Karena sepertinya chap terakhir terlalu panjang, akhirnya saya putuskan untuk menjadikannya dua chapter. Hehe.. Silakan tarik napas dalam-dalam. Karena dua chap terakhir ini mungkin akan jadi sangat berat pembahasannya.. *halah*
Selamat membaca
.
.
.
Senja mulai merayap turun dan matahari sudah hampir tidak kelihatan di ufuk barat ketika Sasuke memasuki perkarangan rumah keluarga Uchiha. Semburat senja membuat perkarangan itu tampak berwarna jingga kemerahan. Sasuke tidak segera turun dari mobilnya dan membiarkan mesin mobilnya masih menyala untuk beberapa saat. Dengan penuh keengganan dia akhirnya mematikan mesin mobilnya dan menatap pintu rumahnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Sebuah helaan napas panjang keluar dari mulut dan hidung Sasuke sebelum akhirnya dia meraih tas kerjanya dan membuka pintu mobilnya. Dia kembali berdiri diam di samping mobilnya untuk beberapa saat dengan salah satu tangan berada di saku celana kerjanya.
Masih teringat jelas dengan perkataan Shikamaru beberapa saat lalu yang membuatnya akhirnya mengurungkan keinginan untuk segera pulang ke rumah.
Mungkin kenyataan yang baru dia dengar beberapa saat yang lalu serta analisa terbarunya yang dia gabungkan dengan hasil penyelidikan Shikamaru, adalah kenyataan paling pahit dalam hidupnya. Bahkan lebih pahit daripada mendengar kabar kematian kedua orangtuanya.
Dengan langkah berat dan dada yang mulai terasa sesak, Sasuke memaksakan dirinya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Dia kembali berdiri di depan pintu rumahnya untuk beberapa saat. Lalu setelah memantapkan hatinya, dia membuka pintu itu dan mulai berjalan memasuki rumahnya dengan langkah pelan. Sasuke berjalan menuju ruang tengah.
"Sasuke-kun! Kau sudah pulang?" suara Sakura terdengar memenuhi gendang telinga Sasuke dan membuat dadanya sakit. Sakura berjalan dengan sebuah senyum manis untuk menyambutnya. Melihat senyuman yang tidak pernah hilang saat berada di depan Sasuke seperti itu, benar-benar membuat Sasuke ingin berteriak frustasi.
"Selamat datang.." katanya seraya memeluk tubuh Sasuke.
Sasuke tidak membalas pelukannya dan malah memejamkan matanya seraya menarik napas panjang. Dia mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri sebelum akhirnya mengatakan sesuatu.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Sasuke dengan suara dalam yang dingin.
Pelukan di tubuhnya langsung mengendur. Sakura segera menarik tangan dan tubuhnya untuk menjauh dari tubuh Sasuke. Dia menatap Sasuke dengan dahi berkerut.
"Apa maksudmu.. Sasuke.. kun?" tanyanya dengan nada takut.
"Apa kau memang dilatih untuk bersandiwara sebagus itu.. Haruno Sakura?" tanya Sasuke, dengan nada dingin.
"Aku.. Aku tidak paham.." jawab Sakura.
Sasuke mendengus pelan.
"Aku mencoba mengecek di agensi tempatmu bekerja. Tapi mereka bilang kalau tidak ada seorang petugas yang bernama Haruno Sakura terdaftar di sana. Dan mereka juga tidak pernah mengirimkan seorang babysitter ke rumah ini. Katakan, siapa kau sebenarnya? Dan kenapa kalung Itachi bisa ada dalam tasmu?" Sasuke akhirnya kehilangan kesabaran. Dia mengeluarkan sebuah liontin berbandul lambang Uchiha berwarna perak dari saku celananya.
Sakura kelihatan terkejut dengan pertanyaan Sasuke baru saja.
"Itachi tidak pernah melepaskan liontin ini sejak dulu. Baginya, ini adalah benda paling berharga yang dia miliki karena ibu kami memberikan ini sesaat sebelum kematiannya. Katakan padaku, kenapa kalung ini bisa berada di tasmu?"
"Aku.. bertemu dengannya.." jawab Sakura ragu-ragu.
"Ahh! Iya... Tentu saja. Bertemu dengannya saat di bank kan? Kau bertemu dengannya saat terjadi peristiwa perampokan di bank saat itu.." kata Sasuke dengan nada sarkastik.
Sakura menatap Sasuke dengan wajah ngeri. Dia tidak pernah melihat Sasuke semenakutkan seperti ini.
"Sasuke-kun.."
