Di hari yang seharusnya cerah ini, hujan turun merampas takhta matahari.
Tumpukan sampah yang menggunung itu tersiram oleh keganasan air —yang ditembakkan oleh para prajurit angin. Menguarkan bau busuk yang amat menusuk hidung, membuat lingkungan di sekitarnya tampak menjijikkan; becek, basah, bau, busuk. Semuanya menjijikkan dan sangatsangatsangat kotor. (Namun tak lebih kotor dari hati manusia.)
Daerah pembuangan akhir itu memang menjadi tempat mencari rezeki untuk beberapa orang kecil, termasuk Sasuke. Maka mereka tak pernah menghiraukan resiko yang akan diterimanya nanti. Ada sekitar puluhan orang yang mengguyur tubuhnya dengan air dan aroma busuk itu —termasuk bungsu Uchiha. Yang ada di pikiran mereka saat ini hanyalah nafkah.
Tak ada kata lelah. Mereka semua berasal dari golongan tak mampu yang selalu dituntut untuk mencari seberkas berkah. Dari golongan muda, bahkan sampai orang tua, mereka semua ada di sana. Di tempat itu. Entah mencari apa, tak tentu arah. Mungkin mencari sampah-sampah yang dikiranya bisa mereka jual dan menghasilkan uang. Walau uang-uang itu tetap tak akan mencukupi.
Peluh yang bercampur dengan tetes air hujan itu membasahi sekujur tubuh Sasuke.
Rasanya lelah. Sangat lelah. Ia bekerja dari terbit fajar sampai larut malam, namun hasilnya tetap tak mencukupi; tak membuatnya patah semangat. Terkadang ada saatnya ia harus menahan lapar selama sehari penuh, tertidur bersama ganasnya udara malam, menelan mentah-mentah caci maki istrinya, dan mempermalukan dirinya di depan anak-anaknya. Namun keikhlasan selalu membuatnya sedikit lega.
"Kau sangat pucat, Sasuke …"
Salah seorang 'rekan kerja'nya menegur pemuda berambut raven tersebut. Keping violet-nya menatap intens onyx milik Sasuke. Lalu kemudian pemuda bergigi hiu itu meraba dahi sang bungsu Uchiha.
"Aku tak apa. Lepaskan, Suigetsu." Sungut Sasuke dingin. Tangan berkulit pucatnya menepis tangan Suigetsu pelan; tak bermaksud berbuat kasar pada rekan baiknya.
Suigetsu kembali menatapnya iba. Sejenak ia menghentikkan aktivitas memulungnya. "Kau belum makan lagi, ya?" —ia kembali bertanya.
Tak merespon, laki-laki berponi itu tetap tak mengacuhkan pertanyaan rekannya. Ia tetap melanjutkan untuk memilah-milah sampah yang akan masuk ke karung berat yang kini tengah dipikulnya. Jauh dalam lubuk hatinya, Sasuke menjerit membenarkan pernyataan Suigetsu. Untuk yang kesekian kali, ia tak kebagian jatah makan lagi. Terpaksa berpuasa demi ketiga sosok yang amat dicintainya.
Suigetsu mengernyitkan dahi basahnya.
"Kau benar-benar membingungkan, 'Suke!" Ia merutuk kesal —dan selalu tak diacuhkan oleh sang Uchiha. "—bicaralah padaku. Ceritakan semua masalahmu padaku, Sasuke. Setidaknya aku bisa sedikit membantumu meringankan masalah. Aku hidup sendirian, belum menikah. Tak sepertimu yang harus menghidupi tiga orang. Kalau kau mau, aku bisa membantumu," paparnya panjang lebar seraya memamerkan cengiran hiunya.
Uchiha Sasuke kembali menoleh pada rekannya. Onyx-nya menatap kosong violet Suigetsu. Tatapan mata kelam nan indah itu seolah mati, diiringi dengan sebuah senyuman tipis bermakna miris yang menyayat hati.
"Tak ada yang menginginkanku," gumamnya ambigu. Suigetsu menaikkan sebelah alisnya bingung dan menatapnya seolah berkata, 'apa-maksudmu?'.
