One day you screaming you love me loud, the next day you're so cold

One day you here

One day you there

One day you care

You're so unfair

Entah mengapa mendengar potongan lirik lagu itu aku merasa seperti ditampar. Seperti menggambarkan perlakuan Jongin huh? Aku pun langsung mematikan CD player yang dinyalakan Chen hyung tadi. Sekarang aku dan Chen hyung sedang dalam perjalanan menemui Kris hyung dan Jongin, Chen hyung bilang mereka sering menghabiskan waktu di salah satu club di tengah kota. "Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Kris." Itu yang dikatakan Chen hyung saat menjemputku di apartement tadi.

"Kenapa kau matikan? Ku pikir kau suka JT eh?" Chen hyung bertanya, matanya masih fokus pada jalanan di depan kami.

"Well, sebenarnya aku lebih suka JB hyung." Jawabku jujur.

Chen hyung meledak dalam tawanya, "Ku pikir seleramu bisa lebih baik Sehun, tak heran kau labil." Katanya masih belum bisa menguasai tawanya.

"Ya bicaralah sesukamu hyung." Kataku lalu mendengus.

"Ngomong-ngomong kita akan ke Xober Club kau tidak akan hilang kan? Aku baru ingat kau punya phobia keramaian, nanti kau bisa pegang tanganku kalau takut hilang." Chen hyung berkata enteng.

Aku terkejut mendengar perkataannya, "Sejak kapan club itu beroperasi lagi? Bukankah dulu sempat terbakar?"

"Baru beberapa minggu kurasa, kau pasti tahu club itu banyak pelanggannya, tempatnya pun strategis di tengah kota, tak heran pemiliknya benar-benar berusaha untuk memperbaiki club itu secepatnya. Kudengar sejak dibuka kembali club itu makin ramai saja, bahkan lebih ramai karena banyak fasilitas baru yang disediakan club tersebut." Chen hyung menjelaskan.

Itu adalah tempat dimana Jongin menyatakan perasaannya dulu kepadaku, tempat dimana aku mendapatkan phobiaku. Aku tidak yakin bisa berada disana tanpa Jongin disampingku.

"Sehun! Kau tidak mendengar apa yang kukatakan huh?" Chen hyung menyadarkanku.

"Eh memang kau berbicara apa hyung?"

"Ck kebiasaan sekali tidak mendengar perkataan orang lain dan malah tenggelam dalam dunianya sendiri. Fokuslah Sehun!" Chen hyung membentakku, kurasa dia benar-benar marah sekarang.

"Maaf hyung, aku memang susah fokus akhir-akhir ini, kumohon jangan membentakku lagi." Jika sudah memohon begini biasanya siapapun akan memaafkanku.

"Sudahlah tidak perlu memelas seperti itu, tidak berpengaruh padaku. Maaf aku membentakmu tadi. Emosiku tidak stabil akhir-akhir ini." Suaranya melembut. "Tadi aku berkata, kalau kita sudah menemukan mereka berdua nanti aku akan langsung membawa Kris pulang dan kau selesaikanlah urusanmu dengan Jongin, kita harus menyelesaikannya malam ini Sehun."

Aku hanya mengangguk mendengar apa yang dikatakan Chen hyung. Entahlah, aku tidak yakin. Aku rasa Jongin tidak akan berbuat sejauh itu.

"Hyung, sudah berapa lama kau berpacaran dengan Kris hyung?"

"Sudah hampir empat tahun, kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu?"

"Sudah cukup lama juga ya, apakah kau benar-benar tidak mempercayai Kris hyung sampai kita harus berusaha 'memergoki' mereka seperti ini?"

"Kenapa kau ikut denganku jika kau percaya mereka tidak berbuat macam-macam huh?"


Kami baru saja sampai. Chen hyung mematikan mesin mobilnya.

"Ayo turun. Jangan bilang kau ingin aku memegang tanganmu." Katanya sambil tertawa geli.

