Always
.
.
~ Sunny ~
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto. Karangan saya yang bikin aku jatuh sakit. :P
...Reading...
...
Chapter 6 : Plan
"Deidara!" seru Hidan melihat Deidara yang dirangkul oleh kedua temannya yaitu Kabuto dan Tobi bersisian. Hidan melangkah menuju Deidara tetapi dia berhenti di tengah jalan sambil menutup hidungnya dengan tangannya. "Bau apa ini? Kamu belum mandi, ya?"
"Enak saja belum mandi! Ini gara-gara... Umph!" kalimat tersebut terpotong oleh Tobi dan Kabuto yang menutup mulut Deidara dengan masing-masing tangan.
Hidan melihat Kabuto dan Tobi memakai penjepit hidung agar bau yang ada di tubuh Deidara tidak memasuki hidungnya. Jika masuk pasti akan bau seumur hidup. Hidan menggaruk-garuk kepalanya bingung.
"Mwaaf, senior Hidan. Aku harus membawa Senior Deidara ke kamarnya. Sekarang juga!" kata Tobi maju.
Hidan mengangguk dan menyingkir dari tempatnya berdiri. Dia melepaskan tangannya dari hidungnya dan berbalik kembali ke kamarnya.
Semenit kemudian di bawah tanah dan dunia atas yang sudah dua jam, sunyi senyap di ruang markas Akatsuki karena tidak ada kegiatan. Nagato dan Kakuzu memberi makan Juubi, Orochimaru sedang menyusun tubuh untuk dihidupkan kembali bersama Hidan, Pein sedang makan mie ramen yang dia pesan sambil menonton televisi, Konan dan Kabuto sedang memasak makanan untuk makan malam, Kisame sedang memberi makan hiunya di kolam Hiu, Sasori sedang memperbaiki boneka kayunya untuk dipersiapkan buat perang, dan Tobi yang sedang memandikan hewan-hewan dibantu Zetsu. Lalu tiba-tiba...
"ARGGGHHH! RAMBUTKU! SENIKU!"teriak Deidara di kamarnya membuat semua teman-temannya kaget. Biarpun masih di dalam ruangan tetapi suaranya tetap saja terdengar keluar sampai ke dunia atas. Kalian harus tahu, gunung berapi yang meletus itu adalah suara teriakan Deidara.
Semua teman-temannya berlari ke kamar Deidara. Tapi tunggu dulu, mereka harus menyemprotkan pewangi di tubuh mereka agar bau yang ada tubuh Deidara tidak menular ke tubuh mereka. Dan juga ditambah penjepit hidung.
Tok... Tok... Tok...
"Deidara, kami masuk, ya?" tanya Kabuto.
Tidak ada jawaban. Akhirnya mereka membanting pintu dan masuk bersiaga.
"Apa yang terjadi? Apa ada maling masuk?" tanya Kabuto dan Tobi yang sudah siap tempur.
"Hei, kalian berdua berhenti. Di mana Deidara?" kata Nagato memberhentikan Kabuto dan Tobi yang semangat tempur.
Mereka mencari-cari Deidara. Mereka semua akhirnya menemukan sesosok orang di sudut ruang kamarnya. Dia duduk meringkuk di dinding dengan suasana yang sangat suram. Mereka melangkah pelan-pelan agar tidak menganggu Deidara. Akhirnya Tobi maju dengan semangat dan menepuk bahu Deidara.
"Senior Deidara?"
Deidara menggeliat atas sentuhan Tobi di pundaknya. Dia memalingkan mukanya ke Tobi dan yang lainnya. Semuanya terkejut dan kaget begitu juga Tobi yang ikut-ikut kaget.
"Senior Deidara, wajahmu... rambutmu... tubuhmu... Kenapa?" tanya Tobi yang pelan-pelan mundur.
"Semua seniku hancur gara-gara Juubi. Dia menghancurkan rambutku nan indah ini." Deidara yang memegang rambutnya yang sudah gugur dan akhirnya botak.
"Ummm... Tapi, kenapa wajahmu aneh...?" tanya Tobi yang menelan ludah.
Kabuto yang punya ide cemerlang keluar dari kamar Deidara. Dia mengambil dan mengacak-acak laci mejanya yang ada di kamarnya. Dan akhirnya menemukannya, "Ini dia!" Kabuto mengangkat botol kecil ke atas dengan cahaya di sekitarnya. Kabuto pun keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Deidara. "Deidara. Ini saya memberi kamu sesuatu agar rambutmu tumbuh panjang kembali." Kabuto semangat menyodorkan botol kecil itu ke Deidara.
Deidara mengambil dengan senang dan menuangkan isinya lebih banyak ke kepala botaknya.
"Dituangkan sedikit saja. Takutnya nanti rambutmu akan..." kalimat tersebut tidak lanjut karena dia melihat kepala Deidara yang botak bergetar. Takut karena sesuatu yang akan datang, Kabuto keluar dari kamar Deidara dengan tergesa-gesa dan bersembunyi di sisi dinding.
Yang lainnya bingung melihat Kabuto keluar dari kamar dengan terburu-buru. Ada apa dengan dia? Pikir mereka serempak dalam hati. Mereka pun membalik lagi ke arah Deidara.