"Tak ada yang menginginkanku, Suigetsu. Semua orang. Ayahku, ibuku, keluargaku. Aku adalah pengacau yang menghancurkan bahtera keluargaku di masa lalu. Aku adalah pembunuh yang membunuh kakakku. Aku bukan orang yang berguna!" —luapan emosi mulai meracuni pikiran pemuda berparas rupawan itu. (Namun untuk yang kesekian kalinya, Sasuke bisa menahan semuanya.)
"Sasuke—"
"Dan asal kau tahu. Sisa hidupku akan kugunakan untuk mengabdi sepenuhnya pada istri dan anak-anakku. Walau mungkin aku hanyalah seonggok sampah tak berguna di mata mereka. Dan di mata orang di seluruh jagat dunia."
"Oy, Sasuke—"
"Diam!"
Kedua pemuda itu kembali terdiam. Kini hanya suara gemercik air hujan yang masih dengan derasnya membasahi dunia dan gerak-gerik para pemulung yang tengah mengorek gunung sampah tersebut. Suigetsu mematung di tempatnya. Matanya sedikit terbelalak melihat suatu hal yang 'jarang' di depannya ini.
Ia dapat melihat bahu Sasuke yang bergetar; mati-matian menahan isakan yang akhirnya keluar juga. Sang bungsu Uchiha itu hanya bisa menggertakkan giginya, berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisnya yang keluar tanpa sebab. (Oh, Tuhan, mengapa Kau membuatnya menjadi begitu melankolis seperti ini?)
'—kenapa aku menangis? Kenapa menangis? Kenapa menangis? Kenapa—?'
.
.
.
Sacrifice
Bab 6: Kenapa
Summary: \Bab 6: Kenapa/ Kenapa dengan dirimu? —tanyakan semuanya pada dirimu, dan jawab semuanya oleh dirimu. "Ke-kenapa, Sasuke?" —ah, kenapa dengan dirimu? RnR again?
Warning: fail angsty, lil bit fluffy? (:'3), AU, OOC, OC, weirdo, typo, etc.
Disclaimer: who's didn't know Kishimoto Masashi-sensei? Yes, he is the creator of Naruto. It's pure fanfic, and I don't earn money from it.
.
.
.
"Hoi! Gunakan matamu saat berjalan, rakyat jelata!"
"Ah, maaf."
Pemuda yang masih menginjak usia kepala dua itu membungkuk hormat pada sosok jangkung yang tak sengaja ditabraknya. Tak dihiraukan oleh sosok itu, kemudian Sasuke bergegas membereskan sampah hasil pulungannya yang berserak di tengah keramaian pasar. Tak ada satupun orang yang mau memedulikannya. Bahkan dengan tak acuhnya, beberapa dari mereka menginjak dan menendang tak tentu arah sampah-sampah itu —entah disengaja atau tidak.
Sasuke memicingkan matanya, pandangannya sedikit mengabur setelah terkena bogem mentah dari orang bertubuh jangkung tadi.
"Aah … kalau hilang, berkuranglah sepeser Ryo," gumamnya pada diri sendiri —diliputi rasa kecewa. Pandangannya semakin mengabur, namun ia tetap membereskan semua sampah itu sampai kembali terkumpul di dalam karungnya.
Belum sempat Sasuke mengambil karung yang penuh berisi sampah itu, seseorang kembali menendangnya. Membuat sampah-sampahnya kembali terserak di aspal dan menghalangi jalan orang-orang di sekitarnya. Bodohnya orang tadi malah memakinya dengan tak senonoh.
"Tolol! Kau ini menghalangi jalan kami, tahu!"
"Hei anak muda, cepat bereskan sampah-sampahmu!"
"Benahi dirimu! Masukkan dirimu ke dalam karung itu!"
"Sana! Tempat pembuangan akhir sudah menunggumu! Buang-buang waktu kami saja!"
"Benar! Pergi sana!"
"Cih. Rakyat jelata. Iuh."
"Ma-maafkan aku—"
Kembali Sasuke hanya bisa menelan mentah-mentah caci maki itu. Ia bergegas dan tak sempat membenahi semua sampahnya yang kini tercampakkan sia-sia; terinjak oleh telapak kaki penuh dusta para manusia yang tak menyadari eksistensi mereka sebagai makhluk tak sempurna. Karung yang tadinya berisi penuh kini hanya tersisa setengahnya. (Dan pada akhirnya pula ia hanya mendapat setengah ons beras dari si penjual pelit itu.)
