YEY~ FFnya akan end di chap ini~ ^^ happy reading ya~ kalau suka silahkan review, author akan selalu menerima dengan apa yang kalian review~ ^^ buat yang sudah review, author ucapkan banyak terima kasih karena berkat kalian, author bisa menyelesaikan ff ini~ Jika saya masih banyak kesalahan, maafkan ya, namanya juga newbie ^^ enjoy aja deh ya~ XOXO buat readers dan suami saya, Kris /HEH/ - deerdragon88

CHAP 7

Musim panas sudah datang. Liburan kali ini aku akan pergi ke eropa bersama Yixing sebagai, eum... sahabat, teman atau kekasih? Kemarin aku telah menyatakan cinta padanya. Yixing masih tak percaya atas semua yang telah aku lakukan. Apa aku terlalu gegabah? Apa aku terlalu terburu-buru? Yixing bukannya senang seperti yang aku harapkan. Ah sial, aku salah langkah.

"YIFAAANN!" Yixing? Aku melompat dari atas kasurku dan segera pergi membuka jendela. Kulihat Yixing sudah bersiap ke sekolah di hari pertama musim panas. Aku tersenyum melihatnya. Tapi kemudian ia memajukan bibirnya. "CEPAT BERSIAP! NANTI KITA TERLAMBAT!" Yixing berseru keras.
Memang aku sudah selesai mandi dan sudah mengenakan seragam musim panas. Tapi aku belum sarapan-ah tak perlu sarapan, kurasa aku bisa makan bersama Yixing sampai kenyang nanti siang.

.

.

.

.

Zi Tao tidak masuk. Dia tidak masuk dari 3 hari yang lalu. Henry merasa kesepian tidak bisa membully Zi Tao dan memaki-makinya habis-habisan. Sekedar informasi, beberapa anak tim basket Shengzuang pernah menempel poster 'KAMI ANTI PANDA ZI TAO' di tiap kelas. Ini membuat Zi Tao marah dan kabarnya sempat ingin memukuli mereka. Tapi Henry berhasil mencegahnya dan mengusir Zi Tao pergi.
Luhan sudah mulai masuk sekolah. Ia bersumpah jika bertemu Zi Tao akan menghajarnya habis-habisan. Aku sempat meragukan. Bagaimana laki-laki selemah Luhan ingin memukul Zi Tao yang dulu atlit wushu?

"Wu Yi Fan!" oh sial. Guru menyeramkan ini memanggil namaku. Berati aku tertangkap basah tengah mengacuhkannya. Ia memarahiku di bangkuku. Yixing terlihat cemas. Memang aku tak memperhatikan Guru ini memarahiku karena aku mencuri pandang kepada Yixing yang tengah membaca buku pelajaran ini. Aku tersenyum di dalam hatiku.

.

.

.

.

Hari ini Luhan ada perlu dengan clubnya. Jadilah aku dan Yixing pulang berdua. Tentu aku sangat senang. Mungkin begitu juga dengan Yixing. "Yixing kau mau kemana?" tanyaku saat melihat Yixing berjalan ke arah yang salah. Aku menarik tangannya agar berhenti. Yixing memandangiku dan tersenyum. "Aku hanya ingin pergi ke toilet umum di sebelah sana, fan," ujar Yixing.
Tunggu. Perasaanku mengatakan tidak enak. Aku menarik tangannya lagi. "Kau bisa memakai toilet di minimarket di jalan dekat rumah. Bukankah kau biasa kesana?" tanyaku dengan nada khawatir. Yixing tersenyum. "Ayolah Fan, aku hanya ingin ke toilet," ujarnya tenang.
Akupun pasrah dan mengikuti keinginannya. Toilet yang ia maksud berada di seberang jalan yang cukup sepi. Bukannya aku tenang tapi perasaanku makin tidak enak.
Yixing berjalan lebih dulu. Aku dengan segera menyusul di belakangnya. Tapi aku mengambil hal yang salah. Harusnya aku berada di sampingnya.