"Ck asal kau tidak terlalu jauh dariku aku tidak perlu memegang tanganmu hyung." Ujarku sebal.

Kami pun turun dari mobil dan berjalan menuju lift untuk naik ke atas. Chen hyung terpaksa parkir di basement karena diluar sudah penuh. Kami berada dalam lift bersama beberapa orang lainnya yang terlihat sekali ingin melewati jumat malamnya dengan penuh kesenangan. Aku meyakinkan diriku sendiri untuk tenang.

Setelah pintu lift terbuka kami masih harus melewati lorong panjang, di kanan kiri lorong tersebut terlihat beberapa pintu dengan nomor didepannya, pintu-pintu ini menuju private room untuk orang yang sangat membutuhkan hiburan dan privacy disaat bersamaan. "Mereka ada di pintu ke tujuh sebelah kanan." Chen hyung berkata sambil melihat ponselnya. Hanya beberapa orang saja yang melintas di lorong ini, sekarang masih jam dua belas. Wajar jika mereka masih menikmati waktu. Setelah berjalan lumayan jauh akhirnya kami sampai di pintu ke tujuh dari kanan. Entahlah rasanya seperti akan sidang kelulusan, aku belum siap menerima kemungkinan terburuk.

"Kau siap Sehun?" Chen hyung kelihatan sudah tidak sabar.

"Hmm." Setidaknya aku tidak sendirian.

Chen hyung pun membukakan pintu dan mendorongku masuk.

"SURPRISEEEE! HAPPY BIRTHDAY SEHUN!" Otakku masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Apa hari ini 12 April? Aku bisa mendengar mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku. Baekhyun dan Kyungsoo hyung, Luhan dan Tao hyung, Minseok dan Suho hyung, Lay dan Chanyeol hyung, Kyuhyun dan Ryeowook hyung, dan Jongin berada di tengah-tengah mereka memegang kue lalu berjalan mendekatiku.

"Ayo make a wish Sehunna." Katanya sambil tersenyum.

Jujur aku masih terkejut dengan semua ini, semuanya terjadi sangat cepat. Aku memejamkan mataku dan berdoa, semoga kebahagiaan seperti ini akan terus kami rasakan, semoga ke depannya akan lebih baik untuk kami semua. Aku membuka mata dan meniup lilin yang menunjukkan umurku.

"Jadi ini semua apa maksudnya Jongin?" Jujur aku belum mengerti.

Jongin menengok ke belakang entah apa yang dia lakukan lalu menghadap lagi ke arahku. Dapat kulihat mereka yang di belakang mengangkat semacam banner bertuliskan "Sehun please marry me."

Aku mengernyit, bukan kah harusnya will you marry me?

"Sehunna," Jongin memanggilku. Aku hampir akan menyelanya sampai dia berkata, "Dengarkan aku dulu." Dia menghela nafas. Terdengar musik yang dimainkan oleh seseorang, kurasa DJ yang ada disini.

I'm the one that always been here

Even thru the darkest nights and brave the tide

For you and me

"Kau tahu aku bukan tipe kekasih yang romantis, bisa menyatakan perasaanku padamu saja sudah menjadi rekor tersendiri untukku. Maafkan aku yang sudah membohongimu, tentang aku dan Kris hyung dan segala kebohongan kecil lainnya yang mengikuti. Jujur aku hampir menyerah dan membongkar semuanya di lapangan basket tadi, tapi semua yang ku siapkan akan sia-sia jika ku bongkar sebelum waktunya kan?" Aku lebih terkejut lagi saat mendengarnya, di samping kulihat Kris hyung sudah merangkul Chen hyung.

All I ever needed was you

You never have to worry at all

What happen to us

What happen to love

"Jadi di hari lahirmu ini, hari lahirnya kebahagiaanku, aku, Kim Jongin, memintamu Oh Sehun untuk menerima lamaranku dan berganti marga menjadi Kim, menjadi partnerku dalam membesarkan anak-anak kita kelak, melewati segala cobaan dari tuhan, dan menua dalam bahagia bersamaku. Selama kita saling memiliki aku berjanji kita akan baik-baik saja, jadi Sehun please marry me." Jongin menunduk setelahnya, kurasa dia malu.

