Menyelesaikan masalah dengan kekerasan biasanya menjadi solusi terbaik yang dimiliki Slaine, setidaknya hingga hari ini. Selama ini ia meyakini tidak ada seorang pun yang sanggup mengikuti kecepatannya saat mengayunkan tangan, tapi kenyataannya ia salah. Buktinya, satu dari tujuh milyar penduduk bumi mampu menangkap tangannya dan membuatnya tak berkutik.

"Lepaskan!" desis Slaine saat melihat tangannya terperangkap di antara telapak tangan orang itu.

"Kau selalu menyelesaikan semuanya dengan kekerasan," keluh pemuda bermanik rubi yang menangkap tangannya. "Kau tahu 'kan, tidak semua hal bisa diselesaikan dengan tinju tangan kosongmu."

Tidak lagi, aku Slaine dalam hati. Setidaknya sebelum ia bertemu Kaizuka Inaho, tinjunya adalah solusi terbaik yang dapat ia upayakan. Sekarang ia harus memikirkan solusi lain bila berhadapan dengan pemuda yang satu ini. Padahal beberapa hari lalu, ia yakin bahwa tinjunya cukup efektif untuk pemuda ini. Entah bagaimana semuanya berubah dalam sekejap.

"Herannya kau selalu menggunakan kekerasaan saat berhadapan denganku,"kata pemuda itu sambil mencengkeram pergelangan tangan Slaine. "Padahal aku bukan ancaman bagimu."

Ia enggan mengakui, tapi memang seperti itulah Kaizuka Inaho bagi Slaine. Malah Slaine semakin waspada sejak pemuda itu tersengat arus listrik. Kaizuka yang pemaksa memang menyebalkan, tapi Kaizuka yang mampu menandinginya soal kekerasan jauh lebih menakutkan untuknya. Bagaimana lagi ia harus mempertahankan diri bila tinjunya ternyata tak cukup ampuh untuk pemuda itu?

"Setidaknya lepaskan tanganku, Kaizuka!" Slaine berkata akhirnya. "Cengkeraman tanganmu menyakitkan."

Walau hanya sedikit, Slaine bisa melihat kedutan di kelopak mata pemuda itu. Setelahnya pemuda itu melepaskan tangannya diiringi dengan gumaman kata 'Maaf' yang membuat Slaine menyipitkan mata. Sembari memegangi pergelangan tangannya, Slaine pun berkata, "Ada apa denganmu? Sudah kubilang kantin bukan ke arah sana, tapi kau terus saja berjalan. Apa kau tidak dengar ucapanku?"

"Oh,"gumam pemuda itu, "Ya."

Kepala Slaine bergerak sedikit. Jawaban pemuda itu tidak seperti Inaho yang biasanya. Ia pun mendekatkan dirinya dan membungkuk sedikit untuk mengamati wajah pemuda yang lebih pendek beberapa senti darinya. Tangannya digerakkan di depan pemuda itu dan ia berkata, "Kau baik-baik saja?"

"Ya," jawab pemuda itu dengan cepat, tanpa ragu. "Jadi, kita ke kantin?"

Slaine tidak yakin pemuda itu menjawab jujur, namun bukan haknya untuk mempermasalahkan. Ia pun mengangkat alis dan membalikkan tubuhnya. "Ya, tapi kita harus cepat. Waktu istirahat sudah hampir habis karena seseorang membuang-buang waktu dengan menyeretku ke arah berlawanan."

Pemuda di belakangnya tidak mengatakan apa-apa sehingga Slaine memutar tubuhnya, memastikan pemuda itu mengikutinya. Ketika dilihatnya pemuda itu masih bertahan di tempat, dahinya kembali berkerut. Sepertinya pemuda itu belum tahu bahwa Slaine Troyard sangat menyeramkan bila lapar.

"Oi, Kaizuka?" Slaine kembali bertanya pada Inaho. Baginya, Inaho Kaizuka yang lamban benar-benar menjengkelkan. Namun ia harus memakluminya berhubung pemuda itu baru saja tersengat arus listrik. Ia khawatir otak pemuda itu belum sepenuhnya berfungsi. "Apa sebaiknya kita ke klinik?"

