Stupid Love
Karya : Nakashima Aya


Summary : Bukan berarti seorang setter bisa melihat segalanya, dan bukan berarti seorang setter bisa mengontrol lapangan. Bukan berarti seorang ballerina bisa terbang, dan bukan berarti seorang ballerina bisa melakukan apa saja. Mereka tercipta dari ketidak-sempurnaan, dan berusaha saling melengkapi agar menciptakan harmoni yang seimbang diantara keduanya.

Disclaimer : OC dan storyline ber-hak cipta Nakashima Aya.

Genre : Romance, Friendship, Humor.

Warning : OC, OOC!, OOT!, Typo(s), KarasunoAU!, Kageyama Tobio X OC (Tsukishima Kaori).

.

.

.

Please Enjoy to Read!

.

.

.

7 of 15

Kaori berlari menuju gedung olahraga, dimana tim voli sedang bersiap untuk berangkat ke kamp pelatihan mereka. Dia akan melepas kepergian Yamaguchi dan kakaknya. Benar sekali, ia akan berpisah dari kakak tercintanya selama beberapa hari, ia akan kangen pastinya. Karena itu Kaori harus mengucapkan selamat tinggal dengan benar hari ini. Halah bohong, bilang saja kau ingin modus mengucapkan 'selamat jalan' atau 'sampai berjumpa lagi' pada Kageyama Tobio, sang setter jenius tim bola voli SMA Karasuno.

Pintu gym sudah terbuka, jadi Kaori hanya langsung masuk seolah – olah ia masuk ke dalam rumahnya sendiri, ia langsung menerjang Kei dengan pelukan rasa sayang dari seorang adik pada kakaknya. Dan Kei hanya bisa mendengus kesal sebagai balasan, walaupun jujur saja dalam hati ia senang.

"Kei! Kau akan pergi sekarang?" Tsukishima Kei mengangguk dengan masih sibuk mengecek isi tasnya.

"Baik – baik ya disana, Kei. Tidak ada si imut Kaori disana, kuharap kau tidak kesepian." Kaori masih bergelantungan di pundak Kei, walaupun masih misteri bagaimana seorang gadis bisa melompat setinggi itu dan menggelantung pada pundak Tsukishima Kei yang notabene memilki tinggi diatas rata – rata. Tim Karasuno melupakan fakta bahwa seorang ballerina tentunya bisa melompat setinggi itu, dan faktanya Kaori adalah seorang ballerina.

"Kau pikir aku anakmu? Malah lebih baik jika aku tidak mendengar nyanyian anehmu itu yang setiap malam mengganggu belajarku."

Keheningan ganjil tercipta, dan atmosfir di gedung olahraga ini mendadak terasa berat. Kesalah pahaman telah terjadi, bisa dipastikan mayoritas manusia ber-akal di gym telah berpikiran kurang baik, mengenai Tsukishima Kei yang kemungkinan besar tinggal bersama pacarnya yang ballerina itu.

"Demo… Aku dan Mama akan merindukanmu…"

"Kau berlebihan, aku hanya pergi selama 5 hari 4 malam dan kau mengatakannya seakan – akan aku tidak akan kembali ke rumah."

"Biar saja, seorang perempuan punya hak untuk bersikap berlebihan paling tidak 5 kali sehari."

Tsukishima tidak mau menjawab lagi, ia sudah lelah meladeni adik perempuannya yang banyak bicara itu. Jadi Tsukishima Kei memutuskan untuk melepaskan pegangan Kaori pada pundaknya, dan berjalan pergi dari sini sekarang juga. Kaori menatap kakaknya yang kini melarikan diri menuju Yamaguchi Tadashi, sehingga ia berteriak.

"TADASHII! JAGA KEI BAIK – BAIK YA! USAHAKAN DIA MAKAN YANG CUKUP ATAU OKAA – SAN AKAN MEMBUNUHMU NANTI!" Yamaguchi hanya bisa meneguk ludahnya, lidahnya terlalu kaku untuk berbicara. Kaori tidak mau ambil pusing dengan reaksi Yamaguchi sehingga ia memutuskan untuk berbicara dengan pangerannya.

"Kageyama – kun!"

Kageyama Tobio berjengit terkejut, ia bingung harus mengatakan apa. Ia bukan tipe orang yang bisa membuka pembicaraan dengan seorang gadis seperti Hinata atau Nishinoya – san.

"A-anoo… Bolehkan jika aku mengirimimu e-mail nanti?" Kaori bertanya dengan nada sok polos.

"T-tentu." Kageyama menjawab singkat, bukan dalam artian kesal, namun dalam artian salah tingkah.

