Jalinan Takdir

Chapter 7

"nona, berbicaralah sekarang, tidak akan ada yang menyakiti kalian, saya mohon kerja samanya!"

Seseorang kini tengah mengintrogasi beberapa saksi penyerangan yang telah terjadi disebuah bank international. Beberapa jam yang lalu, mereka berada dalam bahaya, namun setelah pihak kepolisian datang mengamankan mereka bertiga, kini mereka agak baikan. Mereka bertiga, adalah beberapa wanita yang angkuh dan terlihat sombong, namun ada juga yang lugu dan terkesan lembut. Wanita pertama berambut panjang pirang dengan rambut bagian depan yang selalu menutupi sebelah matanya, wanita kedua seorang wanita berambut pendek dan terlihat beringas.

Wanita yang ketiga sesorang yang sepertinya lembut dan baik hati, rambutnya panjang dan mata yang indah itu membuat salah satu pengintrogasi tidak mampu mengalihkan perhatiannya dari wanita yang satu ini. Lembut? Mungkin karena dia sudah mempunyai seorang anak yang ada dalam gendongannya, kemungkinan besar perasaan lembut itu tumbuh untuk melindungi anaknya, oang tua yang baik dan lembut, pikir Naruto, salah satu pengintrogasi ketiga saksi itu.

"ayolah nona-nona, katakan apa yang kalian lihat saat kejadian itu, bagaimana bentuk fisik mereka, tampang mereka dan adakah dari kalian yang tahu persis seperti apa wajahnya, adakah yang tahu?"

Ketiga wanita itu hanya terdiam, dan itu membuat pengintrogasi menjadi panas. Mereka akan bertanya sekali lagi, jika mereka tidak menjawab maka akan mendapat konsekuensi, entah apa itu. Sang pengintrogasi yang berambut hitam pekat itu kini bertanya, "nona-nona, rekan saya Sai, hanya membutuhkan secuil jawaban, jawablah.. mungkin anda nona!" Sasuke menunjuk Sakura, "siapa nama mu nona?"

"Sakura." Jawabnya, "dan aku tidak tahu sama sekali wajah mereka seperti apa, aku hanya ketakutan disini, kalian tahu apa yang mereka katakan saat kami menjadi tawanan?"

"aku akan mengikuti kalian kemana pun kalian berada jika kalian berurusan dengan polisi, itu yang mereka katakan, kalian puas?" salah satu saksi yang bertubuh seksi itu menjawabnya. Dan itu membuat Sai menyeringai ke arahnya, Ino tidak mau kalah, dia pun menyeringai. Kini dua saksi dan dua pengintrogasi telah kita ketahui nama mereka masing-masing. Tentu untuk dua yang lainnya pasti bisa kalian tebak. Naruto mengamati Hinata yang tengah menenangkan bayinya yang mulai merengek, "nona.. apakah kau melihat wajahnya?" tanya Naruto pada Hinata yang kita ketahui tengah menggendong seorang bai, "aku?" Naruto mengangguk.

"aku rasa kau mengetahui sesuatu." Ujar Naruto.

"a-aku... aku t-tidak..."

"dia tidak tahu apa-apa, sebaiknya tolong ijinkan kami pergi tuan-tuan, karena kami mempunyai urusan kami masing-masing, dan kalian pun tahu bukan, mereka mengancam kami!" ujar Ino.

"jika memang benar itu sebuah ancaman, maka kalian harus dilindungi. Sai, laporkan hal ini pada ketua!" ujar Naruto. Sai pun melaporkan hasil introgasi mereka, beberapa menit kemudian ketua Kakasih datang diantara mereka, "apakah benar yang mereka katakan nono, apa kalian diancam?" tiga wanita itu saling bertukar pandang, mereka sangat ketakutan jika pihak polisi ikut campur dalam kehidupan mereka, itu berarti mereka berada dalam bahaya. Tapi ini sudah terlalu jauh untuk mereka bertiga, jika polisi itu menjaga mereka, mungkin tidak akan ada bahaya jika disekitar mereka.

