Jaejoong Wanna B

.

End of previous

"Mwo? Jadi Kim Jaejoong adalah seorang artis?" teriak Yoseob kaget.

Pletak

"Akh, appo! Kenapa memukulku hyung!" kesal Yoseob sambil mengusap kepalanya yang berdenyut.

"Kau mengagetkanku pabo! Tak bisakah kau rem mulutmu itu dan jangan membuatku terkejut! Kalau kau terus menyela ucapanku lebih baik kau menjauh!" desis Changmin berbahaya.

"Tenang Seobie, kendalikan emosimu. Biarkan hyungmu melanjutkan dulu ne." kata Dongwoon menenangkan Yoseob.

"Bagaimana? Kau mau diam atau aku tak melanjutkan ceritaku."

"Ne hyung, aku akan diam. Lanjutkan ceritamu."

"Aku pegang kata-katamu."

"..."

"Appa mengenal Kim Jaejoong di tempatnya bekerja, Kim Jaejoong bukanlah seorang artis, ia hanyalah seorang yang dekat dengan salah satu artis asuhan YJ entertainment. Memang appa tak terlalu mengenal bagaimana sifat Kim Jaejoong itu, tapi ia sangat tahu siapa Kim Jaejoong itu. Kalian mengenal Jung ah, ani maksudku U Know Yunho?" tanya Changmin dan mendapat anggukan dari Dongwoon dan Yoseob.

"Dan kau tahu apa hubungan Kim Jaejoong dengan U Know Yunho?" tanya Changmin lagi dan mendapat gelengan dari keduanya. "Mereka adalah, sepasang kekasih."

"MWO?" teriak Dongwoon dan Yoseob serempak dengan keras.

.

Chap 6

.

Bletakk

Bletakk

"Akhh."

"Appo."

Teriakan keras dan bersamaan terdengar dari Dongwoon dan Yoseob, keduanya lalu secara bersamaan-pula-mengusap kelapa mereka yang berdenyut akibat jitakan sayang dari Changmin. Tatapan sengit ditujukan Yoseob pada hyungnya itu.

"Mwoya hyung! Kenapa memukul kepala kami eoh!" geram Yoseob sambil terus mengusap kepalanya yang berdenyut.

"Pabo! Kalian berteriak membuatku kaget! Kalian pikir suara kalian itu tak merusak kupingku eoh!" jawab Changmin dengan wajah tanpa dosa. Diteguknya air yang ada digelas untuk meredakan rasa kagetnya.

"Appoyo!" ringis Yoseob masih setia mengusap kepalanya yang berdenyut.

"Mian hyung, kami hanya terkejut mendengar kenyataan itu. Mengetahui kalau Yunho dan Jaejoong itu sepasang kekasih." kata Dongwoon masih sambil mengusap kepalanya. Ditatapnya Yoseob yang nampak kesakitan.

"Gwencanha?" tanyanya khawatir mengingat jitakan yang dilayangkan Changmin bisa dibilang tak kecil.

"Ne, gwencanha. Hyung kuat sekali memukulnya." jawab Yoseob sambil tersenyum pada Dongwoon.

"Bagaimana? Apa kalian mau terus mendengarkan ceritaku atau tidak?" kini Changmin kembali bertanya sebelum melanjutkan ceritanya. Ia malas jika dua dongsaengnya itu akan berteriak lagi.

"Ne hyung, lanjutkan saja. Kami berjanji tak akan mengagetkan hyung lagi." jawab Dongwoon dan diikuti tatapan malas dari Yoseob.

"Baiklah, aku akan lanjutkan. Jadi Jaejoong dan Yunho adalah sepasang kekasih, sudah hampir setahun mereka menjalin hubungan. Dari yang appa ketahui, hubungan Yunho dan Jaejoong sangatlah hangat, hampir tak pernah ada pertengakaran diantara hubungan keduanya. Walaupun Yunho seorang artis yang tengah naik daun saat itu, dan banyak dikelilingi yeoja yeoja cantik, namun ia sama sekali tak pernah melupakan Jaejoong, kekuatan cinta mereka sangat tulus dan kuat.

Setiap hari Jaejoong akan selalu membawakan Yunho bekal buatannya, karna Jaejoong sangat suka memasak dan masakannya sangat enak. Jaejoong juga sangat dekat dengan teman-teman band Yunho. Mereka menyayangi Jaejoong seperti mereka menyayangi Yunho. Hari-hari mereka sangatlah menyenangkan, hingga suatu hari Jaejoong mengalami kejadian itu. Walau Jaejoong adalah sosok yang baik hati, namun tetap saja ada yang tak menyukai dirinya. Apalagi mengetahui hubungan dirinya dengan Yunho, banyak pula orang-orang yang tak suka dengan hubungan mereka. Terutama para yeoja yang juga bernaung diagensi yang sama dengan Yunho."

"Aku tebak, pasti Jaejoong itu sering mendapat perlakuan yang tak menyenangkan ne dari yeoja-yeoja itu?" jawab Dongwoon sambil menatap dalam Changmin.

"Ne, dulu appa pernah melihat sendiri seseorang melakukan hal yang tak menyenangkan terhadap Jaejoong."

.

.

"Hei, kau namja murahan. Mau apa lagi kau kesini? Kau tahu, tubuh kotormu itu tak pantas menginjakkan kaki ditempat ini."

"..."

"Kau tuli eoh!"

"Mian nona, aku kesini hanya untuk mengantarkan makanan untuk Yunie."

"Cih, panggilan menjijikkan apa itu. Yunie? Dengar kau namja murahan, lebih baik kau berhenti mendekati Yunho, kau tak pantas dengannya. Yunho lebih pantas bersanding denganku yeoja yang setara dengannya. Dan jangan pernah bermimpi untuk bersanding dengannya, karna hanya aku yang pantas bersanding dengannya."

