Tittle : Skull

Chap : 7

Main Cast : Do Kyungsoo

.

.

.

Author POV

Empat puluh menit lebih dihabiskan Baekhyun dan Jongin dengan saling berdiam diri di depan kamar pemuda ahli hapkido itu. Tak ada percakapan, tak kalimat bahkan helaan nafas keduanya pun hampir tak terdengar. Baekhyun berdiri di ambang pintu dengan menyilangkan kedua tangannya di dada, sorot matanya menatap dengan khawatir tubuh mungil yang kini tengah tertidur di atas ranjangnya. Kyungsoo masih belum sadarkan diri setelah kejadian di pusat kota beberapa jam yang lalu, dan kini ia masih tertidur di ranjang milik Baekhyun setelah pemuda itu memutuskan untuk membawa Kyungsoo ke rumahnya alih alih membawanya ke rumah Kyungsoo sendiri.

Jongin berdiri tepat di depan Baekhyun, ia tak menatap Kyungsoo, sorot matanya lebih fokus menatap pria di depannya dengan lengkungan mata meminta penjelasan.

"Kau sudah tau kan?" Suara berat Jongin akhirnya memecahkan keheningan yang terjadi selama berpuluh puluh menit. Baekhyun memejamkan mata, dan berusaha menemukan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Jongin. Seharusnya ia menyadarinya, lama kelamaan Jongin pasti akan bertanya, hanya saja Baekhyun tak berharap Jongin bertanya di saat pikirannya masih dipenuhi oleh Kyungsoo seperti saat ini.

"Apa maksudmu Jong?" Baekhyun justru balik bertanya pada pemuda berkulit tan itu dengan harapan Jongin mau menunda kegiatan interogasinya. Sayangnya harapan Baekhyun tak sejalan dengan kenyataan. "Tentu saja soal Kyungsoo" Jongin justru menjawab pertanyaan balik dari Baekhyun dengan cepat.

Baekhyun menghela nafas berat dan mengangguk kecil.

Melihat respon yang datar dari Baekhyun, Jongin menjadi berdecak pelan "Aku tak menyangka kau menyembunyikan fakta ini Baek. Sekarang aku mengerti bagaimana mobil anak buah si tua Kwon bisa hancur malam itu! Tentu saja Kyungsoo memiliki sesuatu yang bisa membuatnya seperti itu. Hanya saja sebelumnya aku masih merasa ragu, ck pria mungil itu benar benar mengerikan" Jongin menyeringai namun dengan suara sedikit bergetar. Membayangkan mobil Ferrari merah yang hancur karena Kyungsoo beberapa jam yang lalu membuatnya bergidik ngeri dan antusias di waktu yang bersamaan.

"Dia memang istimewa..." Hanya kalimat sederhana yang mampu Baekhyun katakan, sorot matanya terus saja menatap Kyungsoo yang masih tertidur. Kedua mata Kyungsoo terpejam, namun keringat dingin memenuhi pelipisnya, sepertinya ia sedang bermimpi buruk.

"Kau bercanda Baek? Dia lebih dari sekedar istimewa. Aku seperti melihat dua kepribadian berbeda di tubuh mungil itu. Dia aset berharga Baek!"

Baekhyun mendelik dan menatap Jongin tajam. "Apa maksudmu?"

"Kekuatan seperti ini bisa memperkuat kelompok kita. Kau tau? Senjata buatan Luhan saja tak sebanding dengan kekuatan si mungil itu"

"Jongin, kumohon. Aku tak mau melibatkan Kyungsoo terlalu jauh.."

"Tapi.."

"Jika kau tak bisa mempertimbangkan permohonanku sebagai anggota Skull, tolong pertimbangkan permintaanku sebagai sahabatmu. Kyungsoo sudah cukup membahayakan dirinya sendiri karena kekuatan itu. Dan aku merasa bertanggung jawab penuh untuk menjaganya, jadi kumohon biarkan ini tetap menjadi rahasia" setelah mengucapkannya, sorot mata Baekhyun meredup membuat Jongin kehilangan kalimatnya. Ia hanya membiarkan Baekhyun melangkah menjauh darinya untuk menghampiri Kyungsoo yang masih belum terbangun dari tidurnya.

. . .

Genangan darah merah pekat yang dilihatnya semakin melebar tatkala mata beningnya terpaku pada sosok tubuh mungil yang tergeletak begitu saja di tengah jalan. Masih terekam jelas dalam ingatannya, sapaan hangat gadis mungil itu saat ia meminta Kyungsoo untuk menemaninya membeli es krim di seberang jalan. Kyungsoo ingin berteriak dan memanggil sosok mungil gadis kecil yang semakin menghilang dalam pandangannya, namun ketika tangan mungil Kyungsoo berusaha menggapai figur tembus pandang itu, hanya kekosongan yang didapatnya dan ia berakhir dengan kembalinya ia dari alam bawah sadar..

"YOONA YAAA" Kyungsoo berteriak histeris saat terbangun secara tiba tiba dan tubuhnya menegang dengan cepat ketika seseorang merengkuhnya dengan kuat.

"Tenangkan dirimu Sayang.." Terdengar suara lembut Baekhyun yang menghampiri pendengaran Kyungsoo, dan rengkuhan hangatnya membuat airmata Kyungsoo mengalir dengan deras. Ia membalas pelukan Baekhyun dengan mencengkram kencang mantel yang membungkus pemuda itu.

"Hiks, Baek.. Hiks Yoona, dia pergi.." Isakan Kyungsoo semakin keras dan airmatanya semakin mengalir memenuhi wajah manis pemuda itu.

"Sstt, tenangkan dirimu..." Jemari lentik Baekhyun mengusap dengan lembut punggung sempit Kyungsoo berusaha mengurangi ketegangan yang dirasakan pemuda itu.

"Hiks, aku yang salah.. Dia ingin menyebrang. Dia memintaku menemaninya.. Tapi aku menolak, dan Yoona pergi.. Hiks hiks, aku tak dapat menyelamatkannya Baek" mendengar isakan pemuda mungil itu membuat hati Baekhyun terasa sesak, ia ingin membuat Kyungsoo nyaman namun yang dapat dilakukannya saat ini hanya memeluk Kyungsoo dan membisikkan kalimat menenangkan sebanyak mungkin. Jika saja ia bisa membeli nyawa seseorang, apa saja akan Baekhyun berikan agar gadis mungil itu dapat kembali dan Kyungsoo tak perlu merasa bersalah lagi.

Baekhyun menarik Kyungsoo dari pelukannya. Ia menghapus airmata yang yang mengalir di mata bening Kyungsoo dengan kedua ibu jarinya. Senyuman terbaik ia coba tampilkan walaupun tak sepenuhnya dapat menghentikan isakan tertahan Kyungsoo.

"Jangan menangis lagi Sayang.. Semua bukan salahmu, kau sama sekali tak bersalah.."

"Aku ingin melayat Yoona.." Dengan mata sembabnya Kyungsoo menatap Baekhyun berharap pemuda itu mau mengabulkan permintaannya.

