-Rumah sakit konoha-
"Aku tidak bisa menghentikan darahnya." Gumam Sasuke masih panik. Meringkuk di sudut ruangan dan berusaha ditenangkan oleh Kurenai.
"Kurenai.."
"Ka.. Kakashi-kun.. Apa yang.." Kakashi tanpa banyak bicara mengangkat ikat kepala yang menutupi matanya, memperlihatkan matanya. Sharingan.. Seketika Sasuke jatuh pingsan.
"Aku tidak bisa melihatnya begitu terus. Dengan ini setidaknya dia dapat mengistirahatkan pikirannya." Ucap Kakashi pelan, kembali berdiri dan berjalan ke dekat pintu itu berharap tanda operasi itu segera padam dan mendapat kabar tentang Sakura.
"Kakashi-kun.." tanpa banyak bicara, Kurenai menghampiri pria itu dan memberikannya pelukan erat. Berusaha menenangkannya. Memang Sakura bukanlah anak Kakashi, tetapi dia sudah membuat ikatan yang sangat dalam, membuat Sakura sudah seperti anaknya.
"Kurenai.. Bagaimana jika dia tidak dapat bertahan." Ucap Kakashi mulai terisak.
"Itu tidak mngkin. Sakura gadis yang kuat."
"Hatake-san?"
"Do.. Dokter! Bagaimana?"
"Kami berhasil menghentikan pendarahannya dan mengembalikan chakranya. Untuk saat ini dia harus dirawat di ruang intensif sampai kondisinya dianggap sudah stabil dan dapat dipindah keruang biasa." Terang dokter tersebut.
"Terima kasih banyak. Lalu.. Apa kami bisa minta satu kamar rawat lagi." Ucap Kakashi menatap Sasuke yang tidak sadarkan diri di kursi ruang tunggu.
"Tentu saja." Ucap dokter tersebut senang hati.
"Ada apa Kurenai?" tanya Kakashi mendapati wajah melamun Kurenai.
"Kenapa Sakura tidak melawan? Maksudku kemampuannya cukup untuk menghentikan siapapun yang melakukan hal ini kan?" ucap Kurenai tidak habis pikir.
"Apa kau lupa bahwa Hokage-sama menyuruhnya untuk tidak menggunakan kemampuannya di luar dari misi anbu." Ucap Kakashi mengingatkan.
"Aku mengerti. Tapi ini sudah menyangkut nyawa." Ucap Kurenai lagi.
"Aku mengerti. Aku pernah menyuruh Sakura untuk sedikit melawan itu tidak apa-apa. Tapi dia bilang dia tidak mau menyakiti warga yang sudah berbaik hati menerimanya disini. Disakiti beberapa orang tidak ada nilainya dibanding kebaikan mereka." Ucap Kakashi yang ingat betul kata-kata Sakura.
"Tapi kalau begini terus.."
"Sudahlah.. Kita percayakan saja pada Sakura." Ucap Kakashi menghentikan pemikiran buruk Kurenai
-6 tahun kemudian, Flashback-
"Sakura-chan!"
"Selamat pagi Naruto." Ucap Sakura memberikan senyumnya pada Naruto.
"Kau berisik sekali."
"Apa maumu Uchiha." Ucap Naruto kesal.
"Hey! Jangan berbicara seperti itu dengan Sasuke!"
"Ugh..." Naruto hanya bisa bergidik ngeri saat ara fans girl Sasuke itu memarahinya.
"Wow.."
"Ayo Sakura." Ucap Naruto menarik tangan Sakura untuk mencari kursi yang masih kosong dan sialnya mereka kursi yang kosong hanya berada disamping Uchiha yang berarti mereka harus satu meja.
"Baiklah anak-anak, kalian yang ada disini adalah yang berhasil melalui ujian yang lalu. Mulai saat ini kalian resmi menjadi genin dan akan dibagi menjadi kelompok yang terdiri dari 3 orang. 2 orang laki-laki dan 1 perempuan dan kalian akan memiliki masing-masing sensei yang akan bersama kalian untuk mulai menjalani misi diluar desa." Ucap Iruka.
