Sasuke menyenderkan punggung tegapnya di sandaran sofa berwarna maroon di ruang keluarga Namikaze yang besar. Acara makan malam bersama keluarga calon tunangannya berlanjut ke acara karaoke bersama. Meski dirinya tidak ikut menyanyi, dia bisa melihat wajah ceria ibunya yang sangat antusias mendengarkan Naruto bernyanyi. Tak hanya ibunya maupun Itachi, ayahnya - Fugaku bahkan tak bisa menyembunyikan senyumnya kala melihat tingkah kekanakan Naruto yang mengajaknya bernyanyi bersama tanpa sungkan.
" Jujur, sudah lama sekali aku tidak melihat Naruto seceria itu."
Sasuke terkesiap saat ayah Naruto tiba-tiba bergeser tempat duduk menjadi di sebelahnya. Pria berambut pirang itu memandang putrinya dengan lembut.
" Eh? " Sasuke menoleh dengan wajah tidak mengerti. Sudah lama? Apa tidak salah? Sasuke saja menganggap senyuman Naruto lebih lebar dari gadis kebanyakan dan intensitas senyumnya bahkan melebihi intensitas orang normal.
" Anak itu, meskipun kelihatannya dia selalu tersenyum ke banyak orang, tapi sebenarnya dia sangat kesepian. Itu semenjak dia kehilangan ibunya. Makanya untuk mengusir rasa sepinya dia berusaha keras untuk terjun ke dunia hiburan seperti mendiang ibunya."
Mata onyxnya memandang Naruto yang sedang menyanyi bersama dengan Mikoto.
'Kesepian, kah?'
" Bagiku, Naruto itu seperti sebuah lilin paling terang yang menerangi hidupku setelah kepergian istriku." ujarnya disertai senyum kecil yang mengembang.
Mata biru Minato memandang lurus mata onyx Sasuke dan menepuk bahunya pelan.
"Terlepas dari kau menyukainya atau tidak, kuharap kau bisa menjaganya dengan baik.Ne, Sasuke-kun."
Geinojin To Kaichou-sama
( Artist and President Council )
NARUTO Masashi Kishimoto
Original Story by Kuroi Sora18
Pair : SasuFem!Naru
Rated : T
Genre : Romance / Drama
Warning : Fem!Naru/ typo yang merusak pemandangan/ AU!/ alur kecepetan / story amburadul/update ngaret
Summary : Masa SMPnya telah berakhir! Saat di puncak karirnya, Namikaze Naruto-artis muda berbakat itu harus vakum?! Menjalani hari-harinya di sekolah elit semacam St. Mangekyo membuatnya merana! Pertemuan gilanya dengan sang ketua dewan sekolah membuat trio anggota SFC dan seisi sekolah jadi heboh. Ada apakah?
*
*
*
Author proudly present...
Chapter 7
DUAR!!! DUAR!!!
Letupan kembang api berwarna - warni nampak menghiasi langit St. Mangekyo. Letuapan demi letupan muncul sebagai tanda dimulainya acara Festival Tahunan yang diadakan St.Mangekyo. Nampak orang dari berbagai kalangan datang ke acara ini dengan penuh suka cita.
" Uwahh~ ramai sekali." Naruto melongok dari jendela stand kafe miliknya yang terletak di dalam kelas. " Apa setiap tahun selalu seperti ini?" Naruto menoleh kearah Amaru yang sedang mempersiapkan kostumnya.
" Kudengar memang Festival St. Mangekyo selalu ramai setiap tahunnya. Tapi sepertinya tahun ini, tidak kalah ramai dengan tahun sebelumnya."
" Are." Manik biru Naruto membulat kala melihat sosok Shion berada di kerumunan orang. " Amaru-chan aku akan keluar sebentar. "
" Ehh?!! Mau kemana? Tenten bisa marah jika kau pergi lagi!" teriak Amaru.
" Tenang saja. Hanya sebentar!"
Dan Naruto pun langsung melesat pergi meninggalkan Amaru di dalam kelas.
