Thedaaaaaaak! Setelah baca review dari saudara-saudara sebangsa dan setanah sewa (?), saia jadi hilang keyakinan *rambling* Ja-jadi benar… chapter2 awal itu sangat tidak jelas jalan ceritanya..? Padahal tadinya xoxo mau dibuat begitu semua chapternyaaaaa *pengakuan dosa*. Gyaaaa! Saia terpaksa cepat2 menentukan plotnya *jadi selama ini dia nggak bikin plot*
Tapi minna, terima kasih banyak sudah baca. Lebih makasih lagi yang mau nge-review. Saia akan berusaha membuat cerita yang lurus walau otak saia sebenarnya miring (!)
Hug and Kiss
Things to experience when you have friends along your path
Chapter 7: POWER
.
.
=xoxo=
"I'm glad I was able to find you. And remember, I'll always... love you."
-Shalua, FFVII: DOC-
Beberapa kota di Gaia tak pernah tidur. Midgar adalah salah satunya. Kota metropolitan yang terletak di tengah Eastern Continent Gaia itu tak pernah terlelap. Kegiatan- kegiatan di sana berlangsung tak kenal waktu.
Malam itu malam yang sibuk di Midgar, sama seperti biasanya. Tapi bila kita melihat lebih dekat wajah kota itu, di sebuah titik di Sektor 1, tempat sebuah sekolah berasrama berada, malam itu kelihatan jauh lebih sibuk dari biasanya.
Shinkigen Raiu, sekolah asrama, pada malam Sabtu di akhir bulan Juni itu mengadakan dinner besar, seperti yang selalu mereka lakukan selama seratus tahun terakhir. Yang dimaksud di sini bukan makan malam biasa, tapi sebuah pesta sebulan sekali dengan tujuan mempertemukan para siswa dan siswinya.
Malam itu, ruang makan asrama putri Shinkigen Raiu yang besar disihir menjadi tempat nan megah untuk perjamuan makan malam. Semua persiapan sudah selesai. Lantai sudah disapu bersih. Alat-alat makan telah ditata rapi. Lukisan-lukisan raksasa pada dindingnya yang berlapis wallpaper warna krem keunguan juga sudah dibersihkan—malah lukisan-lukisan itu kelihatan seperti baru. Tak ketinggalan lilin-lilin kuning cantik di meja-meja makan sudah dinyalakan. Sebuah suasana yang sungguh sesuai untuk perjamuan besar.
"Sempurna," gumam seorang wanita cantik berambut coklat panjang dan lurus. "Aku tidak pernah tidak terpesona dengan hasil kerjamu, Senorita Elmyra."
Sang kepala pelayan membungkuk kepada lady berkacamata tersebut. Dan ia bertanya dengan suara seraknya, "apakah saya boleh menyuruh Bunga-Bunga Anda masuk sekarang, Lady Shalua?"
"Si, por favor."
Lady Shalua sudah duduk di ujung meja tengah ketika gadis-gadis yang tinggal di asrama putrinya satu per satu menduduki kursi-kursi tinggi di sekelilingnya. Mereka mengenakan gaun-gaun dan baju-baju terusan yang manis, menunjukkan jati diri mereka sebagai perempuan sejati. Itu membuat sang Lady bangga.
Namun tak bertahan lama rasa bangga itu. Sang kepala sekolah ShinRa mendengus mengingat kembali kejadian pada perjamuan makan malam sebelumnya.
"Kali ini aku tidak mau melihat perang makanan. Tidak ada alasan," tegasnya. Mata sang Lady menyorot seorang perempuan yang menyembunyikan diri di balik gadis lain. "Terutama darimu, Nona Kisaragi."
Tawa kecil menyeruak. Memunculkan dirinya, Nona Kisaragi nyengir meminta maaf.
"Baiklah. Ini kesempatan yang lain untuk menampilkan yang terbaik dari diri kalian. Behave decently, speak properly, smile sincerely. Bersikaplah sebagaimana seorang wanita harus bersikap."