Sakura berbicara lantang, mereka semua berbicara jujur sekarang, tentang apa yang mereka lihat dan mereka dengar dari para penyerang itu. Sebuah perjanjian disebuah tempat dan diwaktu yang sangat dekat. Mereka bertiga pasrah jika ini memang yang terbaik, para perngintrogasi itu kini mempunyai pekerjaan tambahan, yaitu melindungi tiga wanita itu. Dan diantara mereka juga sudah memilih masing-masing siapa yang akan mereka jaga. Tentunya Hinata akan dijaga oleh sang pengintrogasi yang memiliki mata biru sebiru lautan samudra, dia tahu itu, sejak awal.

Kini sang ketua kembali lagi ke ruangannya dan menitipkan tiga wanita ini pada mereka bertiga. Sai tentunya akan menjaga Ino, begitu juga Sasuke yang menjaga Sakura. Kemana pun mereka pergi, mereka harus menjaga wanita-wanita itu. Hal pertama yang harus mereka lakukan adalah mengantar mereka pulang. Naruto masih mengamati Hinata yang masih terduduk dan terus saja bergelung dengan bayi yang ada dalam gendongannya. Sedangkan rekannya yang lain sudah lama pergi mengantar dua wanita lainnya.

"apakah kau perlu bantuan nona Hinata?"

Hinata melihat mata Naruto, lalu ia menunduk kembali dan melihat bayinya lagi. Sebisa mungkin Hinata harus menghindar dari tatapan itu, dan dari mata itu, harus! Tapi Naruto begitu dekat, terpaksa Hinata menatapnya dan saat itu juga tatapan mereka terpaku. Beberapa detik kemudian bayi itu menangis, mereka tersadar, Hinata menenangkan bayinya, Naruto membantu membawa barang-barang Hinata. Kini mereka tengah menyusuri jalan menuju tempat Hinata pulang.

"jika kau tahu sesuatu, bicaralah jujur padaku, kau tahu bukan, ketua menyuruh kami untuk melindungi kalian, jadi jangan takut!"

"aku tidak takut, hanya saja, aku takut terjadi sesuatu pada bayiku!"

"tidak akan ada terjadi sesuatu padanya, aku janji akan melindunginya dan melindungi mu!"

Hinata menatap Naruto saat mobil mereka terhenti didepan rumahnya, "terima kasih tuan!" Naruto membaantu membawa barang-barang itu masuk ke dalam, "panggil Naruto saja, tidak apa-apa!" Hinata tersenyum dan Naruto menykainya, "baiklah, kau juga harus memanggil nama ku saja!"

"setuju!" ujar Naruto.

Keesokan harinya ketiga wanita itu kini bersamaan datang dengan pelindung mereka masing-masing ke kantor polisi, mereka mendapat sebuah ancaman. Ketua Kakashi melihat ketiga pesan, pesan yang sama dan hidup ketiga wanita itu menjadi taruhan, "kami hanya seorang pelanggan di bank itu, tapi kenapa kami menjadi terancam seperti ini, ini tidak adil!" ujar Sakura. Kakashi mengembalikan ponsel itu, "maafkan saya nona Sakura, tapi saya berjanji akan melindungi hidup kalian walau apa pun yang terjadi, saya sudah menugaskan mereka bukan untuk melindungi kalian, jadi kalian tidak perlu kahwatir, semuanya sudah dijamin, tenang saja!"

"yaah kami memang ketakutan tuan, dan mereka saja tidak cukup bagiku!" tunjuk Ino pada tiga polisi itu, Naruto, Sasuke, dan Sai tentu saja.

"hey nona, yang benar saja." Ujar Sai protes

Mereka kini saling bertatapan satu sama lain, tapi tidak dengan Naruto dan Hinata yang hanya memperhatikan situasi. Mereka kini kembali ke pekerjaan mereka masing-masing, tentu saja degan ditemani para polosi itu. Hinata melakukan tugasnya, yaitu mengantar anaknya ke klinik karena saat ini anak itu tengah sakit. Setelah ke klinik Hinata dan Naruto duduk di taman sambil mengawasi anak Hinata yang sedaang bergelung dengan mainan didepannya, "sepertinya dia bukan lagi bayi!' ujar Naruto, "berapa umurnya?"

"satu tahu lebih, aku menganggapnya masih bayi, karena dia tidak bisa apa-apa kecuali merengek."

Naruto terkekeh, "kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu pada anak mu, kau kejam sekali sebagai seorang ibu!"

"hey tuan, kau tidak harus menilai sisi jelek ku menegti."