Every step seems just a lil' better

Lil' mistake don't really seem to matter

I want that going okay

As long as I got you and you got me

Itu artinya Jongin melamarku kan? Tidak ada cincin, Jongin tahu aku tidak menyukainya, hanya dengan ketulusan di setiap katanya. Aku melihat sekeliling, Baekhyun hyung tersenyum manis dan berkata tanpa suara 'terima saja', lalu kulihat Minseok hyung tersenyum dan mengangguk ke arahku.

"Kau tahu Jongin, kau sangat menyebalkan." Jongin mendongak dan menatapku penuh harap. "Aku sudah berfikiran yang tidak baik saja saat seminggu ini kau selalu pergi dengan Kris hyung. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku membutuhkanmu lebih dari apapun." Aku menghela nafas sebelum berkata, "Aku menerimamu Jonginie." Dia hanya terdiam sebentar dan langsung memelukku. Dia bergumam 'terima kasih Sehunna' berkali-kali. Teman-teman kami yang lain pun berteriak turut bahagia untuk kami.

I've been saying to myself be stronger

Like work it out, it's gonna take a lil' bit longer

As long as I got you, you got me you say

Things will get better


Kami tidak berlama-lama di dalam club tersebut, Jongin bilang dia ingin mengajakku pergi ke suatu tempat. Teman-teman kami yang lain masih meneruskan pesta mereka. Dan disinilah kami sekarang, duduk di bangku bus paling belakang, Jongin merangkulku yang sedang menyandarkan kepala di bahunya. Karena tadi Jongin berangkat dengan Kris hyung dan aku berangkat dengan Chen hyung, kami jadi harus naik bis untuk sampai ke tujuan kami. Keheningan sudah 25 menit menyelimuti kami, aku masih belum tau bis ini akan membawa kami kemana. Jongin selalu menjawab "Lihat saja nanti."

"Jonginie." Panggilku.

"Hmmm."

"Apa masih lama sampainya?" Ini sudah jam dua pagi, aku sangat mengantuk. Belakangan ini jadwal tidurku berantakan karena terus menunggu Jongin pulang.

"Tidur saja kalau mengantuk, aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai." Jongin pun mengeratkan pelukannya. Sungguh ini sangat nyaman sekali, aku sudah hampir tertidur saat Jongin berbisik, "Terima kasih sudah lahir ke dunia ini dan bertemu denganku Sehunna." Setelah itu aku benar-benar tertidur.

"Bangunlah Sehun. Kita sudah sampai." Jongin menepuk pipiku pelan.

Aku mengangguk, Jongin menuntunku turun dari bis, masih jam lima pagi, matahari belum menunjukkan sinarnya. Setelah turun dari bis aku bisa mendengar seperti suara ombak.

"Ini dimana jongin?" Tanyaku.

"Pohang. Sudah sangat berubah sejak kita meninggalkan kota ini eh?"

"Benarkah? Berbeda sekali." Aku melihat ke sekitarku. Seingatku dulu belum ada toko-toko seperti ini, masyarakat disini sangat tradisional sekali dulu. Pohang adalah kota dimana Jongin dilahirkan, aku dulu pindah kesini karena ayahku memindahkan usahanya kesini. Aku hanya tinggal disini kurang lebih delapan tahun sebelum pindah ke Seoul dan kuliah disana.

"Cukup lihat-lihatnya, kita bisa terlambat jika tidak bergegas." Jongin menarik tanganku untuk berjalan mengikutinya.

"Sebenarnya kita akan kemana Jongin?" Jongin tetap tidak menjawab ck menyebalkan.

"Nah kita sudah sampai, ayo Sehunna percepat langkahmu. Kau tidak ingin ketinggalan sinar matahari pertama di pagi ini kan?"

