Ohayou minna-chan #senyum kawai#plak#

Gomen ne baru updet...

Gomen juga kalau ga bisa nepatin janji yeo yo yang udah yeo yo deklarasikan di fic yeo yo yang lain "Innoncent man"(hihihi sekalian promosi)#diceburin sungai# yang bilang kalau yeo yo akan updet sabtu kemaren

Yeo yo habis uts ni ...pusing...jadinya baru sekarang updetnya...

Oke sebelum cekidot yeo yo mau balas repiu dulu

hanazono yuri : Thank repiu and semangatnya

Luca Marvell : masa segitu bikin nangisnya sih? Saya pikir saya ga asik bikin suasana romantisnya? Cupcupcup...tenang ajah saku nanti sadar kok...

Kumada Chiyu :gomen ga da itasakunya...tapi tenang aja chapter ini juga tidak ada kok #plak#. Iya sasuke punya dendam sama itachi. Makasih yah repiunya.

Shin 41 : ya ampun... ga disini... ga di innoncent man...banyak sekali yang ngefans sasusaku...makasih repiunya met membaca...

Anisha Ryuzaki : makasih repiu dan semangatnya...met membaca

Harulisnachan : hohoho ga apa-apa, banget makasih dah mau baca...aku juga mikirnya gitu...saku nyebelin...kesel aku kalo punya adek kayak gitu...wkwkwk#plak# saku ga denger waktu pein ngomong...(pein ngmong ma tembok#plak#)...makasih da mau repiu...salam kenal...

Icha :oke siap...ni udah updet...di usahain next updetnya cepet...tapi ga janji#plak# makasih repiunya

Uchiwa : hahahaha...makasih repiunya

itsuka ikabara :wah ga nyangka banyak yang suka adegan peinsakunya...kirain aku gagal jadi romantis...oke ni udah updet lagi...

naoe bia : bercanda loh hehehe...hm kayaknya aku mesti itung ulang umurnya deh...ada salah perhitungan ni...makasih udah mau nyusahin diri buwat ngecek fic ini...maksih repiu dan semangatnya...met membaca...

aoi-san : mungkin next-next yah? Aku ga mungkin ceritain semuanya dalam satu chapter. Makasih udah repiu...ni dah updet...di usahain next kilat...met membaca...

natsume : saku belum tau apa-apa, dia masih polos hehehe...tengs repiunya...

white's : kamu orang ke 1234 #plak#yang bilang adegan peinsaku itu keren...padahal awalnya aku agak ga pede...soalnya ga begitu bisa bikin adegan romantis...wkwkwk btw tengs repiu dan semangatnya...met membaca...

cheryxsasuke : salam kenal juga...wah kamu pecinta sasusaku yah...ini sakura centric...moga kamu juga suka...makasih buwat repiu dan semangatnya...met membaca yah...

me : makasih buwat repiu dan semangatnya...moga chapter ini bikin kamu seneng...met membaca...

Akiko Mi Sakura : siap...ni dah updet...tengs repiunya...

Allysum fumiko :tengs udah mau suka...pake banget lagi...hehehe...moga chapter ini kamu suka...

Febri Feven : siap...ni udah updet...makasih repiunya...

Dark Shadow : tengs repiunya...

Oke sepertinya udah ga da yang komen kalau gitu yeo yo mau langsung capcipcus aja...oke dengan ini chapter tujuh di buka...jengjengjeng...

Naruto milik Masashi Khisimoto Sensei

Monster's punya Yeo yo chan

Boleh di copy ga boleh di paste

Genre : Ga jelas, kayaknya sih banyak Actionnya, tapi di genre ffn ga ada pilihan action. Yang menang banyak sih Friendship, Hurt/Comfort, romance. Silahkan minna-chan tentuin sendiri sesuka hati.

Cast : Sakura, akatsuki, Gaara, Sasuke

Rate : T

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kalo ada kesamaan crita, plot, alur dan setting, itu hanya kebetulan semata. Tapi kalau ada kesamaan nama, tempat dan sifat itu memang disengaja wkwkwk

CHAPTER 7

THE SECRET OF ROCKY SEVEN

Sakura menghentikan kasar mobilnya di depan sebuah gedung dengan tulisan besar di atasnya. NJE. Dengan cepat ia turun dan menutup pintu mobinya. Ia tampak sangat kesal. Kalau tidak ingat itu adalah mobil kesayangannya, ia pasti juga sudah membanting kasar pintu mobilnya. Ia melangkah dengan menghentakkan kakinya.

Wajahnya yang cemberut dan auranya yang seram, membuat orang-orang yang berpapasan dengan yang tadinya kaget dan ingin menanyakan kabarnya, mengurungkan niatnya. Naruto yang mengikutinya dari belakang hanya geleng-geleng. Sama dengan yang lain, ia juga tidak berani menegur. Daripada mati konyol, begitu pikirnya.

Seorang gadis yang tadi sedang berjalan dengan dua orang lain juga tak kalah terkejut saat melihat gadis itu.

"Sakura?!" serunya sumringah sambil melambaikan tangannya. Ia berlari mendekati Sakura di ikuti oleh seorang wanita muda di belakangnya. Seorang wanita lainnya yang bersama mereka tetap diam namun tersenyum. "Darimana saja kau jidat? Kau tahu semua orang di sini mengkhawatirkanmu?" seru gadis cantik berambut pirang itu sambil memeluk Sakura. Sakura mendesah malas.

"Ceritanya panjang Pig" balasnya malas. "Lepaskan aku. Aku harus bertemu dengan CEO" Ino mendengus kemudian menjitak kepala sahabatnya itu. Sakura yang dijitak mendelik tidak terima.

"Kau ini! Tidak tahu apa kalau aku mengkhawatirkanmu! Kau hilang tanpa kabar setelah insiden itu. Siapa yang tidak khawatir! Kau tidak mengirim berita sama sekali. Dan kau tiba-tiba datang dan berkata seperti itu! Kau jahat sekali jidat!" semprot Ino marah. kristal bening mangambang di matanya. Melihat itu Sakura sedikit merasa bersalah. Ia hanya memejamkan mata sambil kembali menghela nafas.

"Maaf Ino" katanya berusaha melembutkan suaranya. Untuk sahabatnya yang cerewet ini, ia berusaha untuk menekan emosinya. Akan panjang urusannya berurusan dengan Tuan Putri yang ngambek. Begitu pikirnya. "Aku mengalami sesuatu yang panjang dua hari ini. Aku berjanji akan bercerita padamu. Tapi tidak sekarang oke? Ada yang harus aku bicarakan dengan CEO segera. Setelah itu aku akan bercerita padamu" janjinya. Ino mendengus.

"Baiklah, kumaafkan. Tapi kau harus traktir aku" balas Ino sambil nyengir. Kini giliran Sakura yang mendengus geram.

"Dasar penipu. Penjilat. Kemana air mata buayanya tadi? Kurang ajar" maki Sakura dalam hati. Ia sudah mau membantah sebelum sebuah tangan membekap mulutnya.

"Tenang saja Ino. Sakura akan mentraktir sepuas yang kau mau" kata Naruto sambil membekap mulut Sakura. sakura mendelik pada Naruto. "Ssstt Sakura. kalau kau tak ingin berurusan lebih lama dengannya, diamlah" bisiknya. Sakura hanya bisa menatap Naruto marah namun akhirnya pasrah. Ino tersenyum.

"Dan kau harus menemaniku menonton konser EXO minggu depan dan kau yang harus membayar tiketnya. Aku tidak mau yang biasa. Aku mau yang VIP" sambung Ino menyeringai. Mendengar hal itu, Sakura melotot lantas memberontak dalam bekapan Naruto. Yang benar saja. ia baru saja mengalami musibah yang membuatnya harus menguras tabungannya karena ulah seorang pirang bodoh, sekarang pirang bodoh lainnya menyuruhnya untuk mengeluarkan uang lagi untuk makan dan tiket Boyband konyol kesukaannya. Oh hell, uangnya bisa-bisa habis terkuras karena kedua pirang itu. Tapi kekuatan Naruto lebih besar darinya, ia tetap membekap Sakura sambil menyeretnya pergi.

"Tenang saja Ino. Semua bisa di atur" kata Naruto sambi menyeret Sakura. "Sampai jumpa Ino, Tenten" pamitnya pada Ino dan gadis lain di sampingnya yang adalah manager dari Ino. Ia mengedipkan matanya pada Tenten membuat gadis itu menggeram namun merona.

"Tampaknya kau baik-baik saja Sakura" kata seorang wanita lagi di belakang mereka. Kuranei. Wanita cantik nan seksi yang merupakan asisten CEO mereka itu mendekat ke arah mereka. Naruto berhenti sesaat kemudian tersenyum lebar padanya. "CEO sudah menunggu kalian" sambungnya pada Naruto. Seperti mengerti Naruto mengangguk kemudian kembali menyeret Sakura menuju lift. Ia baru melepaskan bekapannya saat berada dalam lift. Sakura yang sedang mengatur nafas menatapnya tajam membuat pemuda pirang itu keringat dingin.

"APA YANG KAU LAKUKAN BAKA?!" bentaknya sangar. Naruto merinding dibuatnya. "KAU INGIN MEMBUNUHKU HAH!" semprotnya lagi. Naruto hanya cengengesan.

"Gomen Sakura-chan. Aku hanya tidak ingin kau bertengkar lebih lama dengan Ino. Kau tidak dengar tadi Kurenai-san mengatakan CEO sudah menunggu kita?" Sakura geram mendengarnya.

"Tidak ingin aku bertengkar dengan Ino? Hah! Dengan mengiyakan permintaanya yang konyol itu?!" balasnya sarkastik. "Kau pikir aku jutawan?! Kau tidak lihat Enzoku lecet?! Kau mau membuatku jatuh miskin?" sambungnya kesal.

Oh ayolah, dia hanya seorang artis yang membiayai kuliahnya sendiri. Bagaimana bisa ia harus membelikan dua tiket VIP yang harganya pasti jutaan dimana ia juga harus membiayai perbaikan mobil kesayangannya yang lecet. Ia bukan bangsawan kaya raya seperti Naruto yang akan mendapat uang jika ia butuhkan.

Oke, ia adalah seorang Akasuna. Walau bukan bangsawan seperti keluarga Naruto tapi semua orang juga tahu, Akasuna adalah keluarga kaya raya karena mempunyai perusahaan yang sudah mendunia. Tentu saja untuk memperbaiki sebuah Enzo atau membeli dua tiket konser yang seharga jutaan bukanlah hal sulit. Jangankan dua, seribu tiket pasti akan dibelikan oleh kakaknya jika ia minta.

Tapi itu hanya akan terjadi kalau ia mempunyai hubungan yang baik dengan kakaknya. Sekali lagi, jika ia punya hubungan yang baik dengan kakaknya. Tapi astaga, jangankan punya hubungan baik. Ia saja sudah memutuskan keluar dari Akasuna dan memakai nama keluarga ibunya begitu ia sudah berhasil menjadi seorang artis tiga tahun yang lalu. Jadi jangan harap ia bisa seenaknya meminta uang pada mereka, apalagi dalam jumlah besar.

Masih erat dalam ingatannya saat Sasori mengejeknya waktu ia meminjam uang kemarin. Ukh... itu tidak akan terjadi kalau ia tidak terdesak. Dalam hati ia mengutuk kakak merahnya itu. Seumur hidup aku tidak akan meminta uang lagi padanya. Dasar pelit. Tanpa Sakura sadari, sebenarnya ia sudah salah paham pada kedua kakaknya itu. Mereka sangat menginginkan Sakura kembali pada mereka. Menginginkan Sakura berkeluh kesah pada mereka. Bahkan meminta uang pada mereka. Hanya saja Sakura yang terlalu tidak peka dan keras kepala.

"Kalau begitu, kenapa tidak kau terima saja uang dari pemuda tadi. Setidaknya itu bisa membantumu kan? Kau malah membuat semuanya tambah runyam saja" celetuk Naruto. Sakura melotot.

"Apa kau bilang?! Jadi kau lebih berpihak pada pria sombong itu! Dimana harga dirimu! Dia hanya pria sombong yang bisanya mengandalkan uang!" teriaknya marah. Naruto menghela nafas.

"Bukan begitu Sakura-chan, tidak bisakah kau berpikir dengan sedikit logis? Kau tidak lihat sekarang kau sendiri yang akhirnya susah" kata Naruto berusaha menasehati.

"Berpikir logis?! Jadi menurutmu aku tidak sedang berpikir logis?! Menurutmu aku bodoh?! Begitu?!" Salah lagi. Naruto hanya bisa menggaruk-garuk pipinya bingung. Aduh, susah bicara dengan gadis berkulit badak berkepala batu. Seperti berbicara dengan tembok saja.

"Aku tidak bilang seperti itu Sakura. Tapi kalau kau memang merasa seperti itu ya itu salahmu sendiri Sakura-chan" balas Naruto malas.

"Apa katamu baka!"

"Cukup Sakura!" tegas Naruto. Ia menatap Sakura serius. Sakura cukup terkejut melihat tatapan Naruto itu. Alisnya bertemu. "Ini bukan saatnya berdebat tentang itu" katanya lagi. Sakura terdiam. "Kau tidak dengar tadi apa kata Kurenai-san? Kita sudah di tunggu CEO. Sebaiknya kau hemat tenagamu untuk membicarakan tentang masa depanmu dengannya"

"..."

"Kau tahu kan itu juga berarti tentang masa depan Band kita?" Sakura menelan ludahnya. Agaknya kali ini ia harus mendengarkan Naruto.

"..."

"Kau tahu dari kemarin aku memikirkanmu, kami memikirkanmu? Memikirkan tentang masa depanmu? Tapi sekarang kau malah datang dengan marah-marah seperti ini. Tolong dewasalah sedikit Sakura-chan" Agak tidak suka, tapi harus Sakura akui, Naruto memang benar. Ia mendengus sambil menunduk. Jujur hatinya gelisah menunggu keputusan CEO mereka tentang dirinya. Apakah ia akan tetap di dalam band? Apakah NJE akan berjuang untuk mempertahankannya di depan hukum? Sekedar meminta dispensasi hukum bersyarat misalnya? Atau ia memang harus vakum untuk beberapa saat? Atau malah dikeluarkan dari band dan NJE akan mencari penggantinya? Ukh... memikirkan kemungkinan terakhir membuatnya merinding. Jangankan kemungkinan yang terakhir. Memikirkan untuk vakum satu tahun saja sudah membuatnya kepalanya sakit. Apalagi dikeluarkan dari band. Bisa mati berdiri. Darimana ia dapat membiayai kuliahnya? Masa ia harus menjilat ludahnya sendiri dengan merangkak di kaki kedua kakaknya? Arrrgghhh...jangan sampai itu terjadi. Apa kata dunia?

Menghela nafas frustasi, ia tidak membalas perkataan Naruto. Sedikit terlintas dibenaknya, bisa juga bocah yang biasanya idiot di depannya itu, berkata begitu dewasa seperti tadi. Pakai acara menasehatinya untuk bersikap dewasa segala. Sakura melirik Naruto yang sedang menatapnya serius. Mungkin kali ini ia yang harus mengalah. Sebodoh-bodohnya Naruto, ia sudah ditunjuk CEO untuk menjadi Leader bandnya. Yah walaupun Sakura sempat protes karena menurutnya hal itu merupakan tindakan nepotisme. Bagaimana tidak, CEO NJE adalah kakek dari Naruto, Namikaze Jiraiya. Tentu saja Sakura tidak terima karena merasa Jiraiya pilih kasih. Dengan alasan itulah Sakura sering sekali membantah keputusan Naruto bahkan sering memaksakan keputusannya kalau saja Sai tidak menengahi mereka. Berterimakasihlah pada Kurenai yang mengusulkan formasi band di awal debut mereka dengan menaruh pemuda seperti Sai diantara mereka. Kalau tidak band ini tidak akan jalan.

Tapi untuk situasi genting seperti saat ini nampaknya Sakura harus menghormati Naruto sebagai Leader kalau ia ingin tetap bertahan dalam bandnya. Setidaknya ia patuh untuk menahan sedikit emosinya, mungkin tidak ada salahnya juga.

Melihat wajah serius Naruto membuat Sakura mau tak mau sedikit merubah pandangannya tentang pemuda itu. Agak terkesima memang dan sedikit kagum, ekspresi itu membuatnya bungkam dan tenggelam dalam intimidasinya.

Sakura tetap menunduk saat merasa ponselnya bergetar. Merasa hawa Naruto yang masih menatapnya serius membuatnya tidak sadar kalau ponsel yang ada di genggamannya adalah milik Naruto.

"Hallo Naruto-kun... kau tidak lupa janji kita kan? Kau jadi menjemputku nanti? Apa kau masih membawa mobil seksi yang kemarin? Gadis pemilik mobil itu yang kau bilang menyebalkan belum kembali kan? aku harap harapanmu supaya dia tidak cepat kembali terkabul. Dengan begitu kita bisa bebas bersenang-senang dengan mobilnya...hihihi" cerocos sang penelepon sebelum Sakura sempat menyapanya. Seketika aura Sakura berubah menjadi gelap. Ia menoleh pelan kearah Naruto dengan tatapan membunuh. Hancur sudah pandangan terkesima dan kagum atas kata-kata Naruto tadi.

Naruto yang melihat tatapan membunuh Sakura dan hawa mengerikan disekitarnya mau tak mau menelan ludahnya. Ekspresi seriusnya hilang entah kemana berganti ekspresi bodohnya.

"A...ada apa Sakura-chan?" tanyanya grogi.

"Naruto-kun?"

"NARUTO!"

"Arrrrghhhhhh...ittai Sakura-chan! Kenapa kau... arrrrrghhhh!". Dan selanjutnya bisa dibayang betapa ganasnya kemarahan Sakura.

M.O.N.S.T.E.R.S

"Kreekk"

Gaara meremas geram remote di tangannya sampai menghasilkan bunyi remuk pada benda itu. Nafasnya memburu. Kini di hadapannya terpampang sebuah TV yang sedang menayangkan sebuah acara konser musik rock. Yah Gaara sedang menonton konser musik rock band dimana Sakura bernaung. Sejak pertemuannya kemarin dengan Sakura, ia meminta pelayannya untuk membeli semua DVD band Sakura.

Dan semuanya yang dilihat membuatnya geram. Semuanya. Yah semuanya. Bukan karena musik yang di dengarnya. Tapi pemandangan konstum yang dipakai Sakura yang serba mini. Kalau bukan hotpant mini, pasti rok mini. Masih berbekas diingatannya bagaimana kostum yang dipakai Sakura saat mereka bertemu pertama kali. Walau baju terusan itu tidak dapat dikatakan mini, tapi tetap bagian atasnya sangat terbuka hanya menutup dada sampai lutut. Pantas saja, Sakura tidak merasa risih waktu ia memakai hotpant dan kemeja kebesaran saat pertemuan terakhir mereka, sepertinya ia sudah terbiasa. Dan itu membuat Gaara benar-benar marah.

Darahnya semakin mendidih saat melihat kedekatan Sakura dengan dua pemuda lain yang juga merupakan bagian dari band itu dan pandangan memuja dari para fans yang kebanyakan remaja berjenis kelamin laki-laki. Sungguh ingin rasanya ia melenyapkan semua pria itu

Dan puncak dari kesabarannya adalah saat ia melihat adegan Sakura yang dipeluk dari belakang oleh salah satu pemuda berambut hitam, anggota band tersebut, dengan pose seksi yang sepertinya memang di sengaja olehnya. Dan parahnya Sakura seperti membiarkan aksi pria tersebut. Seketika digebraknya meja didepannya hingga hancur. Asap menguar dari tubuhnya. Ia terengah. Matanya menyala nyalang. Kuku jarinya mulai memanjang. Gigi taringnya memanjang membuat mulutnya terbuka karena tak dapat menampung gigi itu dalam mulutnya. Dan hal itu membuat mau tak mau air liurnya menetes turun ke lantai. Tubuhnya yang mulai bermutasi membesar membuatnya sontak menggeram.

"Grrrrrrghhhh aaaarrrrrggggghhhh!" raungnya marah. ia bermutasi sepenuhnya dalam wujud serigala. Wajahnya sudah tidak menampakkan wajah Gaara sama sekali. Sepenuhnya berwujud serigala yang besarnya melebihi serigala normal. Dengan penuh amarah, ia menghancurkan semua benda yang ada di ruangan itu. Sedikit melirik ke arah pintu, saat ia mendengar suara pintu yang dibuka kasar.

