3,610 Views! aih, makasih buat kalian yang suka baca, gak nyangka ada sebanyak itu :'v makin cinta deh #eh
"Apa? [Name] pingsan di bawa ke UKS?!"
Seru Ookamura dan Fukui, Murasakibara berhenti makan, Liu menelan ludahnya.
"Bukan itu saja, dia juga sudah dalam keadaan basah kuyup dan ada memar di wajahnya." Tambah Araki. Ke-empat laki-laki itu hanya speechless, tidak percaya apa yang baru saja terjadi kepada [Name]. Liu menelan ludahnya, lagi. Bagaimanapun juga ia merasa sangat bersalah karena ia terlalu menganggap enteng kalau [Name] di bully, karena dia yakin kalau sahabatnya itu pasti bisa mengatasinya sendiri. Tapi, apa yang baru saja dia dengar dari pelatihnya itu benar-benar membuatnya merasa bersalah. Andaikan saja dia menganggap serius masalah [Name].
"Si-siapa yang membawanya ke UKS?" Tanya Liu.
"Dia dibawa oleh Himuro, sekarang dia sedang di UKS, menunggu [Name] untuk bangun." Jawab Araki
Ookamura menghela nafas lega "Paling tidak, ada yang menjaga [Name] di UKS."
"Apa pelatih melihat wajah orang-orang yang mem-bully [Name]?" Tanya Fukui.
"Aku tidak begitu yakin, tapi diantara mereka aku melihat wajah Akatsuki Renna dari kelas 3-C."
"Kalau begitu kita lapor saja orang itu." Usul Murasakibara, Ookamura, Fukui, dan Liu mengangguk setuju.
"Tunggu dulu, kalau ingin melaporkannya, kita harus mengumpulkan bukti-bukti kalau [Name] memang dibully oleh orang itu." Kata-kata Araki langsung membuat suasana hening diantara mereka, berpikir darimana mereka bisa mendapatkan bukti itu?
"Tunggu, Aku tahu siapa orang yang mempunyai bukti-bukti itu."
.
.
"Apakah Satomi-san dan Ren-san ada disini?" Pertanyaan Liu dan Fukui langsung dijawab oleh murid kelas 2-C dengan menunjuk dua orang yang sedang sibuk melihat foto-foto di kamera mereka. Kedua orang yang sadar sedang ditunjuk itu hanya bisa mengatakan
"A-apa?"
Fukui dan Liu langsung menyusul Satomi dan Ren, dan mengatakan "Ikut kami, dan bawa kamera kalian."
"Haah? Kenapa kami harus mengikuti kalian?" Tanya Ren yang jelas-jelas menolak ajakan Liu dan Fukui, Satomi pun mengangguk setuju. Liu dan Fukui hanya bisa menghela nafas,
"Ini tentang [Name], sekarang dia ada di UKS." Ucap Fukui
"Kami membutuhkan bukti-bukti yang kalian kumpulkan untuk melaporkan orang-orang itu." Lanjut Liu.
"[Name] kenapa?!"
.
.
Kini mereka semua berkumpul di ruangan klub jurnalis, mencetak semua foto bukti yang Satomi dan Ren kumpulkan, Araki, Fukui, Liu, Ookamura dan Murasakibara melihat Video bukti yang Ren dan Satomi rekam secara diam-diam, dimana Video itu diputarkan apa yang Akatsuki Renna dan teman-temannya sedang membuang isi tas milik [Name] ke tempat sampah, dan mengisi tasnya dengan sampah.
"Kalian hebat sekali, bisa merekam bukti sekuat ini, bagaimana kalian bisa mendapatkannya?" Tanya Ookamura. Yang hanya dijawab oleh Ren dan Satomi
"Begitulah, kami mempunyai cara kami sendiri."
Kini mereka semua duduk di meja klub jurnalis bersama-sama, Ren dan Satomi menjejerkan semua foto-foto tersebut, foto dimana Akatsuki Renna dan teman-temannya sedang melakukan aksinya, dan foto barang-barang [Name] yang- menjadi sasaran bahan bully mereka, Ren mulai menjelaskan.
