Naruto Selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.

Ucul Note :

Nikaamkusa : Sudah kutambah di summary'y kok ^^ makasih ya..

Shita : Yeeeaaayy *ikutanjingkrak2* makasih lohh.. aduh sayanya juga manis-manis gmn gitchu kok *digeplak*

Anyva : HEEEEIIIIIII apa2an itu perdana sama dirimu huh (keluar asep dari idung) Taka dan OOR dijual terpisah, kebeneran aku dapat Takanya juga *ngomongapaini* wuah makasih semoga seneng trs sama Fic ini ^^

Shityrukoyach05 : Hehe makasih y *garuk2kepala*

Sasara Keiko : Maaf ya updatenya ngak kilat.. kebeneran minggu ini juga FIUH *lapkeringet* tapi saya ttp inget kalian makanya selalu ngusahain tepat waktu hehehe

GaemSJ : Apah?! di WC, ya keles wkwk

KuroNeko10 : Kalian kaya paduan suara donk ya, teriak bareng hahaha iay,, makasih ya doanya.. ^^ dan salam balik dari Hana ^^

Jheincheyeon : Lah emang bener tau, udah liat blom episodenya? Emang knp ngak cocok? Menurutku mah pantes aja dah huahaha...

Hanazono yuri : Udah lanjut sih tapi ngak kilat T_T

Misakiken : Eh makasih, yaelah disini mah santai aja,, ngak ada baru ngak ada lama hehehe

Gita Zahra : Hihihi ini nih terjawab di chap ini ^^

Undhott : Iya ini udah dilanjut kok ^^

Sagasar : Heyy kok suami aku yg kena jita seehhh.. kissu ada tapi nanti.. nanti klo lagi pengen bikin maksudny wkwkkwkwk hmm jgn ngebayangin suami aku trs.. nanti kamu kesemsem lagi huahaha

Fiochan51 : Hihi masih banyakan Sasusaku kok.. hmm masalh itu nanti terungkap kok antara Sasuke dan Itachi.. di baca trs aja ya ^^

Mantika Mochi : Makasih (mata berkaca-kaca) semoga selalu suka sm karyaku hehehe

Miwa Maori : Selalu diusahakan kok.. makasih suka Fic ini ^^

Luluchai10 : OOHH baru tau ^^ kayanya bagus jg tuh.. nonton ah tapi udah tamat kan? Males klo mesti on goin hahaha awas senyum2nya jgn kelamaan ^^

Eysha Cherryblossoms : Iya.. kan Hinata sama Sakura ngak mirip.., haha

Ikalutfi97 : Emang spiderman gitu? Ada radarnya? Naruhina ya.. sabar aja deh huahahaha.. sama2 loh ^^

Yoktf : Wookkeeehh dilanjuttt ^^

Kimmy ranaomi : Hehehe ya SS nya udah banyak kok.. dari chap 1 udah nonggol kan hahaha

Guest : Heheheh semua pertanyaanmu akan terjawab di chap ini loh.. silakan dibaca ^^

Ranuchiha88 : Siipp ini dilnjut loh ^^

Lhylia Kiryu : Udah dilanjut, Silakan dibaca chap ini ^^

Annisa Alzedy : Hihihi kissing ya,, nanti ada lagi kok...ditunggu aja ya ^^

Kekkkaishi : Hmmmm... hmmm... will see ya, udah disetting sih ceritanya,,, aku blom bisa bilang ^^ (Sok misterius ceritanya kwkkw)

Gue : Aku ketawa loh baca ripiu mu cius deh.. kocak aja gitu hehehe... btw itu yg punya meja minta diganti.. rusak abis kamu banting wkkwkwkw

Adreinna : Wkwkwkwk kan genre'y ada crime tar klo romance doank ngak selesai dah ceritanya ^^

Tsubaki : Halo juga ^^ eh aku juga manis kok *dilempar* hehe

PinkRamen : HEEEIIII apa2an itu istri muda Taka *kepalangebul* tidaaakkk.. istrinya Cuma aku seorang katanya hehehhe...

Ayuniejung : Tau si Saku ngeyel banget yak hehe

6934soraoi : Hehehe.. aku suka tuh cowo2 gentle...ikutan peluk hanaaaaa ^^

JF : Yak apah ^^ aku juga lucu tauuuu hehehe.. dibanding GF lebih manis disini ya.. mungkin ngetiknya aku sambil ngaca kali huahahhaa

Yuie : Wahhh kuat sekali mata kamu... iya Sasusaku dan naruhina memang ditakdirkan bertemu hehe silakan dinikmati chap ini ^^

Kaoru-chan : Iya.. kamu juga suka OOR ya? Wah aku seneng banyak yg suka.. tapi aku ingetin ya Taka Cuma punta aku (APAHH!) :v

Byun429 : Cup..cup..cup mungkin mau solo karir kali... ini loh chap 7 nya hehe semoga bisa ngebalikin semangat mu juga ^^