Temari membelalak saat melihat wujud Gaara saat ini. Saat mendengar suara ribut-ribut dari kamar Gaara, seorang pelayan memberitahu kepadanya dan tanpa pikir panjang ia langsung berlari masuk ke dalam kamar adiknya itu dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia hampir menangis saat melihat Gaara. Kini bukan hanya raut khawatir. Syok, panik dan ketakutan luar biasa terpancar kuat dari ekspresinya.

"Gaara" ketakutan membuatnya hanya mampu mendesis nama adiknya. Gaara tidak peduli kedatangan sang kakak dan kembali menghancurkan barang-barang di sekitarnya sambil meraung.

"Aaarrrrghhh... grrrrrrhhh!" suara raungan dan suara nafas hewan buas bercampur jadi satu. Temari yang melihat itu bergetar hebat dan jatuh terduduk. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia menjerit tatkala melihat sebuah lemari yang terhempas ke sampingnya. Ia melirik lemari yang terkoyak seperti habis tergigit kemudian kembali memandang Gaara yang sekarang sudah menghancurkan jendela dan hendak keluar. Namun karena badannya yang tidak dapat keluar dari jendela yang hancur itu, ia harus menabrakkan badannya untuk membuat lubang yang lebih besar lagi di dinding jendela.

Brakkk..

"Ggrrrhhhhhh...aarrrggrrrhhh!" raungnya keras setelah berhasil menerobos keluar. Dan detik berikutnya ia berlari sekuat tenaga menembus hutan pohon kelapa di area pantai tempat tinggalnya sekarang. Temari yang tadinya hanya diam ketakutan kini mencoba berdiri dengan badan bergetar. Ia meraih ponselnya dan menekan sebuah nomor kemudian meletakkan ponselnya dengan tangan yang gemetar. Dan saat ia mendengar sahutan dari seberang sana, pecahlah tangisnya.

M.O.N.S.T.E.R.S

Sakura mendobrak pintu di depannya dengan brutal. Suasana hatinya sedang buruk hari ini. Di belakangnya Naruto mengikutinya dengan menggunakan kacamata hitam yang tadi di pakai Sakura. Tiga orang yang berada dalam ruangan ini tampak terkejut atas kedatangan mereka berdua. Lebih tepatnya terkejut karena perbuatan Sakura yang mendobrak pintu dengan tidak sopannya.

"Sakura-chan bisa tidak kau sopan sedikit" tegur seorang pria berkacamata di sebelah seorang pria pucat yang di kenal Sakura adalah Sai. Sarutobi Ebisu, Direktur management artist. Sakura mendengus mendengar ucapan pria yang menurutnya mesum ini. Pria itu membenarkan letak kacamatanya. Sai sendiri acuh menatap dua rekannya itu. Alisnya bertemu saat melihat Naruto.

"Ada angin apa, kau pakai kacamata, Naruto? Biasanya kau paling suka memamerkan matamu yang katamu seksi itu?" tanyanya yang hanya di jawab dengan dengusan oleh yang bersangkutan.

"Jadi korban amukan monster" celetuknya asal yang langsung dihadiahi pelototan dari Sakura. Seketika ia langsung berkeringat dingin. "Ano, ano... maksudku...maksudku hanya ingin pakai saja hahaha...mau ganti suasana hahaha" sambungnya sambi tertawa aneh. Sai hanya mengangkat bahu cuek mendengar jawaban Naruto.

"Kalian sudah datang?" sapa seorang pria berambut putih yang sedang duduk di belakang mejanya. Sakura menatap pria itu. jiraiya. CEO NJ Entertaiment, agensi tempatnya bernaung. Ia agak mengerutkan alisnya tegang melihat wajah serius Jiraiya. "Duduklah" perintahnya tenang. Oke, Sakura sangat mengenal CEOnya ini. Dia bukan tipe pria tenang kecuali ada memang dalam keadaan yang emergency. Sakura mengangguk. Ia duduk diikuti Naruto. Ia meneguk salivanya sebelum membuka mulutnya.

"Anoo CEO, sebenarnya apa yang terjadi? Aku benar-benar tidak mengerti. Semuanya begitu tiba-tiba dan..."

"Aku mengerti Sakura" potong Jiraiya sebelum Sakura sempat menyelesaikan ucapannya. Sakura menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Aku akan menjelaskan semuanya termasuk hasil penyelidikanku padamu. Tapi aku minta kau berjanji untuk mengontrol emosimu saat mendengarnya" Alis Sakura bertemu.

"Penyelidikan?" tanyanya spontan. Jiraiya mengangguk.

"Aku menyuruh orang-orangku untuk mencari tahu kenapa berita dimajukannya pemberlakuan aturan larangan bekerja anak dibawah umur sampai terlambat pada agensi kita. Dan yah kau tahu mereka menemukan fakta yang sedikit mengejutkan" Sakura tercekat. Spontan ia menggebrak meja di depannya.

"Apa itu! cepat beritahu padaku!" Jiraiya terkekeh.

"Akan ku beritahu kalau kau berjanji akan mengendalikan emosimu" balas Jiraiya.

"Jangan banyak bicara orang tua! Cepat beritahu!" bentaknya emosi. Ayolah ia sedang dalam mood yang kurang baik hari ini. Dan kakek tua di hadapannya seperti ingin memancing emosinya. Jiraiya yang mendengar ucapan Sakura hendak marah sebelum Sai mendahuluinya.

"Sakura, apa seperti itu cara kau mengendalikan emosimu?!" tegurnya pelan namun tegas. Sakura menoleh menatap tidak suka pada Sai namun tidak membantah. Sai menatap Jiraiya kemudian tersenyum. "Maafkan Sakura CEO, ia pasti akan mengendalikan emosinya" katanya pada Jiraiya yang kemudian hanya tersenyum aneh karena melihat senyum Sai yang menurutnya mengerikan penuh maksud. Sakura mendengus namun kemudian ia teringat sesuatu.

"CEO, apa Uzumaki Karin terlibat?!" tanyanya berusaha mengendalikan emosinya. Jiraiya hanya menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal sambil tetap tersenyum.

"Umm... mungkin bisa di bilang seperti itu" jawab Jiraiya kemudian. Sakura kembali menggebrak meja. Kini ia ada dalam pose murka.

"Sudah ku duga!" teriaknya marah. Naruto di sebelahnya sampai terlonjak kaget dan merinding. "Jalang itu benar-benar tidak punya harga diri! Membuatku muak! Aku bersumpah akan menghabisinya!" sambungnya murka. Jiraiya menghela nafas lelah. Sepertinya tidak ada gunanya memberi peringatan pada Sakura, tidak akan mempan. Ia hanya berdoa semoga meja di depan Sakura tidak hancur karena terlalu sering di gebrak.

"Sakura tenangkan dirimu, dengarkan dulu penjelasan dari CEO" kata Sai pada Sakura kemudian menoleh pada Jiraiya. "Apa maksud CEO, "mungkin bisa di bilang begitu"? Apa anda masih belum yakin? Atau masih ada orang lain yang terlibat?" Sakura terkejut mendengar kata-kata Sai. Ia baru sadar. Ya, kenapa jawaban CEO seperti itu? apa ada orang yang lain yang terlibat? Ia hanya diam menatap Jiraiya sambil berusaha menahan wajah marahnya. Jiraiya tersenyum menatap Sai.

"Kau benar Sai" jawabnya kemudian. "Aku memang menemukan kalau Uzumaki Karin adalah dalang di balik terlambatnya kabar dimajukan aturan pemberlakuan itu di agensi kita dan dia juga yang melapor pada polisi juga memberitahu posisi keberadaan Sakura lewat GPRS ponsel Sakura pada kejadian konser kemarin" sambungnya membuat Sakura menggeram namun belum sempat Sakura menyalurkan emosinya ia melanjutkan. Bisa bahaya membiarkan gadis itu mengamuk.

"Tapi aku menemukan sejumlah keganjilan pada kejadian di majukannya tanggal pemberlakuan aturan itu" Sakura mengerutkan dahinya. "Yah semua itu terkesan begitu mendadak" sambung Jiraiya lagi. "Karenanya aku kemudian kembali menyelidikinya dan aku agak terkejut dengan laporan yang di berikan kepadaku" Jiraiya menatap Sakura kemudian beralih pada Sai. "Shimura Danzou adalah nama yang punya andil dalam dimajukannya aturan ini" kata Jiraiya kemudian. Matanya masih menatap Sai yang menatapnya dengan ekspresi datar. Tidak terkejut. Seperti sudah tahu sebelumnya.

"Shimura...Danzou?" Sakura mengerjab-ngerjabkan matanya. Ia spontan menoleh pada Sai. Jiraiya mengangguk.

"Yah, Shimura Danzou. Selain itu, aturan ini juga adalah salah satu gagasan yang di ajukan olehnya setahun yang lalu. Namun baru di setujui lima bulan yang lalu dan di berlakukan dua hari yang lalu" terang Jiraiya. Sakura sedikit terkejut mendengarnya. Ia tidak percaya kalau aturan ini ternyata sudah sejak lama direncanakan.

"Shimura Danzou? Aku seperti pernah mendengar namanya?" celetuk Naruto polos sambil mengelus-elus dagunya seperti sedang berpikir. Sakura langsung menghadiahi jitakan di kepalanya.

"Baka! Dia seorang menteri! Kau anak seorang Perdana Menteri! Harusnya kau tahu!" omel Sakura gemas. Naruto meringis memegang kepalanya yang di jitak Sakura.

"Itta..ittai dattebayo Sakura-chan..." Jiraiya hanya geleng-geleng lihat mereka berdua. Sakura kembali menatap Sai. Lalu kembali menatap Jiraiya.

"Shimura Danzou? Apa ini semua ada hubungannya dengan Sai?" tanyanya dalam hati. "Anoo CEO, untuk apa Shimura Danzou melakukan hal ini? Dia menteri pertahanan bukan? Sangat tidak wajar bukan seorang menteri pertahanan mau repot-repot mengurusi masalah pendidikan? Lalu apa hubungan Danzou dengan Karin? Apa mereka berdua berkomplot begitu? Sai bilang ini adalah rencana untuk menjatuhkanku dan..."

"Aku hanya mengatakan kemungkinan Sakura" jawab Sai memotong ucapan Sakura. Sakura sontak menatap padanya. "Karena itulah kenapa kau ku bilang untuk mengendalikan dirimu. Semua bisa tidak seperti yang kita duga" sambungnya dingin. Sakura menelan ludah. Sai sangat menyeramkan kalau sudah bicara dingin seperti itu. Dan sangat jarang dia seperti itu.

"Apa...apa ini ada hubungannya denganmu Sai?" tanya Sakura takut-takut. Sai menoleh menatapnya dingin membuat Sakura spontan saja mencengkram lengan Naruto sambil melotot horor pada Sai. Oke, tatapan Sai membuatnya merinding. Tapi detik berikutnya Sai langsung tersenyum.

"Aku tidak tahu" jawabnya singkat. Sakura langsung mengangakan mulutnya dan memasang wajah paling bodoh yang pernah di tunjukannya karena perubahan ekspresi Sai yang begitu cepat. Baiklah, Sakura menetapkan Sai adalah orang yang paling aneh yang paling tidak bisa ditebak yang pernah dikenalnya dan satu-satunya orang yang bisa membuatnya menjadi satu-satunya orang paling bodoh di dunia.

"Karin hanya memanfaatkan situasi yang ada Sakura" kata-kata Jiraiya membuat Sakura sontak menoleh padanya. "Seperti yang kau tahu, Karin adalah anak dari Menteri Pendidikan" Sakura terkejut. Ia tersadar sekarang. "Ia tahu semua ini dari ayahnya. Hmm, mungkin seperti itulah yang disampaikan bawahanku. Karin sudah mengetahui aturan ini semenjak lima bulan yang lalu. Awalnya ia hanya merasa senang karena peraturan ini akan membuat pergerakanmu berhenti. Tapi sejak rencana di majukan sehari aturan ini ditetapkan dua minggu sebelumnya, ia membuat rencana lain. Yah, kau tahu, sebagai anak menteri pendidikan wajar saja ia tahu semua lebih dahulu. Dan kau tahu jugakan apa yang dilakukan setelah itu? Memanipulasi sehingga berita itu terlambat sampai pada agensi kita dan terakhir peristiwa yang menimpamu kemarin" Jiraiya menatap Sakura. "Sepertinya ia benar-benar dendam padamu karena mengalahkan kepopulerannya" Sakura mendengus.

"Hah, dasar jalang pecundang! Aku tidak mengira ia juga seorang yang berotak kerdil! Apa ia benar-benar anak dari Menteri Pendidikan?!" umpatnya kesal. Ia melipat tangan dan kakinya kemudian menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. Ia melirik horor ke arah Naruto. "Baka! Bukankah kau anak Perdana Menteri?!" Naruto menegang. Ia menoleh pelan dengan ke arah Sakura dan hanya bisa menatap takut pada Sakura. ia menelan ludah sudah payah. "Kenapa kau sampai tidak tahu tentang aturan itu hah!" Naruto berkeringat mendengar bentakan Sakura.

"Sa..sakura-chan...aku...aku tidak..."

"Baka! Percuma kau menjabat jadi leader kalau tidak tahu apa-apa!"

"Tentang Danzou-sama. Akupun juga merasa seperti yang kau pikirkan, Sakura" Jiraiya memotong bentakan Sakura seolah ingin mengakhiri pertikaian dua orang di depannya itu. Sakura sedikit melirik cuek. Agaknya ia masih kesal dengan Karin dan Naruto. "Awalnya aku merasa heran dan berasumsi kalau ini ada kaitannya dengan Sai, karenanya aku meminta bawahanku untuk menyelidiki hal ini lebih lanjut. Dan aku mendapatkan fakta yang membuatku tambah bingung" Sakura kembali mengerutkan dahinya. Baiklah, apa ada yang lebih membingungkan dari keterlibatan Danzou-sama dalam kejadian ini.

Oke, tidak terlalu membingungkan sih. Mungkin Danzou-sama menginginkan Sai untuk kembali pulang dan meneruskan cita-citanya mengingat Sai adalah anak satu-satunya setelah kematian ibu Sai. Yah sudah menjadi rahasia umum, Sai adalah anak dari Shimura Danzou yang dikabarkan memberontak pada ayahnya yang mengiginkannya menjadi seorang politisi seperti ayahnya. Ia akhirnya memutuskan pergi dari rumah dan menjadi seorang penyanyi. Sakura seperti melihat dirinya sendiri pada diri Sai. Mungkin itu juga yang membuat Sakura sedikit respek pada Sai.

Tapi Sakura sedikit tidak habis pikir. Apa ada dampak aturan itu pada Sai yang bisa membuat pemuda itu menyerah dan kembali pada ayahnya? Sai sudah berumur 20 tahun. Aturan itu tidak akan menjatuhkannya. Atau mungkin ayahnya mengincar Sakura untuk menjatuhkan band mereka? Tapi Sai juga tidak bodoh dan begitu saja pulang karena hal itu kan? Ia masih punya banyak peluang di NJ Entertaiment. Dan Sakura rasa Danzou-sama bukan orang bodoh yang tidak tahu akan hal itu. Lalu untuk apa Danzou-sama mau repot-repot memberi ide itu pada Perdana Menteri? Huh, mengingat Perdana Menteri membuatnya ingin menjitak kepala pemuda pirang di sampingnya yang tidak punya kepekaan sama sekali.

"Ada orang lain di balik pencetus ide tentang aturan ini. Orang itu meminta Shimura Danzou untuk merekomendasikan pada Perdana Menteri. Tapi sampai sekarang akupun masih belum tahu, ada hubungan apa antara orang itu dengan Danzou-sama dan apa keuntungan yang di dapat orang itu dari adanya aturan ini mengingat dia juga bukan seorang pejabat dari Departement Pendidikan" Sakura menaikan satu alisnya.

"Orang itu? siapa dia?" tanya Sakura sedikit penasaran walau masih dengan tatapan cueknya. Jiraiya menatapnya tapi tidak langsung menjawab seperti sedang memikirkan sesuatu. Sai sendiri sedikit melirik Jiraiya kemudian kini beralih menatap wajah penasaran sedikit cuek milik Sakura.

"..."

"..."

"Akasuna Pein, Presiden Directur of Red Clouds Organitation"

"APAAA!" teriak Sakura spontan. Sungguh ia hanya reflek berteriak. Ia sendiri tidak sadar kalau aksi spontannya ini membuat dua orang di depannya sedikit mengerutkan dahi mereka. Tentu saja, untuk ukuran orang yang belum tahu hubungan Sakura dengan Pein, ini sungguh suatu reaksi yang terlalu berlebihan.

"Ada apa Sakura? kau mengenalnya?" tanya Jiraiya menyadarkan Sakura akan aksi berlebihannya itu.

"Anoo... etto...etto...aku...aku..." jawab Sakura gugup. "Kuso, apa yang kulakukan. Aku bisa ketahuan! Baka!" umpatnya dalam hati. Sai menatap Sakura. "Aku...aku hanya pernah mendengar tentang mereka yah seperti itu hahaha" jawabnya kemudian. Jiraiya menatapnya penuh arti kemudian melirik Sai. Namun karena melihat pemuda itu tidak bereaksi ia kemudian kembali menatap Sakura yang sedang tertawa aneh dengan keringat yang sebesar biji jagung di depannya. ia tersenyum.

"Begitukah?" jawabnya yang di jawab dengan anggukan dari Sakura. "Ah...aku juga sedikit terkejut dan bingung saat tahu hal ini sama sepertimu. Tidak mengerti mengapa seorang Bisnis Man sepertinya mau repot-repot mengurusi hal seperti ini" kata Jiraiya sambil menatap Sakura. sakura masih tersenyum aneh sambil mengangguk kaku. "Tentu ada tujuannya kan?" kali ini Jiraiya sedikit menurun suaranya. Ia menatap lekat Sakura. sakura diam tak berkutik mendengar kata-kata Jiraiya. "Hahaha... tenang saja aku akan mengurus hal ini" katanya kemudian. Seolah tidak peduli, Jiraiya melanjutkan keterangan tentang latar belakang dan kehidupan Pein yang menurut Sakura tidak penting sama sekali. Tentu saja tidak penting, ia sudah tahu semuanya. Ia menunduk mengabaikan ocehan Jiraiya sambil mengepalkan tangannya. "Apa-apaan ini! Nii-san?!" katanya dalam hati. Ia menggigit kuku ibu jarinya "Apa ini semua rencana Nii-san untuk membuatku masuk Organisasi memuakan itu?" tanyanya lagi dalam hati. Sungguh ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya itu. Ingin rasanya ia mendamprat habis Pein, memukulnya atau mengancam akan membunuhnya jika ia masih tetap ikut campur dalam kehidupannya. Tapi ia juga tahu itu tidak mungkin di lakukannya. Ingin rasanya ia berteriak sekarang melepaskan kekesalannya pada kakaknya itu. Tanpa diperintah airmata menggenang di pelupuk matanya saking emosinya ia.

Saking syoknya, ia sampai tidak sadar telah menjadi obyek tatapan Sai sedari tadi. Mata hitam pemuda itu menatapnya dingin penuh arti. Menatap wajah tertekan Sakura yang kini tidak fokus pada keterangan Jiraiya sambil menggigit kukunya. Sai tahu kebiasaan Sakura. ia tahu jika Sakura menggigit kukunya biasanya gadis itu sedang dalam keadaan gugup atau sedang memikirkan hal yang berat.

"Menurut kabar yang beredar, Akasuna Pein mempunyai dua orang saudara kandung. Salah seorang bernama Akasuna Sasori yang diketahui menjadi wakilnya sekarang dan seorang lagi tidak begitu jelas karena tidak pernah terekspos sedikitpun dari publik. Tapi menurut rumor yang beredar, keluarga mereka memang sengaja untuk tidak mempublikasi identitas saudaranya itu untuk kepentingan yang tidak di ketahui. Akasuna Pein adalah..." Jiraiya menghentikan keterangannya saat matanya menangkap Sakura yang kini telah berdiri sambil menatap ke bawah. Ia menaikan sebelah alisnya. "Hmm?" katanya seolah mempertanyakan tindakan Sakura itu. Sakura menatapnya dan mencoba untuk tersenyum.