Baekhyun kembali tersenyum "Kudengar Yoona akan dikremasi. Aku akan mengantarkanmu ke tempat abunya disemayamkan nanti, kau mau?" Jemari Baekhyun menghapus aliran sungai airmata yang kembali terbentuk di pipi tembam Kyungsoo. Pemuda itu hanya mengangguk pasrah dan lebih memilih membenamkan kembali tubuhnya pada pelukan Baekhyun. Setidaknya hanya dengan menghirup aroma tubuh Baekhyun yang dapat membuat pikirannya kembali tenang..

. . .

Pukul 7 malam, setelah memastikan keadaan Kyungsoo sudah lebih baik, Baekhyun memutuskan untuk mengantarkan Kyungsoo pulang ke rumah. Mobil Baekhyun parkir tepat di depan rumah Kyungsoo tanpa menimbulkan suara bising sedikitpun karena mobilnya memang memiliki deru mesin yang halus.

Baekhyun mematikan mesin mobil dan membuka seat belt. Ia menolehkan wajah pada Kyungsoo yang ternyata tengah tertidur di bangku sebelahnya. Keringat dingin masih memenuhi wajah pemuda itu, namun Kyungsoo sudah tidak mengingau lagi. Setidaknya Kyungsoo sudah tidak histeris dan itu membuat hati Baekhyun sedikit lega.

Jemari Baekhyun mengusap pipi bulat Kyungsoo, namun Kyungsoo sama sekali tak terusik dengannya, ia masih tidur terlelap. Baekhyun mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo kemudian mengecup lembut bibir Kyungsoo sebelum akhirnya memutuskan untuk menggendong Kyungsoo masuk ke dalam rumahnya.

Ketika Baekhyun tiba di teras rumah Kyungsoo, pintu rumah tiba tiba terbuka dan wajah Tuan Do menyambut kedatangan Baekhyun yang tengah menggendong bridal Kyungsoo dengan raut wajah kebingungan.

"Selamat malam.." Baekhyun menyapa pria paruh baya di hadapannya dengan tersenyum tenang, namun jantungnya berdegup dengan cepat karena terlalu gugup.

"Kau.. Siapa? Kenapa dengan anakku?" Tuan Do memicingkan kedua matanya berusaha meminta penjelasan mengenai Kyungsoo yang tak sadarkan diri dalam rengkuhan Baekhyun.

"Sebelumnya biarkan aku mempernalkan diri, Tuan. Namaku Byun Baekhyun, aku teman dekat Kyungsoo. Ehm, bisa dibilang sangat dekat..." Baekhyun semakin salah tingkah saat Tuan Do membulatkan matanya ketika ia memberi pernyataan bahwa ia adalah teman dekat Kyungsoo.

"M-maksudku, kami sangat dekat. Dan hari ini kami pergi berjalan jalan ke pusat kota, tapi karena kelelahan, Kyungsoo jadi tertidur. Jadi aku menggendongnya untuk mengantarnya pulang" terlihat jelas jika seorang Byun Baekhyun tengah dipenuhi perasaan gugup saat ini..

Tanpa merespon jawaban Baekhyun terlebih dulu, Tuan Do mengambil alih tubuh Kyungsoo yang masih berada dalam gendongan Baekhyun dan menatap pemuda itu dengan sorot mata yang menajam.

"Aku mengerti. Kau pulanglah, terima kasih sudah mengantar anakku.." Setelah mengucapkannya, Tuan Do membawa tubuh Kyungsoo yang masih tertidur masuk ke dalam rumah mereka. Baekhyun masih berada di teras, sorot matanya mengikuti arah langkah Tuan Do dan ia menghembuskan nafas dengan berat.

"Kenapa aku harus gugup?" Keluhnya pelan.

. . .

Kyungsoo merasakan seseorang membuka gorden kamarnya dan hembusan angin yang sejuk langsung terasa ketika orang tersebut juga membuka jendela kamarnya. Mau tau mau pemuda itu membuka kedua matanya yang masih terasa sembab. Kyungsoo merasa kedua matanya bengkak, mungkin karena ia terlalu banyak menangis saat di rumah Baekhyun.

Baekhyun? Pemuda bertubuh mungil itu langsung bangkit dari tidurnya saat menyadari ia sudah berada di dalam kamarnya sendiri, dan justru penglihatannya menangkap sosok ayahnya yang sudah berdiri di samping ranjang dengan segelas susu putih di tangan saat ia berharap menemukan Baekhyun di sisinya ketika ia terbangun.

"Ayaah.." Kyungsoo memanggil ayahnya dengan suara parau yang hampir tak terdengar. Ia meringis saat merasakan pusing yang tiba tiba menyerang kepalanya dan langsung menyandarkan tubuhnya pada kumpulan bantal yang menumpuk di ujung ranjang.

"Kau pusing?" Terdengar suara berat dari Tuan Do, dan Kyungsoo bersumpah ia menangkap nada khawatir pada pertanyaan ayahnya itu. Tuan Do mengambil posisi untuk duduk di sebelah Kyungsoo dan langsung menyodorkan segelas susu yang dibawanya.

"Hanya sedikit pusing dan nyeri di perut, sepertinya maagku kambuh lagi" ucap Kyungsoo pelan dan meraih segelas susu tersebut.

"Minumlah, aku akan menyiapkan sarapan pagi untukmu. Lebih baik tak usah sekolah dulu hari ini, aku akan memberitahu Sehun.."

Pusing yang Kyungsoo rasakan semakin menjadi ketika ayahnya menyebut nama Sehun. Ia ingat belum berbaikan dengan Sehun hingga saat ini, dan itu kembali membuatnya menghela nafas berat.

"Terima kasih.." Hanya kalimat sederhana yang mampu ia keluarkan dan Kyungsoo mulai meminum susu hangatnya. Sedikit mual, namun lebih baik meminumnya daripada maagnya kambuh kembali.

"Byun Baekhyun itu siapa?" Pertanyaan tiba tiba dari ayahnya membuat sclera mata Kyungsoo melebar. Ia hampir tersedak, dan setelah menelan susu di mulutnya dengan susah payah, Kyungsoo menatap wajahnya ayahnya yang juga tengah menatap Kyungsoo dengan pandangan lekat.

"D-dia teman baikku.."

"Kau yakin hanya teman?" Kali ini Kyungsoo menelan air liurnya dengan perlahan. Ia semakin bingung untuk menemukan jawaban yang tepat untuk merespon pertanyaan ayahnya.

"Mungkin sedikit lebih dekat.. Aku merasa nyaman dengannya..." Kyungsoo menurunkan gelas susunya, dan seperti biasa tanpa sadar kedua jari telunjuknya bergerak dengan gerakan memutar.

Tuan Do menghela nafas pelan..