"Jadi mereka adalah anggota Himuro fanclub. Yang dipimpin oleh Akatsuki Renna, ketiga orang yang bersama dengannya ini bernama Satou Ana, Kawai Arisa, dan Suzuka Mia. Mereka tidak menyukai dengan [Name] yang dekat dengan Himuro-san, jadi mereka mem-bully [Name]." Ren memang terlihat tenang menjelaskannya, tapi dia sangat kesal saat mengetahui [Name] masuk ke UKS karena orang-orang gila tersebut.
"Kalau kalian tahu [Name] dibully seperti ini, kenapa tidak bilang atau dilaporkan?" Tanya Araki. Kali ini Satomi yang menjawab
"Kami berencana untuk mempublikasikannya di sekolah untuk mempermalukan mereka dan [Name] meminta kami untuk tidak bilang kepada siapapun sampai dia berhasil membalas mereka, benar kan, Liu-kun?" Satomi melirik Liu, membuat para anggota klub basket itu juga menatapnya
"Jadi selama ini Liu-chin tahu kalau [Name]-chin di-bully?" Tanya Murasakibara dengan tatapan datar.
"Kenapa kau tidak cerita pada kami, bodoh?!" pekik Fukui.
"Latihanmu aku tambah menjadi dua kali lipat." Ucap Araki.
"Baik! Baik! Ini juga salahku kenapa aku terlalu menutup mulutku, padahal [Name] hanya memintaku jangan sampai Himuro tahu tentang hal ini, dan menganggap kalau [Name] bisa mengatasi masalahnya sendiri!"
"Hei, hei, sudahlah—jangan bertengkar, yang jelas kapan kita akan melaporkan Akatsuki Renna?" tanya Ookamura
"Aku yang akan melaporkannya kepada kepala sekolah, orang-orang seperti mereka harus kena hukuman, Sisanya kalian yang urus." Ujar Araki.
Murasakibara beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar
"Mau kemana?"
"Ke suatu tempat~" tapi sebenarnya dia tidak ingin ke toilet, dia ingin memberitahu Himuro tentang hal yang baru saja ia dengar.
Tonari no Himuro-kun ~The boy that always by my side~
Pair: Himuro x Reader/OC
Genre: Romance & comedy
Rated: T
Warn: OOC, TYPOS, EYD, and many more~
IF YOU DON'T LIKE IT, THEN DON'T READ IT
ENJOY~
Himuro membelalakkan matanya saat mendengar cerita Murasakibara. Perasaan antara marah, bingung, dan merasa bersalah pun menjadi satu, Himuro mengepalkan kedua tangannya—ekspresinya memang tenang, tapi tatapan matanya tidak terlihat seperti orang yang tenang.
"Jadi—ini semua terjadi karena sekumpulan perempuan gila yang menyukaiku—dan akhirnya menghajar [Name] sampai seperti itu karena dia dekat denganku?"
"Mungkin bisa dibilang seperti itu."
"Dan [Name] meminta Liu untuk tidak bercerita kepadaku?"
Murasakibara mengangguk
Himuro melirik [Name] yang masih tertidur, ia menghela nafas dan tersenyum kepada Murasakibara. "Terima Kasih Atsushi, nanti aku akan memberikanmu maiubo."
Murasakibara hanya bisa meneguk ludahnya saat melihat senyuman Himuro. Senyuman Himuro kali ini benar-benar berbeda. Tapi tetap saja dia menerima traktiran Himuro.
"Uuhhm..."
Himuro melirik [Name] lagi, dan melihatnya yang sepertinya sebentar lagi akan bangun. "Kenapa kau tidak memberitahu yang lain kalau [Name] sudah bangun?"
"Oke~"
READER POV
Bahuku sakit sekali, aku juga bisa merasakan kalau wajahku menjadi agak bengkak, sial—pasti sekarang aku terlihat sangat menyedihkan. Perlahan aku membuka kedua kelopak mataku, dan melihat sekeliling, saat aku melihat ke kiri, aku melihat Himuro-kun sedang duduk.
"Hi-Himuro-kun!?" aku langsung bangun—tapi aku lupa kalau bahuku sedang sakit, dan seketika rasa sakit yang luar biasa menjalar ke punggungku. Aku kembali tiduran sambil meringis kesakitan.