Herannya bukannya menjawab, Kaizuka Inaho malah menatapnya. Nyaris tak kentara, namun pemuda itu mengupayakan sedikit garis lengkung di bibir. Melihat raut wajah khawatir Slaine, Inaho pun berkata, "Apa aku membuatmu khawatir, Slaine?"

"Hah? Ya, tentu saja! Kaizuka Yuki-san bisa membunuhku kalau tahu-tahu kau pingsan di dekatku," Slaine menjawab sambil mengamati wajah pemuda itu. "Aku tidak mau mencari masalah yang membuatku terpaksa dikeluarkan berhubung aku masih punya urusan di sekolah ini."

Garis lengkung menghilang, ekspresi datar kembali ke wajah Inaho. Ia menyingkirkan tangan Slaine dan berjalan mendahului pemuda itu. Tidak peduli dengan ekspresi bingung yang ditunjukkan oleh pemuda yang lebih tinggi darinya itu.

"Ayo cepat!" Inaho berkata tanpa menoleh ke belakang. "Kau bilang kita harus cepat."

"Ya, aku—"

Inaho tidak menunggu Slaine menyelesaikan ucapan. Ia berjalan beberapa langkah hingga membuat Slaine harus menyusulnya di belakang. Tangannya mengepal erat sementara manik merahnya terpejam untuk sesaat.

Di belakangnya, Slaine menatap dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Ia ingin mengingatkan tapi ia sedikit penasaran. Bagaimana pun Kaizuka Inaho adalah orang yang lebih dulu bersekolah di tempat ini dibanding dirinya, mungkin sekali ini pemuda itu tengah menunjukkan jalan pintas menuju ke kantin karena Slaine yakin arahnya yang biasa bukan ke sana. Tapi kalau tidak begitu…

Slaine menggelengkan kepala. Perutnya memang lapar dan membutuhkan asupan gizi segera. Tapi tingkah Kaizuka Inaho saat ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Slaine berencana menjadikannya bahan olok-olok di kemudian hari. Barangkali, ia bahkan bisa menjadikannya sebagai bahan ancaman? Siapa ta—

Pikirannya terputus seketika. Apa itu tadi? Ia merasa melihat sekelebat bayangan saat memandangi punggung Kaizuka Inaho. Seolah-olah ia tengah berada di sebuah koridor sementara seorang pemuda berambut dark brown berjalan di depannya. Mulutnya terbuka ingin memanggil pemuda itu, namun niatnya diurungkan. Entah mengapa ia merasa khawatir dan lidahnya pun kelu.

Begitu merasakan ketiadaan langkah kaki di belakang, Inaho pun kembali menoleh. Pemuda itu mengangkat alis saat melihat Slaine masih mematung di tempat. Sedikit kerutan timbul di dahi.

Manik biru Slaine mengerjap-ngerjap. Manik merah Inaho menyadarkannya kembali pada realita. Ia menggelengkan kepala dan meyakini bahwa ia pasti salah lihat tadi.

"Ada apa?"

Pertanyaan Inaho menyambutnya saat ia sudah berada di samping pemuda itu. Sebagai jawaban, ia menggeleng gugup sementara satu tangannya mencengkeram kerah bajunya erat. Telapak tangannya mulai berkeringat dingin. Untuk alasan tertentu, ia merasa tidak nyaman dengan gambaran yang diterimanya.

"Slaine?"

"Tidak," jawab Slaine berusaha menguasai dirinya. "Tidak ada apa-apa."

Manik merah Inaho menyipit, merasa curiga. Namun ia tak mengatakan apa pun. Ia segera berbalik sementara Slaine tetap bungkam.

Slaine menganggap, ia hanya sekadar salah lihat. Tapi tidak hal nya bagi Inaho. Manik merah yang mengamati Slaine dari pantulan kaca jendela koridor tidak mengimplikasikan hal yang sama dengan Slaine. Manik merah itu memandang dengan penuh kecurigaan. Sementara si pemilik mengepalkan tangannya lebih erat.

Dan seperti biasa, saat ia gelisah pemuda itu akan menunjukkan kebiasaan aslinya. Satu tangan terangkat menutup mata kiri dan terdiam untuk beberapa saat. Ia berharap apa yang terjadi tidak seperti dugaannya.

.

.

.

Disclaimer : Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfiksi ini : )

.Ordinary Days by cyancosmic

Aldnoah Zero by Gen Urobochi

Enjoy!