Yeolla Handayani : Ini lanjutannya ^^

Lisa Smile : Iya gpp kok hehe.. btw aku suka kok sm ripiu yg panjang2 hehehe.. dan ini chap 7 nya loh.. tenang,, gpp kok ^^

May : Eaa... makasih loh... ^^

Fa : Maaf lama updatenya ya huhuhu

Pinkylover : Hehehe klo skrg sih belom kali hihihi

Wowwoh geegee : Iya makasih semangatnya ini udah dilanjut ^^

Nacha : Eh kamu ^^ iya nih udah ku update loh ^^

U-know yunjae : i dont know? Huahehe .. sakuranya yg ngak mau katanya haha.. iya aku suka OOR kamu juga ya ^^

Nurulita as Lita-san : Iya ini dilanjut ^^

Haruchan : Telaaattttt! *digeplak* makasih udah mampir loh bener kok dari kedua ibunya, ibunya yg asli sm yg rawat dia. Iya, salam balik katanya ^^ kata siapa Itachi itu invicible Heroes? Kan blom ketawan disini hahaha. EEHHh aku nga pernah pny pengalaman gitu.. yg ada tiap latihan bonyok badan, klo latihannya kaya Sasusaku mah ane juga pengen huahaha.. Nikahnya sih tahun ini... huahuau klo eric martin itu abang akuh.. klo Taka udah resmi jadi suami wkwkkw

NikeLagi : Udah chter3 loh Nauto Gaiden hehe... iya silakan dinikmati chap ini ^^

AoRizuki : Wah kamu teliti dan rajin sekali, semua summary dibenerin ya sm kamu, salut deh ^^ kata Hana sih, itu gaya penulis jd ngak terlalu masalah bgt tapi makasih loh sarannya udah saya ganti tuh summary'y..

Dianarndraha : Hmm blom bisa kasih tau hehehe... dibaca trs aja ya ^^

Mariyuki Syalfa : Iya ini dilanjut ^^

Makasih selalu untuk kalian *Pelukatuatu* Makasih selalu menghargai kerja keras kami dan juga sebagai penyemangat kami ^^

*Semi collab with Hanaruppi*

.

.

Sakura berlari kencang, shinai permberian Sasuke sudah berada di tangan kanannya. Walau ia belum mahir menggunakannya namun tidak ada alat lain lagi yang bisa ia gunakan untuk melawan keempat orang itu. Kakinya terhenti tepat di ujung jalan kecil itu. Jalan kecil itu menghubungkan ke pemukiman penduduk desa yang tampak sepi karena semua sibuk untuk menyaksikan parade itu.

Kepala Sakura menoleh, berusaha mencari keberadaan keempat pria yang membawa perempuan itu. Mata hijaunya mendapati satu pintu pekarangan peternakan kuda yang terbuka lebar. Sakura memutuskan untuk mendekat ke sana. Tubuhnya menempel di bagian dinding yang terbuat dari kayu. Ia geser sedikit kepalanya hingga satu mata hijaunya berhasil melihat ke dalamnya.

Satu orang pria sedang mengikat tangan perempuan itu dan tiga pria yang lainnnya tidak tampak di mata Sakura. Sepertinya ini adalah kesempatan yang bagus. Sakura tidak perlu memusingkan ke mana tiga orang yang lainnya karena yang harus Sakura pikirkan sekarang adalah menyelamatkan perempuan itu.

Ia berjalan mengendap-endap agar sang pria tidak menyadari kehadirannya. Satu lagi keberuntungan untuk Sakura karena posisi pria itu membelakangi pintu masuk gudang. Shinai itu terangkat dan entah karena apa Sakura dapat langsung mengingat ucapan Sasuke saat mengajarinya, yang mana biasanya selalu adegan ciuman itu yang muncul.

Sekuat tenaga Sakura mengayunkan shinai-nya mengarah tepat pada kepala pria itu. Pria itu menjerit kencang, sekencang suara benturan senjata yang mengenai telak di kepalanya. Bahkan Sakura mengayunkan shinai-nya sekali lagi hingga pria itu meringkuk kesakitan.

Sakura segera mengambil belati miliknya. Ia gunakan belati itu untuk memotong tali yang mengikat tangan perempuan itu. Helaan napas penuh rasa lega meluncur dari mulut Hinata. Kedua tangannya ia gerakan saat tangannya benar-benar telah terbebas.

"Terima kasih," ucap Hinata dengan binar di kedua matanya.

"Jangan senang dulu. Kita masih belum sepenuhnya aman. Kau sanggup berlari 'kan?"

Hinata mengangguk, kemudian mengikuti perempuan merah muda itu. Mereka harus bergegas pergi sebelum tiga pria lainnya datang karena mungkin mendengar jeritan keras dari pria tadi.

Kedua wanita itu berhasil keluar dari gudang dan terus berlari hingga keluar perternakan kuda itu.

"Aku Hinata. Siapa namamu?" tanya Hinata yang mengangkat sedikit kimono-nya agar langkah kakinya bisa menyamai langkah kaki Sakura. Rambut panjangnya berkibar bebas mengikuti angin yang menerpanya.

