Chapter 7 : Closer

Kedua netra Yoongi tak henti-hentinya menatap kembang api yang kini turut menghiasi gelapnya angkasa dengan pandangan takjub. Namjoon yang melihat hal itu pun menyimpul sebuah senyuman tipis.

'Selamat ulang tahun, Min Yoongi.'

Kedua netra indah milik Yoongi setia memandang langit berhias kembang api tanpa henti. Bahkan ia sampai terdiam sembari membuka mulutnya saking kagumnya.

Namjoon yang sedari tadi memerhatikan Yoongi pun tersenyum tipis.

'Lucunya...' Pikir Namjoon seraya mengulum senyum.

Setelah pertunjukkan kembang api berakhir, Yoongi menolehkan kepalanya ke arah Namjoon dengan pandangan heran, membuat Namjoon menautkan kedua alisnya.

"Ada apa?"

"Kau... apa tujuanmu membawaku kemari dan memperlihatkan pertunjukkan kembang api ini padaku? Aku tahu kau itu kaya raya, tetapi dengan membeli kembang api sebanyak itu, bukankah tak mu--"

Yoongi dibuat bungkam oleh Namjoon. Pasalnya, jari telunjuk anak lelaki di hadapannya tengah menempel dengan setia di bibirnya, mengisyaratkan Yoongi untuk tak berkata sepatah katapun lagi. Namjoon terus menatap Yoongi dengan pandangan yang sulit diartikan.

Kasih sayang? Kebencian? Ataukah amarah?

Entahlah... Yoongi masih buta akan hal itu. Sangat sangat buta.

"Min Yoongi..." Panggil Namjoon dengan suara rendahnya. Yoongi hanya membalas panggilan itu dengan sebuah anggukan.

"Aku... bisakah kita-- bisakah kita menjadi semakin dekat? Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Jangan menghindariku, dan mari berteman layaknya kau dan Hoseok."

Permintaan Namjoon, entah mengapa terdengar begitu menyedihkan di telinga Yoongi. Otaknya dengan kejam menolak mentah-mentah permintaan anak itu. Namun entah mengapa... hatinya mengizinkan, seperti tahu apa yang sebenarnya diinginkan Yoongi.

Setelah sekian lama bergulat dengan pikiran juga hatinya, Yoongi pun menelan saliva-nya gugup lalu menganggukkan kepalanya.

"Ba-baiklah... aku... aku akan menjadi temanmu--" Jawab anak lelaki pemilik gummy smile tersebut, sementara Namjoon memandang Yoongi dengan kedua mata yang membulat besar.

Hingga sedetik kemudian Namjoon merentangkan tangannya lebar-lebar lalu berteriak kegirangan.

"YEEAAHH~! AKHIRNYA AKU BISA BERTEMAN DENGAN MIN YOONGI!!!" Segera Namjoon menangkup wajah mungil Yoongi yang entah mengapa terasa sangat pas dengan besar telapak tangannya, membuat wajah Yoongi kini bersemu merah.

"Yoongi..." Panggil Namjoon dengan lembut. "Mulai sekarang, mari lakukan berbagai hal bersama dan mulai untuk berbagi kebahagiaan maupun kesedihan bersama. Aku berjanji tak akan meninggalkanmu dan akan terus menjagamu sampai akhir." Ujarnya diiringi dengan senyuman hangat. Yoongi hanya terdiam menatap wajah tersenyum milik Namjoon.

Senyuman Kim Namjoon, tak tahu mengapa dapat membuatnya terpaku hingga lemas tak berdaya.

'DEG!'

Sontak Yoongi meremas dadanya kuat-kuat.

Tadi... sesuatu dalam dadanya berdetak dengan kencang. Rasanya menyakitkan, tetapi tak tahu mengapa Yoongi menyukainya.

'Ta-tadi itu... apa?'

Sejak malam itu, hubungan Yoongi dan Namjoon pun semakin dekat. Tak jarang pula orang-orang melihat kebersamaan mereka; makan siang, bersenda gurau dan berjalan pulang, selalu dilakukan bersama.

Mereka bertiga; Yoongi, Namjoon dan Hoseok menjadi sangat dekat, sampai orang-orang merasa segan untuk memutuskan tali yang menghubungkan mereka.

Hingga pada suatu hari...

"Namjoon." Panggil Hoseok pada Namjoon yang tengah bermain dengan skateboardnya.

"Hm?"

Segera Hoseok melangkahkan kedua tungkainya, menghampiri Namjoon.

"Kau... menyukai Yoongi, 'kan?"

DEG

Tubuh Namjoon membeku seketika.

"A... apa? Apa katamu?"

"Kau menyukai Min Yoongi, 'kan?"

Sontak semburat merah muncul di kedua pipi Namjoon, meski hanya samar.

"Ka-kata siapa? A-aku tidak menyukainya--"

"Jangan bohong! Kau menyukai Yoongi, 'kan?!" Bentak Hoseok sembari mencengkram kerah seragam milik Namjoon, membuat Namjoon refleks membulatkan kedua matanya.

"Kau..." Ucapan Hoseok terhenti. Nafasnya tersengal; sangat berat.

"Kau... menyukai Yoongi. Aku tahu. Kau menyukai Yoongiku. Min Yoongiku."

Kedua alis Namjoon bertaut.

Ia heran, ada apa dengan Hoseok? Mengapa ia terlihat tak suka jika ia menaruh rasa pada Yoongi? Apa jangan-jangan--

"Hoseok. Kau tak menaruh hati pada Yoongi, bukan?"

Mendengar pertanyaan Namjoon, Hoseok pun semakin menguatkan cengkramannya.

"Jangan bercanda. Aku menyayangi Yoongi sebagai kakak. Jawab pertanyaanku. Kau menyukainya, benar bukan?"

