[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

THE PRICE OF A VIRGINITY

Cast :

Baekhyun, Chanyeol, Kris, Luhan, and others..

Remake story by Karenina

So sorry for all the typos..

~~~~~

Baekhyun terbangun dengan ketelanjangan yang tertutupi selimut kusut. Gadis itu memperhatikan sekitarnya, Chanyeol sudah tak berada di sampingnya. Wajah Baekhyun merona kala kilasan kejadian semalam berputar di otaknya. Betapa lelaki itu sangat mendamba dan menginginkan dirinya, menghadirkan wajah berseri seorang Byun Baekhyun pagi ini.

Dengan malas gadis itu meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Gerakan kecil itu nyatanya membuat selimut yang dipakainya tersibak sebagian, menampilkan paha putih miliknya. Baekhyun kemudian menyerukkan wajahnya pada bantal yang digunakan Chanyeol semalam. Menghirup aroma tubuh Chanyeol yang tertinggal disana. Dan bayangan tubuh lelaki itu saat menyatu dengannya kembali melintas, membuat rona kemerahan itu muncul kembali di wajah ayunya. Sial bagi Baekhyun karena saat ini dia begitu mendamba sentuhan lelaki itu. Ia tak sabar menanti Chanyeol mengulangi semuanya. Chanyeol benar-benar kriteria kekasih yang sempurna.

Ini memang seks pertama bagi Baekhyun, tapi gadis cantik itu meyakini bahwa yang dilakukannya semalam adalah pengalaman bercinta paling indah dan paling mengesankan baginya. Hampir sepanjang malam mereka bercinta. Semalam Chanyeol hanya tidur sebentar sambil memeluknya, dan Baekhyun sangat nyaman dengan hal itu. Euforia itu Baekhyun rasakan disetiap ia membuka mata, ia mendapati Chanyeol berada di sisinya, memandangnya dengan penuh minat. Namun pagi ini, lelaki itu entah kemana. Meninggalkan kehampaan disisi Byun Baekhyun. Kemana perginya Chanyeol?

Gadis yang masih setia bergelung diatas ranjang tersebut lantas mendudukkan dirinya. Memperhatikan kamar yang semalam menjadi saksi percintaannya. Kamar Chanyeol nampak sangat maskulin. Dominasi warna gelap menghiasi dinding dan beberapa perabotan di dalamnya. Lukisan abstrak dengan warna monochrome menggantung indah di beberapa bagian kamar. Menghidupkan kesan misterius dan rumit dari si pemilik kamar. Di sudut ruang terdapat walk in closet yang bersebelahan dengan kamar mandi. Simpel dan elegan namun mampu menghadirkan aura misterius si pemilik kamar.

Tiba-tiba pikiran itu melintas. Pasti Chanyeol sering membawa wanitanya naik ke ranjang ini. Pikiran yang membuat Baekhyun kesal sendiri. Disibakkannya selimut yang menutupi ketelanjangannya dan berusaha turun dari tempat tidur. Seperti tak peduli pada ketelanjangannya gadis itu berjalan kearah sofa, meraih mantel tidur Chanyeol untuk dikenakannya. Diikatnya tali mantel itu kuat-kuat pada pinggangnya untuk kemudian berjalan keluar kamar mencari Chanyeol. Bayangan dalam cermin yang dilewatinya di dekat tangga nyatanya mampu menghentikan langkah Baekhyun. Gadis dengan wajah yang merona dan binar di matanya adalah yang tertangkap retina Baekhyun kala dia menatap cermin itu. Kaukah itu Byun Baekhyun? gumamnya sedikit tak percaya.

Langkah tak beralas itu digiringnya menuju dapur dengan kebahagiaan yang membuncah. Dan kebahagiaannya semakin menjadi kala mendapati eksistensi Chanyeol di dapur, berdiri memunggunginya. Lelaki itu belum menyadari kehadiran Baekhyun di dapurnya. Chanyeol nampak sedang menunggu air dalam ketel mendidih untuk meracik kopi paginya. Baekhyun memandangi pahatan sempurna di depannya dengan perasaan yang berbunga-bunga. Bahu lebar itu, kaki panjang itu, dan juga rambut coklat berantakan itu nyatanya mampu menghadirkan senyum di bibir mungil Baekhyun. Chanyeol masih mengenakan pakaian semalam, kaos abu-abu dan celana jeans belel itu masih setia melekat di tubuh atletisnya. Entah kenapa Baekhyun lebih suka melihat Chanyeol berbaring telanjang bersamanya.