"baiklah, baiklah.. maafkan aku. Aku sangat kagum pada mu Hinata, di usia yang sepertiny tidak jauh berbeda dariku ini, tapi kau sudah mempunyai seorang anak, aku... hey maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk..."

"usia ku memang sangat muda, dan itu tidak masalah bukan!"

"yah tentu saja... anak mu sangat tampan, apa ayahnya baik-baik saja?"

Hinata menatap Naruto, "ayahnya sudah meninggal."

"maafkan aku... aku tidak tahu, aku... kau pasti sedih karena harus kehilangan suami mu dan kau mengurus nya hanya sendiri!"

Hinata terkekeh, dan itu membuat Naruto bingung, "kanapa kau tertawa?" Hinata memandang langit sekejap, lalu dia menatap anaknya. Naruto masih bertanya-tanya apa yang membuat Hinata tertawa, akhirnya Hinata berbicara dan ia menatap Naruto, "aku belum mempunyai suami tuan, jadi aku tidak kehilangan suami karena aku belum punya." Ujar Hinata. Naruto menatap anak itu, memang tidak ada kemiripan antara Hinata dan anak itu, lalu anak siapa dia? Batin Naruto.

"lalu..."

"dia anak dari bibi ku, itu artinya dia keponakan ku!"

"tapi kenapa kau mengklaim bahwa dia anak mu?"

"aku tidak mengklaim, aku hanya... aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, itu saja. Dan... rasanya sangat berbeda ketika aku harus menjadi seorang ibu, timbul rasa keibuan dan rasa ingin sekali melindungi lebih dari melindungi diriku sendiri. Aku mencintainya sebagai kakak dan ibu, tentu saja saat nanti dia besar dia harus memanggilku kakak, aku tidak mau dia menganggapku ibu, karena aku pikir bibiku ingin sekali dipanggil ibu. Dia lahir saat bibiku meninggal dan dia tidak sempat mendengar anaknya memanggil dia ibu," Hinata menghela napas, "kenapa aku bercerita padamu, seharusnya kau tidak memancingku!"

"jika aku tidak memancingmu, maka aku tidak akan tahu kalau kau masih..."

Hinata menatapnya intens, kalau kau masih gadis dan masih sendiri, itu yang akan Naruto katakan, tapi dia menghentikannya, "mau makan sesuatu?" tanya Naruto. Menyipitkan matanya, "kau tidak mau bilang seperti itu tadi, aku penasaran apa yang akan kau katakan!" Naruto tetap diam. Baiklah, karena Naruto hanya teridam saja Hinata lalu menghampiri anaknya dan membawanya pergi. Naruto mengikutinya, "kau mau kemana, itu bukan jalan dimana rumah mu berada!"

"kau lupa yah, ketua mu mengatakan kalau kami bertiga akan di tempatkan dalam satu rumah, bukankah ini jalan yang benar?"

"ah yah.. aku lupa, kenapa aku jadi lupa yah?"

Hinata terkikik geli melihat Naruto yang terlihat bingung sendiri. Saat dalam perjalanan mengantarkan Hinata, Naruto tidak berfokus sama sekali, jadi dia mendapat banyak omelan dari Hinata. Saat mereka sampai teman-temannya yang lain sudah berkumpul, Ino mendapat hari yang menakutkan hari ini, dia hampir diserang, tapi untung saja Sai melindunginya. Begitu juga dengan Sakura yang hampir diserang, untungnya mereka semua tidak apa-apa. Hanya Hinata disini yang tak mengalami hari sial itu.

Saat para wanita memasuki satu kamar mereka, para polisi itu tengah duduk-duduk di ruang tengah dan membiacarakan sesuatu. Para wanita kini berisap untuk tidur, tapi mereka juga membicarakan sesuatu, "seharusnya aku tidak pergi ke bank itu, sial sekali hidupku!" ujar Sakura.

"ini sebuah musibah, kita tdak tahu apa yang akan terjadi bukan!" ujar Hinata yang sedang menenagkan anaknya yang sedang menangis, "Hinata benar Sakura, aku sedikit berntung karena polisi itu sangat melindungi ku!"

"hey... kau? Wah wah wah.. lihat dia Hinata, apa yang polisi itu lakukan padanya yah?"

"hey jangan belebihan, kau juga bukan!" ujar Ino.