Chapter 7 : School duty

Satu hari hampir berlalu dengan keanehan-keanehan pada diri Kaizuka Inaho. Apabila dihitung, Slaine tidak tahu berapa kali ia mengernyitkan dahi saat melihat tingkah tak biasa dari Inaho Kaizuka. Terkadang pemuda itu sejenius Einstein, tapi ada kalanya ia lebih buta arah dari salah satu karakter di anime sebelah. Slaine tidak tahu lagi kata apa yang tepat untuk mengggambarkan pemuda bermanik merah itu.

Ia tengah mengeluarkan ponsel yang dibawanya di tas untuk mengecek pesan yang masuk. Dahinya mengernyit saat melihat baterainya sudah hampir habis. Seharusnya ia mengisi dayanya sebelum pulang tadi.

"Troyard," panggil teman sekelasnya yang selalu berada di dekat Kaizuka Inaho. Pemuda berambut cepak yang tidak begitu menonjol itu mendekatinya yang tengah memegangi ponsel sembari membawa sebuah buku. Ia meletakkan buku tersebut di hadapan Slaine dan berkata, "Mulai hari ini kau akan dilibatkan dalam piket kelas."

Slaine mengulangi ucapannya sambil mengernyitkan dahi. "Piket?"

"Ya, kau akan ikut membersihkan kelas dan mengisi agenda," jawab Calm. Pandangan pemuda itu pun terarah pada bangku belakang Slaine, tempat Inaho tengah duduk sambil mengamati keduanya. "Dan ngomong-ngomong, Miss Mizusaki memasangkanmu dengan Inaho."

"Ap –" Slaine menutup mulutnya sendiri sebelum ia meluapkan sejumlah protes pada Calm. Ini tidak adil. Kenapa ia selalu dipasangkan dengan Kaizuka Inaho? Apakah tidak ada orang lain yang dapat dipasangkan dengannya? Kenapa mulai dari bangku, kerja kelompok dan bahkan piket pun ia sekelompok dengan Kaizuka Inaho?

"Oke?" tanya Calm tak peduli apa pun jawaban Slaine. "Kalau begitu, aku permisi dulu."

"T-tunggu sebentar, Calm!" Slaine bangkit berdiri, berusaha mencegah Calm yang hampir berlalu. Ia menunjuk Inaho dan berkata, "Orang ini—maksudku, Kaizuka Inaho – dia sepertinya sedang tidak sehat. Mungkin ada orang lain yang bisa menggantikannya?"

Calm memutar bola mata. Pandangannya terarah pada Slaine, sebelum beralih pada Inaho. Ia mengernyitkan dahi saat melihat pemuda itu. Jujur saja, ia tidak dapat melihat perbedaannya. Baginya, Inaho saat ini sama saja dengan Inaho yang biasa. Apa benar pemuda itu sedang tidak sehat?

"Aku mau saja membantu," jawab Calm seraya kembali mendekat. Ia menghampiri Inaho dan menepuk bahunya pelan. "Ada apa, Kawan? Kau sedang tidak enak badan?"

"Tidak apa-apa, Calm," balas Inaho dengan datar seperti biasa. "Kau pulang saja. Aku dan Slaine akan mengerjakannya."

"Hei!"

"Senang mendengarnya," ucap Calm sambil tertawa. Ia menepuk punggung Inaho sekali dan beranjak mengambil tas. Ia sempat berbalik dan melambai pada keduanya sebelum keluar kelas, meninggalkan Slaine yang memandangi buku dan ruangan kelasnya.

"Great!" gerutu Slaine sembari melemparkan buku yang dipegangnya. "Apa mereka pikir membersihkan kelas dapat dilakukan dua orang saja? Lagipula kenapa mereka tidak menyewa tenaga pembersih saja dan malah membebankan tugas semacam itu pada murid? Benar-benar penghematan yang keterlaluan!"

Inaho tidak menjawab. Pemuda satu itu meninggalkan bangku dan mulai menyingsingkan lengan baju. Tanpa banyak bicara, ia mulai menggeser meja dan merapatkannya hingga ke pojok ruangan. Ia sudah mengangkut beberapa buah ketika pandangannya tertuju pada Slaine yang hanya mematung memandanginya.

"Kau tidak mau membantu?"

