"TETSUYA!" Akashi terperanjat seketika begitu menyadari detak jantung adiknya semakin melemah.
Sempat linglung untuk beberapa saat, Akashi berusaha kembali menguasai diri dan langsung melesat terbang ke kamar Kuroko Tetsuya menembus dinding yang memisahkan ruang kamar mereka berdua.
"Tetsuya!" seru Akashi begitu ia melihat Kuroko sudah tergeletak tak berdaya.
Menyongsong tubuh adiknya yang tampak sangat lemah, Akashi segera membopongnya ke atas ranjang.
"Kumohon jangan seperti ini Tetsuya." Memeluk dan mengelus surai babyblue adiknya sayang, tangan Akashi memendarkan cahaya merah guna menyembuhkannya.
"Tetsuya. bangunlah," lirih Akashi lagi. Mengecup kening Kuroko, Akashi tak kuasa menahan air mata yang lolos membasahi pipinya.
Apa yang selama ini dia takutkan akhirnya terjadi, Haizaki memang tidak melukai fisiknya, tapi Haizaki telah membuat batin Kuroko tersiksa. Akashi bisa saja menyembuhkan trauma Kuroko akan hal mengerikan yang dilihatnya, tapi Akashi tidak bisa memulihkan perasaan Kuroko yang tersakiti karna mencintainya. Jika sudah seperti ini, Akashi bahkan rela memberikan nyawanya sendiri demi kesembuhan adiknya.
Tanpa menghentikan proses pengobatan, Akashi merebahkan tubuh Kuroko perlahan. Berbeda dengan Kuroko yang bergegas mencari ponsel guna menghubungi teman-temannya saat terjadi sesuatu pada Akashi dulu, Akashi hanya perlu memejamkan mata dan memfokuskan pikiran.
"Semuanya, kumohon kemarilah. Sesuatu terjadi pada Tetsuya." Lirih Akashi dalam hati.
Para pelangi yang tengah ikut berkerumun dengan murid-murid lain untuk melihat kerusakan yang terjadi secara mengejutkan di sekolah mereka saling memandang satu sama lainnya.
"Aku merasa ada yang berbicara padaku nanodayo," ujar Midorima, dibalas anggukan oleh teman-temannya.
"Aku juga ssu."
"Aku juga."
"Aku seperti mendengar suara Aka-chin di kepalaku." Melirik ke atas, dengan polosnya Murasakibara berniat melihat apa yang ada di kepalanya.
"Itu memang suara Akashi-kun." Ujar Momoi.
"Tapi di mana si teme itu?" tanya Kagami, yang lain hanya menaikkan bahu tanda tidak tau.
Akashi di tempatnya menghembuskan nafas lelah, ini memang pertama kalinya dia bertelepati dengan mereka, tapi dia tidak menyangka teman-temannya akan se-telmi ini untuk menyadarinya.
"Ini memang aku, kalian cepatlah datang ke rumah," ujar Akashi lagi, mencoba untuk menahan emosi.
"Bagaimana bisa nanodayo?"
Aomine yang tidak paham sama sekali memandang ke sekeliling guna mencari keberadaan Akashi. "Oi, Akashi. Kau ada di mana?"
Oke, Akashi sudah tidak tahan lagi. Tanduk imaginer sudah muncul di kepalanya saat ini.
"Daiki, Shintarou, Ryouta, Atsushi, Taiga dan Satsuki. Bersiaplah!"
"Ap-apa ma—"? Mereka semua bertanya terbata. Namun, belum sempat mereka menyelesaikan pertanyaannya, tubuh mereka terasa ditarik kuat, isi perut mereka seperti diaduk-aduk, dan kepala mereka terasa berputar tujuh keliling.
Krasak Braak Bruugh
Dengan kejamnya Akashi menjatuhkan mereka semua dari atap rumah setelah menteleport mereka seenak jidatnya.
"Itai itai itai."
"Punggung ku."
"KAKI.. KAKIKU.. KAKIKU JADI PUTIH!"
"ITU KAKIKU AOMINECCHII!"
"Kagami, cepat menyingkir dari tubuhku nanodayo."
"Kagami.. telah.. te-was."
"Orang tewas kok bilang-bilang ssu."
Menggeleng pelan melihat kelakuan teman-temannya, Akashi sedikit membungkukkan badan dan berbisik pada Kuroko. "Tetsuya bangunlah, tidakkah kau merindukan saat-saat seperti ini bersama mereka?"