BRAAKKK! Sebuah mobil menabrak Yixing hingga Yixing terpental cukup jauh dari arah tabrakan. Aku terkejut melihat ini. Tanpa banyak berfikir lagi, aku berlari ke arahnya untuk menolongnya. Aku menoleh ke arah mobil yang belum beranjak itu. Plat nomornya terdapat huruf HZT. Seperti inisial Zi Tao, tapi mungkinkah? Aku mengingat jelas mobil itu. Setelah banyak orang datang, mobil itu kabur dengan kecepatan tinggi. Sial! Yixing bertahanlah!

.

.

.

.

"Yifan! Bagaimana Yixing?" suara seseorang terdengar khawatir. Aku yang tadinya sedang menunduk, terpaksa harus mengangkat kepalaku. Ibu Yixing datang dengan raut wajah khawatir dan cemas. Kemudian, aku menceritakan apa yang telah terjadi dengan Yixing pada Ibunya.
Yixing mengalami gegar otak. Dan beberapa pendarahan di tubuhnya. Kondisinya sekarang sedang kritis. Aku belum pulang ke rumah. Lebih tepatnya aku tak peduli. Aku berdiam diri menunggu hasil pemeriksaan dan perkembangan Yixing lebih lanjut.
"Ya Tuhan... siapa yang berani menabrak anakku, Yifan...?" tanya Ibu Yixing lirih. Kutengok wajah wanita paruh baya itu mulai meneteskan air mata.
Aku sudah menangis sedari tadi. Aku tak ingin kehilangan Yixing.

.

.

.

.

Pukul 10 malam aku kembali ke rumah. Sebenarnya aku ingin tetap di rumah sakit menemani Yixing. Tapi kedua orang tuaku dan tentu saja keluarga Yixing tak setuju. Aku berjalan seperti orang putus asa. Tapi mataku terbuka lebar saat melihat mobil yang terpakir di sebuah minimarket. Plat nomornya sama. Ada huruf HZT di belakangnya.

Bunyi seseorang membuka kunci mobil itu terdengar. Aku melihat siapa orang itu. Zi Tao? Ia membuka sebuah kaleng bir dan meminumnya di luar mobilnya. Tanpa pikir panjang aku menghampirinya.
"Oh jadi kau yang menabrak Yixing?!" semprotku begitu saja. Zi Tao terlihat mabuk. Ia tak memakai seragam sekolah. Dia pasti tengah kabur. "Aku sudah peringatkan kalian, tapi kalian tak menghiraukanku," Zi Tao menjawab dengan nada aneh. Ia benar-benar sedang mabuk.

Tanpa pikir panjang aku memukuli wajahnya dengan penuh emosi. "KALAU TERJADI HAL YANG TAK TERDUGA PADA YIXING, AKU TAK SEGAN-SEGAN MELAPORKANMU KE POLISI!" kali ini giliranku yang mengancam Zi Tao. Zi Tao tertawa keras. "Kau tak kan bisa mengalahkanku, Yifan." Zi Tao mendorong tubuhku keras. Ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja. Panda busuk, lihat saja kau.

.

.

.

.

Kondisi Yixing makin tak menentu. Keadaannya naik turun. Entah berapa kali aku menangis karena ini. Aku tak pernah menangis sebelumnya. Tapi soal Yixing kali ini, aku tak bisa berhenti menangis saat tahu keadaanya belum stabil. Akankah mimpi ke eropa itu bisa kami wujudkan?

"Yifan, apa Yixing ada perkembangan?" Ibu menanyakan itu padaku lewat telefon. Memang aku sengaja menghubunginya untuk mengabarkan bagaimana aku di rumah sakit. "Belum, dia masih belum sadarkan diri..." jawabku lemas. "Jam 9 malam kau harus pulang, kau tak boleh ikut sakit, Yifan." Ibu mengingatkanku. "Baiklah." ujarku kemudian menutup telefon.
Aku benar-benar sudah lemas. Rasanya aneh satu hari bahkan satu detik tanpa melihat senyuman Yixing yang selalu membuatku terpana. Yixing, kau harus cepat sembuh, aku merindukan dirimu...

.

.

.

.