"Hei, jangan tiba-tiba bergerak seperti itu." Himuro-kun membantuku untuk duduk, ia menyenderkan tubuhku ke bantal yang barusan ia letakkan di belakangku. Dia yang awalnya tersenyum sekarang terlihat menjadi serius, atau lebih tepatnya—marah?
"Sekarang bisakah kau menceritakan kenapa kau bisa menjadi seperti ini?"
GLEK.
Mampus—aku harus bilang apa?
"A-aku..."
"Jawaban yang jujur." Sekarang dia menatap mataku, tatapannya itu seakan memaksaku untuk menjawabnya dengan jujur, aku mengalihkan pandanganku dan menjawab dengan alasan;
"A-aku... jatuh terpeleset di kamar mandi, aku jatuh terlentang dengan keras, dan aku kejatuhan ember berisi air, ahahaha~" aku memaksakan diriku untuk tertawa, saat aku melihat Himuro-kun dia menatapku dengan tajam
"Dasar bodoh!"
Aku tersentak kaget saat dia berteriak seperti itu kepadaku, Himuro-kun terlihat sangat marah di mataku—dan ini pertama kalinya Himuro-kun marah kepadaku.
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi padamu sesungguhnya? kenapa kau merahasiakan hal ini dariku? Hah?!"
"A-aku..."
"Kau apa? Kau tidak ingin aku merasa bersalah dengan hal ini? karena itu kau mencoba untuk mengatasi hal ini sendirian? Menyuruh temanmu untuk mengumpulkan bukti dan kau akan menghadapi resiko sendirian? Sekarang lihat apa yang terjadi padamu, Kau malah membuatku semakin bersalah!"
Aku benar-benar takut dengan Himuro-kun yang sekarang, dia benar-benar marah kepadaku, bahkan tanganku gemetaran selama dia memarahiku. Aku hanya menundukkan kepalaku, dan terus mendengarkan omongan Himuro-kun.
"Aku tahu kau kuat [Name], tapi janganlah bersikap seakan kau bisa mengatasi semua hal sendirian! melihat keadaanmu sekarang membuatku benar-benar—[Name]?"
"Maaf... Maafkan aku..." aku tidak menangis, tapi suaraku bergetar—seperti orang yang sedang menahan tangisannya, sial. Tahan [Name], tahan—
"Aku memang bodoh kalau aku begitu percaya diri kalau aku bisa menghadapi mereka sendirian, dan memaksa—meminta Satomi-chan dan Ren-kun untuk mengumpulkan bukti sementara aku akan menerima resikonya sendirian, dan sekarang lihatlah aku, aku terlihat begitu menyedihkan bukan?"
Himuro-kun hanya diam mendengarkanku, suaraku semakin bergetar, mataku semakin panas.
"Aku—memang tidak ingin Himuro-kun mengetahui hal ini kemudian merasa bersalah, tapi aku lebih tidak ingin..." aku mengangkat kepalaku, menatap Himuro-kun dengan mataku yang sudah berkaca-kaca "Aku tidak ingin Himuro-kun marah kepadaku!" aku sudah tidak bisa menahannya lagi, aku menangis di depan Himuro-kun.
Ini begitu memalukan, aku pasti terlihat begitu jelek di depannya.
Aku tidak tahu kenapa, aku benar-benar tidak ingin Himuro-kun marah kepadaku, aku takut ia membenciku, aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa jadi seperti ini!
Himuro-kun membingkai wajahku dengan kedua tangannya, ia mengusap air mataku dengan jempolnya, sentuhannya begitu lembut.
"Maaf aku membentakmu barusan, aku terlalu kesal kepada orang-orang yang membuatmu seperti ini." dia sedikit mendongkak'kan kepalaku, dan memerhatikan wajahku. "Lihat, wajahmu jadi lebam disini," dia menyentuh sisi sebelah kanan dahiku, aku meringis kesakitan.
"Dan disini." kali ini ia menyentuh sudut bibirku, dia memberi sedikit tekanan di bagian sana, membuatku meringis kesakitan lagi.
"Ow!"
"Sakit kan?"