Sementara itu di depan gerbang St. Mangekyo, sebuah mobil mewah berhenti dan membuat orang-orang sekitar berdecak kagum. Tak lama keluarlah Mikoto dengan setelan dress berwarna putih gading serta topi jeraminya. Di lehernya nampak sebuah kamera mini menggantung. Diikuti setelahnya Itachi keluar dengan pakaian santai kemeja berwarna hitam dan celana jins.
"Saa, Tachi-kun!"
" Apa Kaa-sama yakin, Sasuke tidak akan marah jika kita datang kesini?"
Mikoto berkacak pinggang menatap Itachi.
" Kita datang bukan untuk melihat anak itu! Kita kan datang untuk melihat Naru-chan memakai kostum maid? Kyaaaa~ "
Itachi hanya sweat drop melihat tingkah ajaib ibunya sendiri.
" Sayang sekali ya, ayahmu tidak ikut. Tapi tenang saja akan ku abadikan dengan kamera miliku ini. Hoho. "
" Hahaha yah, apa boleh buat kan, Tou-sama sedang sibuk bekerja. Ayo, Kaa-sama kita cari Naru-chan."
Sepasang ibu-anak itu pun berjalan memasuki area sekolah yang sudah dipenuhi oleh pengunjung. Sementara itu, Sasuke terlihat berjalan-jalan mengelilingi stand-stand makanan di area halaman utama sambil mengawasi jalannya festival. Sebagai ketua dewan dia bertanggung jawab atas kelancaran jalannya festival. Namun di sela-sela padatnya pengunjung, dia melihat sekelebat surai pirang berlari dengan kostum maidnya.
" Dobe, itu. Dia pasti berusaha kabur dari festival ini."
Saat hendak mengejar Naruto, sesorang tiba-tiba menepuk bahunya dari belakang. Sasuke pun reflek menoleh kebelakang dan terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Ohayou, Sasuke-kun." sapa Shion sembari melambaikan tangannya.
" Shion? Kenapa kau disini?" ujar Sasuke dengan ekspresi terkejut.
" Aku datang kesini untuk melihat-lihat. Bukankah festival ini terbuka untuk umum?"
" Ya, tapi kupikir kau sudah kembali ke Hokkaido."
" Apa kau sedang sibuk? Keberatan jika menemaniku berkeliling?"
Sekilas Sasuke menatap jam tangannya. Jam 9 pagi. Masih ada banyak waktu sampai acara puncak Festival berlangsung.
" Kurasa berjalan-jalan sebentar tidak apa-apa."
Keduanya pun berjalan beriringan mengelilingi stand - stand makanan maupun aksesoris yang berdiri di sepanjang jalan. Tanpa disadari, Naruto menatap mereka dari kejauhan dengan pandangan menyelidik.
" Sudah kuduga, gadis itu datang untuk bertemu dengan Teme. Arrrgh...untuk apa aku susah-susah mengejarnya jika begi-" DUK. Naruto terjatuh saat tanpa sengaja seseorang menabraknya.
" Kau, Naru-chan penyanyi pop itu kan?" seorang pria menunjuk kearahnya yang sedang mengelus pantatnya yang mendarat terlebih dahulu di tanah.
" Eh, benarkah?!" pengunjung lain nampak menyahut.
" Mana - mana?!"
"Kawaii~ Kamera mana kamera?! "
Suasana menjadi sangat heboh saat kerumunan pengunjung itu mengerubungi Naruto yang tanpa pengamanan.
" Naru-chan minta tanda tangannya!"
" Ayo kita foto bersama, Naru-chan!!"
" Arghh...jangan menarik tanganku. Sakitt!"
Naruto memekik kesakitan saat dirinya ditarik kesana kemari oleh fans-fansnya. Namun tiba-tiba sepasang tangan merengkuhnya dan membawanya menjauhi kerumunan massa. Mereka berdua berlari memasuki gedung olahraga untuk bersembunyi dari fans Naruto yang mengejar mereka.
" Kau baik-baik saja?"
Naruto melepas jaket itu dan terkejut mendapati sosok Gaara yang menolongnya.
" Gaara-senpai?!"
" Sepertinya kau baik-baik saja."
Napas Gaara tersengal-sengal memasok oksigen ke dalam paru-parunya. Dia terkekeh saat menyadari sudah terlalu lama dia tidak berlari sekencang tadi.