Pintu dining room pun dibuka, dan para pangeran dari asrama seberang pun masuklah, menggeser keningratan ruangan mega megah tersebut dengan obrolan seputar sebuah ajang 'brutal' yang babak semifinalnya akan diadakan keesokan harinya.
"Hoo boy…" hela Lady Shalua lelah. Kelihatannya, meski tidak ada perang makanan, dinner kali itu tak akan berjalan sesuai yang ia harapkan.
.
.
=xoxo=
Biasanya, percakapan akrab antara putri-putrinya dengan para pangeran asrama seberang sudah menjadi musik bagi telinga Lady Shalua, namun kali ini, karena musik itu tidak terdengar, wanita itu menyuruh salah seorang pelayan menyetel lagu klasik sedikit lebih keras.
Sayangnya tidak ada seorang pun menyadari kefrustrasian kepala sekolah mereka. Para siswa tetap meneruskan obrolan seru mereka seputar MAC—Martial Arts Championship, sebuah turnamen bela diri bergengsi di Midgar.
"Menurutku runner up pasti si Ninja master ninjutsu itu. Tapi nggak tahu juga. Kalau dia lawan Loz di semifinal besok, berarti dia pasti gugur," tutur seorang Firan—julukan populer untuk menyebut boarder Firaga.
"Kalau nggak si Ninja, ya pasti si Pegulat hitam legam itu. Dilihat sekali saja juga sudah tahu, dia itu bener-bener kuat."
Excuse me, tidak ada yang menyebut nama Tifa? Inilah yang menyebabkan gadis di seberang kedua Firan gemetar. Yuffie Kisaragi. Gadis itu kesal luar biasa, tak terima temannya dianggap underdog.
"Dasar makhluk-makhluk bau nggak peka! Nggak nyadar apa kalau Tifa bisa dengar?" gerutunya, disusul umpatan-umpatan dalam bahasa Wutai.
Tifa langsung bertindak mendengar rutukan temannya. Tuturnya, Yuffie tak perlu kesal. "Bisa jadi itu benar adanya," katanya netral.
"Nanda to? Tifa sudah menyerah sebelum bertanding? Apa-apaan Tifa ini?" Yuffie marah-marah. Tifa meng-sst-nya segera. Syukurlah para cowok masih terlalu asyik dengan obrolan mereka, dan para cewek yang sudah maklum dengan sikap Yuffie memilih untuk tak menggubrisnya.
"Bukan begitu, Yuffie-chan. Biarkan saja mereka menebak-nebak. Yang penting kita buktikan siapa yang terbaik nanti." Tifa mengerling. Akhirnya Yuffie setuju dan suasana jadi agak lebih tenang.
Tifa dapat menyelesaikan dinner-nya lima menit kemudian. Segera setelah lembaran hijau terakhir salad-nya masuk perut, Tifa berdiri dari kursi. Katanya pada Yuffie yang masih belum selesai dengan makanannya, ada laundry yang harus ia urus.
"Hai, hai," izin Yuffie.
Sebelum keluar dining room, sebuah suara baritone memanggil namanya. Ketika berbalik, didapatinyalah pemuda bertubuh atletis pemilik suara sedang membenarkan topi baseball di kepalanya.
"Ada apa, Kunsel?" Tifa memberikan senyuman kecil sembari bertanya.
Pemuda itu membersihkan tenggorokannya canggung sebelum mulai berbicara lagi. "Good luck for tomorrow," katanya, lalu diam.
"Thank you," ucap si gadis dengan lembut kemudian.
Kunsel semakin menurunkan tepiantopinya, jaga-jaga kalau saja semburat merah muncul di pipinya. Ia tak mau rona itu kelihatan.