'Oh, Kami-sama. Kenapa hidup ini begitu tak adil?'
Kepala itu tertunduk lesu, tubuh lemahnya melangkah dengan gontai. Pipi kirinya masih lebam. Hari ini benar-benar penyiksaan yang melecehkan.
"Hhh— ahhh!"
Sasuke menarik tubuhnya ke arah hutan —tinggal beberapa meter lagi ia akan sampai ke rumahnya. Sedang hujan hari itu masih belum juga berhenti. Ia terjatuh di bawah naungan pohon rindang yang kini berdaun kecokelatan. Napas beratnya menderu tak beraturan, menimbulkan bunyi bising yang menyakitkan. Wajahnya kembali memucat dan keringat dingin yang bercampur air hujan turun deras melalui pelipisnya; asmanya kambuh.
Tangannya yang bergetar bergerak ke arah dadanya. Dan mencengkeramnya erat.
"Uuuhh —khhh … hhaa! Ughh …"
'Kenapa asmaku harus kambuh di saat seperti ini—? Kenapa? Kenapa asma ini seolah menghalangiku untuk mencari nafkah?'
(Tanyakan pada dirimu sendiri.)
#
"—aku … pulang …"
Dengan wajah lesu dan lebam yang tertekuk, beserta seluruh tubuh yang gemetar, Sasuke mengetuk pintu rumahnya pelan. Sangat pelan. Sangat lemah. Tenaganya kian menipis setiap hari. Mungkin karena faktor berkurangnya gizi dalam tubuhnya; terkadang ia tak kebagian jatah makan, paling sering mendapatkan jatah sisa makan malam bekas istri dan anak-anaknya, dan jarang-jarang mendapat jatah makan.
'Krieeet'
Pintu itu terbuka, tepat pada saat Sasuke roboh ke arah depan. Beruntung ada Sakura di hadapannya yang bisa menopang berat tubuhnya.
"Ya Tuhan —Sasuke! Kau kenapa?"
Wanita berambut merah jambu itu spontan menjerit tertahan dan menggusur suaminya masuk ke dalam gubuk tempat tinggalnya. Menidurkan sosok pemuda itu di tempat tidur dipan kayu miliknya, membuat kedua anak kembarnya yang sedari tadi bermain di lantai dibuatnya terkejut. Si kembar Uchiha dengan sigap menghampiri kedua orangtua mereka.
"Bunda! Ayah kenapa?" tanya Haruka dengan suara yang agak keras. Bocah berusia sembilan tahun itu mendapati ibunya yang tengah panik seraya memegangi tangan dingin milik sang ayah.
"—tidak tahu! Tadi dia terjatuh di depan pintu dan— ah, Haruki-chan, tolong tutup pintunya! Dan kau, Haruka, tolong ambilkan kardus bekas dan kipasi ayahmu!" titah Sakura diliputi rasa panik. Tangan berkulit putih susunya yang bergetar itu masih menggenggam tangan Sasuke.
"Ba-baik!"
"Hn,"
Dengan sigap Haruka merendahkan tubuh mungilnya, memasuki kolong tempat tidur dan tangannya meraba permukaan lantai semen. Banyak sampah plastik dan kertas yang terjejal di kolong dipan itu. Membuatnya sedikit sulit mencari kardus bekas yang akan digunakannya untuk mengipasi sang ayah. 'Aahh! Shimatta! Tidak ada kardus! Tidak ada!'
Lain halnya dengan Haruki. Gadis kecil itu terlihat tenang walau hatinya dilanda gundah gulana dan kecemasan. Entah mengapa ia lebih pandai menyembunyikan ekspresinya seperti Sasuke, bila dibandingkan dengan Haruka.
Ia berjalan pelan ke arah pintu rumahnya yang terbuka cukup lebar. Namun mata hijaunya tertuju pada sebuah objek yang nyaris terinjak olehnya. "Hng?" —ia memicingkan matanya. Setelah menutup daun pintu yang sudah reyot itu, badan mungilnya membungkuk dan meraih benda itu.
"Ah … beras," gumamnya pelan dengan raut wajah sedih. Haruki membalikkan badannya dan menoleh pada ibunya yang kini mendekap ayahnya. Ia berseru pelan, "Bunda. Ayah membawa setengah ons beras lagi," —seraya menunjukkan plastik bening kecil berisi beras berkualitas buruk itu pada Sakura.
