Rin dengan sabar menunggu jawaban Len, mungkin ada yang salah dengan pertanyaannya?
Sebenarnya perut Len sudah keroncongan, ia belum makan dari kemarin. Ah ia lupa, semoga saja tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
"Aku...begini.."
FLASHBACK~
Seorang pemuda tampak berlari terburu-buru, ia harus segera menuju ke istana sekarang. Kekacauan yang terjadi di wilayah kekuasaan kerajaan ini sangat parah, walau ia bukan berasal dari sini, tetapi ia adalah seorang putra raja, itu karena raja mengangkatnya sebagai anak sebab ia tidak kunjung mempunyai keturunan.
Sesampainya di istana, ternyata disini juga terjadi kekacauan, ah apakah dirinya terlambat? Sepertinya iya, buktinya seluruh prajurit beserta raja dan ratu sudah menjadi batu. Len tidak akan memaafkan orang yang mengakibatkan kekacauan ini, iris mata Len pun sudah menjadi warna merah.
"KELUAR KAU PENGACAU!" Bentak pemuda itu, amarahnya tidak terbendung lagi sekarang.
"Whoa, Whoa.. Ternyata putra angkat sang raja yang berteriak." ucap seseorang tersenyum licik dan turun dari langit-langit istana.
Sang pemuda membulatkan kedua bola matanya, "K-Kau..." geramnya, ia tau siapa yang ada di hadapannya ini.
Seseorang itu tersenyum evil, "Kita bertemu lagi, Pangeran Kagamine Len." ucapnya sembari melangkahkan kakinya untuk mendekati Len.
Len yang melihat itu tentu saja siaga, ia ingin sekali membunuh orang itu.
"Mau apa kau ******* **** si penyihir busuk!?" Bentak Len tak sabaran.
Seseorang yang dipanggil penyihir busuk itu sedikit kesal, apakah tidak ada panggilan yang lebih bagus dari itu?
"Aku bukan penyihir busuk! Aku adalah penyihir hitam! HAHAHAHAA!" tawa sang penyihir hitam itu menggema di seluruh ruangan istana ini.
Rahang Len mengeras, ia merasa dipermainkan sekarang. Iris mata Len beradu tatapan dengan iris mata Sang penyihir, warna iris keduanya merah darah.
Sang penyihir menyeringai melihat Len begitu marah terhadapnya, "Kau beruntung kali ini Len, aku hanya akan mengutukmu, tidak sampai menjadi batu seperti sampah-sampah disini." terang sang penyihir, di tangan kirinya kini muncul sebuah tongkat berwarna hitam dengan bola kristal berwarna merah darah di bagian pangkal atasnya.
"Mereka bukan sampah! Camkan itu!?" teriak Len tidak terima keluarga kerajaannya dihina.
Sang penyihir hanya menyunggingkan senyum jahatnya, cahaya berwarna merah kini terarah ke Len. Len yang tidak sadar kalau penyihir itu hanya memancingnya tadi, berusaha menghindar.
'Trang...'
"ARGHHH!" Sepertinya terlambat, cahaya berwarna merah itu telah menyelimuti tubuh Len.
FLASHBACK OFF~
"Saat aku sadar, aku sudah menjadi seperti ini dan berada di hutan itu." ucap Len menutup cerita masa lalunya.
Rin mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda ia mengerti.
"Kalau yang kenapa aku kesini, aku mencium bau makhluk dari dunia wi-ARGGHHH!" Len memegangi perutnya, ini sungguh menyakitkan.
"Len!" panik Rin, ia segera menghampiri Len yang sedang memegangi perutnya.
Rin menggoncang-goncangkan sedikit tubuh Len, sungguh ia sangat khawatir sekarang. Len kemudian mencengkram pergelangan tangan Rin-yang awalnya Rin gunakan untuk menggoncang tubuh Len-, Rin yang awalnya kaget itu langsung merintih kesakitan. Len menghadapkan wajahnya ke arah Rin, iris matanya berwarna merah darah, taring tampak di bagian bawah bibirnya, sorotan mata Len juga tajam, seperti ingin menerkam Rin hidup-hidup.
Oh Kami-sama! Apa yang terjadi dengan Len? Pikir Rin.
'Bruk!'
Len mencekik Rin saat ia mendorongnya ke dinding rumah Rin, Rin sangat sulit bernapas bahkan air matanya menetes dipipinya.
Len menatap Rin penuh nafsu, "Daging..." desisnya, air liurnya pun menetes dibalik mulutnya.
"Len..." desis Rin tak percaya, kesadarannya hampir lenyap.
Len menjilat pipi Rin, empuk dan manis pikirnya. Sungguh mangsa yang sangat ia idamkan, taring yang ada dimulutnya pun bertambah besar dan panjang.
"Hiks..." isak Rin disela-sela napasnya.
'Bruk!'
Rin terhempas ke lantai rumahnya, dengan segera ia mengambil pasokan oksigen sebanyak-banyaknya.
Len menatap telapak tangannya tak percaya, pupil matanya mengecil. Rin menatapnya bingung, napasnya masih terengah-engah. Len langsung lari menuju hutan angker tersebut, tidak peduli dengan Rin yang menatapnya penuh tanda tanya.