"Aku Sakura. Hinata-san, bisakah kau berlari lebih cepat lagi?" Sakura yang memimpin di depan menangkap ketiga pria itu mulai mengejar mereka saat matanya melirik ke arah Hinata, "Mereka mulai mengejar!"

"Pakaian ini menyulitkanku, bisakah kau pinjamkan aku belatimu itu?"

Sakura langsung menyerahkan belati pemberian Sasuke pada Hinata. Perempuan itu menarik sisi kanan bawah kimono-nya, kemudian dengan belati Sakura ia sobek kain itu hingga membentuk belahan. Begitupun dengan sisi kanan dan bagian depan. Empat belahan panjang sudah tercipta, dengan begitu Hinata mampu melebarkan langkahnya.

Tangan Hinata terjulur untuk mengembalikan belati itu namun Sakura lebih memilih menarik tangan Hinata agar mengikuti langkah kakinya. Kedua wanita itu berlari cukup cepat, hanya saja keempat pria itu sudah menyusul mereka menggunakan kereta kuda yang biasa digunakan untuk pembawa jerami atau rumput.

Kayu yang berbentuk kotak besar tanpa sebuah penutup yang ditarik oleh satu kuda berwarna cokelat kini mengejar mereka. Satu pria mengendalikan laju kuda sedangkan sisanya duduk di dalam bak kayu yang telah kosong.

Sakura mendecih kesal. Keempat pria itu berhasil menyusul mereka dengan cepat. Mereka berhenti tepat di depan kedua perempuan itu, memotong jalan kabur mereka. Tiga orang pria lantas segera turun dan menghampiri mereka. Sementara satu dari mereka masih duduk memegang kemudi. Sakura melepas tangan Hinata dan segera memasang kuda-kuda siaga. Hinata yang berdiri di belakang Sakura juga mengacungkan belati pinjaman perempuan merah muda itu.

Shinai Sakura terayun dan mengenai tepat tangan pria yang berusaha menangkap mereka. Pria itu menjerit saat shinai itu mengenai kepalanya. Serangan kedua dari Sakura yang kembali mengayunkan shinai-nya.

Pria itu terjatuh dengan kedua tangan yang memegangi kepalanya. Sayangnya shinaiSakura berhasil ditangkap oleh pria yang lainnya. Dan satu pria lainnya berhasil mendaratkan tendangannya telak mengenai perut Sakura.

Sakura meringkuk dengan tangan yang akhirnya melepas shinai-nya. Matanya terpejam. Kedua tangannya kini berpindah memegangi perutnya yang teramat sakit. Nyeri, mual, rasa-rasanya Sakura ingin memuntahkan semua isi perutnya. Serangan kali ini sungguh-sungguh menyakitkan.

"Kau menendang dengan sekuat tenagamu?" tanya pria yang kini menjatuhkan shinai Sakura, "Dia perempuan," sambungnya yang menatap tak percaya pada kawannya.

"Kenapa kau lemah begitu? Dia menyusahkan dan dengan begitu dia akan diam! Tidak peduli laki-laki atau wanita, kalau orang itu menyulitkan maka sudah sepantasnya kita habisi!"

Kedua mata Hinata melebar. Belati yang ada di genggamannya bergetar karena tangannya yang juga bergetar ketakutan. Pemandangan di hadapannya membuat ia menangis.

"Sa- Sakura," panggil Hinata lemah. Bahkan seperti berbisik. Ia tak menyangka semua akan jadi seperti ini. Semua tingkah bodohnya.

Harusnya ia menuruti perkataan Naruto. Harusnya ia duduk diam di dalam keretanya. Tapi menyesali yang sudah terjadi sepertinya percuma saja. Waktu tidak akan kembali lagi. Dan tidak menyerah seharusnya adalah hal yang ia lakukan saat ini. Seperti Sakura yang datang menyelamatkannya, yang terluka demi dirinya. Ya, Hinata juga harus bisa melawan.

Kedua pria itu berjalan mendekati Hinata. Satu pria berhasil menggenggam tangannya dan menariknya. Setelah mengumpulkan keberaniannya, Hinata menusukkan belati itu sehingga tangan pria itu terlepas.

Tangannya bergetar hebat dengan kedua matanya yang kini terpejam. Hinata masih tidak percaya ia melakukannya. Ia telah menusuk seseorang! Satu hal ternekat yang pernah ia lakukan di dalam hidupnya.

Teriakan keras dari pria itu membuat kedua mata Hinata terbuka. Tetesan darah yang mengalir membuat jantung Hinata berdebar. Belati itu masih tertanam di tangan pria itu.

Sakura langsung menarik tangan Hinata yang masih terdiam. Inilah kesempatan mereka untuk kembali pergi. Berhubung pria yang tersisa malah berusaha menolong kawannya yang terluka.

