Do You Remember?

Disclaimer: I only own the plot

Pair: Kai/Kyungsoo

Length: Chapters

Genre: Angst/Hurt/Comfort

Warning: Typos. Krystal as the cameo.

If you don't like then just go back and don't read

Summary: Because we are just meant to be. Do you remember?

**NOTE: Halo lagi! Ini bonus chapter! Horeeee! /throws confetti/ Terimakasih yang sudah me-review ya :) Maaf author gabisa bales semua ((karena gabisa dibales semuanya masa ya huhu)) dan semoga kalian suka chapter ini, selamat membaca! /bow/ satu lagi! Chapter ini difokuskan lebih ke Jongin ya & maaf pendek hehe ;)

Part 7 – Empty


Kyungsoo membereskan barang-barangnya dengan cepat, kali ini tak begitu banyak barang yang ia bawa. Sesekali ia kembali mengecek tasnya dan tersenyum tipis. Hari ini, ia akan pindah dari tempat yang selama ini ia anggap rumah paling nyaman.

Kyungsoo membawa tasnya dengan sedikit kesusahan, sebuah tangan besar pun segera mengambil alih tas-tas besar itu.

"Biar aku saja." Ucap lelaki berkulit gelap itu, Kyungsoo hanya menurut.

"Terimakasih." Ucap Kyungsoo canggung, Jongin hanya membalasnya dengan anggukan.

Hari ini, Krystal sedang pergi berkuliah sehingga di apartemen hanya ada Kyungsoo dan Jongin. Hari ini juga, Kyungsoo akan pindah ke tempat barunya.

"Apa kau sudah dijemput?" Jongin bertanya sambil menatap kedua bola mata Kyungsoo yang bulat dan besar. Ia merindukan senyuman dari pemilik kedua bola mata indah itu.

"Sepertinya ia sedang dalam perjalanan ke sini." Jawab Kyungsoo sambil mengalihkan pandangannya ke layar ponselnya. Ia tak mau menatap Jongin, tidak mau karena itu akan membuatnya semakin berat untuk pergi.

"Kenapa tak mau aku antar saja sih?" Tanya Jongin, dia sedikit kecewa menyadari Kyungsoo menolak ajakannya untuk diantar ke rumah barunya, rumah Chanyeol. Dia semakin kecewa menyadari Kyungsoo akan pindah ke tempat lelaki itu.

"Aku tak mau merepotkanmu, lagipula kau harus menjemput kry-"

"Baiklah baiklah, ayo kita segera keluar." Jongin memotong omongan Kyungsoo, ia tak mau mendengar nama gadis itu keluar dari mulut Kyungsoo karena ia tahu hal itu hanya akan menyakiti Kyungsoo, lagi.

Mereka berjalan keluar apartemen, disana sudah ada Chanyeol yang baru saja tiba. Ia segera keluar dari mobil dan mengambil tas-tas Kyungsoo dari tangan Jongin.

"Hanya ini saja?" Tanyanya sambil menatap Kyungsoo yang dibalas dengan anggukan.

Chanyeol menatap Jongin dengan sedikit kesal, semenjak kejadian semalam ia sama sekali tak menatap Jongin. Ia terlalu kesal. Begitu ia selesai memasukkan barang-barang milik Kyungsoo dan menyuruh Kyungsoo masuk mobil terlebih dahulu, ia segera menemui Jongin.

"Hyung aku..." Ucap Jongin

"Jangan pernah kau menemuinya lagi." Potong Chanyeol dengan nada sinis. Jongin tertegun, seumur hidup ia mengenal Chanyeol baru sekali ini ia melihat hyung-nya itu semarah ini.

"Hyung tapi..."

"Kim Jongin, kau tak tahu seberapa besarnya rasa sayangnya padamu. Sialnya ia memberikan rasa sayang pada orang sepertimu. Orang yang tak pernah tahu apa itu bersyukur." Chanyeol lagi-lagi memotong ucapan Jongin dan segera membalikan badannya.

Jongin terdiam, ucapan Chanyeol benar. Selama ini ia selalu menghamburkan uang, ia tak pernah tahu apa itu bersyukur. Tak pernah sekalipun.

"Hyung, jagalah dia." Ucap Jongin dengan pelan namun Chanyeol dapat mendengarnya.

Chanyeol hanya membalasnya dengan anggukan dan segera menghilang ke dalam mobil.

Hari ini, hari terakhir Jongin bertemu Kyungsoo.

###

"Oppa, apa kau suka ini?" Tanya Krystal sambil menunjuk beberapa barang di sebuah katalog.

"..." Tak ada jawaban apapun dari Jongin.

Krystal hanya memutar kedua bola matanya dan mendekati Jongin. Ia segera menusuk pelan pipi lelaki yang statusnya pacarnya itu.

"YAAA!" Teriak Jongin kaget dan segera melompat dari sofa.