Kepala botak Deidara bergetar dan akhirnya tumbuh! Rambut Deidara yang berwarna pirang keemasan tumbuh... tumbuh... tumbuh... tumbuh...! Nagato, Kakuzu, Hidan, Orochimaru, Konan, Pein, Zetsu, Tobi tanpa Kisame yang baru datang terkejut dan akhirnya...!?
"GYAAA!"
"KYAAAA!"
Suara-suara teriakan para anggota Akatsuki memenuhi seluruh dunia bawah tanah sehingga membuat dunia atas di pulau Sumatra di daerah D.I Aceh menjadi bencana dan terkena tsunami. Teriakan mereka membuat getaran di bawah laut bergetar dan membuat gempa dan tsunami!
Teriakan terkejut mereka itu dikarenakan gara-gara rambut Deidara yang botak menjadi sangat panjang memenuhi kamar Deidara. Dan yang lain pun terkurung di antara rambut Deidara yang lebat berwarna pirang keemasan.
"Rambutku... Panjang!?" Deidara terkejut.
"Tolong aku! Aku tidak bisa bernapas!" teriak Pein yang berusaha keluar dari rambut Deidara.
"Ini rambut halus, enak, lebat dan juga bisa dibuat kasur untuk tidur dan juga bisa dibuat sweater yang hangat." Konan yang mengelus-ngelus rambut Deidara.
"Ini juga bisa dibuat tempat tidur buat sang Raja Iblis." Orochimaru yang melihat rambut Deidara sambil mengamati.
"Ini bisa dibuat ramuan untuk hiu-hiu agar menjadi kuat." Kisame yang mengambil rambut Deidara juga mengamati.
"Ini cocok untuk dijadikan baju buat boneka kayuku yang baru di buat," kata Sasori.
"Ini juga bisa dijadikan alas tempat tidur di peti mati." Hidan yang tidak melepaskan rambut Deidara kagum.
"Ini bisa dibuat untuk Ambollon untuk tidur agar bisa tidur dengan nyenyak. Asyikk!" seru Tobi.
"Rambut ini bisa aku jual dan dapat uang yang sangat banyak!" kata Kakuzu semangat dengan kedua matanya yang berubah dollar $.$.
"Rambutmu mirip dengan cerita Rapunzel yang aku dapat di dunia atas, Deidara." Nagato yang melihat Deidara yang hampir marah. Wajahnya yang sudah berubah merah melihat tingkah laku teman-temannya yang ingin memanfaatkan rambutnya untuk kepentingan masing-masing tidak menghargai sang pemilik rambut pirang keemasan tersebut. "Uppss..." Nagato keluar dari kamar Deidara dan juga ikut bersembunyi di balik dinding bersama Kabuto.
"Jangan..." Deidara menundukkan wajahnya yang merah telah siap marah.
"Hah?" Teman-temannya kebingungan melihat Deidara yang menundukkan kepala memiringkan kepalanya masing-masing.
"Jangan lakukan..."
"Hah? Apa maksudmu, Deidara?"
"Jangan lakukan..."
"Kami tidak mengerti apa yang kamu bicarakan Deidara?"
Deidara tidak tahan lagi, dia akhirnya lepas kendali. "Jangan menyentuh rambutku yang seni ini! Dan juga jangan memanfaatkan rambutku! Kalian menyebalkan!" Ujung rambut Deidara berubah menjadi rambut berkepala ular yang siap menerkam. Anehnya bukan kepala ular yang di maksud tetapi kepala Deidara sendiri yang siap menerjam.
"Wow! Lihat, rambut Deidara mirip banget dengan rambut Medussa dan juga rambut Deidara mirip dengan Dr. Octopus yang di film Spiderman yang aku tonton," kata Nagato yang melihat sahabat-sahabat yang sudah dijerat oleh rambut Deidara.
"Dari mana Anda menontonnya, Senior Nagato?" tanya heran Kabuto. Tidak menoleh sedikit pun dari kejadian yang ada di hadapannya.
"Aku membeli di dunia atas dan menontonnya diam-diam."
"Kalau tahu ada film yang menarik, aku ingin sekali menontonnya."
"Kamu boleh ikut menontonnya, Kabuto. Jika mereka semua sudah pada tidur. Aku sering menontonnya bersama Zetsu."
"Senior Zetsu?" tanya Kabuto mengangkat wajahnya ke Nagato.
Rambut berwarna merah tersebut mengangguk kepalanya, "Iya. Bersama Zetsu. Jika kami berdua tidak ada kegiatan apa-apa."
"Wahh... Keren sekali. Aku ingin ikut..."
"Apa maksudnya ingin ikut? Dan apa juga maksud dari Deidara menerjang anak-anak?" Zetsu yang datang dari balik dinding langsung mengejutkan Kabuto dan Nagato yang ada di situ.
"Zetsu? Kamu mengagetkan aku?" tanya Nagato sambil menyentuh dadanya yang hampir kena serangan jantung.
"Benar, Zetsu-san. Anda mengagetkan kami berdua." Kabuto yang menghela napas dalam-dalam agar menyempurnakan pernapasannya kembali normal.