Mereka berdua terkikik geli, "kalian mendapatkan kesan yang baik rupanya!" mereka berdua berhenti tertawa dan menatap Hinata, "ada apa, kenapa kalian menatapku seperti itu?" Sakura dan Ino menghampri Hinata, "ceritakan padaku apa yang kalian lakukan selama bersama?" Hinata menatap mereka berdua bergantian, "kami tidak melakukan apapun, dia memang bersama ku dan kalian juga tahu itu, kerna kalian juga bersama dua polisi lainnya. Apa tugas mereka? Tentu saja mereka melindungi kalian bukan, itu yang dilakukan Naruto padaku!"

"ooh kau dengar Ino, sekarang dia memanggil namanya."

"aku mendengarnya dengan sangat jelas Sakura. Aku penasaran, apa reaksi Naruto saat dia tahu kalau Hinata masih perawan dan bukan seorang janda, apakah reaksinya Hinata?"

"hey sudah hentikan, dia tidak bereaksi apa-apa, jangan sama kan aku dengan kalian. Mungkin kalian merajut sesuatu dengan mereka..."

"tentu saja. Dan kau pun begitu, ayolah Hinata, terbukalah pada kami, kau menyukainya kan?"

Seketika itu Hinata merona. Mereka baru satu minggu bertemu sejak penyerangan itu, tapi bagitu mudahnya Hinata, Sakura dan Ino menjalin pertemanan, dan tidak disangka-sangka pula mereka juga sudah menjalin sesuatu dengan para polisi itu. "sudah hentikan, aku ngantuk, selamat malam!" ujar Hinata sambil mendorong kedua temannya menyingkir dari tempat tidurnya.

Keesokan harinya mereka bertiga terbangun dan melihat para polisi itu masih tertidur di sofa. Beberapa menit kemudia mereka terbangun dan memandang satu sama lain, "ya tuhan, kita tertidur disini, apa mereka melihat kita?" ujar Sai, "maksud mu para wania itu?" tanya Sasuke. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan mereka. Mereka bertiga mencium wangi yang menyenangkan masuk kedalam hidung mereka, "apa mereka sedang memasak?" Sasuke dn Sai menggeleng. Tanpa berpikir panjang mereka lalu bergegas ke dapur.

Di dapur mereka melihat ketiga wanita itu tengah bahu membahu mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga, terlihat disana Hinata tengah memasak sebuah sup, Sakura yang menanak nasi dan Ino yang sedang menyiapkan peralatan makan, "kalian sudah bangun? Baguslah, sekarang apakah kalian hanya akan berdiri saja disana tanpa membantu kami?" ujar Ino. Lalu Sai lebih du;u menghampirinya, "aku akan selalu siap!" ujar Sai. Dan dua orang yang lain menyusul.

Terdengar di dalam kamar sebuah tangisan, dan Hinata langsung bergegas, disusul oleh Naruto. yang lain hanya melihat mereka sambil menyeringai dan meggelengkan kepala. Saat tiba di kamar Konohamaru terbangun dan tidak menemukan siapa-siapa di kamar itu, "apakah dia lapar?" Hinata menenangkannya, "sepertinya begitu!" Naruo memperhatikan Hinata, "mungkin aku akan memberinya makan terlebih dahulu sebelum memandikannya, dia benar-benar lapar!" ujar Hinata. Naruto tidak tahu harus melakukan apa, tapi yang pasti dia harus pergi sebelum Hinata memberinya makan.

"kau mau kemana Naruto?" panggil Hinata dengan menyebut nama Naruto, terdengar menyenangkan, pikir Naruto.

"tentu saja aku akan keluar, kau mau meberinya makan kan?"

"memang iya, kau berpikir Konohamaru minum ASI? Tidak, dia minum susu formula. Jadi, apakah kau mau menjaganya selama aku membuat susu?"

"oooh, baiklah." Naruto mengangguk, lalu dia mengambil Konohamaru dari gendongan Hinata.

Hinata bergegas kembali lagi ke dapur dan membuat susu, semua yang ada di dapur terlihat bingung dan penasaran, tapi mereka tidak bertanya, hanya diam saja dan melihat Hinata sibuk dengan membuat susu. Sesorang berdehem, "sibuk sekali rupanya, mau ku bantu?" ujar Sakura, Hinata tidak menggubrisnya, "kau tidak perlu membantunya Sakura, sepertinya sudah ada yang membantunya, lihat dia, menggemaskan sekali!" Hinata tidak akan tergoda saa kedua temannya menggodanya. Dia langsung meninggalkan mereka setelah selesai membuat susu.