"Heeeee" keluh semua anak-anak yang ada dikelas itu terkecuali Hatake dan Uchiha yang terus diam dikelas. Tidak lama pintu kelas terbuka dan terlihat beberapa sensei memasuki ruangan tersebut.
"Baiklah.. Kita mulai.. Ino, Shikamaru, Chouji kalian satu tim dan ketua tim kalian Asuma-sensei. Hinata, Kiba, Shino kalian satu tim dan ketua tim kalian Kurenai-sensei. Naruto, Sasuke, Sakura. Kalian satu tim, ketua tim kalian Kakashi-sensei." Mendengar ucapan Iruka Sakura hanya bisa tersenyum hambar.
"Nee.. Sakura-chan.. Otou-sanmu.."
"Ha.. Aku tidak mendengar ini sama sekali." Ucap Sakura kesal.
"Heh dobe, jangan bertingkah seperti kau mengenal orang tuanya." Ucap Sasuke bosan.
"Tapi Naruto memang mengenal Otou-sanku. Bukan begitu, Naruto?" ucap Sakura menatap Naruto bingung.
"Yep.. Aku sudah beberapa kali bertemu dengan otou-sanmu." Ucap Naruto berbangga diri.
"tch."
"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Sakura bingung.
"Tidak-tidak." Ucap Naruto girang.
"Baiklah. Cukup sampai disini.. Besok kalian akan langsung berlatih bersama ketua tim kalian. Kelas di bubarkan.
"Nee.. Sakura.. Rambutmu sudah panjang sekali." Ucap Naruto tiba-tiba saat mereka tengah bersantai di atas atap sekolah bersama tim berlatih kunai mereka dulu.
"Humm? Aku tidak terlalu memusingkannya sih.. Aku tidak terlalu peduli." Ucap Sakura.
"Lalu.. Kenapa kau disini?" ucap Naruto menatap pria yang duduk disamping Sakura itu.
"Huh? Memangnya kenapa." Ucap pria itu.
"Tidak ada yang suka denganmu disini Sasuke-teme!"
"Apa kau bilang."
"Hentikan." Ucap Sakura dingin.
"Hahh..."
"Yosh yosh.." ucap Sakura pelan sambil bermain dengan anjing milik Kiba.
"Kenapa Kiba?" tanya Naruto menatap Kiba.
"Aku.. Tidak suka dengan timku.."
"Huh? Bukankah kau setim dengan wanita hyuga dan aburame?" ucap Naruto mengingat.
"Lebih tepatnya wanita yang sering memata-mataimu dan pria pecinta serangga." Ucap Kiba lagi.
"Hahahahaha.. Jangan begitu." Ucap Sakura.
"Apa kalian tidak memperhatikan matanya.. Tidak ada pupilnya." Ucap Kiba lagi.
"Jangan begitu.. Tidak baik membicarakannya begitu."
"Wow.. Aku takjub padamu." Ucap Sasuke tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Bukankah dia wanita yang sering membuatmu dulu menangis? Bersama wanita Yamanaka itu." Ucap Sasuke membuat Sakura membeku. Memang dulu Sakura merupakan sasaran bully Ino dan Hinata. Tapi dia yakin bahwa Sasuke tidak mengetahui hal itu.
"Kenapa.."
"Hah.. aku pulang.. Kalau terlalu lama disini ibuku bisa mengomel dan itu merepotkan." Ucap Shikamaru yang pergi diikuti Kiba yang juga harus pulang sebelum diomeli orang tuanya.
"Sampai jumpa lagi.." ucap Naruto yang hanya melambaikan tangannya semangat hingga keduanya menghilang dari lingkungan sekolah.
"Kau lupa? Hah.. Sudahlah.. Aku pulang." Ucap Sasuke yang bersiap pergi.
"Apa maksudnya." Ucap Naruto kesal.
"Sa.. Sakura?"
"O.. Otou-san.." tiba-tiba Sakura jatuh terduduk sambil memegang kepalanya. Seakan mengingat hal yang tidak ingin dia ingat.
