidak apa-apa? Apakah kau—"
"Tuan Xun Yu… Aku melihatnya…"
"Huh?"
"… Masa laluku."
Xun Yu terlihat tidak senang dengan pernyataan Lei Bin.
"Sudah kubilang untuk diam, Lei Bin."
"Tapi, aku tidak bisa diam begitu saja, Tuan Xun Yu. Aku ingin Lixia segera—"
"Sudah kubilang untuk berhati-hati, bukan?"
Lei Bin terdiam, mencoba menangkap perkataan Xun Yu.
"Sedikit menyarankan saja kepada kalian… Berhati-hatilah."
"Ternyata benar… Gadis itu, Lixia… Memiliki sesuatu yang lain. Ah, lebih baik kita memberi kabar kepada—Huh? Lei Bin?"
Tidak sadar, Lei Bin meneteskan air mata.
"Ah? Huh? M-Maaf, Tuan Xun Yu! Bukan berarti aku cengeng, hanya saja—"
"Lei Bin, saya mengerti kondisimu. Untuk sekarang, kita pergi temui Zhao Yun dan Lu Xun terlebih dahulu."
Lei Bin mengangguk pelan, kemudian bersama dengan Xun Yu mereka bergegas menemui Zhao Yun dan Lu Xun.
###
Kini mereka berempat kembali ke mobil, membicarakan apa yang telah terjadi dana pa saja yang diperbuat oleh Lixia yang mendadak aneh.
"Masa… Lalumu…?" Lu Xun bertanya-tanya dengan cerita Lei Bin.
Lei Bin mengangguk pelan.
"… Menurut saya, ada yang tidak beres dengan gadis itu. Apakah dia terlihat seperti apa yang saya dan Lei Bin ceritakan saat bertemu dengan kalian?"
Zhao Yun menggelengkan kepalanya, kemudian bersandar dan mengehela nafas.
"Lixia… Pantas saja teman-temannya menjauhinya."
"Ah, Tuan Xun Yu, begini, kami tidak sengaja mendengar apa yang dilontarkan oleh teman-temannya. Mereka membenci Lixia. Mungkin saja… Tanpa disadari, Lixia melakukan hal yang sama seperti apa yang dia lakukan kepada Lei Bin."
"Hmm… Begitu rupanya. Kemungkinan, hanya kemungkinan… Yang kami lihat bukanlah Lixia yang kalian kenal…" ucap Xun Yu.
"Bukan… Lixia yang kami kenal…?"
"Jadi…"
Xun Yu mengangguk pelan.
"Dua kepribadian."
Zhao Yun dan Lu Xun saling bertatapan dengan heran, sedangkan Lei Bin hanya bisa menunduk lesu.
"Gadis itu… Maksudku, Lixia… Memiliki dua kepribadian. Yang satu adalah Lixia yang kalian kenal, yang satunya lagi adalah Lixia yang… Entah kenapa sulit untuk dipahami."
"Lalu, bagaimana soal sihir yang dikatakan oleh teman-temannya?"
"Lu Xun, sihir yang dimaksud adalah sesuatu yang sudah dia perbuat kepada Lei Bin. Benar, mungkin saja Lixia yang sulit dipahami itu terkadang muncul dan melakukan hal yang sama kepada teman-temannya, sehingga teman-temannya tidak ingin terlibat dengan Lixia lagi. Mereka ingin menghindari Lixia."
"Ah… Begitu…?"
Keadaan hening sejenak.
Hanya terdengar radio bersuara kecil.
"Bagaimana? Apa langkah kalian selanjutnya?" Xun Yu menatap Zhao Yun, Lu Xun, dan Lei Bin dengan tatapan serius.
"Kita harus selamatkan Lixia." jawab Zhao Yun dengan tegas.
Lei Bin yang semula tertunduk, kini wajahnya terangkat karena jawaban yang diberikan oleh Zhao Yun.
"Kita harus menyelamatkannya. Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Lixia. Kita harus membawanya ke Zhang Jiao besok."
"T-Tapi, Zhao Yun! Lixia sudah tidak diketahui lagi keberadaannya."
"Tenang, Lu Xun. Masih ada waktu. Sekarang masih pukul delapan."
Lu Xun terdiam, menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan.
"Lei Bin, ayo kita ca—"
"Maaf, Zhao Yun. Aku… Tidak bisa…"
"Huh? Apa maksudmu?"
"Zhao Yun, Lei Bin baru saja terkena sihirnya. Jadi lebih baik Lei Bin istirahat sebentar…"
"Benar apa kata Lu Xun, sebagai gantinya, saya akan menemanimu dan keberanianmu, Zhao Yun." Xun Yu tersenyum ketika menawarkan diri untuk ikut dengan Zhao Yun.
Zhao Yun menatap Lei Bin sejenak, kemudian menganggukkan kepala.
"Baik, terima kasih, Tuan Xun Yu. Lu Xun, tolong jaga Lei Bin."
Lu Xun menganggukkan kepala.
Pencarian Lixia bagian dua pun dimulai.
Kini Lei Bin dan Lu Xun tengah duduk tidak jauh dari mobil yang telah diparkir di tempat yang aman, menatap sungai yang mengalir dengan tenangnya pada malam hari. Lu Xun masih penasaran tentang seperti apa yang telah Lei Bin lihat ketika bertemu dengan Lixia. Ingin rasanya bertanya, tetapi situasi sedang tidak mendukung.
"Umm... Lu Xun."
"Eh? Ya? Ada apa? Kalau butuh sesuatu katakan saja."
"Kau pasti… Sedang bertanya-tanya, 'kan? Tentang apa yang kulihat."
Tepat sasaran.
Lu Xun hanya terdiam, seolah tidak mendengar apa yang Lei Bin katakan.
