"Tidak Baek, tidak. Kau harus ku antar sampai rumah." Balas Luhan dengan nada menegaskan. Sedangkan Baekhyun hanya bisa menatap Kyungsoo dengan pandangan memohon agar sahabatnya yang satu ini bisa memnujuk Luhan.
"Aku juga tidak bisa membujuknya, Baek, aku bahkan setuju jika Luhan akan mengantarkanmu sampai pada apartementmu." Kata Kyungsoo
Oh sial, bahkan Kyungsoo tak sama sekali membantunya dan malah membela Luhan.
"Tidak apa-apa, aku bisa pulang-"
"Baekhyun akan pulang dengan ku."
Baekhyun tertegun, itu Chanyeol.
Chanyeol is mine!
Main cast :
Chanyeol & Baekhyun
(other cast, find them by yourself)
Rate : T
Genre : Romance, comedy (maybe)
Length : Chaptered
Warning, this is GS, OOC, and have so many typo.
DON'T READ, IF YOU DON'T LIKE
Do not repost without permission
Happy Reading
Chapter 7 begin…
"Apa aku bisa mempercayakan Baekhyun padamu? Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak yakin."
Luhan menyela di keheningan antara mereka. Memandang Chanyeol dengan tatapan tak pasti. Berpikir negative itu salah, tapi Luhan tidak bisa menahan pikiran negative nya saat mendengar CHnayeol akan mengantar Baekhyun pulang. Memang mereka se-apartement, tapi bukan tidak mungkin Chanyeol akan melakukan hal yang buruk, seperti melukai Baekhyun, mungkin?
"Tidak ada yang kan mengantar ku pulang. Aku tidak apa-apa, aku bisa berkendara sendiri, aku bahkan sangat hafal jalan menuju apartement ku, jadi tidak akan ada yang mengantarkan ku pulang, oke?" baekhyun frustasi. Luhan selalu menempatkannya di keadaan yang sulit. Tapi bukan berarti Baekhyun membenci Luhan, Baekhyun tahu Luhan ingin membatunya hanya saja entah kebetulan atau apalah, niat baik Luhan ini malah selalu menjadi sesuatu yang menjengkelkan.
"Keberatan. Ayolah Baek, jika kau tidak mau aku antar dengan baik-baik tanpa perdebatan, maka dengan terpaksa aku harus menyeretmu. Kau tidak lihat aku sangat khawatir?"
"Luhan, Xi Luhan, aku mengerti kau khawatir, dan aku berterima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku, tapi aku 'sungguh' tidak apa-apa." Baekhyun mengeram, Luhan selalu seperti ini.
"Bisa kah kalian tidak saling berteriak,hah? Begini saja, Chanyeol akan mengantarkan mu pulang, Baek, sedangkan aku dan Luhan akan segera pulang, eotteo?" Kyungsoo akhirnya buka suara, yang sedari tadi bungkam. Sedangkan Baekhyun hanya bisa memijat pelipisnya, dia sudah terlalu pusing untuk berdebat lagi.
"terserah kalian saja." Jawab Baekhyun final.
"Assaa. Jadi Chanyeol, aku dan Luhan menitipkan Baekhyun padamu, yah meskipun kami tahu kau bukanlah tempat penitipan barang. Jaga baik-baik, karena kalau sampai lecet sedikit pun, ku pastikan kau akan lecet juga." Ancam Kyungsoo dengan tatapan sok marah.
"baiklah kalau begitu aku dan Kyungsoo akan pergi dulu. Annyeong." Akhirnya Luhan dan Kyungsoo berlalu dari sana.
"Ayo."
Bukannya menjawab, Baekhyun malah diam di tempat sambil memijat pelan pelipisnya sementara Chanyeol sudah berjalan. Sepeninggal Luhan dan Kyungsoo, kepala Baekhyun malah semakin pusing. Bisa-bisanya kedau sahabatnya itu membiarkan dirinya pulang dengan Chanyeol sedangkan dirinya bisa pulang sendiri. Tapi apa daya, jika harus berdebat lebih jauh dengan mereka Baekhyun memilih angkat tangan. Dan Chanyeol yang sudah hampir lima meter jauh di depan Baekhyun baru sadar jikalau gadis mungil yang akan pulang bersamanya itu tidak mengikutinya sedari tadi.
"Sampai kapan kau akan berdiam diri disituh terus?"
Baekhyun mengangkat kepalanya ketika mendengar suara milik Chanyeol. Akhirnya, dengan langkah malas pun, Baekhyun menyeret kakinya yang terluka dan berjalan sedikit cepat sampai akhirnya melewati Chanyeol dan bahkan meninggalkan Chanyeol.
"Ya. Kenapa jalan mu cepat sekali?"
Baekhyun meringis pelan. Bisakah situsi konyol macam ini segera berlalu? sungguh dia sudah sangat pusing sekarang.