"Tanjung Homi? Apakah kita akan melihat matahari terbit?" Aku pun mempercepat langkahku setelah Jongin mengangguk. Saat kami masih sekolah dasar Jongin sering mengajakku ke sini untuk melihat matahari terbit, kami juga sering mencari kerang dan memancing disini jika liburan musim panas. Setelah kami memancing seharian Jongin pasti akan menggerutu tentang kulitnya yang bertambah hitam sedangkan kulitku hanya memerah karena terbakar sinar matahari.

Jongin dengan hati-hati menuntunku berjalan di atas lantai transparan tempat kami akan melihat matahari terbit, jika dilihat dari atas sini laut terlihat menakutkan, berbeda sekali jika kita berenang langsung di laut.

Setelah sampai di pagar pembatas Jongin langsung memelukku dari belakang.

"Sudah lama sekali kita tidak melihat matahari terbit ya Sehunna?"

"Hmm. Dua atau tiga tahun yang lalu kurasa saat kita melihat matahari terbit bersama." Keheningan kembali menyelimuti kami, hanya suara ombak yang terdengar oleh kami. Pelukan Jongin yang hangat, suara ombak, dan matahari yang perlahan muncul benar-benar kesempurnaan untukku.

"Indahnya…" Gumamku.

"Kau lebih indah Sehunna." Ujar Jongin.

Bisa kurasakan pipiku memanas karena ucapan Jongin, pasti sekarang pipiku sudah sangat merah.

"Hm Jonginie." Panggilku.

"Ya?"

"Minseok hyung bilang dia mempunyai kenalan di China yang bisa membantuku untuk mengatasi phobiaku, dia juga bilang akan lebih baik bagiku jika terapi dengan bantuan keluargaku." Kurasakan pelukan Jongin mengerat. "Apa kau keberatan?" Aku meneruskan.

"Berapa lama? Bagaimana dengan kuliahmu?" Tanyanya.

"Entahlah Jongin. Emmm sebenarnya aku berencana untuk pindah ke China saja. Aku merindukan ibuku." Aku memang sangat dekat dengan ibuku. Ini sudah setahun aku tinggal jauh dari orang tuaku. Entahlah, aku tidak begitu yakin. Mungkin aku hanya merindukan ibuku.

Hening menyelimuti kami sebelum Jongin menjawab, "Aku tidak keberatan. Kalau memang itu yang terbaik bagimu, jalani saja. Anggap saja itu pacuan untukku agar menyelesaikan kuliahku dengan cepat dan melamarmu ke China." Hatiku menghangat mendengar perkataannya.

"Ayo kita mengumpulkan kerang!" Kami pun melakukan ritual musim panas kami saat masih kecil dulu.


Sepuluh Tahun Kemudian

Jongin masih tertidur, jika sedang tidur begini sudah tidak terlihat lagi gurat kelelahan yang biasanya nampak di wajah Jongin akibat pekerjaannya yang melelahkan. Seperti tadi malam, Jongin baru sampai rumah sekitar jam dua belas malam, belakangan ini dia memang sedang banyak pekerjaan, rapat ini, proyek itu, meeting dengan kolega dan lain sebagainya yang menyebabkan dia tidak pernah bisa lagi makan malam di rumah.

Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, jika bukan hari sabtu biasanya kami sudah sibuk dengan aktifitas masing-masing. Sudah menjadi komitmen kami berdua, sesibuk apapun kami, kami akan meninggalkan pekerjaan jika sudah akhir pekan.

"Jongin bangunlah." Kataku sambil mengguncang bahunya, merespon pun tidak.

"Ingat janjimu pada Sekai, kita harus mengajaknya mencari kerang hari ini." Kurasa nama Sekai sudah menjadi mantra sendiri untuk Jongin, dia langsung terbangun ketika aku menyebutkan nama Sekai. Sekai adalah anak kami, setelah memutuskan untuk menikah dua tahun yang lalu kami juga mengadopsi anak laki-laki berumur tiga tahun yang kami beri nama Sekai dan pindah lagi ke Seoul. Dalam bahasa Jepang Sekai berarti dunia. Sejak pertama kali melihat Sekai, kami berdua sudah langsung suka padanya, seperti arti namanya, Sekai adalah dunia kami sekarang.