" Ano, arigatou. " Naruto menyerahkan jaket hitam milik senior kelas 12 itu dengan kepala tertunduk malu. Ini sudah yang kedua kalinya pemuda bersurai merah itu menolongnya.
" Kenapa kau berkeliaran dengan kostum seperti itu diluar?"
" Ah, kelasku sedang mendirikan stand kafe di kelas kami. Aku yang bertugas jadi pelayannya. Gaara-senpai tidak ikut festival?"
" Aku tidak tertarik." Gaara mengambil sebuah bola basket dari keranjang dan memasukannya ke dalam ring. Naruto hanya mengamati siswa berambut merah itu bermain basket dalam diam. Setiap kali dirinya melihat Gaara entah mengapa dia merasa jika Gaara memiliki persamaan dengan dirinya. Kesepian? Dia tidak pernah melihatnya bersama teman-temannya. Malah yang dia dengar hanya rumor buruk tentang Gaara.
" Senpai, mau jadi temanku?"
Bola basket yang hendak dilempar Gaara jatuh menggelinding di lantai.
" Apa?!"
" Mou, apa senpai tidak dengar? Kau mau jadi temanku. Aku mungkin bisa jadi teman ngobrolmu."
" Tidak, terima kasih." jawabnya singkat. Tangannya menambil bola yang menggeling tadi dan menembakannya ke dalam ring untuk kesekian kalinya.
" Kulihat kau sepertinya butuh teman untuk mengobrol."
Gaara menautkan alis. Memandang penuh tanya ke arah gadis pirang yang sedang mencoba mendribble bola basket yang dijatuhkannya.
" Apa aku terlihat seperti itu?"
" Tentu saja!" Naruto melempar bola basket itu ke arah Gaara dan dengan sigap diterima oleh empunya. " Senpai terlalu pendiam dan penyendiri. Kupikir senpai perlu seseorang untuk diajak mengobrol. Aku tidak keberatan menjadi orang itu."
" Kau - apa tidak mendengar rumor-rumor yang terdengar di sekolah ini? Jika kau berteman denganku, hidupmu akan susah."
Naruto menggembungkan pipinya -kesal. Memang dia mendengar berbagai rumor buruk tentang senpai bersurai maroon di depannya. Anak yakuza, mantan pengedar narkoba, mantan teroris, serta sederet kriminalitas lainnya. Dirinya seorang artis, tentu saja dia tidak suka hal-hal berbau gosip murahan seperti itu.
" Sampai hari ini pun hidupku sudah susah karena si Teme dan fans mengerikannya itu."
" Katakan itu pada seseorang yang dikejar oleh fansnya sendiri."
Dengusan Naruto mengudara.Dia hampir mati dikeroyok fansnya sendiri. Benar, dimana-mana fans sama mengerikannya.
" Jadi, mau mengobrol denganku?"
*
*
*
" Tidak apa-apa jika aku mengajakmu untuk berkeliling bersamaku? Kudengar kau yang jadi ketua dewannya. Pasti kau sangat sibuk."
"Hn."
Mereka berdua berkeliling mengitari area festival cukup lama.
" Sebaiknya kita mengobrol disini saja ya."
Sasuke melihat plang kelas yang tertera di atas pintu. Stand kafe milik Naruto. Mata onyxnya mengobservasi area kelas yang disulap menjadi maid kafe dan mencari sosok Naruto yang dia kira kabur dari tugasnya. Berdecak saat penyanyi berambut pirang itu ternyata belum kembali ke kelasnya.
" Ada apa? " tanya Shion disela-sela kegiatannya memilih menu.
"Iie, nandemonai."
" Kau mau pesan sesuatu?Aku - aku pesan omurice dan strawberry milk shake saja."
" Tidak. Terima kasih. Kau saja." Sasuke menyangga dagunya sambil menghela napas bosan. Shion pun menyadari raut wajah Sasuke yang terlihat bosan. Yah, siapa yang tidak bosan jika berjalan-jalan dengan orang pendiam dan culun sepertinya?
" Sasuke, sebenarnya aku datang kesini karena ada yang ingin aku sampaikan kepadamu."
