kalau yang ini fict kedua yang saya tulis setelah yang tadi.
saya tulis gak lama setelah yang pertama, kalau nggak salah.
iya, saya ngepost dua chapter. gak apa-apa, kan? hehe
ngomong-ngomong, saya punya rencana mau naikin rating ke M. lagi belajar sih. bukan explicit kaya tulisan saya yang dulu-dulu.
saya pengen implicit aja. lebih nekanin tata bahasa dari pada adegannya. gimana? boleh?
atau saya nulisnya yag manis-manis gini aja?


"kau dan aku sama tidak pekanya, Namjoon..."

XXX

bagi Namjoon, Jin adalah poros hidupnya. dunianya. kebahagiannya hanya berpusat pada Jin. bahagian Jin, adalah bahagianya.

sayangnya Jin tidak pernah tahu bahwa keberadaannya seberarti itu untuk Namjoon. hatinya tak sepeka itu untuk menyadari hal-hal yang tak terucap lewat kata.

dan Namjoon tidak ahli dalam mengungkapkan perasaan lewat kata.

"kau hanya akan membuang waktu. lirik-lirik itu tak akan membuatnya mengerti," kata Hoseok suatu malam.

"ini bukan tentang dia," elak Namjoon. terus sibuk dengan kertas-kertasnya.

"kau akan menyesal jika suatu saat mendapati Jin hyung sudah lebih dulu bersama orang lain," kata Hoseok, lagi. matanya menatap punggung kesepian Namjoon.

jemari Namjoon berhenti meski matanya masih menatap kertas penuh coretan itu. "bersama siapa?" tanyanya, dingin.

"selain lamban kau juga sama saja tidak pekanya. hanya berhenti menulis betapa sempurnanya Jin hyung. katakan langsung padanya. siapa yang tahu jika ternyata dia juga memiliki perasaan yang sama," Hoseok beranjak dari duduknya. "Namjoon, jangan sampai menyesal," ucapnya dan menghilang di balik pintu.

XXX

Namjoon tidak akan bisa mengurus semuanya sendiri. dia terbiasa diingatkan untuk segala hal. saat bangun tidur, saat makan, saat latihan, saat istirahat, saat harus membereskan keperluannya. dan Jin adalah pengingat favoritnya.

"kau sudah makan?" suara lembutnya terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka.

Namjoon menoleh, tersenyum diam-diam. "belum."

"aku sudah menyiapkan makanan sejak tadi, Namjoon-ah. anak-anak tidak memanggilmu?" tanyanya, masih berdiri diambang pintu.

"tidak. kenapa kau tidak memanggilku lebih awal jika memang makanan sudah siap sejak tadi?"

Jin tersenyum. "aku boleh masuk?"

Namjoon mengangguk.

Jin melangkah mendekat. bediri di samping meja kerja Namjoon yang penuh dengan kertas coretan.

"kau selalu jatuh cinta?" tanya Jin setelah meraih selembar kertas.

"selalu?" kening Namjoon berkerut bingung.

"lirikmu selalu berkata seperti itu," jawab Jin. dia kembali menatap Namjoon. tersenyum.

"apa?"

"aku dan Yoongi baru saja pulang dari makan malam di luar. maaf tidak memberitahu karena kau sejak pagi terus saja disini," kata Jin.

demi semua coretannya, hati Namjoon berdebar melihat semburat merah di pipi Jin. debaran kali ini terasa sangat tidak nyaman.

"aku... aku harus mengatakan ini karena kau harus tahu, Namjoon-ah. sebagai leader, ya kan?"

Namjoon diam. tidak menjawab sepatah kata pun. debaran tidak nyaman itu kini menyesakkan.

"aku... kau tahu bahwa aku memang tidak peka dalam urusan perasaan. aku tidak akan sadar orang lain menyukaiku jika dia tidak mengatakannya secara langsung. Hoseok sering mengatakan itu padaku. dan..."

"Hoseok mengatakan itu padamu?"

"ya dan aku bingung, sama denganmu, saat dia mengatakan itu. dan... aku tahu karena Yoongi mengatakannya."