"Seorang saksi yang berada di dekat lokasi melaporkan pada polisi kalau dia mendengar seorang gadis berambut merah muda berteriak kalau ada yang sekarat di dalam bank setelah para perampok itu berhasil melarikan diri. Gadis itu berteriak ke arah kerumunan polisi yang berada di barisan depan kalau Itachi Uchiha kritis.. Apakah gadis itu kau, Sakura? Seorang gadis berambut merah muda.." kata Sasuke.
Sakura tidak menjawab dan hanya berdiri dengan sikap mematung.
"Mungkin yang ini akan membuatmu menjawab pertanyaanku dengan segera..." Sasuke mengeluarkan sesuatu dari tas kerjanya. Sebuah foto dari rekaman video CCTV yang baru saja dilihatnya siang ini tadi. "Ini adalah rekaman video terbaru. Polisi berhasil memperbesar gambarnya dan membuat gambarnya menjadi lebih jelas. Di gambar ini ada salah seorang dari komplotan itu yang menghampiri tubuh Itachi setelah Itachi tertembak. Tapi bodohnya, anggota komplotan itu sempat melihat ke CCTV dan membuat kedua matanya tersorot CCTV. Apa yang aku lihat di sini? Sepasang mata hijau emerald yang sangat aku kenal.." lanjut Sasuke, dengan pandangan tajam yang sama sekali tidak terlepas dari tubuh Sakura.
Sakura menahan napasnya dan menatap Sasuke dengan pandangan mata terbelalak. Lalu beberapa saat kemudian, raut wajahnya langsung berubah.
"Jadi.. Kau sudah tahu?" sebuah senyum sedih menghias wajahnya. Mata hijau emeraldnya menatap lurus ke arah Sasuke dengan tatapan sayu. Sasuke balas menatapnya dengan raut wajah dingin dan datar. Untuk beberapa saat, mereka berdua hanya saling menatap dalam diam.
"Apa maksudmu datang ke rumah ini dan berpura-pura bekerja sebagai babysitter?" tanya Sasuke kemudian.
"Itu.. karena.. Aku hanya memenuhi permintaan terakhir Itachi-san.." jawab Sakura kemudian.
"Apa maksudmu?"
Sakura menghela napas pelan dan napasnya bergetar saat dia menghelanya. Sama halnya dengan Sasuke, dadanya kini dipenuhi dengan luka dan terasa sesak sekali.
"Saat itu.." katanya kemudian.
*flashback*
(Sakura POV)
Suara teriakan dan sirene mobil polisi di luar bank terdengar memenuhi gendang telingaku saat ini. Aku melihat para nasabah merunduk dengan kedua tangan di atas kepala mereka. Raut ketakutan tampak sekali di wajah mereka.
"Jangan diam saja! Cepat kau ambil semua uang yang ada!" teriak Akasuna Sasori, pimpinan komplotan perampok yang sedang menjarah bank ini. Dia berteriak tepat di telingaku dan itu membuatku langsung terlonjak kaget.
Aku segera mengikuti perintahnya. Kedua anggota komplotan yang lain sudah sibuk mengambil uang dari petugas bank yang ketakutan karena diancam dengan senjata api.
Aku hampir bergerak untuk mengambil uang di brangkas yang lain, saat aku melihat salah satu nasabah bank berdiri. Aku menatapnya dengan tatapan ngeri.
"Apa kau mau mati?" teriak Sasori pada pemuda berambut hitam panjang itu.
"Aku hanya mencoba mempertahankan hartaku. Aku sudah susah payah mengumpulkan uang itu dan sekarang kalian mengambilnya begitu saja dengan paksa.." kata laki-laki itu.
Aku ingin berteriak padanya untuk menyerah saja dan ikut merunduk seperti yang lain. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Tidak selama aku berada di dekat Sasori.
"Cih! Itu urusanmu. Tugasku hanya mengumpulkan harta itu sebanyak-banyaknya.." sahut Sasori.
"Dasar manusia rendah!" raung pemuda bermata hitam itu dengan marah.
Sasori mengarahkan pistol laras panjangnya ke arah pemuda itu. Belum sempat aku mencegahnya, aku mendengar suara letusan dari benda itu. Tubuh tinggi pemuda itu langsung ambruk begitu saja di tempatnya.
"Kau gila?! Kita tidak akan membunuh mereka. Itu perjanjiannya kan?" teriakku.
"Aku memang tidak membunuhnya. Dia hanya tertembak.." jawab Sasori enteng.
"Kau bilang kita hanya akan merampok dan tidak membunuh!" Sakura masih tidak terima.
"Tergantung situasi, sayangku.." sahut Sasori lagi. Aku hanya bisa menatapnya geram. Aku lalu beralih menatap tubuh pemuda yang sekarang tergeletak tak berdaya tak jauh dari tempatku berdiri. Kakiku melangkah untuk mendekatinya.