Dahi Sasuke berkerut tanda penasaran. Dia cukup dibuat kaget saat Shion tiba-tiba menarik tangannya dan menggenggamnya. Sepertinya image Shion si Pemalu tidak berlaku hari ini. Nyatanya dia cukup berani dengan memegang tangannya tanpa sungkan.
" Mungkin ini terdengar tiba-tiba buatmu. Bohong jika waktu itu aku tidak menyukaimu setelah apa yang kau perbuat untukku. Aku tidak bisa memendam perasaanku terlalu lama, Sasuke. Meski aku yakin ini sudah terlambat. Kau sudah dijodohkan dengan gadis cantik dan populer seperti Namikaze-san. Namun, kau harus tahu jika perasaanku masih tetap sama seperti dulu. Aishiteruyo, Sasuke-kun."
Sasuke terdiam cukup lama. Sampai akhirnya pelayan yang mengantarkan pesanan Shion datang mengintrupsi pengakuan Shion. Sasuke buru-buru melepaskan tangannya dari Shion. Pikirannya langsung kacau hanya karena mendengar pengakuan dari gadis bermanik violet itu. Pengakuan yang dulu sangat ingin dia dengar dari gadis bermarga Tanaka itu.
Kasak kusuk di stand itu pun mulai terdengai mulai dari para pelayan hingga ke customer yang datang hingga membuat Sasuke risih.
"Nee, itukan tunangan Naru-chan yang bernama Sasuke Uchiha. Kenapa dia bersama gadis lain?"
" Mungkin selingkuhan."
" Bodoh, jangan keras-keras! Dia bisa dengar!"
Sasuke sedikit melirik ke sekitaranya yang berubah sedikit ramai dengan suara bisik-bisik dimana-mana dan Sasuke yakin jika dirinyalah yang menjadi topik perbincangan mereka.
" Shion, aku tidak berniat menyakitimu tapi-"
" Aku tahu." Shion menyela diselingi senyum kecut yang terukir di bibirnya. "Tentu saja aku tahu, mana mungkin kau menerimaku. Aku sudah menyakiti hatimu dan meninggalkanmu. Aku memang seorang pengecut. Aku selalu takut untuk menyatakan perasaanku. " Air mata nampak menggenang di sudut mata Shion. Dia mendengar semuanya. Jelas -bahkan sangat jelas. Jika dirinya memang bukanlah siapa-siapa Sasuke. "Dulu aku selalu berpikir jika gadis yatim piatu sepertiku tidak akan cocok bersamamu. Kau pintar, tampan, kaya dan populer. Jadi aku memendam perasaanku."
Shion meremat ujung roknya. Dia setengah mati bertahan untuk tidak menangis di depan Sasuke. Namun gagal. Air mata sukses menetes tanpa halangan menuruni pipi gadis itu. Dadanya terasa sangat sakit sekali.
Sementara itu di luar kelas, Naruto berdiri dengan jaket masih menutupi kepalanya. Di depannya Gaara berdiri dengan kedua tangan di masukan kedalam saku celana.
" Ano, t-terima kasih Gaara-senpai. Berkatmu aku tertolong." ujar Naruto sembari menggosok-gosok tengkuknya yang mendadak gatal.
" Tak masalah."
" I-ini jaketmu." Naruto memberikan jaket yang menurupi kepalanya kepada pemiliknya. " Aku akan kembali ke kelasku."
Naruto pun buru-buru melangkah memasuki kelasnya. Namun Gaara terheran dengan Naruto yang tiba-tiba terhenti diambang pintu. Penasaran dengan apa yang Naruto lihat, akhirnya Gaara memutuskan untuk menghampirinya.
" Ada apa? Kenapa kau-"
Mata jade Gaara terpaku kearah dua sosok di dalam sana. Shion dan Sasuke. Lalu teralih ke Naruto yang terlihat tidak terpengaruh dengan pemandangan di depannya. Bukankah Sasuke dan Naruto bertunangan? Umumnya gadis akan cemburu bila pasangannya bersama gadis lain. Namun wajah Naruto terlihat biasa saja. Apa keduanya benar-benar saling menyukai?