"..."

"Yak, kau tuli eoh!"

Brakkkk

Brughhh

"Akhhh."

"Rasakan! Itu akibatnya kalau kau berani melawanku."

"..."

.

Youngwoong tersentak dari tidurnya, kali ini ia kembali melihat beberapa potong memori. Namun kali ini bukan ahjussi seperti dalam memori sebelumnya yang dilihatnya, melainkan seorang yeoja dengan wajah angkuh yang dilihatnya.

"Nuguya." gumam Youngwoong berusaha mengingat siapa yeoja itu. Denyutan dikepalanya sedikit berkurang, namun ia masih saja melihat memori-memori itu.

"Memori apa sebenarnya itu, dan lagi siapa yeoja itu?" Youngwoong masih terus bergumam dan berkutat dengan ingatannya. Pikirannya terus berputar memikirkan memori yang baru dilihatnya itu.

"Yunie, Yunie, Yun..Yunho? Yunho? Apa yeoja itu mengatakan Yunho?" Youngwoong membulatkan matanya kaget baru menyadari kalau dalam memori itu ada nama orang lain ikut terbawa.

"Aigoo, kenapa aku tak bisa mengingat lagi. Yunie, Yunie."

Deg

Seketika jantung Youngwoong berdetak kencang saat mengucapkan nama itu. Entah kenapa hatinya berdesir saat mengucapkan nama itu. Perlahan disentuhnya dada kirinya yang berdetak kencang, merasakan denyutan demi denyutan dari jantungnya.

"Ke..kenapa jantungku ber..berdetak begini. Yu..Yunie."

.

.

"Jadi Jaejoong selama itu selalu mendapat perlakuan buruk, tapi tak pernah mengadukannya pada Yunho?" tanya Yoseob setelah Changmin menyelesaikan kalimatnya.

"Ne begitulah, ia tak ingin kalau Yunho berbuat hal macam-macam jika tahu ia sering dibully disana. Karna mengingat sifat Yunho yang sangat over protect pada Jaejoong."

"Lalu, kenapa Shim ahjussi juga tak mengatakan apapun pada management? Bukankah jika mereka tahu ada anak asuhnya yang bertindak seperti itu, bisa-bisa jika diketahui publik, maka kesan agensi itu dimata masyarakat akan buruk?" kini Dongwoon ikut bertanya karna merasa heran.

"Kalian tahu, yeoja itu adalah salah satu aset yang berharga dalam YJ entertainmen. Yeoja itu sekarang tengah naik daun, sama seperti Yunho, yeoja itu salah satu anak emas di agensi itu, jadi wajar kalau tak akan ada yang mau percaya kalau yeoja itu bersikap demikian, dan kalaupun mereka pernah menyaksikan sendiri yeoja itu bertindak tak sopan, mereka akan tutup mulut dan mrnganggap semua itu tak pernah terjadi.

Dan yang terpenting dari semua itu, sebenarnya dalam YJ entertainment, tak diperbolehkan setiap anak asuhnya untuk memiliki kekasih. Memiliki kekasih saja tak diperbolehkan, apalagi memiliki kekasih dengan genre yang sama denganmu."

Glek

Dongwoon dan Yoseob saling berpandangan saat mendengar nada yang sangat serius dari ucapan Changmin barusan. Dilihatnya Changmin yang juga tengah memasang wajah yang sangat serius.

"Kalian paham maksudku bukan?" tanyanya lagi dan mendapat anggukan dari keduanya. "Appa dan Yunho hanya berusaha melindungi keberadaan Jaejoong. Meskipun appa tak mengenal Jaejoong tapi appa merasa kalau Jaejoong itu adalah sosok yang baik, dan appa bisa melihat ketulusan dari perasaan keduanya."

"Lalu hyung, apa hubungan semua ini dengan Youngwoong hyung? Jangan katakan kalau sebenarnya Jaejoong itu-"

"Ne kau benar." jawab Changmin memotong ucapan Dongwoon. Dihadapkannya wajahnya memandang Dongwoon, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Jaejoong dan Youngwoong, adalah orang yang sama."

.

~ .B~

.

Youngwoong nampaknya tak bisa lagi memejamkan matanya. Terbukti setelah sekelebat memori yang terbayang begitu saja, kini ia terlihat tengah duduk menatap keluar dari arah balkon kamarnya. Mata bulatnya memandang jauh kedepan, melihat pemandangan yang sedikit membuatnya tenang.

Kembali, ia berusaha mengingat kilasan memori yang tadi dilihatnya. Dalam ingatan itu, ia bisa merasakan kalau ia begitu bahagia terhadap orang yang dipanggilnya Yunie itu. Ia merasa sangat dekat dan ada perasaan hangat kala ia menggumamkan nama itu.

"Yunie." gumam Youngwoong lagi. "Sepertinya ada yang tak kuketahui. Aku tahu aku memang kehilangan ingatan setelah kecelakaan setahun yang lalu, namun aku rasa ada beberapa hal yang disembunyikan oleh mereka dariku. Yunho, nama itu tak pernah mereka sebutkan selama ini. Yang aku tahu, aku adalah cucu dari halmoni dan bumonimku sudah lama meninggal."

Youngwoong terus berkutat dengan pikirannya, sampai-sampai ia tak menyadari kehadiran halmoninya yang kini sudah berada dibelakangnya.

"Youngwoongie." panggil Kim halmoni pelan sambil menyentuh bahu Youngwoong.

"Ah, halmoni. Halmoni membuatku kaget." jawab Youngwoong kaget saat merasa sebuah sentuhan dibahunya.