"Anoo... CEO, apa ada lagi yang ingin kau sampaikan? Aku ada sedikit urusan jadi aku tidak bisa lama-lama di sini" kata Sakura kemudian. Ia seperti sudah melupakan keinginannya untuk mengetahui nasibnya di bandnya. Kini pikirannya hanya satu. Ia ingin minta penjelasan pada Pein tentang maksud dari semua ini. Sai masih menatapnya datar. Jiraiya hanya balik menatapnya dalam diam.

"..."

"..."

"..."

"Baiklah kalau begitu, sepertinya tidak ada lagi yang ingin aku sampaikan..." Jiraiya memecahkan keheningan di antara mereka namun langsung di potong oleh Naruto.

"Tunggu dulu ka...maksudku CEO, lalu bagaimana dengan nasib Sakura selanjutnya? Band kami bagaimana?" protes Naruto. Jiraiya menatap Sakura untuk melihat respon gadis itu pada perkataan Naruto. Tidak ada reaksi. Jiraiya menghela nafas.

"Soal itu, masih belum di putuskan. Aku akan segera menghubungi kalian segera sesudah aku mengambil keputusan. Ada beberapa hal yang masih harus dipikirkan lagi tentang hal ini. Dari awal memang aku hanya ingin membahas tentang kasus ini dahulu pada kalian" jawab Jiraiya. Naruto hanya mendesah kecewa namun tidak berbicara apa-apa kemudian.

"Kalau begitu aku permisi dahulu CEO" kata Sakura kemudian membalikkan badan dan pergi dengan terburu tanpa menoleh atau mengacuhkan pandangan penuh arti dari dua orang yang ada di ruangan itu. Naruto menatap pada Jiraiya dan Sakura bergantian. Seolah bingung harus mengikuti yang mana. Di satu sisi ia ingin mengikuti Sakura, tapi di sisi lain ia bingung melihat semua orang yang seperti melihat Sakura dengan tatapan yang aneh.

"Sakura-chan tunggu! Aku ikut!" teriaknya kemudian. Ia menoleh pada Jiraiya. "Kakek aku pergi dulu" pamitnya pada Jiraiya sebelum akhirnya melesat pergi. Jiraiya menatap kepergian mereka dalam diam. baru setelah pintu ruangannya tertutup ia melirik pada Sai yang masih menatap pintu di depannya kemudian beralih menatap Ebisu di sebelahnya.

"Tolong panggilkan Kurenai, ada yang ingin kubicarakan padanya" katanya. Ebisu mengangguk kemudian pamit dan melangkahkan kaki keluar ruangan itu. Sepeninggal Ebisu, Jiraiya kembali menatap Sai.

"Kau lihat reaksinya?" tanyanya pada Sai. Sai menoleh menatapnya dan mengangguk.

"Aku tidak menyangka informasi yang anda dapatkan itu benar Jiraiya-sama. Aku benar-benar terkejut" balas Sai sambil tersenyum.

"Aku tidak menyangka ia reaksinya sampai seperti itu. ia bahkan sudah tidak punya selera mendengar tentang nasibnya dalam band ini" Jiraiya menghentikan kalimatnya kemudian menatap Sai serius. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Sai menampilkan wajah serius yang mau tak mau membuat Jiraiya sedikit menahan nafas. Namun sesaat kemudian ia kembali tersenyum.

"Aku tidak tahu" jawabnya membuat Jiraiya sontak menganga. Baiklah pemuda di depannya ini membuatnya tampak bodoh. Ia kemudian hanya menghela nafas.

"Kau yakin ingin mendekati Akasuna?" tanya Jiraiya hati-hati. Sai terdiam kemudian menatap Jiraiya serius. Kali ini Jiraiya tidak mau terlalu serius menanggapi Sai. Ia takut tertipu seperti tadi. ia hanya menatap Sai santai.

"Apa aku punya pilihan lain?" kata-kata Sai membuat Jiraiya tertegun.

"..."

"Aku tidak ingin dimanfaatkan terus oleh ayah"

"..."

"Tapi aku juga tidak mau terus menyusahkan anda dan Perdana Menteri"

"..."

"Kalau aku mau melepaskan diri dari sesuatu yang mengikatku, aku harus meminta orang yang mengikatku untuk melepasnya bukan?"

"..."

"Aku yakin Akasuna tahu siapa yang mengikatku"

"Apa kau yakin tentang hal itu?" tanyanya serius.

"Selalu ada alasan untuk sebuah kejadian bukan? Dan aku juga yakin pasti ada alasan kenapa tanda tangan Akasuna Kizashi tercantum dalam proyek itu" Jiraiya menghela nafas.

"Aku sungguh tidak menyangka Sakura adalah anak bungsu klan itu"

"Dan aku juga tidak menyangka hanya membuang-buang waktuku selama tiga tahun padahal kunci yang aku cari ada disisiku selama ini" balas Sai. Jiraiya menatap Sai dalam.

"..."

"..."

"Sai, apapun yang terjadi tolong jangan kau lukai Sakura. Bagaimanapun dia tidak tahu apa-apa tentang hal ini" Sai menoleh menatap datar Jiraiya namun kemudian tersenyum.

"Apa aku terlihat seperti ingin menyakitinya?" Jiraiya tidak menjawab.

"..."

"Aku tidak akan pernah melukai gadis jelek yang paling unik yang pernah kutemui" kata Sai lagi sambil masih tersenyum.

"..."

"Dia terlalu berharga untuk dilukai" kali ini tidak ada senyum di wajah Sai. Ia berkata dengan ekspresi serius. Jiraiya menatapnya dalam diam namun kemudian ia tertawa. Sai kembali tersenyum.

"Hahaha...baik..baik.. setidaknya aku yakin kalau Sakura akan baik-baik saja" katanya kemudian. Sai tidak menjawab. Ia hanya menatap Jiraiya masih dengan senyumnya.

"CEO?" Jiraiya menghentikan tawanya.

"Hm?" tanyanya mendengar panggilan Sai.

"Arigatou" Jiraiya tercekat kemudian menatap lekat Sai. Sai masih tersenyum saat mengatakannya. "Terima kasih untuk semuanya" sambungnya. Jiraiya menarik sedikit sudut bibirnya.

"Ini tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan pada Naruto" jawab Jiraiya penuh makna.

"Itu sudah kewajibanku sebagai temannya" balas Sai. Senyumnya menghilang "Setelah ini biar aku sendiri yang menanganinya Jiraiya-sama" sambungnya lagi. Jiraiya terkejut.

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak ingin menyusahkan kalian lagi" katanya lagi dengan tatapan serius. Jiraiya terdiam sesaat kemudian menghela nafas.

"Kau tahu Sai, kau sama sekali tidak menyusahkan. Kau sudah di anggap saudara oleh Naruto. Itu berarti kau cucuku, anak Minato. Jadi kau tidak perlu sungkan. Tapi kalau kau ingin seperti itu apa boleh buat" suara ketukan pintu memotong perkataan Jiraiya. "Kalau kau butuh bantuan jangan ragu untuk bilang padaku" sambungnya kemudian. Sai berdiri. Bersama dengan itu Kuranei masuk ke ruangan tersebut. Ia melangkah mendekati meja Jiraiya kemudian membungkukkan sedikit tubuhnya memberi hormat.

"Anda memanggil saya, Jiraiya-sama?" tanyanya kemudian.

"Ah iya. Ada yang ingin aku bicarakan" jawab Jiraiya. Saipun kemudian membungkukkan diri dan pamit.

"Aku pergi dulu CEO" pamitnya yang dijawab dengan anggukan kepala Jiraiya. Sai langsung berbalik dan meninggalkan ruangan itu. Jiraiya menatap kepergiaannya dalam diam.

"Semoga berhasil Sai"

M.O.N.S.T.E.R.S

Sakura berjalan cepat tanpa mempedulikan teriakan Naruto dibelakangnya.

"Oi Sakura-chan! Sakura-chan!" Pemuda pirang itu seperti menyulut bom di kepala Sakura.

"Baka! Bisa tidak kau diam! tidak usah pakai teriak-teriak segala!ggrrrrhhh!" meledak sudah bom di kepala Sakura. Naruto langsung menciut sambil berpose menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia merinding ketakutan. Sungguh menakutkan kalau Sakura sedang kalut. Sakura kembali menggigit kukunya. Seperti mengingat sesuatu ia langsung beralih menatap Naruto. Naruto kaget melihat aksi Sakura.

"A..ada apa Sakura-chan?" tanyanya gugup.

"Mana ponselku?" desisnya horor. Naruto langsung merogoh sakunya dengan wajah pucat. Tanpa pikir panjang ia langsung menyerahkan ponsel itu pada Sakura. Sakura langsung menyentuh layar ponselnya dan beberapa saat kemudian menempelkannya pada telinganya sambil tetap berjalan tanpa mempedulikan tatapan bertanya dari Naruto.

Setelah beberapa saat ia berdecih sambil kembali menyentuh layar ponselnya lagi dan menempelkannya lagi di telinganya.

"Baka! Kemana mereka semua!" umpatnya kemudian karena lagi-lagi tidak ada yang menjawab panggilannya.

"Memangnya siapa yang kau hubungi Sakura-chan?" tanya Naruto. Sakura terkejut. Saking emosinya, ia sampai lupa Naruto masih bersamanya. Bisa gawat kalau Naruto tahu siapa yang sedang berusaha dihubunginya. Ia menghela nafas frustasi sambil kemudian mengetik sebuah pesan singkat. Lebih baik meninggalkan sms saja pada Nii-channya itu.

"Bukan siapa-siapa" jawabnya jutek. Sedikit melirik Naruto ia mendengus. "Kau sendiri kenapa masih mengikutiku! Pergilah! Aku ingin pergi ke suatu tempat" katanya kemudian. Naruto menaikan sebelah alisnya.

"Kau mau kemana?" Sakura kembali mendengus. Kini mereka telah sampai di lobi gedung ini.

"Bukan urusanmu!" katanya sinis.

"Oh kukira kau masih butuh bantuanku. Syukurlah, Kalau kau bisa mengurus mobilmu sendiri. Ya sudah ya, aku akan menemui Sai" seru Naruto sambil berlari menjauh. Sakura terdiam sesaat mendengar kata-kata Naruto. Mengurus mobil? Ia menepuk dahi lebarnya. Kini ia ingat. Ada yang harus di urusnya. Mobilnya. Ia segera menarik kerah baju Naruto sebelum pemuda itu lebih jauh melangkah. Naruto sontak kaget dan menoleh. Dan betapa kagetnya lagi dia saat melihat wajah horor Sakura "A..ada apa Skura-chan?" tanyanya grogi.

"Mau lari dari tanggung jawab heh?" desis Sakura horor. Naruto meneguk salivanya.

"Apa yang kau katakan Sakura-chan? Bukannya kau yang menolak tawaranku?" Sakura menjitak kepala Naruto.

"Aku berubah pikiran, cepat antar aku mengurus mobilku. Aku butuh tumpangan" Naruto meringis mengusap kepalanya.

"Sakura-chan ittaidatebayo. Apa salahku? Bisa kau lebih sedikit lembut?" keluh Naruto. Dasar gadis yang aneh. Entahlah. Naruto tidak paham dengan apa yang ada di kepala Sakura. begitu cepat gadis itu berubah pikiran.

"Apa katamu?! Untuk orang sepertimu, tindakanku sudah termasuk lembut!" murka Sakura. naruto hanya melongo mendengarnya. Lembut? Dilihat darimana? "Kalau orang lain pasti sudah ku hajar! aku sudah Aku tidak peduli! Cepat antar aku!" Naruto tersenyum aneh mendengarnya.

"Anoo Sakura, tapi aku sedang tidak bawa mobil" jawabnya kemudian. Sakura melotot.

"APA!"

"Kau tahu kan, aku memakai mobilmu dari rumahku. Itu berarti aku tidak membawa mobilku" terangnya lagi.

"Aku tidak peduli!" Naruto menciut mendengar bentakan Sakura. "Kau harus tanggung jawab Naruto!" Naruto panik. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan dada sambil menoleh kekiri kanan. Kini orang-orang disekitarnya mulai berbisik-bisik.

"Sakura-chan apa yang kau bicarakan?" bisiknya pada Sakura. "Hahaha, ini tidak seperti yang kalian pikirkan" katanya kemudian pada orang-orang di sekelilingnya yang melihat adegan itu. "Sakura-chan jaga ucapanmu kau bisa dijadikan gosip" spontan Sakura sadar kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Gomen, habis kau menyebalkan" jawabnya berbisik.

"Wah wah ada apa ini?" Sakura dan Naruto spontan menoleh. Sai. "Kalian tampaknya akrab sekali. Hati-hati paparazi ada dimana-mana. Lengah sedikit kalian bisa dijadikan bahan gosip" sambungnya lagi. Sakura menggembungkan pipinya kesal.

"Bicara apa kau baka! Hanya orang bodoh yang akan mengangkat gosip tentangku dan pirang bodoh ini!" bentak Sakura geram.

"Aku hanya memperingatkan. Tidak ada yang tidak mungkinkan?" balas Sai sambil tersenyum. Sakura mendengus melihat senyum Sai.

"Aku akan menuruti semua keinginanmu kalau sampai itu terjadi" balas Sakura cuek.

"Benarkah?" tanya Sai tetap dalam senyumnya.

"Ah, kebetulan kau disini Sai!" Sakura tiba-tiba mendapat pencerahan. "Kau bawa mobilkan? Bisa temani aku? Tadi mobilku di serempet pemuda gila. Bisa temani aku untuk mengurus luka lecetnya?" sambungnya dengan nada semangat. Sai tampak terkejut mendengarnya.

"Kau diserempet? Bagaimana bisa? Apa kau terluka?" tanyanya setengah panik. Sakura menampakkan wajah seperti orang akan menangis.

"Aku berharap diriku saja yang terluka daripada Enzoku yang malang. Pria tidak bertanggung jawab itu yang melakukannya. Aku akan membunuhnya jika bertemu lagi" ucapnya masih dalam pose akting menangis. Naruto meringis mendengarnya. Sai hanya tersenyum aneh. "Jadi karena itu Sai, bisakah kau membantuku bertanggung jawab? Aku akan sangat menghargaimu jika melakukannya. Daripada pria gila itu yang tidak punya etika itu" sambungnya lagi dengan nada yang dibuat-buat. Sai mengaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.

"Ba..baiklah. tidak usah berlebihan begitu. Aku akan mengantarmu" jawabnya kemudian. Sakura menampilkan senyuman super manis yang bisa ia keluarkan. Tapi menurut Naruto dan Sai, itu adalah senyum paling mengerikan yang pernah mereka lihat dari Sakura. "Aku akan mengambil mobilku dulu" sambungnya kemudian. Sakura melompat senang.

"Yosh... anggap saja ini acara liburan kita bertiga. Acara liburan memperbaiki mobi. Kelihatannya tidak buruk!" serunya senang.

"Kita bertiga?" Naruto bertanya bingung. Sakura meliriknya sinis.

"Tentu saja, aku, kau dan Sai"

"Heh! Aku juga ikut?!"

"Kenapa kau keberatan! Hah!"

"An..ano... bukan begitu. Maksudku untuk apa aku ikut? Bukannya sudah ada Sai yang mengantarmu!"

"Kau mau lari dari tanggung jawab?! Harusnya kau yang memperbaiki enzoku baka!" Sai tersenyum melihat pertengkaran Sakura dan Naruto. Ia menatap mereka penuh arti. Ia sudah sering melihat mereka seperti ini, tapi kenapa baru hari ini ia merasa kalau semua ini penuh arti. Ia menatap Naruto kemudian beralih menatap Sakura. kemudian menghela nafas.

"Semoga akan tetap seperti ini" gumamnya dalam hati. Entahlah. Ia mempunyai firasat buruk. Terutama pada Sakura. ia menatap gadis itu lagi. Ada apa? Kenapa ia merasa perasaan yang tidak enak seperti ini. "Semoga tidak akan terjadi apa-apa Sakura" sambungnya kemudian.

"Aku tahu Sakura-chan. Tapi tetap saja untuk apa aku ikut. Sudah ada Sai" protes Naruto.

"Hah, tentu saja untuk membawa mobilku baka!"

"Nani! Apa maksudnya?"

"Kau tidak menyuruhku mengurusnya sendiri sementara kau enak-enakan menggoda gadis-gadis, kan Naruto? Kau yang akan membawa mobilku aku akan bersama Sai. Enak saja kau ini!" katanya sambil menyibak anak rambutnya laksana Ratu yang memberi perintah. "Dan akan ku pastikan kau akan menanggung penuh biaya perbaikan kalau aku melihat ada goresan lain di Enzoku" ancam Sakura membuat Naruto menatapnya memelas. Ayolah Naruto itu tidak akan mempan pada Sakura.

"Kau kejam sekali Sakura-chan" keluhnya yang dianggap angin lalu oleh Sakura.

"Ah ya, satu lagi" ia menjentikkan jarinya. "Kau akan menanggung separuh dari biaya perbaikan mobilku"

"Nanii!" Naruto menatap Sakura horor.

"Ada apa?! Mau protes?!" Sakura balik menatap Naruto dengan senyum iblis plus tatapan membunuhnya. Naruto langsung berkeringat dingin.

"Tidak" jawab Naruto spontan. Sakura tersenyum senang.

"Bagus" Ia menoleh pada Sai.

"Apa yang kau lamunkan Sai? Ayo! Aku masih banyak urusan" Panggil Sakura. Sai tersadar dari lamunannya dan menatap agak lama wajah ingin tahu Sakura yang menurutnya lucu. Ia tersenyum samar.

"Tidak akan terjadi apa-apa. Aku janji Sakura" katanya mantap dalam hati.

M.O.N.S.T.E.R.S

Temari melangkah cepat memasuki loby NJE dan langsung menuju dua orang resepsionis disana. Wajahnya berantakan. Masih tampak jelas jejak-jejak airmata di sana. Di belakangnya Kankurou tampak mengikuti langkahnya. Sang resepsionis yang awalnya ragu melihat penampilan Temari sedikit terlonjak saat melihat Kankurou. Siapa yang tidak kenal pria itu. spontan kedua orang itu langsung membungkukkan badannya hormat.

"Sakura! dimana Sakura?!" serunya histeris. Kankurou memegang pundaknya.

"Tenangkan dirimu Temari-nee" kata Kankurou yang melihat dua wanita di depannya agak kebingungan dan panik mendengar seruan Temari.

"Bagaimana aku bisa tenang dalam keadaan seperti ini Kankurou!" bentaknya. Airmatanya merembes keluar lagi. "Aku tidak tahu kemana Gaara. Aku takut dia..."

"Tenanglah!" kali ini Kankurou sedikit membentak. Temari terdiam namun tidak membuat airmatanya tidak jatuh. Kankurou menghela nafas melihat tangisan kakaknya itu. ia menoleh ke arah dua resepsionis di depannya yang masih kebingungan melihat mereka berdua. "Maaf atas situasi ini nona" katanya kemudian yang di jawab dengan anggukan gugup dari mereka berdua. Jelas saja mereka bingung melihat Temari yang tiba-tiba membentak mereka.

"A..ada yang bisa kami bantu Tuan?" tanya salah satu dari mereka. Bagaimanapun tamu adalah raja. Itu motto semua resepsionis di dunia. Apalagi yang ada di hadapan mereka bukan orang biasa. Mungkin hampir setara dengan raja. Mungkin begitu yang ada di benak mereka.

"Dimana kami bisa bertemu Nona Haruno Sakura? Apa kami bisa bertemu dengannya?" tanya sopan.

"Apa Tuan sudah buat janji terlebih dahulu?"

"Ah belum. Kami tadi langsung kemari. Apa bisa tolong beritahu padanya?"

"Maaf Tuan. Kami tidak bisa memastikan. Nona Haruno adalah seorang artis di sini. Jadwalnya tidak terdaftar. Tidak seperti pegawai di sini" jawabnya sopan.

"Apa maksudmu tidak bisa memastikan! Kenapa kau tidak hubungi saja dia. Bilang ada yang ingin bertemu!" bentak Temari sambil terisak. Resepsionis itu menunduk ketakutan.

"Tenanglah Temari" tegur Kankurou.

"Ma...maaf Tuan, Nona. Saya akan coba untuk menghubungi"

"Ada apa ini?" Kankurou sontak menoleh. Temari hanya melirik sambil masih terisak.

"Kurenai-san?" Resepsionis tadi membungkukkan badannya. Kurenai menatap Kankurou kemudian terbelalak kaget.