Naruto memasuki kelasnya dengan ekspresi tidak terbaca. Dia bahkan pura-pura tidak melihat Sasuke yang duduk bersama Shion di stand kafe kelasnya.
" Oi!"
Naruto terkaget bukan kepalang saat Sasuke malah menoleh kearahnya dan menghampirinya dengan wajah menyeramkan. Mereka pun sukses menarik perhatian banyak orang. Bahkan ada beberapa yang dengan sengaja mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel secara diam-diam. Tenten selaku ketua kelas yang berniat mengomel kepada Naruto jadi mengurungkan niatnya dan kembali melangkah mundur karena kejadian itu. Ah, dia terlalu takut berhadapan dengan seorang Uchiha Sasuke.
Merasa dirinya dipanggil, Naruto berhenti dan menoleh kearah Sasuke.
" Ada apa? "
" Dari mana saja? Kau tahu, aku melihatmu berkeliaran diluar dan tidak melakukan tugasmu dengan benar."
Naruto memutar bola matanya. Seolah bosan mendengar Sasuke yang sok menasehatinya.
" Yang tidak melakukan tugasnya dengan benar bukannya kau sendiri?" tanya Naruto skeptis. Dia melirik Shion yang masih duduk di tempatnya sambil memandang kearah mereka.
" Apa maksudmu? Aku hanya- "
Sasuke terdiam menyadari kebodohannya. Benar juga, harusnya dia berkeliling dan melihat-lihat keadaan tapi dia malah duduk enak dengan gadis yang bukan tunangannya. Sasuke benci mengakuinya, tapi wajar saja jika dia jadi bahan perbincangan orang dari tadi.
" Baiklah kali ini kau kulepaskan. Tapi bisakah aku meminta tolong kepadamu? Bawa keluar aku dari situasi ini." Sasuke berbisik di akhir kalimatnya. Membuat Naruto kembali memandang Shion yang masih terpaku kearah mereka. Dia paham maksud Sasuke sekarang.
" Aku tidak mau ikut campur. Kau sendiri yang bilang waktu itu jika-"
" Sayang!" Sasuke membekap Naruto dengan rangkulannya yang tiba-tiba. " Aku mencarimu kemana-mana." Sasuke mati-matian mengubur rasa malunya untuk saat ini.
Naruto melotot horror kearah Sasuke yang berubah total dan keluar dari sosoknya. Apa Sasuke pernah casting sebuah drama atau semacamnya? Shion yang melihat perubahan sikap Sasuke pun hanya bisa tertunduk kecewa. Dia sudah kalah total hanya dengan melihat reaksi itu. Tentu saja Sasuke lebih memilih Naruto dari pada dirinya. Namun, hatinya merasa lega karena dia sudah mengungkapkan semuanya kepada Sasuke.
Suara kursi digeser membuat dua sejoli yang sedang berakting itu mengalihkan pandangannya. Shion berjalan menuju kasir dan membayar pesanannya yang belum tersentuh sama sekali.
" Kau mengecewakannya bodoh."
Sasuke memandang Naruto tajam.Naruto sudah bersiap melindungi kepalanya jika tahu-tahu Sasuke berniat memukulnya. Namun alih-alih mendapat pukulan, tunangannya itu malah menepuk puncak kepalanya.
" Terima kasih."
" Terima kasih untuk apa? Ngomong-ngomong tidak apa-apa membiarkan pacarmu begitu?"
" Dia bukan pacarku." Sasuke melotot menakuti Naruto. Sayangnya, gadis itu terlalu tangguh untuk ditakuti pelototan orang semacam Sasuke.
" Well, setidaknya saat kau bersamaku. Setelah sandiwara ini selesai, siapa yang tahu?"
Naruto melepaskan rangkulan Sasuke dan bergabung dengan teman-teman sekelasnya.
" Kau tidak tahu jika ayahmu menyuruhku untuk menjaga orang yang sangat merepotkan seperti dirimu." ujar Sasuke menyerupai bisikan.
*
*
*
"Nande koko ni?"Sasuke terkejut bukan kepalang saat memergoki ibunya beserta Itachi sedang menghadiri festival di sekolahnya.
"Aku datang untuk melihat Naru-chan."