"Kau melamun eoh? Apa ada yang mengganggu pikiranmu changy?" tanya Kim halmoni lagi dan perlahan mengajak Youngwoong masuk kembali ke kamar.

"Ania halmoni, aku hanya ingin mencari udara segar." jawab Youngwoong sambil menatap dalam wajah halmoninya.

'Apa aku harus bertanya pada halmoni tentang memori itu? Siapa tahu halmoni tahu siapa Yunie'

"Begitukah? Baiklah, sebaiknya kau mandi dulu. Lihatlah hari semakin gelap, setelahnya kita makan malam bersama, halmoni akan tunggu dibawah ne."

"Emm, halmoni." panggil Youngwoong tepat saat Kim halmoni beranjak dari duduknya.

"Ne changy?"

"Aku ingin bertanya sesuatu."

"Ne changy, tanyakan saja. Kalau halmoni bisa jawab akan halmoni jawab."

"Sebenarnya-"

.

~ .B~

.

"Jadi benar begitu. Youngwoong adalah Jaejoong? Hemm, sepertinya menarik. Kalian semua menyembunyikan identitas asli Youngwoong karena kalian ingin melindunginya dari orang-orang yang jahat kepadanya ne."

"Ne, kau benar Woonie, kami semua ingin melindungi Youngwoong dari orang-orang yang ingin mencelakainya. Hingga sekarangpun Youngwoong sama sekali tak tahu menahu tentang masa lalunya. Ia memang tahu kalau dirinya pernah mengalami kecelakaan, namun ia tak tahu kalau selama ini kami semua membohongi dirinya tentang identitas asli dirinya." jawab Changmin sambil menundukkan wajahnya. Mungkin ia merasa bersalah pada Youngwoong karna tak memberitahukan hal yang sebenarnya pada Youngwoong.

"Hyung-" rintih Yoseob karna melihat gurat bersalah dari wajah hyungnya.

"Gwencanha. Bukankah selama ini ia tak pernah bertanya apapun? Tapi aku tak menutup kemungkinan kalau ingatannya berangsur pulih. Karna dulu, kata dokter kalau amnesia yang dialami Youngwoong bersifat sementara, suatu saat ingatannya pasti akan kembali."

"Jadi kalau saat itu tiba-"

"Kalau saat itu tiba," Changmin langsung memotong ucapan Yoseob, "Mungkin Youngwoong akan marah besar dan mungkin memilih kembali pada Yunho."

.

~ .B~

.

"Yunie, kajja makan."

"..."

"Yuniee."

"Ne aku datang. Ukh, kau selalu memaksaku."

"Kalau kau tak dipaksa, maka kau tak akan makan. Ingat lambungmu yang bermasalah itu."

"Ne yeobo."

"Aiss, jangan menggodaku Yunie."

"Aku tak menggodamu, kau memang istriku bukan."

"Palli, cepat makan. Atau aku tak akan memasakkanmu lagi."

"Ne ne, na bandura."

"Yunieee."

"Haha, kau tambah manis kalau cemberut begitu."

"..."

"Aiss, kau marah? Aku kan hanya bercanda. Tapi apa kau tak mau menajadi istriku hmm?"

"Ani, aku tak mau punya suami yang pervert sepertimu. Dasar beruang mesum."

"Mwo? Beruang mesum? Yak, apa-apan itu. Itu namanya penghinaan."

"Beruang mesum marah, kyaaa, aku takut."

"Kau mau bermain eoh, kajja sini akan kuterkam kau. Beruang sudah marah sekarang."

"Haha, ampun, ampun Yunie, ampun bear."

"Tak akan."

"Gyaaa, YUNIEE."

.

"Yunie." Youngwoong meringis pelan saat kepalanya kembali berdenyut. Baru saja ia akan bertanya pada halmoninya, namun kini ia malah kembali melihat kilasan memori itu. "Akhhh." erangnya lagi sambil menekan kuat kepalanya yang berdenyut itu.

Kim halmoni yang tak mengerti dengan keadaan Youngwoong, seketika menjadi panik juga. Langsung saja ia memeluk Youngwoong yang terlihat kesakitan itu.

"Youngwoongie, Youngwoongi waeyo? Apa yang sakit?" pekik Kim halmoni bingung dan panik. "Kajja kita duduk saja." Kim halmonipun menuntun Youngwoong untuk duduk dikasur.

Youngwoong terus menekan kepalanya kuat karena sakit yang tak tertahankan, padahal baru saja ia tak merasa sakit. Namun saat ia merasakan sakit kepala itu lagi, berbarengan dengan ia kembali melihat kilasan memori. Kali ini ia samar-samar ia melihat sosok seorang namja yang diajaknya berbicara. Dan ia dengan jelas bisa mendengar suara dan apa yang mereka bicarakan.

'Yunie'

"Youngwoongie, waeyo? Apanya yang sakit changy?"

Youngwoong tak menjawab panggilan halmoninya, ia masih berkutat dengan pikirannya. Samar-samar ia bisa mengenali suara dari sosok yang dilihatnya itu. Youngwoong memejamkan matanya mencoba kembali mengingat memori itu, dan kembali ia melihat beberapa kilasan.

/

"Yunie, sebentar lagi aku sampai, apa kau sudah sampai?"

"Ne aku sudah sampai. Apa kau menelpon sambil mengemudi lagi? Ck, itu berbahaya Joongie."

"Hehe, aku ingin mendengar suaramu Yunie."

"Kim Jaejoong! Kau bahkan sebentar lagi kita akan bertemu, dan kau masih ingin mendengar suaraku?"

"Jangan marah Yunie. Jja, sebentar lagi aku sampai, chakaman ne."