"Ums… Hard work will eventually be rewarded. The rest is to believe in yourself. Kau sudah bekerja keras selama ini. Aku yakin itu tidak sia-sia. Sisanya tinggal mengandalkan dirimu sendiri sebaik-baiknya. Jangan dengarkan ucapan orang-orang. Aku…" sesaat Kunsel ragu melanjutkan 'pidato'nya itu. Tatapan Tifa-lah yang menguatkannya. "… percaya kau bisa memenangkan pertandingan besok. Karena itu kau juga harus percaya."
Hening.
"Ums… Cukup sekian, kurasa."
Serta merta si gadis terkikik geli.
Pssst! Kunsel! Turunkan lagi topimu! Nanti dia lihat rona kemerahan itu!
Tifa menatap mata Kunsel, dan ucapan terima kasih yang tulus terpancar dari sorot mata gadis itu. Sang kakak kelas yang malu memaksa dirinya sendiri untuk tidak memalingkan wajah dari sang perempuan. Lagipula, kapan lagi Kunsel bisa mendapatkan tatapan itu kalau bukan di saat-saat yang langka seperti ini?
"Terima kasih, Kunsel."
Kunsel (masih) menatap mata Tifa.
"… Kunsel?"
"—Err, yeah?" Sekarang Kunsel sudah menengadah. Tiba-tiba saja langit-langit sangat menarik perhatiannya. Syukurlah Tifa tidak sempat memperhatikan kesalahan tingkahnya lantaran Yuffie memanggil gadis itu. Cepat-cepat pemuda berwajah tersembunyi itu mengumpulkan keberanian lagi. Setelah Tifa berteriak "sebentar" dan kembali berpaling padanya, Kunsel tersenyum.
"Waktunya pergi?" guraunya untuk menutupi ketegangan.
"Yah, kau tahulah, Yuffie memang begitu. Kemunculannya merusak saat-saat penting," jelas Nona Lockhart memutar bola matanya. Kunsel mengangguk-angguk seakan apa yang dikatakan Tifa—"saat-saat penting"—adalah hal yang sangat biasa, padahal hatinya melonjak kegirangan.
"Baiklah, aku, ng…" Tifa menunjuk-nunjuk pintu ruang makan dengan ibu jari.
"Right, right," Kunsel mengiyakan.
Sebelum gadis itu benar-benar berbalik, sekali lagi diucapkannya terima kasih. Pemuda itu nyaris melambaikan tangan, tapi ia sadar telah cukup banyak salah tingkah sehingga tangan yang telah diangkat justru diusapkan ke belakang leher. Awkward.
"Tsk, Man… Kamu memang sama sekali nggak jago menyembunyikan perasaan, ya," celetuk Zack yang ternyata telah memperhatikannya daritadi, tahu-tahu muncul dari belakangnya.
.
.
=xoxo=
"I'm going this time."
-Tifa, FFVII-
"Welcome, spectators, to the most challenging championship this year; a competition for winners; a challenge addressed to those who deserve victory. Welcome to… Martial-Arts-Championship!"
Sore itu Gedung Olahraga Sektor 1 Midgar bergelora. Tinggal beberapa menit lagi babak semifinal MAC dimulai. Akan berlangsung pertarungan satu lawan satu di antara empat orang. Inilah yang membuat cowok-cowok Firaga mengabaikan acara makan malam bersama kemarin. Tak ayal ajang ini memang sangat menantang jiwa 'petarung' tiap Firan.
"Let's welcome our challengers! First! Ge—" suara dari pengeras suara mulai menyebutkan satu per satu calon pemenang MAC tahun ini, sampai kepada nama yang ditunggu-tunggu…
"Next… the youngest challenger…"
Berlarilah keluar dari 'kandang' sosok tinggi dengan rambut putih keabu-abuan. Sontak lautan merah di bagian utara gedung itu bersorak-sorai heboh.
"This is he! Loz the Tiger!"
Si jagoan Firaga sampai di tengah ruangan. Ia mengangkat kedua tinjunya dengan mantap; sangat percaya diri, seolah telah menjadi juara MAC.