Hinata yang berada di dekat Kageyama bergidik ngeri begitu ia menyadari tatapan Tsukishima Kei kepada mereka sekarang, seakan – akan ia mengatakan 'Berani mendekatinya kau akan kubunuh' atau hal semacam itu. Nishinoya menyadari bahwa kini ada percikan amarah dari diri Tsukishima Kei, dan juga ia merasakan kedekatan Kageyama Tobio dengan Tsukishima Kaori.

'Ooh… Jadi kau berniat menikung Tsukishima ya? Nice Kill Kageyama!' Noya – san mengacungkan jempolnya kepada Kageyama yang hanya dibalas anggukan bingung dari sang empunya umpan raja. Tanpa menyadari sebenarnya apa maksud dari gerak – gerik Nishinoya barusan.

Kesalah pahaman yang kesekian kalinya telah terjadi pemirsa sekalian. Kini author sangat bingung bagaimana mereka dapat menyelesaikan segala kesalah pahaman ini.

"Kalau begitu hati – hati di jalan Kageyama – kun, Hinata!" Kaori membungkukkan badan ala gadis bangsawan dalam shoujo manga yang baru – baru ini ia baca. Sesekali ia juga ingin terlihat menawan seperti gadis – gadis di shoujo manga yang selalu berakhir dengan happy ending itu loh. Sebelum ia keluar ia menyempatkan diri menjulurkan lidahnya pada lelaki tampan dari kelas 1-4, yang notabene adalah kakaknya sendiri, Tsukishima Kei.

Yamaguchi mengelus dadanya antara lega dan bingung.

.

.

.

Baru malam pertama dan seluruh pemuda tampan dari Karasuno itu sudah lelah setengah mati. Latihan yang diberikan pelatih Ukai ketika kamp pelatihan seperti ini memang tidak main – main. Bahkan, Kageyama Tobio yang sudah terkenal kejeniusannya hingga seantero turnamen voli-pun tepar dibuatnya.

"Baiklah, kelas tiga yang mandi lebih dulu. Yang lain silahkan merebahkan diri lebih dulu." Sawamura Daichi, selaku kapten yang baik memberi instruksi walaupun sebenarnya itu hanyalah keinginan dalam diri Daichi untuk mandi lebih dulu.

"Apa – apaan itu, captain?"

"TIDAK ADIL! Daichi – san tidak adil!"

"Eeeh… Aku juga ingin mandi lebih dulu."

Pada akhirnya, sanggahan apapun tidak didengar Daichi dan anggota kelas 3 lainnya. Mereka cepat – cepat pergi dari kamar menuju bilik mandi. Meninggalkan para kouhai manis mereka yang berteriak secara random mengenai keputusan sepihak tersebut.

DRRTT… DRRTT…

Kageyama berjengit terkejut ketika saku kanan celananya bergetar. Ia mengambil ponsel miliknya dan cukup terkejut mendapati Kaori benar – benar mengirim email.

Kaori : Konbanwa, Kageyama – kun!

Kageyama : Konbanwa.

Kaori : Bagaimana latihannya?

Kageyama : Baik.

Kaori : Ah, souka.

Kageyama menggenggam handphone-nya dengan gugup. Apa yang harus ia ketik sekarang? Ia harus menjawab apa? Tangannya bergetar hebat. Ia merasa bodoh karena gugup perihal situasi aneh semacam ini. Jujur saja, Kageyama memang tidak pernah berhubungan dengan gadis sebelumnya, ia tidak pernah mengalami berkirim email dengan seorang gadis sebelumnya. Jadi, pilihan terakhirnya adalah meminta tolong kepada Hinata dan senyuman ajaibnya.

"Oy, Hinata," Hinata menoleh, mendapati Kageyama tengah menatapnya hopeless. Hinata mendadak ngeri melihat ekspresi Kageyama sekarang, ia tidak pernah melihat Kageyama membuat ekspresi seperti itu. Hinata meneguk ludahnya sambil berusaha was – was dengan apapun yang akan dikatakan Kageyama setelah ini.

"K-kau… bagaimana…" jeda kalimat Kageyama tersebut serasa neraka bagi Hinata, entah kenapa ia ketakutan karena sebenarnya ia menyembunyikan sepatu olahraga Kageyama, dan ia begitu takut jika Kageyama menyadari Hinata yang menyembunyikan sepatunya.

"B-bagaimana caramu mengirim email kepada seorang gadis?"

Eh? Hinata speechless.

Kageyama menunggu.

Hinata masih tidak bisa berbicara.

Noya – san mendengar pembicaraan mereka. Noya – san mengeluarkan binar tatapan luar biasa pada duo serangan cepat dewa itu.

"Apa maksudmu, Kageyama?" akhirnya Hinata mampu berbicara.