"Kau mau apa?" tanya Sasori dengan sedikit membentak.
"Dia bisa mati kalau dibiarkan seperti itu terus.." sahutku.
"Kau tidak perlu mengurusinya!" teriak Sasori saat melihatku sudah berjalan mendekati tubuh pemuda yang kini bersimbah darah.
Aku berdiri di dekat tubuh pemuda yang tergolek tak berdaya itu lalu segera berjongkok untuk melihat kondisinya.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Sakura cemas. Dia melihat darah yang sekarang mulai merembes dan mengotori baju abu-abu yang dipakai pemuda itu. Wajah pemuda itu terlihat pucat sekali sekarang dan dia meringis menahan kesakitan. Salah satu tangannya memegangi luka tembak di dadanya dan kini penuh dengan darah segar. Sedangkan salah satu tangannya yang memegang sebuah tas kecil berusaha diangkat dengan susah payah.
Pemuda itu menyerahkan tas itu padaku dengan tangan bergetar.
"Tolong.. Jaga adikku.." kata laki-laki itu dengan suara tersengal. Keringat mulai membaca seluruh tubuh dan wajahnya.
Aku menerima tas kecil itu dengan wajah bingung sekaligus terkejut. Tanganku ikut bergetar saat memegang tas itu.
"Semua yang ada di tas itu.. Semua hartaku.. Untuk adikku.. Kumohon.. Jaga dia.." kata pemuda itu lagi. Dia terbatuk dan darah segar keluar dari mulutnya.
"Siapa nama Anda?" tanyaku dengan suara bergetar. Aku tidak tahan melihat pemandangan mengenaskan di depanku ini. Pria ini butuh bantuan segera.
"Itachi.. Uchiha.." jawabnya.
Aku segera beranjak dari tempatku dan bergegas menuju toilet yang sudah dikosongkan oleh anggotan komplotanku. Aku melihat Sasori dan yang lainnya sedang sibuk mengarahkan pistol pada para nasabah yang jumlahnya tidak sedikit itu. Beberapa dari mereka sedang sibuk mengambil uang.
Aku mencuri kesempatan itu untuk segera ke melepas pakaian hitamku. Untung aku membawa baju rangkap di balik kostum hitamku. Begitu aku sudah memakai pakaian biasa, aku segera berlari menyusup keluar gedung itu. Sebelumnya aku menyempatkan diri untuk menyalakan alarm kebakaran dan membuat komplotanku terkejut. Mereka tidak sadar kalau aku yang melakukannya dan langsung memperceat pergerakan mereka sebelum akhirnya memutuskan untuk segera melarikan diri dari tempat itu.
Begitu aku sudah berada di luar gedung, aku melihat kerumunan orang yang sedang menyaksikan peristiwa itu di luar garis polisi.
"Ada yang sekarat! Itachi Uchiha sekarat! Siapapun tolong kemarilah!" seruku.
Beberapa polisi yang berasa di garis paling depan langsung menghampiriku dan berusaha melindungi tubuhku.
Aku masih mengenggam tas kecil yang baru saja diberikan pemuda itu dan menatap tas itu dengan tatapan kalut. Kami-sama.. Sekarang apa yang harus aku lakukan?
*flashback end*
.
.
Sasuke menatap Sakura dengan pandangan tak percaya. Kedua mata hitam onyx-nya menyalang tajam menatap gadis itu.
"Jadi benar kalau kau punya hubungan dengan pemuda berambut merah itu?" tanya Sasuke kemudian.
Sakura tidak segera menjawab.
"Aku terpaksa melakukannya.. Aku tidak punya pilihan. Orangtuaku meninggal dengan menyisakan banyak hutang yang harus ditanggung nenekku. Orangtuaku mempunyai hutang yang sangat banyak sehingga aku membutuhkan banyak uang untuk menebusnya. Saat aku benar-benar membutuhkan banyak uang, orang ini datang menawarkan pekerjaan untukku. Sasori, laki-laki tidak berperasaan itu, menjanjikan akan memberikan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang kepadaku. Dia memberiku pilihan.. Melacur.. atau merampok.. Lalu.. Akhirnya aku memilih jalan ini.." jelas Sakura kemudian. Dia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung ke arah Sasuke.
Ekspresi wajah Sasuke tidak banyak berubah.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanyanya kemudian.
"Aku.. aku terpaksa. Kalau tidak, mereka akan mengancam membunuh nenekku.." jawab Sakura.
"Kenapa kau melakukan ini?" ulang Sasuke.
Sakura kini mendongak menatapnya.