"Sabaku-sama" katany sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. Ia langsung melirik resepsionis tadi.

"Ada apa? Kenapa kalian tidak melayani Sabaku-sama dengan baik!" bentaknya pada kedua resepsionis itu.

"Ma..maaf Kurenai-san" kata mereka berdua ketakutan sambil membungkuk. Kankurou mengibas-ngibaskan tangannya.

"Tidak... ini bukan salah mereka" kata Kankuro sambil tersenyum. "Saya sedang mencari Haruno Sakura. tapi sepertinya jadwalnya sebagai artis tidak tetap karena itu mereka tidak dapat memberitahuku" sambungnya kemudian. Kurenai menaikan sebelah alisnya. Ada apa seorang pejabat seperti Kankurou mencari Sakura? Ia melirik Temari. Ia kenal wanita ini.

"Maaf. Ada apa mencari Sakura?" tanya kemudian.

"Hanya sebuah masalah pribadi. Tidak terlalu penting sebenarnya bagi Haruno-san. Hanya saja kami sangat butuh pertolongannya. Ini sangat darurat" jawab Kankurou. "Tolong bisakah anda sampaikan pesan saya ini?" sambung Kankurou lagi. Kurenai agak bimbang namun akhirnya mengiyakan.

"Baiklah Sabaku-sama. Tunggulah saya akan menghubungi Sakura" Kurenai lansung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sakura.

"Moshi-moshi? Kurenai-san ada apa?"

"Sakura, kau ada dimana? Bisa ke lobby sekarang?"

"Ada apa Kurenai-san? Aku sedang tidak ada di NJE"

"Kau dimana? Ada tamu untukmu"

"Memang siapa Kurenai-san? Aku sedang dalam perjalanan. Aku mau memperbaiki mobilku" Kurenai sedikit melirik Kankurou.

"Sabaku-sama. Apa tidak bisa kau kembali ke kantor sekarang?" Kankurou yang mendengar pembicaraan Kurenai dengan Sakura menyela.

"Tolong beritahu saja, ada di mana dia. Aku akan menyusul" Kurenai mengangguk.

"Sakura, kau akan memperbaiki mobilmu dimana?"

"Ferrari International Service Center. Mungkin agak lama Kurenai-san. Kalau mau, suruh saja ia menunggu. Kalau tidak, suruh pulang saja" Kurenai meringis mendengar jawaban seenaknya dari Sakura. dasar bodoh apa dia tidak tahu tamu yang ingin bertemu dengannya?

"Baiklah" ucapnya singkat sambil memutuskan sambungannya. Kurenai menatap Kankurou.

"Dia ada di Ferrari International Service Center. Apa Sabaku-sama ingin di antar ke sana?" ucap Kurenai menawarkan diri sopan. Temari langsung melesat meninggalkan lobby begitu mendengar tempat yang di katakan Kurenai tanpa pamit. Kurenai kaget. Kankurou hanya menghela nafas frustasi.

"Maaf Kurenai-san. Aku bisa ke sana sendiri. Sekali lagi maaf atas perbuatan kakakku dan keributan yang kami lakukan. Dan terima kasih atas bantuan anda. Suatu saat aku akan membalas kebaikan anda" sambungnya.

"Tidak usah sungkan Sabaku-sama" Kurenai tersenyum. "Suatu kehormatan saya bisa berbicara dengan Tuan" Kankuro mengangguk.

"Kalau begitu aku pamit dulu" pamitnya sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.

"Hati-hati Tuan" Kankuro membalik badannya dan pergi.

M.O.N.S.T.E.R.S

"Memang siapa Kurenai-san? Aku sedang dalam perjalanan. Aku mau memperbaiki mobilku"

"Sabaku-sama. Apa tidak bisa kau kembali ke kantor sekarang?" alis Sakura naik sebelah. Sabaku? Sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Saat ini ia sedang dalam perjalanannya menuju Ferrari International Service Center sebelum akhirnya ia di ganggu oleh telepon dari Kurenai. Awalnya ia pikir Kurenai menghubunginya untuk menyampaikan pesan dari CEO mereka tentang nasib band mereka. Tapi ternyata Assisten seksi CEOnya itu hanya mengatakan ada tamu untuknya. Oh ayolah jangan mengganggu tidur indahnya hanya untuk hal tidak penting. Ia sudah cukup banyak masalah dan ia ingin menenangkan pikirannya sejenak. Bahkan ia tidak tahu kalau tamu yang ia anggap tidak penting adalah orang paling penting di Jepang.

"Ferrari International Service Center. Mungkin agak lama Kurenai-san. Kalau mau, suruh saja ia menunggu. Kalau tidak, suruh pulang saja" jawab Sakura sekenanya.

"Baiklah...tut..tut" Sakura memandang ponsel di tangannya dengan tatapan mengantuk. Kemudian mendengus dan kembali memasukan kembali ponselnya itu di sakunya.

"Dari siapa?" tanya Sai di sebelahnya.

"Kurenai-san" jawabnya singkat. Ia kembali memejamkan mata.

"Ada apa?" Sakura mengangkat bahu. Ia menjawab tanpa membuka matanya.

"Entahlah. Katanya ada tamu untukku. Mungkin penggemarku" Sai tersenyum mendengar jawaban Sakura. gadis di sampingnya itu terlalu percaya diri. Mana mungkin Kurenai meneleponnya hanya untuk penggemarnya. Ia menatap Sakura sambil masih tersenyum. Sakura menggeliat untuk mencari posisi yang nyaman untuknya. Melihat itu, tangan Sai gatal untuk mengacak rambutnya. Ia mengacak pelan rambut gadis itu yang hanya di jawab dengan suara geraman tertahan Sakura yang tidak suka. Tapi gadis itu tidak bergerak dan membuka matanya sedikitpun.

"Tidurlah tuan putri. Aku akan memberitahumu kalau sudah sampai nanti"

M.O.N.S.T.E.R.S

Sasuke memasuki manshion megah milik keluarganya. Di belakangnya Kabuto dan Jugoo mengikuti langkahnya. Beberapa pelayan yang memberi hormat padanya diacuhkannya. Seorang pria yang berdiri paling ujung barisan pelayan itu juga segera membungkukkan badannya. Sasuke berhenti di depan pria itu.

"Selamat datang Sasuke-sama" sapanya. Sasuke mengangguk.

"Bagaimana keadaan Kaa-san?" tanyanya singkat. Salah satu alasan yang membuatnya pulang adalah ibunya. Raut kesedihan terukir di wajah tampannya saat mengingat bagaimana keadaan ibunya saat terakhir ia meninggalkannya. Ini semua karena Itachi. Karena pria itu. Sasuke geram memikirkannya. Pria yang ditanya hanya menunduk sedih. Sasuke yang melihatnya paham.

"Mikoto-sama...beliau..."

"Hn...Aku paham" potong Sasuke sebelum pria itu menjawab. "Aku akan menemuinya. Kau siapkan saja kamar untuk tamu-tamuku dan antar mereka ke sana. Lalu panggil Yamato. Aku ingin bicara dengannya" titahnya. Pria itu mengangguk kemudian menyingkir. Sasuke berjalan melewatinya meninggalkan Kabuto dan Jugoo yang kemudian di persilahkan untuk mengikuti pria tadi.

Sasuke berjalan menaiki tangga melingkar untuk menuju lantai kedua manshionnya itu. Berjalan melewati beberapa ruangan dilantai dua, iapun berhenti di depan sebuah pintu yang terlihat berbeda dari pintu lain. Pintu itu mempunyai dua daun pintu dan berukiran indah. Di depannya ada dua pelayan wanita yang berjaga. Mereka berdua memberi hormat pada Sasuke. Sasuke meraih kenop pintu dan mendorongnya. Sebuah pemandangan yang sangat miris tertangkap matanya.

Seorang wanita paruh baya yang sangat kurus dan berantakan penampilan tampak duduk melamun sambil menatap keluar jendela. Rambutnya tidak di sisir dengan rapih. Bajunya tidak di kancing dengan benar. Wajah tanpa make upnya tampak tidak ada kehidupan sama sekali. Seperti mayat. Apalagi ditambah dengan tonjolan tulang pipi yang mulai tampak akibat badannya yang kurus membuatnya benar-benar terlihat seperti zombie. Sebenarnya kalau diperhatikan, dia sangat cantik walau dengan wajah tanpa make upnya. Hanya saja, penampilannya serta tubuh kurus yang seperti tidak di rawat membuatnya tampak lebih tua dari umurnya sekarang.

Sasuke mencelos melihat kondisi ibunya itu. Keadaan ibunya sekarang jauh lebih buruk dari yang di lihat terakhir kali. Ia melangkah mendekati wanita itu. Rasanya ingin berhambur memeluk wanita itu. Namun sebisa mungkin ia menahan keinginanya itu mengingat kondisi psikis ibunya itu. Ya, ibu Sasuke mengalami depresi berat sejak kejadian lima tahun yang lalu. Ia mengalami pukulan mental yang kuat saat mengetahui anaknya, Itachi membunuh ayah, suami, dan keponakannya dan menyebabkan ia mengalami gangguan kejiwaan. Begitu yang dikatakan Dokter Ahli Jiwa yang menangani ibunya. Dengan kata lain ibunya gila.

Tapi yang Sasuke tidak habis pikir, sang ibu selalu memanggil nama Itachi dengan tiba-tiba sambil menangis meraung-raung. Tanpa sebab. Sasuke tidak tahu kenapa. Ia bingung. Selalu itu yang terjadi terus menerus. Pernah suatu waktu, saat Sasuke mengantar makanan dan mencoba berbicara dengan ibunya, wanita itu tiba-tiba berteriak histeris dan berlutut memeluk kakinya sambil meminta ampun.

"Itachi, tolong...tolong ampuni kami...aku mohon nak, jangan pergi. Maafkan ayahmu" atau saat ia menenangkan ibunya yang memberontak saat akan di suntik agar ia bisa tertidur. Sang ibu kemudian memeluknya sambil meraung.

"Itachi...tolong ibu!.ibu hanya ingin menolongmu...tapi mereka memaksa ibu...ibu gagal menolongmu nak. Maafkan ibu...tolong jangan tinggalkan ibu.!.."

Ingin rasanya Sasuke menangis sejadi-jadinya sambil meminta ibunya untuk berhenti bersikap konyol. Ada apa sebenarnya? Kenapa ibunya seperti ini? Kenapa harus menyebut nama keparat brengsek itu? Bukankah ia yang menyebabkan ibu seperti ini? Kalau memang Itachi yang membuat ibunya depresi, seharusnya ibunya mengumpat atau menyuruh untuk membunuh Itachi. Bukannya malah meminta ampun atau menyuruhnya jangan pergi seperti itu.

Sasuke berjalan mendekati ibunya dan menyentuh pundak ibunya pelan.

"Kaa-san, apa yang sedang kaa-san lakukan?" sapanya pelan. Wanita itu tampak terkejut kemudian menoleh menatap Sasuke. Raut terkejutnya berganti denga raut sumringah. Ia sontak berdiri dan memegang kedua pipi Sasuke. Sasuke merasa kebahagiaan yang tiada terkira saat di perlakukan seperti itu. Ia merindukan ibunya yang hangat seperti ini.

"Itachi, kau kah itu nak?" hati Sasuke tiba-tiba mencelos. Lagi-lagi Itachi. Ingin rasanya Sasuke memarahi ibunya dan mengatakan agar melupakan pembunuh itu. Namun perkataan Dokter ibunya membuatnya mengendalikan emosinya. Saat ini ibunya dalam suasana psikologi yang sangat tertekan. Ia kemudian hanya dapat menghela nafas, berusaha mengendalikan dirinya.

"Ini aku Sasuke, kaa-san. Apa kaa-san sudah melupakanku?" seketika Sasuke melihat raut kecewa namun juga bersalah pada wajah ibunya. Wanita itu tersenyum hambar.

"Sasuke-kun? Maaf...maafkan kaa-san" Mikoto memeluknya. "Kau dari mana saja Sasuke-kun? Kau tidak pernah menjenguk kaa-san. Kaa-san pikir kau juga pergi meninggalkan kaa-san" ia menangis. Jadi ibunya juga mencarinya. Walau tetap saja Itachilah yang selalu berada di pikirannya. Tapi Sasuke sudah cukup senang karena ibunya masih mencarinya.

"Maafkan aku kaa-san. Aku harus menyelesaikan sesuatu" katanya sambil membalas pelukan ibunya. Ia kemudian melepas pelukan ibunya dan menatap ibunya lembut. "Apa kaa-san sudah makan? Kenapa kaa-san sangat kurus. Kaa-san selalu makan kan?" tanyanya lembut. Mikoto menatapnya sedih.

"Kaa-san mau menunggu Itachi pulang dulu. Kaa-san ingin makan bersama kalian berdua" katanya membuat emosi Sasuke naik sampai ke ubun-ubun.

"Kaa-san jangan bicara yang macam-macam! Itachi tidak akan pulang. Terima kenyataan ini Kaa-san!" bentaknya yang disesalinya kemudian. Mata sang ibu berkaca-kaca. Wanita itu melepas genggaman Sasuke dan berteriak histeris.

"Tidak! Itachi pasti pulang!" ia jatuh terduduk sambil terisak. "Kau sama saja dengan yang lainnya Sasuke-kun! Kau jahat pada Itachi!" Sasuke ingin balik berteriak memarahi ibunya. Tapi melihat kondisi ibunya sekarang, ia tidak tega. Ia hanya ikut berjongkok berusaha memegang pundak ibunya menenangkan.

"Maafkan aku Kaa-san. Aku tidak bermaksud..."

"Keluar kau!" bentaknya memotong ucapan Sasuke. Ia menepis tangan Sasuke yang berusaha menggapainya. "Keluar! Jangan sentuh aku!" teriaknya sambil menjambak rambutnya. Sasuke panik. Ingin rasanya ia menangis memeluk ibunya.

"Kaa-san..." katanya masih tetap berusaha menggapai ibunya membujuk.

"Arrrrgggggghhhh!" teriakan ibunya membuat gerakan tangannya terhenti di udara. Ia terdiam kaku melihat ibunya yang menyembunyikan kepalanya di antara tangannya seolah-olah ia adalah penjahat yang ingin menyakitinya. Sasuke merasa ribuan jarum menusuk hatinya. Dunianya terasa berputar. Bahkan hiruk pikuk pelayan yang berdatangan seolah tidak mengganggu dunianya. Ia hanya menatap prihatin ibunya yang meronta saat beberapa pelayan memegangnya dan menyuntikkan obat penenang. Sasuke melihat dengan matanya sendiri bagaimana akhirnya ibunya tertidur saat obat itu bereaksi.

Ia hanya bisa berdiri dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu dengan linglung setelah melihat ibunya digotong ke atas tempat tidurnya.

"Kaa-san..."

M.O.N.S.T.E.R

Sakura menghela nafas frustasi. Ini sudah setengah jam ia menunggu Naruto yang mengurus administrasi perbaikan mobilnya. Apa yang membuat pemuda pirang itu begitu lama. Yah, kalau melihat antrian customer disini, Sakura harus berbesar hati menerima kenyataan dan menunggu. Sudah untung sahabat pirangnya itu mau mengurusi tetek bengek syarat administrasi perbaikan.

Ia melirik ponselnya. Tidak ada pesan yang masuk. Ukh.. rasanya ingin menghajar kakak menyebalkannya itu. Ia sudah lama meninggalkan pesan untuknya. Namun tidak satupun ada pesan balasan darinya. Ia melirik Sai di sampingnya. Pemuda itu tampak sedang mengutak-atik ponselnya.

"Ada apa Sakura?" tiba-tiba pemuda itu bertanya pada Sakura. Membuat gadis yang sedang meliriknya itu kelabakan.

"Eh?"

"Daritadi ku perhatikan kau gelisah memperhatikan jam dan ponselmu. Terakhir, aku melihat kau melirikku lama. Ada apa?" tanyanya kemudian. Sakura panik di tanya seperti itu. Ketahuan kalau ia iseng melirik ke Sai.

"Tidak ada apa-apa. Lagipula kau terlalu percaya diri. Siapa juga yang melirikmu lama? Aku hanya iseng melirikmu. Cuma sebentar" balas Sakura jutek. Sai terkekeh.

"Jadi kau mengakui kalau kau melirikku?" tanyanya menggoda. Sakura manyun namun tidak bisa menjawab. Sai hanya tertawa melihat ekspresi Sakura sekarang. Ia mencubit pipi Sakura yang langsung ditepis oleh sang pemilik.

"Ukh...kenapa Naruto lama sekali" akhirnya keluar juga keluahannya. Sai hanya menatapnya sambil tersenyum kemudian kembali fokus pada ponselnya.

"Kau tidak lihat di sini banyak sekali customer. Sudah pasti ia harus antri. Sudahlah tunggu saja" jawab Sai sekenanya. Sakura hanya mendengus. Jawaban yang sama dengannya.

"Kalau itu aku juga tahu. Aku hanya bosan menunggu. Coba saja ada yang menarik disini"

"Kau teriak saja. Saat semua tahu kau Sakura. Pasti ada keributan. Bukankah itu hal yang menarik" jawab Sai enteng sambil tersenyum. Sakura melotot.

"Baka! Untuk apa aku menyamar kalau akhirnya aku memberitahukan identitasku!" serunya gemas. Sai terkekeh.

"Aku hanya bercanda. Lagipula kalau kau berteriak seperti itu, orang-orang akan tahu kau siapa kau" Sakura menutup mulutnya sambil melotot ke arah Sai. Ia kesal dengan pemuda di sebelahnya itu.

"Eh bukannya itu Sabaku Kankuro-sama?"

"Sabaku Kankuro? Siapa itu?"

"Kau tidak tahu? Dia Menteri Pertahanan Korea Selatan?"

"Ng?" Sakura menatap ke arah dua remaja yang sedang duduk di depannya. Dua remaja itu tampak asyik melihat ke arah belakang Sakura. Sebenarnya Sakura ingin menoleh ke arah yang di tunjuk salah satu dari mereka. Tapi ia enggan. Mungkin juga takut ketahuan identitasnya karena bertingkah terlalu berlebihan. Remaja sekarang penglihatannya terlalu tajam. Bahkan Menteri Pertahanan saja mereka tahu.

"Korea Selatan? Benarkah? Darimana kau tahu?"

"Tentu saja. Aku murid paling cerdas di sekolah. Aku selalu mengikuti perkembangan berita-berita yang sedang hangat di bicarakan"

"Huh, sombong" batin Sakura. Dapat dilihatnya raut bangga di wajah anak yang berbicara tadi.

"Wah benarkah? Keren!" Sakura mendengus saat melihat anak yang dipuji tersenyum bangga.

"Keren banget Kankuro-san. Pasti dia kenal dengan Super Junior. Aku harus minta tanda tangannya"

"Pft... hahahhaha" Sakura sudah tidak dapat menahan tawanya. Ia tertawa. Meski tidak keras itu sudah bisa menarik perhatian seseorang di belakangnya. Temari dan Kankuro. Mereka menatap punggung Sakura. Lebih tepatnya rambut pink Sakura. Walau sudah memakai topi tapi Sakura tidak bisa menyembunyikan rambut pinknya yang ia ikat gantung. Tanpa menunggu lama, Temari langsung berlari ke arahnya dan menepuk bahu Sakura.

"Sakura!" teriaknya keras. Sakura tentu saja terkejut. Gawat kalau ada yang mengenalinya. Apalagi memanggilnya sekeras itu. Bisa gawat. Ia spontan berdiri dan berbalik cepat ke arah Temari lalu menutup mulutnya. Alangkah terkejutnya ia melihat wajah Temari.

"Kau" desisnya terkejut. Beberapa orang menatap ke arah mereka sambil berbisik-bisik. Sai tidak mau ketinggalan ia berdiri kemudian menatap Kankuro dan Temari dari balik kacamata hitamnya. "Ada apa kau kesini?! Apa kau tidak punya otak?! Kenapa meneriaki namaku dengan keras?!" kata Sakura marah. Ia melirik ke sekeliling. Kini mereka telah menjadi pusat perhatian hampir semua orang di sini. Ada beberapa yang berhenti kemudian berbisik-bisik. Ada pula yang sudah mulai mencurigai mereka.

"Bukankah itu seperti Sakura?"

"Masa sih?"

"Iya itu Sakura"

"Dengan siapa?"

"Apa itu penggemarnya?"