"Sasuga ore no kouhai. Kau memang lelaki sejati, Kageyama." Nishinoya duduk di hadapan Kageyama, yang jika dilihat dari arah pintu bisa kita bandingkan seberapa besar perbedaan tinggi diantara keduanya.

"Osu." Kageyama terlalu bingung harus mengatakan apa. Jadi dia hanya mengiyakan apa perkataan senpainya.

"Kalau begitu, biarkan senpai-mu ini mengajarimu cara mendekati cewek dengan baik. Ryu! Kita memiliki pekerjaan." Tanaka yang berada di pojok ruangan mendadak ikut dalam pembicaraan ini. Beruntungnya, saat ini Tsukishima dan Yamaguchi sedang tidak ada di ruangan ini.

"Pertama, kita tidak boleh membiarkan Tsukishima mengetahui tentang rencana ini. Karena menurut penglihatanku, kurasa Tsukishima dan gadis pirang itu tidak berpacaran, melainkan one-side-love." Nishinoya mengangguk bangga akan pengetahuannya mengenai para gadis.

Memang hebat, Nishinoya, kau sangat hebat. Be proud of you.

"ONE-SIDE-LOVE?" para pemuda di ruangan itu berteriak cukup keras, bahkan Ennoshita bukannya mengerjakan tugas dispensasi mereka, ia malah ikut – ikutan ajang menikung Kaori ini.

"Cinta satu sisi. Jadi, kemungkinan besar Tsukishima menyukai si gadis berambut pirang, namun sepertinya gadis itu tidak menyadari perasaan Tsukishima pada gadis pirang itu. Siapa namanya?"

"Kaori." Kageyama menjawab singkat, masih menggenggam handphone miliknya.

"Ya! Benar, Kaori – chan! Jadi, sepertinya Kaori – chan ini hanya menganggap Tsukishima sebagai teman, artinya dia mem-friend-zoned-kan Tsukishima. HAHAHAHAHA." Nishinoya tertawa sombong. Bangga dengan segala pengetahuannya mengenai cinta, sebagai bekal dirinya untuk melindungi Kiyoko – san dan segala kecantikannya. Tiba – tiba, Ennoshita mengacungkan tangannya, merusak mood yang sudah dibangung Noya.

"Tapi, jika Kaori – san yang mem-friend-zoned-kan Tsukishima, kenapa ia menggelantungkan dirinya kepada Tsukishima seperti ketika kita akan berangkat kemarin? Bukankah akan lebih bijak jika kita mengasumsikan bahwa gadis itu juga ada perasaan pada Tsukishima?"

"Itu… Itu… Itu karena Kaori – chan begitu menyayangi Tsukishima, sebagai teman tentunya." Nishinoya meletakkan tangannya di dagu dengan posisi sombong yang tidak elit. Namun, semua orang di tempat ini, minus Ennoshita hanya bisa memandang Noya dengan binar tatapan memuja yang sama tidak elitnya dengan ekspresi yang dipuja.

"Sasuga, Noya – sama. The God of Love! Noya – sama. The God of Love!" dan dua pemuda kelas satu itu dengan bodohnya memuja Nishinoya yang membuatnya semakin besar kepala.

Segala kesalah-pahaman ini semakin rumit dan mungkin hanya Ennoshita saja yang masih bisa berpikir jernih saat ini.

"Noya – san! Kau jantan sekali! Kalau begitu mari kita ajarkan pada Tsukishima bagaimana mengerikannya pembalasan seorang kakak kelas itu." Tanaka ber hi-five dengan Nishinoya dan menggumamkan entah hal apapun yang bisa menyebabkan kesalahpahaman ini tidak ada habisnya.

'Semua ini sungguh tidak logis, bagian mananya yang benar mengenai hubungan Tsukishima dan Kaori – san? Dasar…' sepertinya hanya Ennoshita yang masih berpikiran dengan jernih setelah latihan neraka hari ini. Kau memang yang terbaik, Ennoshita.

DRRTT… DRRTT…

Kageyama berjengit. Handphone-nya bergetar, pertanda bahwa Kaori mengirim sebuah email untuk Kageyama.

Hinata berwajah pucat, ia sama gugupnya dengan Kageyama.

Para senpai memasang tatapan paling serius yang mereka bisa, walaupun jujur saja mereka serius dalam hal yang salah. Kenapa juga mereka harus menanggapi hal bodoh semacam ini dengan serius sedangkan mereka gagal dalam ujian?

From : Kaori

Subject : Kageyama – kun?