"Sakura-chan! Kau baik-baik saja?" ucap Naruto menghampiri Sakura berusaha menyadarkannya.
"Hoi!" Sasuke yang kaget juga ikut menghampiri Sakura yang tanpa sadar mengaktivkan sharingannya.
"Jaga dia!"
"Kau mau kemana?!"
"Aku akan panggil Kakashi-sa.. Sensei." Ucap Naruto buru-buru membenarkan ucapannya mengingat sekarang Kakashi adalah senseinya yang kemudian menghilang sebelum Sasuke dapat mencegahnya.
"To.. Tolong.. Tidak.."
"Sakura!" Sasuke berusaha menyadarkan Sakura dengan mengguncangnya pelan tetapi tidak membuahkan hasil.
"Maafkan aku.. Maafkan aku.."
"Tch..Hoi! Sadarlah!" tanpa pikir panjang tiba-tiba Sasuke memeluk erat Sakura berusaha menyadarkannya.
"TIDAK!"
"Ah?! Sakura?! Sakura!" Sasuke hanya dapat terdiam melihat Sakura yang pingsan dan darah mengalir dari hidungnya mengotori pakaian Sasuke.
"Sakura! Hey.. Kamu baik-baik saja?"
"Huufftt.. Huuftt.." Naruto yang mengikuti Kakashi dari belakang hanya bisa mengatur nafasnya karena terus berlari.
"Otou-san.. Aku mohon.. Aku ingin pulang.." ucap Sakura pelan di tengah keadaannya yang tidak sadar.
"Sakura.." Kakashi menangkap aura ketakutan Sakura yang tengah tidak sadarkan diri. Ini bukan kali pertama Sakura seperti ini.
"Sensei.."
"Ah.. Naruto.. Terima kasih sudah memberi tahukanku dan kau.. Uchiha Sasuke benar? Terima kasih sudah menjaga Sakura dan berusaha menyadarkannya ya.. Aku akan bawa Sakura pulang." Ucap Kakashi melemparkan senyumnya pada kedua laki-laki yang masih kebingungan itu.
-Back to present-
"Jadi ada apa memanggil kami pagi-pagi begini sensei?" tanya Naruto yang merasa jam tidurnya berkurang.
"Kalian pasti sudah mendengar masalah ujian chunin bukan?"
"Tentu saja. Semua anak di akademi membahas itu." Jawab Naruto.
"Baguslah.. Karena aku mendaftarkan kalian untuk mengikuti ujian chunin." Jawab Kakashi dengan senyum khasnya.
"Apa?" ucap Naruto kaget.
"Yup.. Ujiannya besok.. Jadi aku kira lebih baik memberi tahukan kalian sekarang agar kalian belajar dengan sungguh-sungguh." Jawab Kakashi santai.
"Maafkan sikapnya ini." Ucap Sakura hanya menunduk. Ia juga kesal karena baru kali ini mendengar hal tersebut. Walau bagi Sakura ujian ini pasti tidak ada apa-apanya ketimbang ujian anbunya dulu.
"Baiklah.. Aku rasa hari ini cukup sekian.. Sampai jumpa di ujian chunin besok ya." Ucap Kakashi kemudian menghilang.
"Hah.."
"Mau kemana Sasuke-kun?" tanya Sakura melihat Sasuke meninggalkan tempat itu.
"Pulang." Jawab Sasuke singkat.
"Sakura-chan.. Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan. Aku dengar ada toko bagus yang baru buka didekat sini." Ucap Naruto yang dijawab anggukan sebagai tanda iya dari Sakura.
"Yosh! Baiklah! Ayo kita jalan!" ucap Naruto penuh semangat.
-Besoknya, Ujian pertama-
"Bagi yang tidak dapat menjawab soal-soal ini akan dianggap gugur dan tidak akan bisa naik tingkat chunin selama-lamanya. Bagi yang merasa tidak mampu silahkan keluar dan dapat mengikuti ujian tahun depan. Yang ketahuan mencontek juga akan gugur. Apabila satu orang dari tim kalian gugur, maka tim itu semuanya akan gugur." Ucap pria dengan banyak bekas luka di wajahnya itu berhasil mengintimidasi seluruh genin yang ada diruangan itu.