"Sakura, kau tidak apa-apa?" tanya Hinata yang sudah kembali sadar. Matanya menatap cemas pada Sakura. Satu tangan Sakura masih setia memegangi perutnya. Raut kesakitan pun tercetak jelas di wajah cantiknya.

"Ini bukan saatnya mengkhawatirkanku. Setelah ini, jika kita kembali tertangkap, mereka tidak akan segan-segan lagi untuk melukai kita."

Pancaran mata Hinata berubah. Rasa takutnya semakin besar. Kepalanya menoleh ke belakang dan apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Baru beberapa langkah mereka menjauh, keempat pria itu sudah berhasil menyusul bahkan mendahului mereka. Hinata dapat melihat kemarahan terpancar jelas di wajah keempat orang itu.

Sakura menggeram kesal saat dengan terpaksa ia harus menghentikan langkah kakinya, begitu pun Hinata. Karena jalan mereka terhalangi kembali. Masih tidak ingin menyerah, Sakura berniat untuk berlari, ia sudah memutar tubuhnya dan bersiap menarik Hinata.

Namun, satu pria itu berhasil menarik Hinata dengan kuat. Tubuh Sakura terjatuh disertai pengangan tangan mereka yang terlepas. Hinata meronta, dengan sekuat tenaga ia menginjak kaki pria itu dan teriakan keras kembali terdengar.

"Kurang ajar!" Teriak pria itu marah. Pria yang sebelumnya berhasil dilukai oleh Hinata. Emosinya memuncak. Perempuan kecil ini telah melukainya lagi. Belati yang semula menancap di tangannya kini mengarah ke Hinata. Perempuan itu harus diberi pelajaran! Begitulah pikirnya.

Ujung belati itu menggores pakaian milik Sakura. Secara refleks Sakura langsung berlari melindungi Hinata. Tangan kirinya yang menarik tubuh Hinata untuk menghindari serangan itu harus menjadi korban. Belati itu menyobek pakaian hingga ke kulit tangannya. Memang lukanya tidak dalam, meski begitu cairan merah sudah mengalir mengotori pakaiannya karena lukanya yang cukup panjang.

Darahnya mengalir dan menetes melewati jari-jari tangannya.

Sosok pria berambut kuning yang sedari terus belari samar-samar melihat sekumpulan orang. Ia mempercepat gerakan kakinya kala mendengar suara jeritan dari sekumpulan orang itu. Mata birunya menyipit untuk menajamkan pemandangan di depannya.

Tak salah lagi. Dari kejauhan pun Naruto yakin bahwa perempuan itu adalah Hinata. Rahangnya mengeras ketika melihat belati itu mengarah pada Hinata. Jantungnya terpompa dengan sangat cepat seakan memacu kedua kakinya untuk berlari secepat debaran jantungnya. Mulutnya sudah terbuka, bersiap untuk menyebut nama perempuan itu. Tapi ...

"SAKURA!"

Suaranya tertelan ketika mendengar teriakan kencang di belakangnya. Dari ekor matanya, Naruto melihat sosok pria ikut berlari ke arah yang sama dengannya. Ekspresi wajahnya tidak tertebak.

Panik. Marah. Kesal. Takut. Cemas. Semuanya bersatu. Tatapannya begitu mengerikan, seakan siap membunuh siapapun yang menghalangi jalannya. Apa itu karena perempuan merah muda itu?

Karena tepat saat sosok merah muda itu menyelamatkan Hinata, suara itu juga terlontar kencang.

Sebuah suara membuat keempat orang itu serempak menoleh ke asal suara diikuti kedua perempuan itu. Mata Sakura melebar karena tanpa perlu melihat pun ia tahu siapa pemilik suara itu. Di tengah-tengah rasa perih yang ia rasakan, sebuah senyuman mengembang di wajahnya. Di tengah-tengah rasa takutnya, ada perasaan senang saat tahu Sasuke datang menolongnya untuk yang kesekian kali.

"SA— Mmpphh!" Satu pria itu menutup mulut Sakura saat sadar bahwa laki-laki itu memanggil nama perempuan itu. Tak berbeda dengan Hinata. Mulutnya juga sudah dibekap kencang.

Kedua laki-laki yang memegangi mereka langsung mengangkat tubuh kedua perempuan dan membawanya menaiki kereta itu. Pria yang masih memegang belati itu menatap heran salah satu kawannya, "Mengapa perempuan ini kau bawa juga?"

"Aku terlalu panik!" ucapnya sedikit kaget karena ia baru menyadari akan kebodohannya.

"Sudahlah. Yang terpenting sekarang kita harus pergi sebelum mereka berhasil mengejar!" teriak pria yang memegang kendali kendaraan mereka sekarang.

Pria yang masih memegangi belati itu hanya bisa diam. Ia menyetujui perkataan rekannya. Kedua matanya kini berpindah menatap kedua wanita berbeda warna rambut itu.