"Mmmh..." aku mengangguk, sekarang dia mendekatkan wajahku dengan wajahnya, aku langsung panik dan wajahku langsung memerah.
"Hi-Hi-Himuro-kun?!"
"Aku tidak suka melihat wajahmu lebam seperti ini, dan melihatmu terluka seperti ini." sekarang dia yang mendekati wajahku. "Kau tahu kenapa aku mengatakan hal itu?"
"Tu-tunggu! Bukankah kita terlalu dekat?!" aku mencoba mendorong dada bidang Himuro-kun, tapi yang ada rasa sakit di bahuku muncul.
Himuro-kun memiringkan kepalanya, aku menutup kedua mataku dengan rapat, aku bisa merasakan bibirnya sekarang sangat dekat dengan telingaku, hembusan nafasnya membuatku menjadi gila—maksudku geli, aku meremas kemeja Himuro-kun, aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa!
Himuro-kun mulai membisikkan sesuatu kepadaku, entah kenapa suaranya terdengar begitu sexy di telingaku!
"Itu karena, kau adalah perempuan yang aku—"
Yang aku—?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"HEI! HEI! HEI! APA YANG KALIAN LAKUKAN!?" seseorang berteriak kepada kami berdua, Himuro-kun langsung melepaskanku, dan aku melihat ada Fukui-senpai, Ookamura-senpai, Musashi, Liu, Satomi-chan, dan Ren-kun.
Satomi-chan dan Ren-kun menatap puas kamera mereka.
"Kau mendapatkannya Ren-kun?"
"Dapat!"
GAAAH! Pasti mereka memfoto posisi ambigu barusan!
Liu, Fukui-senpai dan Ookamura-senpai menatap kami berdua dengan curiga
"Oi, Himuro, kau melakukan apa kepadanya?" tanya Fukui-senpai.
Tiba-tiba Musashi bernyanyi "Muro-chin dan [Name]-chin~, berduaan di UKS~, C-I-U-M-A-N~"
"KAU MENCIUMNYA!?" Seru Ookamura-senpai, dan hebatnya Himuro-kun masih bisa tenang dan menjawab "Tidak, aku hanya membisikkan sesuatu kepadanya."
"Oho? Kau membisikkan apa kepadanya?" kali ini Liu yang bertanya
"Itu rahasia." Jawabnya sambil tersenyum.
"Kalau begitu ayo ikut kami." Himuro-kun langsung dibawa (atau lebih tepatnya diseret) pergi oleh Liu, Fukui-senpai dan Ookamura-senpai. Sekarang hanya ada Satomi-chan, Ren-kun dan Musashi disini, mereka mengambil kursi dan mengobrol denganku.
"Apa kau tidak akan masuk sekolah besok?" tanya Ren-kun
"Tentu saja aku masuk sekolah, lagipula lebam diwajahku tidak begitu banyak—dan tidak terlalu kelihatan. Dan sepertinya aku juga masih bisa menulis."
"Bahumu sakit kan? Berarti kau akan susah ganti baju bukan?" tanya Satomi-chan.
"Kan ada Satomi-chan yang akan membantuku ganti baju, mohon bantuannya ya Satomi-chan~"
"Kapan kau akan sembuh?" tanya Musashi, aku mencoba menggerakkan bahuku lagi, mengira-ngira kapan kapan aku akan sembuh.
"Pokoknya sebelum satu minggu pasti sudah sembuh."
Tidak lama setelah itu, Himuro-kun, Liu, Ookamura-senpai dan Fukui-senpai kembali, mereka—kecuali Himuro-kun memasang wajah kecewa.
"Cih, susah sekali membedakan mana jawaban yang serius atau tidak darinya." Setelah itu kami berkumpul di UKS, membahas dengan apa yang terjadi padaku hari ini, Liu tiba-tiba meminta maaf kepadaku—itu permintaan maaf pertama darinya semenjak aku berteman dengannya (dan itu membuatku menjadi agak ngeri, maksudku—dia itu adalah Wei Liu!). Dan mereka mengatakan kepadaku kalau mereka—atau lebih tepatnya Masako-sensei melaporkan orang-orang gila yang mem-bully ku hari ini dengan bukti-bukti yang dikumpulkan Satomi-chan dan Ren-kun, mungkin besok mereka akan dipanggil ke ruang kepala sekolah.
