Best Enemy

Kaihun Fic

Rated T

Just for fun, gaes. Tak ada unsur ingin menjelekkan.

BL. Bahasa non-Baku. Uke Sehun. Catat baik-baik. KAIHUN bukan HUNKAI.

.

Happy Reading :)


Sehun tahu, tidak seharusnya dia sebegini marahnya pada Jung Soojung. Karena bahkan perempuan itu tidiak mengganggunya sama sekali.

Tapi, Sehun tak dapat menyangkalnya bahwa ia marah dan kesalㅡjuga jijay pada perempuan itu. Ingin sekali dia menjauhkan cewek centil dan sombong itu dari sisi Jongin.

Cukup sudah ia melihat kecentilan perempuan itu kemarin setelah mereka turun dari panggung, sebelum Sehun dan Jongin pulang bersama. Ia muak sekali.

Ditambah lagi dengan pemandangan pagi hari ini yang bikin eneg.

Tolong, ini hari Minggu. Ia sudah berencana untuk jogging yang rutin dilakukannya tiap minggu pagi. Dan pemandangan di depan rumah Jongin membuat moodnya untuk jogging keliling komplek rumahnya hancur total.

ㅡoh, baiklah. Sehun sekarang mengakui Soojung adalah pengganggu baginya.

.

Si Soojung itu leyeh-leyehan di pagar rumah Jongin dengan tatapan sok cantiknya. Sementara sang empu rumah berdiri di hadapannya, nampak berbicara dengan perempuan itu.

Sehun berdecih, dasar centil.

.

Sehun memilih untuk kembali masuk ke rumahnya dengan wajah tertekuk masam.

.

"Loh? Tidak jadi jogging?"

Sehun melirik ibunya yang sedang membersihkan ruang tamu.

"Tidak."

"Nah, kalau begitu bantu ibu menyirami tanaman di depan ya?"

Sehun menatap ibunya yang kini memunggunginya dengan tatapan kaget sedikit malas/?

Dia kan membatalkan joggingnya agar tidak melihat tingkah menyebalkan si centil itu. Dan sekarang ibunya menyuruhnya untuk menyirami tanaman di luar sana. Yang secara tidak langsung mengharuskan matanya memandang pemandangan yang tidak mengenakkan mata.

Luar biasa.

.

.

"Ya ampun, betah sekali sih gelayutan sama pagar buat deketin Jongin. Kasian kan pagarnya. Bisa karatan tuh pagar,"

Sehun menggerutu melihat perempuan itu yang masih bertahan dengan posisi awalnya. Sehun bahkan sudah selesai menyirami tanaman di halamannya.

.

Sehun kemudian pura-pura menyibukkan dirinya dengan tanaman di hadapannya saat Soojung mulai bangkit dari posenya tadi dan berjalan menjauh dari rumah Jonginㅡsetelah sebelumnya memberikan banyak-banyak flying kiss kepada Jongin. Serius, Sehun ingin muntah saja sekarang. Apa Jongin tidak risih melihat sifat centilnya itu? Apa kabar nanti satu bulan kedepan dia bersama Soojung?

Ck, memikirkannya saja sudah membuat kepala Sehun mumet.

Perempuan itu melewati rumah Sehun dan dihadiahi tatapan sinis dari Sehunㅡtentu saja Soojung tidak menyadarinya.

"Oy, tatapanmu itu bisa mengalahkan tatapan medusa, kau tahu."

Sehun melempar selangnya ke tanah, lalu menatap Jongin yang kini bersedekap sambil tersenyumㅡmenyeringaiㅡpadanya.

Sehun membalasnya dengan dengusan kecil,"Biar saja. Aku malah berharap punya kekuatan medusa. Biar aku bisa mengubahmu jadi batu." Kemudian Sehun memeletkan lidahnya.

"Hm? Dibandingkan dengan tatapan medusa yang mengerikan, aku lebih merasakan tanda-tanda kecemburuan disini."