"Ada kejadian apa? Kenapa Deidara memiliki rambut panjang, wajahnya dan tubuhnya?" tanya Zetsu yang melihat Deidara yang menerjam teman-temannya dengan ujung rambutnya yang berbentuk seperti kepala Deidara.
"Deidara kena hukuman membersihkan kotoran Sang Raja Iblis bersama aku dan Tobi. Lalu, dia mengejek Raja Iblis dan kena hukuman dari Kakuzu dengan memasukkan Deidara ke dalam mulut Juubi dan mengeluarkannya lewat kotoran. Kami membersihkannya dan memasukkannya ke kamar agar dia bisa membersihkan dirinya sendiri. Tidak lama setelah itu, Deidara berteriak dan katanya rambut gugur gara-gara Juubi. Saat aku membantunya lewat botol penumbuh rambut, dia malah menuangkan semua isinya ke kepalanya. Padahal aku ingin bilang sedikit saja, tetapi malah menjadi seperti itu." Kabuto menjelaskan semuanya kepada Zetsu.
Zetsu mengangguk mengerti, "Sepertinya dia belum menyadari wajah dan tubuhnya yang juga ikut-ikutan berubah, ya." Zetsu melihat keanehan di dalam wajah dan tubuh Deidara.
Kabuto dan Nagato balik kembali ke Deidara. Keduanya terpana, "Betul. Mengingat dia memiliki rambut panjang jadi cocok banget."
Di dalam kamar, Deidara masih menghantam dan menerjang sahabat-sahabatnya. Akhirnya Pein memanggil hewan kesayangan yaitu kadal. Kadal tersebut menghajar Deidara dan Deidara akhirnya pingsan. Semua anggota-anggota Akatsuki jatuh ke lantai kamar Deidara dan meringis kesakitan. Sedangkan Pein dengan anggunnya jatuh ke lantai dengan satu kaki.
"Wahh! Dia pingsan." Kabuto yang masuk melihat Deidara terkapar di lantai kamarnya. Nagato dan Zetsu harus berusaha masuk dan juga menghindari rambut panjang pirang keemasan Deidara agar tidak di sentuh.
"Jadi, bagaimana?" tanya Pein menepuk-nepuk mantelnya yang berwarna hitam berlambang awan merah agar kotoran dan debu keluar.
Tobi mengangkat Deidara dengan ala bridal style. Semuanya terpana dan terkejut. Nagato menyeringai.
"Seperti pangeran yang menggendong putri. Seperti ada di film-film kerajaan."
"Wow! Kalian serasi sekali jika kalian seperti itu!" seru Konan bertepuk tangan dengan gembira.
"Itu betul. Mengingat Tobi menyukai Deidara sejak dulu," kata Hidan melihat suasana romantis yaitu Tobi meletakkan Deidara ke tempat tidurnya.
"Cocok lho wajah Deidara seperti itu." Kisame yang ingin tertawa pun menahannya.
Tobi balik badan ke tempat teman-temannya dan membungkuk hormat ke Kakuzu, "Terima kasih Senior Kakuzu! Berkat Senior, Senior Deidara menjadi seperti itu."
"Hn." Jawab singkat dari Kakuzu.
"Biarkan dia tidur dulu. Aku ingin kalian ikut aku ke ruang rapat karena ada yang ingin kubahas tentang misi kita di hari Selasa. Sekarang juga." Pein meninggalkan kamar Deidara diikuti oleh yang lainnya.
Tobi yang melihat senior-senior pergi menatap kembali Deidara yang tertidur seperti putri tidur yang cantik. Dia pun mengecup dahinya. "Selamat tidur putriku." Tobi meninggalkan ruang kamar tersebut dan menutup pintunya.
Zetsu dan Kabuto yang tidak ikut mengikuti Pein ke ruang rapat melihat dengan terpana apa yang dilakukan oleh Tobi ke Deidara.
"Aku tidak menyangka dia bisa berbuat senekat itu?" tanya Kabuto menggeleng.
"Namanya juga penggemar Deidara. Dia penggemar Deidara sejak dia dilahirkan di dunia ini. Deidara 'kan lebih tua dari Tobi. Kata Konan, Tobi melihat Deidara seperti malaikat Iblis yang datang dari kawah panas." Zetsu menjelaskan apa yang terjadi sejak Tobi lahir di dunia bawah.
"Wow! Aku merasa misi ini akan berjalan lancar."
"Tapi, itu tidak akan berguna buat Tobi yang perannya akan menjadi susah lagi."
"Memangnya kenapa?"
"Kamu akan tahu sendiri. Lebih baik kita ke ruang rapat. Takutnya nanti Pein akan marah melihat kita berdua tidak ada di ruangan tersebut."
Kabuto mengangguk. Zetsu menghilang dari balik dinding dan Kabuto membuka pintu dan menutupnya.
...
Di ruang rapat, Pein duduk di sebuah kursi. Di sebuah meja bundar dengan tengahnya yang kosong. Diantara meja bundar, semua anggota Akatsuki ada yang duduk di sebelah kiri dan sebelah kanan.