"Bisakah kita hanya berjalan sampai di parkiran tanpa harus menunggu satu sama lain? Jika kau memang tidak mau mengantarkan ku pulang, aku bisa pulang sendiri. Setidaknya dengan pulang sendiri, aku tidak harus berdebat dan saling menunggu seperti sekarang." Nada bicara Baekhyun meninggi. Dadanya juga naik turun sangking kesalnya, membuat Chanyeol sedikit merasa bersalah. Harusnya dirinya paham dengan keadaan Baekhyun sekarang. Dan Chanyeol akhirnya memutuskan untuk tidak akan bertanya lagi mengingat Baekhyun yang bisa kapan saja meledak ketika di tanya atau di teriakki sedikit, yah, setidaknya sampai kesal nya reda. Sebaliknya dengan Baekhyun, tanpa pikir panjang pun, dia segera berbalik badan dan lanjut berjalan ke arah parkiran tanpa menunggu dan memperdulikan jawaban dari Chanyeol.
Chanyeol is mine!
Sesampainya di parkiran, Baekhyun langsung terdiam melihat dua buah mobil yang terparkir didepannya. Apa tadi pagi dia benar-benar tidak memperhatikan sekitar tampat mobilnya diparkir, sampai-sampai dia tidak tahu kalau mobil nya bersebelahan dengan mobil milik Chanyeol? Memang tidak jadi masalah, hanya saja kenapa bisa dia tidak memperhatikan mobil Chanyeol ketika dia memarkirkan mobilnya tadi pagi? Baekhyun rasa dia perlu memeriksa matanya.
Baekhyun terkejut dari lamunannya ketika alarm mobil milik Chanyeol berbunyi. setelah bunyi alarm, Baekhyun merasakan seseorang memegang pundaknya, hampir saja dia berteriak karena kaget jikalau suara bass milik Chanyeol tidak mengejutkannya. Entahlah, beberapa waktu lalu Baekhyun merasa indera kepekaannya tidak berfungsi.
"Ayo masuk. Kaki mu akan lebih sakit jika kau berdiri terlalu lama." Ujar Chanyeol sambil mendorong Baekhyun pelan dan membukakan pintu untuk Baekhyun. Pertama kalinya bagi Baekhyun, Chanyeol bersikap lembut padanya. Namun Baekhyun hanya acuh, mungkin ini salah satu cara Chanyeol untuk mengambil hatinya. Setelah memastikan Baekhyun masuk, Chanyeol segera menutup pintu mobilnya, tetapi tiba-tiba ketika Chanyeol akan menyalakan mobilnya, Baekhyun mencegatnya.
"Lalu mobilku bagaimana?" tanya Baekhyun
"Nanti aku akan minta tolong Sehun atau jongin untuk menemani ku mengambil mobil mu." Jawab Chanyeol
"Aku tidak mau orang lain menyentuh mobilku. Aku mau, aku sendiri yang mengambilnya." Seru Baekhyun dengan nada menuntut. Chanyeol pun dibuat bingung. Tadi Baekhyun bilang dia tidak ingin berdebat, sekarang dia yang mengajak berdebat. Sebenarnya mau gadis ini apa, sih?
"Sehun atau Jongin tidak akan merusak mobil mu." Ujar Chanyeol dingin sambil mencoba menyalankan mobilnya, namun lagi-lagi dia di cegat oleh Baekhyun.
"berhenti menyalakan mobilnya sebelum aku selesai bicara." Ujarnya yang membuat Chanyeol melongo. "mobilku hanya aku yang tahu, dan aku tak pernah membiarkan seorang pun mengendarainya kecuali aku." Lanjut Baekhyun dengan maksud memberi kode. Entah Chanyeol harus bagaimana lagi. Kalau saja dia tidak ingat dengan apa yang di katakan Baekhyun tadi, dia pasti sudah memarahi Baekhyun, namun mengingat mood dan keadaan Baekhyun yang sedang tidak baik, terpaksa Chanyeol harus menahan emosinya.
"Baekhyun, kau yang bilang tadi tidak ingin berdebat, jadi jangan memancingku untuk mulai berdebat. Begini saja, kau bisa mempercayakan mobil kesayangan mu pada Sehun atau Jongin, jika terjadi sesuatu dengan mobil mu, Ferarri keluaran terbaru milik Sehun atau BMW yang baru Jongin beli minggu lalu menjadi gantinya, oke?" jelas Chanyeol
"Hey, bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu sedangkan kau tidak tahu apakah Sehun dan Jongin mau memberikan mobil mewah mereka sebagai ganti kalau mobil ku kenapa-napa? Lagipula kau pikir aku mau menukar mobil ku meskipun dengan BMW atau Ferarri sekalipun? Bagaimana, sih, cara berpikir mu? Kenapa pendek sekali?" Baekhyun berceloteh bagaikan seorang ibu yang memarahi anak umur enam tahun yang baru pulang dari rumah temannya karena kasyikan bermain.