"Dia sedang sibuk. Lagi pula, kenapa menyuruhku datang kesini?" tanya Sasuke.
" Bukankah menyenangkan kalau kita melihat-lihat sekolah Sasuke bersama-sama? Kaa-sama, aku, kau dan juga Naru-chan." Itachi dengan senang hati menjawab pertanyaan Sasuke.
"Kalian bisa melihat-lihatnya sendiri! Tidak usah-"
"Mikoto-basan! Itachi-nii!"
Ketiga pasang mata kompak menoleh kearah gadis yang sedang berlari menuju mereka dengan kostum maidnya. Dia berhenti di depan mereka dengan napas yang terengah-engah.
" Gomenasai, aku telah membuat kalian menunggu."
"Tidak apa-apa, Sasuke juga baru sampai."
" Eh?" Manik biru Naruto memandang kearah sosok siswa bersurai raven di sampingnya.
" Kenapa kau disini?" tunjuk Naruto kearah Sasuke yang nampak menekuk wajahnya.
"Tanyakan itu kepada dua orang di depan kita.
Naruto mengikuti arah pandangan Sasuke yang menuju kearah Mikoto dan juga Itachi.
" Itachi-nii bilang, Mikoto-basan ingin melihat-lihat festival bersamaku."
" Ne, bukannya lebih menyenangkan jika kita pergi bersama?" ujar Mikoto disertai senyuman lebarnya yang terlihat sangat mencurigakan bagi Naruto dan juga Sasuke.
" Kami sedang sibuk." Sasuke memutar bola matanya -bosan. " Kami tidak ada waktu untuk bersantai-santai. Naruto, kau juga harus mengurus stand kafe milikmu kan?"
Naruto menoleh saat dia merasakan sikutan di pinggangnya. Wajah gadis itu terlihat kurang suka saat Sasuke menggunakan namanya sebagai alasan.
" Ah, itu benar." ujarnya sambil tersenyum kaku.
" Zannen desu ne?" Wajah ceria Mikoto berubah murung. Hal itu membuat Sasuke merasa tidak enak hati dengan ibunya. Lagi pula, ini akan jadi kesempatan bagus agar ibunya dan yang lainnya percaya dengan sandiwara yang mereka lakukan.
" Kalau begitu, satu atau dua jam kurasa tidak masalah."
Itachi tersenyum tipis mendengar ucapan adiknya. Memang, Sasuke tidak bisa menolak jika itu adalah permintaan sang ibu.
" Nah, kalau ramai begini kan aku jadi senang!"
Naruto melirik Sasuke yang berjalan di sampingnya dengan ekspresi kaget. Pasalnya siswa yang menjabat sebagai kaichou di sekolahnya itu tiba-tiba saja menggandengnya.
" O-oi..."
" Jangan membuat Kaa-sama dan aniki curiga."
" Tapi tidak sampai seperti ini juga?"
BLIZT!
Naruto dan Sasuke mengedip ngedipkan netra mereka masing-masing karena Mikoto baru saja memotret keduanya secara terang-terangan.
"Okaa-sama! / Mikoto-basan!"
Mikoto terkikik geli saat mendapati ekspresi Sasuke dan Naruto merona malu. Ya ampun, bahkan perutnya sampai terasa melilit karena dia menahan tawanya.
" Ini foto yang sangat manis sekali! Ne, Tachi-kun?
" Hentikan itu, Kaa-san. Lihat, mereka berdua jadi malu!"
Sepasang ibu anak itu pun akhirnya tertawa senang melihat Sasuke dan Naruto kompak memasang wajah kesalnya.
Mereka berjalan-jalan menyusuri stand-stand di area halaman depan yang semakin ramai oleh pengunjung yang datang. Sampai tak terasa mereka malah terpisah karena saking padatnya pengunjung.
*
*
*
"Doushite?"
Naruto mendongkak memandang Sasuke yang berdiri di depannya sambil mengamati sekeliling. Kepalanya menelusuri segala penjuru bak lampu mercusuar mencari sosok ibunya dan Itachi yang -entah sejak kapan sudah menghilang ditelan kerumunan pengunjung.
"Mereka tidak terlihat dimana pun."