"Ne, saranghae."

"Nado, saranghae."

"..."

Kletekk

"Ah? Waeyo? Omo, remnya, remnya tak berfungsi. Eottheoke."

Din din

"Kyaa, minggir, awas, kyaaa. AKKHHH."

Ckittttt

Brakkkk

Brughhh

Duarrrr

/

"Argghhhhh."

"Woongie!" pekik Kim hamloni kaget karna tiba-tiba Youngwoong berteriak. "Waeyo changy, waeyo?"

"Akhh, hah, hah, appo, appo." rintih Youngwoong sambil mencengkram kepala dan dada kirinya bersamaan. Dadanya tiba-tiba berdenyut sakit saat potongan memori itu kembali dilihatnya, apalagi dalam ingatan itu ia bisa merasakan sesuatu. Ya dia baru menyadari semuanya.

"Hiks, hiks, appo. Appo." rintih Youngwoong terus sambil mencengkram kuat dada dan kepalanya.

Kim halmoni yang tak mengerti kenapa cucunya sampai begini hanya bisa membisikkan kata-kata penenang hingga Youngwoong benar-benar merasa tenang.

"Woongie, changy, tenang. Tenanglah changy."

"Hiks, halmoni, aku, aku-"

"Sstthhh, tenangkan dirimu dulu changy, setelah itu ceritalah." entah kenapa Kim halmoni seakan mengerti sekarang kenapa cucunya bisa seperti ini. Mungkin ada hal yang dipikirkan oleh cucunya ini.

"Halmoni-"

.

~ .B~

.

Hari semakin gelap, tak terasa Dongwoon sudah begitu lama berada dirumah duo Shim. Sekarang setelah puas mendengar semua cerita tentang Youngwoong, akhirnya kini ia pun bersiap untuk kembali kerumahnya.

"Jja hyung, kalau begitu aku pulang dulu ne. Sampaikan salamku pada Shim ahjumma dan ahjussi."

"Ne nanti aku sampaikan. Kau juga harus ingat, kau tak boleh membocorkan pada siapapun kenyataan yang tadi aku sampaikan."

"Ne hyung arraseo. Jja kalau begitu aku pulang, sampai ketemu besok. Annyeong hyung, Seobie."

"Annyeong." koor duo Shim kompak.

Brummm

Suara mobil pun terdengar semakin menjauh, duo Shim pun melangkah masuk dan menutup pintu rumah. Namun tak berapa lama, suara mobil lain terdengar lagi.

"Eh, kenapa ia kembali? Apa ada yang ia lupakan?" gumam Changmin mengira suara mobil itu adalah suara mobil Dongwoon.

Ting tong

"Seobie sana buka pintunya." teriak Changmin menyuruh Yoseob membuka pintu, padahal baru saja dongsaengnya itu mendudukkan pantatnya disofa sebelah Changmin.

"Ck, merepotkan!" sambil menggerutu Yoseobpun berjalan pelan dan membuka pintu, namun saat ingin menyerukan nama Dongwoon, segera suaranya tertahan dan malah berteriak kencang.

"Gyaaaa."

Changmin terlonjak mendengar teriakan Yoseob, segera ia berlari mendekat kearah pintu untuk mengecek apa yang terjadi.

"Yak dongsaeng pabo, kenapa kau berte-, Waaaaa!" bahkan Changminpun ikut berteriak saat melihat apa yang menyebabkan Yoseob berteriak. Bahkan suaranya melebihi teriakan Yoseob barusan.

Sebenarnya apa yang membuat duo Shim itu berteriak? Mari kita intip dibalik pintu rumah duo Shim itu. Dan bisa kita lihat kini, seorang namja dengan tampang sangat menyeramkan tengah menatap duo Shim itu dengan pandangan yang menusuk. Aura gelap seketika menguar dari namja itu, tatapan mata yang sangat menusuk, membuat siapa saja akan terkejut melihat pemandangan seperti itu. Tak terkecuali pada duo Shim yang biasanya bertingkah aneh itu.

Glekkk

Seketika Changmin dan Yoseob diam tak bergeming ditempatnya, menatap mata nyalang dari namja dihadapan mereka itu.

"Shim Changmin, siapa aku sebenarnya!"

.

~ .B~

.

Youngwoong terlihat berbeda hari ini. Semenjak masuk kerja pagi tadi, Youngwoong sudah sangat berbeda dari biasanya. Tak nampak keceriaan diwajahnya, tak ada semangat seperti biasanya. Junsu dan yang lainpun merasa heran dengan perubahan sikap Youngwoong itu, bahkan saat Junsu mencoba untuk berbicara dengan Youngwoong, malah ia dibentak oleh Youngwoong. Entah apa yang terjadi sebenarnya, namun sepertinya ada yang tengah dipikirkan oleh namja cantik itu.

Nampak seperti sekarang, Youngwoong tengah meracik pesanan pelanggan yang datang, tak seperti biasanya, Youngwoong meraciknya dengan asal-asalan, membuat rasa dari minuman yang dibuatnya berbeda dari biasanya. Keluhanpun datang dari para pelanggan yang kesal karna rasa minuman mereka tak seperti biasanya. Dan hal itu membuat beberapa pelanggan meminta ganti rugi atas kejadian itu.

"Youngwoong hyung, waeyo? Kenapa hari ini kau bisa membuat kesalahan seperti ini eoh?"

Akibat insiden minuman tadipun, akhirnya kini Youngwoong dipanggil menuju ruangan Dongwoon. Namja cantik itupun duduk dihadapan Dongwoon sambil menundukkan wajahnya.

"Apa kau ada masalah hyung?" tanya Dongwoon lagi karna tak mendengar jawaban apapun dari Youngwoong.