Semakin hari Yixing tak ada perkembangan. Ia stabil di level yang menegangkan. Sudah 2 minggu lamanya. Liburan musim panas yang kami rencanakan ke eropa batal sudah. Tapi aku percaya di liburan-liburan selanjutnya kami bisa pergi kesana.
Buku impian. Entah kenapa tiba-tiba aku mengingat buku itu. Yixing sudah berada di kamar yang bisa dikunjungi. Sedari tadi aku memang menunggu tanpa tahu apa yang akan terjadi. Aku mencari tas Yixing yang ada buku impian itu di dalamnya.
Setelah menemukannya, aku menulis sesuatu

Mimpi Wu Yi Fan : Aku harap Yixing bangun dan kembali tersenyum seperti dulu.

Kemudian, kubuka lembar terakhir, lembar dimana Yixing menyembunyikan mimpi-mimpinya tentangku. Aku mencentangnya satu persatu. Tak terasa, buku itu basah akan air mataku. Aku menangis untuk kesekian kalinya.
Yixing bisa kah kau membuatku tersenyum seperti dulu lagi?

"Yifan..." panggil seseorang. Gawat. Aku buru-buru menghapus air mataku. Setelah aku siap berhadapan dengannya, aku menoleh ke arah suara itu. Luhan dan Sehun dengan wajah prihatin memandangiku.
"Yifan, kau tak boleh terus bersedih. Yixing pasti akan pulih..." ujar Luhan. Aku merasakan Luhan ingin menangis juga. "Luhan, jika kau mau menangis, menangislah," ujarku padanya setenang mungkin. "Luhan memelukku dan perlahan mengeluarkan isak tangis. Wajah Sehun yang biasanya terlihat galak mendadak sedih melihat kondisi Yixing.
"Luhan-ge, maafkan aku yang tak percaya soal Yixing... aku hanya... cemburu," ujar Sehun lirih. Luhan tak menggubris hal itu. "Kita hanya bisa berdo'a sebagai bantuan baginya, Han." ujarku. Luhan mengangguk.

"Xing, aku ingin kita tertawa lagi... bangunlah..." Luhan berkata dengan suara lirih. Aku mengelus pundaknya, mengisyaratkannya untuk tenang.
Kau lihat Xing... aku dan Luhan benar-benar merindukanmu...

.

.

.

.

Setelah pulang sekolah, aku tentu akan pergi ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan Yixing. Luhan menyusul. Ia sudah berjanji untuk makan siang dengan Sehun. Aku pergi kesana sendirian dan langsung menemui dokter.

"Yixing bagaimana, Fan?" Luhan bertanya dengan khawatirnya. Aku memberitahu padanya jika Yixing tak ada perkembangan sama sekali. Ia berada diposisi hidup dan mati. Ia seperti orang mati, tapi jantungnya masih berdetak dan ia masih bernafas.
Luhan duduk di sebelahku. Ia kemudian menundukkan kepalanya. Dari semua teman sekolah Yixing, hanya aku dan Luhan yang benar-benar peduli padanya. Aku tak peduli dengan orang lain. Aku hanya peduli pada Yixing. Ya, hanya Yixing...

Suara gemuruh langkah kaki tiba-tiba terdengar. Dokter dan timnya secara gegabah memasuki kamar inap Yixing. Keluarga Yixing yang berada disana langsung merasa khawatir. Begitu juga denganku, dan Luhan.
"Ada apa dok?" tanya Ibu Yixing khawatir. "Yixing sedang mengalami kondisi drop. Tolong tunggu dan berdo'alah," jawab Dokter itu yang kemudian langsung memasuki kamar Yixing mengikuti yang lain.

Kondisi drop? Yixing, kumohon bertahanlah. "Fan, kudengar Zi Tao yang melakukannya..?" tanya Luhan tanpa memandangku. Ia sedang menunduk. "Kau benar, dia yang melakukannya. Sekarang ia tengah buron. Ayah Yixing sudah berusaha mengurus penangkapannya." jawabku dengan tidak tenang.