"Astaga, kenapa kau cerewet sekali sih?!" Chanyeol geram, sampai-sampai menghentakkan kasar kedua tanggannya pada setir kemudi yang membuat Baekhyun kaget. Bagai terpancing, emosi Baekhyun yang awalnya sudah stabil sekarang naik lagi.
"Kenapa kau membentak ku, hah?! Memangnya kenapa kalau aku cerewet?! Kau keberatan kalau harus semobil dengan cewek cerewet?! Kau niat atau tidak, sih, mengantarku pulang?! Harusnya aku pulang sendiri, kalau pulang sendiri aku tidak akan berdebat denganmu SEPERTI INI, hahh!" emosi Baekhyun akhirnya pecah dan berakhir dengan dia berteriak pada Chanyeol.
"Kau pikir aku mau pulang dengamu? Kalau aku tak ingat dengan sahabat-sahabat ku, aku bisa saja pulang sendiri. Tapi aku tahu menghargai perasaan khawatir mereka. Aku tidak ingin mereka lebih khawatir. Kalau pun ada pilihan lain, aku akan memilih pilihan itu dan tidak harus memilih pulang dengan mu. Bahkan aku terlihat seperti orang lemah jika hanya dengan luka ini harus di antar pulang oleh orang lain. Berhenti memancing emosi ku karena aku sedang tidak ingin berdebat."
Nahkan, Chanyeol yang salah lagi. Apa Chanyeol juga harus balas membentak Baekhyun karena tidak terima disalahkan? Apa dia juga harus berteriak seperti yang Baekhyun lakukan padanya barusan? Haruskah? Sungguh, antara Baekhyun dan Chanyeol sama-sama sulit sekarang. Sama-sama tidak mau di bentak. Tapi posisi Chanyeol lah yang harus mengalah disini. Berdebat dengan Byun Baekhyun tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi Chanyeol lebih memilih menenangkan diri dan membujuk Baekhyun.
"Oke, aku minta maaf karena aku membentak mu, tapi tadi kau yang mengajak ku berdebat. Sekarang tenang saja, aku jamin mobil mu akan aman, oke?" Tulus dan sarat akan kelembutan, Chanyeol berucap dengan sepenuh hati agar Baekhyun tidak memberontak layaknya singah mengamuk lagi. Dan yah, setidaknya Baekhyun tidak lagi cemberut dan kusut seperti tadi meskipun dia mengacuhkan dan tidak membalas perkataan Chanyeol. Chanyeol pun yang sudah menyadari bahwa Baekhyun sudah tenang, dengan hati-hati pun kembali menyalakan mobilnya dan segera menjalankannya.
Chanyeol is mine!
Sesampainya di apartement, Baekhyun langsung membuka sepatu nya dan menggantinya dengan slipper. Dia langsung berlali pelan ke arah dapur. Sepertinya dia akan memasak sesuatu dan kelihatannya penting sekali sampai-sampai dia lupa mengganti seragamnya. Sedangkan Chanyeol yang baru masuk, langsung melepas sepatunya di tempat sepatu yang terletak di dekat pintu masuk dan menghempaskan badannya pada sofa yang berada di ruang tamu apartement milik Baekhyun. Berdebat dengan Baekhyun sungguh menguras tenaga. Dengan perlahan pun, Chanyeol menutup matanya. Dia tidak tidur, hanya memejamkan mata saja.
"Kenapa emosinya labil sekali, eh?" monolognya sendiri.
Sementara Baekhyun sedang asik sendiri di dapur. Dia memasak nasi goreng kimchi dan juga jjangmyeon. Dia sengaja memasak makanan ini karena kalau dia tidak salah Chanyeol menyukai keduanya. Setelah selesai menyajikan masakannya, Baekhyun melepas celemek memasaknya dan berjalan ke arah kamar Chanyeol. Sesampainya di depan kamar, ketika dia akan mengetuk pintu, Baekhyun tidak sengaja melihat sepasang kaki yang masih terbungkus kaos kaki dan saling tumpang tindih, Baekhyun tahu itu Chanyeol. Dengan perlahan pun Baekhyun mendekati sofa dan mendapatkan Chanyeol yang sedang memejamkan mata. Sambil memgang sandaran sofa Baekhyun berkata,
"Apa dia sudah tidur?" dan dengan tidak sopannya, Chanyeol tiba-tiba membuka matanya dan menatap sendu ke arah Baekhyun yang juga tengah menatapnya. Sontak, Baekhyun yang kaget pun mengangkat tangannya dan termundur beberapa centi kebelakang.
"Aku belum tidur, kenapa?"
"Yak! kau mengagetkan ku. Ayo bangun, makan siangnya sudah siap." Jawab Baekhyun lalu berlalu namun belum beberapa detik dia berbalik lagi. " ganti baju dulu." Lanjutnya.