"… kau taruh saja berasnya di dekat tungku minyak tanah, sayang."
"Hn."
Selagi menunggu Haruka yang tengah sibuk mencarikan kardus, kembali Sakura menatap iba wajah pucat Sasuke lekat-lekat. Wajah itu tak pernah terlihat bahagia, selalu memikul beratnya duka. Tangan halusnya meraba pipi Sasuke lembut, mengusap lebam yang mengotori pipi halus itu. Sakura tak kuasa menahan air matanya. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha mati-matian menahan tangisnya.
Sekelebat perasaan bersalah terus menjejal di rongga dadanya, membuatnya sesak setengah mati.
Tak jarang ia melihat Sasuke yang sudah sibuk mengurusi persiapan kerjanya di pagi buta, sarapan seadanya dengan sisa makan malam yang sudah mengering di dapur kecilnya. Pemuda itu hanya menanak kembali nasi tak layak konsumsi itu sampai setengah jadi, dan tinggal mencampurkannya dengan sedikit garam. Itu saja sudah nikmat baginya.
Jika dewi fortuna sedang berpihak padanya, maka Sasuke akan membelikan sedikit lauk pauk untuk menjadikan teman makan malamnya dan anak-anaknya. Namun tetap; ia selalu mendapatkan jatah sisa. Padahal ia yang mati-matian bekerja.
—tetapi kenapa … Sasuke selalu ikhlas menerima semuanya? Tak pernah marah dan mendendam. Kenapa?
'Sasuke … kenapa denganmu? Kenapa kau selalu membuatku sakit seperti ini —kenapa?'
(Karena ia mencintaimu, Sakura.)
"Bunda, aku sudah menemukan ka— ehh? Kenapa kau menangis?"
#
Hangat.
Itu yang Sasuke rasakan.
Ia membuka kelopak matanya. Pandangannya samar-samar. Keping onyx itu menoleh di balik temaramnya lampu cempor yang berdiri tegak di atas meja. Ia mendapati dirinya yang tertidur di atas paha Sakura, dihimpit oleh kedua anaknya yang kini tengah memeluk kedua lengannya. 'Ada apa ini?' batinnya heran saat menyadari posisi tidur istrinya. Wanita itu duduk menyender di bilik dan membiarkan pahanya dijadikan bantalan tidur suaminya.
Merasa tak enak hati, sang pemuda bermarga Uchiha itupun bangkit. Dengan lembut ia membenarkan posisi tidur kedua anaknya; tak mau membuat keduanya terusik. Setelahnya, ia tersenyum tipis dan mengecup dahi mereka satu per satu.
"Ngg …"
Sakura menggeliat pelan. Kelopak matanya sedikit terbuka dan ia sedikit terkejut ketika mendapati wajah suaminya yang kini berjarak beberapa senti dari wajahnya. Sangat dekat, sehingga ia dapat merasakan hembusan napas hangat Sasuke yang menyapu kulit wajahnya.
"Sasuke?"
"Ah, maafkan aku,"
Tubuh kekar itu spontan menjauh dari tubuh jenjang Sakura. Wajah datar yang menyembunyikan berjuta ekspresinya tertunduk, membuat poni-poni rambut itu menutupi sebagian wajah tampannya. Uchiha Sakura hanya mematung di hadapan sosok itu. Terjerat oleh pesona suaminya.
"Oh ya, seharusnya aku di luar ya? Hahaha,"
Sasuke tertawa hambar dan segera bangkit dari duduknya, berniat untuk kembali melanjutkan mimpi buruknya yang akan semakin buruk, ditemani dengan kejahatan dini hari yang sudah menjadi sahabatnya di luar sana. Namun Sakura kembali menahan pergelangan tangannya. Membuatnya setengah bingung dengan menaikkan sebelah alis.
Tangan halus itu bergetar. Sakura ikut tersenyum hambar. Lidahnya kelu tak tahu harus berkata apa. Cukup sampai sini penderitaan Sasuke. Pemuda itu tetap nekat ingin tidur di luar demi kenyamanannya di saat sakit seperti ini. Keterlaluan.
"Kenapa …?"