Namjoon terdiam. dadanya lebih sesak dari sebelumnya.

"mungkin Hoseok mengatakan itu karena dia dan Yoongi cukup dekat dan ingin membuatku sadar."

"tunggu... mereka memang sangat dekat dan aku... maaf membuatmu sadar tentang apa?" kepanikan di nada suaranya tidak dapat Namjoon sembunyikan.

"tentang Yoongi yang menyukaiku."

XXX

Namjoon melihat tatapan mata sayu Yoongi yang sejak tadi menatap Jin. tangannya yang mengelus jemarin Jin dan menggenggamnya sembunyi-sembunyi. sesekali tangan itu mengelus rambut lembut Jin, hal yang biasa Namjoon juga lakukan. mereka berdua bahkan tidak terpisahkan sejak mereka tiba di sini sejak tadi.

sejak malam Jin datang ke ruangannya, Namjoon sudah kehilangan setengah jiwanya. dunianya sudah tidak berputar diporosnya.

Yoongi mengatakan bahwa dia menyukai Jin. mencintai lelaki itu. Jin mengatakannya dengan wajah berwarna merah sepenuhnya, tersipu malu, yang Namjoon simpulkan sendiri. dan Namjoon berusaha menguasai patah hatinya. juga emosinya.

"jika kau bahagia, maka itu bagus. kebahagianmu yang terpenting, Jin," katanya malam itu.

dan Namjoon menyesal tidak melepaskan emosinya. jika saja malam itu dia berteriak di depan Jin mengatakan betapa dia juga mencintai lelaki itu. jika saja malam itu dia langsung menemui Yoongi untuk meminta meninggalkan Jin sendirian karena Jin adalah miliknya. seandainya saja. mungkin yang sekarang menggenggam tangan Jin adalah dia.

"kau terlambat?" tanya Hoseok.

"kau tidak memberitahuku," jawab Namjoon.

"aku tidak tahu jika dia akan benar-benar mengatakannya."

"apa mereka bersama?"

"kau tidak melihat aura penuh cinta mereka?"

"Hoseok, aku ingin mati saja."

XXX

dan Namjoon mengurung dirinya diruangannya sejak itu. dia hanya akan keluar untuk jadwal mereka. saat makan Jimin, atau Taehyung dan sesekali Jungkook yang mengantarkan untuknya. Hoseok sesekali masuk dan membujuknya untuk keluar, ini sudah lebih dari tiga hari.

"Jin hyung panik karena kau mengabaikannya dan tidak membiarkannya masuk," kata Hoseok.

"aku perlu waktu. aku patah hati, Hoseok," jawab Namjoon.

"katakan padanya bahwa kau patah hati. katakan padanya bahwa kau mencintainya. menangis saja jika kau tidak bisa mengungkapkannya lewat kata. aku tahu kau menahan itu berhari-hari."

"menahan apa?"

"tangismu."

Namjoon diam. "keluarlah. aku ingin sendirian."

"Jin menangis saat kau mengabaikannya kemarin-kemarin. dia yang menyiapkan makanan dan keperluanmu saat kita ada jadwal karena kau bahkan tidak peduli tentang itu. dia mengatakan pada manajer hyung bahwa kau hanya butuh waktu sendiri karena manajer hyung mengamuk semalam."

Namjoon masih diam.

"Jin hyung tidak peka, Namjoon. dia tidak mengerti jika kau tidak mengungkapkannya lewat kata."

XXX

tangan Namjoon terkepal saat melihat Jin berada dalam pelukan Yoongi malam itu di dapur. dia kehabisan kopi dan ingin membuatnya lagi. saat akan melangkah pergi, mengurungkan niatnya membuat kopi, Jin memanggilnya. Yoongi pergi melewatinya saat itu juga tanpa sepatah kata. meninggalkannya berdua saja dengan Jin.

Jin menghampirinya, memeluknya. "kau sudah makan?" tanyanya. suaranya bergetar, mungkin menangis. atau sudah selesai dengan tangisnya.

"sudah. lepas. aku ingin kembali."

"Namjoon..."