"Apa dia tau mengenai kekuatanmu?" Tuan Do kembali mengajukan pertanyaan yang membuat Kyungsoo semakin tersudut, Kyungsoo tau tak mungkin lebih lama menyembunyikan hubungannya dengan Baekhyun dan mengakuinya di hadapan ayahnya adalah pemikiran terbaik yang dapat ia temukan. Kyungsoo tak dapat membayangkan jika ayahnya mengetahui tentang Baekhyun dari ucapan orang lain.

Saat Tuan Do menunggu jawaban dari anaknya, Kyungsoo hanya mampu untuk mengangguk membuat Tuan Do memijat pelipisnya yang mulai terasa berat.

"Kuharap kau sadar dengan apa yang kau lakukan. Bukankah aku sudah memberitahu tentang pengendalian kekuatan busukmu?" Ucapan Tuan Do mulai menajam..

"Aku tau, dan akan selalu sadar, Ayah.. Hanya saja saat bersama Baekhyun, justru akan membuat pikiranku tetap normal. Aku merasa sangat nyaman dengannya.."

Keheningan terjadi untuk beberapa saat. Tuan Do menatap gelas susu dalam genggaman tangan Kyungsoo dengan pikiran yang dipenuhi oleh sosok pria yang mengantarkan anaknya pulang semalam. Ia ingin membuat Kyungsoo memikirkan kembali mengenai perasaannya terhadap pria itu, namun semburat merah yang memenuhi kedua pipi anaknya membuatnya berakhir dengan beranjak dari kamar Kyungsoo dan meninggalkan pemuda itu yang masih terlihat kebingungan.

. . .

Selama 2 hari Kyungsoo tak bersekolah dan memilih untuk beristirahat di rumah, ia sudah merasa lebih sehat sebenarnya namun pikirannya masih dipenuhi oleh bayang bayang Yoona, dan berada di rumah adalah pilihan terbaik yang dapat ia ambil.

Dan selama 2 hari tak bersekolah, ponsel Kyungsoo sudah dipenuhi pesan dan panggilan masuk dari nomor ponsel Baekhyun. Pemuda itu sama sekali tak membiarkan Kyungsoo untuk tak memberinya kabar sedikitpun. Seperti hari ini, saat Kyungsoo baru saja selesai mandi, terdengar nada pesan masuk sebanyak 5 kali..

"Hai cantik..."

"Kau sedang mandi?"

"Jangan bertanya kenapa aku bisa tau? Karena aku pasti tau segala hal tentangmu, kkk"

"Kapan kau mulai sekolah? Aku benar benar merindukanmu!"

"Oh ya, apa ayahmu menanyakanku lagi?"

Sebuah lengkungan menghiasi sudut bibir Kyungsoo ketika ia membaca pesan pesan dari Baekhyun. Ia mengetik beberapa kalimat untuk membalas pesan pemuda tersebut.

"Baiklah Tuan Cenayang, bagaimana kau bisa tau aku sedang mandi? Apa kau mengintipku?"

"Besok aku akan mulai sekolah. Dan tidak, ayahku tak bertanya soal kau lagi. Jadi jangan cerewet!"

Setelah mengirimkannya Kyungsoo berniat untuk segera berganti pakaian, namun ia kembali terduduk di ranjangnya ketika suara pesan masuk kembali terdengar beberapa detik setelah ia membalas pesan Baekhyun.

"Sudah kubilang jangan bertanya kenapa aku bisa tau, ckck"

"Justru aku berharap ayahmu tak lagi bertanya, dan langsung menikahkan kita saja? Bagaimana?"

Kyungsoo hampir tersedak saat Baekhyun bergurau mengenai pernikahan. Dan dengan cepat ia kembali membalas pesan Baekhyun.

"Konyol! Siapa bilang aku mau menikah denganmu, Tuan Muda Byun?"

"Aku tak bertanya kau mau atau tidak? Itu adalah keharusan! Arraseo"

Mata Kyungsoo membulat dan ia berdecak tak percaya.

"Aku sedang malas berdebat tentang hal konyol. Sampai jumpa besok di sekolah.."

Kyungsoo berharap Baekhyun tak melanjutkan lagi percakapan konyol mereka. Namun pesan yang kembali masuk membuat pemuda mungil itu merenggut dan terpaksa kembali duduk.

Wajah Kyungsoo semakin memerah saat hanya menemukan emoticon *kiss* dari pesan Baekhyun.

. . .

Kyungsoo merasa musim dingin semakin dekat, pagi ini ia terbangun dari tidurnya dengan tulang yang terasa membeku dan hawa dingin yang semakin menusuk kulit. Rasanya sangat malas melangkahkan kaki untuk mandi apalagi berangkat sekolah, namun ia teringat sudah dua hari ia absen, dan dapat dipastikan ia tertinggal banyak pelajaran. Setelah melakukan beberapa peregangan pada tubuhnya, dengan mata setengah terpejam Kyungsoo bangkit dari tidurnya dan mulai melangkah menuju kamar mandi.

Setidaknya bertemu dengan Baekhyun menjadi alasan terkuatnya untuk bersemangat menuju sekolah hari ini . .

. . .

Seperti dugaan sebelumnya, Kyungsoo tiba di sekolah terlalu pagi. Hanya beberapa murid yang baru terlihat, dan rata rata murid berjalan dengan menguap berkali kali. Udara memang lebih dingin dari hari hari sebelumnya, namun salju belum turun. Udara dingin dan langit mendung menjadi alasan untuk sebagian orang berangkat lebih siang memulai aktivitasnya, mungkin mereka masih terjebak dengan bantal dan guling masing masing.

Kyungsoo melangkah lesu menuju kelasnya, matanya masih setengah terpejam dan beberapa kali tangan mungilnya mengucek mata untuk mengusir rasa kantuk yang justru semakin kuat menguasainya. Dan ketika Kyungsoo tiba di kelasnya, mata pemuda itu langsung membelalak saat ia sadar hanya ada Sehun di ruangan itu. Sehun terlihat sedang memejamkan matanya dengan earphone besar yang menempel di kedua sisi telinganya. Kyungsoo yakin jika Sehun sedang tidak tertidur karena sesekali bibir tipis pemuda itu bergumam mengikuti alunan lagu yang didengarnya.

Kyungsoo menelan ludahnya dengan berat saat menyadari ada perubahan besar yang terjadi pada Sehun. Rambut pemuda itu dicat menjadi hitam, namun tatanannya masih berantakan seperti saat rambutnya masih berwarna pelangi. Dan apa yang terlihat di sudut matanya? Eyeliner? Kerutan muncul di kening Kyungsoo saat ia menyadari Sehun memakai eyeliner. Perubahan penampilan Sehun semakin menambah keyakinan Kyungsoo jika Sehun terlihat seperti Baekhyun saat ini...

Dengan sedikit keraguan yang ia rasakan, Kyungsoo melangkah mendekat pada bangkunya. Pemuda itu sedikit menyesal mengapa ia memutuskan untuk berangkat lebih pagi hari ini hingga harus bertemu dengan Sehun saat teman teman sekelasnya belum datang.