"Ah iya itu Sakura. pasti wanita itu mau minta foto. Ayo kita juga!"

"Itu di sebelahnya Sai! Kyaaa! Sai-koi! Aku mau minta foto!"

"Gawat!" batin Sakura. Belum sempat ia bereaksi, Sai menarik tangannya menjauhi kerumunan. Tidak mau kehilangan jejak, Temari berlari mengikuti mereka. Kankuro di belakangnya mendesah frustasi. Repot berurusan dengan artis. Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Setelahnya ia berlari menyusul Temari.

"Sakura berlari ke arah kanan gedung. Anak buahku di sana!" Sakura menoleh sengit. Namun sepertinya Sai menariknya sesuai dengan intruksi Kankuro. Ia melihat di depannya serombongan pria berbaju hitam yang menyambutnya. Para pria itu kemudian membentuk blokade setelah Sakura dan Sai berada di belakang mereka. Sakura meringis melihat betapa anarkisnya fans dari Sai. Ckckck, seperti serigala kelaparan. Temari dan Kankuro yang baru tiba langsung menghampiri mereka yang di sambut dengan teriakan iri dari fans Sai dan Sakura.

"Hei nenek tua! Jangan mencoba memonopoli Sai-koi dan Sakura-chan. Berikan mereka pada kami!"

"Iya itu benar. Berikan mereka pada kami" Sakura kembali meringis. Apa-apaan itu? Berikan? Ia merasa diperlakukan seperti barang saja.

"Eh, bukannya itu Sabaku Kankuro? Menteri Pertahanan Korea Selatan?"

"Masa sih?"

"Ah iya itu benar"

"Baka! Apa yang kau katakan tadi. wanita itu mungkin istrinya. Kau bisa di hukum pancung"

"Ya Tuhan. Benarkah. Aduh bagaimana ini?"

"Korea Selatan? Apa Rocky Seven akan mengadakan kolaborasi dengan Bigbang? Wah ini berita baru!" kasak-kusuk para fans membuat Sakura sadar apa yang sudah membuatnya seperti ini. Ia langsung saja menoleh ke arah Kankuro dan Temari. Ia menatap mereka tidak suka. Ia melepaskan kacamata beningnya gusar. Ia ingat dengan dua orang ini. Dua orang yang menurutnya sangat mengganggu hidupnya.

"Apa kalian tidak punya pekerjaan lain selain mengganggu hidupku hah!" bentaknya. Sai menahan lengannya.

"Bersikap yang sopan Sakura!" tegur Sai. Ia melepas kacamatanya dan menatap Sakura datar. Sakura mendengus tidak suka. Sai mengalihkan pandangannya pada Kankuro. "Maaf Sabaku-sama" sambungnya.

"Sakura ikutlah dengan kami. aku perlu bantuanmu" Temari maju dan juga memegang lengan Sakura. Matanya yang sembab kini mulai berkaca-kaca lagi. Sakura yang sudah mau menepis, mengurungkan niatnya saat merasa cengkeraman Sai mengerat seolah memberi tanda agar ia bersikap sopan pada wanita itu. Dengan setengah hati, akhirnya ia hanya dapat menatap Temari sengit.

"Aku mohon Sakura" jatuh juga airmata Temari. Sakura agak merasa tidak enak dengan keadaan ini. Ia mengerjabkan matanya bingung.

"Ap...apa yang kau bicarakan?!" serunya panik.

"Bisakah kau ikut kami dahulu? Aku akan menjelaskannya di jalan. Kami sangat membutuhkan bantuanmu" kali ini Kankuro yang berbicara. Sakura menatap ke arahnya. Sangat mencurigakan.

"Kalian tidak bermaksud menculikku kan?" Kankuro mendesah frustasi. Susah bicara dengan gadis keras kepala seperti Sakura.

"Untuk apa aku menculikmu. Kakakmu akan membunuhku kalau itu sampai terjadi" Sakura melotot. Ia melirik Sai. Bisa gawat kalau sampai Sai tahu tentang kakaknya. Sai sendiri menyipitkan matanya begitu ia mendengar kata "kakak" dari mulut Kankuro.

"Kumohon Sakura" kini Temari berlutut. Sakura makin panik. "Apa yang harus kulakukan supaya kau mau menolongku. Hanya kau satu-satunya yang bisa menolong kami"

"Hei...hei...tidak usah berlebihan! Baik-baik aku akan ikut! Jangan berlutut di depanku! Cepat berdiri" ucapnya panik sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Sedikit menoleh ke kanan kiri untuk melihat reaksi fansnya yang melihat adegan ini. Bisa-bisa jadi bahan gosip nantinya. Temari tersenyum senang kemudian bangkit berdiri dan memeluk Sakura. Sakura agak jengah dengan aksinya ini.

"Sudah...sudah tidak usah berlebihan begitu" ujarnya risih.

"Terima kasih banyak Sakura. ayo!" Temari segera menarik tangan Sakura. Namun belum sempat mereka melangkah, tangan Sakura yang lain di cekal oleh Sai. Sakura menoleh ke arah pemuda itu. langkah Temari terhenti.

"Aku ikut" kata Sai yang mengundang tatapan menyipit dari Kankuro. Bisa gawat kalau Sai ikut.

"Tidak!" potong Kankuro tegas. Tentu saja. Gaara adalah senjata militer Korsel. Kalau sampai ada yang tahu kelemahannya bisa gawat. Walau itu cuma warga sipil biasa. Sudah cukup para Akasuna itu saja yang tahu. Sai menoleh menatap tajam pada Kankuro.

"Kalau begitu kau tidak bisa membawa Sakura" jawabnya tajam.

"Kau pikir kau siapa? Sakura sudah menyetujuinya. Kau tidak berhak mengaturnya"

"Aku rekannya. Aku yang paling bisa ia percaya daripada orang yang baru di kenalnya" Oke, apa sekarang Sakura bisa tertawa? Siapa sekarang yang tidak sopan pada seorang Menteri Pertahanan Korea Selatan?

"Aku bukan orang yang bisa di curigai Tuan. Aku sudah beberapa kali bertemu dengan Sakura" Sakura kini mulai agak canggung menjadi objek pertengkaran tidak penting kedua orang itu.

"Kalau kau tidak merasa tidak ada yang salah. Kenapa mesti takut aku ikut?" mereka berdua saling melemparkan tatapan tajam.

"Anoo... Sai sudahlah" agak grogi juga kalau berbicara dengan Sai yang sedang serius. Ia agak menakutkan. Sai menatapnya tajam. Sakura menelan ludahnya. Ia menoleh pada Kankuro. "Aku minta alamat rumahmu" katanya pada Kankuro lalu balik lagi menatap Sai.

"Kalau aku tidak kembali atau tidak dapat di hubungi dalam dua jam. Segeralah datang ke rumahnya" kata Sakura pada Sai. Sai menatapnya tidak percaya. Sakura tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku bisa jaga diri. Hanya jemput saja kalau aku tidak kembali dalam dua jam" Sai menatap Sakura yang tersenyum "Dan tolong urus mobilku ya? Aku akan mentraktirmu makan setelah ini" sambungnya lagi sambil nyengir. Sai menghela nafas. Agaknya Sakura santai-santai saja di ajak. Mungkin sudah bosan berada di sini. Sai kembali menatap Kankuro. Pria itu tampak memberi kartu namanya.

"Baiklah kalau begitu" ucapnya sambil mengambil kartu nama itu. "Akan kupastikan kau akan dapat masalah jika terjadi sesuatu pada Sakura" katanya pada Kankuro. Pria itu tersenyum miring.

"Kau bisa mempercayaiku" katanya pasti. Sai melepas cengkeramannya pada Sakura dan membiarkan gadis itu di bawa masuk ke dalam mobil oleh Temari. "Aku akan meninggalkan anak buahku disini sampai urusan mobil Sakura selesai" Setelah mengatakannya Kankuro lalu memberi hormat pada Sai dan segera menyusul Temari. Sai mengiringi kepergian mereka dengan tatapan datarnya. Ia kemudian meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Moshi-moshi?"

"Kiba, bisakah kau mencarikan data seseorang untukku?" katanya begitu mendengar jawaban dari seberangan.

"Siapa?"

"Sabaku Kankuro, Menteri Pertahanan Korea Selatan"

M.O.N.S.T.E.R.S

"APAA!" jeritan syok terdengar dari sebuah mobil sedan hitam yang sedang melaju dengan kecepatan yang tidak dapat dikatakan lambat itu. Mereka sudah mulai memasuki daerah hutan pohon kelapa, area vila keluarga Sabaku. Daerah itu jarang sekali ada rumah penduduk. Kecuali beberapa villa yang jaraknya sangat jauh. Sakura dapat menangkap pohon-pohon yang umumnya adalah pohon kelapa di kanan dan kiri jalan yang sedang di laluinya kini. Sangat sepi.

Sungguh tidak dapat Sakura percayai. Ia rasa pendengarannya sedang bermasalah. "Bisa kau ulangi kata-katamu Tuan? Apa aku tidak salah dengar?!" tanyanya masih dengan nada syoknya. Temari menggeleng sambil menghapus airmatanya. Kankuro hanya menhela nafas.

"Kau tidak salah dengar Sakura. Kami meminta tolong padamu untuk menenangkan serigala. Aku tidak dapat menjelaskan detailnya. Karena..." Kankuro terhenti. Ia melirik Sakura yang kini menatapnya dengan ekspresi antara tidak percaya dan bingung. Kankuro tentu tidak dapat menjelaskan kalau serigala itu adalah adiknya sendiri. Mengatakan tentang menenangkan serigala saja sudah membuat reaksi Sakura seperti mengatakan ia sudah gila, apalagi mengatakan kalau serigala itu adalah jelmaan adiknya, Gaara. Bisa-bisa Sakura akan minta diturunkan sekarang juga. Sakura yang sedang menganga tidak percaya kini mengerjabkan matanya kemudian tertawa keras.

"Hahahahaha...kau...kau pasti sudah gila" Kankuro kembali menghela nafas. Ia sudah menduga reaksi Sakura ini. Temari menatapnya heran. Tentu saja. Ia sudah hampir mati karena panik, Sakura malah mentertawakannya. Sakura memegang perutnya sambil berusaha menetralisir tawanya "Kalau mau menjinakan serigala jangan datang padaku. Cari saja pawang serigala. Kalian benar-benar aneh. Sudah kembalikan aku. Aku pikir ada masalah penting apa" jawab Sakura jutek. Temari marah mendengar kata-kata Sakura.

PLAK

Kankuro tercekat. Sakura syok. Kankuro menatap Temari tidak percaya. Sakura mengerjabkan matanya tidak percaya. Perlahan tangannya terangkat menuju pipinya. Ia melirik Temari penuh tanda tanya. Bingung dan marah. Tentu saja. Wanita itu menamparnya. Sekali lagi menamparnya. Dan ia lakukan itu tanpa alasan yang jelas menurut Sakura. Dan itu membuat Sakura marah.

"Apa yang kau lakukan" desisnya marah. Ia dapat melihat mata Temari yang berkaca-kaca. Namun itu tidak berpengaruh padanya. Ia sudah habis kesabaran. Hey, Temari, kau baru saja membangunkan seekor singa betina yang sedang tidur.

"Apa yang kulakukan? Kau tanya apa yang kulakukan?" seru Temari marah. Sakura menatapnya tajam. "Kau pikir aku main-main hah! Datang padamu kau bilang? Kalau bukan karena kau satu-satunya yang bisa menenangkan Gaara, aku tidak akan datang pada gadis tidak punya sopan santun sepertimu" rahang Sakura mengeras. Ia sudah gelap mata. Di kepalkan tangannya dan ...

BRAKKK

Sakura memukul kaca mobil di sebelahnya hingga sedikit retak. Ia menunduk saat melakukan itu. Sebisa mungkin untuk tidak menatap Temari. Karena kalau ia lakukan itu, sudah dapat di pastikan wajah Temarilah yang menjadi sasaran tinjunya. Temari syok melihat apa yang dilakukan Sakura. Kankuro sendiri agak waspada. Ia juga takut kalau Sakura melakukan sesuatu pada Temari. Ia sudah sedikit agak mengenal watak Sakura yang tidak segan-segan main tangan kalau sudah marah. Tapi ia juga tidak menyangka ternyata Sakura masih punya hati juga untuk tidak membalas perbuatan Temari dan melampiaskannya pada kaca di sebelahnya.

"Turunkan aku..." desis Sakura dingin. Kankuro terdiam. Temari memandangnya dengan pandangan bersalah dan menyesal.

"Sakura, aku..."

"Aku bilang turunkan aku, sebelum wajahmu yang kubuat retak" Sakura sedikit mendongak menatapnya tajam. Temari seperti kehilangan nafasnya saat melihat tatapan Sakura. Kankuro masih diam. Sedangkan anak buah Kankuro yang membawa mobil bingung. Ia agak terkejut dengan dua wanita yang bertengkar di belakangnya. Ia melirik Tuannya setelah mendengar kata-kata Sakura. Tapi Kankuro tidak bereaksi.

"AKU BILANG TURUNKAN AKU!" teriaknya marah. Seketika mobil itu terhenti. Anak buah Kankuro terlalu terkejut mendengar teriakan Sakura yang sangat menakutkan menurutnya sampai-sampai ia tidak sadar menginjak rem mendadak. Tanpa pikir panjang Sakura langsung melesat turun dan berjalan pergi tanpa menoleh. Ia sudah tidak peduli tahu atau tidak daerah ini. Tidak peduli kalau harus berjalan seharian untuk kembali ke apartementnya. Yang ada di benaknya kini pergi meninggalkan dua orang yang membuatnya sangat marah itu. Kankuro reflek turun untuk mengejarnya. Sedangkan Temari yang masih syok hanya bisa menangis. Namun detik berikutnya ia ikut keluar dan mengejar Sakura.

"Sakura tunggu dulu" Kankuro menarik lengannya agar berbalik padanya. Sakura menepisnya kasar. Ia menatap Kankuro marah.

"Jangan pernah muncul lagi di hadapanku" desisnya marah. Temari yang sudah sampai di hadapnnya, memegang lengannya.

"Sakura, aku mohon maafkan aku. Tolong jangan pergi. Tolong ikutlah dengan kami" isaknya membuat Sakura tersenyum sinis dan menepis tangannya kasar.

"Jangan pernah sentuh aku Nona sok suci. Aku muak dengan kalian berdua. Tangisanmu membuatku ingin muntah!" seru Sakura kasar. Temari masih berusaha menggapainya. Ia berlutut sambil memegang kaki Sakura. Sakura berusaha menghindar.

"Aku mohon Saku..."

BRUKKK

"Grrrrrhhhhhh...Arrrrggggggg"

M.O.N.S.T.E.R.S

Gaara berlari sekuat tenaga. Ia tidak tahu kemana tujuannya. Amarahnya membuat pikirannya hanya ada keinginan untuk menghancurkan. Ia menghancurkan apa saja yang ada di depannya. menggigit, mencabik dan melempar apa saja yang membuat semua amarahnya tersalurkan. Tiba-tiba sebuah gambaran sesosok gadis berambut pink terlintas di benaknya. Gadis yang menjadi sumber amarahnya.

"Grrrrrggggghhh...Aaarrrrgggghhhh!" ia mengaum geram. Segera ia kembali berlari. Ia kemudian menegakkan telinganya. Mempertajam pendengarannya. Hidungnyapun mulai di pertajam. Ia ingin mencari gadis merah mudanya. Gadis itu jauh. Sangat jauh. Ia berlari menuju ke tempat gadis itu berada. Tapi ada yang membuatnya gelisah. Gadis itu ada di antara bau yang lain. Ada banyak orang di sekeliling gadis itu. Bagaimana kalau orang-orang itu melihatnya. Bagaimana kalau mereka membunuhnya sebelum ia bisa menemui gadisnya. Bagaimana kalau...

"Grrrrrrgggghhhh...Aaaarrrrrgggghhhh!" Gaara tidak peduli lagi. Ia harus menemui Sakura. Ia harus menemui gadis itu. Menemuinya dan menyuruhnya untuk tidak bersama laki-laki lain selain dirinya. Ya harus. Ia berlari ke arah di mana gadis itu berada.

Namun karena terlalu fokus pada pendengaran dan penciumannya, penglihatan Gaara memburam. Ia tidak dapat melihat dengan jelas. Bahkan ia tidak melihat kalau di depannya kini ada sebuah bukit kecil yang menjulang sebatas tinggi badannya. Dengan kecepatannya sekarang sudah dapat dibayangkan bagaimana kalau ia menabrak bukit itu. Tubuhnya terpental lima meter karena tabrakan itu. Ia melolong kesakitan. Beberapa saat ia tetap dalam posisinya berbaring.

Mencoba bangkit dan merasa kaki kanan depannya terkilir, ia kembali melolong kesakitan. Ia mencoba bangkit lagi. Kali ini berhasil. Ia berdiri tegak dan berusaha berjalan walau agak tertatih. Ia merasa kali ini sudah tidak dapat berlari lagi.

"Auuuuuuummmm" lolongan kekesalan yang dapat ia keluarkan. Ia marah. Tapi tidak dapat melakukan apa-apa. Ia mencoba berlari tapi tidak bisa. Akhirnya ia hanya bisa berjalan. Masih dalam lajur yang sama menuju ke tempat Sakura. Masih tetap ingin menemui gadis itu.

Beberapa saat ia berjalan, ia kembali menegakkan telinganya dan mempertajam penciumannya. Ia merasa Sakura meninggalkan keramaian dan mendekat ke arahnya. Ya ia tidak salah. Sakura sedang mendekat ke arahnya. Seketika adrenalinnya bangkit. Ia kembali berlari mengabaikan rasa sakit yang menjalar di kakinya. Ia berlari cepat dengan geraman tertahan khas binatang buas dari mulutnya.

Aroma ini, aroma Sakura. Dia sangat yakin. Aroma itu kini hanya tinggal beberapa kilo lagi dari tempatnya kini. Beberapa saat berlari melewati rimbunan pohon-pohon yang menutupi hutan ini, kini dapat di tangkap matanya sebuah sedan yang bergerak cepat ke arahnya. Ia yakin aroma Sakura yang tertangkap indra pembaunya berasal dari mobil itu. sedikit menggeram kala melihat mobil itu bergerak terus melewatinya dengan cepat. Tanpa banyak menunggu lagi, segera ia mengejar mobil itu.

Ia melihat mobil itu berhenti mendadak di depannya. Ada apa? Apa mereka menyadari kehadirannya? Ia melihat seorang perempuan berambut merah muda turun dari mobil itu. Itu Sakura. Ia menyeringai senang. Di belakang gadis itu ada seorang laki-laki yang mengejar dan memegang tangan gadis itu, lalu seorang wanita yang mengikuti mereka berdua. Ia kenal mereka. Itu Kankuro dan Temari. Ia melihat Temari yang berlutut di kaki Sakura. Di percepat larinya menuju mereka. Di jarak yang sudah hampir mendekati mereka, ia melompat dengan kekuatan penuh dan mendarat tepat di hadapan mereka.

BRUKKK

"Grrrrrhhhhhh...Arrrrggggggg"

Pendaratannya menimbulkan getaran kecil di daerah sekitarnya. Ia tidak peduli. Dengan segala emosi ia segera menggeram keras. Membuat semua yang ada di tempat itu menoleh ke arahnya. Termasuk dia. Sakura. Gadis itu. Gaara melihatnya. Tatapan itu. Sakura takut padanya. Entahlah. Ia tidak suka tatapan Sakura padanya. Ia merasa ribuan jarum menusuk hatinya. Hentikan. Hentikan tatapan itu

"Aaaarrrrggggg...ggrrrrrrhhhh" ia menggeram marah. Ia pikir geraman itu akan membuat pandangan Sakura padanya berubah. Ternyata ia salah. Sakura malah menangis. Ia gelisah. Ia tidak ingin Sakura seperti itu.

"Gaara..." ia bisa mendengar Temari memanggilnya lirih.

"Gaara tenanglah!..."

"Aargggggghhhhh...gggrrrrrrhhhhh" tidak. Ia tidak bisa tenang. Melihat Sakura yang ketakutan padanya membuatnya tidak bisa tenang. Ia melihat gadis itu memejamkan matanya kemudian membukanya lagi. Ia berjalan mendekati gadis itu. Gadis itu hanya diam sambil menatapnya ketakutan. Kankuro menyingkir memberi jalan padanya. Saat ini yang ingin ia lakukan adalah mengatakan pada Sakura agar tidak takut padanya. Tapi ia tidak bisa. Ia melihat Sakura bergetar ketakutan dan airmatanya semakin deras. Jangan. Jangan menangis.