Pertanyaan Hoseok... benar-benar membungkam mulut Namjoon. Anak lelaki berlesung pipit itu tak kuasa untuk membuka mulutnya, barang satu kata pun.

Hingga...

"Ya."

Namjoon menjeda ucapannya.

"Aku menyukai Yoongi. Lalu kenapa? Apa kau tidak setuju? Aku tidak peduli." Ucapan Namjoon membuat Hoseok tertawa remeh. Ia menatap tajam Namjoon.

"Kau pecundang."

"Apa?"

Tatapan Hoseok tepat menghunus diri Namjoon. Akurat dan tajam; bak anak panah.

Sedetik kemudian Hoseok membalikkan tubuhnya.

"Katakan padanya, dan jangan menjadi seorang pengecut."

Tak lama hingga punggung Hoseok kini tak lagi tertangkap oleh netra tajam milik Namjoon, namun pria berlesung pipit itu tetap terdiam di tempatnya. Otaknya dipenuhi oleh kata-kata Hoseok.

"Katakan pada Yoongi...? Apa aku bisa?"

Bel pulang pun berbunyi. Sontak sorak riuh para murid memenuhi seisi sekolah. Semua murid bergegas untuk pulang ke rumah, tak terkecuali dengan seorang murid dengan wajah pucat nan manis; Min Yoongi.

Yoongi kini telah menggendong ransel di pundaknya dan berjalan menghampiri Hoseok.

"Ayo pulang, Hoseok." Ajaknya dengan nada datar. Yang diajak bicara hanya tersenyum menanggapi ajakan Yoongi.

"Hari ini aku akan bermain bola dengan Wonho dan kawan-kawan. Kau pulanglah berdua dengan Namjoon."

Yoongi mengerucutkan bibirnya.

"Baiklah--" Anak itu segera melangkahkan kakinya meninggalkan kelas yang diikuti oleh Namjoon. Namun, langkah Namjoon terhenti karena kini Hoseok menahan tangannya.

"Katakan bahwa kau menyukainya, Namjoon." Ujar Hoseok dingin. Namjoon hanya terdiam mendengarnya, tak berniat untuk membalas sepatah katapun dan segera melenggang pergi meninggalkan kelas.

"Min Yoongi, tunggu!" Seru Namjoon kala netranya sukses menangkap sosok Yoongi yang tengah berjalan membelakangi dirinya. Sontak Yoongi menolehkan kepalanya ke belakang; tetap dengan wajah datarnya.

"Cepatlah. Kau bahkan lebih lambat dari seekor siput." Ujar Yoongi tajam dan dibalas dengan kekehan ringan yang keluar dari mulut Namjoon.

"Baiklah, maafkan aku."

Kini Namjoon dan Yoongi berjalan berdua, melangkahkan kedua tungkai mereka dengan irama yang sama menuju gerbang sekolah. Terlihat sesekali Namjoon mencuri pandang ke arah tangan Yoongi yang kosong; tak menggenggam apapun.

Ingin sekali dirinya menggenggam tangan halus itu, menariknya lalu membawa sang pemilik tangan itu ke sebuah tempat yang--

Tunggu. Tempat?

Mendadak Namjoon mengingat sesuatu.

Sedetik kemudian, tanpa ragu ia menarik sebelah tangan Yoongi dan mengajak anak itu berlari ke arah yang berlawanan dengan destinasi yang seharusnya, membuat sang anak yang tubuhnya lebih mungil itu berteriak dengan kencang.

"YA!! KIM NAMJOON!! KAU INGIN MATI, HAH?! AKU AKAN KAU BAWA KEMANA?!"

"Diamlah dan ikuti saja. Bukan sebuah tempat yang buruk. Kau pun mengetahuinya."

Mereka berdua terus berlari, menghiraukan tatapan orang-orang sekitar yang memandang mereka risih. Pasalnya, sang bocah berkulit pucat itu tak henti-hentinya mengoceh dengan suara yang tak dapat dibilang pelan. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah bukit. Bukit yang menjadi awal pertemanan mereka.

"...I-ini kan--"

"Benar. Kau ingat bukit ini, bukan?"

Yoongi mengangguk pelan.

"Bagaimana jika kita melihat matahari terbenam disini? Kurasa akan sangat indah."

Terlihat Yoongi menggigit bibirnya; menimbang apa yang sebaiknya ia jawab.

"...Baiklah. Tapi, antar aku pulang, ya?" Pinta Yoongi yang dibalas dengan dengusan geli dari Namjoon.

"Request accepted, princess."

Sudah 15 menit lamanya mereka duduk bersama dibawah salah satu pohon rindang disana; sebuah pohon yang paling besar. Mereka terus duduk dalam diam, karena masing-masing sibuk menahan debaran jantungnya sendiri.

"Y-Yoongi..." Panggil Namjoon pelan.

"Hm?"

"Aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu."

"Apa itu?"

"Kurasa... aku harus menarik semua yang ku ucapkan waktu itu, disini."

Yoongi menautkan kedua alisnya; bingung.

"Maksudmu?"

"Aku... tak ingin lagi menjadi temanmu, Yoongi."

DEG

Mendadak detak jantung Yoongi serasa berhenti sejenak. Sesuatu seperti mencekik tenggorokannya, hingga kedua matanya terasa panas dan siap mengeluarkan cairan beningnya kapanpun juga.

"...A-apa? A-aku... aku tak mengerti, Namjoon."

Namjoon terdiam sesaat. Ia terus memerangkap Yoongi dalam pandangannya. Sejenak kemudian dirinya menarik nafas dalam-dalam.

"Kubilang, aku tak mau lagi berteman denganmu..."

"Dan jadilah kekasihku."

TBC