Setelah tiba di bangkunya, Kyungsoo meletakkan tasnya dengan perlahan agar tak mengusik Sehun. Ia tak berharap Sehun menyadari kedatangannya paling tidak sampai ada orang lain di ruangan itu selain mereka. Namun, harapannya tak sejalan dengan kenyataan karena Sehun langsung membuka kedua matanya tepat setelah Kyungsoo mendudukkan tubuhnya di atas kursi.

"Kau sudah sehat?"

"N-de?" Jantung Kyungsoo hampir melompat dari tempatnya saat mendengar pertanyaan tiba tiba dari Sehun. Tubuhnya sedikit bergetar dan ia merasa semakin canggung untuk berada di sebelah pemuda itu. Kyungsoo rasanya ingin kabur jauh dari Sehun dan mengubur dirinya dalam dalam agar tak bertemu dengan Sehun kembali, namun sorot mata Sehun yang meredup saat menatapnya memaksa Kyungsoo untuk melupakan pemikiran konyolnya itu. Kyungsoo menarik nafas panjang, sudah saatnya ia memperbaiki hubungannya dengan Sehun.

"Aku baik baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.." Sebuah senyuman manis berusaha untuk Kyungsoo tampilkan dengan harapan agar Sehun tak mengabaikannya lagi kali ini. Ia sudah sangat sangat merindukan Sehun yang dulu selalu memberinya perhatian lebih. Namun sepertinya Sehun sama sekali tak dapat menangkap harapan Kyungsoo dan pemuda itu justru berdiri setelah mengucapkan kalimat "Syukurlah.."

Kyungsoo merasa bingung dengan semuanya, dan saat ia masih mencoba mencari kejelasan tentang sikap Sehun yang masih dingin terhadapnya, tubuh pemuda mungil itu justru bergerak lebih cepat dengan memeluk tubuh Sehun dari belakang. Mata Sehun membelalak dan ia menurunkan earphone, hatinya terasa sesak saat ia mendengar isakan pelan Kyungsoo di belakangnya.

"A-aku benar benar merindukanmu Sehun ah. Hiks, tak bisakah kau untuk tak mengabaikanku lagi?" Isakan Kyungsoo semakin terdengar jelas dan airmatanya mulai mengalir di sudut matanya. Kedua tangan Kyungsoo mengait pada pinggang Sehun, dan semakin lama Kyungsoo semakin mengeratkan kaitan tangannya berusaha meredam rasa sesak yang semakin terasa di dadanya. Pemuda mungil itu ingin berteriak, namun suaranya masih sedikit parau setelah menangis lama untuk Yoona, dan kini saat Sehun berada di dekatnya namun masih saja mengacuhkannya membuat perasaan Kyungsoo semakin kacau. Sehun adalah sahabatnya, dan Kyungsoo sama sekali tak ingin kehilangan sahabat sebaik Sehun.

"Semakin sulit Kyung untuk tak mengabaikanmu, karna aku terlanjur memiliki perasaan lain terhadapmu"

"Maafkan aku untuk janji yang kulanggar.." Isak Kyungsoo dan ia semakin memeluk Sehun erat.

"Ini bukan lagi mengenai janji yang tak kau tepati, aku sudah memaafkanmu dan tak ingin mempersoalkannya lagi. Tapi sekarang semakin berat karna aku tak bisa melihatmu dengan Baekhyun.. Kau ingat dengan perkataanku mengenai aku tak akan membiarkanmu terikat dengannya?" Kyungsoo berusaha membuat otaknya berpikir lebih keras dengan mengingat kalimat yang slalu Sehun katakan itu. Tentu saja ia ingat, dan ia tak pernah lupa jika Sehun selalu melarangnya untuk berdekatan dengan Baekhyun. Sehun menghela nafas berat saat merasakan Kyungsoo mengangguk pelan di belakangnya. Ia melepaskan kaitan tangan Kyungsoo dan membalikkan tubuhnya agar dapat berhadapan dengan pemuda mungil itu.

Kedua tangannya menghapus airmata yang mengalir membasahi pipi mulus Kyungsoo, bahkan saat wajahnya memerah dan dipenuhi airmata seperti ini, Sehun tetap menganggap Kyungsoo sangat cantik dan menarik. Setelah mendapat keberanian penuh, Sehun menarik dagu Kyungsoo dan mendaratkan bibirnya di atas bibir pemuda itu. Awalnya ia hanya berniat mengecup pemuda yang juga sangat ia rindukan, namun saat Sehun merasa Kyungsoo sedikit menyambut ciumannya, ia semakin memberanikan diri untuk menarik tengkuk Kyungsoo dan memperdalam ciuman mereka.

Jemari mungil Kyungsoo meremas pelan seragam bagian punggung Sehun, dan karena ciuman Sehun semakin menuntut, itu membuat tubuh Kyungsoo sedikit melengkung ke arah belakang.

"Hmmpphh, S-Sehun" satu desahan lolos saat Kyungsoo merasakan Sehun semakin kuat menghisap bibirnya. Ia merasa perutnya mual diiringi sensasi menggelitik seperti ketika seseorang menaiki roller coaster. Perasaan mual itu semakin membuat Kyungsoo merasa tak nyaman karena ciuman Sehun semakin menuntut. Ia merasa bersalah pada Baekhyun namun kali ini pemuda bertubuh mungil itu lebih memilih untuk membiarkan Sehun melakukan apa yang ingin ia lakukan.

Setelah beberapa menit Sehun habiskan untuk melumat bibir mungil Kyungsoo, pemuda itu menarik wajahnya dan langsung menarik Kyungsoo merapat dalam pelukannya.

"Berikan aku kesempatan.." Bisik Sehun di sela ceruk leher Kyungsoo.

"...seperti yang kau berikan pada Baekhyun" kalimat Sehun berikutnya membuat Kyungsoo membeku dalam pelukan pemuda itu. Sesak semakin ia rasakan dan rasa bersalahnya kepada Baekhyun semakin membesar karena sempat terlintas dalam pikirannya untuk mempertimbangkan permintaan Sehun.

. . .

"Kyungsoo yaa, tolong belikan beberapa bahan makanan di mini market. Kita kehabisan kimchi" Kyungsoo yang tengah menonton televisi dengan memegang remote menolehkan wajahnya pada Tuan Do yang sedang memeriksa isi kulkas. Tuan Do sedang mempersiapkan makan malam ketika ia menyadari beberapa bahan masakan telah habis.

"Tentu saja.." Kyungsoo bangkit dari duduknya dan segera menuju mini market setelah ayahnya memberikan beberapa lembar uang won untuk berbelanja.

"Hmm, kimchi, ramen, soba, pasta kedelai, telur.." Satu persatu belanjaan yang telah dibayarnya, Kyungsoo absen setelah ia berada di luar mini market.

"Okaay, soju milik ayah yang terakhir" setelah memastikan semuanya telah lengkap, ia berjalan menuju jalan raya untuk pulang. Namun langkahnya terhenti ketika sesuatu menghalangi penglihatannya menyebabkan kebutaan sementara pada kedua matanya.