YES! HAHA! RASAKAN!
.
Aku sudah sampai di asrama, barusan aku pulang bersama Satomi-chan, kami berpisah dengan Ren-kun di tengah jalan (Karena dia tidak tinggal di asrama). Satomi-chan sempat membantuku ganti baju dan memasang plester di wajahku.
"Kalau perlu apa-apa telpon saja aku." Itulah kata-kata Satomi-chan sebelum pergi meninggalkan kamarku. Tidak lama setelah Satomi-chan meninggalkan kamarku, ponselku berdering dan ternyata Ryota menelponku, tumben sekali dia menelpon jam segini, biasanya dia ada latihan atau ada photoshoot kan?
"Ha—"
"[NAME]-CCHI! Aku dengar dari Murasakibara-cchi barusan kau masuk UKS! Ada apa? Apa kau baik-baik sa—"
PIP
Aku mematikan telponnya, Ryota langsung menelponku lagi.
"Kenapa dimatikan-ssu?!"
"Berisik Ryota, bisakah kau tenang sedikit? Dan iya, barusan aku masuk UKS."
"Kenapa bisa? Kau sedang sakit?"
"Yaah—terjadi ini dan itu, dan bahuku jadi sakit, yang jelas aku tidak apa-apa."
"Kalau begitu cepatlah sembuh [Name]-cchi! Aah—sejak [Name]-cchi sekolah di Akita, kau jadi jarang datang ke pertandinganku lagi-ssu."
"Hmm—mungkin musim panas ini aku bisa datang menonton pertandinganmu."
"Benarkah?!"
"Itupun kalau tim mu masih bertahan saat aku sudah di Tokyo, hoho~"
"Kita pasti bertahan-ssu! Pasti bisa menjadi juara Inter-high!"
Aku mendengar pintu kamarku di ketuk, sambil berbicara dengan Ryota—aku berjalan dan membuka pintu kamarku, dan melihat Himuro-kun.
"Ara, Himuro-kun."
Dari sambungan lain Ryota mulai mengomel
"Himuro-kun!? siapa itu Himuro-kun?!"
"Maaf Ryota, aku matikan dulu telponnya."
"EH?! tunggu [Name]-cchi! Jawab aku—"
PIP
"Konbawa, [Name]." Ucapnya sambil tersenyum, lalu muncullah empat orang lainnya aka Fukui-senpai, Ookamura-senpai, Musashi dan Liu. Aku menatap mereka semua dengan curiga, ada apa ini? tumben sekali mereka datang kesini.
"Aku pikir kau akan kesulitan menyiapkan makan malam dengan luka di bahumu itu, jadi aku datang kesini untuk memasakkan makan malam untukmu." Ucap Himuro-kun, aku tersipu malu mendengar kata-katanya, aku menggelengkan kepalaku, dan menatap empat orang di belakangnya.
"Lalu, kenapa mahluk-mahluk itu ada disini juga?"
Daripada menjawab pertanyaanku, Liu tiba-tiba memasuki kamarku—diikuti yang lainnya di belakang, mereka membuka sepatu mereka, Liu dan Himuro-kun mulai membongkar isi kulkas kamarku, Ookamura-senpai, Fukui-senpai, dan Musashi duduk manis mengelilingi mejaku.
Aku berpikir sejenak, dan hanya ada satu hal kenapa mereka tiba-tiba datang ke kamarku.
"Ooh, aku mengerti, jadi kalian semua kesini untuk numpang makan?"
"Benar sekali!" ucap Fukui-senpai mengacungkan jempol untukku
"Maaf ya [Name]-chan, tapi aku belum dapat uang jajan dari orangtua ku." Ucap Ookamura malu-malu, yang sangat tidak cocok dengan wajahnya.
"Aku kehabisan stock makanan~ dan uangku juga habis~" itulah alasan Musashi.
"Diantara kita semua, hanya kaulah yang selalu dikirim bahan makanan oleh orangtua atau kerabatmu yang ada di Tokyo untuk persediaan makanan." Ucap Liu datar sambil mengupas udang mentah yang baru aku beli kemarin.