"… tak apa. Te-temani kami …"
Sasuke kembali tersenyum. Namun kali ini adalah sebuah senyuman tulus yang membuat dada Sakura semakin sesak. Wanita itu menangis tanpa suara, dalam keheningan. Menatap iba mata kelam suaminya yang tengah menatapnya heran.
"Kau ini kenapa, Sasuke …?"
Tangan mungil Sakura bergerak, hendak menyentuh belah pipi tirus Sasuke yang masih lebam. Membuat pemuda itu memejamkan matanya secara refleks, mengira sang istri akan menghadiahinya sebuah tamparan —yang sering didapatkan olehnya. Namun dugaannya meleset. Matanya kembali terbuka dengan sedikit gugup.
"Kenapa kau selalu memendam kepedihanmu sendirian? Kau tak pernah berbicara apapun padaku soal masalahmu. Lalu … kenapa pipimu lebam? Kau selalu menyembunyikan semuanya padaku. Kenapa? Penyakit apa yang selama ini kau derita? Kau tak pernah mengatakan semua itu padaku, Sasuke!" bertubi-tubi pertanyaan itu terlontar pelan sebagai desahan pilu Sakura. Tangannya tak berhenti mengusap pipi tirus itu. Air matanya belum berhenti mengalir.
Sasuke menggeleng lemah. Ia menggenggam tangan istrinya yang tadi berada di pipinya itu erat, lalu mengecupnya lembut.
"Kau tak akan pernah mengerti—" ia kembali tertunduk, lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Menyesap aroma khas yang menguar dari tubuh jenjang itu. "—kau tak akan pernah mau mendengarkanku. Aku selalu membuatmu jengkel dan marah … aku menyebalkan, 'kan?"
Sakura kembali mematung. Membiarkan Sasuke mengecupi leher jenjangnya. Memori otaknya berputar.
'Sudah berapa kali aku menyakiti hatinya?'
Tangan Sakura kembali bergerak, kali ini mengusap sayang kepala suaminya. Tetes air mata membasahi rambut biru tua kehitaman itu. Membuat sang bungsu Uchiha kembali mendongak. "Ah, kau cengeng sekali …" guraunya seraya tertawa kecil dan mengusap jejak air mata yang menganak di pipi ranum istri tercintanya tersebut.
"Kau terlalu baik hati …" desis Sakura ngilu. Tubuh mungilnya gemetar dalam dekapan suaminya.
Dan, sekali lagi, Sasuke menggeleng pelan seraya tertawa kecil. "—tidak … aku ini tidak punya eksistensi. Hatiku beku," gumamnya datar dan tak berintonasi. Namun Sakura dapat menangkap ekspresi kesedihan yang terselip di wajah tampan pemuda itu. "—mereka … mereka sama sekali tak menginginkanku. Tak pernah peduli denganku. Bahkan —ayah dan ibuku … semuanya, seolah tak menginginkan kehadiranku di dunia ini. Hanya kakakku. Hanya kakakku yang peduli padaku, dan beberapa orang rekan pemulungku. Selanjutnya …"
Iris emerald wanita berambut merah jambu itu terbelalak. Tak pernah ia mengetahui masa lalu suaminya yang sekelam itu.
"Sa-Sasuke …"
"—tapi aku bersyukur bisa memilikimu, dan si kembar. Berkat kalian, aku bisa bersahabat dengan takdir sialku ini. Berkat kalian, aku bisa merasakan seberkas kebahagiaan,"
Kembali sebuah senyuman tulus terpatri di wajah pemuda itu. Untuk kesekian kalinya Sakura hanya bisa menatap nanar onyx kelam Sasuke dengan air mata yang menggenang di pelupuknya. Siap menetes kapan saja setiap ia tak kuat untuk menahannya.
"Tak apa aku mati dalam suramnya dunia kehidupanku. Asal kau dan anak-anak bahagia, itu saja."
—dan air mata itu akhirnya terjatuh. Membasahi telapak tangan pucat Sasuke yang sengaja ia telungkupkan di kedua belah pipi istrinya. "Kenapa kau menangis? Seharusnya aku yang menangis," bisiknya parau setelah mengecup ringan bibir sang istri.
"Ke-kenapa, Sasuke?"