"HEI!" Kyungsoo memekik ketika kedua tangannya ditarik ke belakang sedangkan matanya telah tertutup oleh sebuah kain berwarna hitam. Kantung belanjaannya jatuh begitu saja ke tanah, dan belum sempat ia membalas orang yang telah mengerjainya, Kyungsoo terlanjur jatuh pingsan setelah menghirup aroma mint pada kain yang membekap mulutnya dengan cepat.

. . .

Dingin dan pengap, hanya itu yang Kyungsoo rasakan saat ia terbangun dari alam bawah sadarnya. Kegelapan yang menguasai penglihatannya membuat ketakutan Kyungsoo meningkat dalam hitungan detik. Ia menggeliat, namun tangan dan kakinya terbelenggu kuat oleh tali besar yang mengikatnya pada sebuah kursi. Kyungsoo berusaha sekuat tenaga mengingat apa yang baru saja ia alami, namun ingatanya berakhir dengan bayangan saat ia berada di luar mini market beberapa saat sebelumnya.

"Mmhhh, eerrgghhh" Kyungsoo meronta berusaha melepaskan diri dari ikatannya pada kursi, namun sia sia karena simpul yang terlalu kuat. Kyungsoo dapat merasakan kedua matanya memanas, namun pergerakannya masih terbatas dan tak mungkin ia dapat menyelamatkan diri meski menggunakan kekuatannya. Kyungsoo terdesak.

"Ada apa manis? Kau membutuhkan sesuatu?" Sebuah suara mengerikan terdengar diiringi derap langkah kaki yang semakin mendekati Kyungsoo menambah tekanan ketakutan pada pemuda itu.

"Mmmmhhh" Kyungsoo ingin berteriak 'lepaskan aku' namun hanya gumaman yang dapat ia keluarkan karena mulutnya masih tersumpal sebuah kain.

"Apa? Aku tak bisa mendengar perkataanmu Manis!"

"Eerrrrgghh!" Kyungsoo semakin histeris saat merasakan lidah orang itu menjilat wajahnya, pria itu menjilat pipi kanan Kyungsoo hingga mulut Kyungsoo yang masih tersumpal. Desahannya membuat Kyungsoo bergidik jijik.

"Ck, kau benar benar merepotkan!" Tanpa peringatn pria itu memukul kepala Kyungsoo karena Kyungsoo terus meronta, membuat pemuda mungil itu kembali tak sadarkan diri. Ia menyeringai dan menoleh pada pria lain yang berdiri tak jauh darinya dengan menggenggam sebuah kamera.

"Kau sudah merekamnya" tanyanya dan bersambut anggukan pria dengan kamera di tangannya itu.

"Good, kirimkan pada Byun brengsek itu!" Senyum kemenangan tercetak jelas di wajah pria itu masih dengan seringaian yang menghiasi wajah mengerikannya. Ia tersenyum puas ketika membayangkan permainan menyenangkan yang akan segera ia mulai.

. . .

"Tsk, dimana kau Kyung" pagi itu Baekhyun sengaja menunggu Kyungsoo di pelataran parkir sekolah untuk menunggu Kyungsoo karena pemuda itu tak menjawab panggilannya apalagi membalas pesan yang dikirimkan sejak semalam. Ia juga sama sekali belum melihat kedatangan Kyungsoo, sedangkan bel masuk sekolah akan berdering beberapa menit lagi.

Sembari duduk di atas kap mobilnya, Baekhyun berusaha menghubungi ponsel Kyungsoo kembali namun masih belum ada sahutan, dan ia mengumpat kencang.
"Shit, apa terjadi sesuatu?" Baekhyun menjadi sangat khawatir sekarang, terlintas pikiran buruk yang membuatnya semakin merasa tak tenang.

"Kau baik baik saja?" Jongin melintas di hadapan Baekhyun saat pemuda itu masih sibuk dengan lamunannya.

"Kyungsoo.."

"Kyungsoo? Kenapa dengannya?" Tanya Jongin.

"Dia tak menjawab panggilanku." Baekhyun menjawab pertanyaan Jongin dengan nada suara yang sangat pelan, namun perhatiannya masih tertuju pada layar ponsel. Ia tengah mengetik pesan pada Sekretaris Yoo untuk memeriksa keadaan Kyungsoo di rumahnya.

Jongin hanya memperhatikan apa yang Baekhyun lakukan, dan ketika mereka masih saling berdiam diri menunggu Baekhyun selesai dengan textnya, suara derap langkah cepat terdengar membuat mereka menolehkan wajah secara bersamaan. Baekhyun langsung bangkit dari duduknya saat melihat siapa yang menghampirinya.

"Tuan Do.." Baekhyun menyapa pria paruh baya yang telah sampai di depannya dengan membungkukkan tubuhnya. Tuan Do hanya menjawab sapaan Baekhyun dengan anggukan kepala dan berusaha mengatur nafasnya yang terengah engah karena berlari jauh.

"Kau teman anakku bukan?" Tuan Do menatap kedua pemuda tampan di hadapannya dengan raut wajah penuh kecemasan.

"Nde. Ada apa Tuan?" Melihat wajah Tuan Do yang sangat cemas membuat detakan jantung Baekhyun meningkat cepat dalam hitungan detik.

"Apa kau tau dimana anakku?"

"Maksud anda?"

"Dia belum kembali semenjak pergi ke mini market tadi malam. Aku tak mengerti dengan apa yang terjadi, kurasa sesuatu yang buruk terjadi pada anakku. Demi Tuhan, hanya kau yang terlintas dalam pikiranku saat Kyungsoo belum kembali. Dan aku menghampirimu disini karena aku tak tau dimana rumahmu.." Kalimat tak sabaran dari Tuan Do membuat Baekhyun membelalakkan matanya. Kyungsoo menghilang? Seharusnya ia sudah menduganya, sesuatu pasti terjadi pada Kyungsoo karena ia tak menjawab pesan dari Baekhyun sejak semalam. Baekhyun menggigit bibir bawahnya saat emosi mulai menguasai pikirannya.

"Ohh, Pendeta Do? Apa yang anda lakukan disini?"

"Sehun sshi!" Oh Sehun melintas di depan ketiga orang yang tengah berkumpul di pelataran parkir sekolah sambil berbicara serius satu sama lain dan sedikit terheran saat melihat kehadiran Tuan Do di sekolah mereka. Ia menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di depan Baekhyun.

"Kyungsoo menghilang sejak semalam. Apa kau melihatnya?"

"Menghilang?" Sehun justru balik bertanya dengan mata yang melebar horor dan berbalas anggukan dari Tuan Do.

"Nde, sepertinya diantara kalian tak ada yang tau keberadaan anakku. Lebih baik aku ke kantor polisi saja.."

"Aku akan membantu mencari Kyungsoo. Kau tenang saja Tuan" sedikit kelegaan terlihat di wajah tua Pendeta itu, ia menganggukkan kepalanya pada Baekhyun dan segera pergi meninggalkan ketiga pemuda yang masih terpaku di tempatnya setelah mengetahui kabar hilangnya Kyungsoo.