"..."

"Lebih baik hari ini kau istirahat dirumah. Tenangkan dirimu, daripada kau memaksakan bekerja tapi kau malah mengacaukannya."

"..."

"Aku tak tahu apa yang sedang kau pikirkan, tapi kalau kau mau, aku bisa menjadi pendengar yang baik."

"Dongwoon-ah,"

"Ne hyung?"

"Aku-"

"..."

"Hiks, apa yang harus kulakukan? Hiks, aku..aku, hiks."

"Hyung-" Dongwoon seketika kaget karna tak menyangka kalau Youngwoong justru akan menangis dihadapannya. Belum hilang keheranannya akan sikap Youngwoong yang berubah, sekarang ia dikagetkan lagi dengan Youngwoong menangis di hadapannyal

"Omo hyung, uljima. Yah, yah kenapa malah menangis." kata Dongwoon panik.

"Hiks..hiks."

Youngwoong terus saja menangis, dan Dongwoon sama sekali tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya bisa menenangkan Youngwoong dengan memberikannya kata-kata penenang.

"Dongwoon-ah, katakan padaku, apa yang harus kulakukan. Apa aku harus kembali padanya dan meninggalkan orang-orang yang selama ini sudah merawatku? Atau aku harus tetap diam seperti ini dan terus menyembunyikan diriku Dongwoon-ah, apa yang harus kulakukan? Apa Dongwoon-ah, apa!"

Youngwoong semakin terisak, ditenggelamkannya wajahnya pada kedua telapak tangannya. Mencoba meredam isakannya. Bahunya bergetar hebat dan airmata terus membanjiri pipi putihnya. Dibiarkannya atasannya itu melihat dirinya yang rapuh itu. Ia tak menyangka sama sekali kalau selama ini justru orang-orang yang sangat disayangi olehnya, tega membohongi dirinya.

.

Flash back

.

"Shim Changmin, siapa aku sebenarnya!"

Deg

Changmin dan Yoseob mematung didepan pintu saat mendengar nada dingin dari orang dihadapan mereka. Raut marah jelas tercetak diwajah orang itu. Changmin dan Yoseobpun sama sekali tak menyangka kalau Youngwoong akan datang kerumahnya dengan aura gelap seperti ini.

"Emm, hyung kajja msuklah dulu. Kita bicara didalam." kata Changmin dan membuka lebih lebar pintu rumahnya. Youngwoongpun masuk dan diikuti Yoseob dan Changmin.

"Mau minum apa hyung?"

"Tak perlu, aku kesini hanya untuk memastikan sesuatu. Cepat katakan, siapa aku sebenarnya?" ucap Youngwoong lagi sudah tak mau mengulur waktu. Setelah tadi mendengar penjelasan dari bumonimnya yang menyentakkan dirinya, tanpa pikir panjang Youngwoong segera melesat pergi menuju rumah Changmin. Karna ia tahu, semua ini ada hubungannya dengan keluarga Shim itu.

"Apa maksudmu hyung? Aku tak mengerti. Kau itu ya Youngwoong, Kim Youngwoong. Memangnya siapa lagi?"

"Kau jangan coba-coba untuk membohongiku lagi. Aku, sudah ingat semuanya. Semua hal yang selama ini aku lupakan, kini aku sudah mengingatnya."

"..."

"Aku bukanlah Kim Youngwoong, aku adalah Kim Jaejoong. Dulu aku bekerja di Mirotic cafe. Appaku sudah meninggal dan hanya ada eommaku yang kini tinggal di Chungnam. Setahun yang lalu, aku mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan. Saat itu Shim ahjussi yang menemukanku dan membawaku kerumah sakit."

"..."

"Wae? Kenapa diam? Apa semua yang kukatakan-"

"Ne, itu semua memang benar hyung."

"Jadi-"

"Semua itu memang benar. Kau bukanlah cucu Kim halmoni, dan kau sama sekali tak megenal kami sebelumnya. Ani, mungkin kau hanya mengenal appaku. Ia bekerja di YJ entertainment, tempat dimana Jung Yunho, kekasihmu berada."

"Yu..Yunho? Jadi, benar kalau Yunho itu-"

"Uknow Yunho adalah kekasihmu, Jaejoong hyung."

.

Flash back end

.

Youngwoong, ah haruskah kita mulai memanggilnya dengan Jaejoong lagi? masih terisak, walaupun isakannya sudah berkurang dan digantikan dengan helaan nafas yang berat. Bahunya sudah tak bergetar seperti tadi. Hanya menyisakan airmata yang meleleh membasahi wajah cantinya.

"Hyung, kalau kau tak keberatan, aku bisa menjadi tempatmu bercerita." kata Dongwoon dan mulai mendekatkan dirinya kearah Young, ani Jaejoong.

Jaejoong perlahan mengangkat wajahnya yang sedari tadi ditundukkannya. Menatap Dongwoon yang terlihat memandangnya dengan tulus.

"Kau bisa mempercayaiku hyung."

.

~ .B~

.

Yunho tengah menatap bayangannya dicermin. Merapikan penampilannya sedikit sebelum melakukan pemotretan hari ini. Setelah dirasanya cukup, iapun keluar ruangan dan melangkah masuk ke dalam studio.

"Annyeong Yunho-ah, kau nampak bersemangat." kata salah seorang kru saat tak sengaja berpapasan dengan Yunho. Yunho hanya tersenyum dan terus melanjutkan langkahnya.

"Hyung, kau sudah datang?" teriak Yoochun saat matanya menangkap bayangan Yunho dibelakang pintu.

"Ne, annyeong yeoreobeun." ucap Yunho sambil membungkukkan badannya.