Walaupun masih menggerutu, Slaine terpaksa bangkit berdiri. Sembari mengomel, pemuda itu mengeluarkan charger dan memasangkannya pada salah satu stop kontak terdekat yang dapat ia temukan. Baru setelahnya ia mengikuti contoh yang diberikan Inaho. Sembari menyingsingkan lengan sweater, pemuda berambut perak platina itu berjalan ke salah satu meja terdekat dan mendorongnya ke belakang. Tentunya tenaga tidak pernah menjadi masalah untuknya. Pemuda yang tampak lemah itu dapat dengan leluasa mengangkat dua tumpuk meja hingga ke sudut ruangan tanpa bantuan siapa pun.

"Kupikir kau ingin dibantu mengangkat meja," komentar Inaho ketika mereka berpapasan saat mengangkut meja.

"Hah," cibir Slaine, "kau pikir siapa aku? Tuan Putri?"

Inaho hendak mengiyakan namun saat ini ia tidak mau berdebat. Pemuda itu beranjak mengambil meja lain yang belum ditumpuk di sudut ruangan. Mereka bekerja dengan cekatan hingga seluruh meja selesai diangkut sebelum beralih ke tugas selanjutnya. Slaine menghapus papan tulis sementara Inaho mengambil peralatan untuk membersihkan lantai.

Pemuda berambut perak itu terus saja menghapus papan tulis tanpa menyadari bahwa pemuda yang satunya tengah meninggalkannya. Kedua tangannya begitu asyik menghapus semua tulisan di papan tulis dan baru berhenti saat bertemu dengan sin, cos dan tan. Ia memandangi tulisan itu sejenak sebelum berkata, "Oi, Kaizuka, kau yakin kau tidak punya kunci jawaban untuk soal Matematika ini?"

Selama beberapa saat, keheninganlah yang menjawab pertanyaan Slaine. Setelah beberapa saat pula, pemuda berambut perak itu baru menyadari ketiadaan rekan piketnya. Perlahan, Slaine pun berbalik dan menatap ruang kosong di belakangnya.

"Kaizuka?"

Gema suaranya memantul pelan di dinding ruangan. Untuk sesaat, Slaine mengernyitkan dahi dan melangkah ke tengah ruangan. Ia tidak melihat pemuda itu meninggalkan ruangan tadi. Apa jangan-jangan pemuda itu sudah pulang?

Dengan cepat manik birunya menoleh pada salah satu meja di sudut di mana tas berwarna hitam masih tergantung di sana. Ia menghela napas lega. Itu berarti pemiliknya masih ada di suatu tempat di sekolah.

Tak mau memusingkannya, Slaine pun kembali berbalik dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Tangannya kembali berayun menghapus tulisan-tulisan di papan tulis. Untuk menemani, ia bahkan mulai menyenandungkan beberapa lagu. Walaupun menyebalkan, ia berharap Kaizuka Inaho segera kembali ke kelas.

Untunglah beberapa saat kemudian, ia mendengar pintu digeser. Di ambang pintu, Kaizuka Inaho muncul sambil membawa ember dan tongkat pel. Pandangan keduanya bertemu dan pemuda bermanik merah itu mengernyitkan dahinya.

"Kukira kau sudah mulai menyapu ruangan," ucap Inaho sambil meletakkan ember. "Apa menghapus papan tulis membutuhkan waktu selama itu?"

Di hadapannya, Slaine terdiam selama beberapa saat. Manik birunya menatap Inaho, namun tak ada suara meluncur dari bibirnya. Pemuda itu terus menatapnya hingga Inaho mengernyitkan dahi. Kali ini ia mendekati Slaine dan mengayunkan tangan di hadapan pemuda itu.

"Slaine?"

Perlahan-lahan, kelopak mata pemuda di hadapan Inaho bergetar dan manik birunya mulai terfokus pada Inaho. Bibir pemuda itu mulai bergerak, tapi sekali lagi Inaho tidak mendengar satu patah kata pun darinya. Pikir Inaho, sebaiknya ia membuat janji dengan dokter THT nanti. Siapa tahu pendengarannya yang bermasalah.

"Aneh…," gumam Slaine dengan suara pelan. "Aneh … sekali."

Inaho mengerutkan dahi. "Seharusnya aku yang bilang begitu, bukan? Caramu menghapus papan tulis benar-benar sangat lamban."