Setelah keduanya selesai menganti seragam mereka dengan pakaian rumah, mereka brduam berkumpul di meja makan. Baekhyun pun dengan hati-hati menyodorkan sepiring nasi goreng kimchi ke hadapan Chanyeol.
"Kau yang memasaknya?" tanya Chanyeol sedikit tidak percaya kalau Baekhyun bisa memasak.
"Memangnya kau pikir yang ada di dalam apartement ini siapa saja, hah?" balas Baekhyun dengan nada ketus.
"Kan bisa saja kau memesan delivery." Balas Chanyeol lagu
"Tidak usah banyak tingkah, makan dan habiskan saja nasi gorengnya."
Setelah berkata seperti itu, Chanyeol dan Baekhyun sama-sama diam sambil menyantap makanan mereka masing-masing. Awalnya Chanyeol ragu dengan masakan milik Baekhyun, namun setelah mencicipinya, Chanyeol bahkan sadar kalu ini nasi goreng kimchi terenak yang pernah ia rasakan. Chanyeol ingin mengatakannya pada Baekhyun kalau masakannya enak, tapi Chanyeol lebih memilih diam, dia gengsi untuk mengatakannya. Setelah keduanya selesai makan dalam diam, Chanyeol bangkit berdiri sambil membawa alat makannya ketempat cuci piring bermaksud untuk mencucinya.
"Letakan saja disitu, nanti aku yang cuci."
"Oh, baiklah."
Setelah percakapan singkat itu, Chanyeol berjalan ke ruang tengah lalu menonton televisi. Karena tidak ada channel yang mengasyikan, Chanyeol membiarkan televisinya tetap menyala dan beralih pada ponsel nya. Sekitar lima menit lamanya dia memegang ponselnya, tiba-tiba seseorang dengan nama kontak 'Yeobo' menelponnya, tidak menunggu waktu lama, Chanyeol pun mengangkat telpon itu dan mengaktifkan speakernya
"Yeoboseyo ?"
"Yeoboseyo. Oppa?
"Nde, ada apa Dara?"
"Oppa, eodie?"
"oppa di rumah sayang, ada apa?"
"Ayo kita berkencan."
"Sekarang ?"
"Tidak oppa, nanti besok lusa."
"Kencannya basok lusa kenapa sudah telpon sekarang ?"
"tentu saja sekarang, oppa, aish jinjja."
"Oppa tidak bisa sekarang, oppa ada janji."
"Mwo? Oppa akan berkencan dengan gadis lain?"
"hehe, tidak, sayang."
"Lalu?"
"Nanti oppa cerita. Oppa matikan dulu yah, oppa harus menelpon seseorang. Saranghae, nae sarang.
"Nde, nado saranghae."
Kretak
Belum sempat Chanyeol memutus teleponnya dengan Dara, kepalanya langsung berbalik menatap kearah dapur karena mendengar bunyi ada yang retak dari sana. Tidak ada yang mencurigakan kecuali Baekhyun. Gadis itu mematung tanpa ada pegerakan selama Chanyeol melihatnya. Asal benda yang retak itu adalah piring kaca yang sudah selesai Baekhyun cuci. Baekhyun mendengar semua, termasuk ungkapan sayang Chanyeol pada Dara. Darah nya mendidih mendegar percakapan dua orang itu. Apa lagi di saat Chanyeol mengatakan dia berada di rumahnya bukan apartement Baekhyun. Kenapa Chanyeol tidak bilang kalau dia berada di apartement Baekhyun?
Tidak ingin membuat kepalanya lebih sakit karena terlalu banyak berpikir, Baekhyun segera membersihkan kekacauan yang ia buat sendiri. Saat dia akan mengangkat pecahan piring tadi, dia tidak sengaja melihat darah di sekitar pecahan. Dia mencari asal darah itu, dan asalnya dari jari ibu kanannya. Saking kesalnya dia tadi, dia tidak merasakan jarinya yang sudah terluka. Apa dia harus seperti ini terus? Terluka karena Chanyeol? Bodoh. Dia tidak memperdulikan lagi lukanya dan langsung melepas celemeknya setelah membuang pecahan piring tadi. Dia bergegas ke kamarnya untuk mengambil obat merah. Saat di depan pintu kamarnya, tiba-tiba Chanyeol memanggilnya, Baekhyun tidak menjawab, dia hanya menatap Chanyeol saja.
"berikan kunci mobilmu, aku akan mengambilnya sekarang."
Tidak ada jawaban, yang Chanyeol dapatkan hanyalah suara pintu yang ditutup oleh Baekhyun. Apa dia salah lagi? Baru saja gadis itu mau bicara, sekarang malah diam seribu kata. tidak lama, Baekhyun keluar dan langsung menyodorkan kunci mobilnya pada Chanyeol dengan tangan kanannya. Sekilas Chanyeol perhatikan, sejak kapan plester itu menempel pada ibu jari kanan milik Baekhyun? Padahal seingat Chanyeol, saat mereka makan tadi, Chanyeol tidak melihat ada plester di bagian jari manapun. Namun Chanyeol tidak ambil pusing, dia segera mengambil kunci itu dari tangan Baekhyun lalu berjalan menuju pintu keluar.
