Chapter 7

Flashback

Musim gugur hampir berakhir. Angin dingin yang berhembus serta daun momiji yang memerah berguguran menghujani jalanan. Sebuah pemandangan khas yang hanya di temui saat musim gugur. Ditambah pemandangan matahari terbenam di balik sungai konoha.

"Tobi…" panggil pemuda kuning jabrik pada teman disampingnya yang merebahkan tubuhnya ditepian sungai. Tidur beralaskan rerumputan di sana. Menonton detik-detik pergantian senja menjadi malam. Ahh hal yang selalu dua pemuda ini lakukan setelah pulang sekolah.

"…"

"Menurutmu, hadiah apa yang bagus untuk kuberikan pada Shion untuk merayakan hari jadian kami?"

"…" Tobi menoleh, menatap lekat wajah naruto yang saat itu bermandikan cahaya jingga. Dapat ia lihat, semburat merah tipis dibalik tiga garis kumis pipinya.

"kau… bisa memberikan hal yang disukainya!" Ia lantas kembali pada posisinya. Menatap matahari yang kian memerah. Pemandangan yang sangat indah, tapi entah kenapa dadanya terasa sesak. Meski samar.

"Masalahnya, aku saja bahkan tidak tahu." Dengus Naruto, memejamkan matanya frustasi. Argh padahal dia sudah lama mengenal gadis itu, sejak TK. Namun, bagaimana mungkin ia bisa sebingung ini hanya untuk memberinya hadiah. Apakah karena gadis itu terlalu berharga baginya? Gadis berambut kuning dengan bola mata ungu yang meneduhkan saat dipandang. Uh, bahkan hanya memikirkannya pun membuat naruto berdebar sendiri. wajahnya memanas perlahan.

"Baka!"

Tobi beringsut dari tidurnya. Pemuda itu kemudian berdiri, melirik pemuda jabrik yang saat ini masih mempertahankan ekspresi meronanya. Ck, entah kenapa ia merasa sangat jengkel sekali dengan ekspresi yang ditunjukkan Naruto. Ia lantas menarik napas sebentar sebelum akhirnya berujar pelan.

"Kau kan bisa bertanya langsung saja pada Shion!"

"…."

Naruto diam, masih terjebak didunia imajinasinya sendiri. mengacuhkan Tobi yang ternyata menunggu jawaban darinya. Pemuda itu lantas mendengus.

"Aku pulang pikirkan saja sendiri." ujarnya seraya melangkah menjauh. Menyisakan Naruto yang kini mulai tersadar.

"O… Oiiii … Tobi…. Tunggu aku!" teriaknya kemudian mengejar temannya tersebut.

.

.

.

Konoha telah memasuki musim dingin. Ditandai dengan jalanan dan atap rumah yang telah diselimuti salju tebal. Naruto melangkahkan kakinya menyusuri jalan. Sesekali ia mengeratkan syalnya. Udara sedang buruk saat ini. Seharusnya ia tadi menerima tawaran Shion untuk diantar oleh supir gadis itu. Tak banyak orang yang berlalu lalang dipusat kota tersebut. Mungkin cuaca yang sedang buruk membuat sebagian besar dari mereka enggan untuk meninggalkan rumah hangatnya.

"uh?" Naruto menghentikan langkahnya, tatkala manik birunya menangkap benda kerlap-kerlip yang bertengger dibalik kaca toko. Ia kemudian teringat. Itu kalung yang Shion tunjuk saat mereka kencan beberapa minggu yang lalu. Kalung itu masih setia disana rupanya. Cukup lama Naruto di sana, sebelum akhirnya beranjak. Namun, sedetik setelahnya ia kembali kesana.

"Hadiah!" gumamnya senang.

Benar sekali, kalung dengan mainan matahari itu bisa ia jadikan hadiah untuk gadisnya. Ditambah saat itu Shion juga tampaknya menunjukkan ekspresi tertarik waktu melihatnya. Ah tak sabar rasanya ingin segera memberikannya pada Shion.

.

.

.

"Naruto! Mau kemana? Kita akan mengunjungi Nenek Tsunade siang ini!" Kushina berlari mengejar putranya keambang pintu. Meninggalkan sup yang sedang ia masak saat dilihatnya Naruto berpakaian lengkap dengan mantel dan switernya berlari keluar.

"AKU HANYA PERGI SEBENTAR KAASAN!" teriak Naruto, melambaikan tangannya kearah Kushina. Membuat wanita paruh baya itu menghentikan geraknya.