Pein melanjutkan pidato pembahasannya, "Aku mengajak kalian semua ke sini untuk membicarakan misi kita di hari Selasa. Hari tersebut, kita akan mematai-matai siapa orang yang menjaga Uchiha Sasuke. Kalau dia dari Langit, kita haarus melawannya dengan seluruh kekuatan kita agar Uchiha Sasuke mau mengikuti apa yang kita lakukan. Kalau bisa kita hancurkan juga kekasih Uchiha Sasuke yang bernama Haruno Sakura."
"Sasuke punya pacar?" tanya Tobi.
"Dari mana kamu dapat informasi tersebut? Kulihat kamu sejak kemarin tidak pernah keluar dari kamar gara-gara menonton Olimpiade," kata Hidan.
"Ehem. Jangan ngebahas pribadi orang di depan semuanya, Hidan." Pein yang tersipu malu karena aibnya dibahas di ruang rapat.
Semuanya terkikik dan menahan ketawa. Tidak menyangka kalau ketua dari Akatsuki ini penyuka Olahraga. Dan juga tidak menyangka kalau ketua mereka ini suka mengurung diri di kamar karena menonton bola atau Olimpiade.
"Diam. Jika ingin ketawa. Ketawa saja. Jangan disembunyikan." Pein memerintahkan semuanya untuk tidak ketawa sembunyi-sembunyi akhirnya membuka mulutnya dan tertawa terbahak-bahak.
"HA HA HA HA HA!"
Semua anggota-anggota Akatsuki tertawa dan memegang perut mereka yang sudah terasa sakit dan geli. Semuanya tidak berhenti tertawa membuat Pein menjadi tidak tahan. Untungnya hal itu tidak terjadi karena Deidara tiba-tiba masuk ke dalam ruang rapat.
"Kenapa aku tidak dibangunkan untuk rapat ini!?" teriak Deidara marah menerjang masuk ke ruang rapat.
Para anggota-anggota Akatsuki berhenti tertawa dan melihat Deidara masuk. Mereka melihat Deidara yang telah mengikat rambut panjangnya berwarna pirang keemasan menjadi kunciran di setiap helaian rambut yang tebal. Wajahnya yang aneh membuat para laki-laki tersipu dan tubuhnya yang luar biasa menonjol.
"Dewi Iblis datang dari dunia bawah."
"Wow! Pengantin wanita datang!"
"Suit! Suit!"
Semua serempak berteriak membuat Deidara memiringkan kepala bingung, 'Apa maksud mereka? Pengantin wanita? Dewi Iblis?' bisik Deidara dalam hati. "Apa maksud ucapan kalian semua?"
"Hanya suara yang tidak berubah, ya?" Hidan cemberut menggeleng-geleng perlahan.
"Iya. Itu benar sekali." Kabuto mengangguk mengiyakan.
"Apa maksud kalian sebenarnya?" tanya Deidara lagi bingung.
"Kamu tidak menyadarinya, Deidara?" tanya Nagato pada Deidara yang sudah bingung setengah mati.
"Apa sih?"
"Lihatlah tubuhmu."
Deidara melihat tubuhnya, dia memiringkan kepalanya keheranan. Deidara kembali mengangkat kepala ke teman-temannya. "Memangnya ada apa dengan tubuhku?"
"Kamu tidak melihat tubuhmu dan wajahmu berubah?" tanya Nagato juga heran melihat reaksi Deidara.
"Aku tidak merasakan tubuhku dan wajahku aneh. Hanya rambutku saja yang gugur dan menjadi panjang seperti ini." Deidara marah sambil mengangkat rambut pirang keemasannya lalu melepaskannya.
"Ada yang aneh, nih."
"Berarti, hanya Deidara saja yang tidak tahu?"
"Itulah akibatnya dia mengejek sang Raja Iblis."
Bisikan-bisikan dari teman-temannya membuat Deidara menjadi geram. Memangnya ada apa dengan tubuh dan wajahnya? Dia melihat dirinya sendiri, tidak terjadi apa-apa. Deidara ingin sekali marah pada teman-temannya yang merupakan anggota-anggota Akatsuki. Untungnya Pein memotong pembicaraan mereka yang topik pembicaraannya adalah Deidara.
"Sudah. Sampai kapan kalian terus mempersulit Deidara. Bisa-bisa rencana yang kita atur akan berantakan jika kalian terus seperti itu. kembali duduk!" Pein memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk duduk di kursi masing-masing. Pein menunjuk Deidara juga duduk di kursi. "Deidara! Kamu duduk saja dekat pintu. Melihat rambutmu yang terlalu panjang."
Deidara cemberut dan duduk sambil mengangkat kedua tangan di depan dada juga mengangkat satu kaki bertumpu di pahanya.
Akhirnya Pein juga kembali duduk di kursinya dan melanjutkan rencananya, "Begini. Pertama-tama, kita harus menyusun rencana siapa yang akan menculik Uchiha Sasuke atau Haruno Sakura. Dan juga siapa akan bertarung melawan malaikat penjaga Uchiha Sasuke. Aku akan membagi peran kalian semua." Pein mengambil map yang ada di hadapannya dan membukanya. Dia lalu menuju ke kelompok sebelah kirinya. "Hidan sebagai ayah dari tiga anak, Konan sebagai istri dari Hidan, Nagato dan Sasori akan menjadi anak mereka berdua mengingat rambut kalian sama-sama merah, dan untuk anak ketiga..." Pein memikirkan siapa yang akan menjadi anak ketiganya. Akhirnya wajahnya berubah cerah, dia menunjuk dirinya sendiri memakai ibu jarinya. "Yaitu aku!"