Itu bukan kali pertama Loz bertingkah seperti itu. Di kelas Mister Reeve sang pengampu Biologi, ia sering melatih gerakan barusan, sampai-sampai guru yang disebutkan tobat dibuatnya. Bedanya, biasanya, si bungsu itu kelihatan konyol, tapi entah kenapa di tengah arena itu Loz kelihatan macho sekali.
"And the last challenger, the prettiest among all… Tifa Lockhart!"
"Kyaaaaa! Tifaaa! UWOOOOH! Fight-oh fight-oh fight-oh!" jerit Yuffie di barisan paling depan.
"Crush 'em all, Tifa! Crush 'em like the ugly mouse this morning!" Elena ikut memberi semangat.
Seratus delapan puluh derajat berbeda dengan kemunculan Loz yang disambut dengan sorakan liar suara-suara baritone, kemunculan Martial Artist selanjutnya diiringi lengkingan soprano para gadis. Ternyata Blizard—julukan untuk boarder Blizaga—benar-benar datang. Ini tak luput dari provokasi Yuffie: perang makanan itu adalah bagian dari rencananya.
"Allright! Before proceeding, let the rules be explained."
Keadaan kembali kondusif dalam gedung berkapasitas empat puluh ribuan tersebut.
"The very first and important. Challengers fight bare-handedly. No weapons are allowed. Challengers found bringing any kind of tools are to be disqualified and prohibited to rejoin."
Hanya tidak boleh pakai senjata, kan? Itu berarti segala jenis bela diri diperbolehkan, sehingga MAC adalah ajang untuk mengadu kelebihan setiap aliran bela diri. Babak ini, keempat semi finalist menguasai jenis bela diri yang berbeda. Loz dengan sambo dan zipotanya, Tifa dengan seni bela diri campuran Aikido-Judo-Kenpo, seorang pemuda yang menguasai ninjutsu, dan seorang pria ahli boxing dan wrestling. Woohoo! Semi final ini bakalan seru!
"Second. No piercing eyes, no tugging hair, no swearing or spitting or harassing. Participant's score will be reduced if caught red-handed. Third, adjudicators' decisions are final," jelas suara dari loudspeaker. "Well then, let's begin!"
"Akhirnya!" jerit para pendukung.
Dua proyektor segera menampilkan proses pengundian dua petarung berhenti dan memunculkan dua nama. Si pemuda ninjutsu dari perguruan di luar Midgar,
"versus Loz the Tiger!"
Komentar Biggs, "bad luck. Datang jauh-jauh tapi harus berhenti di semifinal."
"Kelihatannya begitu. Loz emang kuat banget, sih," Wedge setuju. Anak itu kelihatan bersemangat. Dia bahkan menirukan cara kedua petarung memberi hormat.
Bang!
Bel pertandingan pertama berbunyi .
Selama lima menit pertama, 'pemanasan' berlangsung. Pada babak itu pun Loz sudah tampil unggul. Serangannya mendarat tepat pada sasaran tanpa hambatan.
Setelah lima menit pertama, pertandingan berlangsung semakin seru. Pertarungan antar Sambo-Zipota melawan Ninjutsu itu memberikan sangat sedikit jeda bagi penonton barang untuk berkedip saja.
"Bersiaplah untuk mati!" raung Loz sebelum melancarkan serangan pamungkasnya.
BUAGH!
Kena telak. Ahli ninjutsu itu terpental. Firan-Firan bersorak liar.
"Whoa!" Biggs memegangi perutnya, lalu melirik perut Wedge. "Kalau Wedge pasti sudah meletus tuh."
Bang bang!
Dengan demikian pertandingan berakhir sudah. Hasilnya jelas dan terduga. Loz masuk final. Catatan tambahan : dengan mudah.
"I'm the best and you know it!" nyata Loz angkuh. Tapi tak lama kemudian sifat aslinya keluar lagi. Oh, ya, sifat aslinya yang konyol. Berjalan keluar arena, Loz menari. Tari Salsa.