Pria itu berjongkok menyamai posisi kedua wanita yang duduk bersebelahan dengan mulut yang masih terkunci. Diarahkannya belati itu ke depan wajah Hinata, "Sekali lagi kau melukaiku, aku tidak akan main-main lagi! Dan kau ..." Ujung belati itu berpindah ke depan mata hijau Sakura. Pria itu terdiam sejenak sembari menyeringai. Ujung pisau itu kemudian menempel di pipi kanan Sakura dan mulai bergerak turun. Merambat pelan melewati dagu, leher dan semakin turun.

Mata Sakura melebar dan ia memberontak. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya hingga membuat pria itu tertawa kencang, "Setelah ini, kau akan berurusan denganku."

"Apa aku juga boleh?" tanya pria yang menutup mulut Sakura diiringi tawa kecilnya.

Pria itu bangkit dan menganggukkan kepalanya mantap. "Kalian bebas menggunakannya setelahku."

Kedua mata perempuan itu melebar dan secara bersamaan mereka saling menatap. Hinata berharap lewat permintaan maafnya dapat tersampaikan. Sungguh, ia tidak ingin hal itu sampai terjadi. Kedua matanya kini terpejam. Ini karena dirinya, karenanya Sakura harus mengalami nasib seperti itu.

Sesaat setelah suara kencang itu terdengar, samar-samar ia melihat sosok Naruto. Tidak salah lagi. Itu pasti benar Naruto, "Kumohon, tolong aku, Naruto!" pintanya dalam hati. "Tolong selamatkan kami."

Tak berbeda dengan Hinata. Sakura juga sudah memejamkan kedua matanya erat. Di dalam hatinya ia juga menyuarakan hal yang sama, "Kumohon, tolong aku, Sasuke!"

Saat kedua wanita itu dibawa naik ke atas kereta. Naruto segera menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh ke sekitar, mencari-cari sesuatu yang bisa mempercepat pengejarannya. Ia sadar bahwa hanya dengan mengandalkan kedua kakinya ia tidak mungkin bisa menyelamatkan Hinata.

Bagai mendapatkan hujan di teriknya panas, Naruto menemukan kendaraan yang pas untuk mengejar mereka. Tapi sebelum ia berbalik menuju ke peternakan kuda yang tak jauh dari mereka. Ia mengejar Sasuke yang baru saja melewatinya.

"Hei, kau, berhenti!" teriaknya kencang, namun pria itu sama sekali tidak menggubrisnya. Pria itu terus saja mempercepat langkah kakinya. Mau tak mau Naruto menarik pakaiannya agar pria itu mau berhenti.

Tapi bukannya berhenti Sasuke malah berniat menyikut Naruto agar pegangannya terlepas. Naruto yang sigap segera mengelak, namun tak juga melepaskan pria yang kini menatap marah padanya.

"BERHENTI, BODOH! KAU TIDAK AKAN BISA MENGEJAR MEREKA!"

"KALAU KAU BERNIAT BERHENTI, LAKUKAN SAJA SENDIRI!" Sasuke masih kembali berniat melepaskan tangan Naruto.

"SIAPA YANG BERNIAT BERHENTI, BODOH!" Tangan Naruto akhirnya terlepas dan Sasuke kembali berniat untuk pergi sebelum suara Naruto akhirnya menghentikan langkah kakinya.

"Kita bisa menyusul mereka dengan kuda, itu juga kalau kau mau," ucap Naruto sambil mengangkat kecil kedua bahunya dan berbalik, "Kalau kau masih tetap ingin berlari, silahkan saja."

Sasuke mendengus kesal. Perkataan pria itu mengenainya telak. Jelas ia akan memilih mengendarai kuda daripada dengan kedua kakinya. Pasalnya sedari tadi pikirannya sudah kalut. Yang ada hanya keinginan kuat untuk menyelamatkan Sakura apapun caranya. Ia melihatnya, Sakura-nya terluka. Dan ia tidak bisa tenang begitu saja. Dalam dirinya memanas. Seakan ingin meledak.

Bergegas Sasuke menyusul Naruto yang sudah berlari menuju peternakan kuda. Naruto sempat melirik ke belakang saat mendengar derap langkah kaki pria itu. Ia menghela napas. Seandainya pria itu mudah diberitahu, mereka tidak perlu membuang-buang waktu begini. Bagi Naruto sedetik pun berharga demi Hinata. Namun saat melihat perempuan merah muda itu menyelamatkan Hinata, Naruto juga ingin melakukan hal yang sama dengannya.

Tapi Naruto paham betul, mungkin ia akan sama dengan pria itu jika melihat Hinata terluka. Ia akan sama jika melihat orang yang berharga untuknya juga terluka. Lagi pula dengan adanya tambahan orang akan mempermudah untuk menghajar keempat pria itu.

Kedua pria itu kini mengejar dengan menunggangi kuda berwarna sama. Mereka sama sekali tidak berniat untuk kompak ataupun seragam. Mereka hanya bergegas mengambil kuda yang terdekat dengan mereka yang kebetulan memiliki warna yang sama yaitu putih. Naruto berada di sebelah kanan dan Sasuke menyusul di sebelah kiri.