"Hah! Aku suami Konan. Tidak salah tuh?" Hidan melemaskan tubuhnya kesal. Tidak menyangka dia akan berpasangan dengan Konan.
"Aku juga tidak ada niat untuk menjadi istrimu!" kata Konan pedas.
"Apa!?"
"Mau berkelahi?"
"Kamu!"
"Sudah. Sudah. Hentikan! Kalian berdua! Pemilihan ini sudah dibagi. Kita dipilih untuk menculik Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura. Jadi berhentilah bertengkar." Nagato menghentikan pertengkaran antara Konan dan Hidan. Dia lalu menoleh ke samping kanannya di mana Pein hanya santai di tempat duduknya. "Kami akan menjadi anak kecil, Pein? Umur berapa?"
"Umur Nagato yang wajahnya agak sedikit tua, 10 tahun, Aku 7 tahun, dan Sasori 4 tahun. Adil, 'kan?" kata Pein menjelaskan.
Nagato dan Sasori mengangguk mengerti. Begitu juga Hidan dan Konan.
Pein melihat sebelah kanannya dan menjelaskan rinciannya, "Aku akan membagi tugas untuk melawan malaikat penjaga Uchiha Sasuke itu. Kisame, Kakuzu, Tobi, dan Zetsu... Kalian akan kuberi peran menjadi boneka."
"APA!?"
"Apa maksudmu?"
"Masa' kami harus menjadi seperti itu lagi?"
"Ini tidak adil."
Kakuzu, Tobi, Kisame, dan Zetsu membantah tidak mau berperan lagi menjadi boneka. Jika mereka menjadi boneka, mereka akan melawan anak kecil yang sudah menyiksa mereka. Mengingat kejadian tersebut, membuat mereka berempat gemetaran setengah mati, tidak mau kejadian itu terulang lagi.
"Jangan membantah! Kabuto dan Orochimaru, kalian akan menjadi anak berusia 9 tahun. Dan... Hhhh..." Pein menghela napas, melanjutkan lagi pidatonya, "Deidara, kamu akan menjadi ibu bagi mereka."
"Apa?" seru Deidara terkejut.
"Jangan membantah lagi!" Pein membanting tangannya ke atas meja.
"Lalu, bagaimana dengan Uchiha Itachi?" tanya Nagato.
"Dia akan menjadi objek untuk kita. Agar kita bisa mencapai tujuan kita." Kata Pein menyeringai keji.
"Tinggal menghantam langsung ke dalamnya."
"Habisi mereka!"
"Habisi keluarga Uchiha!"
Suara-suara anggota-anggota Akatsuki menggema di markas Akatsuki. Itu membuat para anak buah mereka heran dan bingung. Begitu juga Bijuu, sang Raja Iblis yang telah terganggu tidurnya.
Tetapi itu tidak berguna buat Tobi yang melamun terus. Dia melamunkan hidupnya bersama Deidara di masa depan. Mengingat tubuh Deidara tidak lagi seperti dulu. Bukan lagi seperti laki-laki tetapi seperti perempuan yang seksi. Tobi melamunkan masa depannya bersama Deidara memiliki anak-anak yang lucu di dunia bawah. Membuat Tobi mengeluarkan air liurnya dan matanya berbinar-binar.
"Hei, Tobi... Kamu kenapa?" tanya Deidara yang datang di hadapannya dan menghancurkan lamunannya.
Tobi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia melihat latar di belakang Deidara berkelap-kelip, melihat dari bawah ke atas. Membuat Tobi bertekuk lutut dan mengambil tangan Deidara. "Maukah kamu menikah denganku, My sweet honey?"
Deidara tercengang. Dia lalu mengangkat satu tangannya dan menampar Tobi dengan kerasnya.
PLAKK!
Tamparan keras membuat topeng Tobi retak. Deidara marah lalu berjalan keluar dari ruang rapat. Tobi memegang topeng yang sudah retak, membisu.
Teman-teman se-anggota Akatsuki melangkah menuju Tobi. Mereka ingin menghiburnya. Lalu, saat mereka ingin mendekati Tobi. Tobi gemetaran.
"Kamu tidak apa-apa, Tobi?"
"Pasti sakit, ya, tamparan Deidara."
"Kasihan kamu, Tobi."
"Padahal aku ingin menggendong keponakan."
"Bagaimana bisa?"
"Bisa. Asalkan dia perempuan seksi dan hot."
"Hebat!"
Pembicaraan tentang masa depan Tobi-Deidara, membuat teman-temannya ingin merasakan memiliki keponakan yang lucu-lucu.