…
Loz. Martial Artist. Menari Salsa! Selebrasinya konyol dan bikin ricuh.
Tidak lama kemudian, sama seperti si penari Salsa meninggalkan arena, satu per satu anggota asrama Firaga meninggalkan stadion.
"Wow! Walaupun cuma lima menit, tadi itu keren buangeeet! Wuooh… WATAW!" raung Biggs terkagum-kagum. "Yasudah, balik, yuk!"
"Tunggu," cegah Kunsel dari bangku depan.
"Masih ada satu pertandingan,lho," Zack melengkapi.
Pantat Biggs, Wedge dan Reno hampir terangkat sepenuhnya dari bangku penonton ketika pengacakan nama berhenti lagi. Memunculkan dua nama yang telah pasti.
"Sebenarnya ini, kan, yang mau kalian tonton?"
Dua sohib yang duduknya di bangku depan itu nyengir menanggapi celetukan Reno.
"Yeah."
"Kotch versus Tifa Lockhart!"
Biggs menepuk jidatnya. "Kok aku bisa lupa, sih, sama yang satu ini?"
Biggs dan Wedge kembali menempelkan bokong mereka lekat-lekat di bangku. Reno terpaksa ikutan. Tapi tak ia dipungkiri batinnya berkata bisa jadi ini layak ditonton.
Bang!
Zack melipat tangannya di depan dada. Raut wajahnya serius. Hal serupa dilakukan Kunsel. Dengan ekspresi 'kau harus menang, Tifa' terpajang gamblang, Kunsel mengarahkan matanya hanya ke arena.
Tiba-tiba suasana di sekitar kelima Firan itu jadi hening.
Siiiiiing…
Perubahan atmosfir dirasakan Wedge. 'Mereka berdua serius banget, ya.' ungkap ekspresi wajahnya. 'Hii…'
'Jelas, lah. Dua-duanya kan ada "sesuatu" dengan Tifa,' jawab Biggs juga dengan siratan air muka.
'Hubungan apa?' alis Wedge bertaut.
'Aku juga nggak begitu ngerti, tapi pokoknya bukan hubungan biasa,' simpul Biggs, sekarang dengan bantuan isyarat tangan. 'Mungkin dua-duanya ada affair. Tahu arti affair nggak?'
"Pameran bukan?" bisik Wedge.
"Bukan, bodoh! Affair itu… urusan bisnis!"
GUBRAK! Affair itu hubungan cinta, hubungan cintaaa!
"Woi, berisik! Perhatikan pertandingannya!" Waduh. Reno ngamuk.
Ternyata momen tak penting tadi membuat keduanya melewatkan satu bagian seru dari pertandingan Tifa-Kotch. Tahu-tahu mereka sudah mendapati Kotch telah terduduk di lantai.
"Wah, kok posenya tiba-tiba nggak elit begitu, ya?"
"Gyaaah! Gara-gara kau aku nggak lihat bagaimana Tifa membogem Kotch di dagu sampai jatuh!" sembur Biggs memiting Wedge di leher. Si Gendut megap-megap.
"I-itu kamu ta-hu!"
Sementara gulat amatir terjadi di bangku spectator, pertarungan yang sesungguhnya masih berlangsung di tengah arena.
Kotch bangkit berdiri. Dan dia marah.
"Hei perempuan. Jangan harap pukulan wanita bisa menumbangkanku!" celanya. Lelaki hitam legam berbadan pegulat itu pun ganti menyerang. Terlepas dari badannya yang otot semua, gerakan orang itu termasuk cepat. Dan kaki terkilir Tifa—baru sembuh beberapa jam lalu—juga mengurangi agility gadis itu.
"HEYAAAAAA!"
DZIG!
Zack and Kunsel serempak berdiri. Kena!