Naruto mengambil benda kotak yang berbalut kertas biru dari saku mantelnya. Senyumannya semakin melebar. Ia mengeratkan genggamannya pada benda itu sembari mempercepat langkah kakinya. Ah, rasanya sudah tidak sabar lagi untuk melihat ekspresi gadisnya.

Udara dingin yang menusuk rasanya tak berdampak apa-apa pada tubuh Naruto. Keringat masih sempat meluncur dari pelipisnya. napasnya bahkan semakin pendek. Berlari menembus hamparan salju ternyata jauh lebih melelahkan pikirnya. Namun mengingat hal apa yang akan di dapatnya nanti membuatnya kembali bersemangat.

"Harus mendapatkan senyuman Shion!" batinnya

Naruto menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah bercat putih. Pemuda itu tak berniat membunyikan belnya. Ia lebih memilih memanjat tembok. Berniat mengejutkan Shion dengan langsung mengetuk kamar gadis itu. Tak perlu takut ketahuan, pemuda itu bahkan sudah hapal betul, jikalau orangtua Shion tidak sedang ada dirumah. Hal itu sudah terjadi sejak mereka sekolah dasar. Pekerjaan orangtua gadis itu menyebabkan mereka jarang pulang. Dan ini sungguh menguntungkan Naruto.

Tidak membutuhkan banyak waktu untuk menemukan bilik gadis itu. Naruto menarik napas sebentar. Tangannya terangkat, siap untuk mengetuk jendela kaca di depannya. Namun, celah kecil dari jendela itu menggelitik Naruto untuk mengintip sejenak apa kiranya yang sedang gadisnya lakukan didalam. Apakah Shion sedang menunggunya juga?

Tak ingin terlalu banyak berkhayal, pemuda itu mendekatkan kepalanya. Memposisikan matanya tepat pada celahnya.

"…."

Ia tercekat, semua bayangannya sejak tadi buyar seketika. Matanya terbelalak sempurna.

"Brengsek!" geramnya tertahan.

Dari balik celah itu, ia menemukan Shionnya sedang berciuman dengan seseorang yang sangat familiar. Tobi. Temannya.

Gadisnya dan temannya saat ini saling …

Arrgghhh

Melihatnya membakar dada Naruto. Tangannya mengepal erat.

"KALIAN! …." teriaknya tanpa sadar.

"BRENGSEK!"

Flashback off

Disclamer: Masashi Kishimoto

Author : Alriany Fujiwara

Naruto punya Masashi Kishimoto. Tapi fic ini. Murni hasil dari ide Author sendiri.

(OOC, MISS TYPO, GAJE, dan kekurangan lainnya)

Happy Reading~ ^^

"Ohayou, Hinata-chan!"

Naruto melambaikan tangannya pada gadis berambut indigo yang baru saja keluar dari apartemennya.

"…."

"Kenapa?" Tanya Naruto menatap wajah Hinata yang saat ini masih menatapnya penuh curiga.

Gadis itu tak menjawab, ia lantas menunjuk benda yang sedang Naruto duduki.

"Kau tidak mencurinyakan?"

Naruto Speechless.

Apa kata Hinata? Dia? Seorang Naruto mencuri? Ck… sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Perbuatan yang benar-benar tidak mencerminkan dirinya.

"Ini milik Neechan ku!" sergahnya, membela dirinya dari tuduhan rendahan seperti itu.

"…"

"Aku serius!" timpalnya lagi. Menampilkan wajah meyakinkannya kala Hinata tetap pada ekspresi curiganya. Salahmu Naruto, tak biasanyakan kau mengendarai alat transportasi.

"ah sudahlah, cepat naik!" Naruto memilih menyerah.

"Kemana?"

"Ck… tentu saja mengantarmu ke sekolah!" dengusnya kesal. Jika bukan karena ancaman Tousannya itu, Naruto tak harus bersusah payah menjaga kelengkapan absennya. Lagipula ia juga hanya ingin tetap bisa mengantar Hinata kesekolah. Karenanya, hanya sepeda ini lah ide yang terbersit di otaknya. Lalu, kenapa bukan mobil? Bukankah Naruto mampu jika hanya untuk membeli satu mobil?

"Kau tidak akan menculikku 'kan?"

Oh shit, kenapa Hinata semenyebalkan ini. Naruto mendesah dalam hati, pemuda itu kemudian mengerucutkan bibirnya.