Sebuah pesan kembali masuk diponsel Baekhyun. Semula ia mengira Sekretaris Yoo yang mengirimkannya untuk memberitahu hasil pemeriksaannya di rumah Kyungsoo, namun mata pemuda itu terlihat menyipit saat menerima sebuah video yang dikirimkan dari nomor tak dikenal.

"K-Kwon?" Sehun dan Jongin mendengar dengan jelas kalimat tercekat dari Baekhyun dan mereka merapatkan diri pada pemuda itu untuk melihat apa yang ada di ponselnya hingga membuat Baekhyun seperti ketakutan setengah mati.

Sebuah video yang memperlihatkan Kyungsoo tengah terduduk di sebuah ruangan penerangan terbatas. Tubuh Kyungsoo terlilit tali pada sebuah kursi, matanya ditutup kain hitam dan mulutnya disumpal oleh kain dengan warna yang sama. Yang membuat ketiga pemuda itu bergidik ngeri adalah ketika seorang pria tampan dengan rambut berwarna putih mendekat pada Kyungsoo dan menjilat wajah pemuda itu. Baekhyun berdesis dan ia hampir menghancurkan ponselnya. Sebelum ia terlanjur melakukannya sebuah pesan kembali masuk.

'Temui aku malam ini di gudang tempat kau membunuh Yuri, Byun Baek! Sampai aku tau kau membawa salah satu agen kelompok bodohmu, aku tak berjanji si mungil ini kembali dalam keadaan utuh!'

. . .

"Sebenarnya apa yang terjadi brengsek!" Sehun menarik dan mencengkram kuat kerah jas seragam Baekhyun. Wajahnya memerah dan ia terlihat marah, satu hal yang Sehun yakini, hilangnya Kyungsoo pasti berhubungan dengan Baekhyun.

Baekhyun sama sekali tak mampu untuk membalas perlakuan Sehun, ia justru terlihat pasrah dan hanya berdiam diri tanpa mengatakan apapun. Jongin maju untuk membela Baekhyun, namun Baekhyun mencegahnya dengan menahan tangan Jongin yang akan menarik Sehun.

"Maafkan aku. Semua memang salahku. Aku akan menyelamatkannya" setelah mengatakannya, Baekhyun melepas genggaman tangan Sehun dan ia segera masuk ke dalam mobilnya.

"Aku ikut!" Jongin dan Sehun menyahut secara bersamaan dan tanpa mendengarkan pendapat Baekhyun terlebih dahulu, mereka membuka pintu belakang mobil dan duduk di bangku penumpang. Baekhyun menghela nafas, daripada membuang waktu berdebat dengan kedua pemuda itu, ia lebih memilih untuk meluncurkan mobil mewahnya agar dapat segera menyelamatkan Kyungsoo.

. . .

Selama dalam perjalanan menuju gudang di pelabuhan Busan, tak ada satu pun dari Baekhyun, Sehun maupun Jongin yang bersuara. Ketiganya hanya larut dalam diam, sibuk dengan pikiran masing masing. Raut wajah Sehun masih dipenuhi kekhawatiran dan kemarahan, Baekhyun dapat melihatnya dengan jelas dari balik kaca dalam mobil. Ia juga tak dapat menyalahkan Sehun, satu satunya orang yang bersalah di antara mereka adalah Baekhyun. Ia telah menyeret Kyungsoo terlalu jauh dalam kehidupannya dan membuat pemuda itu semakin dekat dengan bahaya.

Menjelang sore hari mereka tiba di pelabuhan Busan. Aktivitas di pelabuhan tak sepadat saat Baekhyun melakukan penyerangan terhadap transaksi antara Yuri dan Hyunshik. Mereka berjalan dengan berhati hati menuju sebuah gudang tua dimana Baekhyun ingat telah membunuh kekasih Jiyoung di tempat itu. Ia tak menyangka apa yang ia lakukan malam itu berdampak panjang dengan penculikan Kyungsoo.

"Kalian tunggu saja di luar. Si tua Kwon melarangku untuk membawa orang lain.." Baekhyun berhenti melangkah dan mencegah Sehun dan Jongin untuk mengikuti Baekhyun lebih jauh.

"Itu sangat bahaya Baek, kau bisa babak belur!" Ucap Jongin tak percaya.

"Kalau orangtua itu tau aku membawa orang lain, dia bisa mencelakakan Kyungsoo. Jadi kumohon, biarkan aku bergerak lebih dulu" Baekhyun kembali membujuk Jongin dengan wajah memelas.

"Kami akan mengawasi dari luar" Sehun tiba tiba menyela perdebatan antara Baekhyun dan Jongin, Baekhyun menganggukkan kepala dan segera memasuki gudang tua itu dengan langkah cepat. Sehun menarik Jongin untuk bersembunyi di balik sebuah container kosong.

. . .

Langkah Baekhyun melambat ketika ia telah berada di dalam gudang tua itu, sorot matanya mewaspada pada setiap gerakan atau suara yang terdengar. Sialnya ia hanya membawa sebuah pistol karena ia tak sempat untuk mengambil senjata di rumah atau markas Skull, Baekhyun juga yakin jika Jongin hanya membawa satu senjata karena mereka biasanya hanya membawa untuk berjaga jaga saat pergi ke sekolah. Semoga Sehun tak merepotkannya karena anak itu sudah pasti akan berkelahi dengan tangan kosong jika terjadi pertempuran.

Saat ia telah berada di tengah gudang, mata Baekhyun menyipit ketika ia melihat sebuah kain besar membentang di tengah ruangan gudang, seperti menutupi sesuatu namun ia tak dapat memastikannya karena bentangan kain itu terlalu mencurigakan. Baekhyun berhenti melangkah saat terdengar suara tepukan tangan yang menggema di ruangan kosong itu. Ia melirik pada asal suara dan gigi bergemeletuk saat melihat Kwon Jiyoung mendekat dengan sekitar 20 orang pria berbadan besar yang berpakaian serba hitam.

"Hai Byun, kau datang lebih cepat dari waktu yang kuinstruksikan. Tak sabar menyelamatkan kekasihmu rupanya?" ucap Jiyoung dengan seringaian lebar yang memenuhi wajahnya. Baekhyun berdecih dan sengaja meludah di depan Jiyoung.

"Cih, tak perlu berbasa basi. Dimana Kyungsoo?" sekali ia menyentak dan Jiyoung menatap intens ke arah Baekhyun.

"Kau sangat tak humoris Byun!" Jiyoung memutar bola matanya jengah dan berjalan menuju sebuah katrol yang ada tepat di pinggir bentangan kain. Dengan satu kali tarikan kuat, pria itu menarik kain tersebut dan Baekhyun menahan nafasnya saat melihat apa yang ada di balik bentangan kain yang kini telah jatuh ke lantai.