Tanpa mempedulikan teman-temannya yang membuat keributan dalam situasi seperti ini. Dengan wajah sendu Akashi hanya menatap wajah Kuroko yang tidak terbangun juga, tidak henti-hentinya ia memendarkan cahaya merah dari telapak tangannya, berharap bisa sedikit mengurangi beban adiknya. Sedangkan Momoi yang terduduk di atas para pelangi yang saling tumpang tindih, hanya bisa menganga dan menatap takjub sosok bersayap yang dilihatnya.
"Oi, Satsuki. Cepat menyingkir!"
"Momocchi, jangan diam saja ssu. Cepat menyingkir, Kagamicchi bisa benar-benar tewas ssu."
"Yang seharusnya tewas itu aku nanodayo." Protes Midorima yang berada di bawah Kagami.
"Aku yang paling bawah Mido-chin." Murasakibara ikut menimpali.
"Apa yang kau li-hat?" tak ubahnya Momoi, mereka semua ikut terperangah begitu mengikuti ke mana arah pandang Momoi.
"A-Aka.. Aka.. A." Ah, mereka bahkan sampai lupa bagaimana caranya berbicara. Ini sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka melihat Akashi dalam wujud malaikatnya. Meskipun sosok Akashi yang tengah bersedih tergolong suram dengan cahaya redup dan sayap yang terkulai. Tapi di mata mereka, sosok Akashi kini tak ubahnya seorang malaikat yang menawan hati, dengan kilauan cahaya yang menyinari, disertai sayap indah yang menghiasi, dan untaian garmen putih bersih yang melambai-lambai menggelitik birahi. Bolehkah fic ini berubah haluan menjadi harem!Akashi?/GAK.
Melihat bagaimana reaksi para pelangi saat melihatnya, Akashi lagi-lagi menghembuskan nafas lelah. Memejamkan mata sejenak, Akashi menciptakan angin sejuk yang berhembus menerpa mereka guna menetralisir energi serta menghilangkan rasa sakit atau mungkin cedera yang dialami para pelangi karna perbuatannya tadi.
"Tolong, pahamilah situasinya," lirih Akashi.
Segera menutup mulut yang tanpa sadar menganga lebar, mereka semua gelagapan dan segera bangkit berdiri.
Baru menyadari eksistensi pemuda bersurai babyblue yang terbaring lemah, mereka semua sontak membelalakkan mata.
"Apa yang terjadi dengan Tetsu-kun?!" pekik Momoi. Sebagai penggemar rahasia Kuroko, dia yang paling merasa khawatir saat ini.
"Apa yang terjadi Akashi?" Midorima yang juga cepat membaca situasi, bertanya dengan wajah cemas pada Akashi.
"Duduklah dulu, akan aku jelaskan semuanya," ujar Akashi lembut.
"Ano, Akashicchi.. bisakah kau.. mmm." Kise tidak tau bagaimana harus mengatakannya, tapi yang jelas Kise merasa perasaannya meletup-letup jika terus menatap Akashi dengan wujud seperti ini. Rupanya fokusnya belum bisa teralihkan dari Akashi.
Kagami dan Aomine tampak menggaruk tengkuk mereka dengan wajah memerah, sepertinya mereka juga memikirkan hal yang sama dengan Kise.
"Aka-chin, aku mencintaimu," celetuk Murasakibara.
Akashi terkekeh pelan mendengarnya. "Maafkan aku," ujarnya. Dan dalam sekejap mata, dia kembali ke wujud manusianya.
Mereka semua menghela nafas lega sebelum akhirnya berjalan mendekat guna melihat lebih detail keadaan Kuroko Tetsuya.
"Aku bertarung dengan Haizaki." Ujar Akashi tanpa menunggu diminta dua kali.
"APA?!" teriak mereka semua.
"Dan Tetsuya melihatnya."
"Apa Haizaki menyerangnya?" tanya Kagami.
"Apa Tetsu-kun terluka parah?" Momoi ikut bertanya panik.
"Kurokocchii~ huwwaaaa."
"Berisik Kise!" bentak Aomine.
"Apa Kuro-chin hampir di makannya? Krauk."
"A—"
Belum sempat Kagami menyelesaikan bagiannya, Midorima sudah menyela. "Kalian semua bisa diam tidak? Biarkan Akashi berbicara nanodayo."
Akashi hanya tersenyum tipis memaklumi keributan yang ditimbulkan teman-temannya. Dia menyadari, teman-temannya bukan tidak mengerti situasi, tapi memang seperti itulah cara mereka mengekspresikan diri. Dia tau para pelangi juga panik dan sangat menghawatirkan keadaan Kuroko Tetsuya, lagipula kehadiran mereka cukup bisa menghiburnya.