Sehun memutar bola matanya jengah, kemudian mengambil kerikil kecil di dekat kakinya. Dan kemudian melemparnya pada Jongin.

"Wadooh! Sakit, Hun!"

"Cemburu dengkulmu! Memangnya aku cemburu pada siapa, hah?!"

Jongin tergelak, "Menurutmu?"

Sehun memungut selang yang tadinya ia lempar tadi. Kemudian menyalakan kran air dan menyemprotkannya pada Jongin.

Srashhh!

"Heh! Kurang asem! Gue udah mandi tau."

"HAHAHA! Biar mandi lagi, biar dekilnya luntur."

"Enak aja kalo ngomong, awasㅡyaaaa! Matiin airnya Oh-kampret-Sehun!"

"Biar seger, Jong."

"Bodo amat, gue udah mandi tau! Udah ah, gue tinggal masuk ya!"

Srashh! Srashhh!

Sehun masih menyemproti Jongin dengan air dari selang di tangannya, sementara Jongin lari kocar-kacir sambil mendumel.

Blamm!

Sehun terpingkal saat Jongin menutup pintunya dengan keras.

"Huwahaha, aduh, dasar item."

Sehun mematikan air krannya, kemudian menggulung selangnya. Setelah menyimpan selang itu ke garasi, ia masuk kedalam rumah.

.

.

.

.

Keesokan harinya…

.

"Uuuh~kasihan yang ditinggal pergi~ ujjujjujju* jangan menangis baby ku~"

"Apaan sih? Berisik."

"Halaah, jangan jaim deh Hun."

"Tau nih sok jaim banget."

"Ck, makan nih jaim!"

"Hmph!"

Mulut-mulut cerewetㅡplus komporㅡ itu akhirnya berhenti berkicau saat Sehun menyumpalinya dengan potongan buah apel yang besar.

"Beruntunglah kalian tidak kusumpali dengan pisau ini." Ujar Sehun sambil mengangkat tinggi pisaunya. Sementara dua orang lainnya hanya berjengit ngeri.

Tao dan Baekhyun bersusah payah mengunyah potongan apel yang berada di mulut mereka.

Sehun melirik mereka tajam, lalu melanjutkan pekerjaannya mengupas apel. Baekhyun tertawa dalam diam. Menggoda Sehun itu menyenangkan.

"Sehunna, temanmu datang nih."

Beriringan dengan teriakan ibunya, datang lagi satu orang manusia ke dapur rumahnya. Si ketua bantet Kim Junmyeon.

"Maaf, aku terlambat."

"Hm, tidak apa-apa"

Ngomong-ngomong, mereka ini sedang apa, sih? Pasti kalian bertanya seperti ini kan? Hohoho, mari kuberi tahu.

Sebulan sekali, di hari yang random, empat orang ini akan berkumpul di rumah salah satu dari mereka berempatㅡsekarang giliran rumah Sehunㅡdan membuat makanan untuk kemudian dijual di kantin sekolah. Terkadang mereka mendirikan stand di taman kota. Stand mereka cukup terkenal belakangan ini.

Hasil uangnya akan mereka bagi dua. Sebagian mereka bagi rata, dan sisanya lagi mereka dermakan ke panti-panti. Mulia sekali pekerjaan mereka ini. Tirulah mereka, wahai anak muda.

.

Kali ini mereka akan membuat apple pie. Rencananya, mereka akan membuat sebanyak 50 buah.

Sehun bertugas mengupas apel dan memotongnya, Baekhyun dan Tao mengolah adonan kulitnya, sedangkan Junmyeon akan membuat apel-apel tadi menjadi selai untuk bahan isian pie.

"Ngomong-ngomong, kapan Jongin berangkat, Hun?"

"Tadi pagi."

"Berapa lama?"

"Sebulan katanya."

Baekhyun tersedak biji apel.

"Uhuk, sebulan? Uhuk, Tao, berikan aku minum!"

Sehun memandang pemuda itu datar,"Santai, kali."