Slaine yang biasa akan menyambar ucapan Inaho dengan gerutuan. Tapi kali ini ia hanya menatap Inaho tanpa berkata-kata. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada pemuda itu.

Ia yakin kelas mereka tidak pernah mengadakan pesta kostum dan semacamnya. Kalaupun pernah, ia yang baru seminggu menempati sekolah di Jepang belum pernah berkesempatan untuk mengikuti atau menyaksikannya. Tapi anehnya ia mendapatkan gambaran Inaho dalam balutan seragam biru dengan penutup mata di sebelah kiri. Di belakang pemuda itu, ia melihat batang-batang besi berbaris rapi sementara Kaizuka Inaho mendekat padanya.

Pemuda yang mendekatinya bersarung tangan putih dan ia mengulurkan tangannya pada Slaine. Manik biru Slaine mengawasinya sementara tangan itu perlahan mendekat. Untuk sesaat ia merasa terancam dan insting pertamanya adalah melarikan diri.

Karena itu tanpa sadar ia menepis tangan itu dengan sedikit kasar. Ia tidak sadar apa yang ia lakukan hingga realita kembali menamparnya dan gambaran Inaho dalam balutan baju militer menghilang. Kali ini Inaho berseragam sekolah lah yang ia lihat.

"Slaine!"

Mulut Slaine terkunci rapat. Ia tidak tahu harus mengucapkan apa. Ia menatap Kaizuka Inaho di hadapannya. Tangan yang sebelumnya ia tepis berada tak jauh darinya. Namun ia menggelengkan kepala dan berkata, "Sebaiknya aku segera membuang sampah."

Tanpa membuang waktu, Slaine pun berbalik dan mengambil tempat sampah yang di dekat pintu masuk. Ia tidak mengucapkan apa pun lagi dan meninggalkan Inaho yang masih mematung di tempat. Satu tangannya memegangi tangan yang ditepis oleh Slaine.

Denyut di tangannya terasa menyakitkan, namun rasa sakit yang berbeda juga ia rasakan di dadanya. Begitu nyerinya hingga ia harus memejamkan mata sembari menggigit bibir. Ia pun mencoba menelan ludah walaupun tidak membuatnya lebih baik. Rasa sakit itu masih tetap ada. Berkeliaran di dada dan menggerogoti tenggorokannya hingga tak mampu bicara.

"Harus berapa kali…" ujar pemuda itu sambil menyentuhkan tangannya ke dahi. "Berapa kali kau menolakku baru kau puas, Slaine?"

Langkah kaki Slaine membuatnya tiba di tempat pembuangan sampah lebih cepat dibanding yang ia inginkan. Walaupun begitu, ini lebih baik untuknya. Ia tidak tahu bagaimana harus berhadapan dengan Kaizuka Inaho setelah kejadian tadi.

Ini semua salah gambaran yang ia terima. Gambaran itu membuatnya memvisualisasikan Kaizuka Inaho dalam wujud yang berbeda. Inaho dalam baju seragam dan ekspresi datar tidak membuatnya paranoid. Lain halnya dengan Inaho yang berseragam militer dan mengenakan penutup mata untuk menutupi sisi kirinya. Inaho yang seperti itu membuatnya sulit bernapas dan merasa tercekik.

Menggelengkan kepala, Slaine mengingatkan diri untuk tidak berpikir macam-macam. Ia pasti salah lihat sehingga ia ketakutan. Ya, pasti begitu.

Sekali lagi Slaine menggosok-gosok matanya dengan penuh semangat sebelum mengalihkan perhatian pada tempat sampah yang dipegangnya. Baru saja ia hendak membuka tutup tungku, suara langkah kaki seseorang menghentikannya. Alih-alih melanjutkan pekerjaan, pemuda itu malah membungkuk dan bersembunyi di antara semak-semak.

"Aku tidak yakin, Mizusaki," ujar suara yang tak jauh darinya diikuti dengan sosok wanita yang mengenakan jaket putih bersih khas seragam dokter jaga di sekolah. "Nao-kun jadi aneh setelah ia terkena sengatan listrik."

Mengikutinya, wanita lain berambut hitam pun menyahut, "Apa maksudmu dengan aneh, Kaizuka senior?"