"apakah kalian sering menggodanya seperti itu?" tanya Sai.

"kami bahagia kalau dia juga bahagia, kalian tidak lihat tadi, dia merona!" ujar Ino

"aku ingin bertanya pada kalian berdua, apa Naruto menyukai Hinata?" tanya Sakura

Disisi lain Naruto tengah menggendong Konohamaru, dia tidak lihai dengan anak kecil, tapi kalau hanya menggendongnya saja mungkin tidak apa-apa. Naruto berpikir apakah dia akan terlihat hebat jika menjadi seorang ayah, apakah dia akan membahagiakan anaknya tanpa pekerjaan yang membebani hidpnya, dan agar dia meluangkan waktu banyak untuk anak-anaknya, apakah dia bisa seperti itu? Entahlah! Dia belum memiliki anak sekarang, tapi yang jelas...

"apa yang sedang kau pikirkan?" Hinata sedari tadi sudah berada di depan pintu dan melihat Naruto tengah berpikir, namun apa yang dia pikirkan, batin Hinata.

"aah tidak, aku hanya sedang berpikir!" sesuai dugaan Hinata. Hinata menghampiri Naruto, mereka terduduk di tempat tidur dengan Konohamaru yang masih berada di dalam gendongan Naruto. Hinata lalu memberinya susu dan Konohamaru benar-benar melahapnya, "wow, dia benar-benar lapar!" ujar Naruto. rasanya aneh bila sedekat ini dengan Hinata, pikir Naruto. seakan-akan dia tidak ingin melepas Hinata dan membiarkan Hinata pergi jauh, setelah semua ini selesai Naruto tidak akan melepaskannya, apapun yang terjadi, Hinata harus menjadi miliknya.

Mengapa pikiran seperti itu tiba-tiba menyerang Naruto? rupanya dia sudah benar-benar jatuh cinta pada Hinata, sejak kapa? Mungkin sejak saat penyerangan, saat Hinata terduduk ketakutan dan menggendong anaknya, Naruto menghampiri Hinata dan memberinya perlindungan. Sejak saat itu matanya tak bisa lepas dari Hinata, tapi apakah Hinata mempunyai perasaan yang sama pada Naruto? dipihak lain Hinata masih sendiri, dan itu sebuah berkah bagi Naruto, dia juga pasti mempunyai rasa yang sama seperti perasaannya, batin Naruto.

"apa yang kau pikirkan?" tanya Hinata. Hinata menatap Naruto, "aku berpikir apakah menjadi orang tua itu menyenangkan?" Hinata terkekeh, "kau lihat, ini tidak terlalu buruk kan!" tunjuk Hinata pada situasi saat ini, dimana Naruto tengah menggendong seorang anak, anggap saja anak itu adalah anaknya, "kau benar, ini sangat menyenangkan. Apakah pemikiranku sama dengan mu?" Hinata mengangguk. Hinata membaringkan Konohamaru lagi di tempat tidur bayi, karena sepertinya Konohamaru tertidur lagi setelah kekenyangan.

"kita tidak jadi memandikannya?" Hinata mengangguk. kata 'kita' bagi Hinata terdengar nyaman.

"sedari dulu aku ingin sekali menjadi seorang ibu, saat Konohamaru lahir disitulah keinginan terbesarku, memiliki seorang anak untuk aku sayang dan untuk aku lindungi, lalu keinginan ku tiba-tiba saja terwujud, bibiku meninggal dan Konohamaru... kini dia sudah ku anggap sebagai buah hatiku. Namun tidak akan berlangsung lama setelah ia tumbuh besar nanti, dia hanya akan menjadi seorang adik, adik yang sangat ku sayangi."

"lalu apakah kau tidak memiliki seseorang yang... pasti banyak laki-laki yang menginginkan mu!"

Hinata menole ke arah Naruto yang tengah menatapnya, Hinata menggeleng, "tidak ada... aku menolak mereka semua, dan aku tidak ingin!"

"lalu apakah sekarang kau ingin?"