Junmyeon mengeluarkan barang-barang bawaanya dan menaruhnya di atas meja.

"Kelas bakalan sepi nih, gak ada suara ribut kalian." Ujar Junmyeon sambil terkekeh geli.

"Yang pastinya, Sehun bakalan uring-uringan, takut Jonginnya ditikung cewek centil itu. HAHAHA."

Tawa nista Tao menggema di penjuru dapurnya. Sementara Sehun menggenggam erat pisau di tangannya. Ingin sekali rasanya mengasah pisau ini di perut Tao yang katanya kotak-kotak.

"Jangan sampai pisau ini menancap di tubuhmu, panda."

Tawa Tao teredam menjadi ringisan pelan.

Sedetik kemudian, wajah Tao mendekati wajah Sehun sambil menaik turunkan alisnyaㅡmenggodanya.

"Ehehe, kita berdamai kan, albino? Hm? HmㅡUWAH!"

Tao menjerit dan segera menarik kembali wajahnya untuk mundur ketika Sehun menodongkan pisaunya tepat di depan wajah Tao.

"Ish, sadis sekali sih! Dasar psikopat." gerutu Tao.

Sehun tidak menggubrisnya, lalu membersihkan sampah kulit apel yang ada di meja.

"Nih, apelnya sudah dipotong semua. Adonannya sudah jadi kan?"

"Hm, tinggal mencetak adonan, memasak selainya dan memanggang."

Dapur itu menjadi lebih berisik sekarang. Junmyeon berkali-kali menegur Tao yang terus mencomoti buah apel yang akan dimasak, Baekhyun yang menumpahkan tepung diiringi omelan Sehun, dan sebagainya. Ibu Sehun bahkan harus turun tangan untuk membersihkan kekacauan dan membantu mereka agar pekerjaan lebih cepat selesai.

.

Setelah kira-kira satu jam, pertempuran mereka mengurusi adonan dan selai sudah berakhir. Pie-pie itu sudah berjajar rapi di dalam microwave.

"Ah, terimakasih eommonim. Kalau eommonim tidak membantu kami, mungkin pekerjaan kami belum selesai sampai sekarang."ujar Junmyeon sambil membungkuk sopan.

"Santai saja, Junmyeonnie. Aku kan sudah sering membantu kalian seperti ini. Tidak perlu sungkan!"

"Sekali lagi terimakasih, eommonim. Nanti akan kami berikan beberapa pie untuk eommonim, seperti biasa."

Ibu Sehun hanya tersenyum, kemudian pergi dari dapur. Menyisakan empat makhluk adam yang sedang memberesi peralatan memasak yang kotor.

"Kali ini kita membuat kue lebih sedikit daripada biasanya. Bagaimana kalau kita jual di stand saja?" saran Baekhyun sambil nyemil selai apel yang tersisa.

"Iya sih, tanggung kalau kita menjual separuhnya ke kantin. Kalau kita hanya menaruh di kantin, biasanya kurang laku." Tambah Junmyeon menyetujui saran dari Baekhyun.

"Baiklah, kita jual di stand saja." Putus Baekhyun final.

"Kalian setuju, maknae?"

"Hmmm."

.

.

.

.

Sehun memgipasi badannya dengan buku tipis. Ketiga temannya yang lain pun keadaannya tak jauh beda dengan Sehun, kegerahan.

"Ahh~panasnyaaa! Tao-ya, kenapa sih Ac nya tidak dinyalakan saja?!"

Baekhyun memekik ribut sambil mengipasi badannya. Sementara tiga orang lainnya menahan diri untuk tidak menjatuhkan Baekhyun ke jurang terdekat.

Tao mendengus,"Ac nya sudah nyala, Bacon. Kaunya saja kebanyakan dosa. Makanya Ac-nya tidak terasa."

Baekhyun mendelik,"Apa katamu?"

Tao nyengir,"Ehehe, tidak, kok. Tidak apa-apa."

Baekhyun mendengus,"Kalau begitu, turunkan lagi suhunya."