Keahlian mereka dalam menunggang kuda ternyata tidak bisa diremehkan. Naruto memang sudah jelas mahir karena dalam seminggu ia bisa dua sampai tiga kali berlatih menunggang kuda. Sedangkan Sasuke, bersama gurunya ia juga telah diajari cara bertarung saat menunggang kuda. Keduanya punya kemampuan yang sama.

Keduanya melesat cepat hingga berhasil melihat kereta kuda itu berada di depan mereka. Keempat pria yang menyadari bahwa ada dua orang yang mengejar mereka kini berubah panik. Berbeda dengan kedua perempuan yang menatap senang karena mereka tahu siapa sosok itu.

Kedua pria itu sudah menarik katana-nya. Tangan kiri bertugas memegang tali kekang, sedangkan tangan kanan bersiap menyerang. Hanya saja Sasuke kebalikannya. Ia lebih senang memegang pedang dengan tangan kirinya.

Tapi dengan begitu posisi mereka terlihat sempurna. Mereka terlihat mengepung dari sisi kanan dan kiri. Kedua pria itu mulai bergegas melebarkan jarak. Tanpa perlu berbicara mereka seakan sudah saling mengerti satu sama lain. Mereka mengerti, mereka akan menyerang secara bersamaan. Mereka akan mengapit kereta kuda itu.

Pria yang memegang belati itu mendecih kesal. Ia tahu pria kuning itu jelas bukan orang yang mudah untuk dikalahkan. Dia adalah Jenderal Divisi 1 yang kini bertugas menjadi pengawal Putri Hyuuga yang ditawannya. Sedangkan pria yang satunya, ia memang tidak mengenalnya, tapi dari tatapan mata pria itu—hanya dengan tatapannya mampu membuat tubuhnya bergetar ketakutan. Sepertinya ia juga bukan orang lemah.

Kedua pria yang membekap kedua wanita itu juga ketakutan setengah mati, "Bos, bagaimana?" tanya pria yang menutup mulut Sakura.

"Tentu saja kita akan melawannya!" Pria itu mulai menarik tubuh Hinata. Belati di tangannya ia arahkan di leher perempuan itu. Satu tangannya menekan leher Hinata hingga perempuan itu menyipitkan satu matanya karena tekanan di lehernya membuat ia sedikit sesak.

"Mundur! Atau aku akan melukainya!" teriak pria itu yang membuat Naruto tersentak. Ia menggeram kesal kemudian melirik pria di sampingnya, yang sepertinya tidak memedulikan ancaman barusan.

Sudah sangat jelas ancaman itu tidak berpengaruh untuk Sasuke. Ia sama sekali tidak peduli, yang ada di pikirannya hanyalah Sakura. Yang ingin ia selamatkan hanyalah Sakura. Tapi tidak dengan Naruto. Ia harus segera mengambil tindakan.

"HEI ... KITA TIDAK BISA MENYERANG BEGITU SAJA! PEREMPUAN ITU PENTING UNTUKKU!" teriak Naruto agar suaranya mampu terdengar oleh pria di sampingnya.

Sasuke menoleh, ia dapat melihat kepanikan di wajah pria itu. Menyusahkan!

"MEREKA TIDAK AKAN MUDAH MELUKAINYA, JANGAN KURANGI KECEPATANMU. KITA BUAT MEREKA SEMAKIN TERDESAK!"

Kenapa pria itu bisa begitu bodoh! Ya, Sasuke memang kesal, bagaimana bisa pria itu langsung percaya pada ancaman mereka? Tapi ia ingat, sepertinya tadi ia juga bertindak sama. Sama-sama bertindak bodoh karena panik. Setidaknya kini mereka satu sama. Jadi, Sasuke tidak merasa berutang budi padanya.

Pria itu menyadari jika mereka sama sekali tidak mengurangi kecepatan mereka. Sepertinya ancamannya hanya berupa angin lalu untuk kedua pria itu. Rahangnya mengeras, sepertinya memang butuh tindakan agar mereka mau berhenti. Ia perlahan menekan ujung belati itu hingga menggores kecil kulit Hinata dan menyebabkan cairan merah itu muncul, mengalir membasahi leher Hinata.

Tidak hanya mata Naruto yang melebar. Sakura yang berada di sana juga ikut menatap tak percaya. Apakah pria itu benar-benar akan menghabisi nyawa Hinata? Sakura tidak bisa tinggal diam.

Tangannya yang masih terbebas kini bergegas melepaskan tangan yang menutup mulutnya. Lagi pula saat ini pria itu sedikit lengah sehingga tidak menekan dengan kuat mulut Sakura. Tangan itu berhasil terlepas dan Sakura langsung menggigitnya hingga jeritan keras meluncur membuat panik pria yang lainnya. Termasuk pria yang memegang belati itu. Ia menghentikan kegiatannya dan menatap ke arah Sakura yang kini datang padanya.