Di dunia bawah sudah tidak ada anak bayi karena semua sudah menjadi tua karena umurnya sudah terpaut jauh dari umur manusia. Umur manusia dan umur Iblis sangat jauh berbeda. Umur Iblis tidak akan pernah habis dan tidak akan menjadi tua selama hidupnya begitu juga dengan para malaikat, sedangkan umur manusia akan habis, mengingat manusia akan mati. Manusia meninggal dan tidak akan hidup kembali. Yang menggantikannya adalah anak-anak mereka dan keturunan mereka. Iblis dan Malaikat tidak boleh jatuh cinta. Jika jatuh cinta, salah satu dari pasangannya akan mati dan tidak akan hidup kembali. Iblis dan manusia tidak boleh juga jatuh cinta, karena salah satu dari pasangannya akan menjadi korban kebangkitan Raja Iblis yang sebenarnya. Begitu juga Malaikat dan manusia, jika salah satu pasangannya saling mencintai, diantaranya harus mengorbankan jiwa dan ingatan untuk danau milik Rikuudo, sang petinggi langit. Jika sudah masuk, ingatan dan jiwa akan menjadi milik danau itu seutuhnya. Yang boleh untuk jatuh cinta adalah Iblis dengan Iblis. Malaikat dengan Malaikat tidak boleh, karena Malaikat yang telah lahir itu datang dari danau milik Rikuudo. Rikuudo-lah yang akan mengajarkan hidup dan kekuatan, dan saat sudah lebih besar, Malaikat kecil akan diserahkan ke para Master Kage dan sang Hakim untuk diajarkan kekuatan-kekuatan agar melawan Iblis. Jadi, ayah dan Ibu mereka adalah petinggi Langit, Master-Master Kage dan sang Hakim-Hakim.
Sejenak mengingat kejadian lama dan sejarah lama, pembicaraan mereka terpotong oleh Tobi yang berdiri tegak sambil merentangkan kedua tangannya ke atas.
"Aku diterima!"
"Hah!?" Serempak mereka kebingungan melihat Tobi berteriak bilang diterima. 'Apa maksudnya?' bisik mereka serempak dalam hati.
"Aku diterima oleh Deidara. Yeay!" Tobi berlari keluar dari ruang rapat dan kembali ke kamarnya.
Semua tahu kalau Tobi menyembunyikan kesedihannya karena ditolak oleh Deidara. Tobi sengaja ceria agar dirinya tidak dihibur oleh teman-teman se-anggota Akatsuki. Mereka akhirnya menggeleng-geleng.
"Kasihan kamu, Tobi."
...
Di dunia langit, sang Hakim memanggil seseorang untuk membantu Naruto melawan Iblis. Jiraiya mengetahui kalau sang Iblis sudah menyusun rencana untuk menculik Uchiha Sasuke atau Haruno Sakura. Jadi, Jiraiya mengutus sahabat Naruto yaitu Kiba dan Akamaru, anjing kesayangannya untuk membantu Naruto.
"Aku ingin kalian berdua membantu Naruto untuk menjaga Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura."
"Baik. Kami akan melaksanakannya." Kiba membungkukkan badannya begitu juga anjingnya, Akamaru.
"Guk!"
"Bagus. Kalian akan dirubah menjadi seumuran dengan Naruto di dunia Manusia. Jadi, pasang telinga, mulut, mata kalian baik-baik."
"Kenapa mulut juga ikut-ikutan?"tanya Kiba bingung.
"Itu untuk kalian yang tidak boleh mengumpat."Jiraiya menjawab asal.
"Baiklah, Jiraiya-san."
"Kalau begitu, pergilah kalian."
"Baik!"
"Guk!"
Kiba dan Akamaru menghilang secepat angin. Mereka telah menuju ke dunia Manusia di mana Naruto berada. Jiraiya menghela napas. Sebentar lagi akan menjadi pertarungan luar biasa antara Naruto-Kiba-Akamaru versus Akatsuki di hari selasa.
"Aku yakin kamu pasti akan baik-baik saja, Naruto."
...
Naruto yang sudah bangun dari tempat tidurnya mendengar suara ribut di luar kamar Sasuke. Dia turun dari tempat tidur Sasuke dan melangkah menuju pintu untuk membukanya. Saat dia membukanya, dia melirik ke arah di mana lantai satu berada.
Naruto keluar dan turun dari tangga. Dia melihat Sasuke dan kawan-kawan tertawa terbahak-bahak. Naruto melihat Sasuke memeluk Sakura. Naruto tersenyum senang sekali.
Sasuke melihat Naruto dan tersenyum memanggil Naruto ke tempatnya, "Naruto, kamu sudah bangun? Kemarilah."
Naruto melangkah pelan menuju Sasuke dan Sakura. Dia melihat teman-teman Sasuke tersenyum.
"Jadi ini namanya Naruto?" tanya Suigetsu tersenyum memperlihatkan giginya yang runcing.
"Hai Naruto. Sudah lama, ya. Kamu masih mengenal aku?" tanya Sai.
"Naruto juga pasti mengenal aku." kata Ino tersenyum.
"Dia siapa, Sasuke?" tanya Hinata melihat Naruto. Dia merasa pernah melihat Naruto, tapi di mana?
Sasuke mengangkat tubuh mungil Naruto di atas pangkuannya dan menjawab pertanyaan Hinata, "Ini namanya Naruto. Dia aku temukan di tempat di mana meteor jatuh."