" 'nae sarang ?' 'nae sarang' telingamu ."
Ada yang mengumpat ternyata.
Chanyeol is mine
Di tempat parkir, Chanyeol mengambil ponsel nya dan men dial nomor Sehun.
"Apa?"
"Hey, sopan sedikit. Aku ini hyung mu."
"Kau menganggu tidurku, 'hyung'."
"Kalau itu maaf, tapi aku butuh batuanmu sekarang."
"Batuan apa? Tidak biasanya kau membutuhkan batuan ku."
"bacot, sekarang bangun dan tunggu di depan rumahmu, aku kan kesana. Ohya, jangan bawa mobilmu"
BIP
Setelah cek-cokkan kecil dengan Sehun, Chanyeol memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celananya dan segera mengendarai mobilnya kearah rumah Sehun.
Tidak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk sampai di depan rumah Sehun. Terlihat Sehun dengan celana jeansnya selutut, kaus polo berwarna hijau yang sangat cocok dengan kulit putihnya sedang bersandar dipagar rumahnya sambil menyilangkan salah satu kakinya dan asik dengan smartphonenya. Setelah memberikan kode pada Sehun berupa bunyi klakson, Sehun pun masuk kedalam mobil Chanyeol.
"Jadi apa alasan kau menyuruhku menunggu didepan rumah mu tanpa membawa mobilku?" Sehun angkat cerita dengan nada bicara yang dingin tanpa sedikit pun menengok ke arah Chanyeol yang tengah serius menyetir
"Kau akan tahu jika kita sudah sampai." Balas Chanyeol tak kalah dingin
"Kau tidak bermaksud untuk menculik dan menjualku, kan?" Ujar Sehun sambil melirik Chanyeol dengan ekor matanya.
"Aku masih punya banyak uang. Lagi pula siapa yang mau membeli laki-laki albino yang kekurangan pigmen seperti mu itu?"Chanyeol mulai panas, sepertinya Sehun bukanlah pria yang pendiam.
"Eiy, kau tidak tahu kalau aku ini buronan noona-noona di luar sana? Ku jamin mereka pas- hey, kenapa kau membawa ku ke sekolah? Aku sedang tidak ada jadwal latihan basket sekarang." Sehun terus mengoceh sedangkan Chanyeoln. dengan hati-hati memarkirkan mobilnya di samping mobil milik Baekhyun.
"Bukanya ini mobil Baekhyun?" tanya nya pada Chanyeol, tapi Chanyeol tidak menjawab dan hanya menyodorkan kunci mobil milik Baekhyun kedepan wajahnya.
"apa ini?" tanya nya lagi. Dan ini titik puncak dimana Chanyeol benar-benar kesal. Berapa, sih, IQ milik Sehun? Sampai hal se-sepeleh ini dia tidak bisa mengerti.
"Kau sungguhan Oh Sehun? Jangan bersikap bodoh, tentu saja aku meminta bantuan mu agar kau bisa membawa mobil Baekhyun ke apartementnya. Lama-lama denganmu aku bisa gila." Chanyeol frustasi sambil mengacak rambutnya setelah Sehun mengambil kunci yanga da di tangannya.
"santai saja. Tadi aku hanya actingbagaimana menjadi orang yang banyak mulut. Ternyata bukan selera ku." Dan setelah kalimat itu terucap, bagaikan sihir, Sehun berubah menjadi dirinya yang sesungguhnya. Bermuka dingin, suara datar, tanpa senyum. Chanyeol saja yang melihatnya melongo dengan mulut menganga bagaikan orang tolol di depan mobil Baekhyun. Bahkan Sehun dengan tidak sopannya mengagetkan Chanyeol dengan bunyi klakson mobil yang sangat nyaring, tujuannya agar Chanyeol berpindah tempat tentu saja.
Karena masih kepikiran, akhirnya Chanyeol masuk kedalam mobilnya dan menyusul Sehun yang sudah jauh di depannya.
Congrats Sehun, kau berhasil membuat Chanyeol kebingungan.
Chanyeol is mine!
Setelah Sehun yang banyak mulut dan berwajah dingin dengan tiba-tiba nya, tidak ada lagi yang di bicarakan antara mereka. Efek berbeda kendaraan salah satu penyebabnya. Tapi sungguhan, Chanyeol bahkan belum memberitahukan dimana seharusnya Sehun memarkirkan mobil milik Baekhyun. Sehun bagaikan seorang professional atau orang yang sudah biasa dengan mobil Baekhyun sampai-sampai dia tahu dimana dan bagaimana mobil itu harus terparkir.