"Intinya cukup mengerjakan dengan benarkan." Ucap Sakura santai.
"Ujian ini... Mencontek dengan tenang." Ucap Sasuke yang berhasil mengetahui maksud ujian tersebut dengan sharingannya. Selama ujian banyak yang dikeluarkan karena ketahuan mencontek. Hingga akhirnya ujian selesai.
"Hah.. Tadi itu menyeramkan sekali.." ucap Naruto yang masih dapat merasakan ketegangan ketika ujian tadi.
"Jadi kau berhasil menjawab berapa soal Naruto?" tanya Sakura menatap Naruto yang berjalan disamping kanannya.
"Aku.. tidak menjawab satu soalpun" Ucap Naruto tertawa puas.
"Aaa... Aha.." Sakura hanya bisa memandang takjub. Kalau saja Naruto tidak punya nyali yang kuat untuk terus duduk diam di ruang kelas itu, sudah pasti tim mereka sudah gugur saat ini.
"Dasar bodoh.. Inti dari ujian itukan hanya bagaimana cara kau mendapatkan informasi dari sekelilingmu tanpa ketahuan." Hardik Sasuke membuat jengkel Naruto.
"Jangan mulai lagi.." ucap Sakura bosan dengan pertengkaran keduanya yang tidak pernah ada habisnya.
"Kau sendiri bagaimana, Sakura-chan?" tanya Naruto balik.
"Huh? Aku rasa semua pertanyaan itu ada di setiap pelajaran di akademi."
"Maksudmu kau mengerjakannya tanpa mencontek?" ucap Naruto takjub.
"Humm.. Ya.. Kira-kira begitu. Aku saja baru tau soal mencari informasi diam-diam itu tadi saat Ibiki-sensei mengatakannya." Jawab Sakura polos.
"Hah.."
"Baiklah.. Ayo kita selesaikan ujian ini." Ucap Naruto penuh semangat.
-Besoknya-
"Bagi yang anggota timnya sudah lengkap silahkan menuju lantai 3 ruang B" perintah pengawas ujian didepan gerbang akademi.
"Wah... Sudah seramai ini." Ucap Naruto saat mereka berjalan memasuki lorong akademi mencari ruangan yang diberi tahu didepan gerbang tadi.
"Tentu saja. Kalau saja kau tidak tertidur, pasti belum seramai ini." Keluh Sasuke yang merasa gerah dengan padatnya lorong itu.
BUK
"I.. Ittai.."
"Sakura-chan, kau baik-baik saja?" tanya Naruto yang segera membantu Sakura berdiri.
"Kenapa kau melamun disaat seperti ini." Ucap Sasuke kesal.
"Gomen.. Tapi aku tidak melamun.. Aku hanya memikirkan sesuatu." Ucap Sakura lagi.
"Dan apa itu?" tanya Sasuke menatap tajam Sakura.
"Hei! Jangan memarahi Sakura-chan begitu!" hardik Naruto kesal.
"A.. Maafkan aku. Apa kau baik-baik saja?" tanya pria dengan pakaian serba hijau itu.
"Umm.. Ya.. Aku baik-baik saja dan seharusnya yang meminta maaf itu aku." Ucap Sakura segera membungkuk meminta maaf.
"Lee apa yang kau lakukan." Ucap seorang wanita dengan rambut diikat 2 seperti bakpao itu.
"Lee? Hoi Lee!" kali ini seorang pria dengan mata seperti mutiara itu mengguncang tubuh pria bernama Lee yang tidak bergerak itu dan masih terus memandangi Sakura.
"Ka.. Ka.."
"Kaka?" tanya Naruto bingung.
"Kawai! Sakura-chan benar? Maukah kau menjadi pacarku?" ucap Lee membabi buta menggenggam kedua tangan Sakura erat.
"A.. I.. Ittai.." rintih Sakura saat tangannya digenggam erat oleh Lee.