Semuanya hanya membuka mulut, "Oooo..." Hanya Hinata-lah yang tidak menjawab pernyataan tersebut. Dia masih mengamati anak balita di pangkuan Sasuke.
Naruto merasakan ada orang yang mengamatinya. Dia melihat perempuan berambut biru dan bola mata abu-abu. Naruto merasakan detak jantungnya bergemuruh. Dia merasakan perasaan yang aneh pernah melihat gadis yang mengamatinya. Ada sebuah perasaan aneh yang telah lama hilang, sebuah perasaan yang tidak akan dimengerti oleh Naruto.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman hiburan besok?" ucap Suigetsu yang telah membuyarkan lamunan Naruto melihat Hinata.
"Bukankah Papa dan Mama cekolah?" tanya Naruto langsung.
Sasuke tersenyum, "Sekolah sedang diperbaiki. Jadi, minggu ini kami libur. Sambil menunggu kita masuk sekolah kembali, aku setuju pergi ke taman hiburan."
"Asyik!" seru Suigetsu loncat-loncat kegirangan.
Semuanya terkikik melihat tingkah laku Suigetsu. Naruto yang biasanya bahagia masih mengamati gadis di hadapannya yang tersenyum senang. Naruto memikirkan siapa gadis ini sebenarnya. Kenapa dia merasakan suatu perasaan yang aneh sejak dia melihatnya tadi?
"Naruto, apa kamu mau ikut?" tanya Sakura membuyarkan lamunan Naruto.
"Oh, Eh, iya, Mama..." jawab Naruto gagap.
"Kamu kenapa Naruto? Kamu tidak enak badan?" tanya Sakura khawatir.
"Tidak kok, Mama. Caya hanya pucing."
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke kamar."
Sakura mengambil Naruto dari pangkuan Sasuke dan menggendongnya. Dia lalu membawanya ke kamar Sasuke yang ada di lantai dua. Setelah tiba di lantai dua, Sakura meletakkan tubuh Naruto yang sudah menguap. Sakura tersenyum membelai-belai rambut kuning Naruto. Naruto merasakan kehangatan langsung menutup matanya perlahan. Sakura masih tersenyum melihat Naruto sudah menutup matanya, dia pun mencium dahi Naruto dengan kasih sayang.
"Selamat tidur, Naruto."
Sakura beranjak dari kamar Sasuke, membuka pintu dan menutupnya lagi dengan perlahan agar tidak membangunkan Naruto.
Naruto yang telah membuka matanya, masih merasakan keanehan. Dia berbisik kepada Kurama yang berada di sampingnya.
"Kulama, aku ini kenapa?"
"Huahhh, ada apa Naruto?" Kurama yang menguap, mengucek-ngucek matanya melihat Naruto yang kebingungan.
"Aku melacakan cuatu hal yang aneh di dalam hatiku ini. Cebuah pelacaan lama."
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Aku melihat cecocok olang yang cudah lama tidak pelnah aku lihat."
"Siapa dia?"
"Lambut belwalna bilu dan matanya belwalna abu-abu."
Kurama terkejut. Tidak menyangka Naruto akan bertemu kembali dengan cinta pertamanya. 'Seharusnya ingatan Naruto hilang sejak peristiwa tersebut. Kenapa kembali lagi?' bisik Kurama dalam hati.
"Ada apa, ya, denganku Kulama?"
"Jangan dipikirkan Naruto. Kamu tidak akan menjaga Sasuke dan Sakura apabila kamu memikirkan hal yang tidak penting."
"Begitu, ya, Kulama. Pelacaan yang tidak penting?"
"Hn."
"Baiklah. Aku mau tidul dulu."
Naruto menutup matanya dan tertidur lelap.
Kurama yang merasakan kalau partnernya sudah menyadari siapa gadis itu sebenarnya. Gadis yang telah membuat Naruto jatuh cinta, tetapi harus merelakan cinta pertamanya agar cinta pertamanya tidak mati. Naruto mengorbankan ingatannya bersama gadis itu ke dalam danau milik Rikuudo, sang petinggi langit.
Malaikat tidak boleh jatuh cinta pada Manusia. Jika itu terjadi, sang manusia akan mati dan tidak akan hidup kembali. Naruto yang merasakan jika cinta pertamanya mati, akhirnya dia pun merelakan ingatannya. Melupakan cinta pertamanya. Untuk selama-lamanya.
Kurama tidak menyangka kalau gadis yang disukai Naruto ada di dunia ini. Padahal cinta pertama Naruto sudah beratus-ratus tahun lamanya. Seharusnya gadis tersebut meninggal, mengingat Naruto telah mencintai gadis itu ratusan tahun yang lalu.
Biarpun mati di kehidupan ini, kehidupan berikutnya akan hidup lagi. Tapi, apakah Naruto akan mengulang kejadian yang dulu lagi? Cinta pertama yang sudah terbalas tapi tidak bisa bersama dengan dia. Biarpun mereka mati, Naruto-lah yang akan terus hidup dan gadis itu yang akan mati. Mengingat usianya yang sudah berubah tua.