Kyungsoo terikat di atas sebuah katrol dengan tali yang membelenggu pinggangnya. Matanya tertutup kain hitam, dan mulutnya disumpal sebuah kain dengan warna yang sama dengan kain yang menutup matanya. Yang membuat tubuh Baekhyun melemas adalah Kyungsoo terikat tepat di atas sebuah akuarium kaca besar dengan tinggi lebih dari 2 meter. Ikatan tali yang membelenggunya terhubung pada katrol yang kini tengah digenggam Jiyoung, dengan kondisi seperti itu sekali saja Baekhyun membuat Jiyoung marah, pria itu bisa saja melepaskan katrolnya dan Kyungsoo berakhir tenggelam dalam akuarium raksasa tersebut. Seringaian di wajah Jiyoung semakin melebar saat melihat raut ketakutan pada wajah Baekhyun, ia semakin menikmati permainan yang baru saja dimulainya ini.

"Brengsek!" umpat Baekhyun dan ia mengarahkan pistolnya pada Jiyoung. Anak buah Jiyoung serentak menarik pelatuk senapannya dan mengarahkannya pada Baekhyun.

"Whoa whoa easy guys! Tidak menarik jika permainan ini langsung saling menembak. Aku bahkan belum bersenang senang"

"Kau pikir ini permainan Pak Tua?"

"Cih, bukankan sudah kukatakan sebelumnya, aku akan membuat permasalahan ini menjadi personal antara kita. Seharusnya kau memikirkannya sebelum menghilangkan nyawa Yuri" desis Jiyoung pelan. Baekhyun masih pada posisinya mengarahkan pistol pada Jiyoung, namun ia masih ragu untuk bertindak. Ia tak mau bertindak ceroboh dengan membuat Jiyoung melepaskan katrol yang mengikat tubuh Kyungsoo.

"Lalu apa maumu?"

"Senang rasanya mendapat tawaran dari seorang pewaris Keluarga Byun" Jiyoung memberi isyarat pada salah satu anak buahnya dan menyerahkan tali katrol yang langsung diambil alih anak buahnya tersebut. Setelah menjauh dari akuarium raksasa itu, ia melangkah mendekat pada Baekhyun dan menendang kuat tangan Baekhyun hingga pistol pemuda itu terlempar menjauh.

"Sekarang bersujud!" pria itu memaksa Baekhyun untuk bersujud di hadapannya. Baekhyun memandang penuh kebencian pada Jiyoung namun ia tetap menuruti perintah musuh bebuyutannya itu. Setelah Baekhyun bersujud, satu tendangan Jiyoung berikan pada Baekhyun membuat pria itu jatuh tersungkur. Tak puas hanya menendang sekali, ia kembali memberi tendangan bertubi tubi pada tubuh Baekhyun membuat Baekhyun terbatuk dan mengeluarkan darah segar pada mulutnya.

"MMMMM" Kyungsoo yang semula pingsan, kini terbangun saat mendengar teriakan Baekhyun dan ia meronta ronta pada gantungan tali yang mengikatnya.

"Kyung!" lirihan pelan Baekhyun terdengar sangat menyedihkan dan ia berusaha bangkit dari posisi tersungkurnya, namun sebelum ia melakukannya Jiyoung terlebih dulu menghadiahi wajah tampannya sebuah pukulan kencang.

"Bagaimana rasanya Byun? Melihat kekasihmu akan kubunuh? Akan kubuat ia menemani Yuri di alam sana?" Jiyoung mulai bergumam dan ia kembali meraih tali katrol yang dipegang anak buahnya.

"Sebenarnya apa maumu BRENGSEK!" Baekhyun berusaha bangkit dengan memegangi perutnya yang terasa sakit setelah dihajar Jiyoung. Mendengar kalimat tak sopan yang dilontarkan pemuda itu membuat Jiyoung terlihat kehilangan kesabaran dan ia sedikit mengendurkan tali katrol membuat tubuh Kyungsoo turun sekitar dua meter.

"Andwae!" Baekhyun berteriak histeris. Kini jarak Kyungsoo dengan akuarium raksasa itu hanya sekitar lima meter, jika Jiyoung melepaskan katrol itu kembali dapat dipastikan Kyungsoo berakhir dengan tenggelam di dalam akuarium raksasa tersebut.

"Ck, jaga kalimatmu Byun! Apa ayahmu tak pernah mengajarimu sopan santun? Ah, aku lupa ayahmu memang pria berandal yang tak tau sopan santun. Tak heran kau mewarisi kelakuannya"

"Shit, jangan bawa bawa ayahku, cepat katakan apa maumu!" umpat Baekhyun.

"Tak sabaran sekali? Keinginanku mudah saja. Kembalikan barang barangku yang ditahan Skull dan jangan usik bisnisku dengan Korea Utara lagi. Sementara kau bernegosiasi dengan Kim, si mungil ini tetap di tanganku"

"Kau benar benar pengkhianat negara Pak Tua!"

"Negara tak pernah menghargaiku, jadi jangan salahkan aku untuk ini!" Jiyoung berucap dengan nada sengit yang membuat Baekhyun mual karenanya. Saat mereka saling memandang dengan tatapan penuh kebencian, sebuah tembakan datang dari arah belakang Baekhyun dan mengenai salah satu anak buah Jiyoung. Baekhyun melirik ke arah belakang, dan melihat Jongin, Sehun, Luhan dan Kris tiba tiba muncul dengan menembakkan senapan masing ke arah Jiyoung dan anak buahnya. Tunggu, sejak kapan Kris dan Luhan ada di gudang ini?

"Hyung.." Baekhyun bergumam lirih dan dengan dibantu Kris, ia bangkit dari posisi tersungkurnya.

"Bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Baekhyun.

"Jongin…"

#Flashback beberapa puluh menit sebelumnya

Setelah Baekhyun masuk ke dalam gedung. Sehun dan Jongin bersembunyi di balik sebuah container menunggu waktu yang tepat untuk masuk membantu Baekhyun. Sehun melirik Jongin datar saat pria itu merogoh sesuatu dalam kantung jas seragamnya. Sebuah pistol caliber 5.7 mm.

"Apa ini terlihat aneh?" Jongin bertanya kepada Sehun dengan kening yang mengkerut. Sehun menjawab jongin dengan mengendikkan bahunya.

"Tidak.. tanpa pistol itu pun kalian sudah terlihat aneh di mataku" ucapan Sehun terdengar santai bagi Jongin membuat pria berkulit tan itu hanya berdecih sebal.

"Lalu apa rencananya? Apa kita hanya membiarkan Baekhyun babak belur lalu selamatkan Kyungsoo? Sebenarnya itu lebih baik karena aku hanya peduli pada temanku"

"Kita butuh senjata untuk menyelamatkan dua orang bodoh itu. Aku sudah menghubungi Kris dan Luhan, mereka akan tiba dalam 10 menit!" mendengar nama Kris dan Luhan membuat mood Sehun kembali turun, cukup dengan kabar hilangnya Kyungsoo serta melihat wajah Baekhyun dan Jongin membuat ia kehilangan kesabaran dengan cepat, sekarang ditambah dengan kehadiran Kris dan si China Luhan.