"Hei!" reflek Sasuke mendorong menjauh Lee dan segera berdiri diantara Lee dan Sakura.
"Sakura-chan?" Naruto menatap Sakura yang masih merintih kesakitan.
"Apa-apaan kau!" hardik wanita bercepol 2 itu.
"Seharusnya kau jaga tanganmu itu untuk dirimu sendiri dan jangan berani mengganggu anggota tim wanita kami." Ucap Sasuke tajam.
"Aku tidak suka ini tapi untuk kali ini aku setuju padamu teme. Kalau kau berani menganggu Sakura-chan, maka kau harus menghadapi kami berdua dulu."
"Su.. Sudahlah kalian." Ucap Sakura menghentikan perdebatan itu.
"Aku benci mengakuinya tapi mereka benar." Ucap pria bermanik mutiara itu.
"Tapi Neji.." wanita bercepol 2 itu seakan tidak setuju dengan pendapat pria bermanik mutiara itu.
"Sudahlah. Bagaimana kalau kita selesaikan saja ujian ini, ok?" ajak Sakura menggenggam tangan Sasuke dan Naruto meninggalkan Lee, Neji, dan Tenten.
"Perempuan itu benar. Kita selesaikan ujian ini dan balas mereka di kesempatan berikutnya." Ucap Neji menatap sinis tim Naruto yang berdiri agak jauh dari mereka.
"Tapi ini aneh.. Sudah berkali-kali kita memutari tempat ini kita masih saja belum menemukan tempat yang dimaksud." Ucap Lee mulai kelelahan.
"Sakura?" ucap Sasuke menatap Sakura yang hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Lee.
"Kalian tidak akan menemukannya bila kalian masih terus terjebak dalam ilusi ruang." Ucap Sakura melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu. Ketika pintu itu di buka terlihat para pengawas ujian yang memberikan selamat ada Sakura, Naruto, dan Sasuke yang berhasil melangkah ke babak selanjutnya.
"Ilusi ruang.." ucap Neji yang tidak menyangka akan hal itu.
"Bagaimana kau bisa tau kalau kita sedang dalam ilusi Sakura-chan?" tanya Naruto begitu mereka diinfokan untuk segera menuju ke bagian tengah akademi untuk menerima intruksi ujian selanjutnya yang akan diadakan besok dan kini tengah berjalan melewati aula.
"Humm.. Aku hanya memperhatikan sekitar dan menyadari ada yang tidak benar." Ucap Sakura lagi.
"Bagaimana mungkin seseorang yang tidak punya kemampuan sharingan maupun byakugan bisa menyadari hal tersebut dengan cepat." Gumam Sasuke manatap intens Sakura.
"Kau mengatakan sesuatu teme?" tanya Naruto yang merasa mendengar Sasuke mengatakan sesuatu.
"Diamlah dobe." Jawab Sasuke tajam.
"Hah.. Jangan mu..."
"SAKURA-CHAN! AYO JADI PACARKU!"
"Aaa.. Le.. Lee-san benar? Aku sedang tidak dalam masa mencari pacar.. Jadi.. tidak." Ucap Sakura berusaha menolak.
"Ayolah Sakura-chan." Ajak Lee terus memaksa. Menghampiri Sakura yang hanya diam tidak tertarik.
"Hey. Akukan sudah bilang jangan ganggu dia." Ucap Sasuke menghentikan langkah Lee.
"Memangnya kau siapanya. Melarangnya untuk berpacaran denganku." Ucap Lee ada benarnya.
"Sakura-chan adalah.. Ack!"
"Naruto!" segera Sakura menghentikan tubuh Naruto yang terlempar dan hampir menabrak dinding saat akan menyerang Lee.
"Gerakannya cepat." Ucap Naruto tidak dapat percaya dengan apa yang ia lihat.
"Heh.. Menarik." Ucap Sasuke kemudian mengaktivkan sharingannya.
"Kalau aku menang aku akan membawa Sakura-chan bersamaku." Ucap Lee yang kemudian siap dengan kuda-kuda bertarungnya.