'Kenapa dengan dirimu—? Kenapa dengan kehidupanmu? Kenapa dengan masa lalumu? Kenapa …? Kenapa diriku ini? Kenapa aku tak pernah mau mengerti dan hanya mengedepankan egoku padanya? Kenapa?'
"Kau mengira aku akan marah padamu?"
"…"
"—tidak. Aku bahkan rela kau caci maki, kau permalukan di depan anak-anak, di muka khalayak ramai. Namun kenapa … kau selalu berprasangka buruk terhadapku?"
"Sa—"
"Dengarkan aku,"
"…"
"Aku tidak pernah merasakan marah sedikitpun padamu, dan anak-anak kita. Kenapa kau selalu terlihat gundah dan seolah menjauhiku setiap kali kita selesai bertengkar? Kau takut aku marah padamu? Tidak, sayang. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Silahkan kau memarahiku, mencaciku, atau bahkan menamparku. Aku tidak akan marah padamu. Tapi tolong, jangan menjauhiku. Jangan takut padaku,"
"Kenapa—"
"Karena aku sudah sah menjadi suamimu. Walau pernikahan kita tak ada cincin dan pesta meriah."
"Sasuke, sudahlah—!"
Wanita itu menyela curahan hati suaminya. Hatinya sangat ngilu saat mendengar penuturan panjang Sasuke tadi. Betapa besarnya cinta pemuda itu padanya, namun ia seringkali menyia-nyiakan kenikmatan semu yang dianugerahkan Tuhan padanya.
Isakkannya kian mengeras karena ia tak kuasa menahan perih yang tertohok dalam kalbunya. Dengan lembut ia kembali meraih tubuh beraroma citrus itu ke dalam dekap hangatnya, seolah tak ingin melepasnya pergi —ke manapun yang tak dikehendakinya.
"Demi Tuhan, maaf atas sifat egoisku padamu selama ini, Sasuke-kun!" gumamnya parau dengan tubuh yang gemetar; terisak dan tersengguk. "Aku sudah mencoba untuk merubah semuanya, tapi kenapa … kenapa tetap tak bisa? Kenapa—?"
Sasuke membalas rengkuhan agresif itu erat. Mencoba meyakinkan dan menenangkan istrinya yang dilanda gundah gulana. Mengusap kepalanya penuh kasih sayang dan kelembutan. Membiarkan Sakura terisak dan membasahi dada bidangnya.
"Cukup. Tanyakan semuanya pada dirimu. Dan jawab semuanya olehmu. Hentikkan ironimu. Hentikkan! Kau hanya akan menambah penderitaanku, sungguh! Aku hanya ingin melihatmu bahagia!"
.
.
.
—dan keduanya sama-sama terhanyut dalam kesunyian. Sasuke menangis tanpa sesenggukan dan suara isakan. Ia membisu. Air matanya mengalir begitu saja membasahi kaos lusuh yang membalut tubuh lemahnya.
'Hatiku mati. Benarkah …? Kenapa, Kami-sama? Kenapa dengan diriku?'
(Kau yang memegang semua jawabannya.)
Ah, tidurlah Sasuke. Fajar tinggal kau hitung dengan hitungan jam.
Tsudzuku
A-aduh … kenapa Chill ngetiknya jadi nggak tega begini ya? ;w; go-gomen Sasuke-kun, Chill nggak bermaksud membuatmu sengsara di sini, suer dehh … TwT Chill cuma bosen liat kamu dijadiin perfect melulu D:
Sasuke: TERUS LO SIRIK SAMA GUEEE? JAHAT BANGET LU DENDAM SAMA GUE! TAT
Chill: Nggaak~! TAT Chill nggak dendam! Chill 'kan fans Sasu-kun :'3
Sasuke: M-MANA ADA FANS YANG SETEGA KAMU! TwT
Chill: Ya maaf deeehhh X3 Chill kan cuma mau bikin sensasi baru :9
Sasuke: Oh, lu cari sensasi nih ceritanya? -_-
Chill: Nggak! =='
Sasuke: How dare you. Dasar jomblongeness. Sampe umur 22 tahun belum dapet jodoh. Kalah sama gue lu.
Chill: … *JLEB*
Oke, abaikan! XDD wanna give me some feedback again, please? :3 Chill sangat mengapresiasi reviewers yang konsisten mereview fic Chill :'D *ditendang yang lain*
.
Chillianne Erythroxylon™
24/04/2012