"Selamat pagi." bisik Baekhyun pelan.

Chanyeol membalikkan tubuhnya, wajahnya sangat datar, tidak seperti semalam. Baekhyun patut bersyukur, karena niatan untuk memeluk lelaki itu dari belakang ia urungkan di menit-menit terkahir.

"Selamat pagi" balas Chanyeol datar. "Kopi?"

"Boleh" Baekhyun berdusta dan detak jantungnya semakin kencang, gadis itu ketakutan. Ia tak ingin minum kopi. Ia ingin Chanyeol memeluknya, mencumbunya dan mencintainya. Dan keinginan itu seketika menguap kala tatapan mata Chanyeol menjadi asing baginya. Bahkan sikap ramah yang Chanyeol tunjukkan kala pertama kali bertemu, hilang entah kemana. Tatapan Chanyeol menyiratkan bahwa Baekhyun tak ubahnya perempuan-perempuan asing yang sering ditemuinya, yang selalu menarik perhatiaannya dan hanya akan ditanggapi dengan senyuman kecil namun sopan oleh Chanyeol. Seperti itulah Chanyeol saat ini di mata Baekhyun.

Kopi dengan tambahan creamer itu Chanyeol serahkan pada Baekhyun. Gadis itu menerimanya dengan tangan yang gemetar hebat. Cepat-cepat Baekhyun meletakkan cangkir itu di atas meja.

Baekhyun sadar akan konsekuensi yang harus diterimanya atas kejadian semalam. Namun, rasa kecewa dan kesedihan itu tetap muncul meskipun sudah berjuta kali gadis itu meyakinkan diri bahwa dia baik-baik saja. Bukankah sudah jelas, semalam Chanyeol mengatakan bahwa lelaki itu hanya memanfaatkan hubungannya dengan perempuan demi kesenangan semata? Dan sialnya semalam Baekhyunlah yang menjadi pihak penggoda. Dirinyalah yang menggoda Chanyeol hingga peristiwa itu terjadi. Dan jika Chanyeol menyesali perbuatannya semalam, Baekhyunlah yang harus disalahkan atas kejadian itu. Demi kejelasan atas semua pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, Baekhyun pun takut-takut mencoba bertanya pada Chanyeol.

"Maaf tuan. Hmm, apakah. Apakah anda sedang menyesali kejadian semalam?"

Lelaki itu menatap Baekhyun lama dengan sorot yang tak tertebak, hingga..

"Aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk kita membicarakan hal itu, Baekhyun." sahutnya datar.

"Tapi, tuan.." Baekhyun mencoba menginterupsi.

"Mendadak aku harus pergi untuk beberapa hari. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Setelah itu, mari kita berbicara, Baekhyun." Chanyeol berdiri, meninggalkan Baekhyun yang masih diam terpaku di kursinya.

Tentu saja Chanyeol akan pergi untuk mencari perempuan yang lebih cantik dan berkelas. Siapa kau, Baekhyun? Hanya seorang gadis lugu dan kampungan. Semalam Chanyeol hanya memanfaatkan dirimu untuk memenuhi hasratnya. Cuaca tak bersahabat dan kebetulan kau berada disisinya semalam. Sekarang sudah jelas bukan, kenapa semalam Chanyeol melarangmu pergi. Kau hanya cadangan saat tak ada wanita lain yang bisa diajaknya naik ke tempat tidur, Baekhyun. Sadarlah. Kenapa kau bebal sekali? Pikiran buruk itu memenuhi benak Baekhyun, membuat hazel indah itu mulai berkaca-kaca. Oh, tidak! Aku tidak boleh menangisi lelaki yang jelas-jelas tidak pernah menganggapku istimewa, gadis itu berusaha tegar. Dihapusnya air mata yang mulai merembes di pipi mulusnya itu dengan kasar. Gadis itu memilih menyibukkan diri di dapur untuk menghalau segala pikiran tentang Chanyeol. Tak lama, Baekhyun mendengar langkah kaki mendekat di belakangnya. Namun, gadis itu berusaha untuk tidak peduli.

"Baekhyun"

Gadis itu membalikkan tubuhnya, sedikit berharap agar Chanyeol berubah pikiran dan tidak jadi pergi meninggalkannya. Namun sayang, wajah datar itu nampak semakin jelas ingin pergi menjauhi Baekhyun. Mungkin saat ini Baekhyun tak ubahnya seonggok kotoran yang patut untuk diabaikan.