"Hahahaha ya kau harus lihat ekspresimu tadi, ew hahaha." Krystal tertawa puas dengan aksi jahilnya, sementara Jongin hanya menghela nafas dan kembali duduk.

"Jangan mengagetkanku." Pinta Jongin sambil menyibukkan dirinya dengan remote TV.

Krystal mendekatkan dirinya pada Jongin dan menyenderkan kepalanya di pundak lelaki itu, ia memejamkan matanya. Ada tetesan air mata yang entah kenapa keluar dari mata indah gadis itu.

'Kau tahu Jongin? Bahkan semakin kau berusaha untuk melupakannya justru semakin besarlah rasamu padanya.' Krystal bermonolog dalam hati, ia menghapus air matanya dan tersenyum ke arah Jongin.

"Aku menyayangimu." Ucap Krystal dan mendekatkan dirinya pada Jongin

Chuuu

Ia mengecup lembut pipi kanan lelaki itu dan mengalihkan pandangannya ke arah TV.

"Aku juga menyayangimu, Krystal." Jawab Jongin sambil mengelus lembut puncak kepala gadis disampingnya.

Krystal aja tersenyum, memejamkan matanya. Menutupi kenyataan yang sebenarnya sudah terlihat sangat jelas dimatanya, hanya Jongin saja yang terlalu bodoh untuk menyadarinya.

###

Hari berikutnya tiba, Jongin terbangun dengan perasaan gusar. Ia mencari ponselnya dan menaik turunkan setiap nama di contact. Pandangannya terhenti pada sebuah nama

Kyungie Hyung

Nafasnya seperti tertahan, ada rasa sakit di dadanya. Ia memegangi dadanya dan terdiam.

"Sakit... Kenapa rasanya semakin sakit..." Ucapnya sambil menggigit bibirnya, menahan setiap air mata yang sudah siap jatuh namun tak pernah ia biarkan jatuh.

Malam itu, sudah tepat satu minggu semenjak kepergian Kyungsoo dari apartemennya. Jongin beranjak dari tempat tidurnya dan membuka lemari yang dulu digunakan Kyungsoo. Ia mengelus pelan pintu lemari itu dan tersenyum, pikirannya melayang ke saat pertama kali Kyungsoo pindah ke apartemennya.

Ia membuka pintu lemari itu dan menemukan ruangan yang kosong, hanya tersisa beberapa baju yang memang sengaja ditinggalkan Kyungsoo. Jongin mengambil salah satu sweater milik Kyungsoo.

Lelaki berkulit gelap itu memeluk sweater berwarna navy blue dengan sangat erat, ia membenamkan wajahnya di sweater itu.

"Wangi Kyungsoo hyung..." Gumamnya.

Lagi-lagi ia merasakan hal itu, hal yang sama setiap waktunya. Kekosongan, kekosongan yang entah kenapa harus ia rasakan disaat ia sudah memiliki segalanya termasuk gadis yang sangat cantik.

Jongin semakin erat memeluk sweater itu. Ia membiarkan wajahnya tertutup sweater kesayangan Kyungsoo yang ia memang belikan saat mereka masih bersama.

"Aku ingin memeluk hyung..." Gumam Jongin sekali lagi sebelum akhirnya ia tertidur.

Tanpa sepengetahuan Jongin, gadis itu menatap kekasihnya dari celah pintu yang tak tertutup. Ia hanya menghela nafas dan kembali ke kamarnya. Ada rasa sakit yang menyelimutinya, tapi lebih dari itu. Ia marah pada Jongin yang tak bisa jujur pada perasaannya sendiri.

###

Dua minggu, tiga minggu, satu bulan, dua bulan, tiga bulan, lima bulan, enam bulan. Tepat setengah tahun semenjak Kyungsoo pergi meninggalkan Jongin. Setiap harinya Jongin tetap melakukan pekerjaannya dan menemani Krystal, dari hari ke hari perasaan kalut semakin menjadi di hatinya.

Seperti hari itu, sudah tiga hari Jongin tak menyentuh makanan apapun. Ia tak merasa lapar sedikit pun.

"Jongin, makanlah." Ucap Krystal, yang entah sejak kapan sudah berhenti memanggil pacarnya itu dengan oppa.

"Aku tak lapar, kau makan saja duluan." Jawab Jongin datar dan menyibukkan dirinya dengan ponsel miliknya.

Krystal menghela nafas dan mendekati Jongin.

"Jongin, kau sudah tiga hari tak makan apapun. Ayolah, kau harus makan supaya tidak sakit!"

Lelaki itu hanya melihat kearah Krystal dan tersenyum.

"Aku baik-baik saja, tenanglah. Kau harus makan, lihat tanganmu semakin kurus!" Ucap Jongin sambil menunjuk tangan Krystal.

"YAAAA! Aku serius!" Krystal memukul pelan lengan Jongin dan dibalas dengan tertawa keras Jongin.