"Kau pikir kau dapat mengalahkanku dengan mudah?" ucap Sasuke menantang Lee.
"Ungh.." Naruto hanya bisa merintih kesakitan saat Sakura berusaha menyembuhkannya dengan kemampuan medisnya.
"Naruto.. Jangan bergerak dulu." Ucap Sakura saat menyadari Naruto berniat untuk berdiri dan membantu Sasuke.
"Tapi.."
"Tolonglah.." pinta Sakura yang belum selesai mengobati luka Naruto. Tendangan yang dilayangkan Lee pada dada Naruto memang cukup berdampak buruk. Dada Naruto nyaris remuk dengan sekali tendangan.
"Baiklah." Ucap Naruto mengalah, membiarkan Sakura mengobati lukanya. Saat Sakura selesai mengobati Naruto ia mendengar teriakan Sasuke dan menemukan Sasuke yang ditendang ke atas oleh Lee yang kemudian menyerang perut Sasuke dengan tendangannya, mendorong tubuh Sasuke dengan cepat ke lantai yang berhasil ditangkap Sakura dan mengurangi sedikit cidera yang didapat Sasuke walau harus merelakan lututnya yang harus tergores akibat gesekan dengan lantai kayu itu.
"Ungh.." rintih Sakura pelan.
"Lee.. Apa yang kau lakukan!"
"G.. Guy-sensei!" ucap Lee tiba-tiba ketakutan.
"Akukan sudah bilang tidak menggunakan taijtsu pada teman!"
"Ampun Guy-sensei! Tapi mereka.."
"Sakura-chan, kau baik-baik saja?" tanya Guy yang menghampiri Sakura.
"Aku baik-baik saja, Guy-sensei." Ucap Sakura memberikan senyum ringannya dan kemudian membaringkan Sasuke dilantai dan mulai mengobatinya.
"Kau.. Jalan menggunakan tanganmu hingga ke tempat latihan!" hardi Guy marah besar pada Lee yang hanya dengan pasrah patuh.
"Tunggu Guy-sensei.. Bagaimana dengan pengarahan?" tanya Tenten yang tiba-tiba masuk dengan nafas berat sepertinya habis berlari mencari Lee.
"Kalian berdua saja cukupkan! Setelah itu kalian juga temui aku disana!" ucap Guy mengejar Lee yang mulai menjauh.
"Sasuke-kun?" Sakura menyadari Sasuke yang mulai sadar dan memasang wajah marahnya.
"Kenapa bisa aku kalah dari pria aneh itu!" ucap Sasuke kesal.
"Sudahlah.. Jangan bertindak bodoh lagi." Ucap Sakura mencoba menghentikan pikiran konyol Sasuke yang ingin mengejar Lee dan menyelesaikan pertarungan mereka.
"Sakura-chan!" Sakura mendengar Naruto berteriak dan saat membalikkan badan sebuh kunai melesat cepat kearahnya.
"Sa.. Sakura.." Sasuke melupakan rasa sakitnya dan segera bangkin menahan tubuh Sakura, kunai itu berhasil menancap di lengan atas tangannya.
"Hoo.. Seharusnya kau bisa menghindari itukan, mosnter."
"I.. Ino.." ucap Sakura terbata.
"Tenang saja. Itu tidak ada racunnya. Tapi saat aku melihatmu lagi mungkin akan berbeda ceritanya. Ah.. Sasuke-kun! Sampai bertemu besok ya.." Ucap Ino melangkah pergi dari tempat itu.
"Apa-apaan dia." Ucap Naruto menghampiri Sakura yang sedang mengobati luka goresnya yang tidak seberapa itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke menatap Sakura.
"Ya. Aku baik-baik saja." Ucap Sakura bangkit dari duduknya.
"Jangan paksakan dirimu Sakura-chan.'" Saran Naruto khawatir.
"Terima kasih Naruto." Ucap Sakura diiringi senyuman ringan.
"Baiklah, ayo kita cepat ke aula agar bisa cepat pulang dan kau dapat beristirahat." Ucap Naruto lagi.
TBC