"Jaga Yixing disini untukku, aku akan membereskan Zi Tao," ujar Luhan yang beranjak berdiri. Aku mencegahnya. "Serahkan pada polisi," ujarku menenangkan Luhan. Luhan melepaskan pegangan tanganku di pundaknya. "Aku tak kan biarkan orang yang membuat sahabatku seperti ini hidup tenang, Fan." ujar Luhan yang terdengar marah.
Ia membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkanku. Sial! Kenapa semua masalah ini harus terjadi?

.

.

.

.

Yixing melewati masa kritis lagi. Malam ini aku pulang ke rumah pada pukul 11 malam. Aku jelas masih tak tenang. Bagaimana dengan Yixing dan lainnya. Kepalaku terasa berat dan pusing.
Di tengah aku berjalan dari halte, aku melihat Luhan yang berjalan seperti orang kemarahan. Aku berlari mendekatinya. "Luhan!" panggilku. Luhan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. "Yifan, panggil polisi ke rumah Zi Tao, dia berada disana. Sebelum ia dipenjara, aku harus menghajar wajahnya," ujar Luhan dengan sangat marah.
Luhan tiba-tiba pergi begitu saja setelah mengatakan apa yang ia perintahkan padaku.

Baiklah Luhan, polisi akan datang disaat kau sudah memukuli Zi Tao.

.

.

.

.

Luhan sadar aku telah mengikutinya. Ia membiarkanku. Aku sudah menelpon polisi dan berkata jujur bahwa Luhan masih ada urusan dengan Zi Tao. Aku sudah bilang pula pada Luhan bahwa waktunya hanya 30 menit.
Luhan melompat pagar rumah Zi Tao. Aku mengikutinya. Saat sampai di gerbang rumah Zi Tao, Luhan membuka paksa pintu rumah yang sedang itu. Setelah berhasil didobrak, aku dan Luhan masuk ke dalam rumah gelap nan sepi ini.

"Ngomong-ngomong, dari mana kau tahu bahwa Zi Tao disini?" tanyaku penasaran pada Luhan. "Plat nomor mobilnya, kau bisa melacaknya bukan dari sana?" jawab Luhan. "Dari mana kau tahu plat nomor mobilnya?" tanyaku lagi. "Data polisi dan kamera cctv," jawab Luhan.

Aku dan Luhan melihat satu ruangan dengan cahaya. Pasti Zi Tao berada disana. Aku dan Luhan langsung menuju kesana. Benar, Zi Tao disini. Ia sedang minum alkohol. Wajahnya benar-benar stres dan frustasi. Banyak botol akohol dengan berbagai macam takaran alkohol, jenis dan lainnya. Luhan tak banyak berfikir. Dengan ganasnya, Luhan melemparkan botol kaca yang berserakan itu ke arah tubuh Zi Tao.

Zi Tao yang tengah minum langsung tersendak, minumannya terjatuh dan ia mengerang kesakitan. Luhan melemparkan botol itu tepat di kepala Zi Tao hingga botol itu pecah dan berserakan di lantai. Luhan dengan cepat menghajar Zi Tao hingga berdarah-darah. Tak kusangka, Luhan yang aku kenal berhati lembut, kekanak-kanakan, berwajah imut seperti anak kecil, bahkan wajahnya terbilang cantik bisa menjadi seorang yang beringas seperti ini.

"INI UNTUK APA YANG TELAH KAU PERBUAT PADA SAHABATKU, YIXING!" seru Luhan marah disaat menghajar Zi Tao yang sudah tak berdaya di lantai. "LUHAN HENTIKAN!" seruku pada Luhan. Luhan menoleh ke arahku. Bisa kulihat wajahnya penuh air mata. Aku menyeret tangan Luhan. Ini agar ia berhenti memukuli Zi Tao. "Biarkan hukum yang menghukumnya. Dia pasti akan mendapat balasan yang setimpal," ujarku menenangkan Luhan. Luhan menangis dan wajahnya benar-benar emosi.
Aku merangkulnya dan menenangkannya. Tak lama kemudian, polisi datang dan segera menyergap Zi Tao. Kuharap Zi Tao mendapat balasan yang berat atas perbuatannya.