"HAHAHAHAHAHAHA jangan marah seperti itu HAHAHAHAHAHAHA."

Krystal hanya menggembungkan pipinya dan memakan makanannya, meninggalkan Jongin yang masih terus tertawa.

Begitu Krystal hilang dari hadapannya, Jongin menghentikan tawanya. Ia memijat pelan kepalanya dan menunduk.

Tetes demi tetes air mata mulai berjatuhan, Jongin terdiam. Ia menangis. Entah untuk apa ia menangis, ia kembali memegangi dadanya.

"Sesak... Sangat sesak..." Ucapnya pelan.

Krystal lagi-lagi hanya melihat lelaki itu dari jauh, ia menghapus air matanya sendiri dan mengutuk dirinya sendiri.

'Maafkan aku, karena aku, kau jadi begini. Maafkan aku...' Krystal bermonolog dalam hati.

Hari itu, lagi dan lagi. Jongin hanya bisa menangis. Merasakan setiap sudut dalam dirinya yang entah kenapa terasa semakin kosong. Ia tahu tapi ia berpura-pura tak tahu apa-apa. Berlari dari kenyataan dan terus membohongi perasaannya sendiri.

###

"Aku akan pindah dari sini."

Jongin menurunkan majalah yang sudah sedari tadi ia baca dengan malas, rahangnya mengeras mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh gadis dihadapannya.

"Apa maksud-"

"Jongin, dengarkan aku." Krystal memotong ucapan Jongin dan duduk dihadapan lelaki itu.

"Apa?"

"Berhentilah membohongi perasaanmu, perasaanku, perasaan kita." Ucap Krystal sambil menatap kedua bola mata Jongin.

Lelaki itu hanya diam, ia sebenarnya sedikit kaget dengan apa yang baru saja diucapkan Krystal.

"Apa maksudmu membohongi?" Tanya Jongin dengan bingung.

"Hhhhh, Kim Jongin... Kumohon..." Ucap Krystal dengan nada yang putus asa. Ia sudah tak habis pikir lagi, sudah hampir satu tahun lamanya mereka bersama dan tak ada perkembangan apapun dari hubungan mereka.

"Aku sudah sangat lelah Jongin, aku mohon jujurlah pada perasaanmu." Ucap Krystal.

"Perasaanku yang mana? Perasaanku pada siapa? Aku tak membohongi siapapun Krys-"

"KIM JONGIN!" Krystal berteriak dan berdiri dari krusi yang sedari tadi ia duduki.

Jongin kaget dan hanya bisa menatap gadis dihadapannya. Ia sudah tak bisa merasakan apapun, hanya kekosongan. Ia hanya menatap kosong gadis itu.

"Kumohon..." Krystal menggenggam tangan Jongin.

"Kumohon... Jujurlah pada dirimu. Aku tak mau seperti ini terus..." Ucapnya, ada tetesan air yang membasahi tangan Jongin, gadis itu menangis.

Jongin hanya diam, ia tak melakukan pergerakan sama sekali. Ia hanya membiarkan suara isak tangis memenuhi ruangan itu. Kosong. Ia tak bisa memikirkan apapun, tak bisa merasakan apapun, tak bisa mengatakan apapun.

"Jongin... Jebal..." Pinta Krystal sambil mengeratkan genggaman tangannya. Gadis itu sudah terlalu kesal dan lelah dengan semua ini.

Jongin hanya memejamkan matanya, dadanya terasa sesak lagi. Tapi kali ini, ia tak menahan rasa sakit itu untuk keluar. Air mata mulai membasahi pipinya, Jongin menangis. Untuk pertama kalinya, ia menangis dihadapan Krystal.

"Maafkan aku..." Ucap Jongin sambil menarik Krystal dan mempersempit jarak diantara mereka.

"Maafkan aku, Krystal. Maafkan aku." Jongin terus mengucapkannya. Ia tahu, ia sudah menyakiti Krystal dan juga dirinya sendiri.

Krystal menggeleng pelan dan mengangkat wajahnya. Ia tersenyum.

"Tak usah meminta maaf padaku, aku yang harusnya meminta maaf karena tak memberitahumu agar kau sadar pada perasaanmu, Jongin." Ucap Krystal sambil merenggangkan genggaman tangannya.

"Krystal, aku..."

"Tak apa, kita bisa jadi teman. Seperti dulu kan? Aku baik-baik saja. Tapi aku sama sekali tak baik melihatmu dengannya yang seperti ini. Jangan membohongi perasaan kalian sendiri." Ucap Krystal sambil menyunggingkan senyumannya.

Jongin hanya terdiam, ia mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Krystal menghapus jarak diantara mereka dan mengecup pelan pipi Jongin.

"Terimakasih... Terimakasih untuk semuanya, Kim Jongin."


'at first, I thought I just miss you. at the second time, I thought I just miss our conversations. at the third time, I thought I miss your hugs and kisses. But in the end I realize, I'm empty...without you, hyung.'