"Aku harus pergi sekarang." suara baritone itu terlalu datar untuk didengar.

"Baiklah, tuan." gadis itupun memperlihatkan wajah datarnya.

"Kita akan bicara, nanti setelah semuanya selesai. Dan saat aku pulang aku harap kau ada dirumah, tidak pergi kemana-mana."

"Baik, tuan. Hati-hati di jalan" jawaban formal dari seorang pekerja kepada majikannya.

"Sampai jumpa." Chanyeol nampak ragu, seperti akan mengatakan sesuatu namun sedetik kemudian ia urungkan. Lelaki itu berbalik, meninggalkan Baekhyun tanpa berucap apapun lagi.

Baekhyun sedikit merasa lega saat eksistensi pria itu sudah tak tertangkap retina matanya. Setidaknya untuk beberapa hari kedepan Baekhyun bisa menata kembali hatinya. Ia juga harus merencanakan sesuatu, bejaga-jaga bila ada hal yang tidak diinginkan menimpanya dan dia tak mampu lagi mengatasinya.

Gadis itu pun kemudian memutuskan untuk mandi. Berharap dapat mengenyahkan aroma Chanyeol dari tubuhnya. Namun sayang, aroma maskulin itu masih setia menempel ditubuhnya meski telah berkali-kali Baekhyun membasuhnya. Rasa sakit akibat gigitan Chanyeol di seluruh tubuhnya baru ia rasakan sekarang. Rasa perih pada bagian selatan tubuhnya juga mulai muncul. Sepertinya akan sulit bagi Baekhyun mengenyahkan bekas kehadiran lelaki itu dalam tubuhnya.

Acara mandi itu Baekhyun selesaikan dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Ia tak ingin berlarut-larut dalam kamar mandi dan kembali memikirkan Chanyeol. Setelah berpakaian, gadis itu pun turun untuk menyantap sarapannya secepat yang ia bisa. Ia harus segera menyusun rencana untuk menghadapi skenario terburuk saat Chanyeol pulang nanti. Tidak butuh waktu lama bagi Baekhyun untuk menghabiskan sarapannya. Setelah sarapan itu tandas, ia segera bangkit untuk membersihkan meja serta mencuci peralatan makan yang telah di pakainya. Gadis itu pun kembali mendudukkan dirinya di meja makan dan mulai berpikir, menelaah kejadian tadi pagi serta mencari solusi jika skenario terburuk itu benar-benar terjadi.

Melihat sikap Chanyeol pagi ini, Baekhyun putuskan ia akan mengaku pada Kris dan Luhan bahwa dia telah melakukan hubungan sex dengan Chanyeol. Setelah ia menerima uang itu, Baekhyun berencana untuk pergi dari penthouse Chanyeol dan menyewa sebuah apartemen kecil yang murah. Ia rasa uang satu juta poundsterling itu akan cukup baginya untuk bertahan hidup di London selama lima tahun masa kuliahnya. Toh, uang kuliahnya telah ditanggung pasangan Kris dan Luhan hingga ia lulus nanti. Gadis itu juga berencana akan mencari pekerjaan sambilan untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu dengan uang itu dan dia masih harus bertahan di London untuk melanjutkan kuliahnya. Setelah lulus ia akan kembali ke Korea. Baekhyun yakin dengan ijazah Oxford dalam genggamannya, akan mudah baginya mendapatkan pekerjaan di Korea. Keraguan itu muncul saat Baekhyun menghadapi kenyataan bahwa ia harus menceritakan hal intim pada pasangan Kris dan Luhan. Rencananya ia hanya akan memberitahu Luhan karena mereka sama-sama wanita, namun ia merasa sangat malu untuk menceritakannya. Oh God, bagaimana aku akan mengatakannya pada mereka? Aku benar-benar malu membicarakan hal intim pada mereka, pikirnya bingung. Lama kemudian, akhirnya Baekhyun putuskan untuk menunggu kepulangan Chanyeol agar semuanya jelas.

~@~@~@~@~

Sudah beberapa hari sejak kepergian Chanyeol pagi itu. Baekhyun tak tahu kapan Chanyeol akan pulang. Beruntung bagi Baekhyun karena jadwal kuliahnya sedikit padat akhir-akhir ini. Setidaknya ia tak harus duduk sendirian dalam penthouse besar itu sepanjang hari hanya demi memikirkan Chanyeol yang tak kunjung pulang. Ya, jadwal kuliah yang padat memang efektif bagi Baekhyun untuk mengalihkan pikirannya dari sosok Park Chanyeol.