"Kenapa kau mau melakukan ini? Kenapa kau menuruti kata-kata Itachi dan benar-benar datang ke sini?" tanya Sasuke kemudian. Dia merasakan dadanya kini benar-benar sesak mengingat pertemuan pertamanya dengan Sakura di rumah ini.
"Aku hanya menuruti kata hatiku untuk datang ke sini.. " jawab Sakura kemudian.
"Kenapa kau tetap datang ke sini padahal kau tahu kalau aku adalah polisi yang sedang mengejarmu?" tanya Sasuke tajam.
Sakura tidak menjawabnya. Dia menatap Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan. Tapi jelas sekali ada luka yang susah payah disembunyikannya.
"..aku hanya-"
"Kenapa kau tetap datang ke sini dan melakukan semua ini padaku, Haruno Sakura?" tanya Sasuke dengan suara pelan.
Kedua mata hijau emerald tidak dapat menahan air mata yang sudah sejak tadi ditahannya dengan susah payah.
"Katakan, kenapa kau harus berpura-pura mencintaiku dan mengatakan semua omong kosong itu?!" kedua mata hitam onyx-nya menatap Sakura tajam, seolah bisa mengoyak tubuh gadis di depannya kapan saja.
"Sasuke.. kun.." panggil Sakura dengan suara tercekat.
"Kenapa kau berpura-pura menjadi orang tidak bersalah di depanku?" Sasuke terus menatap lurus ke arah Sakura sampai gadis itu merasa benar-benar terpojok hanya dengan melihat matanya.
Dia membuka mulutnya perlahan.
"Karena.. Aku menyayangimu.. Sasuke-kun.." ujarnya dengan bibir bergetar.
Sasuke menatapnya dengan mata terbelalak. Tiba-tiba dia merasa marah sekali dengan kata-kata Sakura barusan. Dia menghampiri Sakura dan memojokkan tubuhnya ke tembok di dekatnya dengan kasar. Tangannya memegang kedua bahu Sakura dengan kencang sekali.
"Jangan katakan kata-kata menjijikkan itu lagi seolah-olah kau benar-benar mencintaiku!" teriak Sasuke dengan suara keras.
Sakura yang baru kali ini mendengar suara keras Sasuke langsung terkejut dan menutup matanya. Airmatanya terus keluar dari kedua matanya.
"Aku tidak-"
"Jangan membohongiku dengan airmatamu!" raung Sasuke marah.
Sakura terdiam di tempatnya.
"Ototou! Hentikan! Jangan terbawa emosi! Lihat kedua matanya! Apakah dia membohongimu?" tiba-tiba Itachi berdiri di belakangnya dan tangannya mencoba untuk meraih bahu Sasuke agar adiknya melepaskan cengkeraman pada bahu Sakura. Sakura tampak kesakitan dengan cengkeraman di bahunya, tapi dia berusaha menahannya dan memilih untuk tidak mengatakan apapun.
Sasuke menatap kedua mata Sakura lurus-lurus. Kedua iris hijau emerald yang sekarang basah dan dipenuhi airmata itu hanya balas menatapnya dengan raut wajah ketakutan. Melihat pandangan mata yang seperti itu, Sasuke mengendurkan cengkeramannya.
"Perasaan ini.. adalah perasaanku yang sebenarnya. Meskipun aku berusaha untuk terus menolaknya... Tapi aku tidak bisa.. Semakin aku menolak dan mencoba menghindarinya.. Aku terus memikirkan tentangmu. Melihatmu hidup sendirian seperti ini.. Aku benar-benar ingin bisa menemanimu setiap hari. Aku ingin melihatmu tersenyum.. Aku tidak ingin melihat Sasuke-kun terluka karena hidup sendirian seperti ini.." ujar Sakura di sela-sela isak tangisnya. Suaranya terdengar serak karena menahan tangis yang sudah sejak tadi di tangannya.
Sasuke melepaskan kedua tangannya dari bahu Sakura dan membiarkannya terkulai lemas di kedua sisi tubuhnya.
"Maafkan aku.. Sasuke-kun.." ujar Sakura pelan.
Sasuke mengatupkan bibirnya rapat.
"Aku tidak bisa, Sakura.. Aku tidak bisa hidup denganmu lagi.. Karena kau tetap.. Aku punya kewajiban yang harus aku lakukan.." kata Sasuke kemudian.
Sakura terdiam. Dia tahu ke mana arah pembicaraan Sasuke. Meskipun ini akan menyakitkan untuk mereka berdua, tapi inilah yang seharusnya terjadi sejak dulu. Seharusnya Sakura tidak pernah ke sini. Seharusnya Sakura hanya perlu memberikan tas yang dititipkan Itachi padanya dan pergi begitu saja tanpa perlu terlibat lebih jauh lagi dengan Sasuke. Tapi menyesali semua itu sekarang hanya membuat hati Sakura tambah terluka. Dia sudah terlibat terlalu jauh dan tidak bisa keluar lagi.