Chanyeol yang sudah selesai memarkirkan mobilnya pun turun dan menghampiri Sehun. Sehun langsung memberikan kunci mobil Baekhyun pada Chanyeol dan berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun, padahal, Chanyeol ingin mengatakan terima kasih, tapi, ah sudahlah. Namun sebelum melangkah jauh, Sehun berbalik lagi dan berteriak, "oh yah, bilang Baekhyun lekas sembuh." Chanyeol hanya mengangguk dan masuk kedalam lift, lalu menekan tombol 6.
Sesampainya di depan apartement Baekhyun, Chanyeol langsung saja menekan beberapa angka sebagai password keamanan apartement Baekhyun. Dan disaat pintu terbuka, Chanyeol melihat Baekhyun yang sedang memakai sepatu nya. Baekhyun terlihat rapi, sampai-sampai Chanyeol bertanya-tanya mau kemana gadis ini.
"Oh, sudah?"
Sangking sibuknya Baekhyun, dia bahkan tidak tahu kalu Chanyeol sudah masuk dan duduk di sofa sampingnya sambil meletakkan kunci mobilnya di atas meja.
"Hm." Jawab Chanyeol singkat.
"Kebetulan sekali, aku baru saja mau pergi. Terima kasih yah, sudah mengambilkan mobilku." Ucap Baekhyun sambil tersenyum manis dan beranjak dari duduknya. Tapi pertanyaan Chanyeol menahannya.
"Kau mau kemana?"
"Ke tempat praktek Yixing eonnie. Sebenarnya aku akan naik taksi, tapi berhubung mobil ku sudah ada, jadi aku akan naik mobil ku saja" jelasnya.
"Tidak usah naik mobil mu, tunggu sebentar aku akan ganti baju, aku akan mengantarmu."
"Tidak-"
Terlambat. Chanyeol segera berdiri dan berjalan ke arah kamarnya mengacuhkan Baekhyun yang berusaha melarangnya. Baekhyun menemukan sesuatu yang aneh dari Chanyeol. Hal yang langkah untuknya jika Chanyeol bersikap seperti ini.
"Ayo" dan tidak lama pun Chanyeol keluar dari kamarnya sambil menyambar kunci mobilnya yang tadi dia letakkan di samping kunci mobil milik Baekhyun yang terletak di atas meja. Baekhyun hanya bisa mengangguk dan mengekor dari belakang
Chanyeol is mine!
Selama perjalanan mereka berdua terjebak dalam keheningan. Chanyeol sibuk menyetir sedangkan Baekhyun sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia bingung dengan sikap Chanyeol yang tiba-tiba berubah menjadi seperti bodyguard nya. Entah apa maksud dibalik semua perlakuan nya yang menurut Baekhyun terlalu tiba-tiba. Disaat Baekhyun masih asik dengan pikirannya, tiba-tiba Chanyeol bertanya.
"Setelah ini kemana?"
"Ne? maaf aku melamun."
"Tempat praktek Yixing noona."
"Oh. Lurus saja. Satu bangunan setelah swalayan kecil di belokkan depan."
"Baiklah."
Sesampainya disana, setelah Chanyeol memarkirkan mobilnya, Baekhyun pun langsung turun dan langsung masuk kedalam klinik diikuti dengan Chanyeol di belakangnya.
Rupanya klinik sedang sepi. Nyatanya hanya ada satu pasien yang sedang menunggu. Dua terhitung dengan Baekhyun. Atau mungkin saat siang tadi ramai, dan sore sudah berkurang.
Baekhyun kembali duduk setelah menulis namanya di daftar nama pasien hari ini. Nama yang di tulis di computer akan otomatis masuk ke data yang ada di computer di dalam ruang praktek Yixing. Tapi saat dia duduk, dia bingung melihat Chanyeol tidak ikut dengan nya. setelah dia melihat kea rah pintu masuk dan keluar, dia menangkap siluet yang sedang berbicara di telpon dan yang dia yakini adalah Chanyeol.
Chanyeol is mine!
"Oppa.."
"Ne chagiya? Waeyo?"
"Aku melihat mobil oppa tadi. Oppa pergi kemana?"
"Oppa di klinik sayang. Memangnya kau dimana?"
"Aku di-" "Dara itu telpon dari siapa, sayang?"
Disaat yang bersamaan dengan Dara yang akan mengatakan bahwa dia ada di mana, suara lelaki yang Chanyeol tidak tahu siapa muncul. Chanyeol menyerit heran, siapa yang biasa memanggil Dara dengan sebutan 'sayang'? seingatnya hanya dia yang biasa memanggilnya Dara dengan sebutan itu. Di seberang telepon, Dara kelihatan gelisah. Dengan sedikit kikuk, dia menutup speaker ponsel nya dan menjauhkan dari kepalanya.