Teman-teman baru gadis itu juga menjadi pengalihan ampuh bagi pikiran Baekhyun. Seperti tadi, secara tiba-tiba Sehun dan teman-temannya yang lain mengajak dirinya untuk pergi menontok konser Ed Sheeran di Stadion Wembley besok. Kebetulan Sehun memiliki sepupu yang bekerja sebagai kru panggung dan dengan baik hatinya memberikan Sehun beberapa tiket gratis.

"Oh, ayolah Baekhyun, kau harus pergi. Kau sudah tak datang ke pesta ulang tahunku sabtu lalu, sebagai gantinya kau harus mau ikut dengan kami pergi menonton besok." desak Sehun tadi saat di kampus.

"Entahlah Sehun." Baekhyun diliputi keraguan dan belum bisa memberikan kepastian.

Dan sekarang, saat Baekhyun baru saja menginjakkan kakinya di penthouse chanyeol, lelaki putih itu menelponnya untuk meminta kepastian pada Baekhyun. Sehun mengatakan akan membuang tiket itu jika Baekhyun tidak jadi pergi dan mereka semua batal menonton konser tersebut.

"Huh, dasar kau tukang paksa." gerutu Baekhyun dalam sambungan telpon itu. Gadis itupun dengan sedikit terpaksa mengiyakan ajakan Sehun. Sebenarnya Baekhyun sedikit merasa jenuh dengan ketiadaan Chanyeol di penthouse ini. Oh, ayolah sekaku apapun Baekhyun dia pasti butuh teman bicara di tempat seluas penthouse ini. Apalagi pikiran tentang Chanyeol kembali menyeruak kala ia menginjakkan kaki di penthouse itu sepulangnya ia kuliah. Entahlah, Baekhyun hanya butuh sedikit me-refresh otaknya dari sosok Park Chanyeol.

"Hmmm, baiklah Sehun. Tapi bisakah kau besok menjemputku? Aku akan menunggumu di lobby dan akan aku beritahu penjaga gerbang agar membiarkan mobilmu masuk." kata Baekhyun melalui ponselnya.

"Yeeesss, akhirnya. Baiklah besok aku akan menjemputmu Byun." Sehun terkikik senang di akhir kalimatnya.

~@~@~@~@~

Keesokan harinya, Baekhyun benar-benar pergi menonton konser bersama Sehun dan teman-temannya. Sehun menepati janjinya untuk menjeput gadis itu di lobby penthouse Chanyeol. Pukul tujuh tepat city car merah itu telah berada di hadapan Baekhyun. Tanpa banyak kata, gadis itu masuk ke dalamnya dan mereka pun pergi meninggalkan pelataran gedung itu menuju lokasi konser.

Tiga puluh menit setelah kepergian Baekhyun, Chanyeol tiba di penthousenya. Hal pertama yang lelaki itu lakukan setelah keluar dari lift pribadinya adalah mencari keberadaan Baekhyun. Ia tak sabar ingin segera berbicara dan menjelaskan semuanya pada Baekhyun. Namun, pencarian itu berakhir nihil. Baekhyun tak ada dimana pun di dalam penthouse itu. Kemana dia pergi? pikirnya was-was. Ia mencoba menghubungi Kris, berharap Baekhyun sedang berada di mansion Kris, bermain bersama ketiga keponakannya. Dan lagi-lagi jawaban yang diberikan Kris menambah kadar kecemasan Chanyeol. Pasalnya Kris mengatakan bahwa seharian ini Baekhyun sama sekali tak datang berkunjung ke tempatnya. Di tengah kecemasannya, sebuah ide muncul dalam otaknya. Ia segera menghubungi orang yang mungkin tahu informasi keberadaan Baekhyun. Ya, penjaga gedung. Chanyeol menghubungi penjaga gedung untuk mengetahui informasi tentang Baekhyun. Dan jawaban yang diberikan oleh penjaga gedung itu membuat emosi Chanyeol seketika meledak.

"Kau yakin?" Chanyeol memastikan.

"Tak salah lagi, tuan. Ia pergi dengan seorang pria muda yang mengendarai city car berwarna merah."

"Baiklah. Terima kasih, Ben. Selamat malam." Chanyeol mengakhiri panggilannya.