"Apakah dia sudah bangun Sehunna? Aku kan berjanji untuk membangunkannya." Sepertinya Jongin belum sepenuhnya bangun, bicaranya belum jelas.

"Sepertinya belum, kalau sudah dia pasti sudah masuk ke kamar kita dan menyeretmu turun dari tempat tidur. Bangunkan saja dia, ajaklah mandi bersama. Aku akan menyiapkan baju dan kebutuhan kita di Pohang nanti." Sekai menemaniku menunggu Jongin pulang semalam, dia bilang ingin memastikan sendiri kalau ayahnya akan mengajaknya mencari kerang besok. Mungkin itu yang menyebabkan dia belum bangun sekarang.

Jongin pun bangun dari tempat tidur kami dan berjalan dengan mata terpejam menuju ke kamar Sekai. Keahlian Jongin, berjalan dengan mata terpejam.

Aku bergegas menyiapkan baju untuk keduanya lalu mandi. Selesai mandi aku langsung membuat pancake dan susu untuk kami bertiga, sarapan favorite kami.

Jongin dan Sekai masih belum juga selesai mandi saat aku menyelesaikan semuanya. Kalau sudah mandi bersama, mereka pasti akan memakan waktu yang lama di kamar mandi, entah mereka bermain apa saja di dalam sana.

"Jongin ayo cepat bawa Sekai keluar, kita harus bergegas jika tidak ingin terjebak macet." Teriakku dari depan kamar mandi.

"Baik Dad." Itu suara Sekai dan Jongin yang menirukan suara anak-anak.

Tak lama Jongin keluar dengan Sekai yang ada di gendongannya, terlihat sekali kebahagiaan terpancar di wajah keduanya. Hanya pada saat weekend begini kami bisa menghabiskan waktu bersama, karena di hari biasa Jongin pasti akan sibuk dengan pekerjaannya.

"Aku sudah menyiapkan baju untuk kalian berdua. Ayo Sekai biar Dad membantumu berpakaian." Aku mengambil alih Sekai dari gendongan Jongin.

"Kau tidak mau membantuku berpakaian juga Dad?" Kali ini Jongin yang bersuara.

"Ayah kan thudah besal, pakai thaja baju thendili." Sekai yang menimpali omongan Jongin. Kami pun tertawa mendengar ucapannya.

"Baiklah Jongin, aku akan membantumu berpakaian juga." Jongin akan sama manjanya dengan Sekai pada weekend begini, seperti punya dua anak saja.

Setelah sampai kamar kami, aku langsung membantu Sekai berpakaian, mengeringkan rambutnya, merapihkan rambutnya dan mengoleskan sunblock untuknya. Jongin masih saja duduk di pinggir tempat tidur kami hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.

"Sejak kapan sih aku punya anak dua Jongin?" Kataku setelah selesai dengan Sekai.

"Ayolah Dad, aku kan juga ingin dimanja." Daripada berdebat dengan Jongin dan memakan waktu lebih lama lagi aku pun memakaikan baju untuk Jongin. Bukankah dia seharusnya malu pada Sekai?

Setelah selesai kami pun langsung sarapan dan bersiap pergi ke Pohang.

Sekai sudah berada di mobil saat aku selesai mengunci pintu rumah kami, dia terlihat sangat antusias karena akan mencari kerang bersama ayahnya. Aku pun menyerahkan tas berisi perlengkapan yang kami butuhkan disana pada Jongin yang menungguku di luar pagar.

"Sudah semua?" Tanya Jongin.

"Sudah. Ayo kita berangkat!" Kataku bersemangat. Jongin pun mengulurkan tangannya padaku, sudah lama aku tidak menggenggam tangannya seperti dulu.