Mereka berdua saling menatap dengan tatapan mendamba satu sama lain. Apakah ini yang di inginkan Hinata? Hinata bingung dengan pikirannya, ia mulai bangkit dan menjauh dari Naruto. Naruto mengikuti Hinata yang berdiri didekat jendela, ia memegang tangan Hinata lalu membalikan tubuhnya agar menghadap Naruto, "apakah ini terlalu sulit untuk mu Hinata?" Hinata menundukan kepalanya, tapi Naruto menyentuh dagu Hinata dan membawa mata Hinata agar terpaku dengan matanya, "tidak ada yang sulit, aku hanya... aku butuh waktu untuk mencerna semua ini, untuk aku bisa lepas dari situasi ini, disaat itulah mungkin akan terasa mudah bagiku, dan..."

"aku akan membuat ini mudah, setelah semua ini, percayalah padaku!"

Akankah Hinata percaya pada orang yang baru ia kenal, akankah dia memberikan hati dan jiwanya pada laki-laki ini. Laki-laki yang membuat jantungnya tiba-tiba berdegup, yang membuatnya tak mampu berpaling dari mata indahnya, yang selalu ada dipikirannya sejak saat Naruto melindunginya dari penyerangan itu. Banyak sekali yang telah dilakukan laki-laki ini pada Hinata hingga dia tak mampu melupakannya, apakah semua itu memiliki makna dimana sebuah nama yang tak pernah ia sentuh sedikit pun kini muncul di hatinya, sebuah nama yang bermakna indah dan mampu membuat semua orang berbunga-bungan, apakah Hinata jatuh cinta? Cinta? Kata itu tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya.

"Naruto, ketua memanggil kita, cepatlah!" ujar Sasuke. Kenapa disaat seperti ini ada saja yang mengganggu, batin Naruto, "aku akan segera kembali!" ujar Naruto. Lalu ia pun pergi, sebelum melewati pintu Hinata berkata sesuatu yang membuat Naruto ingin segera kembali dan memeluk Hinata erat-erat, "berhati-hatilah!" ujar Hinata. Naruto mengangguk.

Hinata menuruni tangga dan melihat Ino dan Sakura tengah terduduk, mereka terlihat cemas, "kau tidak memberitahu dia kan?" tanya Sakura, "aku belum memberitahunya!" ujar Hinata. Kenapa mereka berdua terlihat gelisah, Hinata bertanya, "para perampok itu, mereka tengah beraksi lagi, sesorang tewas karena mencoba melaporkan mereka, aku takut kalau memberitahu Naruto bahwa kau tahu wajah mereka, aku tidak tahu apa yang akan terjadi." Ujar Ino.

"jadi menurut kalian, aku tidak perlu memberitahu mereka?"

"untuk saat ini biarkan mereka menyelidiki sendiri, jangan memberitahu mereka Hinata!"

"tapi Ino, akan sulit bagi Hinata untuk menyembunyikan nya terus menerus, suatu hari nanti entah kapan itu akan terjdi, kita harus mengatakan yang sebenarnya!"

"baiklah teman-teman, aku ingin kalian setuju dengan ku, aku yang akan memberitahunya sesuai keinginanku, entah kapan itu, aku ingin kalian mengerti!"