Pergulatan terjadi. Sakura berusaha melepaskan tangan pria itu. Keadaan kereta menjadi ricuh hingga membuat kereta itu berguncang. Pemandangan itu membuat kedua mata Sasuke dan Naruto melebar. Bedanya ada perasaan kesal yang menyerang Sasuke.

Kenapa Sakura harus berbuat nekat seperti itu?!

Guncangan itu membuat Hinata menginjak bagian bawah kimono-nya yang tidak beraturan. Tepat di saat itu Sakura berhasil melepaskan tangan pria itu. Hinata semakin kehilangan keseimbangan, satu kakinya melangkah mundur hingga terantuk pembatas kereta. Tangannya berusaha menggapai sesuatu namun sayang tidak ada satupun yang bisa menahan tubuhnya dan akhirnya ia terjatuh. Terjatuh di sisi kiri dan tubuhnya berguling beberapa kali.

"HINATA!"

Naruto panik, namun posisinya saat ini tidak menguntungkan dirinya, terlebih Sasuke. Ia langsung menarik tali kekangnya karena jika tidak tubuh perempuan itu mungkin akan terinjak.

Sasuke menggeram kesal dan segera menatap Naruto yang mengerti maksud tatapan itu. Ia menganggukkan kepalanya dan bergegas menyusul kereta kuda itu. Ya, ia akan menyelamatkan perempuan merah muda itu.

Bersamaan dengan jatuhnya Hinata, tubuh Sakura juga menabrak keras kereta bagian belakang kemudi. Pria itu mendorong keras tubuh Sakura agar tangan perempuan itu terlepas. Ia marah. Mangsanya telah terlepas karena perempuan sialan ini!

Sakura menelan ludahnya. Ketiga pria itu kini menatap marah padanya. Jantungnya semakin berdetak tak karuan karena takut. Tapi belum sempat salah satu di antara pria itu menyerangnya. Kuda putih yang ditunggangi Naruto berhasil menyusul. Ia mulai mengayunkan pedangnya dan menyerang pria yang terdekat.

Sakura menatap heran. Mengapa pria ini yang datang menyelamatkannya? Ke mana Sasuke? Namun lamunannya terhenti kala satu teriakan kencang dari salah satu pria itu diiringi suara tubrukan yang keras. Ternyata Naruto berhasil melumpuhkan satu pria hingga pria itu tewas seketika.

Dan disusul pria yang lainnya hingga tersisa satu orang saja. Pria pengemudi juga berhasil dilumpuhkan oleh Naruto lewat pisau kecil yang ia lemparkan dan tepat mengenai kepalanya.

"Lompatlah! Aku akan menangkapmu!" teriak Naruto sembari terus menyerang.

Sakura lantas tidak langsung menuruti perintah Naruto. Ia malah mendekati pria yang masih memegang belatinya. Pria yang berhasil dilukai oleh pedang Naruto kini sedang mengerang kesakitan karena perutnya terluka. Darah segar mengalir akibat tusukan pedang itu.

Sakura mengambil kembali belati itu dan menendang kencang pria itu hingga terjatuh dari kereta. Kereta itu masih terus melaju walau sang pengemudi telah tewas. Setelah belati miliknya berhasil direbut kembali, barulah Sakura menuruti perintah Naruto. Ia mendekati Naruto yang menyamai kecepatan laju kereta. Pedangnya telah kembali ke sarungnya sehingga tangannya yang telah kosong ia julurkan pada Sakura.

Tangan itu berhasil bertaut, dengan segera Naruto menarik Sakura yang juga melompat kecil. Naruto langsung menarik tali kekangnya hingga kuda putih itu berhenti tepat saat Sakura sudah duduk di depannya dengan posisi menyamping.

Suara derap langkah kuda masih terdengar. Awalnya Naruto mengira itu adalah suara milik kereta kuda yang masih melaju, namun suara derap itu makin terdengar mendekat hingga tiba-tiba hilang.

Sasuke yang baru saja tiba langsung turun dari kudanya, meninggalkan Hinata yang masih duduk di sana kebingungan. Pria itu sama sekali tidak peduli, ia terus saja melangkah dan berdiri tepat di samping kuda Naruto dengan kedua tangan yang terlipat. Ah, tak lupa dengan tatapan matanya memancarkan kekesalan.

Naruto segera turun. Walau tatapan mata Sasuke tidak ditujukan padanya tapi tetap saja membuat ia merasa sedang berada di tempat yang salah. Sedangkan Sakura hanya menggengam erat belatinya dengan kepala yang tertunduk.

"Apa kau lupa dengan kata-kataku?" tanya Sasuke tajam.

Sakura menggeleng pelan. Matanya berusaha menghindari tatapan tajam Sasuke.

"Lalu kenapa kau pergi? Bukankah sudah kubilang untuk tidak pergi ke manapun!"

Sakura memejamkan kedua matanya saat Sasuke membentaknya. Ia tahu, di sini dirinyalah yang salah, jadi memang sudah sepantasnya ia menerima ini. Sasuke sendiri tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya. Melihat Sakura seperti ini, sungguh sangat menyakiti dirinya.