"kau ingin aku dihajar Suga karena kau memelukku seperti ini? atau kau memang ingin kami menghajar satu sama lain?"

Namjoon dapat merasakan Jin yang tersentak di belakangnya. pelukan itu terlepas pelan-pelan.

"aku sangat ingin menghajar wajahnya saat tadi dia memelukmu. juga saat dia menggenggam tanganmu di studio empat hari yang lalu. saat dia mengelus rambutmu. saat dia menatapmu. kau tahu?" kata Namjoon, masih memunggungi Jin.

"kenapa? Yoongi berbuat salah padamu?"

Namjoon menghela nafas. hatinya sudah berteriak keras-keras bahwa dia mencintai Jin.

"Yoongi hanya menyukaiku. apa itu salah buatmu?"

"dia mencintaimu."

"iya, dia mencintaiku. jadi benar kau mengabaikanku karena hal ini? Namjoon-ah, kau kekanakan sekali! aku setengah mati mengkhawatirkanmu, brengsek!" maki Jin, suaranya lebih bergetar lagi.

"jangan mengkhawatirkanku lagi jika begitu. berhenti mengurusiku. berhenti membangunkanku, mengurusi makanku, memperhatikanku. aku tidak butuh itu semua jika akhirnya kau hanya akan mematahkan harapan yang sudah kubuat untukmu!"

Jin menangis. Namjoon mendengar isakannya.

"aku berharap banyak tentang kita, Jin. aku.."

Jin menarik lengan Namjoon agar lelaki itu berbalik menatapnya.

"kau..."

"lupakan. berbahagialah. berikan saja aku waktu untuk mengurusi hatiku."

"aku pun berharap banyak tentang kita. tapi kupikir kau tidak akan suka dengan itu karena kau bahkan tidak menunjukkan apa-apa! saat aku bilang tentang Yoongi pun kau hanya diam, kau bilang asal aku bahagia! lalu tiba-tiba kau mengabaikanku! aku harus bahagia bagaimana jika kau bahkan tidak ingin menatapku, Namjoon!"

Namjoon diam. matanya menatap air mata yang mengalir di pipi Jin. Namjoon bingung, untuk apa Jin berteriak dan menangis padanya?

"aku mencintaimu, bodoh!" Jin berteriak, menghapus air matanya dengan kasar. "aku memang tidak peka tapi aku tahu aku mencintaimu! kau pikir kenapa aku mau repot-repot mengurusimu padahal Jungkook lebih membutuhkanku?!"

"kau mencintai Yoongi. kau bercerita sambil tersipu padaku malam itu."

"aku menahan emosiku, Namjoon-ah! demi Tuhan aku berharap kau berteriak mengatakan kau akan menghajarnya atau apa pun! tapi kau tidak! dan aku... dan aku..."

"kau bersama Yoongi?"

Jin menatap Namjoon. "aku mencintaimu. bagaimana aku bisa bersamanya."

"tapi kalian..." Namjoon terpaku.

Jin melangkah mendekat. memeluk Namjoon, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher lelaki itu.

"kau dan aku sama tidak pekanya, Namjoon."

Namjoon menghela nafas. perlahan dunianya kembali berputar pada porosnya. didekapnya Jin erat-erat.

"aku... pun... mencintaimu, Jin."

XXX

Yoongi menghela nafas menatap Jin dalam pelukan Namjoon. mungkin hatinya sama retaknya dengan hati Namjoon karenanya kemarin. dia sungguhan tentang mencintai Jin. siapa yang tidak akan mencintai lelaki sesempurna Jin?

"hyung, gwenchana?"

Yoongi berbalik. menatap Jimin dengan wajah sembabnya. matanya masih terpejam. mulutnya menguap lebar-lebar.

"hyung, kau akan baik-baik saja. ya kan? tenang, aku ada disini."

Jimin melangkah dan memeluk Yoongi.

"kau mengigau?"

"hmm..."

Yoongi tersenyum. setidaknya dia punya Jimin, yang memeluknya saat ini meski anak itu mengingau dalam tidurnya.

X-X-X