" Lalu kita harus bagaimana? Apa kita kembali saja? Aku yakin, Tenten sedang mencariku sekarang."
Sasuke memandang Naruto yang sedang berusaha menutupi wajahnya. Di tengah keramaian seperti ini akan merepotkan jika sampai ada pengunjung yang menyadari keberadaan Naruto. Bisa-bisa insiden waktu lalu bisa terulang.
" Pakai ini!" Sasuke mencomot sebuah wig berwarna hitam dari stand cosplay disitu dan memakaikannya di kepala Naruto. "Akan merepotkan jika ada fansmu yang melihatmu berkeliaran disini."
" Aku berasa jadi seorang otaku." keluhnya begitu rambut palsu itu selesai dipakainya. "
"Jangan kebanyakan protes!"
"Ittai!" Naruto mengaduh saat Sasuke dengan teganya menjitak kepalanya yang bermahkotakan wig berwarna hitam itu.
GROWLL~
Sasuke celigukan saat tiba-tiba telinganya disambangi suara aneh. Begitu dilihatnya, Naruto sedang cengengesan sambil memegangi perutnya dengan wajah merona.
" Bagaimana jika kita makan dulu?"
Dan dengusan Sasuke pun mengudara.
Deru motor hitam nampak terdengar di sebuah taman di dekat St. Mangekyo. Seorang pria jakung berjaket hitam melepaskan helm yang dipakainya dan menampilkan surai orange kecoklatan si pemilik.
" Shion." panggilnya begitu dia melihat seorang gadis bersurai pirang tengah menunduk sendirian di bangku taman.
Shion mendongkak. Air matanya merembes jatuh menuruni pipi putihnya setelah sekian kali dia menghapusnya.
"Juugo-san?"
Pria yang disapa Juugo itu melangkah mendekati Shion yang duduk sendirian disana. Dia melepas jaket hitamnya dan memakaikannya di bahu rapuh gadis bermanik violet itu.
" Jika kau terus berada disini, kau bisa terkena flu." ujar Juugo kala melihat Shion kembali menundukan kepalanya.
" Aku kalah."
Hembusan angin sore itu membawa dedaunan kecil berterbangan ke segala penjuru taman. Hening menguasai keduanya. Dan Juugo tidak tahu harus berkomentar apa.
" Aku tidak punya harapan lagi, Juugo-san."
" Sudahlah..."
Telapak tangan besar Juugo hinggap di puncak kepala Shion dan mengelusnya. Membuat Shion merasa tenang untuk sesaat.
" Andai yang kusukai itu dirimu, Juugo-san."
Tangan Juugo merosot turun dari puncak kepala Shion. Rona merah muda terlihat samar muncul di kedua pipinya.Perasaan apa ini?
" K-kau harus cepat kembali ke apartemenmu!"
"Ha'i."
Sementara itu...
" Oi, teme belikan aku itu!"
Sasuke menoleh menatap Naruto dengan wajah kesal.
" Apa?!"
"Belikan aku okonomiyaki!"
" Hei, pakai uangmu sendiri sana!"
Naruto mendengus keras. Ia tidak habis pikir dengan kadar konsentrat kepeliatan seorang Uchiha Sasuke itu. Dan ayolah, dia hanya butuh beberapa ratus yen untuk membeli satu bungkus okonomiyaki.
" Uangku di dalam tas. Aku tidak mungkin kembali ke dalam kelas untuk mengambilnya. Lagi pula, Uchiha tidak akan bangkrut hanya karena kau membelikanku makanan itu."
Meski disertai dengusan kasar, pada akhirnya Sasuke membelikannya okonomiyaki yang diminta Naruto.
" Kau tidak beli?"tanya Naruto saat Sasuke kembali dengan sebungkus okonomiyaki di tangannya.
"Aku tidak mau memakan makanan yang mirip muntahan seperti ini." jawabnya dengan ekspresi datar.
" Tidak usah diperjelas juga kan!Kau sengaja membuat selera makanku hilang ya?"
Sasuke hanya memutar bola mata sebagai responnya. Dia berjalan menuju sebuah bangku taman yang ada disana sementara Naruto mengekor di belakangnya yang sedang sibuk menghirup aroma makanan yang pesannya.