.

.

.

.

Untungnya pagi ini, aku dapat ke rumah sakit. Ini hari minggu. Perasaanku terus menerus gelisah sejak Yixing krisis tadi malam. Pagi ini, penjenguk dapat masuk kembali ke kamar tempat ia dirawat lagi. Tentu saja, aku dan Luhan sudah memasuki ruangan ini sejak tadi.

Luhan menceritakkanku soal Zi Tao di ruangan ini. Ternyata, orang tua Zi Tao marah pada Zi Tao dan meninggalkan Zi Tao sebatang kara di rumahnya dengan uang yang cukup banyak tapi tentu saja dengan perilaku Zi Tao yang boros, uang itu akan cepat habis. Alasan orang tua Zi Tao meninggalkannya karena Zi Tao pindah sekolah dengan alasan bertaruh dan tanpa pemberitahuan orang tuanya. Zi Tao juga banyak memalsukan dokumen yang berhubungan dengan ijin orang tua. Zi Tao juga membobol rekening ayahnya dengan bantuan temannya yang seorang hacker untuk biaya sekolahnya di Shengzuang. Hal ini membuat kedua oran tuanya marah dan meninggalkan Zi Tao.

Aku mengangguk paham saat Luhan mengakhiri ceritanya. Yah, dasar Zi Tao ia memang ambisius.

"Fan, aku pergi ke kamar kecil sebentar," ujar Luhan padaku. Aku mengangguk. Setelah Luhan pergi, ruangan menjadi sepi. Aku menggengam tangan Yixing yang terbaring lemas begitu saja.
Aku mengenggamnya, mengusapnya bahkan menciumnya. Aku meletakkan tangan Yixing di pipiku. Ingin rasanya aku menggigit tangan ini agar bangun. Tapi tentu saja itu hal bodoh.

Tak lama kemudian, alat-alat yang membantu perawatan Yixing itu berbunyi aneh. Tiba-tiba saja banyak dokter sudah masuk ke ruangan Yixing. Aku diminta untuk menunggu di luar. Ibu dan Adik Yixing yang tadinya ingin masuk juga dilarang karena tim dokter masuk begitu saja. "Luhan ada apa?" tanyaku pada Luhan yang baru kembali dari toilet. "Apa?" tanyanya tak mengerti. Aku mengabaikannya. Kini aku mengintip apa yang dilakukan dokter-dokter itu melalui jendela kamar.

Bisa kulihat banyak dokter yang mengelilingi Yixing. Seorang suster tiba-tiba hendak keluar dari ruangan Yixing. Sontak saja aku mundur beberapa langkah.

"Ah, suster, ada apa dengan Yixing?" tanya Ibu Yixing khawatir. "Kondisinya kembali drop. Mungkin kami akan melakukan operasi, itupun jika saat ini keadaannya bisa stabil lagi," perkataan suster ini sungguh terdengar ganjil.
Entah. Mungkin hanya aku yang merasa bahwa suster ini berbohong. Tapi Ibu Yixing, Adiknya dan Luhan mengangguk-ngangguk paham. Setelah suster itu pergi entah kemana, Ayah Yixing datang. Ia malah terlihat panik bukan khawatir lagi.

Semua orang berdo'a kepada Tuhan berharap tak kan ada yang terjadi pada Yixing. Akupun begitu. Aku kembali mengintip dari jendela. Alat pacu jantung sudah dipasang. Yixing seperti dipacu untuk kembali bangun. Ada apa ini? Dokter-dokter terlihat agak panik. Mereka terus memakaikan alat pacu jantung itu di tubuh lemah Yixing.

Perasaanku mulai tidak enak. Ini bukan sekedar perasaan. Aku merasa hal buruk akan terjadi. Aku kembali mengintip. Tunggu, alat-alat itu mulai dilepas. Dokter-dokter itu melepas maskernya dan menunjukkan wajah lesu. Ada apa ini?!