"Hanya teman, chagi." Jawabnya. Astaga, bagaimana bisa? Namun setelah itu dia langsung menempelkan ponselnya lagi ketelingan dan mulai berbicara namun kali ini dengan setengah berbisik.
"Oppa?"
"Tadi itu siapa?" Nada suara Chanyeol terdengar seperti cemburu bercampur bingung.
"Ahh, hanya ahjussi saja, kok. Oh iya, aku tutup dulu yah, nanti ku telepon lagi, oppa. Anyeong.
"Nado."
Tidak ingin berburuk sangka lebih lama, Chanyeol pun langsung membuka pintu klinik dan memasukinya. Anehnya, dia tidak melihat Baekhyun disana. Dengan penasarn pun, Chanyeol bertanya kepada suster penjaga.
"Permisi. Apakah ada pasien bernama Byun Baekhyun?" Tanya sopan.
"Ada. Pasien baru saja masuk. Apa kah anda keluarga pasien?" tanya suster dengan sopan. Chanyeol agak sedikit bingung. Entah dia harus menjawab "ya" atau "tidak". Akhirnya dengan sedikit keragu-raguan, Chanyeol mengangguk.
"Kalau begitu anda bisa ikut masuk dengan pasien." Kata suster lagi. Chanyeol hanya membalas dengan senyuman dan kata terima kasih. Dia membuka perlahan pintu kamar periksa yang bertulisan "Dr. Yixing". Setelah terbuka, bukannya masuk, Chanyeol malah hanya menyeludupkan kepalanya.
"Oh, Chanyeol? Apa yang kau lakukan? Ayo masuk."
Entah terlalu fokus dengan lukanya, Baekhyun yang sedang diperiksa lututnya, tidak sadar jika ada Chanyeol. Dia bahkan sedikit kaget saat Yixing menyebutkan nama Chanyeol.
"Kau datang dengan Baekhyun yah?
"Ah, nde, Dokter"
"Jangan terlalu formal, kau bisa memanggilku noona. Ayo silahkan duduk. Kebetulan Baekhyun sudah selesai di periksa.
Dengan agak canggung pun, Chanyeol berpindah duduk di sebelah Baekhyun yang kebetulan juga sudah pindah dari kasur periksa. Entah kenapa Chanyeol merasa aneh dengan reaksi Baekhyun yang sedari tadi dia masuk. Baekhyun hanya diam membungkam dan tetap tenang, biasanya Baekhyun akan bertanya sesuatu jika Chanyeol kembali dari satu tempat.
"So, Baek. Bisa katanya dari mana luka lututmu berasal?" Tanya Yixing.
Awalnya Baekhyun ingin menceritakan hal yang sebenarnya, tapi dia terlalu enggan untuk jujur, jadi dia mengubah jalan ceritanya dan mengatakan sama seperti apa yang dia katakan pada Krystal, bahwa kakinya terluka karena dia terpeleset. Dan ternyata pernyataan Baekhyun tersebut malah membuat Chanyeol bingung dan akan buka suara mengenai apa yang terjadi sebenarnya, namun seakan diberi sinyal, Baekhyun dengan gesit mencubit paha Chanyeol dengan cepat sehingga membuat Chanyeol kesakitan.
"Ada apa,Chanyeol?" tanya Yixing sedikit heran karena Chanyeol tiba-tiba menjerit.
"Gwaenchana, noona. Ha-hanya kesemutan. Ya, kesemutan." Chanyeol menjawab dengan canggung. Telapak tangan besarnya masih mengusap-ngusap bekas cubitan Baekhyun sambil sesekali melirik ke arah pelaku, sedangkan Baekhyun hanya tetap tenang sambil tersenyum.
"Baiklah. Ini krim yang harus kau beli, Baek. Oleskan pada luka mu setiap selesai mandi, agar memarnya dan lukanya cepat sembuh." Ujar Yixing sambil menyodorkan secarik kertas denga tulisa tak karuan ala Dokter kepada Baekhyun.
"Baiklah eonni. Aku permisi dulu. Gomawo."
"Nde, gomawo."
Chanyeol is mine!
Selama perjalan pulang, keduanya hening. Hanya sepatah kata yang keluar dari mulut Baekhyun, yaitu hanya menyuruh Chanyeol mampir sebentar ke apotik dekat apartementnya. Setelah itu tidak ada lagi sampai mereka tiba di apartement Baekhyun.
Dengan sedikit berat, Baekhyun berusaha menyamakan langkahnya dengan Chanyeol sampai memasuki lift. Sesampainya di apartement, Chanyeol langsung memasuki kamarnya, sedangkan Baekhyun menuju dapur. Dia lapar dan ingin cepat-cepat menyantap makan malamnya. Menu mala mini adalah sushi. Kebetulan di dekat apotik ada kedai yang menjual sushi, jadi sekalian saja Baekhyun membelinya. Setelah sudah tertata rapi di meja, Baekhyun berjalan kea rah kamar Chanyeol dan memanggil pemuda itu.