"Iya, iya. Cerewet." Tao menyahut lirih. Takut Baekhyun meledak lagi.

Mereka beristirahat di rumah Tao, omong-omong.

"Aku tak menyangka, kue buatan kita ludes tak bersisa." Gumam Sehun pelan.

Junmyeon menyahut,"Hasilnya lumayan, nih."

Sehun mengamati Junmyeon yang komat-kamit dengan tangan yang penuh dengan beberapa lembar uang.

"Nah, separuh dari uang ini yang akan kita donasikan ke panti yang biasa kita kunjungi. Lalu sisanya kita bagi sepertiga untuk modal, dan sisanya lagi untuk kita sendiri."

Junmyeon menyisihkan uangnya sesuai dengan ucapannya tadi. Lalu membagikan uangnya pada mereka bertiga juga untuk dirinya.

"Bulan depan, apa rencana kita?" tanya Tao.

Junmyeon menggeleng,"Entahlah. Nanti saja dipikirkan. Tao, aku numpang tidur ya. Capek."

"Tidur saja. Menginap sekalian tidak apa-apa."

"Uhuk, uhuk."

Tao melirik Baekhyun yang pura-pura batuk dengan sinis. Sementara Sehun memutar bola matanya.

Peperangan akan dimulai, pikir Sehun.

"Ah~dasar tukang modus."

"Apa maksudmu, Sogogi?"

"Bilang saja mau pedekate sama Junmyeon." Sahut Baekhyun dengan wajah lempeng.

"Ya! Sembarangan." Tukas Tao marah, lalu menarik Baekhyun untuk mendekat. Membisikkan sesuatu.

Sehun tidak ambil pusing dengan mereka berdua. Ia mengambil posisi tiduran di samping Junmyeon yang sudah terlelap.

"Wah, wah, wah, kau ingin menjodohkannya dengan tiang itu ha?" seru Baekhyun dengan bibir berkedut menahan tawa yang akan meledak.

Tao terkekeh,"Jangan keras-keras. Nanti dia bangun."

Ia mengalihkan atensinya pada dua temannya yang lain.

"Oy, Hun. Mau tidur juga?"

"Mungkin. Bangunkan aku jam lima, ya."

"Okay."

.

.

.

.

Sehun berlari-lari di tempat yang penuh sesak. Diseluruh penjuru ruangan itu memantulkan suara yang mengatakan pesawat keberangkatan Jepang sudah akan berangkat setengah jam lagi.

Matanya mengedar resah. Berkali-kali ia menabrak orang dan berkali-kali pula ia meminta maaf.

Hal itu terjadi berulang-ulang. Sehun merasa frustasi juga lelah. Ia hampir berbalik arah, menyerah.

Namun matanya melebar saat tiba-tiba yang dicarinya terlihat oleh matanya. Ia segera berlari kesana.

Secara tiba-tiba geraknya terhenti. Ia melihatnya berpelukan dengan seorang gadis. Kemudian Sehun bersumpah, dari sini ia bisa mendengar pembicaraan mereka.

"I love you"

Tiba-tiba Sehun merasa bumi yang dipijaknya bergoncang hebat. Ia menatap kesekeliling.

Aneh sekali. Kenapa orang-orang tetap tenang seolah bumi ini tak bergoncang?

Crakk!

Sehun menatap lantai di depannya yang perlahan membelah. Sehun panik, ia akan terseret masuk ke retakan bumi tersebut.

"Tolong! Toloong!"

Sehun menjerit sekuat tenaga. Namun tak ada yang mendengar. Ia dan retakan bumi ini seolah tidak terlihat.

"Toloongakh!"

.

.

.

"ㅡhun! Sehuun! Cepat bangun!"

"Mmh?"

Sehun membuka matanya yang masih terasa berat. Ia melihat ketiga temannya menatapnya khawatir. Sementara dirinya kebingungan.

"Kalian kenapa?"

"Harusnya kami yang bertanya seperti itu. Apa yang terjadi denganmu? Kau berkeringat, Hun."