"Oi, mau coba?"
Sasuke melirik Naruto yang menjulurkan satu sumpit okonomiyaki kearahnya.
"Tidak usah!"
"Ayolah kau pasti suka! Jarang-jarang aku bersikap baik seperti ini denganmu lho!"
Namun Sasuke masih belum menyambut uluran itu dan masih menatap makanan itu seperti menatap benda aneh yang mencurigakan.
" Aku tahu kau juga lapar. Tenang saja, aku tidak memasukan sianida atau racun tikus di dalamnya."
Akhirnya Sasuke menyambut uluran itu dengan ragu-ragu. Jujur saja jika ini pertama kalinya dia memakan makanan seperti itu. Karena lidahnya memang sudah dimanja oleh masakan koki di rumahnya. Yah, rasanya tidak buruk yang dalam kamusnya berarti cukup enak untuk dimakan. Dia sedikit tertipu dengan bentuknya yang menurutnya mirip muntahan itu.
" Bagaimana?"
"Tidak buruk."jawabnya singkat.
" Satu suapan lagi! Ayo A~"
HAP.
Satu gigitan besar membuat Naruto tertawa dan membuat Sasuke terperanggah.
"Sudah kuduga kau memang lapar, dattebayou!"
"URUSAI!"
Disisi lain, disebuah stand yang terbilang cukup ramai nampak Trio SFC sedang menjerit-jerit sedih kala di depan mereka terpampang dengan nyata kemesraan idola mereka sedang berduaan di bangku taman sambil suap-suapan!
"Kyaa~ aku benci melihatnya!"
Ino menoleh kearah Sakura yang sibuk menggigiti bantal bergambar Sasuke-jualan mereka.
"Hei, mereka mau seperti itu memangnya kita bisa apa? Seantero Jepang sudah tahu jika mereka berdua akan bertunangan sebentar lagi." sahut Ino dengan nada kesal.
"Memang mustakhil bagi kita untuk mengalahkan seorang Namikaze. Apalagi tadi Sasuke-sama terlihat sangat cute sekali. Kyaaa!"
"Berisik Karin!" Ino menggetok kepala sahabatnya dengan toa yang dipegangnya.
" Hei, lihat! Lihat!" Ino menunjuk kearah dua sejoli yang nampak terpaku dengan hadirnya orang ketiga disitu -lebih tepatnya Sasuke lah yang nampak terkejut saat Naruto tiba-tiba berseru girang saat sosok Gaara lewat di depan mereka.
"Gaara-senpai!" Naruto berdiri dan menyerahkan okonomiyaki itu kepada Sasuke. "Kau mau pergi kemana?"
Gaara melirik Sasuke yang nampak berwajah gelap saat bertemu pandang dengannya. Memang sudah jadi rahasia umum jika hubungan kedua orang itu kurang baik.
"Aku mau ke ruang musik."
"Wah! Boleh aku ikut?" tanya Naruto dengan nada antusias. Yah, dia memang tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya terhadap musik.
"Oi, Dobe! Kau lupa jika kita harus mencari Okaa-sama dan Itachi?"
Naruto menoleh dengan wajah cemberut.
"Mereka bukan bayi hilang yang harus dicari, Teme!"
Wajah Sasuke semakin gelap saat dengan sengaja Naruto menggandeng *coret* menyeret Gaara menuju ruang musik dan meninggalkan Sasuke di bangku itu sendirian.
" Apa-apaan mereka itu?!" umpatnya kesal. Dia menatap okonomiyaki dan punggung Naruto secara bergantian. " Padahal dia sama sekali belum memakan benda ini."
*
*
*
TSUZUKU
*
*
Author's note:
Doumo minna-san~ Ogenki desuka?
Saya kembali lagi! Terima kasih untuk semua review yang masuk ke kotak review saya. Kritik dan sarannya sangat saya nanti dari kalian, jangan lupa tinggalkan jejak ya... Silahkan tanyakan seputar fic saya melalui PM ya... Saya usahakan untuk membalasnya dengan cepat. Jangan lupa di Favorite, Follow, dan - Review please?
Sekian dari saya, semoga menghibur dan sampai jumpa di chapter selanjutnya!!!!