"Ni..Nii-chan" ia dapat mendengar Sakura mendesis memanggil kakaknya. Tidak. Jangan takut. Ia tidak suka itu. Ia tidak dapat berkata apa-apa. Dan akhirnya yang ia dapat lakukan adalah menjilat pipi Sakura untuk menghapus airmatanya. Tapi reaksi Sakura membuatnya sangat terpukul.

"Kyaaaaaa!"

M.O.N.S.T.E.R.S

"Aku mohon Saku..."

BRUKKK

"Grrrrrhhhhhh...Arrrrggggggg"

Belum sempat Temari menyelesaikan ucapannya, dentuman yang menimbulkan getaran kecil di tanah tempat mereka berpijak di susul geraman khas binatang buas memotongnya. Temari dan Kankuro menoleh terkejut. Sedang Sakura hanya berdiri kaku sambil menatap makhluk di depannya dengan tatapan campur aduk. Syok, takut, tidak percaya. Temari melepaskan genggamannya pada kaki Sakura dan terduduk lemas.

Dihadapan mereka. Gaara. Dengan wujud serigalanya. Tentu Sakura tidak tahu. Tapi Temari dan Kankuro tahu. Mereka sudah sering melihatnya. Sakura sendiri sebenarnya sangat ketakutan. Hey, ini serigala. Seluruh dunia juga tahu kalau serigala pemakan daging. Itu berarti nyawanya sedang dalam bahaya. Salah sedikit saja ia pasti langsung akan di telan. Apalagi wujud serigala di depannya sangat membuatnya tidak percaya. Serigala ini berukuran sepuluh kali lebih besar daripada serigala pada umumnya. Spesies jenis apa makhluk ini. Sakura belum pernah melihatnya sebelumnya. Apa jenis spesies baru? Atau hasil mutasi gen? Tentu Sakura sedikit tahu tentang hal seperti itu, ia adalah seorang dokter. Susah payah ia menelan ludah dan mundur satu langkah. Bisa di rasakan lututnya yang seperti jelly.

"Aaaarrrrggggg...ggrrrrrrhhhh" serigala itu berteriak ke arah mereka. Tanpa sadar airmata Sakura jatuh. Ia sangat ketakutan.

"Gaara..." panggil Temari lirih. Suaranya hampir tidak dapat terdengar. Gaara? Siapa dia? Rasanya nama itu begitu familiar di telinganya. Ia pernah mendengarnya.

"Gaara tenanglah!..."

"Aargggggghhhhh...gggrrrrrrhhhhh" teriakan Kankuro terpotong oleh raungan makhluk itu. Sakura memejamkan matanya saat mendengar raungan itu kemudian membukanya lagi. Berharap ini hanya mimpi atau khayalannya yang akan segera hilang begitu ia membuka matanya kembali. Tapi tidak. Ini nyata. Makhluk di depannya nyata. Dan kini makhluk itu mendekat ke arahnya. Kankuro menyingkir seperti memberi akses makhluk itu untuk mendekati Sakura. Sakura tidak habis pikir. Apa pria itu mau mengorbankannya jadi persembahan bagi makhluk itu agar ia bisa selamat. Kurang ajar. Sakura juga ingin mundur. Tapi entah kenapa lututnya tidak mau di ajak kompromi. Ia bergetar ketakutan.

Makhluk itu kini sudah ada di depannya persis. Tinggal beberapa langkah lagi. Sakura tidak berani bergerak. Ia hanya menatap makhluk itu dengan tatapan takut dan panik. Airmatanya berjatuhan. Apa ini akhir hidupnya? Sungguh sangat mengenaskan mati di makan serigala. Bukan karena fans fanatik seperti yang sering di bayangkan selama ini.

"Ni...Nii-chan" lirihnya ketakutan. Wajah makhluk itu kini berada di depan wajahnya persis, memandang matanya tajam seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup. Sakura dapat mendengar geraman tertahan khas binatang buas dari makhluk itu. Ia yang sudah sangat ketakutan akhirnya hanya dapat memejamkan mata dan berdoa dalam hati agar nantinya masuk surga setelah di makan serigala itu. Tapi yang dilakukan makhluk di depannya itu membuatnya semakin terkaget-kaget. Makhluk itu menjilat pipi Sakura seolah ingin menghapus airmata Sakura.

"Kyaaaaa!" Sontak saja Sakura menjerit ketakutan. Ia jatuh terduduk dan bergerak mundur. Ia kemudian memejamkan matanya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

"Ampun Tuan Serigala! Jangan makan aku! Aku gadis tidak sopan, egois, keras kepala dan pemarah. Dagingku pasti tidak enak. Aku mohon jangan makan aku!" serunya memohon sambil menangis. Baiklah, itu adalah lelucon paling buruk yang pernah Sakura katakan menurutnya. Ia tahu serigala tidak akan pilih-pilih dalam memakan mangsanya. Tapi ia juga hanya refleks mengatakannya.

Kalau bukan sedang dalam situasi yang tegang, mungkin Kankuro akan tertawa terpingkal-pingkal mendengar kata-kata Sakura. Ia hanya sedikit tersenyum. Setidaknya kata-kata Sakura mengurangi aura tegang di sini. Temari sendiri hanya melongo mendengar kata-kata Sakura. Tangisnya berhenti seketika.

"Gaara...tenanglah! Sakura datang ke sini khusus untuk menemuimu! Jadi tenanglah!" seru Kankuro di samping Gaara. Gaara sedikit meliriknya tajam kemudian kembali menatap Sakura. Gaara? Lagi-lagi Sakura mendengar nama itu di sebut. Siapa sebenarnya Gaara? Sakura merasa pernah mendengarnya. Apa makhluk di depannya bernama Gaara? Berarti ini makhluk peliharaan Kankuro? Sakura berjanji dalam hati akan membunuh pria itu jika hal itu benar.

Tapi ia tidak mau terlalu memikirkannya dahulu. Kini prioritas utamanya adalah menyelamatkan nyawanya. Ia sedikit melirik Kankuro untuk meminta tolong. Tapi yang di dapatnya hanya tatapan tajam dari Kankuro yang sama sekali tidak membantu.

"Bukan begitu Sakura?" tanya Kankuro kemudian. Sakura terkejut mendengarnya.

"Eh..apa?" apanya yang bukan begitu? Sakura sungguh tidak mengerti. Saking paniknya ia tidak memperhatikan perkataan Kankuro. Ia menoleh pada Kankuro dan seketika mendapat pencerahan. "I...iya...a..aku..ti..tidak a...akan...meng...gang...gu...mu, a..aku ...da..datang... ...ba..baik-baik..."

"Sakura ke sini untuk menemuimu" potong Kankuro karena merasa jawaban Sakura sama sekali melenceng dari pernyataannya tadi. Mungkin karena ketakutan ia jadi tidak fokus.

"Apa?!" Sakura terkejut mendengar pernyataan Kankuro kemudian menatapnya kaget. Namun melihat tatapan Kankuro yang seolah mengatakan "katakan iya saja", akhirnya ia mengangguk-angguk panik.

"I...iya...iya...i...itu...be...benar" dalam hati Sakura mengumpat. Jadi benar kalau ia akan di jadikan korban persembahan oleh Kankuro untuk hewan di depannya. Dia jadi menyesal mengiyakan Kankuro. Tapi ia agak heran. Kenapa serigala di depannya tidak menampakkan tanda-tanda akan memakannya? Bahkan Kankuro dan Temari tidak menunjukan ekspresi takut sama sekali. Okelah, wanita yang bernama Temari itu memang agak sedikit menunjukan ekspresi takut. Tapi ia tidak menunjukan tanda-tanda akan berlari walau ia tahu kalau fokus serigala itu sedang tidak tertuju padanya. Seharusnya ia menggunakan kesempatan ini untuk lari. Tapi justru ia masih tetap berada di situ dan menatap serigala ini dengan tatapan sedikit...hm cemas mungkin. Entahlah.

"Sakura sekarang katakan yang ingin kau katakan tadi" Sakura terkejut dengan ucapan Kankuro. Apa? Memang apa yang ingin di katakannya. Satu-satunya yang ingin di katakan pada makhluk di depannya sekarang adalah "Menyingkir dari hadapanku sekarang" lalu ia akan berlari sekencang-kencangnya. Tapi ia tidak mungkin melakukannya. Yang ada, setelah mengatakan hal itu, tubuhnya akan langsung dicabik-cabik sebelum selangkahpun ia lari dari tempat itu. Memikirkannya saja sudah membuat semua otot tubuhnya lemas.

"Kau bilang kau akan menjadi teman Gaara kan? Kau akan berteman dengannya kan? Kau akan senang kan bila ia berada di sampingmu?" sambung Kankuro saat tidak mendapat jawaban dari Sakura. Ia paham dengan posisi Sakura sekarang. Bingung. Itu pasti. Sakura melotot. What the Hell? Apa maksud pria menyebalkan itu? Berteman dengan Gaara? Makhluk mengerikan ini? Merasa senang bila Gaara, makhluk mengerikan, ini ada di sampingnya? Apa dia sudah gila? Ingin rasanya ia mendamprat habis dan mengeluarkan sumpah serapahnya pada pria berambut cokelat itu. Tapi apa yang diucapkan bibirnya kemudian membuatnya semakin melotot.

"I...iya" bibir seolah berkhianat dengan otaknya. Ia bersumpah demi otak bodoh Naruto, ia akan menangisi hidupnya dan menjahit mulutnya agar tidak berbicara selama seminggu ke depan. Mulutmu serigalamu. Oh my god...Ada apa dengannya?

"Kau dengar Gaara? Sekarang tenanglah!" kata Kankuro kemudian. Nafas Gaara sudah tidak seberat tadi. Geramannya sedikit menghilang, walau masih sesekali terdengar. Ia melangkah mendekati Sakura. Sakura ingin bergerak mundur. Tapi tangannya sudah lemas. Ia hanya duduk kaku menatap Gaara yang semakin mendekat. Wajah makhluk itu berada persis di depannya. Ia meneguk salivanya dan menahan nafas. Ia bisa mendengar deru nafas berat makhluk itu menerpa wajahnya. Ia menutup matanya saat wajah makhluk itu bergerak ke samping kepalanya menuju lehernya. Oh Tuhan, ia akan mati. Makhluk itu akan menggigit lehernya dan menghisap darahnya. Entahlah kemana logika Sakura sekarang. Mana ada serigala penghisap darah.

Tapi semua imajinasi Sakura sirna saat ia merasa hidung serigala itu seperti mengendus lehernya. Ia spontan menutup mulutnya untuk menahan teriakannya keluar. Ia takut kalau serigala itu berubah pikiran kemudian menerkamnya karena mendengar teriakannya. Kalaupun makhluk itu kemudian menggigitnya setelah mengendus leher, setidaknya ia akan mati tanpa rasa sakit. Mati dengan perasaan tenang lebih tidak terasa sakit daripada saat merasa panik. Itu yang dipelajarinya.

Sekuat tenaga ia menahan rasa takutnya dan tetap diam. Temari dan Kankuro yang melihat ekspresinya hanya bisa menatapnya dengan tatapan bersalah. Tapi mau bagaimana lagi. Salahkan saja Sakura yang sudah seenak hati memporakporandakan hati Gaara. Tapi ini juga bukan salah Sakura. ia tidak memaksa Gaara untuk menyukainya. Lalu salah siapa? Gaara? Perasaan tidak dapat dipaksakan bukan?

Sakura tambah terkejut saat ia merasa sesuatu yang basah dan hangat menyapu kulit lehernya. Ingin rasanya ia berteriak. Ia tahu apa itu. Itu lidah. Gaara kembali menjilatnya. Antara jijik dan geli. Siapa juga yang mau di jilat seekor serigala? Dua kali lagi. Sakura ingin sekali mendorong tubuh serigala itu kalau saja pemandangan yang sangat mencengangkan tidak tertangkap indra penglihatannya. Tubuh serigala itu bergerak mengecil. Mengecil dan semakin kecil. Saking terkejutnya ia melihat perubahan itu, sampai ia tidak menyadari kepala serigala itu kini bersender nyaman di pundaknya.

Sakura makin terkejut saat melihat akhir dari kejadian menyusutnya tubuh itu adalah sebuah tubuh polos yang tidak tertutup sehelai benangpun. Ia menatap ngeri tubuh yang sedang setengah memeluknya itu. Untung saja tubuh itu dalam keadaan memeluknya, jadi dia tidak akan melihat pemandangan yang tidak-tidak. Tapi siapa juga yang tidak risih di peluk oleh seseorang yang bugil. Apalagi mengingat kejadian menyusutnya serigala tadi menjadi manusia. Sangat tidak masuk logika. Apa ia sedang terlibat dalam syuting film yang sedang mendunia karena cerita manusia serigala dan vampirnya itu? Konyol. Manusia ini pasti iblis. Tidak mungkin. Ia pasti sedang berhalusianasi. Tidak mungkin ada kejadian seperti itu di dunia ini.

Ia merasa tubuh orang itu sangat panas bahkan mengeluarkan asap. Ia memberanikan diri untuk menoleh pelan ke arah wajah orang yang ada di pundaknya itu. Ia membelalakan matanya. Ia melihatnya. Rambut merah itu begitu familiar. Mata yang terpejam dengan efek hitam itu sangat familiar. Wajah itu sangat familiar. Pemuda itu. Ia kenal dengan pemuda itu. Gaara. Ia ingat sekarang. Nama pemuda itu Gaara. Temari pernah menyebut namanya saat mereka pertama kali bertemu dulu. Dan pemuda ini...

"Aaaaaarrrrrggggghhhhh!"

Serigala?

Pandangan Sakura mengabur. Detik berikutnya ia jatuh pingsan dengan Gaara yang berada di atasnya.

M.O.N.S.T.E.R.S

Sai memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ini sudah dua jam sejak kepergian Sakura dan gadis itu belum kembali juga. Jangankan kembali, memberi kabarpun tidak. Dan saat Sai menghubungi ponselnya, yang mengangkat bukan gadis itu melainkan pria yang dikenalnya bernama Kankuro. Parahnya pria itu mengatakan Sakura tidak bisa mengangkat karena sedang pingsan. Siapa yang tidak kaget dan marah mendengar itu. Seharusnya ia memang tidak mengijinkan Sakura untuk ikut dengan pria tidak bertanggung jawab itu. Ia bersumpah akan memberi pelajaran pada pria itu.

Ia berdecih saat menyadari kediaman pria dari alamat yang ada di kartu nama yang diberikan itu, berada dalam wilayah hutan kelap sepi yang berada di pinggiran kota Tokyo, dekat daerah pantai. Ia jadi semakin khawatir dengan kondisi Sakura. Pria itu. Apa yang dilakukannya sampai Sakura pingsan. Ditepisnya pikiran buruk dari otaknya. Tidak mungkin pria itu berbuat jahat tapi memberi alamat rumahnya. Apa ia mau bunuh diri? Tapi tetap saja, pasti ada penjelasan dari pingsannya Sakura kan?

Ia kini telah menemukan sebuah rumah bergaya Korea berlantai dua. Agaknya inilah kediaman sang menteri. Dengan emosi ia segera menepikan mobilnya dan bergerak turun. Ia berjalan mendekati pagar rumah itu dan menuju dua orang yang berpakaian tentara di depan gerbang rumah itu.

"Aku ingin bertemu dengan Sabaku-sama" ujarnya sambil menunjukan kartu nama yang di berikan Kankuro. Kedua penjaga itu saling memandang kemudian mengangguk.

"Silahkan Tuan" jawab salah satu penjaga itu sambil memberi hormat. Sai menyipitkan matanya curiga. Ada apa? Kenapa semudah ini masuk ke teritorial seorang Menteri Pertahanan negara lain? Masuk rumah Menteri Jepang saja susah apalagi dari negara lain.

"Sabaku-sama sudah mengatakan kalau akan ada tamu yang mencarinya nanti. Saya rasa Tuanlah yang beliau maksud" sambung penjaga itu seperti paham dengan pandangan bertanya Sai. Sai hanya mengangguk mengerti

"Tapi sebelum itu Tuan akan saya periksa dahulu untuk memastikan tidak membawa sesuatu yang berbahaya" Sai hanya mengangguk kemudian membiarkan dirinya di geledah. Ia juga menyerahkan kunci mobilnya karena di minta oleh sang penjaga.

Beberapa saat kemudian iapun sudah menginjakkan kakinya di dalam pekarangan luas rumah itu. Tanpa pikir panjang ia segera mengikuti seorang tentara yang berjalan duluan di depannya melangkah menuju pintu utama rumah itu. Tidak seperti pemikiran Sai, isi rumah ini tidak setradisional yang tampak dari luar. Ruangan ini di tata dengan gaya modern dengan segala peralatan yang sering Sai lihat di dalam kantor seorang politisi negara.

Ia kemudian di bawa ke sebuah ruangan yang luas dengan pintu geser yang menjadi penghalangnya dari ruangan yang tadi. Sai kembali emosi saat melihat Kankuro yang sedang duduk membelakangi meja. Kalau tidak ingat ia sedang ada di kediaman seorang Menteri dari negara lain atau status pria di depannya itu, mungkin ia sudah kalap memukul pria itu.

"Dimana Sakura?" Dengan sangat menekan emosinya untuk tidak keluar, ia bertanya diiringi tatapan tajam dan tanpa ada niat sedikitpun untuk menyapa pria itu. Kankuro menghela nafas.

"Duduklah dulu Tuan. Sakura baik..."

"Aku kesini bukan untuk duduk dan berbicara dengan pria tidak bertanggung jawab sepertimu. Cepat katakan dimana Sakura?!" potongnya dengan aura dingin. Kankuro menatapnya tanpa rasa takut. Ia kemudian berdecih.

"Bersikaplah yang sopan Tuan. Kau pikir siapa yang sedang kau hadapi!" balas Kankuro tidak suka. Agaknya ia sudah mulai jengah dipanggil pria tidak bertanggung jawab.

"Aku tidak peduli siapa kau! Siapapun yang membahayakan Sakura, ia musuhku!"

"Aku tidak membahayakan Sakura, Tuan!" balas Kankuro sedikit menaikan satu oktaf suaranya. Agaknya pemuda di depannya ini sudah mulai memancing emosinya.

"Aku tidak peduli! Katakan dimana Sakura. atau kau akan kulaporkan dengan tuduhan penculikan" ancamnya kemudian. Kankuro tersenyum sinis.

"Kau pikir siapa yang sedang kau ancam? Polisi tidak akan begitu mudah mempercayaimu" balasnya sinis.

"Mereka akan percaya setelah menemukan Sakura di rumahmu dalam keadaan pingsan. Dan dengan alasan apa kau menjelaskan kenapa ia pingsan Tuan?" Kankuro menyipitkan matanya. Terdiam tidak dapat menjawab. Ia tahu ia tidak mungkin mengatakan alasan mengapa Sakura pingsan. Tersenyum sinis, ia kemudian memberi kode pada pelayan wanita yang ada di ruangan ini untuk mengantar Sai kekamar tempat Sakura berada. Kini giliran Sai yang menyipitkan matanya. Tidak salah lagi. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Sakura. Namun karena tidak ingin memperpanjang masalah, ia kemudian berbalik dan melangkah mengikuti langkah sang pelayan.

Mereka menaiki tangga menuju lantai dua rumah itu kemudian berjalan menuju sebuah pintu. Segera saja sang pelayan mengetuk pintu tersebut dan membukanya saat terdengar sebuah jawaban dari rungan tersebut.

Sai melangkah masuk dan mendapati pemandangan seorang gadis yang dikenalnya sebagai Sakura sedang tertidur di ranjang king size satu-satunya yang ada di ruangan itu. Di sampingnya seorang wanita berambut pirang sedang duduk menatap ke arah Sai. Ia kemudian berdiri saat melihat Sai yang mendekat ke arahnya.

Tanpa berkata apapun, Sai kemudian menerobos menggantikan dirinya untuk berada di samping Sakura. Ia menyingkap selimut kemudian membungkuk, meletakkan tangan kirinya di belakan leher Sakura dan tangan kanannya di belakang lutut Sakura. Detik berikutnya Sakura sudah berpindah posisi dalam gendongannya. Wanita itu terkejut kemudian memegang lengannya.