"Chanyeol, makan malamnya sudah siap."
Makan malam pun berlangsung bisu. Piring dan garpu seakan menjadi saksi betapa sunyinya atmosfer di sekitar mereka ketika mereka makan. Entah apa yang membuat Baekhyun sampai tak kunjung buka suara dari tadi. Mungkin akibat apa yang dia dengar. Yah, Baekhyun mendengar pecakapan Chanyeol dan Dara.
Flashback
Sangking penasarannya Baekhyun, dengan sedikit mengendap-endap, dia mengintip dari anta pintu untuk mendengarkan apa yang Chanyeol bicarakan.
"Oppa.."
"Ne chagiya? Waeyo?"
"Aku melihat mobil oppa tadi. Oppa pergi kemana?"
"Oppa di klinik sayang. Memangnya kau dimana?"
Karena tidak tahan dan bertepatan dengan gilirannya untuk masuk, Baekhyun pun beranjak dari sana dan langsung berjalan cepat ke ruang periksa Yixing.
Memikirkannya saja sudah membuat Baekhyun pusing. Setelah menyelesaikan sushinya, Baekhyun bangkit dari duduk dan langsung mencuci piring nya tanpa menunggu Chanyeol selesai. Dia tidak peduli jika Chanyeol hanya akan membirakan piring makanya berserakan di atas meja.
Chanyeol pun hanya bisa memandang begitu saja kepergian Baekhyun dari meja makan tanpa suara. Dia mencoba memutar memorinya. Memangnya kesalahan apa yang di lakukannya sehingga si mungil itu mengacuhkannya?
Berbeda dengan Baekhyun, dia malah sedang asik denga televisinya. Di satu sisi, dia di kejutkan dengan getaran di tangannya yang berasal dari ponsel yang di gengamnnya. Alangkah terkejutnya saat melihat nama ibu Chanyeol yang tertera di sana. Dan lebih parahnya itu buka telepon biasa, itu video call. Dengan buru-buru bercampur gugup, Baekhyun mengangkatnya dan meletakan ponselnya tepat di depan wajahnya.
"Annyeonghaseyo, eomma-nim. Apa kabar?"
"Annyeong, sayang. Kabar eomma baik, bagaimana dengan mu?"
"Baik, eomma. Chanyeol juga"
"Oh yah? Bagus lah kalau begitu. Eomma ingin memberitahukan padamu kalau eomma tidak bisa pulang dalam waktu dekat. Mungkin tida minggu lagi eomma ada di sini. Jadi.. ehm, tidak apa-apa kan kalau eomma menitipkan Chanyeol pada mu tiga minggu lagi? Atau dengan kata lain, dia tinggal di apartement mu selama tiga minggu lagi. Tidak apa, kan?"
"Ne?
Baekhyun membatu. Ingin sekali dai mengatakan tidak. Sungguh, selama berada dekat dengan Chanyeol, Chanyeol selalu membuatnya jengkel. Bahkan terkesan tidak menghargai perasaannya pada Chanyeol. Tapi apa daya, dia tidak bisa dengan terang-terangan mengatakan pada eomma nya Chanyeol kalau dia tidak bisa, bagaimana pun juga dia masih menjaga perasaan 'calon menantunya' itu.
"EOMMA, APA KAU SUDAH GILA?"
Oh, maaf kan anak tidak sopan ini.
TBC
Hai.
Aku balik. Coba angkat tangan yang nunggu? Ah, jadi gak enak sama kalian. Maaf banget, aku mau ini gak sampe satu bulan, nyatanya ini sampe dua bulan lebih, maafkan, sumpah gak bermaksud.
So gini, aku gak mau basa-basi karena udah banyak salah. Ada pemberitahuan yang kalian harus tahu. Satu, Baekhyun bakal berubah (bukan jadi dugong yah) maksud nya berubah itu sikapnya. Dari chap awal kan kita tahu kalau dia tuh kalem, nah next chap bakal tomboy, sama suka motor, tapi bukan berarti dia gak bakal pake mobilnya. Pake kok, tapi udah makin sering ke motor. Dua, next chap bakalan ada anak kecil lucu yang masuk. Penasaran? Nunggu chap depannya. Ketiga, bakalan ada scene romantic buat HunHan sama KaiSoo. Mengingat aku yang suka banget sama official pair. Keempat, aku udah mulai sekolah siang sampe Desember, so, mungkin (mungkin yah) aku bakalan agak cepet update, tapi as always GAK JANJI. Segitu dulu cuap-cuapnya, maaf atas keterlambatan ini, maaf gak bisa balas review, chap depan aku usahain. Thankyou for your participate (follow, favorites, and review)
Karena pembaca yang baik selalu menghargai karya penulisnya ^^
See ya next chap.
Sign,
Chanyeol and Baekhyun's daughter.
