Pegasus
Samar-samar ada sebuah suara yang memanggilku. Namun saat aku membuka mataku, hanya cahaya putih yang begitu terang disekelilingku. Aku pandangi kedua tanganku, rambutku pun masih berwarna tosca. "Dimana sebenarnya aku?" kataku dalam hati. Aku masih berusaha mengingat kembali apa yang telah terjadi. "Tuan putri.. " Ah suara itu lagi. Aku berdiri. Dengan semua keberanianku, aku bejalan kearah cahaya yang paling terang.
Aku terdiam kaku bagaikan patung. Apa yang aku lihat benar-benar berbeda dengan apa yang aku lihat sebelumnya. "Tidak mungkin" aku berkata dengan suara terpelan, bahkan hampir tidak terdengar. Hamparan padang rumput yang hijau nan indah serta pepohonan yang tumbuh sangat subur, suara air terjun menderu dari kejauhan, kupu-kupu dengan bentuk dan warna yang belum pernah aku lihat sebelumnya beterbangan dengan bebasnya. Semua yang aku lihat tampak asing bagiku, bahkan hampir seperti mimpi. Tidak terlau panas ataupun terlalu dingin, suhu yang sangat nyaman untuk menjadi tempat tinggal. Ku gelengakan kepalaku berkali-kali, berusaha memastikan semua yang kulihat adalah nyata. "Tuan putri.." lagi-lagi, suara yang lembut tapi tegas terus memanggilku. Tapi tidak ada siapapun disekelilingku. Aku hanya bisa teringat akan seseorang yang selalu menemaniku sejauh ini.
"Len?"
"Bukan, Tuan Putri."
"Lalu kamu siapa? Kenapa kamu bisa tahu siapa aku?" aku memandang ke atas. Daguku tidak bisa tertutup. Langit ini, bukan langit yang selalu aku lihat setiap hari.
"Akan saya jelaskan secepatnya, Tuan Putri. Tapi saya mohon sebelumnya agar Tuan Putri dapat naik ke kupu-kupu biru yang ada di dekat Tuan Putri untuk menuju istana."
"Naik kupu-kupu?" Hal ini terdengar aneh. Aku mencoba melihat sekelilingku.
Bukan main anehnya tempat ini. Bagaimana bisa ada seekor kupu-kupu yang begitu besar seperti kereta kuda? Lalu aku bertanya kembali pada suara pria itu.
"Kupu-kupu ini? Kamu yakin?"
"Ya, Tuan Putri. Tidak perlu khawatir. Kami tidak bermaksud apapun, hanya saja kami sangat memerlukan bantuan Tuan Putri saat ini. Jadi, saya mohon agar—"
"Oh, kalau begitu kenapa tidak dari tadi? Oke." Aku tidak mungkin mengacuhkan seseorang yang dalam kesulitan. Apapun, siapapun itu, harus aku tolong. Aku merasa bersalah memotong pembicaraan pria itu, tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi jika situasi mendesak.
"Terima kasih, Tuan Putri, saya tunggu kedatangan Tuan Putri di kerajaan." Dan itu adalah suara terakhir yang aku dengar setelah kupu-kupu besar ini mulai mengibaskan sayap indahnya.
Suara terompet samar-samar terdengar. Aku masih terbang bersama kupu-kupu besar ini, diantara benda putih melayang yang menyerupai awan, namun bukan awan. Bahkan aku bisa menyentuh dan mengambil bagian kecil dari benda putih lembut ini. Bendera dengan lambang bintang emas dan putih perlahan mulai terlihat jelas. Sungguh istana yang sangat indah. Dinding berlapis silver dengan hiasan permata biru, ditambah setiap pintu kaca yang terdapat pecahan emas disetiap sisinya. Bentuk istana ini hapir seperti istana pada umumnya, hanya saja terdapat empat bangunan yang meawakili empat elemen utama dengan masing-masing lambang elemen diatas puncak bangunan. Sementara, bangunan utama berbentuk segitiga yang terletak ditengah dan melayang dengan menawan terbalut diding pengaman besar. "Whoa.. belum pernah aku lihat istana seperti ini." kata Miku mengagumi bangunan itu dari kejauhan. "Hanya orang-orang terpilih yang bisa berada ditempat ini, termasuk kamu, Tuan Putri" Kupu-kupu itu menjawab. "Kamu bisa ngomong juga?" Miku terkejut. "Tentu.." jawabnya santai "Pegangan yang erat Putri, sebentar lagi kita akan masuk distorsi ruang." Tambahnya dengan menambah kecepatan terbangnya. "Distorsi apa?" belum sempat Miku menyelesaikan kalimatnya, kilauan cahaya warna- warni menerjang mereka, Miku tidak dapat berbuat banyak selain menutup kedua matanya, ia percaya sepenuhnya akan perkataan sang kupu-kupu.