Anoo… Kageyama – kun? ._.
Kenapa tidak dibalas? Apa aku mengganggu latihanmu? Aku sungguh meminta maaf jika ternyata aku mengganggu (^_^)v Aku akan mengirimimu email lagi besok :3

-Kaori (1-5)-

"HUWAAAA!" semua dalam ruangan itu berteriak histeris dengan pesan imut yang dikirim Kaori untuk Kageyama. Mereka sendiri yang notabene tidak pernah menerima pesan dari seorang gadis mendadak merasa sakit hati. Kenapa… Kenapa harus Kageyama yang memiliki wajah seperti itu yang didekati gadis lebih dulu. Dunia ini sungguh tidak adil.

"Biarkan para senpai yang mengatasinya. Hoya, Ennoshita jangan bermalas – malasan, kemari kau!" Tanaka menarik Ennoshita menuju pojokan, tempat dimana Noya memegang handphone milik Kageyama.

"Kenapa aku juga terlibat? Lagipula kalian sendiri yang menyuruhku mengerjakan tugas dispensasi!" Ennoshita menghela nafas kesal.

BRAAKK…

Pintu geser ala Jepang dibuka. Sang kacamata dan pengawalnya masuk. Tentunya seisi ruangan itu mengeluarkan tatapan tidak biasa akan kehadiran makhluk tidak teridentifikasi tersebut, objek pembicaraan mereka beberapa saat yang lalu. Terutama jika kalian memperhatikan bagian pojok dekat jendela, dua orang pemuda tengah mengeluarkan tatapan menantang sekaligus meremehkan pada sosok yang baru saja menginterupsi keramaian di dalam ruangan tersebut.

"Tsukki… Apa kau tidak merasa suasana disini agak err berat?" Yamaguchi memperhatikan sekitar, ia tahu ada yang salah dari tatapan mereka. Bahkan Ennoshita – san mengeluarkan tatapan langka pula.

"Biarkan saja," Tsukishima hanya menanggapi santai dan duduk di tatami sambil mengenakan headphone-nya, berusaha menyibukkan diri dan mengacuhkan tatapan aneh yang ia tahu jelas ditujukan padanya. Ia mencoba menahan helaan nafas yang sudah mencapai ubun – ubun dan berusaha menyeruak keluar dari dalam tubuhnya.

"Kageyama fight!" sekali lagi Nishinoya memberikan dukungan terakhir pada Kageyama sebelum para kelas tiga menyelesaikan ritual mandinya yang berasa bertahun – tahun lamanya. Dan mereka harus menjaga volume bicara jika tidak ingin meja kayu di tengah ruangan melayang karena sang captain meluapkan kemarahannya.

Oke. Pada akhirnya, Nishinoya dan Tanaka terus memegang handphone Kageyama hingga lampu kamar telah dimatikan, demi memuaskan hasrat mereka berkirim email dengan seorang gadis.

.

.

.

From : Kageyama Tobio - san

Subject : Tidak apa – apa.

Tidak apa – apa, Ojou – chan.
Aku tidak akan pernah terganggu sedikitpun akan perhatianmu padaku.

-Kageyama (1-4)-

"KYAAA!" Kaori melompat – lompat diatas kasur one-size di pojok kamarnya sambil berteriak girang. Pipinya bersemu memerah melihat balasan dari Kageyama, yang sesungguhnya adalah para kakak kelas helpless yang jomblo itu.

"Jadi, Kageyama – kun itu seperti ini ya kalau dalam email? Kyaa!" Kaori berguling – guling di kasurnya sembari menjawab email dari Kageyama –Nishinoya– tersebut.

BRAAKK…

"Aduduh…" Kaori mengerang sembari menggosok kepalanya yang terantuk lantai setelah adegan jatuhnya yang mempesona beberapa detik yang lalu.

"Kageyama – kun itu dari kelas 1-4? Kenapa Onii – chan tidak pernah mengatakannya padaku?" –Ah. Kebodohan Nishinoya adalah dengan asal mengetik kelas Kageyama tanpa menanyakan pada sang empunya handphone kebenaran kelas Kageyama.

Kaori kau sudah dibodohi.

"Kyaa! Kageyama – kun mengirim email untukku~ Kageyama – kun berkirim email denganku~ Senangnyaa~"

Dan hari ini, malam ini, tidak ada yang meneriaki Kaori untuk berhenti bernyanyi. Haaah… sungguh malam yang damai, bagi Kaori.

.

.

.

Kai – san : Muehehe, dia gentle girl tapi hatinya hello kitty kok XD makasih udah review :3

.

.

.

Yeayyy! Chapter ketujuh akhirnya selesai.

Setelah sekian penantian dan perjuangan, saya berhasil menyelesaikan fanfiction ini dengan sedikit cepat daripada biasanya.

Okey, terima kasih untuk semua yang telah berkontribusi dalam fanfiction ini. Dan tentunya review serta apresiasi lainnya masih dinantikan Sekian dari saya, sampai jumpaa!

Salam Hangat,

Nakashima Aya