"Mau apa kau?" tanyanya panik. Sai menatapnya datar tapi kemudian ia tersenyum.

"Tentu saja membawa Sakura pulang, Nona" jawabnya tenang. "Sangat tidak baik bukan berada dalam rumah seseorang yang baru di kenalnya dalam keadaan pingsan" sambungnya lagi. Temari bisa menangkap nada sinis dalam ucapan pemuda di depannya ini walau ia tersenyum. Ia tersenyum kaku.

"Tuan, kami tidak bermaksud apa-apa. Kami hanya..."

"Aku tidak mengatakan kalian punya maksud apa-apa" potong Sai masih dengan senyumnya. Namun tiba-tiba senyum itu hilang berganti dengan wajah datar. "Kecuali memang kalian mempunyai maksud tertentu" sambungnya datar. Temari sedikit tercekat kemudian kembali tersenyum kaku.

"Apa yang kau katakan Tuan. Kami tidak mungkin melakukan apapun pada Sakura" balasnya. Ia kemudian tersenyum lembut. "Dia itu spesial bagi kami" sambungnya lagi. Sai hanya menatapnya datar beberapa saat kemudian tersenyum.

"Terserah saja, Nona. Tapi setelah ini aku tidak akan membiarkan kalian dekat-dekat lagi dengan Sakura" katanya kemudian. Temari terkejut kemudian menampilkan ekspresi marahnya.

"Apa kau bilang?! Kau pikir kau siapa?! Kau tidak berhak melarang kami!" bentaknya marah. Sai masih dalam pose tersenyumnya.

"Tentu karena aku rekannya. Tenang saja Nona. Aku tidak melarang kalian bertemu dengannya. Hanya saja aku tidak akan membiarkan lagi ia pergi bersama kalian sendirian. Setidaknya ketika ada aku di sampingnya" jawabnya tenang. "Tapi mulai sekarang, setelah kejadian ini, aku akan berusaha untuk selalu berada di sampingnya" sambungnya lagi dengan nada mengejek. Ia kemudian berbalik meninggalkan Temari yang berdiri menatap kepergiannya dengan tangan yang mengepal.

"Yang benar saja"

M.O.N.S.T.E.R.S

Sakura mengerjabkan matanya berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam permata hijaunya itu. Kepalanya berputar. Ia kembali menutup matanya kemudian membukanya lagi. Kini ia mulai dapat melihat dengan normal, walau kepalanya masih terasa berat. Ia mencoba bangun dari posisi tidurnya itu. Berhasil. Ia duduk diam sambil mengamati sekitarnya. Agak terkejut dengan suasana kamar yang di tempatinya kini. Ini bukan kamarnya.

Ia mengedarkan matanya ke sekeliling kamar itu berusaha mengingat-ingat kenapa ia bisa berada di sini. Dan beberapa foto di atas meja di samping ranjang yang di tempatinya kini, membuatnya tahu kamar siapa ini. Ia menatap satu persatu foto itu. Ada dua foto dirinya, Naruto dan Sai. Satu foto dirinya dan Sai. Dan satu foto Sai seorang diri. Ia sudah dapat menarik kesimpulan. Ini kamar Sai.

Tapi kenapa ia bisa ada di kamar Sai? Ia berusaha mengingat kejadian terakhir sebelum ia tidur. Tidak ada kejadian yang mengingatkannya kalau ia sedang bersama dengan pemuda itu sebelum ia tidur. Ia mabuk? Sepertinya tidak. Kemarin kan ia pergi bersama dengan Naruto dan Sai untuk memperbaiki mobil kemudian...

Tunggu dulu. Ia ingat kini. Ia ingat saat ia di jemput paksa oleh Kankuro dan Temari. Ia ingat saat ia bertengkar dengan Temari. Dan ia ingat juga tentang...

Monster serigala? Tidak. Tidak. Itu mustahil. Itu pasti mimpi.

"Uuughhhh" ia merasa kepalanya sakit. Bersamaan dengan itu, ia mendengar pintu kamar yang terbuka dan seseorang yang berlari ke arahnya.

"Kau baik-baik saja Sakura? kepalamu sakit?" tanyanya sambil memegang kepala Sakura. Sakura mendongak menatap Sai.

"Kenapa aku bisa di kamarmu Sai?" tanyanya tidak menjawab pertanyaan Sai. Sai menurunkan tangannya dari kepala Sakura dan menatapnya datar.

"Kau pingsan di tempat Kankuro-san. Aku menjemputmu karena sudah dua jam kau tidak memberi kabar. Aku tidak mengantarmu pulang karena aku tidak tahu pasword apartementmu dan juga aku tidak tega membiarkanmu pingsan dengan tidak ada siapa-siapa di sebelahmu" jawabnya. Sakura terkejut mendengar penjelasan Sai. Tidak. Ia bukan terkejut karena Sai membawanya ke apartement pemuda itu. Tapi ia terkejut karena ternyata kejadian pingsannya ia bersama Kankuro adalah nyata. Berarti monster serigala itu juga nyata. Ia menelan ludahnya. Ini bukan mimpi. Gaara adalah monster serigala? Oh Tuhan, yang benar saja. Ia harus menghindari pemuda itu. Ya, harus.

"Sakura?" panggil Sai menyadarkannya dari lamunannya.

"Y...ya?" jawabnya terkejut. Ia mengerjabkan matanya menatap Sai dengan tatapan bertanya.

"Apa kemarin terjadi sesuatu? Kenapa kau pingsan? Apa mereka melakukan sesuatu yang jahat padamu?" Sakura tercekat. Ia kemudian tersenyum kaku.

"Tidak. Tidak Sai. Mereka tidak jahat padaku" sangkalnya kemudian. Ia lalu terdiam. "Hanya saja aku benar-benar tidak percaya sampai aku jatuh pingsan" sambungnya tanpa sadar. Sai mengerutkan alisnya.

"Tidak percaya? Tentang apa?" Sakura terkejut. Ia mengibas-ngibaskan tangannya.

"Tidak. Bukan apa-apa" Sai menatapnya tidak percaya. Melihat ekspresi Sai yang seolah tidak percaya membuat Sakura tertawa kaku dan melanjutkan kalimatnya. "Kau tahu kan aku orang yang tidak sopan? Karena ketidaksopananku, Temari-san menamparku. Hahaha...aku terkejut dan langsung pingsan" sambungnya.

Sai tahu Sakura tidak bohong. Tidak ada raut ia sedang berbohong dari wajahnya itu. Hanya saja Sakura tampak seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Tentu saja. Sakura bukan tipe orang yang gampang pingsan hanya karena ditampar. Tapi ia tidak ingin memaksa Sakura. Biarlah gadis itu yang akan memberitahunya sendiri kalau ia sudah siap nanti. Ia tahu Sakura selalu terbuka padanya kalau memang ia rasa Sai berhak untuk tahu. Ia sangat mengenal gadis itu. Karenanya ia hanya mengacak rambut Sakura pelan kemudian berdiri.

"Ya sudah kalau begitu. Bangunlah dan mandi. Aku sudah memasakkan makanan untukmu. Ayo kita sarapan" ajaknya kemudian. Namun belum sempat ia melangkah kaki pergi, sebuah tangan menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan melihat Sakura memegang tangannya.

"Ng?"

"Sai, boleh tidak aku tinggal bersamamu untuk beberapa hari kedepan?" oke, gadis ini mulai aneh. Begitu menurut Sai. Ada apa sebenarnya. Ekspresinya mengeras. Bukan karena ia tidak suka Sakura berada di apartementnya. Hanya saja ia merasa telah terjadi sesuatu kemarin yang membuat Sakura seperti ini. Melihat ekspresi Sai, Sakura mengibas-ngibaskan tangannya.

"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Sai. Jangan berpikir macam-macam" katanya panik. Sai tersenyum.

"Siapa yang bilang aku berpikir macam-macam Sakura? Aku hanya tidak mengerti, kenapa kau ingin tinggal denganku?" tanyanya sambil masih tersenyum. Sakura menghela nafas lega.

"Syukurlah, kupikir kau berpikir macam-macam. Aku hanya merasa akhir-akhir ini nasibku sedang sial. Di serempetlah, mobilku lecetlah, pingsanlah. Aku hanya tidak ingin sendiri Sai" jawabnya lesu. Sai menatapnya datar lalu tersenyum. Ia mengacak lagi rambut Sakura.

"Baik...Baik...tidak usah sedih begitu" jawabnya sambil tersenyum. "Segera bangun dan mandi. Kau ada jadwal di Rumah Sakit kan? aku akan mengantarmu. Jangan lupa nanti sore kita akan latihan" sambungnya lagi. Sakura nyengir kemudian mengambil posisi seperti bawahan yang memberi hormat pada komandannya.

"Siap pak" katanya kemudian. Ia segera turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. Sai menatapnya sambil tersenyum. Namun senyumnya itu hilang sesaat setelah pintu kamarnya tertutup. Ia menatap datar pada pintu itu.

"Ada apa Sakura?"

M.O.N.S.T.E.R.S

M.O.N.S.T.E.R.S

Sakura mendesah frustasi dalam mobil Sai. Hari ini sesuai jadwal yang ada, ia dan semua mahasiswa kedokteran lainnya yang akan mengerjakan penelitian akhir diberi masing-masing tugas akhir berupa pengabdian di Rumah Sakit sesuai dengan ketetapan dari Universitas tempatnya menimba ilmu. Sebenarnya tidak ada masalah dengan itu semua. Hanya saja, bagaimana bisa ia mendapat divisi yang sangat tidak di harapkan. Divisi kandungan. Sekali lagi. Divisi kandungan. Yang benar saja.

Bukannya mau menolak. Hanya saja ia tidak terlalu tertarik dengan anak kecil apalagi bayi. Ia mengeluh pada Sai. Tapi jawaban pemuda itu membuatnya tambah emosi.

"Divisi kandungan bukan bekerja untuk mengurus anak kecil, Sakura. Tapi tentang rahim dan pertumbuhan janin. Kau hanya bertanggung jawab sampai bayi itu lahir. Setelah itu kau bebas. Yang bertugas selanjutnya adalah ibunya"

Sama saja menurutnya. Sama-sama berkutat seputar bayi kan?

"Tidak apa-apa kan? hitung-hitung tambah pengetahuan. Kau kan juga seorang perempuan. Punya rahim. Mungkin ini takdir yang di tentukan Tuhan, supaya kau belajar jadi perempuan sejati. Untuk bekalmu nanti mungkin waktu jadi seorang ibu"

Ingin rasanya Sakura mencukur habis rambut pemuda itu. Seenaknya saja kalau bicara. Yang jelas ia merasa kalau hari-hari ini memang hari sial baginya. Bagaimana tidak. Sudah diancam kakaknya, mobilnya lecet di serempet pemuda gila, ketemu monster serigala, lalu terakhir masuk divisi yang paling dihindarinya. Oh kurang sial apalagi dia.

Bicara soal kakaknya, ini adalah hari dimana kakaknya akan mengutus anak buahnya untuk menjemputnya. Huh untung dia sudah mengambil beberapa bajunya tadi pagi setelah mendapat persetujuan dari Sai untuk tinggal bersama pemuda itu. Tapi bagaimana reaksi kakaknya itu kalau tahu ia tidak ada di apartementnya ya? Ia memang sengaja membiarkan rumahnya itu dalam keadaan seperti semula dan hanya membawa beberapa potong baju untuk tiga hari karena ia memang tidak ada niat untuk pindah kemanapun. Biar kakaknya itu tahu kalau ia tidak tertarik atau tidak takut sama sekali dengan ancamannya. Sekali lagi ia menghembuskan nafasnya kemudian memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil Sai.

"Sudah. Tidak usah terlalu dibuat berat begitu. Nikmati saja" nasihat Sai membuat telingannya panas. Gampang sekali kalau bicara. Ia hanya mendengus keras mendengarnya. Tiba-tiba mobil Sai berhenti. Ia membuka matanya. Ternyata ia sudah sampai di apartement Sai. Sai sudah memarkir mobilnya di tempat khusus parkir mobil di apartement ini.

"Ayo" ajak Sai sambil keluar. Sakura tidak menjawab. Hanya ikut melangkahkan kakinya keluar mobil. Sakura mengeluarkan ponsel dan mengutak-atiknya sambil mengikuti langkah Sai. Mereka berjalan memasuki lobby gedung apartement tempat Sai tinggal.

Namun langkah Sai berhenti saat mata hitamnya menangkap satu sosok yang sangat di kenalnya berdiri tepat di depannya menatap kedatangannya dengan marah. Mungkin bukan dirinyalah yang menjadi objek tatapan sosok itu. Tapi gadis yang sedang berjalan di belakangnya saat ini. Sakura. Sakura sendiri yang sedari tadi memang tidak menatap ke depan karena terlalu asyik dengan ponselnya, sukses menabrak punggung Sai.

"Kau ini bagaimana sih Sai? Kenapa berhenti tidak bilang-bilang?" gerutunya sambil menatap punggung Sai kesal. Sai tidak menjawab dan hanya menatap kedepan. Karenanya ia ikut menatap ke depan. Dan apa yang dilihatnya kemudian membuatnya spontan menjatuhkan ponsel di tangannya. Ia terbelalak.

Gaara. Pemuda itu menatapnya tajam. Tatapan yang membuatnya merasa tidak menginjak tanah dibawahnya. Di belakangnya Kankuro dan Temari menatapnya cemas. Sakura spontan bergeser mendekati Sai dan memegang lengan pemuda itu. Ia menunduk guna menghindari tatapan langsung dengan Gaara dan itu membuat pemuda itu mendengus tidak suka. Sai melirik Sakura kemudian menatap lagi kedepan.

"Selamat malam Sabaku-sama. Kebetulan sekali kita bertemu. Apa kalian sedang mengunjungi seseorang di sini?" sapa Sai ramah sambil tersenyum. Gaara menatapnya tak suka. Ia kemudian beralih menatap tangan Sakura yang sedang memegang lengan Sai lalu kembali menatap Sakura.

"Aku ingin bertemu Sakura" jawabnya singkat, padat dan jelas. Ini kali pertama Sakura mendengar suara pemuda itu sejak pertama kali mereka bertemu kemarin. Pakai menyebut nama kecilnya lagi. Sok akrab.

Datar, dingin dan menyeramkan. Itu kesan yang ditangkap Sakura. Ia masih tidak mau menatap pemuda itu. Tangannya yang bergetar semakin kencang mencengkeram lengan Sai. Sai sendiri sedikit mengumpat dalam hati karena cengkeraman Sakura yang menurutnya terlalu berlebihan itu. Namun ia juga sedikit terusik saat merasakan tangan Sakura yang bergetar. Apa yang membuat gadis itu begitu ketakutan?

"Benarkah? Anda kemari khusus untuk bertemu Sakura? Tapi bukankah ini bukan apartement Sakura? Darimana anda tahu kalau Sakura ada di sini?" tanya Sai lagi.

"..."

"..."

"Anoo, Shimura-san. Maaf kalau aku lancang. Aku mengirim anak buahku kemarin untuk memastikan Sakura selamat sampai tujuan dan anak buahku melihatmu tidak membawa Sakura ke apartementnya dan..."

"Wah, wah...bahkan sekarang anda mengetahui nama keluarga saya, Sabaku-sama. Sepertinya anda sangat bekerja keras untuk mengetahui identitas saya. Saya sangat tersanjung" potong Sai sebelum Kankuro menyelesaikan ucapannya. Gaara menggeram.

"Aku ingin bertemu Sakura" desisnya tajam penuh penekanan. Sai menghilangkan senyumnya dan menatap Gaara datar.

"Tapi dari yang aku lihat Sakura sepertinya sedang tidak ingin bertemu dengan anda Tuan" jawabnya tenang. Rahang Gaara mengeras. "Sakura masih tidak enak badan setelah pingsan kemarin. Jadi mohon pengertiannya..."

Buagghh.

"Kyaaa!" belum sempat Sai menyelesaikan kalimatnya sebuah pukulan tepat di wajahnya membuatnya terpental ke lantai. Sakura terkejut. Sangat terkejut. Gaara dengan cepat melakukannya. Bahkan sebelum ia sadar. "Sai!" teriaknya sambil hendak berlari menghampiri pemuda itu.

Namun niatnya itu tidak terlaksana saat ia merasa lengannya ditarik kebelakang oleh seseorang yang akhirnya di ketahui adalah Gaara. Kini ia berdiri di belakang pemuda berambut merah itu dengan gemetar. Sedikit meliriknya tajam, Gaara kemudian melepas pegangannya pada lengan Sakura dan berjalan menuju Sai. Sakura sendiri hanya bisa berdiri mematung setelah mendapat tatapan mematikan dari Gaara. Namun ia kembali sadar saat mendengar Sai berteriak kesakitan. Gaara kembali memukulinya. Spontan saja Sakura berlari menuju mereka berdua tanpa mempedulikan kedua orang yang hanya bisa diam tidak percaya di belakangnya.

Sakura berusaha menarik mundur Gaara. Tapi tidak berpengaruh. Pemuda itu hanya bergeming sedikit, menepis tangannya yang ditarik Sakura kemudian kembali maju hendak memukul Sai. Sai yang mendapat kesempatan sedikit karena tarikan Sakura terhadap Gaara, berusaha untuk bangkit. Namun Gaara kembali menyerangnya dengan menarik kerah bajunya.

"Hentikan!" Sai bisa mendengar teriakan Sakura. Tapi pemuda di depannya sepertinya tidak. Sai melihat matanya yang tanpa ampun menatapnya dengan kebencian dan tidak ada niat sedikitpun untuk menghentikan aksinya karena teriakan Sakura. Ia masih sempat melihat tangan pemuda itu yang terangkat mengambil ancang-ancang untuk memukulnya lagi sebelum kemudian ia menutup matanya pasrah merasakan pukulan tangan itu.

Buaaagghhh...

"Ukhhh!"

Ada apa? Kenapa ia tidak merasa sakit? Ia merasa ada seseorang yang jatuh di depannya. reflek ia membuka matanya. Dan apa yang dilihatnya membuat matanya terbelalak. Gaara. Pemuda itu masih mencengkeram kerah bajunya. Hanya saja pandangannya seperti orang syok. Di bawah kakinya. Sakura. Gadis itu tergeletak tak sadarkan diri.

"Sakura!" panggil Sai reflek menepis kasar cengkeraman tangan Gaara. Entah darimana ia dapat kekuatan sebesar itu untuk menepis cengkeraman Gaara yang jelas-jelas tadi ia rasa sangat kuat. Atau memang cengkeraman tangan Gaaralah yang justru mengendur karena syok melihat Sakura pingsan karena pukulannya.

Yah, Sakura pingsan karena menghalangi Gaara memukul Sai. Tapi akibatnya dirinyalah yang terkena pukulan Gaara. Temari menutup mulutnya kaget. Sedang Kankuro hanya membelalakan matanya tidak percaya.

"Sakura!" teriak Temari sambil berlari menuju Sai yang sedang membalikkan badan gadis itu untuk melihat keadaanya. Sai dapat melihat pipi Sakura yang memar juga darah yang keluar dari hidung dan sudut bibir Sakura. Sedikit menggeram kini Sai membiarkan Sakura berada di pangkuan Temari yang juga sedang memegang tubuh gadis itu kemudian berdiri dan mencengkeram kerah baju Gaara.

Buuaaggghhh...

Kini giliran Gaaralah yang terpental jatuh karena pukulan Sai. Ia jatuh tanpa ada niat sedikitpun untuk berusaha berdiri. Tatapan matanya syok dan kosong. Seperti tidak percaya apa yang di lakukannya tadi. ia sudah tidak peduli lagi nasibnya di tangan Sai. Namun, Sai seolah tidak peduli dengan keadaannya. Ia kembali menghajara pemuda itu bertubi-tubi.

"Gaara!" teriak Temari syok melihat apa yang di lakukan Sai. Disatu sisi ia ingin menyelamatkan Gaara, disisi lain ia tidak mungkin meninggalkan Sakura. Karenanya ia hanya bisa memilih untuk berteriak keras memanggil nama adiknya itu. Mungkin juga memberi sinyal pada Kankuro yang sekarang berdiri kaku tidak tahu harus berbuat apa. Dan teriakan Temari ternyata ampuh untuk menyadarkannya untuk melerai mereka berdua. Beberapa karyawan mulai kasak-kusuk karena melihat perkelahian ini. Salah satu dari mereka kemudian pergi memanggil petugas keamanan.