Kenapa kau tak menuruti kata-kataku, Byun Baekhyun? geram Chanyeol.

~@~@~@~@~

Baekhyun begitu menikmati seluruh penampilan yang ada dalam konser tersebut. Beban dalam hatinya sedikit terangkat dan dia merasa gembira. Untuk sesaat gadis itu mampu mengenyahkan Chanyeol dari pikirannya.

Konser berakhir, dan Sehun mengajak mereka semua untuk mampir ke sebuah kedai kopi. Semua menyetujui ajakan Sehun. Namun tidak dengan Baekhyun. Gadis itu ingin pulang.

"Oh, ayolah Baekhyun. Ini hanya kopi bukan alkohol. Bukankah kau pernah berjanji akan ikut jika aku mengajakmu untuk minum kopi?" bujuk Sehun. Ia tahu Baekhyun memiliki toleransi yang rendah terhadap alkohol.

"Sehun benar, Baekhyun. Lagipula ini belum terlalu malam." timpal teman lainnya.

"Baiklah, tapi awas saja jika kalian memesankan aku kopi Irlandia. Aku tak selugu itu untuk kalian bodohi lagi." Baekhyun pura-pura mengancam mereka. Agaknya kalimat yang ia ucapkan tadi sedikit membuatnya terperanjat. Lugu? Omong kosong. Lantas kau sebut apa malam panasmu bersama Chanyeol tempo hari, Baekhyun? pikirnya. Lagi-lagi bayangan Chanyeol memenuhi pikirannya, namun seketika itu pula ia tepis. Gadis itu hanya ingin bersenang-senang malam ini.

~@~@~@~@~

Di dalam kedai kopi yang buka selama 24 jam itu, Sehun, Baekhyun, dan teman-temannya berkumpul. Mereka larut dalam obrolan ringan yang mengundang tawa, membuat Baekhyun hanyut dalam suasana yang diciptakan oleh teman-temannya. Gadis itu memperhatikan Sehun yang begitu santai dalam menjalani hidupnya. Chanyeol sebenarnya juga termasuk lelaki yang menyenangkan, hanya saja suatu beban yang entah apa sedang menutupi sisi menyenangkan dari seorang Park Chanyeol, batin Baekhyun. Atau mungkin karena Sehun masih muda dan berjiwa bebas? Sedangkan Chanyeol adalah lelaki dewasa dengan segala tanggung jawabnya? batinnya menambahkan.

Tiba-tiba tangan Sehun terulur kearahnya, mencoba merangkul dan mengelus tengkuknya. Baekhyun yang melihatnya segera menepis tangan Sehun. Merasa ditolak Sehun pun langsung menjauhkan duduknya dan berkata, "Maafkan kelancanganku, Baekhyun. A-aku sepertinya terbawa suasana."

"Jangan pernah mengulanginya lagi, Sehun. Aku tak suka." tegur Baekhyun.

"Aku berjanji, cantik." seringai itu terulas di bibir Sehun.

Baekhyun yang melihatnya, langsung menampilkan ekspresi marah pada Sehun dan dibalas lelaki itu dengan mengangkat kedua tangannya ke udara tanda ia takkan mengulanginya lagi. Untunglah teman-temannya yang lain tak ada yang memperhatikan. Beberapa dari mereka tengah larut dalam siaran ulang pertandingan perempat final liga Champions Derby klub liga Inggris, Liverpool vs Manchester City. Sedangkan Alicia, satu-satunya teman perempuan Baekhyun tengah asyik bercumbu dengan kekasihnya tanpa peduli keadaan di sekitar mereka.

Sikap Sehun yang seperti itu, mau tak mau membuat Baekhyun luluh. Gadis itu memang tidak bisa marah terlalu lama dengan lelaki yang memiliki darah Korea tersebut. Sebenarnya, jika diperhatikan Sehun memiliki paras yang cukup tampan. Sosok sehun mengingatkan Baekhyun pada salah satu rapper termuda dari boyband terkenal asal Korea. Kenapa hatiku tidak jatuh pada lelaki ini saja? Kenapa harus Park Chanyeol? pikirnya sedih.

~@~@~@~@~

Tepat jam 12 malam, Sehun mengantar Baekhyun pulang. Saat turun dari mobil Sehun, Baekhyun mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Sehun atas semua yang mereka lakukan malam ini. Gadis itupun lalu beranjak, melintasi lobby menuju lift pribadi yang akan membawanya menuju penthouse Chanyeol.