"Begini… Dulu aku memiliki pengalaman pahit. Ini semua karena aku begitu mencintai sejarah dan buku-bukunya. Mereka, yang tadinya terlihat baik kepadaku, tiba-tiba saja membenciku hanya karena hal itu. Yah, mungkin juga pendekatanku dengan mereka kurang baik dan terlihat aneh. Makanya, mereka langsung menganggapku aneh, maniak sejarah, dan sebutan lain yang sebenarnya biasa saja, tapi kalau lama-lama dibegitukan juga sakit… Bahkan buku-buku sejarah yang kubawa pernah dibakar habis oleh mereka-mereka yang benar-benar membenciku dan ingin melihatku—"
"Lei Bin, cukup."
"Eh? Aku belum selesai cerita, lho? Aku bisa menebak apa yang kamu pikirkan hanya dengan melihat ekspresimu tadi, jadi—"
"Dulu, aku pernah bertengkar dengan paman sekaligus ayahku. Ya, hanya karena perbuatan ayahku yang sudah melukai hatiku bahkan trauma. Tapi, ada hal lain yang ternyata ayah sembunyikan padaku. Ya, ayahku dipecat dan tidak tahu harus kemana lagi, karena tidak bisa menahan emosi, ayahku memperlakukanku dengan kasar. Dulu, aku tidak bisa melupakan hal itu. Ketika berhadapan kembali dengan ayahku yang meninggalkanku sendirian, aku selalu mengingat kejadian itu. Tapi, semua bisa teratasi atas dukungan banyak orang." Lu Xun menceritakan masa lalunya kepada Lei Bin.
Lei Bin hanya terdiam menatap Lu Xun.
"Jadi… Lei Bin, sekarang kamu tidak sendirian. Ada Zhao Yun dan aku. Kamu sudah memiliki teman, jadi… Lawanlah perasaan itu. Dulu aku juga melawannya mati-matian dan mendapatkan dukungan dari teman-temanku, jadi… Aku bisa membuang perasaan itu jauh-jauh."
Lei Bin masih terdiam.
"Lei Bin, aku dan Zhao Yun akan mendukungmu."
Lu Xun memegang pundak Lei Bin sambil tersenyum.
"Xunnie…"
"… Ah, sekali lagi, jangan panggil aku Xunnie."
"Eh, maaf. Tidak sengaja. Anu… Terima kasih."
Lu Xun membalasnya dengan senyum.
Lu Xun terlalu imut.
"Kalau begitu, ayo kita cari Lixia! Aku tidak bisa kalau hanya diam seperti ini! Aku harus membantu Zhao Yun juga!"
"Ya. Ayo kita cari Lixia, Lei Bin!"
###
"Lixia! Lixia!"
"Nona Lixia!"
Zhao Yun dan Xun Yu menjadi tontonan orang-orang yang melintas di jalan itu.
Mungkin karena teriakan mereka memanggil Lixia terlalu keras dan heboh?
"Haah… Sebenarnya dia ada dimana, sih?!" tanya Zhao Yun terengah.
"Tidak ada dimana-mana… Zhao Yun—"
"Tuan Xun Yu, kita harus membawanya ke Zhang Jiao besok. Bagaimana pun caranya, hari ini harus ketemu! Saya… Tidak bisa diam saja setelah mengetahui hal ini. Saya—tidak, kita harus menyelamatkannya!"
Xun Yu terdiam mendengar ucapan Zhao Yun, lalu tersenyum.
"Apa boleh buat, saya sudah sejauh ini membantu kalian. Maafkan perkataanku sebelumnya, Tuan Yu Jin."
"Eh? Tuan Xun Yu? Ada apa tiba-tiba—"
Xun Yu menghela nafas, kemudian memejamkan mata sejenak.
Hening, hanya ada suara dari hembusan angin malam.
Apa yang Xun Yu lakukan membuat Zhao Yun kebingungan.
"Err… Tuan Xun Yu…?"
Sudah semakin malam, cuaca di malam hari pun semakin dingin.
"K-Kenapa mendadak dingin begini, ya…?" Zhao Yun memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya, "err… Tuan Xun Yu? Halo?"
Xun Yu kembali membuka matanya, kemudian menatap Zhao Yun yang tengah memeluk dirinya sendiri.
"Hm? Ada apa, Zhao Yun? Dingin, ya? Kalau begitu maafkan saya."
"Hah? Apa maksud Anda…?"
"Agar tubuhmu hangat kembali, ikuti saya. Saya tahu keberadaan Lixia."
"Eh? EH? A-Apa yang sebenarnya—"
Xun Yu berlari lebih dulu meninggalkan Zhao Yun yang tengah kebingungan. Apa yang telah Xun Yu ucapkan kepada Zhao Yun membuatnya bingung, sebenarnya apa yang telah Xun Yu lakukan dan bagaimana ia bisa tahu keberadaan Lixia. Satu pertanyaan lagi…
Sebenarnya Xun Yu itu siapa?
LEI BIN. WHY. HIKS.
Lei Bin: ...? mana ku tahu?
Dan... sebenarnya Xun Yu ini apa? Daku cuma tahu kalau dia manusia ganteng.
Xun Yu: *smile* hm?
MATY DULU YA.
Jangan deh, nanti Zhu Ran sedih.
Ouke~ Oh iya, sebenarnya ku ada sedikit pemberitahuan, tapi karena kemungkinan masih aman ya nanti saja di update-an berikutnya yang entah bisa kuberitahu di chapter berapa wkwkwk. Tunggu saja ya (?)
Sekian chapter ini dan selamat berlibur plus selamat natal bagi yang merayakan~
Zhu Ran: PADORU PADORU~
WOY SALAH LAGU *geprekin*