Kankuro berlari menuju Sai dan menariknya agar tidak memukul Gaara lagi. Tapi Sai yang kalap memberontak dan menyikut perutnya sedikit. Ia merintih. Kini Sai menatap ke arahnya tajam.

"Aku sudah pernah mengatakan padamu kan?" desisnya marah. "Aku sudah pernah bilang kan, kalau kau akan dapat masalah kalau terjadi sesuatu pada Sakura?!" kini Sai berteriak marah. Sangat jarang ia berteriak seperti ini. Ia tidak sadar kalau pupil matanya berubah menjadi putih karena amarahnya. Sedikit tercekat karena merasa aneh dengan tubuhnya, ia segera mengepalkan tangannya dan memejamkan mata sambil menghela nafas meredam emosinya. Ia membuka matanya kembali. Pupil matanya telah kembali menjadi hitam. Ia menatap tajam ke arah Kankuro.

"Kalau sampai kau atau orang-orangmu melukai Sakura lagi, aku pastikan kau juga akan melihat tubuhnya tidak berbentuk lagi" desisnya mengancam sambil menunjuk Gaara. Ia kemudian berjalan menuju Sakura dan merampas tubuh gadis itu dari Temari. Tanpa banyak bicara lagi, ia melangkahkan kaki meninggalkan Gaara yang menatap mereka nanar.

"Sakura"

M.O.N.S.T.E.R.S

"Huwaaaaaaaaa" tangisan Sakura pecah sambil memeluk Sai saat ia baru saja bangun dari tidurnya. Pagi itu ia bangun dengan merasa sakit di wajahnya. Ia langsung dapat mengingat apa yang terjadi kemarin. Sai yang sedari semalam memang tidur sambil terduduk di sampingnya, langsung menanyakan keadaanya begitu ia terbangun karena merasa pergerakan dari tangan Sakura yang ada di genggamannya. Namun Sakura tidak menjawab pertanyaannya. Seperti masih syok. Tentu saja. Ini pertama kalinya ia di pukul laki-laki dengan sungguh-sungguh sampai pingsan. Wajar saja ia syok.

Akhirnya Sai memutuskan untuk mengambil es batu untuk mengompres lagi memar di pipi Sakura. Dan begitu pemuda itu kembali dan duduk di pinggir ranjang, pecah juga tangis Sakura. Ia menerjang dan langsung memeluk Sai sambil menangis dipelukannya. Sai hanya menghela nafas melihat kelakuan Sakura sambil membalas pelukannya dengan sebelah tangan. Ia meletakkan es batu yang ada di tangannya yang sebelah kemudian mengusap rambut Sakura.

"Dasar bodoh, jangan lakukan itu lagi" Sakura tidak menjawab. Hanya menangis. Karenanya Sai mengelus-elus punggungnya seperti menenangkan gadis itu. Setelah beberapa saat menangis, Sai menarik mundur tubuh Sakura untuk melihat wajah gadis itu. Dapat ditangkap matanya memar keunguan yang membekas di pipi kiri Sakura. Sedikit menghela nafas, ia kemudian mengambil es batu yang tadi di letakkan kemudian memegang dagu Sakura agar gadis itu tidak bergerak saat es batu itu menyentuh kulitnya yang memar.

"Ugghhh...hikhik" gadis itu meringis di sela-sela isak tangisnya yang belum berhenti.

"Tahanlah.. ini agar memarnya cepat hilang" katanya kemudian. Sakura tidak menjawab. Hanya menutup matanya erat, seolah berharap rasa sakitnya akan tersalur jika ia melakukan itu. Perlahan Sakura mulai membuka matanya. Agaknya ia sudah mulai terbiasa dengan es batu di wajahnya. Ia kemudian meraih es batu itu dari tangan Sai. Seolah mengerti, Sai melepas genggamannya pada dagu dan juga es batu dan membiarkan gadis itu memegangnya sendiri. Ia menatap datar pada Sakura.

"Jangan hik..menatapku seperti itu hikhik" ucap Sakura terisak sambil menundukan wajahnya. Ia benar-benar tidak suka melihat Sai memandangi wajahnya yang memar seperti itu. Sungguh sangat memalukan. Sai mendengus.

"Kalau kau tidak suka, jangan lakukan hal itu lagi!" bentaknya. Sakura terkejut dan menatapnya takut. Sai yang melihat itu kembali menghela nafas sambil memejamkan mata. "Jangan lakukan itu lagi. Aku juga tidak suka melihatmu begini" kali ini ia mengucapkannya dengan lembut. Sakura yang mencoba untuk berhenti menangis kembali berurai airmata saat mendengar kata-kata Sai. "Kau sudah jelek, tambah jelek dengan memar itu" sambungnya dengan senyum menghinanya. Kontan saja Sakura langsung menghadiahinya sebuah bantal.

"Baka!" teriak Sakura kesal. Sai terkekeh sambil mengacak rambut Sakura. tampaknya gadis itu sudah tidak apa-apa. Sebenarnya Sai ingin langsung menanyakan ada masalah apa Sakura dengan pemuda berambut merah itu. tapi ia membatalkannya. Ia tidak ingin memaksa Sakura mengingat gadis itu yang masih tampak begitu syok. Ia akan menyimpannya dulu. Tapi suatu saat gadis pink itu harus tetap memberi penjelasan padanya. Harus.

"Aku akan memasak, kau mandilah dulu. Aku akan mengantarmu kerumah sakit untuk mengecek memarmu. Setelah itu kita akan ke NJE untuk latihan. Pengabdianmu baru dimulai besok senin kan?" tanya Sai kemudian. Sakura hanya mengangguk. "Ya sudah ayo" sambung Sai begitu mendapat jawaban Sakura. Sakura sendiri kemudian melangkah turun dan mengikuti Sai keluar dari kamar.

M.O.N.S.T.E.R.S

Sakura meringis saat Shizune, seorang dokter muda yang sering menjadi asisten Profesor yang membimbingnya, memegang wajahnya dan menatapnya dengan ekspresi serius. Beberapa saat bertahan dalam posisi itu, akhirnya ia menarik wajahnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Ia alihkan pandangan mata di balik kacamata tanpa framenya menuju ke dua buah foto rontgent yang berada di tangannya kini.

Ia melihat salah satu foto seperti menganalisis. Itu foto tulang pipi Sakura. setelah kembali mengangguk-angguk, ia mengalihkan pandangannya pada foto yang lain. Foto tulang hidung Sakura. setelah merasa yakin, ia kemudian menatap dua orang yang kini menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Cuek dan serius.

"Aku rasa tidak ada yang serius" ucapnya diiringi helaan lega salah satu dari mereka.

"Sudah kubilangkan, aku tidak apa-apa. Kau terlalu berlebihan" celetuk Sakura cuek yang langsung di hadiahi jitakan dari pemuda si sampingnya.

"Ittai...kau mau membuat kepalaku tambah memar?" sungutnya sambil mengelus-elus kepala yang dijitak pemuda itu.

"Kau tahu, wajah adalah aset paling berharga bagi seorang artis? Apa kau benar-benar seorang artis? Kenapa sikapmu seolah-olah kau seorang tentara bukan artis?" ucap Sai, pemuda tadi sarkastik. Sakura mendengus mendengarnya.

"Aku tahu. Hanya saja aku merasa tidak ada yang perlu di khawatirkan. Ini tubuhku aku yang merasakan" Shizune terkikik mendengar perdebatan dua manusia di depannya.

"Sepertinya Sakura-chan benar Sai-kun. Tidak ada yang serius dengan memarnya. Tidak ada luka di mata dan juga tidak ada tulang yang retak atau patah. Sepertinya pipi tembemmu yang menyelamatkanmu" kata Shizune sambil tertawa pelan. Sakura hanya menggerutu mendengarnya. "Kau hanya perlu mengoles salep yang kuberikan dan sering mengompresnya dengan air es agar memarnya cepat hilang. Dan jangan lupa juga untuk meminum obat yang ku berikan untuk sedikit mengurangi rasa sakitnya" sambungnya panjang lebar. Sai mengangguk-angguk paham sementara Sakura hanya menggumam cuek.

"Tapi kalau boleh aku tahu. Kenapa kau bisa sampai memar begini" pertanyaan Shizune membuat Sakura tercekat. Ia langsung melirik Sai yang hanya diam menatap dirinya.

"Hahahaha...aku hanya kena korban salah pukul fans gila yang terlalu anarkis. Maklum lah... penyanyi terkenal, pasti banyak fans yang tergila-gila" jawab Sakura sambil tertawa canggung yang di balas oleh kekehan Shizune. Agaknya wanita muda itu tidak sadar kalau Sakura sedang berbohong. Sakura kembali melirik Sai yang hanya diam menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. Ia hanya menghela nafas. Pemuda yang sama sekali tidak membantu. Untung saja Shizune tidak menyadarinya.

"Kau selalu percaya diri seperti biasanya" katanya sambil tersenyum tipis. Tiba-tiba Shizune seperti mengingat sesuatu.

"Ah ya Sakura-chan...dari tadi pagi aku mendapat telepon terus menerus dari Naruto-kun. Dia terus bertanya tentangmu. Apakah kau di rumah sakit atau tidak" ucapnya kemudian. Sakura menaikan alisnya.

"Hah? Naruto?" tanyanya bingung. Shizune mengangguk. "Ada apa dia mencariku? Tumben? Apa mobilku sudah selesai di perbaiki?" tanyanya entah pada siapa. Ia kemudian menatap Sai. "Apa dia juga menghubungimu?" tanyanya pada pemuda itu. Sai menggeleng.

"Ponselku dari semalam tidak aktif. Baterainya habis. Aku tidak sempat mencharge karena mengantarmu kesini" Sakura mendengus. Kebiasaan lama. Sakura juga sering kepayahan menghubunginya karena ponsel Sai sering tidak aktif, yang jika di tanya, selalu Low battery di gunakan sebagai alasan. Dan jika di tanya tentang mengapa tidak segera di charge, ia selalu menjawab dengan sejuta macam alasan. Sakura melengos.

"Memangnya ponselmu kenapa Sakura-chan? Kenapa Naruto-kun tidak langsung menghubungimu saja?" tanya Shizune kemudian. Sakura menghela nafas. Bayangan kejadian tadi malam terlintas di benaknya. Ia ingat menjatuhkan ponselnya saking terkejutnya dia saat melihat Gaara.

"Entahlah Shizune-senpai. Sepertinya terjatuh saat aku di serang fans anarkisku" katanya sekenanya. Shizune mengangguk-angguk paham. Sakura kemudian menatapnya. "Apa Naruto mengatakan atau menanyakan hal yang lain?" tanyanya kemudian. Shizune menggeleng.

"Hanya itu yang ia tanyakan. Aku sendiri bosan dan kesal ia menanyakan pertanyaan yang sama terus-menerus" kata Shizune denga raut yang sedikit kesal. "Mungkin ia mendapat feeling kalau kau akan mendapat musibah dan akan datang ke rumah sakit" tebaknya kemudian. Sakura mengangkat bahu.

"Yah mungkin" jawabnya singkat. Shizune tersenyum.

"Kalian benar-benar sehati ya? Sampai kau terlukapun dia bisa tahu. Sampai khawatir segala" Sakura mendengus. Lucu sekali. Naruto tidak seperti itu. sakura tahu itu. Pemuda pirang itu adalah orang yang paling tidak peka yang pernah ditemuinya. Itu terbukti dengan tidak pekanya pemuda itu pada seorang teman sesama artis di managementnya yang jelas-jelas semua orang satu management tahu kalau gadis itu menyukai Naruto. Tapi memang dasar Naruto saja yang bodoh sampai tidak menyadarinya. Jadi jangan salahkan Sakura kalau ia agak sanksi dengan apa yang dikatakan Shizune. Lalu mengapa sampai Naruto mau repot-repot mencarinya? Sampai di rumah sakit pula? Sampai berkali-kali pula? Apa ada hal yang sangat penting?

"Sebaiknya kau segera menghubungi Naruto-kun, Sakura-chan. Aku rasa ada hal penting yang ingin dikatakan" saran Shizune. Sakura mengangguk.

"Yah, aku rasa juga begitu" balasnya sambil melirik Sai memberi kode untuk langsung pergi dari situ.

"Baik Shizune-san, kami permisi dulu. Terima kasih atas bantuannya" setelah sekian lama diam, akhirnya Sai angkat bicara. Agaknya ia paham maksud Sakura. shizune mengangguk kemudian ikut berdiri setelah dua orang di depannya melakukan hal yang sama. Sakura dan Sai membungkuk sekilas kemudian berbalik.

"Arigatou senpai, ja nee"

M.O.N.S.T.E.R

"Sakura-channnn!" telinga Sakura mau pecah mendengar teriakan di depannya. ingin rasanya ia menjitak kepala pirang bodoh itu, kalau saja ia tidak merasa sesuatu yang tampak berbeda dari biasanya. Entahlah. Perasaannya tidak enak. Saat ini ia telah berada di lobby NJE, setelah ia memeriksakan dirinya ke rumah sakit tadi, melangkah bersama Sai di sampingnya. Dan entah hanya perasaan atau tidak, ia merasa semua orang menatap ke arah mereka sambil berbisik-bisik. Sakura tidak tahu apa yang mereka diskusikan.

Sakura sudah merasakan hal ini sejak di gerbang tadi. saat ia menanyakan pada Sai, pemuda itu hanya mengangkat bahu cuek.

"Entahlah Sakura. Mungkin karena kacamata dan topimu itu" mungkin seperti itulah jawabannya tadi. Yah, memang karena luka memar di wajahnya, Sakura memang sengaja memakai kacamata dan topi kemanapun ia pergi untuk menutupi memarnya itu. Ia sedikit berpikir positif. Yah, mungkin Sai benar. Tapi apa benar begitu?

"Baka! Tidak usah teriak-teriak kenapa?! Aku tidak buta!" bentak Sakura tertahan. Agaknya ia masih merasa tidak enak dengan aura di sekelilingnya. Naruto tidak mempedulikannya. Ia segera menerjang memegang kedua bahu Sakura. wajahnya tampak begitu panik. Sakura makin tidak enak hati. Ada apa? Biasanya pemuda itu langsung cengengesan atau takut kalau ia membentaknya. Atau bentakannya kurang meyakinkan?

"Sakura-chan, kau darimana saja? aku sangat mencemaskanmu?! Bagaimana lukamu?!" serunya panik. Sakura menghela nafas lega. Sepertinya Shizune benar. Ini hanya feeling Naruto saja. tapi tunggu dulu darimana pemuda itu tahu ia terluka? Apa lukanya tidak tertutup dengan jelas sehingga masih bisa terlihat? Tidak, kalau Naruto baru tahu sekarang, kenapa juga ia begitu panik sampai ia harus menghubungi rumah sakit?

"Ada apa kau mencariku Naruto? sampai menghubungi Shizune-senpai segala. Ini hanya luka kecil. Aku tidak apa-apa!" jawab Sakura cuek. Naruto hanya mengangguk-angguk kemudian menatapnya dari ujung rambut ke ujung kaki. Seperti sedang menilai.

"Ada apa denganmu?! Kau membuatku risih tahu!" suaranya naik satu oktaf. Ia sudah tidak tahan dengan sikap Naruto itu. Naruto hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seperti sedang berusahan menepis semua pikiran negatifnya kemudian kembali dalam pose panik. Sakura tampak jengah melihat tingkahnya. Makhluk aneh. Begitu pikirnya.

"Gawat Sakura.! Gawat, segawat-gawatnya berita gawat!" Sakura mendengus. Oke, pemuda di depannya semakin aneh. Haruskah ia menjitak kepalanya lagi agar otaknya kembali pada posisi yang seharusnya?

"Bicara yang jelas Naruto!" kata Sakura geram. Naruto tampak bingung bagaimana harus menjelaskan maksudnya. Karenanya ia mengutak-atik ponselnya sesaat kemudian menyerahkan benda itu kepada Sakura. Sakura yang masih tidak mengerti hanya menerima ponsel itu sambil memasang tampang orang bingung.

Awalnya ia merasa tidak ada yang aneh. Itu hanya beberapa foto dirinya. Entahlah siapa yang mengunggahnya ke internet dan bagaimana orang itu mendapat foto-foto ini, tapi ia merasa tidak ada yang salah dengan foto-foto itu. Mungkin penggemarnya. Apanya yang aneh? Dia artis wajar foto-fotonya beredar di internet. lalu kenapa Naruto begitu panik? Ia mengamati dengan seksama. Itu adalah foto-foto saat Sai mengantarnya ke Divisi Kandungan saat pembagian divisi tempatnya mengabdikan diri nanti. Oke apa yang aneh?

Dia menskrol ke bawah. Alisnya sedikit mengkerut. Itu foto-foto ia dan Sai waktu keluar dari apartement Sai. Oke, dia mulai agak gugup disini. Perasaannya tidak enak. Ia menskrol lagi dan melihat foto-foto yang tampak tidak asing dan membuatnya semakin bingung. Itu foto Temari yang berlutut sambil menangis di depannya dengan Sai di sampingnya saat mereka mengurus mobil Sakura kemarin. Foto yang lain menjelaskan Sakura yang di tarik masuk oleh Temari dan Kankuro ke dalam mobil.

Ia menskrol lagi ke bawah kemudian menahan nafas. Itu foto terakhir. Foto-foto perkelahian semalam. Dapat ia lihat Gaara yang memukul Sai, kemudian Gaara yang memukul dirinya. Lalu Sai memukul Gaara dengan dirinya yang sudah pingsan dipangkuan Temari. Mungkin Sakura akan bersikeras menganggap foto-foto itu tidak bermakna kalau saja ia tidak melihat artikel di bawah foto-foto itu yang membuat dunianya berputar.

SAKURA HAMIL, SHIMURA SAI DAN KEKASIH SAKURA TERLIBAT PERKELAHIAN.

"NANNIII!"

TO BE CONTINUE

Akhirnya selesai juga... #teriak frustasi#

Saya pikir ini chapter paling ftv yang pernah saya buat. Saya dengan segala upaya mencari cara supaya Sakura-chan mau balik lagi sama Pein. Dan ini satu-satunya cara yang dapat saya pikirkan...

Okeeeee...#teriak gila#

Minna-chan, dengan berakhirnya chapter ini, yeo yo mau bilang kalau tokoh utamanya udah keluar semua. Nah... karena udah keluar semua, yeo yo mau kasih sayembara nih minna...#plakkk#kurang kerjaan#

Sesuai dengan judulnya "Monster's" dan juga sesuai dengan MV yang membuat yeo yo terinspirasi untuk buat fic ini (yeo yo juga dah pernah share ke seseorang), monster dalam fic ini ada lima orang. Lalu apa hubungannya dengan sayembara? #dilemparbatu#

Oke, yeo yo mau kasih pertanyaan buat minna-chan. Kira-kira siapa lima orang yang menjadi monster dalam fic ini? Klunya udah sering yeo yo sebut dalam fic, tinggal minna-chan sadar ga hahaha!#plak#

Bagi yang bisa menjawab dengan benar pertama kali berhak untuk memenangkan hadiah dengan pilihan di bawah ini :

Dicium yeo yo (author) #dilempargranat#reader:ga sudi!

Boleh tanya satu pertanyaan(apa saja, boleh tentang author atau tentang fic ini. Termasuk akhir cerita seperti apa), yeo yo akan menjawab dengan sejujur-jujurnya

Minta di buatin fic khusus dengan pairing yang ditentukan pemenang

Bisa request pairing akhir dari fic ini dengan pilihan :

Gaasaku

Sasusaku

Narusaku

Saisaku

Itasaku

Deisaku

Peinsaku#plak#

Sasosaku#doubleplak#

Konansaku#tripleplak#

Etc

Yang kemudian akan yeo yo pertimbangkan lagi! hahahaha(ketawa laknat) #dilemparbom#

Jawaban paling lambat di tunggu sampai chapter depan updet. Yang sudi ikut sayembara silahkan ketik jawaban masing-masing. Reader: ga da yang mau #mojok dikamar#

Oke akhir kata, fic ini dan segala isinya hanya untuk refresing aja...

Mohon jangan membenci chara yang saya pakai, karena saya hanya minjem...

Dan mohon maaf juga kalau chara favorit kamu saya pakai buat jadi peran antagonis... sekali lagi saya Cuma pinjem chara...

Dan jangan benci authornya juga yah...

Oke ce u next capter...

Kritik dan saran yah...