Udara terasa lebih ringan, tidak ada angin maupun kilauan cahaya yang menerjang mereka seperti sebelumnya. Miku membuka matanya, ia mendapati dirinya sudah berada di halaman utama istana, seorang diri. "Eh? Kupu-kupu? Kamu dimana?" Miku melihat sekeliling, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan binatang. Disekelilingnya hanya ada hamparan taman yang mengelilingi bangunan segitia itu dan pepohonan. "Hai, Putri!" seorang pria dengan rabut emas melambaikan tangan pada Miku. "Oh.. hai?" balas Miku dengan bingung. Ia belum pernah melihat pria ini, pakaiannya pun terlihat berbeda dengan para penduduk desa umumnya. Lelaki itu dibalut pakaian ksatira berwarna biru, senada dengan jubah yang ia pakai dan pengaman tangannya berwarna coklat keemasan. Ia terlihat seperti salah satu anggota kerajaan ternama. Miku mengamati penampilannya. "Hahaha, Putri pasti bingung. Nanti akan aku jelasin, tapi sekarang kita harus ketemu pangeran dulu. Mari." Ia berjalan didepan Miku, tidak membiarkan Putri kerajaan Elaire itu bertanya sedikitpun. Dengan begitu, merka pun masuk ke istana.
"Selamat datang Tuan Putri.." "Ah.. Putri Miku!" "Tuan Putri.." begitulah sapan yang selalu Miku dengar dari para pelayan istana selama ia menuju ruang kerja pangeran yang tidak ia ketahui siapa. "Aku belum pernah ketemu mereka, tapi gimana mereka bisa tau kalau aku ini Putri?" Miku mulai mengajukan pertanyan. "Tentu saja, kamu punya tanda khusus yang cuma bisa diliat orang tertentu." Ia berbalik dan mengedipkan matanya pada Miku. "Baiklah! Kita sampai." Pintu besar berdiri didepan Miku. Setiap pinggir pintu terdapat ukuiran bunga mawar dan kelopak bunga dan tentu saja, masih didominasi oleh warna putih dan emas.
Begitu Miku masuk kedalam ruangan, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya pada langit-langit ruang itu. Ke-empat elemen berputar disana dengan teratur, ruangan ini langsung menhadap taman bagian belakang istana. Hanya saja tidak ada tembok tebal yang menghalangi melainkan kaca transparan. Dibalik meja kerja tampak seseorang berdiri membelakangi Miku. Pria itu berlutut "Yang Mulia, Putri Miku sudah hadir." Ia bangkit dari posisinya dan mengisyaratkan Miku untuk menemui sang Pangeran.
"Tuan Putri, selamat datang." Senyum yang begitu menenangkan menyapa Miku.
"Suatu kehormatan bisa berada di istana yang megah ini, pangeran?" Miku memberi salam dan menatap kedua bola mata silver sang pangeran.
"Niran.. namaku Niran. Tidak perlu terlalu formal, tapi Putri bisa panggil namaku sesuka hati." Pangeran Niran berjalan dan menjabat tangan Miku.
"Kalau begitu, panggil aku Miku oke? Ian?" Seperti biasa, kehadiran Miku membawa tawa setiap saat.
"Hahaha belum pernah ada yang memanggilku dengan sebutan itu, tapi aku suka. Baiklah Miku, kita langsung ke topik utama aja ya?" jawab Ian.
"Tentu.." Miku berjalan mengikuti Ian, sang pangeran yang terbalut pakaian serba putih dan jubah keemasan dengan bunga mawar merah pada bagian bawah jubahnya. Tangannya terbalut sarung tangan putih dengan lambang yang sama seperti pada bendera di puncak istana.