Slaine dapat mendengar suara gumaman dan sang Dokter UKS berkata, "Aku…-- entahlah, bagaimana mengatakannya, tiba-tiba saja aku melihat Nao-kun dalam balutan seragam lain. Seragam itu berwarna hijau mirip pakaian selam dan ia mengenakan earphone di salah satu telinganya."

Lawan bicaranya terdengar tidak begitu tertarik, namun Kaizuka senior tidak mengindahkannya. Ia kembali berkata, "Ia seperti mengendarai benda mirip robot dan menggumamkan perintah. Padahal Nao-kun yang kukenal tidak seperti itu."

"Kau bermimpi barangkali?"

Kaizuka Yuki menggelengkan kepala sembari berkata, "Aku tidak yakin. Tapi kalau memang itu mimpi, pastilah itu mimpi yang sangat buruk."

Terdengar gumaman tidak yakin dari lawan bicaranya. "Kedengarannya tidak seperti sesuatu yang menakutkan, menurutku."

"Ya," jawab Yuki, "kalau mata kiri Inaho tidak berdarah, aku pun tidak akan menganggapnya sebagai mimpi buruk."

"Mata kirinya?"

Sang kakak mengangguk mantap. "Ya, mata kirinya. Entah mengapa."

Untuk sesaat tidak ada tanggapan dari lawan bicaranya. Miss Mizusaki baru berbicara beberapa detik kemudian. Namun apa yang ia ucapkan tidak membuat Yuki merasa lebih baik.

"Kata aneh mungkin tidak tepat," ucap Mizusaki, "tapi kuakui, aku pun melihat hal yang tidak wajar pada mata kiri Kaizuka junior. Saat di kelas, berulang kali aku melihatnya menutupi sebelah matanya dengan tangan. Kau tahu sebelah mana yang ia tutupi."

Yuki tidak menjawab, begitu juga dengan pendengar setia yang terus menguping pembicaraan keduanya. Bila kedua wanita itu tidak bercerita, Slaine pun tidak akan menyadari kejanggalan pada diri pemuda itu. Memang benar, beberapa kali ia memergoki pemuda itu menutupi sebelah matanya. Hanya, ia tidak akan mengkategorikan fenomena tersebut sebagai sesuatu yang janggal bila tidak mendengar cerita kedua wanita itu sebelumnya.

"Ada apa sebenarnya?" Mizusaki kembali berkata. "Apa jangan-jangan aku mulai tertular kebodohanmu?"

"Apa kau bilang?"

"Masalahnya, visualisasi ini tidak hanya terjadi pada satu orang saja," ujar Mizusaki lagi. "Hal yang sama pun terjadi saat aku menatap Troyard. Kau pun bilang bahwa kau melihat gambaran yang aneh saat melihatnya."

"Ah yah, yang satu itu—"

Perkataan Kaizuka Yuki terputus sebelum Slaine dapat mendengar lebih lanjut. Seseorang memanggil kedua wanita itu sehingga mereka berhenti bicara. Sepertinya rapat guru atau entah apa akan segera dimulai sehingga keduanya terpaksa menghentikan cerita mereka. Bahkan mereka berdua tergesa-gesa pergi dan meninggalkan Slaine seorang diri. Ketika kedua wanita itu sudah tak terlihat sosoknya, barulah Slaine keluar dari tempat persembunyiannya.

Beberapa orang memang pernah mengatakan bahwa mereka seringkali melihat gambaran tertentu saat bertatapan dengannya. Bahkan ia juga menggunakan kekerasan pada sebagian orang yang ngotot. Hanya, baru kali ini ia mendengar ada orang lain bernasib serupa dengannya. Bahkan, ini juga pertama kalinya ia mendapatkan visualisasi.

Tapi kalau perkataan kedua wanita dewasa itu benar, berarti hanya dirinya dan Kaizuka Inaho saja yang membuat orang lain mendapatkan visualisasi tertentu. Kalau memang demikian, apa yang membuat mereka berdua berbeda? Atau apa yang menjadi kesamaannya dengan Inaho hingga orang lain dapat melihat visualisasi?

Slaine menggerakkan kepalanya, berusaha memikirkan detail apa yang terlewat dari ingatannya. Ia pun tersentak ketika teringat ucapan sang Dokter. Kalau tidak salah Kaizuka Yuki mengatakan setelah pemuda itu tersengat arus listriklah baru gambaran itu muncul.