"Kajja karna semua sudah lengkap, kita mulai pemotretannya."

Semua bergerak menuju posisi masing-masing. Begitu juga dengan Yunho, dirinya melangkah maju dan seketika gerombolan make up artis menyerbunya untuk membuat penampiannya semakin bersinar.

Jepreet

Jepreet

Jepreet

Yunho dengan tenang mengikuti arahan photografer untuk gayanya. Nampaknya Jung Yunho tengah merasakan bahagia, entah karena apa. Karna sedari tadi ia tak henti-hentinya melemparkan senyum kepada tiap kru yang ditemuinya.

"Yak, selesai. Khamsahamnida untuk hari ini." ucap sang photografer dan setelahnya semua krupun bubar dan membereskan terlebih dulu studionya.

"Hyung, setelah ini kau ada acara?" tanya Yoochun saat setelah pemotretan selesai.

"Ani, aku tak ada acara, waeyo?" jawab Yunho sambil melepas jaket yang tadi digunakannya untuk berfoto.

"Ania, hanya saja aku ingin mengajakmu ke Cojje cafe. Apa kau mau mau?"

Mendengar kata Cojje cafe, seketika Yunho teringat akan nama cantik yang sudah merebut perhatiannya, "Baiklah aku ikut, kajja." dan setelahnya merekapun segera menuju Cojje cafe.

.

.

Tak berapa lama, Yunhopun tiba di Cojjee cafe. Segera setelahnya ia turun dan tanpa lupa mengenakan kaca mata hitam, dan topi untuk menyamarkan penampilannya. Bagaimanapun ia tak ingin mengundang banyak orang dengan kehadirannya di cafe ini.

Ting

Lonceng cafe berdenting menandakan seseorang masuk, dengan sigap Junsu tersenyum ramah kepada pelanggan yang datang itu.

"Selamat datang." ucapnya ramah sambil tersenyum ke arah dua namja yang baru masuk ke dalam. "Mau pesan apa tuan?" lanjutnya setelah dua namja itu duduk dihadapannya.

"Hei ini kami." ucap Yoochun sambil melepas kaca mata hitamnya dan seketika membuat Junsu berteriak kaget.

"Kyaaa, Yoochunie?"

"Yah yah, kecilkan suaramu. Kau mau membuat telinga kami sakit?"

"Hehe, mian. Aku hanya kaget tak menyangka kalian akan datang lagi. Ah, apa kalian hanya berdua?" tanya Junsu setelah berhasil mengatasi keterkagetannya.

"Ne kebetulan kami tak ada acara. Jadi kami mampir." jeda sejenak, "Kenapa kau sendirian? Dimana Jae, ah maksudku Youngwoong hyung?" kata Yoochun yang hampir saja keceplosan mengatakan Jaejoong. Ah, jangan lupakan kalau namja cassanova itu masih curiga dengan identitas Youngwoong.

"Ah Youngwoong hyung tadi dipanggil oleh Dongwoonie. Entah kenapa semenjak pagi tadi ia menjadi berbeda. Tak biasanya ia akan bersikap aneh dan suka membentak seperti itu. Mungkin saja ada sesuatu yang mengganggunya." jawab Junsu sambil menerawang memikirkan sikap Youngwoong tadi padanya. Sebenarnya ia kesal, namun melihat raut sedih yang Youngwoong tunjukkan tadi, seketika membuatnya paham kalau ada hal yang mengganggu pikiran hyungnya itu.

"Jinja? Apa ia terlihat berbeda hari ini? Lalu kau tahu masalah apa yang sedang dipikirkannya?" tanya Yunho yang sedikit tertarik dengan pembicaraan itu.

"Mollayo, aku sedang menunggu Dongwoon untuk meminta penjelasan darinya." jawab Junsu dan membuat Yunho menaikkan sebelah alisnya. "Ah ya, aku sampai lupa, kalian mau minum apa?"

"Aku segelas wine, dan vodka untuk Yunho hyung." jawab Yoochun sambil melirik ke arah Yunho.

"Baiklah, pesanan segera datang. Chakamaneyo."

Sepeninggal Junsu, Yoochun sedikit mendekatkan dirinya ke arah Yunho, "Hyung, ada hal yang kau pikirkan?" tanyanya karena melihat raut wajah Yunho yang sangat aneh.

"Ania, hanya saja aku merasa sedikit tak tenang. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi aku merasa ada hal yang mengganjal hatiku."

"Apa kau memikirkan Youngwoong hyung?" tanya Yoochun lagi dan membuat Yunho menolehkan wajahnya menatap Yoochun.

"Jelas sekali kau memikirkannya setelah mendengar cerita Junsu tadi." lanjut Yoochun karna tak mendengar jawaban dari Yunho.

"Kalau kau penasaran dengan keadaannya, kenapa kau tak temui saja Youngwoong hyung?"

"..."

"Aku akan mengusahakan kau bertemu dengannya. Chakaman." Setelah mengatakan itu, entah kemana perginya namja cassanova itu. Yunho hanya menghela nafas berat, entah kenapa setelah mendengar keadaan Youngwoong, Yunho menjadi sedikit kepikiran dengan namja cantik itu. Baiklah, ia akui kalau ia senang memperhatikan namja cantik itu, bukan karna wajah dan sifatnya yang mirip dengan Jaejoong, namun ia menyukai Youngwoong karna sisi lain dari Youngwoong itu. Ia menyukai bagaimana Youngwoong dulu berdebat dengan Yoochun saat pertama kali bertemu dengannya. Dan saat itu juga Yunho kagum atas sikap Youngwoong yang berbeda dari Jaejoong. Kalau Jaejoong tak akan pernah membantah perkataan orang, bahkan tak akan mau berdebat.