"Tidak ada untungnya aku menculikmu!"

"…."

"ck… haruskah aku menciummu dulu baru kau akan naik, heh?"

"Kau … Rubah mesum!"

"…." Dan Naruto menyeringai penuh kemenangan. Hinata lantas duduk dibelakangnya. Gadis itu memegang seragamnya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Tak ada yang membuka mulut selama perjalanan itu. Naruto terlalu berkonsentrasi menggoes sepedanya dan Hinata yang tenggelam dalam segala pemikirannya tentang Naruto.

Ada apa dengan pria ini?

Apa ada hal besar yang terjadi padanya waktu dulu?

Rahasia apa yang selalu ia sembunyikan dari publik?

Ah, memikirkannya hanya menambah kalut Hinata.

"… nata!"

"Hinata-chan?"

"Eh?" Hinata terkesiap. Mereka sudah sampai ternyata. Dia kemudian turun dari dudukannya dan melangkah menuju sekolahnya. Sebelum terhenti akibat cekalan tangan Naruto pada lengannya. Hinata berbalik, menatap penuh tanya pada si jabrik.

"…"

"Eh…" Naruto gelagapan, ia bahkan tidak tahu kenapa menahan gadis itu.

"Ah, ganbatte Hinata!" ujarnya akhirnya yang di balas dengan anggukan dari siempunya. Gadis itu melengggang masuk kesekolahnya. Menyisakan Naruto yang kini mulai mengayuh sepedanya menjauh.

Tepat saat akan memasuki koridor sekolah, Hinata berhenti. Tidak, kali ini bukan karena Shion. Namun, gadis itu memang sengaja melakukannya. Ia kemudian berbalik, menatap punggung Naruto yang semakin menghilang. Ah, apakah ia mulai …

"Ohayou, Hime." Suara baritone itu membuyarkan Hinata, dapat di lihatnya Gaara yang saat ini tepat berada di depannya. Sangat dekat.

Hinata mendengus malas. Ck, kemarin Shion senpai dan sekarang Gaara. Ada apa dengan paginya beberapa hari ini?

"…." Mengacuhkan, Hinata melenggang pergi.

"Kau masih sama seperti dulu rupanya." Dan Gaara belum mau menyerah. Dia menyejajarkan langkahnya dengan Hinata.

"Hentikan omong kosongmu!"

"Aku mengatakan sesuatu yang nyata!"

"Itu masalalu, Gaara!"

"Apa peduliku!"

Hinata menggeram. "Aku tak ingin lagi berurusan denganmu!"

"tsk, kau selalu mengatakan itu sejak malam itu, Hime!" Gaara menyeringai. Masih tak ingin mengalah.

"…." Hinata memilih diam. Tak ada gunanya berdebat dengan Gaara. Pemuda itu selalu tak ingin dikalahkan. Sifat yang memang sudah hinata pahami. Dan Hinata memilih pergi tanpa mengatakan hal apapun lagi.

"…."

Dan Gaara masih mencoba mengejar Hinatanya.

"Dengarkan aku dulu, Hinata! Aku bisa menjelaskan jika saat itu hanyalah sebuah kesalahpahaman!"

"…."

"Itulah masalahmu, Hinata! Kau tak pernah mau mendengarkanku. Dan malah menghilang setelahnya!"

Hinata menghentikan langkahnya sekali lagi, menyebabkan Gaara yang berada di belakangnya sedikit menubruk punggung gadis itu.

"Karna memang tak ada lagi yang perlu untuk dijelaskan." Cecar Hinata. Gadis itu sebisa mungkin menahan suaranya. Sekolah memang masih sepi, namun sangat aneh rasanya membuat keributan di koridor.

"…." Gaara memejamkan matanya. Menahan luapan emosi yang sejak tadi menyebar keseluruh tubuhnya. Tepat sejak maniknya menangkap semburat merah di wajah Hinata tatkala lengan gadis itu bersentuhan dengan tangan si pemuda rubah itu. Dia benci itu. Sungguh, sangat benci.

"De…."

"Tolong jangan katakan apapun lagi!" Hinata melenggang pergi. Dan Gaara tampaknya tak berniat untuk mengejar gadis itu … lagi.

TBC

Gomen nee minna

Maaf sekali atas updatenya yang superrrr lama.

Salam hangat yah

Selamat membaca

Dan jangan lupa review.. ^^