Sebuah senyum simpul tersungging di wajahnya, di sela-sela airmata yang masih terus turun dari matanya.
"Aku tahu.." sahutnya kemudian.
"Pergilah..." kata Sasuke pelan.
Sakura menatapnya dengan mata membulat.
"Kau.. tidak akan menangkapku?" tanyanya.
"Bukan sekarang. Saat ini kau hanyalah gadis biasa dan bukan anggota komplotan itu.." jawab Sasuke, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sakura.
Sakura mengangguk.
"Aku mengerti.." ujarnya.
Dia berjalan melewati Sasuke. Lalu berhenti sejenak saat tubuhnya sudah membelakangi Sasuke.
"Aku harap kau bisa mengerjakan semuanya dengan baik tanpa aku.. Sasuke-kun.." kata Sakura dengan suara bergetar.
Tapi Sasuke sama sekali tidak menoleh maupun menjawab perkataan Sakura. Bibirnya terkatup rapat. Dia sedang menahan gemuruh yang sedang bergejolak di dalam dadanya.
.
.
.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan tentang ini padaku, aniki?" Sasuke menatap kakaknya yang kini berdiri di sampingnya dengan tatapan marah sepeninggal Sakura dari rumah itu.
"Apa yang harus aku katakan padamu?" Itachi balas bertanya padanya.
"Kalau Sakura adalah salah satu dari anggota komplotan perampok itu.." sahut Sasuke.
"Untuk apa? Kalau aku mengatakannya padamu sejak awal dia tiba di rumah ini, kau pasti akan langsung menangkapnya tanpa meminta penjelasan darinya. Kau pasti akan kehilangan akal sehatmu saat tahu dia adalah komplotan perampok itu. Aku hanya ingin merubah perspektifmu, Sasuke.." ujar Itachi panjang lebar.
Sasuke menatap kakaknya dengan tatapan tak mengerti.
"Saat gadis itu menghampiriku dan menanyakan padaku apakah keadaanku saat itu baik-baik saja, aku sudah tahu kalau dia adalah gadis yang baik. Maka dari itu aku mempercayakan semua hartaku padanya, termasuk kau. Aku tahu pasti ada alasan kenapa gadis itu mau melakukan perampokan itu. Aku juga tidak tahu bagaimana kehidupannya sebenarnya. Aku hanya.. percaya padanya.." kata Itachi.
Sasuke terdiam.
"Tindakan kriminal tetaplah kriminal.. Dan kriminalitas adalah musuh bebuyutan polisi.." ujarnya beberapa saat kemudian dengan nada suara yang dingin.
Itachi tidak membalas perkataannya. Dia hanya terdiam menatap adiknya yang kini duduk di sofa ruang tengah keluarga dengan kedua kepala disandarkan pada sandaran sofa.
"Aku mau tidur. Jangan ganggu aku.." kata Sasuke kemudian, seraya beranjak dari sofa dan berjalan menuju tangga kayu. Itachi masih menatap Sasuke yang berjalan menaiki tangga sampai tubuh adiknya itu benar-benar menghilang.
Barulah saat dia mendengar suara pintu yang dibanting dengan keras disusul dengan beberapa barang yang dilempar sampai menimbulkan suara gaduh, Itachi merasa kalau adiknya sekarang pastilah sangat terluka. Itachi menatap foto berbingkai yang tergantung di dinding di ruang tengah itu dengan wajah sedih.
"Maafkan aku, Sasuke-kun.." gumam Itachi dengan rasa penuh bersalah.
Suddenly I'm afraid, saying I love you
They're not words I'm used to saying
With hardened lips, I love you.. I love you..
I'm shouting those words on your back..
.
.
.
Setahun sudah lewat sejak Sakura pergi dari rumah Sasuke dalam keadaan terluka. Sasuke mencoba untuk melupakan semuanya. Dia membuang semua hal-hal yang berhubungan dengan Sakura yang ada di rumahnya. Bahkan bajunya yang pernah dikenakan Sakura pun dia simpan ke dalam kardus berisi pakaian bekas. Kecuali foto keluarganya yang masih terpasang di dinding ruang tengahnya. Selain itu, dia benar-benar ingin melupakan sosok gadis itu yang sudah pernah mengisi hari-harinya sebagai kekasihnya.
Sasuke menyibukkan dirinya untuk bekerja. Dia mengambil semua tugas. Bahkan dia menyempatkan diri untuk membantu polisi lalu lintas hanya untuk melupakan semua hal tentang gadis itu.