"Loh, Yoochun kemana?" tanya Junsu saat dilihatnya Yunho kini hanya sendiri dimeja cafe.

"Ah ya? Dia pergi entah kemana." jawab Yunho seadanya.

"Ah kalau begitu, ini silahkan minum, aku membuatnya dengan susah payah. Hehe, habisnya Youngwoong hyung tak ada, biasanya ialah yang membuat minuman. Haa, semoga masalah Youngwoong hyung cepat selesai, aku rindu dengan senyumannya."

Yunho hanya tersenyum mendengar penuturan Junsu. Ia juga sepertinya merindukan senyum namja cantik itu.

.

~ .B~

.

Jaejoong sudah terlihat lebih tenang sekarang, setelah tadi ia bercerita semuanya kepada Dongwoon, ia sedikit menjadi lebih lega sekarang. Dongwoon pun hanya diam saat mendengar cerita Jaejoong, bukankah ia juga sudah lebih dulu mengetahui semuanya?

"Gomawo Woonie, kau mau mendengarkan ceritaku. Sungguh, aku tak tahu lagi apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku, terlalu kecewa dengan semuanya. Aku kira mereka dengan tulus menyayangiku, tak tahunya mereka bahkan menyembunyikan hal sebesar ini dariku. Aku, sungguh kecewa terhadap mereka." kata Jaejoong sambil berjalan keluar dari ruangan Dongwoon.

"Hyung, aku yakin mereka mempunyai alasan mengapa mereka melakukan hal itu." kata Dongwoon dan menyebabkan Jaejoong menghentikan langkahnya tepat didepan pintu ruangan Dongwoon.

"..."

"Apa hyung tak menanyakan alasan mereka kenapa menyembunyikan hal ini darimu?" tanya Dongwoon lagi karena tak mendengar jawaban dari Jaejoong. Jaejoong hanya menggeleng lemah sebagai jawabannya.

"Apa hyung tak berfikir kenapa mereka melakukan itu? Apa hyung tak berfikir kalau mereka hanya ingin melindungimu hyung?"

"Mereka ingin melindungiku?"

"Ne melindungimu."

"Tapi buat apa mereka melindungiku? Lagipula melindungiku dengan cara membohongiku? Apa itu yang namanya mereka menyayangiku?"

Dongwoon tersenyum kecil sebelum menjawab, "Lebih baik hyung tanyakan sendiri hal itu pada Changmin dan Kim halmoni." jeda sejenak, "Aku yakin mereka mempunyai alasan kuat kenapa mereka melakukan hal itu." lanjutnya lagi.

Jaejoong nampak berfikir sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan menanyakannya nanti."

Dongwoon tersenyum atas keputusan Jaejoong, "Ne hyung, percayalah, semua hanya ingin yang terbaik untukmu. Begitu juga dengan mereka."

"Ne."

"Emm, hyung. Apa sekarang, aku harus memanggilmu Jaejoong hyung?"

Jaejoong terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Dongwoon, nampak dirinya berfikir. "Ania, sebaiknya kau tetap memanggilku Youngwoong, sebelum aku menemukan alasan kenapa mereka menyembunyikan hal ini dariku." jeda sejenak, "Dan juga, aku ingin menata hatiku, aku masih bingung haruskah aku kembali padanya atau tetap seperti ini."

"Ne hyung, arraseo."

Jaejoong tersenyum mendengar pengertian Dongwoon, "Gomawo Woonie." Dongwoon hanya mengangguk dan setelahnya Jaejoong berjalan pelan kembali bekerja.

"Youngwoong hyung-"

"Ne?"

"Hwaiting!" teriak Dongwoon sambil tersenyum kearah Jaejoong. Jaejoong sendiri hanya tertawa pelan menanggapi teriakan Dongwoon.

Tanpa mereka sadari, sesosok namja mendengar semua ucapan antara Jaejoong dan Dongwoon. Mata namja itu membulat sempurna saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Dengan masih mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak cepat, namja itu pun segera beranjak dari tempatnya.

.

.

Yunho sudah merasa bosan menunggu Yoochun yang tak kunjung kembali, bahkan minumannya kini sudah setengahnya berkurang. Demi apapun, ia sudah merasa bosan sekarang. Apalagi Junsu sedang sibuk melayani tamu yang datang, sehingga kini hanya dirinya sendiri yang ada di meja cafe itu. Apalagi semenjak tadi tak ada Youngwoong yang menampakkan batang hidungnya, apa masalah Youngwoong sangat besat sehingga ia sangat lama bersama Dongwoon.

Ceklekk

Seketika Yunho menolehkan wajahnya keasal suara, saat mendengar suara pintu yang dibuka. Dan seketika pula matanya membulat sempurna, kala mata musangnya menangkap bayangan Youngwoong yang tengah berjalan mendekat kearahnya.

"Joongie." ucapnya tanpa sadar dan matanya tetap fokus kearah Youngwoong. Namun seketika ia sadar kalau yang dihadapannya ini bukanlah Jaejoong, namun Youngwoong.

"Yunho-ssi?" ucap Jaejoong saat matanya melihat Yunho juga tengah menatapnya. "Kau kemari lagi?" ucapnya ramah sambil tersenyum. Walaupun ia bisa menampakkan wajah biasa dihadapan Yunho, namun tak dipungkiri kalau jantungnya berpacu sangat cepat. Apalagi kini ia sudah sadar siapa ia sebenarnya.

'Astaga, aku ingin sekali memelukmu dan berteriak kalau aku adalah Jaejoong, tapi aku sadar itu semua tak mudah. Yunie, bogoshipoyo'

"Ne, aku datang lagi." jawab Yunho seadanya. Tak jauh beda dari Jaejoong, Yunhopun kini tengah menormalkan detak jantungnya yang berdetak tak karuan.