Aku membuka pintu kamar Yixing dengan segera. "DOKTER ADA APA?" tanyaku tak tenang. Seorang dokter berjalan menuju ke arahku. Ia menuntunku untuk berbicara di luar bersama yang lain.
Memang, keluarga Yixing dan Luhan terlihat panik karena aku tiba-tiba mendobrak pintu dan berteriak seperti itu.

Dokter mengambil nafas. Ini seperti berat untuk mengatakannya. Dokter tolong, jangan katakan...

"Maafkan kami... Yixing sudah tak bisa bertahan lagi," keluarga Yixing tak bisa mencerna maksud perkataan dokter ini. Tapi aku dan Luhan paham... "MAKSUD ANDA, YIXING TELAH..." perkataan Luhan terhenti. "Ya, Luhan, Yixing sudah tak ada..." ujarku meneruskan perkataan Luhan. Ibu Yixing melemas sudah. Ayah dan Adiknya menangis mendengarnya. Tak hanya mereka, Luhan, Dokter, bahkan... aku juga menangis.

Aku terjatuh di lantai. Kuharap ini mimpi. Tapi ini bukan mimpi. Semua impian Yixing dan impianku bersamanya selesai disini. Luhan menangis tersedu-sedu begitu juga yang lain.
Aku berdiri, dan memberanikan diri berjalan menuju kamar Yixing yang telah kosong. Wajahnya telah ditutupi oleh selimut putih. Semua peralatan yang membantunya untuk bertahan selama ini juga telah dilepas.
Aku membuka selimut itu dengan penuh keberanian. Setelah kubuka, makin jadi saja tangisan ini. Wajah polos penuh senyuman itu, menjadi pucat. Aku terjatuh lagi. Kupegangi tangan Yixing erat. Kenapa dia pergi secepat ini?

Aku baru merasakan cintanya, aku baru belajar mencintainya, aku belum bisa mewujudkan keinginannya, a-a-aku... masih ingin bersamanya... Kenapa aku sia-siakan waktu dimana terakhir kali aku melihat senyuman indahnya yang manis dan hangat itu?
Impian di buku mimpi Yixing masih sedikit yang tercentang. Kenapa Tuhan tak memberinya kesempatan untuk meraih mimpinya...?
"Yifan..." suara Luhan terdengar lirih sekali. Ia berhambur padaku dan memelukku. Kami sama-sama menangis.
Luhan kehilangan sahabat yang selalu membuat harinya penuh tawa, sedangkan aku kehilangan orang yang paling aku cintai, Zhang Yi Xing...

.

.

.

.

Hari pemakaman Zhang Yi Xing tiba. Semua orang yang mengenal Yixing datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Ibu Yixing bukanlah satu-satunya orang yang terpukul atas kematian Yixing, tapi juga aku dan Luhan.

"Fan, semua orang sudah pergi, ayo kembali..." ajak Luhan lirih. Aku bisa menebaknya ia habis menangis. "Tunggu sebentar, aku akan menyusul, kau duluan," ujarku menolak tawaran Luhan. Luhan berjalan pergi meninggalkanku.

Buku impian itu aku bawa sekarang. Aku juga sudah membawa sebuah ballpoint. Ada yang ingin kutulis disini bersama Yixing. Setelah selesai menulis, aku menatap nissan itu sekali lagi sebelum pergi. Nama Yixing terukir jelas disana. Aku mencoba tenang dan tak mengeluarkan air mata lagi.
Aku membalikkan badan, dan berjalan pergi menyusul Luhan. Selamat tinggal, Xing. Ku harap kau tenang berada di surga...

Aku tak kan pernah melupakanmu, dan akan terus mencintaimu...

.

.

.

.

Mimpi Wu Yi Fan : Jika Tuhan memang adil dan paling baik, aku ingin kita bertemu lagi di kehidupan yang lain dan waktu yang lain. Ketika saat itu tiba, aku akan memeluk Yixing dan tak akan kulepaskan lagi, selamanya. Di kehidupan dan waktu yang lain itu pula, kita akan selamanya bersama, ya selamanya. Because love is together, yes, To-ge-ther.

###### END #####

Mau protes atau review lainnya selain di ffn? bisa di deerdragon88 thankyou for reading ^^