Tapi semakin dia ingin melupakan sosok Sakura, ingatannya tentang gadis itu malah semakin kuat. Dia tidak memungkiri kalau dia juga merasa cemas memikirkan keberadaan Sakura sekarang. Mengingat kalau dia pernah diancam untuk dijadikan pekerja seks untuk membayar hutang-hutang orangtuanya, membuat Sasuke tambah goyah.
Akhirnya dia memutuskan untuk mencari tentang gadis itu. Dia menghubungi kepolisian Tottori, tempat tinggal Sakura, dan meminta bantuan mereka untuk mencarikan data tentang gadis itu. Tapi beberapa hari kemudian, kepolisian Tottori meghubunginya dan mengatakan padanya kalau gadis bernama Haruno Sakura tidak terdaftar di kartu pendudukan mereka.
Sasuke semakin menyesalinya dirinya sendiri karena sudah mengusir Sakura saat itu. Bukankah Sakura yang meminta pertolongan dan hampir mencelakakan dirinya sendiri saat memanggil orang untuk menolong Itachi saat itu? Bukankah Sakura-lah yang datang kepadanya dan menjaganya selama ini?
Sasuke menyadari kalau bukan salah Sakura sepenuhnya sehingga dia terjebak dalam komplotan perampok seperti ini. Seharusnya saat itu Sasuke membantunya untuk keluar dari masalah ini dan bukan mengusirnya.
Dan saat dia tidak dapat menemukan keberadaan Sakura di manapun sekarang, Sasuke hanya bisa menyesalinya sendirian.
"Sasuke! Bukan waktunya melamun!" suara Shikamaru yang tiba-tiba terdengar di sebelahnya, membuat Sasuke tersentak dari lamunan panjangnya.
"Ada apa?" Sasuke mendongak dan melihat Shikamaru sudah siap dengan senjata dan rompi anti pelurunya.
"Kawanan perampok itu beraksi lagi!" sahut Shikamaru.
Kedua mata Sasuke terbelalak.
"Apakah..?"
"Iya. Kali ini benar.. itu adalah mereka.." jawab Shikamaru dengan serius.
Sasuke segera berdiri dari tempatnya dan menyusul Shikamaru ke ruang senjata.
Kakinya melangkah dengan cepat.
Kali ini dia tidak boleh gegabah. Dia tidak boleh melakukan kesalahan yang kedua. Dia akan melakukan semuanya dengan rencana yang sudah mereka susun matang.
Aku akan menyelamatkanmu kali ini, Sakura.. batinnya.
.
.
.
Sasuke mengeratkan pegangan pistolnya di tangannya. Dia berdiri dengan posisi setengah bersembunyi di balik tembok yang berada dekat dengan pintu keluar bank. Dia melihat ke arah Shikamaru yang berada di sisi yang lain dan dalam posisi yang sama dengannya. Sasuke merapatkan tubuhnya pada tembok di sampingnya. Dia memajukan kepalanya sedikit untuk melihat apa yang terjadi di dalam.
Beberapa rekannya sudah bersiap di sisi lain dari bank itu dan mereka berada di posisi yang sama dengan pistol berada di kedua tangan mereka.
"Jangan ada yang bergerak atau kami benar-benar akan menembak kalian!" teriak salah satu dari mereka.
Sasuke melihat beberapa orang memakai pakaian hitam dan penutup kepala hitam sedang mengancam para nasabah di dalam dengan senjata laras panjang yang mereka bawa. Para nasabah bank itu tampak benar-benar ketakutan dan yang bisa mereka lakukan hanyalah merunduk.
Beberapa sosok berkaos panjang tampak sedang mengumpulkan uang dari brankas bank itu dengan menyodorkan senjatanya pada para petugas bank.
Dada Sasuke berdegup lebih kencang saat memikirkan kalau salah satu dari komplotan berbaju hitam itu adalah Sakura. Setelah satu tahun lebih mereka tidak bertemu dan akhirnya bertemu dalam keadaan seperti ini. Membayangkannya saja membuat Sasuke kembali menyesali dirinya lagi. Tapi dia langsung menegur dirinya sendiri. Dia harus tetap profesional saat ini. Bukan hanya Sakura yang harus dia selamatkan, tapi juga para nasabah yang ada di dalam bank itu.
"Tunggu! Apa..?"
Sasuke mendengar Shikamaru terkejut. Dia mengikuti arah pandang Shikamaru dan membuat Sasuke ikut terkejut. Beberapa nasabah tampak sedang melakukan perlawanan di dalam sana dan membuat para perampok itu kewalahan dan akhirnya melepaskan tembakannya ke sembarang arah.
Shikamaru memberi aba-aba pada Sasuke untuk tetap maju ke dalam.