"Jadi, kekacauan yang terjadi di sekolah itu karna ulahmu nanodayo."
Akashi mengangguk mengiyakan. " Maaf karna tidak sempat aku bereskan."
"Minta maaflah pada pihak sekolah Akashi." Ujar Kagami.
"Baka!" Aomine memukul kepala Kagami, tidak habis pikir dengan si alis cabang yang sempat-sempatnya memikirkan pihak sekolah sedangkan ada hal lebih penting yang harus dipikirkan saat ini. Kuroko Tetsuya.
"Tunggu.. aku tidak mengerti Akashi-kun." Ujar Momoi, sukses menarik atensi semua orang yang ada di sana tertuju padanya.
"Akashi-kun bilang kau bertarung dengan Haizaki, dan Tetsu-kun melihatnya. Kenapa kita tidak?" tanya Momoi. Kini atensi semua orang beralih pada Akashi.
"Karna waktu berhenti otomatis saat itu, dan kalian semua membeku." Jawab Akashi tanpa mengalihkan perhatiannya dari Kuroko, ia terus berusaha menyembuhkannya.
"Bukankah kita tetap bergerak saat Akashicchi menghentikan waktu untuk menyembuhkan kakiku ssu?" Kise kembali bertanya heran, merasa janggal dengan apa yang Akashi katakan.
"Aku memang bisa menghentikan waktu sesuka hatiku dan memilih siapa saja yang tidak terpengaruh, tapi itu tidak berlaku saat ada Haizaki bersamaku. Karna kekuatan Haizaki untuk mengganggu manusia tengah terkunci, maka dia tidak bisa menampakkan diri di hadapan manusia sesuka hati, sebab manusia yang melihatnya dapat terganggu oleh tekanan energi negatif Haizaki yang tinggi. Karna itu waktu otomatis terhenti, hanya mereka yang bisa mengimbangi energinyalah yang tidak terpengaruh oleh penghentian waktu ini." Terang Akashi.
"Jadi maksudmu, ada dua penghentian waktu yang berbeda nanodayo?"
Akashi mengangguk. "Ya, waktu yang sengaja kuhentikan dan waktu yang otomatis dihentikan."
"Aku tidak mengerti, memang apa yang akan terjadi jika kita merasakan tekanan energi Haizaki?" tanya Kagami.
"Baka." Ledek Aomine.
"Jangan mulai lagi nanodayo."
Menghembuskan nafas lelah untuk kesekian kalinya, Akashi kembali mencoba memberi jawaban yang sedikit mudah dimengerti.
"Pernah dengar ada orang kesambet setan? Sakit setelah melihat penampakan? Atau tidak usah jauh-jauh, menjadi gila karna melihatku dalam wujud emperor seperti kalian? Itulah yang akan terjadi saat sebuah energi yang cukup besar menekan, karena itu kalian juga ikut dibekukan. Jika ingin melawan, cobalah untuk belajar meningkatkan energi dalam diri kalian."
Kini, mereka semua mengangguk mengerti, meskipun sebagian besar dari mereka sebenarnya tidak mengerti. Daripada terus melanjutkan pembicaraan tentang sesuatu yang tidak mereka pahami, dan penjelasan Akashi akan membuat mereka lebih kebingunan lagi, beberapa dari mereka lebih memilih pura-pura mengerti.
"Lalu, kenapa Kuro—"
"Kagami, Aomine, tolong carikan dokter untuk Tetsuya. Kise dan Murasakibara, carilah makan siang." Sela Akashi sebelum Midorima menyelesaikan kalimatnya.
"Baik!" Perintah Akashi yang terlampau cepat di saat pikiran mereka belum siap membuat mereka tanpa sadar mengiyakan begitu saja.
"Kau sengaja mengusir mereka nanodayo," ujar Midorima yang mengerti jalan pikiran sang surai merah yang terus berkutat dengan pemuda babyblue yang belum juga membuka mata.
"Aku tau ada banyak hal yang menganggu pikiran kalian berdua, dan mereka yang tidak mampu mencernanya hanya akan menganggu pembicaraan kita." Akashi melirik Midorima sekilas sebelum kembali menatap adiknya sendu. "Silahkan lanjutkan Midorima."
"Lalu, kenapa Kuroko bisa bergerak nanodayo?"
"Karena Tetsuya berbeda," jawab Akashi singkat tapi jelas.
"Apa maksud Akashi-kun dengan mengatakan Tetsu-kun berbeda?" kini giliran Momoi yang bertanya.