Setelah itu Kotch mendapat lebih banyak kesempatan untuk terus menyerang lawannya. Segala jenis pukulan, mulai tinju biasa hingga uppercut, dikeluarkannya. Nyaris semuanya mendarat di kuda-kuda pertahanan Tifa. Dan kesannya Kotch tidak akan berhenti sebelum menghancurkan perempuan itu.
"Oi! Sudah! Hentikan!" seru seorang penonton yang melihat 'aksi anarki' tersebut.
"Perhatikan etiket dong!" tuntut Biggs ikut-ikutan. Wedge juga setuju padanya. Teriaknya, "hei, hentikan itu!"
Seperti Kotch peduli saja pada etiket. Apalagi tak ada aturan tentang etiket. Si penantang pria tetap menyerang dan terus menyerang, seakan tenaganya tiada batasnya. Penonton tak bisa berbuat apa-apa lagi. Bagaimana lagi, setiap bel dibunyikan kembali Kotch-lah yang selalu mendominasi.
"Khekhekhe! Take this! And THIS!"
Tifa terus menerus kena serangan. Tidak ada kesempatan baginya untuk menyerang. Tenaga orang itu sangat sangat besar. Hampir di luar akal sehat. Seakan dia adalah mesin, bukan manusia. Mesin pembunuh.
Mulailah muncul lebam-lebam pada tubuh gadis itu. Sang penantang tetap tak peduli.
"Yameteee!" jerit Yuffie menyuruhnya berhenti.
Pada pukulan terakhir, Tifa kehilangan keseimbangan sehingga jatuh terhempas.
"YEAH!" teriak Kotch penuh kemenangan.
Terlalu cepat untuk itu, Bung.
Amukan spectator sedikit mereda tatkala Tifa bangkit, membangun kuda-kuda bertarung lagi.
"Heh! Masih belum menyerah, ya? Dasar perempuan ngotot," ungkap si boxer tanpa tedeng aling-aling.
Dan serangan demi serangan pun dilayangkannya lagi. Yang menakutkan: tidak lebih lemah sedikitpun dari sebelum-sebelumnya.
"Bagaimana mungkin?" sentak Kunsel tak percaya.
Hanya karena latihan kerasnya Tifa masih bisa menangkis amukan Kotch. Sulit, tapi masih bisa dilakukan. Mulai kesal lantaran lawannya tak kunjung tumbang, pria itu meninju-ninju brutal. Serangan itu mengerikan. Bahkan Loz pun mungkin takkan menang melawannya.
"BE DOOMED, B*TCH!"
BBRUAAAAAAAAAAGH!
Erangan seorang perempuan bergema. Erangan Yuffie di bangku VIP yang menyaksikan sahabatnya tertendang jatuh dengan keras.
"Tifa!" seru Kunsel.
"Ouch! Rahangnya! Rahangnya kena, Wedge! Giginya! Bagaimana dengan gigi-giginya?"
PLAK!
"Wadaw!"
"Jangan bercanda di saat-saat begini, bodoh!" Dengan lirikan mata Reno menunjuk ke arah Zack dan Kunsel. Rahang kedua pemuda itu menegang dan matanya membeliak.
"HUAHAHAHAA! HAAHAHAHAA!" Kotch tertawa penuh kemenangan. "Jangan berharap banyak pada lawanku. Terutama kalau dia perempuan. HUAHAHAA!"
Gadis itu terkapar di lantai arena. Juri dan penonton menunggu. Berharap sama seperti sebelumnya, Tifa akan bangkit kembali, mengejutkan mereka semua.
Tapi tak ada apa yang terjadi lagi.
Tidak ada apa-apa lagi.
.
.
"All right, ladies! Line up in front of the Don! Heh, heh, heh…"
-Kotch, FFVII-
=toBcontinued=
Bagaimana? Apakah ini sudah bisa dibilang sebagai plot? *digebuki*
Yosh. Kochirae dozo, review onegai m(_ _)m
Sampai jumpa chapter depan ^^