Saat Sasuke dan Shikamaru sedang memikirkan rencana untuk menyusup ke sana dengan mengendap-endap agar tidak diketahui musuh, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan dari sisi lain bank itu.
"Hentikan! Atau kalian akan kami tembak!"
Baik Sasuke maupun Shikamaru langsung menoleh ke asal suara. Seorang polisi berambut pirang dan mempunyai bekas luka di wajahnya sedang mengarahkan pistolnya ke arah para komplotan itu. Beberapa polisi yang dibawahinya ikut mengepung tempat itu di belakangnya.
Shikamaru dan Sasuke langsung menghela napas bersamaan.
"Naruto lagi.. Dia itu bodoh atau bagaimana, sih?" desis Shikamaru kesal.
Akhirnya karena sudah terlanjur ketahuan, dia dan Sasuke memutuskan untuk masuk ke dalam bank.
Para komplotan penjahat itu akhirnya sama-sama mengangkat senjata mereka begitu mereka melihat polisi sudah mengepung mereka. Sasuke dan Shikamaru mendatangi para sandera dan melepaskan mereka. Para sandera diarahkan untuk segera meninggalkan tempat itu dengan diiringi para polisi.
"Kalian sudah terkepung.." kata polisi bernama Naruto.
"Hah.. Inilah yang kami nanti-nantikan. Duel sesungguhnya. Antara polisi dan kawanan penjahat seperti kami.." kata salah satu dari komplotan itu.
Dia mengarahkan pistolnya ke arah Naruto. Tapi Naruto tetap menatap sosok di depannya dengan tatapan tegas.
"Kau benar-benar tidak takut dengan ini? Kau pikir rompi pengecutmu itu bisa menghindarimu dari tembakan ini? Cobalah.." kata sosok berbaju hitam itu. Dia kemudian mengarahkan pistolnya pada lengan Naruto yang juga tertutup pelindung anti peluru.
"Kita bersenang-senang saja dulu.." ujarnya seraya menembakkan pistol itu pada lengan Naruto.
Semua yang ada di sana tercengang begitu tembakan itu mengenai lengan Naruto. Seharusnya pelindung itu bisa melinduninya dari peluru. Tapi saat melihat pelindung itu meleleh dan tangan Naruto tiba-tiba melepuh, semua polisi yang ada di ruangan itu langsung mundur.
Dengan secepat tenaga mereka semua mencari tempat berlindung dari tembakan asam yang keluar dari senjata itu.
Sial! Umpat Sasuke dalam hati. Bagaimana mereka bisa memikirkan cara ini?
Dia dan Shikamaru mencari tempat persembunyian di balik meja resepsionis.
Sementara bunyi desingan tembakan dan tawa dari komplotan itu mulai memenuhi ruangan itu. Sasuke merasa para penjahat itu sedang mempermainkan polisi dan mereka bersenang-senang karena mereka berhasil membuat polisi kelihatan seperti pecundang sekarang.
"Hiks... Hiks.. Ibu.. Ayah..."
Sasuke dan Shikamaru dan semua orang yang ada di ruangan itu mendengar suara yang sama. Mereka menoleh ke asal suara. Seorang balita sedang berjalan sendirian di dekat pintu masuk. Wajahnya tampak ketakutan dan dia berjalan memutar-mutar untuk mencari pintu keluar dari ruangan itu. Airmata terus menerus keluar dari matanya dan wajahnya sudah memerah karena menangis. Dia tampak kebingungan dan ketakutan dengan pemandangan yang sedang terjadi di depannya sekarang.
Sasuke mendesis pelan. Dia tidak bisa membiarkan balita itu berada di sana. Tempat ini tidak aman untuknya.
Maka dengan kenekatan yang sudah dikumpulkannya susah payah, Sasuke akhirnya berlari untuk melindungi balita itu.
"Sa-Sasuke!" teriak Shikamaru, mencoba untuk menghalangi Sasuke.
Tapi Sasuke mengabaikannya dan tetap berlari ke arah balita itu.
"Satu mangsa keluar.." ujar salah satu dari kawanan komplotan itu seraya mengarahkan senjatanya pada Sasuke.
Sasuke memeluk balita itu dengan kedua tangannya. Balita itu masih menangis saat dia berada dalam pelukan Sasuke.
"Kau akan baik-baik saja, adik kecil.." bisiknya di telinga gadis kecil itu.
Saat telinganya mendengar suara pelatuk ditarik, dia memejamkan matanya. Sasuke menyiapkan diri untuk menerima hantaman asam panas yang akan mengenai tubuhnya. Dia mengeratkan pelukannya pada tubuh gadis kecil itu sebelum membawa gadis itu ke dalam gendongannya.