Kalau benar begitu, apakah artinya setiap orang yang terkena sengatan listrik akan membuat orang lain mendapat visualisasi tentang dirinya? Apakah itu berarti sebelumnya ia terkena sengatan listrik? Tapi ia tidak ingat bahwa sebelumnya ia terkena—

Ah, ya. Ingatannya dicuri seseorang. Jangan-jangan orang itu menyetrumnya dengan listrik lalu membuatnya hilang ingatan? Kalau begitu, apa tujuan orang yang mencuri ingatannya itu menyetrumnya dengan arus listrik?

Menghela napas, Slaine pun menggelengkan kepala. Ia malah semakin bingung dengan teori yang ia buat. Walaupun sudah mendapatkan titik terang, tetap saja tidak ada pemecahan untuk mengembalikan ingatannya. Ternyata memang tidak semudah itu.

Tanpa banyak membuang waktu, Slaine pun memutuskan untuk membuang sampah secepatnya. Sebaiknya ia segera kembali, apalagi ia meninggalkan pemuda itu seenaknya. Ia tidak mau membuat pemuda itu berkomentar yang tidak perlu karena kejadian tadi.

Sembari berjalan ke kelas, Slaine berulang kali mengingatkan dirinya untuk bersikap biasa dan tidak bertingkah yang tidak wajar. Ini semua hanya mimpi. Ini semua tidak nyata. Ia harus meminta maaf pada Kaizuka Inaho nanti. Pemuda itu sempat terkejut saat ia menepis tangannya, pastilah sikapnya betul-betul kurang ajar untuk seorang murid baru.

Sayangnya, langkah kaki membawa Slaine lebih cepat dari dugaan. Ia lebih dulu tiba di depan kelas sebelum pikirannya tertata dengan baik. Ia pun tidak punya pilihan selain menghela napas dan menggeser pintu. Manik birunya tertuju pada lantai dan meletakkan tempat sampah di samping sebelum masuk ke dalam ruangan.

Ia tidak mendengar ada suara, namun ia yakin Kaizuka Inaho ada di dalam kelas. Perlahan-lahan, Slaine mengangkat kepala dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Manik birunya mencari-cari pemuda itu dan sedikit terkejut saat ia menemukannya.

"Kaizuka!"

Untuk kesekian kalinya hari ini, pemuda berambut dark brown itu terbaring dengan posisi menubruk lantai. Ini kesekian kalinya pula Slaine berlari menghampirinya dengan ekspresi panik. Ia baru saja hendak mendekat ketika menyadari genangan air yang berada di sekitar pemuda itu. Dahinya mengernyit melihat genangan tersebut terlebih ketika saat menyadari ada sebuah kabel charger yang tidak tersambung ke ponsel tercelup ke dalam genangan dengan posisi masih terhubung dengan stop kontak. Ponselnya sendiri terpisah dan berada beberapa sentimeter di atas genangan air yang sama.

"Astaga," gumamnya seraya mendekat pada stop kontak, berhati-hati agar tidak menginjak genangan air. Dengan satu tangan, ia menarik kepala kabel dan mencabutnya dari stop kontak. "Mati aku! Kaizuka Yuki pasti akan membunuhku sekarang!"

Dengan hati-hati Slaine memindahkan kabel charger itu ke salah satu meja. Sementara itu ia menghampiri Kaizuka Inaho yang terjatuh di atas genangan air. Ia mengambil tongkat sapu dan menggunakannya untuk menyentuh tubuh pemuda yang terbaring. Awalnya hanya sentuhan pelan, namun begitu menyadari tidak ada dampaknya bagi dirinya, ia pun menyentuhkan permukaannya sedikit lebih keras.

"Oi, Kaizuka! Kau dengar aku?"

Awalnya tidak ada jawaban sehingga Slaine menggerakkan gagang sapu dengan lebih keras. "Kaizuka! Oi! Sadarlah! Kaizuka!"

Berkat sentuhan gagang sapu dan seruan panik Slaine, tak lama kemudian pemuda berambut dark brown pun bereaksi. Kelopak matanya bergetar singkat sebelum perlahan-lahan terangkat. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum berkata, "Ng…"

"Kaizuka?"