Saat gadis itu melangkah keluar dari lift, lampu ruangan itu tiba-tiba menyala dengan terangnya. Baekhyun tersentak kaget. Chanyeol telah berdiri di hadapannya dengan wajah yang tampak amat sangat marah.

"Tuan?" panggilnya takut-takut.

"Bersenang-senang, Baekhyun?" nada suara lelaki itu terdengar muak dan marah.

"Sa-ya hanya menonton konser Ed Sheeran bersama Se-hun tadi, tu-an. Kebetulan di-a memiliki tiket gratis, ja-di..." ucap Baekhyun terbata-bata.

"Aku tidak peduli, Baekhyun. Bukankah sudah kuminta agar kau tak pergi kemana-mana? Kenapa kau langgar? Sulitkah bagimu untuk menuruti kata-kataku?" kata lelaki itu dengan emosi yang semakin membuncah.

Baekhyun semakin takut dan sedih melihat wajah lelaki tampan itu semakin dingin, lelah, dan kesal. Sepercik harapan muncul kala ia mengetahui Chanyeol pulang. Berharap lelaki itu masih menginginkannya. Namun melihat kemarahan Chanyeol saat ini, harapan itu hilang, lenyap entah kemana. Baekhyun sadar sekarang, Chanyeol tak pernah menginginkannya dan mungkin lelaki itu berharap agar Baekhyun segera enyah dari hidupnya.

Gadis itu berusaha tegar di hadapan Chanyeol. "Saya hanya berusaha menghilangkan stress dengan bersenang-senang sebentar bersama teman-teman saya. Saya pikir malam ini tuan tidak akan pulang seperti malam-malam sebelumnya." ucapnya tenang.

Ucapan Baekhyun berefek fatal bagi Chanyeol. Lelaki itu semakin muak kepada Baekhyun dan nyaris kehilangan kendali. Sebuah scene dimana Chanyeol menyeret Baekhyun, mencumbunya habis-habisan kemudian melemparkannya keluar seperti sampah, sedang berputar di kepala Chanyeol. Namun, tak ia lakukan. Lelaki itu memang sakit hati dan marah dengan sikap Baekhyun yang bebal tak menuruti kata-katanya. Sekali lagi, Chanyeol bukanlah seorang lelaki kejam. Kemudian kata-kata itu meluncur dengan epiknya dari mulut seorang Park Cahanyeol.

"Aku ingin kau keluar dari rumahku. Besok, aku akan mengembalikanmu ke tempat Kris. Mungkin lebih baik kau tinggal di sana." nada datar itu setia menemani setiap kata yang diucapkan Chanyeol.

Baekhyun sangat terkejut, namun ia berusaha menenangkan rasa sakit yang menyeruak dalam hatinya. "Baiklah, tuan. Saya akan berkemas malam ini. Mohon maaf atas segala kesalahan yang telah saya lakukan dan terima kasih untuk semua kebaikan anda." dengan harga diri yang tercecer Baekhyun mengucapkannya. Gadis itu kemudian beranjak meninggalkan Chanyeol tanpa menatap wajah tampan lelaki itu lagi.

Chanyeol nampak sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Entah apa yang ada di benak lelaki itu saat ini. Apakah ia sedang menyesali perkataannya tadi? Atau malah bersyukur dengan kejadian tadi?

~@~@~@~@~

Menjelang subuh, Baekhyun telah berdiri di depan pintu apartemen Sehun. Ya, Baekhyun kabur dari penthouse Chanyeol dan dia berhasil membujuk Ben, penjaga gedung, agar mencarikan taksi untuknya. Gadis itu tak mungkin meminta bantuan Sehun untuk menjemputnya di pagi buta seperti ini, ia tak ingin merepotkan lelaki itu. Ben memperhatikan Baekhyun dan menemukan raut menyedihkan itu di wajah cantiknya. Sepertinya gadis ini sedang memiliki masalah dengan tuan Chanyeol, pikir Ben. Lelaki tua itu akhirnya mencarikan taksi yang bersedia mengantar Baekhyun ke tempat tujuannya dengan aman. Bukan tanpa alasan Ben menolong Baekhyun, gadis itu nyatanya mengingatkan lelaki tua itu pada anaknya yang saat ini tinggal bersama mantan istrinya di Dublin, Irlandia. Ben tahu konsekuensi yang akan ditanggungnya bila ia membantu Baekhyun kali ini, dan dia siap menerimanya walaupun itu berarti ia akan menjadi pengangguran setelahnya. Baekhyun sangat berterima kasih pada Ben atas semua kebaikannya. Semoga masalahmu segera terselesaikan, nak, gumam Ben melepas Baekhyun di depan pagar gedung penthouse tersebut.