Sehun mengernyit, benar juga. Kenapa ia merasa sangat gerah sementara Tao sudah menyetel Ac-nya pada suhu terendah?

"Kau juga berteriak-teriak dalam tidurmu. Apa kau bermimpi buruk?" tanya Junmyeon dengan wajah yang kental akan rasa khawatir.

Seketika itu, sekelebat potongan adegan dalam mimpinya tadi mampir ke otaknya.

"Aku bermimpi di telan bumi ketika ingin menghampiri Jongin di bandara."

Yang pertama kali bereaksi setelah terdiam cukup lama adalah Baekhyun.

"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Itu hanya mimpi. Oke?"

Baekhyun merangkul Sehun sembari memberikan usapan pelan di punggungnya.

Sehun menundukkan kepala, meresapi kata-kata penenang dari Baekhyun.

"Emm, hyungdeul."

"Ne?"

Sehun menatap mereka semua dengan wajah menyedihkan. Mata berkaca-kaca, hidung yang mulai memerah, serta bibir tipisnya yang melengkung ke bawah.

"Aku lapar.."

Semuanya pun sweatdrop.

Kupikir dia kenapaBaekhyun.

Kukira dia akan menangisTao

Bikin khawatir sajaJunmyeon.

.

.

.

.

Ting!

Jongin Kim

Sehun?

.

Sehun melirik ponselnya yang menampilkan pop-up notification Line dari Jongin. Ia mengambil ponselnya yang sebelumnya tergeletak pasrah di meja. Setelah mengetikkan kata sandi dan masuk ke chatroom Jongin, ia mulai mengetikkan balasan.

.

Apa

.

Belum sempat Sehun menaruh ponselnya kembali dan melanjutkan tugasnya, Jongin sudah membalas pesannya.

.

Jongin Kim

Kenapa jawabnya singkat banget?

Tanyain kek udah sampai atau belum.

.

Dasar jomblo

.

Jongin Kim

Aku melihat banyak sekali pohon sakura disini. Sebentar, aku akan mengirim foto pemandangan di sekitar hotel ini.

Jongin sent a photo.

.

Sehun tersenyum tipis saat membuka foto yang di kirimkan Jongin. Bunga khas negeri matahari tersebut baru saja mekar. Pasti menyenangkan sekali di sana.

.

Itu cantik sekali, Jongin.

.

Jongin Kim

Kau tak kalah cantik dari mereka.

.

Hey, aku laki-laki. Jangan pernah mengatakan itu padaku.

.

Sehun merengut sebal. Jantungnya jadi berdetak tidak karuan gara-gara si hitam itu.

"Tapi kan aku tampan!" seru Sehun, seolah Jongin dapat mendengar suaranya di negeri seberang.

.

Jongin Kim

Baiklah, baiklah.

.

Setelah itu, Sehun terdiam. Kebingungan untuk memberi balasan apa yang tepat. Cukup lama terdiam, tiba-tiba suatu hal melintas dikepalanya. Ia pun mengetik balasan selanjutnya.

.

Hey, Jongin.

.

Jongin Kim

Apa

.

Menurutmu, apa yang harus kulakukan pada Junhong?

.

Jongin Kim

Memangnya kalian kenapa?

.

Kau tidak pikun kan, Kim Jongin?

.

Jongin Kim

Tidak. Tapi aku lupa apa masalahmu dengan Junhong.

.

Ayolah Kim. Junhong suka sama aku. Terus aku pergi menjauhinya. Apakah begitu terus atau aku ajak dia bicara seperti biasa lagi?

.

Terdapat jeda yang cukup lama setelah tanda read muncul di samping chat balloon nya. Sekitar lima menit setelahnya, baru balasan Jongin sampai padanya.

.

Jongin Kim

Oh.

.

Jongin Kim

Terserah padamu.

.

Ck, aku kan meminta saran padamu! Aku kebingungan.

.