"Ya, ampun. Kenapa di saat seperti ini, Naruto kembali mengalaminya? Semoga saja itu tidak akan mengganggu tugas Naruto menjaga Sasuke dan Sakura."
...
Di luar Sakura kembali ke tempat kekasih dan teman-temannya. Sakura ingin duduk tetapi Sasuke menarik tangannya untuk duduk di pangkuannya. Sasuke memeluk Sakura dari belakang dengan mesranya.
"Kamu lama sekali, Sakura," bisikan Sasuke di telinga Sakura membuat dia menjadi gugup dan bergidik.
"Maaf, Sasuke."
"Hn."
"Bagaimana dengan Naruto, Sakura?" tanya Ino yang duduk di seberang Sasuke dan Sakura.
Sakura mengangkat wajahnya menatap Ino, "dia baik-baik saja. Dia saat ini sedang tertidur."
"Sakura..." Sakura menoleh ke Hinata yang memanggilnya.
"Ada apa, Hinata?"
"Tidak apa-apa." Hinata menggeleng-geleng. Sakura bingung. Hinata lalu menatap sepupunya, Neji, "Kak Neji, aku mau pulang."
Neji lalu menatap ke Sasuke untuk pamit, "Sasuke, aku mau pulang. Aku juga harus mengantar Hinata dulu."
"Hn," jawab singkat Sasuke.
"Kalau begitu aku juga mau pulang." Suigetsu dan Juugo beranjak dari tempat duduknya menyusul Neji dan Hinata.
"Aku juga. Aku harus mengantar Ibuku pergi berbelanja." Ino juga mengikutinya.
"Oke. Aku juga harus pulang karena kakakku sedang sakit." Sai juga berpamitan pulang sama Sasuke.
Sakura dan Sasuke berdiri. Sakura juga ingin pamit pulang mengikuti mereka. Tetapi, Ino dan Suigetsu menghentikannya.
"Kamu di sini saja, Sakura menemani Sasuke."
"Betul." Suigetsu menatap Sasuke, "Sasuke, sampai jumpa besok di taman hiburan, oke?"
"Hn."
Suigetsu dan kawan-kawan keluar dari ruang tamu dan menuju pintu keluar dipimpin oleh pelayan keluarga Uchiha.
Sementara itu, Sakura gugup tidak tahu harus bagaimana. Sasuke menyeringai dan menarik tangan Sakura menuju sofa tempat dia duduk. Sakura terjatuh dan tidur terlentang dengan Sasuke di atasnya sambil memiliki seringai.
"Sa-Sasuke..."
"Aku mencintaimu, Sakura."
"Aku juga mencintaimu, Sasuke."
Akhirnya mereka berciuman sambil menekan tubuh masing-masing. Sakura mengangkat kedua tangannya untuk memeluk leher Sasuke. Sedangkan Sasuke memeluk pinggang mungil Sakura dengan tangan kirinya dan tangan kanannya memegang rambut merah muda Sakura.
Mereka terus berciuman sambil bergulat lidah. Sungguh perasaan yang sangat romantis di ruangan tersebut. Sampai-sampai mereka berdua tidak tahu kalau sang anak sulung keluarga Uchiha sudah pulang dari tempat kerjanya mendahului Sasuke dan teman-temannya. Dia mengintip kemesraan Sasuke dan Sakura yang berciuman mesra. Itachi mengepalkan tangannya menjadi sebuah tinju.
'Kalian akan kubuat hancur,' bisik sang kakak yang ditemani sang rambut orange di belakangnya sambil menyeringai keji. Yang ternyata adalah Pein telah mengendalikan Itachi.
...
A/N: Wow! Selesai juga akhirnya! Saya sudah sehat kembali. Maaf, ya, buat kalian yang sudah menunggu. Maagku kambuh dan saya harus istirahat.
Di chapter ini, Akatsuki akan merencanakan sesuatu yaitu menculik Sasuke atau Sakura jika gagal. Di sini juga Jiraiya menyuruh Kiba dan Akamaru turun ke dunia Manusia untuk membantu Naruto agar bisa mengalahkan Akatsuki. Di sini pula, Naruto menemukan cinta pertamanya yang telah hilang beratus-ratus tahun lamanya. Akhirnya bertemu lagi! Saat ini, Naruto sedang hilang ingatan untuk selamanya karena Malaikat tidak boleh jatuh cinta terhadap Manusia. Kemesraan Sasu-Saku juga ada.
Di chapter berikutnya bukan tentang Naru-Hina, masih tetap kemesraan Sasu-Saku di taman hiburan. Di situ juga akan menjadi ajang pertarungan Naru-Kiba-Akamaru versus Akatsuki. Saya ingin membuat satu cerita untuk Naru-Hina, tapi masih sekuel cerita Always, Tapi judulnya kuubah menjadi First Love atau Love First Sight. Nanti dilihat, ya.
Semoga kalian bisa membaca dengan baik. Tolong tinggalkan review, ya. Supaya saya bisa mengatur bagaimana cerita selanjutnya lagi. Jika bisa, saya membuat dua chapter selama seminggu di saat menuju hari Raya Idul Fitri. Tolong tunggu dengan sabar, ya!
Thanks,
See ya, next chapter,
~ Sunny February