"kami sangat mengerti Hinata, aku dan Sakura percaya padamu!"

~~~###~~~

"ini korban pertama dan aku tidak mau ada korban lain yang berjatuhan, para wanita itu, apa kalian mendapatkan sesuatu dari mereka?"

"sejauh ini belum, kami belum mendapatkan info apapun!" ujar Sai.

"kalau saja diantara mereka ada yang tahu ciri-ciri wajah salah satu perampok itu, mungkin kita bisa menyelidikinya dengan cepat, tapi sulit sekali untuk mengetahui wajah mereka, sial!"

"ketua, apakah penjagaan akan diperketat kembali setelah kejadian ini?" tanya Sasuke.

"kemungkin iya, pihak polisi bukan hanya didaerah kita saja yang membantu, tapi semua. Entah apa strategi yang mereka buat hingga setiap aksi selalu saja berhasil, aku tidak bisa mengerti."

"mungkin strategi kuno. Strategi dimana para polisi selalu salah menduga, kita lihat saja pemain sepak bola, kemana arahnya akan menendang bola selalu saja salah diartikan bagi para penjaga gawang, mungkin seperti itu strategi mereka!" ujar Naruto.

"bagaimana bisa?" tanya Sai.

"entahlah, yang pasti kita harus berhati-hati. Dan ketua, apakah penjagaan pada ketiga wanita itu membutuhkan ektsra?"

Sasuke dan Sai menyeringai pada Naruto, ia tahu apa maksudnya, tapi tidak bagi ketua, dia hanya berkata, "tentu saja, kalian bertiga harus melindungi mereka, aku yakin mereka menyembunyikan sesuatu!" Mereka bertiga tertawa senang dalam hati, dan mungkin Sai dan Sasuke mengucapkan terima kasih pada Naruto. Naruto menerima ucapan terima kasih itu dengan senang hati. Kini mereka bertiga telah selesai dengan tugas di kantor, saat malam tiba mereka kembali ke tempat persembunyian dan bergegas melindungi para wanita pujaan mereka masing-masing.

Disisi lain para wanita itu tengah tertidur lelap, mereka tidak mengetahui bahwa sesorang tengah menyelinap masuk ke rumah. Bukan seseorang melainkan beberapa orang, mereka menyiramkan sesuatu ke setiap sudut rumah yang dimana sesuatu itu adalah sebuah air yang berbau tajam, bensin. Mereka akan membakar rumah itu, gawat, para polisi itu masih dalam perjalanan, bagaimana ini? Hinata dan yang lain tidak menyadari pergerakan itu, mereka menyadari sesuatu setelah api mulai membakar seisi rumah. Terasa panas dan itulah yang mereka rasakan saat ini, Sakura terlebih dahulu terbangun dan melihat api tengah berkobar disekeliling mereka.

"oh ya tuhan kebakaran, Hinata , Ino bangunlah, ada api!" teriak Sakura.

Dan kemudian Hinata dan Ino terbangun, mereka bergegas menghindar dan mencoba untuk lari dari api, tapi api menjalar kemana mana. Sakura memadamkan api itu, tapi percuma saja tidak akan bisa, Ino juga ikut membantu, lalu ada celah dimana mereka bisa keluar, "teman-teman, ayo cepat lari kesana!" tunjuk Sakura pada pintu yang terbuka. Ino dan Sakura bergegas keluar, tap Hinata bergegas ke tempat tidur yang lain dia mengambil Konohamaru dari keranjang bayi.

Sakura dan Ino telah keluar, masyarakat disana ikut membantu memadamkan api, ada yang menelfon pemadam kebarakaran dan ada juga yang membanti Ino dan Sakura. Mereka berdua menyadari kalau Hinata tertinggal dan hampir masuk lagi kedalam tapi orang-orang itu menghentikan mereka. Ketiga polisi itu lalu datang dan melihat kebakaran itu, mereka terkejut dan langsung berlari kearah rumah yang terbakar, beruntung Sakura dan Ino selamat, tapi Hinata, "dimana Hinata?" tanya Naruto. "dia masih didalam, aku yakin dia mengambil Konohamaru sebelum pergi dan mungkin... cepat selamatkan dia Naruto!" teriak Sakura. "aku mohonselematkan dia!" ujar Ino.

Mereka berdua menangis tersendu-sendu krena membiarkan Hinata tertinggal, kalaus sesuatu erjadi pada Hinata mereka tidak akan bisa memafkan diri mereka sendiri. Naruto sudah masuk ke rumah yang terbakar itu, dia sudah berada dalam kamar dan melihat Hinata tengah menggendong Konohamaru, Hinata sulit bernapas dan ia terbatuk, "Hinata, oh tidak... berthanalah aku mohon!" ujar Naruto. hinata menyerahkan Konohamaru pada Naruto, "selamatkan.. Konohamaru, aku mohon, jangan pedulikan aku, aku akan baik-baik saja, kau bisa percaya padaku, kembalilah setelah itu!" ujar Hinata dengan napas tersengal sengal. Naruto meraih Konohamaru, "maafkan aku, tapi aku mohon bertahan, aku akan segera kembali!"