Dengan ragu, Baekhyun menekan bel apartement Sehun. Merasa tak ada respon dari dalam, Baekhyun menekan lagi bel pintu itu, berulang kali, kali ini tanpa keraguan. Merasa tidurnya terganggu, Sehun bangun lalu beranjak menuju pintu apartementnya dengan menggerutu. Orang gila mana yang menekan bel pintu di pagi buta begini, pikirnya. Namun, pikiran itu tiba-tiba menguap tergantikan mimik terkejut yang sangat lucu menurut Baekhyun. Pasalnya, lelaki itu mendapati gadis pujaannya berdiri di depan pintu apartementnya dengan wajah lelah dan sedih yang mendominasi di pagi buta seperti ini. Raut bingung itu, Sehun tunjukkan ketika pandangannya beralih ke kaki Baekhyun dan menemukan barang bawaan gadis itu.

"Kau diusir oleh majikanmu, Baekhyun?" Sehun bertanya tanpa tedeng aling-aling.

"Sehun, bolehkan aku menumpang disini selama beberapa hari?" nada lelah mengalir dalam ucapan gadis itu.

Sehun yang melihat raut kelelahan Baekhyun, segera membawa gadis itu kedalam apartementnya. Lelaki itu sadar bahwa Baekhyun belum ingin menceritakan masalahnya saat gadis itu menghindari pertanyaannya tadi. Sehun menyuruh Baekhyun untuk beristirahat di kamarnya. Sementara dirinya akan tidur di kamar teman satu apartementnya, yang kebetulan saat ini sedang mengikuti pertukaran mahasiswa di Yogyakarta, Indonesia.

"Kau tidurlah dulu di kamarku. Aku akan tidur di kamar temanku. Dan maaf kamarku tak semewah milikmu, Baekhyun."

"Itu bukan kamarku, Sehun. Kamarmu bahkan lebih bagus daripada kamarku di Korea sana." ucap Baekhyun sambil menguap. "Terima kasih atas segala kebaikanmu, Sehun. Kau memang teman terbaik yang aku miliki." Baekhyun pun tak kuasa menahan kantuknya, ia terlelap setelah menyelesaikan ucapannya. Sehun memperhatikan wajah terlelap Baekhyun. Sehun berencana membiarkan Baekhyun beristirahat dengan membiarkan gadis itu tidak mengikuti seluruh kelas hari ini.

~@~@~@~@~

Pagi itu, kemarahan Chanyeol telah sampai di ubun-ubunya. Pasalnya gadis itu, Baekhyun telah pergi tanpa pamit kepadanya dan hanya meninggalkan selembar surat yang diletakkannya diatas bantal di tempat tidurnya. Kemarahan Chanyeol semakin meledak sesaat setelah ia membaca surat yang ditulis tangan oleh Baekhyun itu. Ia merasa tertipu dengan sikap lugu Baekhyun selama ini. Lelaki itu juga merasa kesal dengan Kris dan Luhan. Mereka dianggapnya memiliki andil besar dalam konspirasi yang selama ini terjadi. Aku harus meminta penjelasan pada mereka, pikirnya berang. Lelaki itupun segera pergi menuju kantornya demi meminta kejelasan pada kakaknya.

Sesampainya di kantor, Chanyeol langsung menuju ruang kakaknya. Sekretaris Kris cukup heran melihat kedatangan Chanyeol yang tergesa-gesa ke ruang atasannya. Apalagi raut wajah yang Chanyeol tampakkan pagi ini tidak seperti biasanya, terlalu datar tanpa senyum ramah yang selalu menghiasinya.

"Apa kakakku sudah datang, Christina?" tanya Chanyeol datar.

"Baru saja tiba di ruangannya, tuan..."

Chanyeol langsung beranjak tanpa mempedulikan kelanjutan ucapan sekretaris kakaknya.

Kris yang baru duduk di kursinya, kaget melihat kemunculan Chanyeol sepagi ini di ruangannya. Raut kebingungan itu Kris tampakkan saat Chanyeol tiba-tiba melemparkan lipatan kertas keatas mejanya.