"Hei! Itu udang yang baru aku beli kemarin!"
"Memangnya kenapa? Kau membelinya berarti kau akan memakannya bukan?"
"Uuh..."
"Lagipula kau juga sering numpang makan di kamarku. Harusnya kau berterima kasih kepadaku dan Himuro, karena kami yang memasak untukmu."
Baiklah, aku kehabisan kata-kata, apa yang dikatakan Liu ada benarnya.
"Baiklah, kalau begitu kalian bertiga berhutang mentraktirku makanan!" aku menunjuk Ookamura-senpai, Fukui-senpai, dan Musashi.
"Eeeh~?"
Malam itu kami makan malam dengan tempura dan omurice, aku harus memisahkan jatah makananku terlebih dahulu, kalau disatukan dengan mereka, pasti aku tidak akan kebagian udangku! Maksudku—tempura! Mereka itu pemain basket! Apalagi Ookamura-senpai, Musashi dan Liu itu makannya banyak. Liu dan Himuro-kun memberikanku tiga tempura yang ukurannya paling besar.
"Eeh? Kenapa punya [Name]-chin itu besar semua?" keluh Musashi.
"Tentu saja dia dapat jatah yang paling besar, karena semua makanan ini menggunakan bahan makanan miliknya Atsushi." Tegur Himuro-kun. Musashi hanya menggembungkan pipinya, dan disitu aku merasa hidungku memanjang seperti pinokio. Hohohoho~
Dan sekali lagi, harga diriku sebagai wanita dihancurkan lagi oleh Himuro-kun dan Liu, tempura buatan Liu itu enak! Lebih enak daripada buatanku! omurice buatan Himuro-kun juga enak! Aaah—harusnya mereka itu terlahir sebagai perempuan kalau mereka bisa memasak makanan seenak ini! bahkan aku memakannya sambil menangis bahagia karena makanannya enak, dan kesal karena harga diriku sebagai perempuan dihancurkan oleh mereka, Fukui-senpai, yang duduk disebelahku mengelap air mataku dengan lengan bajunya.
"Kau terlihat jelek tahu." Ucapnya, yang membuatku menjitak kepalanya untuk menjauh dariku, dan entah kenapa aku kembali teringat dengan kejadian barusan yang ada di UKS, siaal—pasti Himuro-kun berpikir kalau aku ini sangat jelek saat aku menangis!
"Oi, oi, Fukui. Perlakukan [Name] dengan baik." Tegur Ookamura-senpai.
Setelah itu kami mengobrol sambil memakan snack yang dibawa Atsushi, kami mengobrol tentang apa yang akan kami lakukan saat liburan musim panas nanti. Ookamura-senpai dan Fukui-senpai akan pulang kerumah mereka, Musashi dan Himuro-kun belum merencanakan mereka akan kemana—tapi sepertinya Himuro-kun tertarik pergi ke sky tree yang terletak di Tokyo, Liu berencana untuk pulang ke China.
"Kau sendiri mau pulang kerumahmu yang ada di Tokyo?" tanya Liu.
"Entahlah, kalau aku pulang kerumah juga pasti tidak ada siapa-siapa, jadi aku akan pulang kerumah sepupuku."
"Lho? Kenapa?" tanya Himuro-kun.
"Bagaimana ya... Orangtua ku baru saja pindah kerjanya di luar negeri, dan mereka pasti akan sibuk sekali di luar sana, jadi untuk apa aku sendirian di apartement selama liburan musim panas? Lebih baik aku pulang ke rumah sepupuku, lagipula disana ada kamar yang khusus untukku, rumah sepupuku sudah aku anggap seperti rumah sendiri."
"Ooh, jadi kamar yang waktu itu dikunci rapat oleh Kise-chin itu kamar [Name]-chin?"
"Yaah—bisa dibilang seperti itu." Sebenarnya aku tidak mendengar apa yang dibicarakan olehnya. Serius.
NORMAL POV
"Lagi?"
"Paling tidak, kali ini dia tertidur di kamarnya sendiri."