"Sudah tidak butuh menggenggam tanganku?" Jongin menyadarkanku. Langsung saja aku menyambut uluran tangannya.

"Bukan, hanya teringat phobiaku saja." Terapiku di China berjalan lancar, aku sembuh dari phobiaku, aku benar-benar bisa mengendalikan diriku sendiri sekarang.

"Ayah! Daddy! Ayo belangkat. Kenapa lama thekali thih?" Sekai menggerutu, mirip sekali seperti Jongin jika sudah begini.

"Hey cadel! Mau pergi kemana kau?" Itu suara Soohyun, anak yang di adopsi oleh Baekhyun dan Kyungsoo hyung, dia sangat akrab dengan Sekai.

"Tentu saja mau bermain dengan ayah dan daddyku. Kau mau kemana pendek?" bahkan mereka punya panggilan sayang sendiri.

"Aku akan berkunjung ke rumah nenekku." Soohyun membalas dengan berteriak. Mereka sedari tadi mengobrol sambil berteriak karena Sekai berada dalam mobil sedangkan Soohyun di depan pagar rumahnya.

Saat aku dan Jongin memasuki mobil Sekai pun berteriak pada Soohyun, "Aku belangkat dulu pendek." Mobil pun dijalankan oleh supir kami.

Masih bisa terdengar oleh kami saat Soohyun berteriak, "Hati-hati dijalan cadel."

Karena Jongin dan Kyungsoo hyung sering sibuk dengan pekerjaannya aku dan Baekhyun hyung sering menghabiskan waktu bersama, begitupun dengan kedua anak kami, Sekai dan Soohyun, bahkan kami memasukan mereka ke dalam sekolah yang sama.

"Apakah yang tadi itu kekasih pertama anak ayah?" Jongin bertanya pada Sekai.

"Yang benal thaja yah, mana mau aku dengan plia pendek thepelti dia." Lihatlah, bahkan cara bicaranya sudah seperti orang dewasa. Kami pun tertawa mendengar Sekai yang terus mengoceh tentang "1001 alathan aku tidak mungkin menjadi kekathih thoohyun". Melihat Jongin dan Sekai bisa tertawa seperti sekarang merupakan kebahagiaan yang tidak bisa ditukar dengan apapun di dunia ini bagiku.

"Hey Dad, tak bithakah aku mendapatkan adik?" Sekai tiba-tiba bertanya padaku. Tentu saja aku terkejut mendengarnya, kenapa juga dia tiba-tiba meminta adik?

"Tentu bisa, ayah akan mengusahakannya untukmu." Jongin menjawabnya dengan sangat yakin.

"Buat saja sendiri." Kataku sebal.

"Ayolah Sehunna, kan jarang-jarang Sekai meminta sesuatu seperti ini." Jongin membujukku.

"Tidak."

"Demi Sekai Sehunna."

"Tetap tidak."

"Kau mau aku bermain lembut atau kasar?"

"YA JONGIN!"

END


Semoga kalian menyukai ending dari cerita ini. Maaf jika fiction yang kutulis masih belum bisa sesuai dengan keinginan kalian, sebenarnya aku benar-benar sudah buntu untuk melanjutkan fiction ini, tapi review dari kalian membuatku terus menulis kelanjutan fiction ini.

Thanks for the reviews: , kyunggg, SehunBubbleTea1294, askasufa, RomoKris, org, YoungChanBiased, suyanq, kaihun, daddykaimommysehun, KaiHun1412, rainhainyrianarhianie, sucihenecia, 0221cm, sehunnoona, windywiwi, Misyel, Mr. Jongin albino, mitchi, dd, leon, gwansim84, Bubbletea94, dhee, Kiyomi Fujoshi, mitchi, nhaonk, Psycho-Xoxo, Guest, Faomori, and Keepbeef Chicken Chubu.

I want to make fiction about Baeksoo by the way, any idea?