Naruto bergegas kembali ke luar rumah, ia berhasil menyelamatkan Konohamaru, pihak ambulance kini sudah berada disana dan Naruto memberikan Konohamaru pada mereka. Dia berlari kembali kedalam rumah, dan melihat Hinata sudah tergeletak tak berdaya, "Hinata!" teriak Naruto. Naruto mengangkat Hinata dan membawanya keluar, pintu masuk sudah dikelilingi api, tapi tidak ada cara lain dia harus menembus pintu itu. Naruto bergegas menmbusnya dan sebuah papan terbakar tiba-tiba mengenai bahunya, Naruto merasakan sakit dan panas, tapi dia tetap fokus membawa Hinata keluar dari kebakaran itu.

Beberapa menit kemudian teman-temannya yang lain masih menunggu, mereka seketika itu menangis senang karena Hinata selamat. Mereka menegrumuni Hinata yang masih berada dipelukan Naruto, "Konohamaru, dimana..."

"kau tenang saja Hinata, dia sangat aman sekarang!" ujar Sakura.

Hinata menghela napas lega, ia melihat Sakura dan Ino tersenyum senang ke arahnya sambil memeluk kedua polisi itu masing-masing. Lalu dirinya... Hinata melihat ke arah Naruto yang sedang menatapnya, sangat ketakutan dan khawatir, "aku baik-baik saja!" ujar Hinata lemah, "aku tahu." Naruto memeluk Hinata erat, sangat erat dan tidak akan pernah dia melepaskan Hinata. Beberapa jam kemudian Hinata terbangun, ia melihat sekeliling, ternyata dia berada di rumah sakit, Naruto tengah menatapnya, dan ia mengingat anaknya, "dia baik-baik saja!' ujar Naruto.

"aku ingin melihatnya..."

"ini dia ibumu Konohamaru!"

Tiba-tiba Sakura datang dengan membawa Konohamaru, ia menyerahkan Konohamaru pada Hinata, "oh tuhan, terima kasih, sayang kau baik-baik saja kan!" ujar Hinata. Beberapa menit kemudian Hinata menyerahkan kembali Konohamaru pada Sakura, ia mengatakan kalau Konohamaru membutuhkan banyak perawatan. Lagi pula Hinata juga masih terguncang dengan kebakaran tadi, Hinata duduk kembali ke tempat tidur pasien, dia melihat Naruto yang terus menatapnya sejak ia bangun dari tidur, "jangan menatap ku seperti itu, aku takut!" Naruto melangkah mendekati Hinata, tapi Hinata lebih dulu berdiri dan berlari ke arah Naruto dan memeluknya.

Naruto memekik, membuat Hinata melepaskan pelukannya, ia melihat Naruto seperti kesakitan. Jangan-jangan? Hinata hendak menyentuh pundak Naruto tapi Naruto mencegahnya, dan itu tidak membuat Hinata menyerah begitu saja. Hinata membuka kancing kemeja Naruto satu persatu, Naruto tidak bisa melakukan apapun untuk mengecah sesuatu yang Hinata inginkan. Kemeja itu telah terlepas dan Hinata melihat luka di pundaknya, tidak terlalu parah, hanya lebam dan syukurlah dia baik-baik saja, ya tuhan dia menyelamatkan ku, batin Hinata, dan ini yang ia dapat, "maafkan aku!" ujar Hinata lirih.

"ini hanya luka kecil, kau tidak perlu khawatir!" ujar Naruto.

Dia menenangkan Hinata yang menangis tersendu-sendu, "aku bersyukur kepada tuhan karena kau selamat, aku sangat bersyukur, terima kasih tuhan!" ujar Naruto yang memeluk Hinata erat, Hinata juga memeluk Naruto, rasanya sangat nyaman bila ada orang yang memeluk mu seperti ini Hinata. Sudah berapa lama ia menunggu untuk dipeluk seseorang, apakah dia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, tidak, tidak pernah ia mempunyai seseorang untuk ia cintai. Hinata berharap bahwa Naruto adalah satu-satunya orang yang tepat untuknya, yang pertama dan terakhir.

Hinata melepaskan pelukannya, ia sadar bahwa Naruto tidak berpakaian, ia menyentuh dada Naruto tanpa disengaja, tapi keterusan. Hinata tersenyum, "aku ingin memberimu hadiah karena sudah meyelamatkan ku!" Naruto tersenyum, "apa itu?" tanya Naruto. Hinata meraih rahang Naruto dengan kedua tangannya, "sebuah kecupan." Ujar Hinata. Lalu dia mengecup kening Naruto, Naruto tersenyum lembut, "hanya itu?" tanyanya. Hinata mengangguk

"baiklah aku terima!" ujar Naruto. Suatu saat nanti bukan hanya kening yang Hinata kecup, batin Naruto, tapi dia akan mengecup sesuai keinginan ku, aku menunggu hari itu.

^^Bersambung...^^