"Daripada kalian terus memerhatikan [Name] yang tertidur di pahaku, coba angkat dia! Kakiku mulai kesemutan!" keluh Fukui. [Name] memang sedang tidur (dengan posisi terlentang) di , karena barusan mereka terus bermain kartu, dan [Name] terus-terusan kalah yang akhirnya kesal tidak akan bermain lagi. Ketika [Name] bertanya kepada Fukui kalau dia boleh menggunakan paha Fukui sebagai bantal, Fukui menjawab kalau dia boleh menggunakan pahanya sebagai bantal—atau lebih tepatnya dia menjawab
"Terserah, terserah, lakukan apa yang kau suka."
Fukui tidak menyadari ada seseorang yang mengawasinya.
"Tapi bagaimana mengangkatnya tanpa membuatnya kesakitan?" tanya Murasakibara, hening sesaat. Lalu Himuro mengatakan
"Biar aku saja, kalian pulang saja dan aku yang akan mengurus [Name]."
"Kalau begitu cepat angkat dia, kakiku kesemutan!"
Himuro awalnya ragu-ragu untuk mengangkat [Name], dia takut akan membangunkannya.
"Tenang saja, kalau dia sudah tertidur seperti ini dia tidak akan mudah terbangun." Ucap Liu, orang yang paling lama kenal dengan [Name] diantara mereka semua.
Perlahan, Himuro mendorong punggung [Name], dan membuat [Name] (terlihat seperti) jatuh ke pelukannya.
"Oi! Angkat dia, bukan dipeluk!" bisik Fukui, Ookamura dan Liu gregetan.
"Muro-chin modus." Murasakibara menggelengkan kepalanya kepada Himuro
Himuro menghela nafas, ia mengayunkan tangannya ke arah mereka berempat, seakan-akan dia itu—mengusir.
"Berisik sekali, sudah aku bilang aku yang akan mengurus [Name] dari sini, lagipula coba lihat sudah jam berapa ini? kalau terlalu malam disini pasti pengawas asrama akan curiga."
Mereka hanya menggerutu, apa yang dikatakan Himuro memang ada benarnya, Muraskibara, Fukui, Ookamura dan Liu bersiap-siap untuk keluar dari kamar asrama [Name], tapi sebelum mereka pergi Himuro mengatakan;
"Jangan terlihat seperti orang yang sudah melakukan hal yang aneh-aneh." Mereka hanya memutar bola matanya bosan.
HIMURO POV
Aku menggendong [Name] dengan kedua tanganku, mungkin inilah yang disebut princess carry. Aku membaringkannya di kasurnya, tapi sebelum aku pergi aku ingin memerhatikannya dulu sesaat. Dia tertidur begitu pulas, sepertinya dia kelelahan dengan apa yang terjadi padanya hari ini.
Aku mengelus kepalanya, dan melihat beberapa plester yang tertempel di wajahnya, aku benar-benar benci melihat [Name] seperti ini, aku benar-benar tidak bisa memaafkan orang yang melakukan ini kepada [Name].
Aku menyibakkan poninya, perlahan aku mendekatkan wajahku ke keningnya, sampai bibirku tertempel di keningnya.
CUP.
Ah... begini saja aroma [Name] yang khas sudah tercium, entah kenapa aku sangat menyukai aromanya. Sudah puas mencium keningnya, tiba-tiba [Name] membalikkan tubuhnya, dan sekarang aku menatap punggungnya. Terkekeh, aku berdiri dan mengucapkan "Good Night." Sebelum aku pergi meninggalkan [Name].
Untung saja di UKS tadi aku masih bisa mengendalikan diriku.
aiih asa gimanaa gitu chapter yang satu ini? Misa seharian ngebut ngetik ini aih. maaf kalau gak memuaskan nafsu kalian #eh
btw, buat ff ITCAL, Misa stuck mulu di suatu bagian, bagian itu pasti di tulis ulang terus, yang pada akhirnya misa tulis ulang dari awal. jadi yaah- bolak balik diulang terus ngerjaiinnya sampe sekarang :'v karena itu mohon dimengerti kenapa Misa belum update sampe sekarang.
daan buat yang di Bandung, ada yang mau ke Hanami yang di SMA 8 hari minggu tanggal 14 nanti?
banyak omonggan gak penting ah, ditunggu review nya ya.