Miku duduk di sofa sementara pria berbaju biru menyiapkan teh dan Ian datang membawa kotak kecil berwarna coklat. "Pertama, aku harus meminta maaf terlebih dahulu karena sudah membawamu pada masalah yang cukup serius ini." Ian menundukan kepalanya. "Karena itu, aku ingin memberimu salah satu benda milik kerajaan ini seperti yang tertulis pada legenda." Tambahnya lalu menaruh kotak coklat itu di meja. "Jangan sungkan, aku tahu kalau kamu bukan orang jahat. Tapi apa maksudnya legenda dan benda kerajaan?" balas Miku. "Tempat ini berbeda dengan dunia yang kamu tinggali. Bisa dibilang, berbeda ruang. Dunia ini bersebelahan dengan duniamu, tapi hanya orang terpilih dan keturunan saja yang bisa masuk kesini." Ian berhenti, memastikan bahwa Miku dapat memahaminya. Miku mengangguk, menunggu kelanjutan penjelasan Ian. "Seperti yang kamu lihat saat pertama masuk kedunia ini, ada air terjun bukan? Itu adalah gerbang antara dunia kami, manusia dengan kemampuan utnuk berubah wujud sempurna menjadi hewan, dengan duniamu, manusia seutuhya." Pria berpakaian biru itu datang dengan membawa nampan penuh berisi teh dan kue. "Kamu kenal dia?" tanya Ian sambil mengarahkan pandangannya pada pria itu. "Dia Lucas, kupu-kupu yang kamu tumpangi." Tambah Ian. Keduanya tersenyum. Miku menaruh tehnya "Kupu-kupu biru? Itu kamu?" tanya Miku tidak percaya. "Iya, betul Tuan Putri." Deretan gigi putih menghiasi mulutnya. "Semua hewan yang kamu lihat tadi adalah manusia, bahkan sebaliknya." Balas Ian. "Kalau Lucas itu kupu-kupu, kamu apa?" Miku menatap mata Ian penuh tanya. "Aku pegasus." Jawabnya singkat. Gadis tosca itu tidak bisa menahan rahangnya yang terbuka. "Ga mungkin.." ia menggelengkan kepalanya perlahan. "Sulit dipercaya, tapi aku pegasus betulan, iya kan Luca?" Lucas mengangguk kemudian berdiri dibelakang Ian. "Aku adalah anak kedua dari penerus kerajaan Wulfric, atau lebih dikenal kerajaan pegasus. Keberadaan kami sangat mempengaruhi manusia dengan niat jahat untuk menguasai dunia. Itu sebabnya, ayahku membuat dunia ini dan mendirikan kerajaan secara terpisah. " Ian menjelaskan. "Sayangnya, sihirku sudah hampir mencapai batas untuk merubah para penduduk desa menjadi wujud binatang lain dan membangun dinding pengaman disekeliling istana maupun dunia ini. Seluruh keluarga dan kerabat terdekatku ditangkap dan diambil rohnya. Hanya aku dan Ian yang tersisa di dalam kerajaan ini." Raut wajahnya mulai kehilangan warna. Lucas memberikan tepukan beberapa kali pada pundak Ian. "Mereka percaya, kalau roh pegasus bisa menambah kekuatan sihir buat orang yang berhasil bunuh pegasus. Mereka ga tahu kalau pegasus juga manusia. Secara ga langsung, mereka bunuh sesamanya sendiri." Ian mengakhiri penjelasannya dan menatap Miku. "Oke, aku ngerti. Keadaan di sini ga beda jauh sama di desa Elaire. Khususnya buat desa petani air. Belakangan ini, udah ada empat orang warga desa yang jadi korban, termasuk sahabat aku dari kecil. Semua warga desa kira, ini gara-gara cahaya pegasus. Makanya aku turun tangan langsug buat nyelidikin kasus ini tanpa sepengetahuan Raja. Tapi, seudah aku denger semua cerita kamu, aku tahu apa yang sebenernya warga desa lihat—" Ian dan Miku menjawab bersamaan "Kilat." Keduanya mengangguk. "Aku yakin, karena jarak terlalu jauh, para petani hanya terkena sedikit dari dampak elemen itu. Tatapan kosong, suhu tubuh yang turun drastis, tidak salah lagi ini pasti yang terjadi pada keluarga dan kerabatmu." Miku menambahkan dengan yakin. "Kamu benar, beberapa kali aku sempat melihat merasa ada kilatan cahaya, tapi auranya berbeda. Penuh kegelapan." Jawab Ian. "Kalau begitu, beritahu aku, berapa lama tubuh mereka bertahan tanpa ada roh didalamnya?" lanjut Miku. "Oh, aku lupa memberitahumu, pegasus immortal. Kami tidak bisa mati selalipun roh kami telah diambil. Tapi, jika terlalu lama berada di luar tubuh, roh kami bisa kehilangan jati dirinya dan tidak bisa kembali. Karena pegasus harus punya hati yang bersih dan niat yang tulus." Ian menegaskan. "Dan, Putri bisa lihat itu dari matanya. Pegasus yang benar-benar murni punya mata kaya Pangeran. Sedangkan aku, yang berada dalam pengaruh sihir, warna asli matak akan berkilauan diantara warna mataku yang sekarang." Lucas memperlihatkan matanya. Sesekali warna biru laut pada bola matanya berpadu dengan warna silver seperti mata Ian. Miku mengangguk "Kalau begitu, kita bisa susun rencana sekarang?" Ian dan Lucas sepakat dan mereka memulai pembicaraan panjang mereka.