"Aku tidak bisa mengatakannya-" ujar Akashi. '-tapi aku ingin kalian mengetahuinya.' Lanjut Akashi dalam hati.
"Apa itu artinya Tetsu-kun memiliki kekuatan?" Momoi masih terus mencoba bertanya, tapi Akashi hanya diam seribu bahasa.
Berbeda. Energi. Meningkatkan. Melawan. Midorima mencoba memutar otaknya, merangkai setiap kata yang ia yakini merupakan sebuah petunjuk yang Akashi berikan untuk mendapatkan jawaban. Midorima menyadari, Akashi melakukan semua ini bukan tanpa alasan, tapi ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan. Tidak biasanya Akashi mengatakan sesuatu yang rumit seperti ini sedang dia menyadari teman-temannya akan sulit memahami. Untuk itu, dia harus bisa mencari cara lain untuk mengorek informasi tanpa harus menuntut jawaban Akashi.
"Sebagai penggemar oha-assa, aku pernah mendengar ada beberapa orang yang istimewa nanodayo," ujar Midorima pada akhirnya, menyampaikan segala kemungkinan yang terlintas dipikirannya.
Akashi tersenyum mendengarnya, dia sudah menduga Midorima mampu menangkap sinyal petunjuk darinya. "Lanjutkan Midorima."
"Jika itu benar, ada beberapa orang yang memiliki kekuatan supranatural. Entah itu murni dari dalam diri atau sengaja mereka pelajari. Aku sendiri terkadang merasakan sesuatu yang aneh seperti sedang diikuti atau diawasi nanodayo." Lanjutnya lagi.
"Kau memang sensitif Midorima." Akashi mengangguk mengiyakan, sedang Momoi hanya berusaha untuk mengerti. Sejujurnya dia tidak percaya dengan hal-hal seperti ini, tapi kehadiran Akashi sudah cukup menjadi bukti, sehingga mau tidak mau Momoi harus mengakui kebenaran semua ini.
"Apa Kuroko termasuk ke dalam orang seperti itu?" tanya Midorima lagi, berharap Akashi bisa menjawabnya kali ini.
"Kau memang jenius Midorima."
"Dan Midorin juga?" sela Momoi.
Menggelengkan kepalanya perlahan, Akashi mencoba menjelaskan. "Midorima hanya manusia biasa, tapi karna dia percaya dan memiliki keyakinan yang tinggi, sehingga mampu meningkatkan energi dalam diri. Keyakinannya pada lucky item yang dapat membawa keberuntungan baginya, secara tidak langsung juga meningkatkan energi positif dalam diri sehingga terhindar dari energi negatif yang menghampiri. Dan saat energi negatif itu memaksa mendekat dengan frekuensi yang lebih tinggi, maka Midorima akan merasakan sebuah tekanan, sehingga ia bisa mengetahui adanya gangguan."
Bulu kuduk Midorima meremang seketika begitu mendengarnya. Apa yang Akashi katakan ada benarnya juga. Berbicara tentang lucky item, Midorima teringat kembali lucky itemnya yang pecah hari ini dan segala hal buruk yang terjadi.
"Tapi jika Midorima mau, Midorima bisa mengasahnya dan belajar untuk mengendalikannya." Lanjut Akashi lagi, seperti sengaja menakut-nakuti. Tapi bukan tanpa tujuan dia mengatakan ini.
"Tidak, aku tidak mau. Aku percaya pada lucky item hanya agar terhindar dari kesialan, bukan untuk berhubungan dengan setan."
"Tidak semua yang gaib berhubungan dengan setan Midorin, lagipula sejak awal kita memang sudah berhubungan dengan hal seperti itu kan?" Momoi melirik sekilas Akashi.
"Bisa kita kembali pada Tetsuya?" tanya Akashi, tidak ingin pembicaraan mereka melenceng lebih jauh lagi.
Midorima dan Momoi mengangguk mengerti. "Lalu pertanyaannya, bagaimana Kuroko bisa mendapatkannya nanodayo?"
"Setauku Tetsu-kun tidak pernah mempelajarinya dan dia bersikap biasa-biasa saja. Bahkan dia cenderung tidak percaya dengan hal seperti ini."
"Hawa keberadaan Tetsuya sangat tipis, dan itu bukan tanpa alasan." Pancing Akashi, berusaha memberi petunjuk lebih.
"Jadi, Kuroko memang memiliki kekuatan terpendam nanodayo."
Akashi mengangguk. "Dan hal itu bisa disebabkan karna keturunan."
"Apa Tetsu-kun keturunan paranormal?" tebak Momoi.
