Gaffe


Entah ini bisa dibilang beruntung atau tidak.

Guru Kim membuatkan kelompok untuk tugas prakarya kali ini.

Dan Baekhyun mendapat kelompok prakarya yang terbaik menurut teman – teman sekelasnya.

Ada Luhan teman dekatnya, Jongdae yang kelewat rajin, Jongin yang konyol, serta Chanyeol.

Bisa dibilang, Baekhyun beruntung karena tidak perlu memikirkan apapun tentang tugasnya, sudah ada Chanyeol dan Jongdae yang mengerjakan.

Tapi bisa juga tidak, karena Baekhyun harus melihat gerak – gerik Chanyeol yang sepertinya tertarik pada Luhan.

Duh.

Kemarin Yuan, sekarang Luhan.

Hati Baekhyun lelah rasanya.

Kini, ia hanya bisa diam memainkan ponselnya di café tempat mereka mengerjakan tugas.

Di samping kirinya ada Jongdae yang sibuk membuat laporan. Di samping kanannya ada Jongin yang sibuk mengganggunya.

Dan Luhan serta Chanyeol yang sedang bercanda di depannya.

Baekhyun menyesal datang kerja kelompok hari ini.

"Baek-Baek, kau tahu?"

"Apa?"

"Kau manis."

Baekhyun mendelik ke arah Jongin. "Apa kau bilang?!"

Jongin tertawa, "Tidak, tidak. Hehehe", lalu kembali mengganggunya dengan menusuk – nusukan pensil ke pundaknya.

Baekhyun mendesah lelah.

"Aku lelah. Ada yang ingin jalan – jalan? Menghirup oksigen sejenak sebelum kembali merasakan panasnya neraka."

Ouch.

Memang panas di sini.

Apa lagi hati Baekhyun.

Jongdae mengangkat tangannya, "Sekalian membeli gabus untuk dasar miniatur kota nanti."

Baekhyun mengangguk pelan.

"Jadi siapa yang mau ikut?"

Jongin mengangkat tangannya tinggi – tinggi.

"Aku."


"Coba hubungi Jongdae, gabus yang digunakan untuk dasarnya mau warna apa?"

Baekhyun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Jongdae namun tak kunjung mendapat jawaban.

"Tidak dijawab."

"Hubungi Luhan?"

"Tak ada jawaban juga."

Helaan nafas kasar terdengar. "Jongin sudah coba dihubungi?"

Giliran Baekhyun yang menghela nafas dengan kasar.

"Daripada sibuk memerintah, mengapa bukan dirimu saja yang menelfon?!"

Cukup sudah.

Baekhyun kesal dengan Chanyeol.

Tadinya Jongin yang akan ikut bersamanya, tapi Chanyeol berdiri dan langsung menarik tangan Baekhyun keluar.

Dan kini Chanyeol hanya menggedikan bahunya, "Aku tidak membawa ponsel."

Astaga.

Sudah tahun 2017.

Dan Chanyeol pergi tanpa membawa ponselnya.

Sungguh hebat.

"Lalu mau bagaimana?"

Chanyeol menolehkan kepalanya ke luar toko.

"Kita main saja dulu."

Iya.

Main.

Baekhyun diajak main skating saat suhu sangat rendah dan ditemani hujan salju.

Chanyeol mulai mengitari area ice skating. Dengan lancer ia berputar, berjalan, bahkan berseluncur dengan sepatunya.

Sementara Baekhyun hanya diam.

Tidak berkutik karena takut jatuh.

"Kau tidak bisa?"

Baekhyun mengangguk.

"Ayo kita sudahi saja bermainnya." Ujar Chanyeol lalu menggenggam tangan Baekhyun untuk meluncur bersama ke pinggir area.

Di sini sangat dingin tapi pipi Baekhyun memanas.

"Setelah ini mau apa?"

Baekhyun kaget dengan pertanyaan mendadak Chanyeol.

"Ice cream strawberry?"

Kening Chanyeol mengerut.

"Ice cream?"

Baekhyun baru saja menyadari kebodohannya. Ia menyesal mengatakan hal tersebut yang membuat dirinya terlihat bodoh di depan Chanyeol.

Terpaksa.

Baekhyun mengangguk pelan.

"Iya, ice cream di musim dingin tidak ilegal kan?"

Biarkan Baekhyun pura – pura tidak merasakan getaran dari ponselnya yang entah itu dari Jongin, Jongdae, maupun Luhan.

Biarkan Baekhyun berpura – pura asalkan bisa menghabiskan waktu bersama Chanyeol berdua.