"Satu pertanyaanku." Miku berhenti melihat peta yang terpampang di atas meja. "Aku yang ada disini itu roh, atau badan aku ikut juga?" ide-ide mulai bermunculan dibenak Miku. "Roh. Tubuhmu masih ada di batang pohon itu. Tapi jangan khawatir, kami bisa atur waktu." Jawab Ian. "Hmm.." Miku menaruh tangan di pipinya. "Aku ada ide, tapi ini sedikit beresiko." Lucas memecah suasana. "Apa itu?" mata Miku tertuju pada Lucas. "Aku bisa atur waktu buat kembaliin Putri ke badannya sementara Pangeran bawa roh Putri ke pohon pakai gelembung pengaman yang sama kaya di istana ini supaya aura kalian berdua ga ketahuan sama musuh.." Miku menyela "—terus, kamu sendiri gimana?" Lucas tersenyum. "Tidak perlu khawatir, Putri. Aku juga bakal ikut dalem gelembung itu, tapi seudah roh Putri kembali, aku dan Pangeran akan pisah. Pangeran bisa ambil jeda waktu buat berubah jadi pegasus, sementara aku jadi kupu-kupu." Lucas kembali berhenti. "Hmm.. sejauh ini masuk akal, ada lagi?" tanya Ian. "Resikonya, kalau kita gagal. Musuh bisa ambil roh kita berdua, dan nyawa Putri juga dalam bahaya." Tambah Lucas. Miku berdiri dan mulai menyampaikan idenya.
"Semua rencana pasti ada resiko. Kita bisa meminimalisir resiko itu." Miku mengulurkan tangannya keatas. Menunjuk pada elemen miliknya. Elemen air. "Untuk urusan waktu dan lainnya, aku percayakan pada kalian, karena itu diluar kemampuanku. Tapi, kalau aku udah kembali ke duniaku. Aku bisa pakai elemen air aku disana." Miku tersenyum.
"Kalian ingat, aku ga sendiri di atas pohon. Aku pergi bareng Len, walaupun aku belum tau sebenernya dia siapa, tapi aku percaya sama dia. Dan aku yakin, kalau waktu yang Lucas buat itu pas, Len masih ada di depan badan aku." sambung Miku. "Kalau kemampuanmu itu bisa mempengaruhi pikiran Len, aku mohon supaya kamu buat Len datang ke arah aku sambil angkat aku sedikit lebih deket sama mukanya."
Saat keduanya mendengar Miku berkata demikian, mereka langsung menanyaka pertanyaa yang sama "Muka? Buat apa?!" kata mereka serempak.
"Hei, tenang dong! Jangan mikir yang aneh-aneh!" Muka Miku memerah "Aku bakal minta Len buat lempar aku." Lucas tidak sengaja menyemburkan teh miliknya. Beruntung semburannya tidak mengenai peta maupun Ian. "PUTRI?!" Ia meletakan cangkir tehnya dengan cepat.
"Putri! Aku ga rela kalau permintaan Putri kayak gitu! Kita masih ada cara lain kan?!" Lucas memandang Miku tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Lucas, tenang dulu.. pasti Miku ada alesannya sendiri, iya kan Miku?" Ian berusaha menenangkan temannya.
"I—iya, tenang, tenang,. Ehm. Oke aku lanjut. Len bakal lempar aku yang pura-pura ga sadar. Ian, kamu siap-siap di bawah buat nangkep aku. Kalau bisa cari spot yang kamu bisa terbang bebas dan masih ada di dalam gelembung itu. Lucas, kamu bantu Len buat rebut benda yang ada dimusuh. Tapi jangan lupa buat bikin kloningan badan aku. Supaya, musuh percaya kalau aku udah mati. Sampai sini, gimana?" Miku menyelesaikan idenya.
"Kamu yakin ini bakal berhasil?" Ian bertanya pada Miku.
"Iya.. aku yakin. Banyak orang yang menaruh harapan di pundak kita. Walaupun ini kedengarannya sedikit diluar kemampuan manusia, tapi aku yakin kalau kita kerja sama pasti rencana ini berhasil." Jawab Miku dengan yakin.
"Sempurna. Itu jawaban yang aku harapin dari seorang putri. Kalau gitu, kita tunggu apa lagi? Kita siap-siap 20 menit lalu kita semua berangkat ke gerbang utama, oke?" dan dengan begitu, ketiganya mempersiapkan diri sebaik mungkin. Rencana untuk membawa kembali kedamaian antara dunia manusia dan pegasus ada di tangan mereka.
Sesaat sebelum mereka berangkat, Ian meminta mereka untuk berkumpul sebentar. "Miku, Lucas.. aku akan pakai telepati untuk berbicara dengan kalian, jadi kita tidak perlu berteriak-teriak." Ian mengulurkan kedua tangannya keatas dan kain putih mengelilingi mereka bertiga lalu menghilang. Ian berubah wujud menjadi pegasus yang sangat memesona, sementara Lucas kembali menjadi kupu-kupu. Perjalanan mereka menuju dunia manusia pun dimulai.