Saat dia merasa kalau tembakan itu akan mengenai punggungnya dalam hitungan detik, Sasuke merasakan seseorang memeluknya dari belakang dengan tiba-tiba. Kedua tangan yang memakai sarung tangan hitam itu memeluk tubuhnya dengan erat bersamaan dengan terdengarnya dua letusan tembakan di belakang Sasuke.
"Akh!" terdengar suara pekikan pelan di belakangnya.
Sasuke tercekat. Kedua matanya membelalak kaget. Dia mengenal suara ini.
Kedua tangan yang tadinya memeluk tubuhnya dengan erat itu langsung mengendur. Sasuke merasakan seseorang jatuh di belakangnya.
"Mundur!"
Sasuke mendengar suara Shikamaru di belakangnya. Beberapa polisi tampak berlarian keluar dari ruangan itu. Shikamaru menarik lengan Sasuke untuk pergi dari tempat itu. Sasuke melihat seorang polisi menggendong tubuh yang ambruk di belakang Sasuke tadi dengan tergesa.
.
.
.
Sesampainya di luar gedung itu, Sasuke segera meminta petugas medis untuk membawa tubuh orang yang menyelamatkannya tadi. Tanpa melihat wajah di balik topeng itu, Sasuke bisa mengenali dua pasang mata hijau emerald yang menatapnya dengan sayu itu.
Sasuke menggantikan polisi yang tadi menggendong tubuhnya dan segera membopong tubuh itu ke dalam mobil ambulans.
Di dalam ambulans, Sasuke segera membuka topeng yang menutupi wajah Sakura.
Wajah Sakura tampak pucat sekali dan keringat sudah membasahi seluruh wajah dan tubuhnya.
Sasuke tidak peduli dengan darah yang terus menerus keluar dari punggung Sakura dan mengotori bajunya. Dia menatap keadaan Sakura sekarang dengan tatapan nanar.
"Kenapa kau melakukan hal itu?" tanya Sasuke dengan suara serak.
Sakura terbaring di mobil ambulans dengan napas tersengal.
"Maafkan aku.. Sasuke-kun.." ujarnya pelan.
"Jangan mengatakan apapun.. Kau harus menjelaskan padaku setelah kau sembuh.." kata Sasuke.
Sebuah senyum tipis tersungging di wajah Sakura.
"Maafkan aku.. Tidak ada lain kali, Sasuke..kun.." kata Sakura. Napasnya makin tersengal.
"Apa maksudmu? Tentu saja ada!" sahut Sasuke.
Tangan Sakura yang sudah memucat dan bergetar hebat, meraih bajunya sendiri. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik kaos hitamnya.
Lalu dengan tangan bergetar, dia menyerahkan kertas itu pada Sasuke.
"Ini.. adalah markas mereka.." katanya kemudian.
Sasuke menatapnya dengan wajah kaget.
"Tapi.. bagaimana kau..?"
Sakura tiba-tiba mengangkat tangannya dan mengusap wajah Sasuke dengan pelan. Tangannya dingin sekali saat menyentuh wajah Sasuke.
"Aku.. selalu menyayangimu.. Sasuke-kun.." katanya.
Sakura menarik tangannya dan menaruhnya di atas dadanya. Kedua mata hijau emeraldnya masih terus menatap Sasuke dengan pandangan sedih.
"Sakura.." panggil Sasuke pelan.
Sakura tidak menyahut.
Sepasang mata hijau emerald itu masih terus menatapnya dalam diam.
Sampai akhirnya Sasuke menyadari sesuatu dan itu kembali membuatnya dadanya tersentak. Dia menatap kedua mata Sakura dengan tatapan nanar. Mata itu sudah tidak berbinar seperti biasanya. Sinar kehidupan sudah hilang dari kedua mata Sakura yang kini sedang menatapnya, seolah tidak mau melepaskan tatapannya dari Sasuke.
Dada Sasuke terasa sesak dan dia merasa tenggorokannya mulai tercekat. Kedua matanya memanas saat dia melihat salah satu dari petugas medis yang ada di mobil itu memejamkan mata Sakura.
Sasuke berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.
"Dia tetap menatapmu di saat-saat terakhirnya.. Dia masih ingin terus menjagamu, Sasuke. Bahkan di saat-saat terakhirnya.."
Shikamaru menepuk bahu Sasuke dengan lembut.
Sasuke tidak menjawab. Dia benar-benar tidak bisa menahan kedua airmatanya yang kini melelehkan air mata dan membasahi pipinya. Sasuke hanya terdiam menatap tubuh Sakura yang sudah tidak bernyawa di depannya.
Luka itu kembali lagi. Membawa kesedihan dalam diri Sasuke.
.
.
.
TBC