"Kenapa kau selalu saja membuatku susah?!" teriaknya lagi, namun terselip nada kekhawatiran pada ucapannya kali ini.

Naruto berdeham agak keras. Sebenarnya ia tidak ingin ikut campur urusan kedua insan ini, tapi menurutnya ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan daripada memarahi perempuan itu sekarang.

Sasuke yang sedikit merasa terusik kini menatap Naruto yang sudah menunggangi kuda putih milik Sasuke sebelumnya. Ia mendelik tidak suka pada pria kuning itu.

Naruto membalas tatapan itu datar, "Dia terluka. Setidaknya sembuhkan dulu lukanya. Ikutlah dengan kami. Kebetulan kami memiliki seorang dokter bersama kami."

Sasuke mendengus kesal. Lagi-lagi ucapan pria ini mengenainya telak. Ia memejamkan kedua matanya sesaat sebelum akhirnya ikut naik dan duduk di belakang Sakura. Kedua tangannya mulai memberi perintah agar kuda putih itu kembali berlari mengikuti Naruto yang berada di depan mereka.

Hanya suara tapak kuda yang mengiringi perjalanan mereka. Sebenarnya ditambah dengan detak jantung mereka yang kembali berdebar karena jarak mereka yang terlampau dekat.

"Kau lelah 'kan? Bersandarlah saja padaku." Suara Sasuke mengejutkan Sakura, pasalnya memang sedari tadi Sakura berusaha agar tubuhnya terus tegak dan sebisa mungkin tidak menyentuh tubuh Sasuke.

Dan yang membuat Sakura juga terkejut karena kali ini tidak ada bentakan pada ucapannya barusan. Yang ada hanya sebuah kelembutan dan ketenangan. Rasa-rasanya ada aura hangat yang kini menyentuh seluruh tubuh Sakura.

Sakura yang memang pada dasarnya merasa lelah mulai menyandarkan kepala merah mudanya di perpotongan leher dan bahu Sasuke. Entah sengaja atau tidak, Sakura merasa Sasuke menyesuaikan tubuhnya agar Sakura merasa nyaman.

Sakura bahkan bisa merasakan embusan napas Sasuke menyentuh rambut yang berada di ujung kepalanya. Mengoyang-goyang pelan rambut merah mudanya. Suasana ini membuat Sakura merasa sangat terlindungi. Ia merasa terbuai akan sikap lembut Sasuke.

"Kenapa kau selalu saja membuatku susah?!"

Tiba-tiba saja kata-kata Sasuke tadi muncul. Ya, dari awal mereka bertemu, selalu saja ia membuat pria ini kesulitan. Apa ia sudah kelewatan? Apakah ia sudah sungguh-sungguh sangat menyusahkan?

"Maafkan aku." Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Sakura. Meski begitu pelan, ada kesungguhan dan penyesalan di sana.

"Hn."

Dan hanya itu balasan dari Sasuke. Sebuah ucapan ambigu yang tidak Sakura mengerti apa artinya. Kata yang terdengar seperti memiliki banyak makna di sana. Mungkin saja pria ini masih marah padanya, begitu pikir Sakura.

"Apa aku harus mengatakannya lagi agar kau mengerti? Lain kali jangan kauulangi! Ini yang terakhir."

Kedua mata Sakura melebar. Ucapan Sasuke kembali membuat jantungnya memompa lebih cepat, ditambah lagi Sakura sempat merasakan bahwa Sasuke menyandarkan dagunya di atas kepala Sakura ketika mengucapkan kata-kata itu.

Kata-kata yang terdengar seperti bentuk perhatian bagi Sakura. Begitu lembut dan menenangkan. Kata-kata yang sangat berlawanan dengan ucapan sebelumnya.

Kenapa pria ini terlihat sangat memedulikannya? Kenapa Sasuke selalu datang menyelamatkannya? Kenapa pria ini selalu melindunginya?

Ya, ia pernah bilang alasannya. Karena ia peduli, begitulah katanya. Tapi, kenapa? Kenapa ia memedulikannya? Sebenarnya seberapa berhargakah dirinya bagi Sasuke untuk dipedulikan?

Apakah sebesar rasa yang ia miliki untuk Sasuke? Bisakah ia mengharapkan seperti itu?

Bersambung.

Curcul :

Haiiiii... ^^

Maaf kalo aku bls ripiunya singkat. Aku harus segera capcus lagi, menyelamatkan bumi dari monster laba-laba *nyengir*

Ini aja aku mkasih bgt sm Hana yng sudah ngebut untuk nge-Beta'ya yeeeayyyyy Hana kerennnn! (Maaf ya Han, aku ngerepotin huhuhu)

Sampai ketemu chap selanjutnya ya ^^ Dan selamat menikmati liburan panjang...

16-05-15

.

Ucul World [U W] – Istri Sah Taka, One Ok Rock :* -