Akashi cukup sweatdrop mendengarnya. Tapi dalam hati dia berharap kedua teman jeniusnya dapat menebak dengan benar.
"Tetsuya bukan keturunan paranormal dan aku dijatuhi hukuman ke bumi lalu mendarat di rumahnya bukan hanya sebuah kebetulan." Terus berusaha memberi petunjuk, Akashi memberi penekanan pada nama adiknya.
Kuroko berbeda. Midorima hanya manusia biasa. Keturunan. Tetsuya?
"TUNGGU!" Seru Midorima mengagetkan Momoi. "Aku baru menyadarinya nanodayo. Kenapa kau memanggilnya Tetsuya? Kepribadianmu tidak bertukar lagi kan? Semua ini mulai masuk akal nanodayo."
Akashi tersenyum mendengarnya, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Kuroko Tetsuya guna meyakinkan Midorima. Akashi lalu mengecup kening Kuroko sekilas, beralih ke hidungnya dan berhenti di bibirnya.
Midorima dan Momoi terbelalak seketika begitu potongan-potongan puzzle yang berserakan kini telah tersusun sempurna.
Kuroko berbeda, dia bukan manusia biasa, dia memiliki kekuatan terpendam. Energinya meningkat saat berusaha untuk melawan waktu yang membeku. Dan semua itu bukan hanya sebuah kebetulan, malaikat jatuh di rumahnya bukan tanpa alasan, tapi karena keturunan. Tetsuya…
"Jangan-jangan…"
"Kalian berdua…"
"BERSAUDARA!" seru mereka berdua kompak.
Akashi hanya diam, tidak mengelak, tidak juga mengiyakan. Tapi dia yakin, kedua temannya ini telah mengerti apa yang ingin dia sampaikan.
"Bagaimana bisa nanodayo?" tanya Midorima tak percaya.
"Aku tidak bisa menceritakannya pada kalian sebelum Tetsuya sendiri mengetahuinya."
"Jadi, Tetsu-kun tidak tau?"
Akashi menggeleng. "Aku berusaha memberitahu kalian tentang ini bukan tanpa alasan, aku butuh bantuan kalian."
"Apa yang sebenarnya terjadi nanodayo? Apa kau ingin kami membantumu mengatakannya pada Kuroko?"
"Tidak, aku bisa mengatakannya sendiri. Hanya saja, aku sudah terlanjur masuk perangkap Haizaki dan Tetsuya yang telah terhasut olehnya pasti tidak akan mudah menerima semua ini."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan Akashi?"
"Jika Tetsuya tidak bangun juga, aku akan membuat taruhan dengan diriku sendiri."
"Apa maksudmu Akashi-kun?"
"Jika Haizaki sampai berani mempertarukan nyawanya untuk menjebakku dalam permainan ini, maka akupun akan melakukan hal yang sama untuk memenangkan permainan ini."
.
.
-TBC-
.
.
Note:
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada yang tidak dimengerti silahkan bertanya. Apabila ada hal yang tidak masuk logika, dimohon untuk memakluminya, jangan terlalu dianggap serius ya ^^
.
.
Maaf kalau chapter ini gak jelas banget, semoga masih layak untuk dibaca.
Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktunya untuk membaca :) Jangan lupa review ya ^^
.
.
Balasan Review:
orange velvet cupcake lupa password (wkwk :V) : sama-sama ^^ (Ini review tidak ada pendek-pendeknya Mikan,-)
Tentang maminya Akashi itu. Ya ampun, memang sudah kebiasaan buruk saya -_-" terima kasih sudah membantu mengoreksi ya :)
Dan masalah rating juga, jujur saya memang tidak paham rating /ditabok. Tapi sekarang saya sudah 'agak' paham dan sudah saya rubah. Sekali lagi terima kasih banyak, lagi-lagi saya mendapat pelajaran yang berharga :')
Terima kasih juga untuk reviewnya Mikan ^^
Shinju Hatsune: ini udah lanjut ya, semoga suka terima kasih banyak atas reviewnya ^^ /besok-besok banting lemari aja xD
Narakura: waah ada yg satu 'kesukaan' sama saya #Senangnyaa :D
Iya nih, Kuroko bikin greget aja, bisa-bisanya g bisa mengerti perasaannya sendiri wkwk
Terima kasih banyak sudah mau menunggu dan menyukai ff (gaje) saya #Terharu :') dan terima kasih juga atas semangat dan reviewnya ^^
Terima kasih juga bagi yang sudah memfavorit dan memfollow ff saya :D