Jongin Kim

Tanya pada hatimu. Apa kau benar menyukainya atau tidak. Selanjutnya, terserah padamu.

.

Hm, baiklah. Terimakasih, Jongin.

.

Setelahnya, Sehun menaruh ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Ting!

Sambil menulis beberapa kalimat, Sehun melirik pop-up Line message tersebut.

.

Jongin Kim

Tumben banget, chat nya kalem. Gak ngerusuh. Kenapa?

.

Sehun mendengus, mengabaikannya untuk beberapa saat. Pekerjaan rumahnya jauh lebih penting untuk saat ini.

Tapi ujung-ujungnya, Sehun meraih ponselnya untuk membalas pesan Jongin.

.

Nggak papa kok. Trus, kapan kompetisinya dimulai?

.

Jongin Kim

Sekitar satu minggu lagi. Malam ini, kami akan berkeliling di sekitar Tokyo. Mau titip sesuatu?

.

Terserah padamu saja. Ih, enaknya bisa jalan-jalan ke Tokyo T^T

.

Jongin Kim

Baiklah. Kalau begitu, aku akan memberimu kimono wanita, eottaeyo?"

.

Idiot.

.

Jongin Kim

HAHAHAHA.

Aku bercanda. Tunggu saja hadiahku nanti ya.

.

Baiklah, Kim.

Semoga berhasil.

.

Jongin Kim

Terimakasih.

Doakan aku ya, say :*

.

Najis.

.

Jongin Kim

Sayton.

.

SIALAN! AKU AKAN MENCINCANGMU KETIKA TIBA DI SEOUL.

.

Jongin Kim sent a sticker

.

"Kurang ajar."

Sehun mendengus, namun bibirnya mengukir senyuman. Jongin mengirim stiker Cony yang memasang wajah mengejek. Ia balas mengirim stiker karakter Moon dengan latar api dengan tangan mengepal.

.

Jongin Kim

Jangan lupa makan. Nanti kau tambah kurus dan lama-kelamaan jadi fosil.

.

Berlebihan kau.

Kau juga. Jangan lupa makan.

.

Sudah ya. Aku mau mengerjakan pr dulu.

.

Jongin Kim

Baiklah. Belajar dengan benar, Ohunnie~

.

Panggilan menjijikan macam apa itu.

.

Jongin mengirim stiker Moon yang sedang tertawa berguling-guling. Sehun hanya membaca pesan tersebut lalu menaruh ponselnya. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya dengan senyuman kecil tersemat dibibir kecilnya. Lengkap dengan perasaan meletup-letup di hatinya.

.

.

.

Tbc

.

HAIIII LONG TIME NO SEEEEE

.

Ada yang masih ingat dengan ff ini? Ada yang masih ingat dengan author ini? Ada yang masih nunggu ff ini? /eh/

Maafkan diriku para readers ku tercintahhh, diriku terbelenggu dalam writers block untuk melanjutkan ff ini T.T

Mungkin chap ini tidak memuaskan keinginan kalian.

.

Jika kalian tidak ingin ff kaihun semakin sedikit, berilah review untuk ff ini.

/alahmoduskamuthor/

Oh ya, gausah panggil thor, author, admin, dan tetek bengeknya.

Kalian bisa panggil Candy, can, kendi, juga boleh. Terserah asal jangan thor. Diriku kan bukan super hero yang bawa-bawa palu segede gedung gitu(?)

.

Riteee, cukup sampai sini. Jangan lupa review yaaaaaa

.

oh iya lupa xD buat yg dah ripyu chap 6 :

Thanks to :

guest | ohiyasehun | exofujosh | ekanovia612 | widiyanthimanurung | Hamster Xiumin | Park Rinhyun-Uchiha | izzsweetcity | SkyKin9 | dialuhane | relks88 | HilmaExotics | LightByun88 | Kim Sohyun | HnxEXO | YunYuliHun | Chansoo9293 | fyodult | AwKaiHun |

.

.

19:19 WITA; edited at 23rd August.