"Kau bisa menggunakan senjata?" pertanyaan Jongin membuat Sehun tersadar dari lamunannya.

"Kau meremehkanku Kim!" ucap Sehun jengah dan memutar bola matanya malas. Ia merebut pistol dalam genggaman Jongin dan menarik pelatuknya dengan gerakan cepat.

"FN 57, peluru kaliber 5.7 x 28 mm dengan kecepatan 850m/s"

"Whoaa kau banyak tau rupanya?"

"Ayahku mengoleksi senjata api untuk berjaga jaga, dan aku sering dilatih olehnya untuk menembak. Aku heran kenapa kau tak membawa senjata dari perusahaan ayah Baekhyun?"

"Kau sudah tau?"

"Tentu saja, kedekatan Kyungsoo dan Baekhyun membuatku mau tak mau mencari tau semua hal tentang si eyeliner itu!"

"Tsk, kau sendiri memakai eyeliner?" Jongin berdecak pelan menginterupsi Sehun.

"Entahlah, mungkin sejenis obsesi karena Kyungsoo ternyata menyukai pria berambut hitam dan memakai eyeliner."

"Kau menyukai Kyungsoo?" Jongin meniyipitkan matanya dan menatap Sehun intens.

"Seperti kau peduli saja!"

#Flashback End

Kris menarik Baekhyun yang sudah babak belur untuk mundur, Sehun Luhan dan Jongin maju menyerang dengan senjata api di tangan masing masing. Sehun ternyata sangat ahli dalam menggunakan senjata api, ia membuat Luhan dan Jongin hanya menatap takjub dengan ketepatannya membidik sasaran.

"T-tunggu, Kyungsoo ada di atas!" Baekhyun berteriak dengan suara full power agar tembakan yang dilepaskan ketiga pemuda tampan itu juga anak buah Kwon Jiyoung tak mengenai Kyungsoo. Namun terlambat, satu detik sebelum Baekhyun berteriak, Sehun melepaskan satu tembakan yang mengenai tangan Jiyoung yang tengah memegang tali katrol yang mengikat tubuh Kyungsoo. Tembakan itu reflex membuat Jiyoung melepaskan pegangannya, dan tubuh Kyungsoo yang masih terikat meluncur bebas ke dalam akuarium.

"KYUNG!" Sehun dan Baekhyun berteriak secara bersamaan. Mereka menatap ngeri tubuh Kyungsoo yang masih menggeliat dalam air, tubuh mungil itu perlahan lahan tenggelam karena ia masih terbelenggu tali yang mengikat tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, Jongin menembak beberapa kali ke badan akuarium raksasa itu, membuat akuarium besar itu pecah setelah terkena tembakan Jongin.

Baekhyun langsung menghampiri tubuh lemah Kyungsoo setelah ia terlempar keluar dari akuarium yang pecah. Wajah Baekhyun sudah pucat pasi dan tubuhnya bergetar hebat saat melihat tubuh mungil Kyungsoo yang terlihat lemah.

Adu tembak kembali terdengar dan satu per satu kawanan anak buah Jiyoung tumbang oleh bidikan senjata api Kris, Jongin, Sehun dan Luhan.

Baekhyun tak melibatkan diri dalam baku tembak dan lebih memilih untuk menyelamatkan Kyungsoo. Ia merengkuh tubuh mungil Kyungsoo dan memeluknya erat.

"Kyung…" Baekhyun berbisik lirih dan melepaskan tali di tubuh Kyungsoo serta penutup mata dan kain yang menyumpal mulut pemuda bertubuh mungil itu. Setelah Baekhyun menampar nampar pelan pipi Kyungsoo, akhirnya pemuda itu membuka kedua matanya. Bibir berbentuk hatinya mengulas sebuah senyuman saat melihat wajah tampan dan Baekhyun langsung menarik Kyungsoo dalam pelukannya.

"Kumohon, jangan pergi dariku lagi.." lirih Baekhyun pelan dan Kyungsoo membalas pelukan pemuda itu.

Setelah beberapa menit saling berpelukan, Baekhyun membantu Kyungsoo untuk berdiri. Kyungsoo merasakan pusing yang sangat kuat di kepalanya dan tubuhnya terasa limbung. Ia dapat mendengar dengan jelas bunyi tembakan yang saling bersahutan dan matanya membelalak horror saat ia melihat Sehun ada di antara pria yang masih saling menembak.

Belum sempat ia mencerna apa yang sedang terjadi, Kyungsoo melihat salah satu pria berpakaian hitam muncul secara tiba tiba dari arah samping Jongin. Pemuda berkulit tan itu sama sekali tak menyadari kehadiran pria yang kini tengah menodongkan pistolnya karena ia masih terlihat sibuk dengan kegiatan baku tembak. Tanpa sadar Kyungsoo melepaskan rengkuhan Baekhyun dan berlari ke arah Jongin.

DOR

Jongin tersentak saat merasakan seseorang memeluknya dengan erat. Kyungsoo tengah memandangnya dengan tatapan sayu, dan hal pertama yang ia sadari seseorang baru saja melepaskan tembakan pada Jongin yang justru mengenai punggung Kyungsoo yang ada di depannya. Jongin terpaku dan matanya hanya membelalak horor.

"Tetaplah hidup Jongin ah…" Bisikan Kyungsoo hampir saja tak dapat tertangkap indera pendengaran Jongin. Dan saat tubuh pemuda mungil itu jatuh ke lantai, tak ada yang lebih diingat Jongin selain bayangan saat ibunya menyelamatkan hidupnya 15 tahun yang lalu.

TBC


How about this chap? Kalimatnya sedikit berantakan, lagi mentok soalnya, kkk ~

Sebenernya mood lagi turun drastis gegara pemberitaan Baekhyun dan noonanya, mau gimana lagi, saya selalu menulis ff Exo dengan maincast Baeksoo, sekarang setelah skandal ini jadi sulit buat saya untuk melanjutkan imajinasi karna pasti terbayang ceweknya Baekhyun mulu tiap kali nyari moment Baeksoo *sigh. Saya sebenarnya kurang sependapat dengan orang orang yang selalu bilang, "kita hanya fans, gak punya hak atur kehidupan bias".. Well idol was nothing without fans, walaupun kita hanya fans yang cuma sekedar mendukung bias dengan menambah jumlah viewer MV di youtube tapi bukannya udah jadi konsekuensi jika menjadi idol sebagian kehidupannya menjadi milik fans juga? klise memang, dan saya malas berdebat lagi dengan orang orang yang menganggap kami yang kurang setuju dengan skandal ini sebagai fans yang immature, menyebalkan -_-

Buat yang nanyain lanjutan Broadcast, mianhae saya gak tau kapan bisa lanjutin, bisa namatin Skull aja kayanya udah alhamdulillah banget, itu juga kalo masih ada yang nungguin 2 ff ini, hahaha.

Last, to review readernim yang baik hati? Kamsahamnida *throwing heart