Mendengar namanya dipanggil, pemuda itu pun menggerakkan kepalanya dan menatap si pemuda berambut perak. Ia mengernyitkan dahinya sesaat. Ekspresi wajahnya menunjukkan keheranan yang tidak dipahami Slaine.

"Oi, Kaizuka?" Slaine berkata sambil mendekat, "Kau baik-baik saja?"

Kaizuka Inaho tidak langsung menjawab. Ia terus menatap Slaine sebelum akhirnya ia berkata, "Slaine…?"

"Ya?" Slaine menjawab, sedikit lega. Setidaknya otak pemuda ini baik-baik saja. "Ada apa? Kau butuh sesuatu?"

"Kau baik-baik saja?" tanya Inaho sambil menyipitkan manik merahnya. "Bukankah…kau sedang dirawat tadi?"

Kerutan dahi Slaine semakin dalam sementara ia menanggapi dengan bingung. Mengigau apalagi pemuda ini?

"Bukankah… kau seharusnya terbaring di ranjang?"

Slaine terdiam. Ia menelan ludah. Dalam hati ia berdoa untuk keselamatan nyawanya. Sementara otaknya berputar mencari alasan.

Sebaiknya ia punya alasan bagus untuk menjelaskan kondisi Kaizuka Inaho pada Kaizuka Yuki.

.

.

.

(t.bc)

.

.

.

A/N:Holla All! Apa kabar? Cyan di sini XDSebelumnya, harus saya akui, saya kelamaan istirahatnya. So far, selama hampir beberapa bulan ini, saya kena wb yang biasanya emang dialami penulis, ditambah sedikit down karena real life jadinya double-double. Akibatnya, menulis yang biasanya hobi jadi menakutkan buat ane dan butuh waktu untuk ngatasinnya. Berkali-kali saya coba tulis draft dan berkali-kali pula saya rasa nggak pas dan nggak selesai. Pada akhirnya, saya coba tulis apa pun yang saya mau, terus coba sampe satu chapter.So, saya minta maaf apabila di penulisan ini ada sedikit yang membuat kalian nggak berkenan. No excuses memang, saya hanya bisa bilang saya akan berusaha lebih baik ke depannya.Thank you sekali lagi buat para reader, terutama untuk :

@Fujoshi-desu : hola my partner in crime. I'm back! Tau-tau dp nya uda ganti dan obvious banget. LOL. Very proud of you.

Ano, ane juga greget dong pas Inaho Letnan ama Inaho student ketemu. Tapi btw, konsep ini agak sedikit beda dari konsep yang kamu bilang. Kuncinya ada di setruman listrik sama visualisasi yang diterima orang-orang di sekitar mereka XD

Dan itu Bang Inaho Letnan emang possessive, sayangnya our little Slaine mengartikannya lain. Belom lagi, little Slaine malah kayaknya takut ama si Abang. TT

@Guest (Kuze-kah?) : LOL, iya, kalau masih kurang jelas, nanti ane coba buat lebih detail lagi, memang konsep dopplegangernya agak ngebingungin karena mencoba gabungin dua konsep yang beda. Kalau dijelasin dengan bahasa simple, teori itu bilang doppleganger itu terjadi karena otak nerima arus listrik sehingga seolah-olah merasakan keberadaan orang lain. Kurang lebih berdasarkan teori itu cerita ini berangkat. Tapi jangan dicoba di rumah ya, teori ini masih belom bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya :D

Dan btw, dedek Slaine emang perkasa. Biarpun buat Bang Letnan Our Little Slaine lebih kayak Tuan Putri. Tapi sepertinya, buat Bang Letnan, nanganin tinju Slaine cilik bukan masalah besar :P

@Amaredaz : Sippp, Amerecchi XD salam kenal juga

@Yuyu arxlnn : Holla Yuu-chan, iya seperti yang kamu bilang, si Abang uda kangen berat. Aku ngerti kalo kamu bingung, tapi sabar sedikit ya. Aku nggak berniat bikin story ini terlalu panjang, jadi supposedly dalam beberapa chapter uda mulai keliatan maksudnya Bang Letnan.

And last but not the least, thank you also for reader yang uda favorite dan review sebelumnya XD because in my darkest time, your review make me want to try writing.

If you want to talk, you can leave me a message, or just write a review. I'll try to reply asap so we could have fun fg.

Cheers,

Cyan.