'Damn it! Ayolah jantung, kenapa kau tak bisa ku kontrol eoh? Tenanglah, tenang'

"Apa kau sendirian Yunho-ssi?"

"Ani, tadi aku bersama Yoochun, namun ia pergi entah kemana."

"Ah begitu." jawab Jaejoong dan seketika suasana menjadi canggung. Jaejoong berusaha menormalkan sikapnya yang ia akui sedikit berbeda saat kembali melihat Yunho sementara ingatannya sudah kembali, sementara Yunho juga kini merasa ada yang aneh dengan dirinya. Kenapa jantungnya berdetak kencang saat melihat Jaejoong-yang dikira Youngwoong-tadi.

Saat keduanya tengah sibuk dengan pikiran masing-masing, dari kejauhan nampak Yoochun yang tengah mengawasi keduanya. Tadi awalnya ia ingin menemui Yunho dan mengatakan apa yang baru didengarnya, namun saat ia hendak menemui Yunho, justru ia melihat kalau Jaejoong lebih dulu datang. Sehingga ia memutuskan untuk diam ditempatnya dan melihat apa yang akan terjadi.

"Hyung, ternyata firasatku tak salah, namja yang sekarang ada dihadapanmu adalah Jae hyung. Kim Jaejoongmu!"

Yunho dan Jaejoong masih bertahan dengan keterdiaman mereka, Jaejoong tak tahu apa yang harus dikatakannya pada kekasih, ah masihkah ia bisa menyebut dirinya kekasih Yunho? Bukankah sudah setahun berlalu, bagaimana kalau sekarang Yunho sudah melupakannya dan mempunyai kekasih baru? Mungkin saja bukan, melihat Yunho yang kian hari semakin bersinar.

Sementara Jaejoong berkutat dengan pikirannya, Yunho justru tengah memperhatikan Jaejoong. Dirinya heran karena melihat ekspresi wajah Jaejoong yang tiba-tiba berubah. Awalnya tersenyum, namun sebentar lagi cemberut, dan sekarang seperti sedang kesal. Tak tahan berdiam diri, akhirnya Yunhopun berseru.

"Youngwoong-ah, bukankah kau pernah berjanji membuatkanku makanan? Apa kau lupa?"

"Eh?" seketika Jaejoong menolehkan kepalanya menatap Yunno, "Jinja? Aku tak mengingatnya." jawab Jaejoong sambil mengerjab lucu. Oh no, tak tahu saja ekspresinya itu membuat Yunho harus menelan saliva gugup,

"N..ne. Kau pernah berjanji. Jja, karna kau sudah berjanji sebaiknya kau menepatinya." kata Yunho berusaha menutupi kegugupannya.

"Benar juga, aku pantang mengingkari janji."

"Kalau begitu, bagaimana kalau setelah ini kau membuatkanku makan malam? Kebetulan aku tak ada jadwal hingga malam nanti. Kalau begitu sebaiknya kau memasak di apartementku, bagaimana?"

Yunho segera merutuki ucapannya yang terlampau frontal, bagaimana bisa ia memita Youngwoong yang baru dikenalnya untuk membuatkannya makanan dan mengundangnya keapartementnya. Namun jawaban yang diberikan Youngwoong seketika membuatnya terperangah.

"Ide bagus, lagipula aku juga sedang malas pulang kerumah. Sepertinya berkunjung kerumah seorang idola sepertimu, menyenangkan." jawab Jaejoong sembari tersenyum.

Deg

Jaejoong segera menutupi mulutnya setelah sadar apa yang baru saja dikatakannya. Segera ia menatap Yunho yang juga menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Keduanya lalu sama-sama diam mencerna apa yang baru terjadi.

"Emm, ma..maksud ku, i..itu-"

"Baiklah, aku akan menunggumu selesai bakerja, baru setelahnya kita akan pergi ke apartementku. Aku tak sabar ingin memakan masakanmu kembali, Joongie."

"Eh?"

"Ah, mi..mian. Maksud ku, Youngwoong-ah!" kata Yunho merutuki kesalahannya.

'Pabo, kenapa aku keceplosan begitu'

"N..nde, gwe..gwencanha."

'Omo, aku sangat merindukan panggilan itu, Yunie'

"Baiklah, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat." jawab Jaejoong dan mulai kembali menekuni pekerjaannya. Senyum mengembang diwajahnya.

"Yunie." gumam Jaejoong tak sadar, namun suaranya masih dapat didengar Yunho. Seketika tubuh Yunho menegang saat mendengar suara lemah Jaejoong itu.

"Ne..neo?"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Asataga, chapter ini benar-benar membuat saya bingung. Awalnya saya ga mau ngelanjutin FF ini, karena feel saya benar-benar sudah hilang. Tapi ternyata, ada juga diantara kalian semua yang masih membaca bahkan memfollow dan favorit. Saya jadi merasa bersalah kalau tak melanjutkannya. Maka dari itu, inilah chap 6 yang bisa saya persembahkan. Mian kalau ceritanya semakin ngawur dan maksa. Saya mencoba kembali menghidupkan feel saya didalam FF ini, mungkin belum sepenuhnya kembali.

Jja, daripada banyak omong, lebih baik saya pikirkan kelanjutan dari FF ini. Semoga saya nggak lama-lama lagi updatenya. Mian untuk keterlambatannya dan terimakasih bagi yang sudah mengikuti. Big thanks buat kalian.

Akhir kata, silahkan tinggalkan jejak kalian untuk membuat saya mempunyai niat melanjutkan FF ini.

Onegaiitashimasu minna san~