"Bacalah, Kris." Chanyeol duduk di hadapan Kris dengan raut geram yang begitu kentara.

"Ada apa, Chan? Kenapa kau tampak marah?" ucap Kris heran.

"Lebih baik kau baca dulu surat itu, Kris." tuntut Chanyeol tak sabar.

"Baiklah, baiklah."

Kris mulai membaca surat itu. Dan ia mulai terperanjat setelah membaca seluruh isinya.

"Jadi, kau telah meniduri gadis itu, Chanyeol?" selidik Kris.

Chanyeol menatap Kris marah. "Justru aku ingin meminta penjelasan darimu, Kris. Jadi selama ini kalian telah berkonspirasi untuk menjebakku? Kau, Luhan, dan gadis penipu itu!" tuduh Chanyeol menggebu. "Kalian telah membohongi aku. Tak kusangka kau melakukannya, Kris. Kau adalah orang yang paling aku hormati setelah ayah dan kakek."

Kris terdiam, ia biarkan adiknya menumpahkan kekesalannya dengan menyumpahinya. Kris mengakui, dia dan istrinya memang bersalah. Terlalu ikut campur dalam kehidupan pribadi adiknya, walaupun niat awal yang ia dan luhan miliki sebenarnya baik.

Chanyeol masih saja menumpahkan segala kemarahannya. Bahkan lelaki itu sampai berdiri dan tangannya dengan lancang menunjuk-nunjuk Kris. Setelah kemarahannya sedikit mereda, Chanyeol pun duduk dengan tatapan yang masih diliputi kekesalan pada Kris.

"Sudah, hmm? Puaskah kau dengan kemarahanmu itu, Chan? Sekarang, bolehkah aku berbicara? Aku tak akan membela diri." ketenangan mengalir dalam setiap ucapan Kris. Lelaki itu memperhatikan reaksi Chanyeol akan perkataannya barusan. Melihat Chanyeol yang terdiam, Kris pun melanjutkan ucapannya. "Aku pribadi dan atas nama Luhan meminta maaf padamu karena telah turut campur dalam kehidupan pribadimu. Luhan yang memiliki ide ini. Tidak, aku tidak akan menimpakan semua kesalahan padanya. Yang jelas ini salah kami berdua."

"Juga gadis penipu itu!" kekesalan masih kental dalam nada suara Chanyeol.

"Kesalahannya hanya karena dia mau menuruti ide kami. Kecuali soal dia menjual keperawanannya, ceritanya tentang cita-cita dan keluarga sama sekali bukan kebohongan." kata Kris berhati-hati

"Jangan lupakan tentang dia yang kau bilang kerabat jauh mendiang ibumu. Demi kenanganmu akan beliau aku rela meluluhkan hati untuk menerimanya. Tega sekali kau menggunakan mendiang ibumu demi niat kotor itu, Kris." hardik Chanyeol pada Kris.

"Iya, kau benar. Semoga ibuku di surga tidak akan mengutuk diriku atas tindakanku ini." Kris mencoba bercanda. Namun, sayangnya Chanyeol sedang tidak ingin bercanda. Kris salah membaca situasi. Wajah Chanyeol sama sekali belum berubah sejak ia masuk tadi ke ruangannya.

Kris baru menyadari bahwa raut wajah Chanyeol tak pernah semarah ini. Ini adalah raut wajah pesakitan hati yang patah. Kris yakin Chanyeol sakit hati terhadap Baekhyun, namun dia masih ragu untuk mengatakan bahwa Chanyeol telah jatuh kepada Baekhyun. Apa yang telah Baekhyun lakukan pada playboy ini hingga bisa semarah ini? Bukankah mereka telah tidur bersama? pikiran Kris mulai bertanya-tanya.

"Jadi kau mengusir Baekhyun, Chan?" kali ini giliran Kris yang merasa marah pada adiknya.

"Kenapa sekarang kau yang marah, Kris? Aku tidak mengusirnya. Aku bermaksud mengembalikannya padamu hari ini." kata Chanyeol tak mau kalah.

"Apa yang telah dia lakukan padamu hingga kau semarah ini, Chanyeol?" pancing Kris ingin tahu.

"Dia bebal. Susah sekali diatur. maka dari itu... dia... aku..." Chanyeol nampak bingung untuk mengatakan yang sebenarnya.

"Hanya itu? Astaga, Chanyeol. Kau bahkan mengusirnya setelah kau tiduri dia. Tega sekali kau. Brengsek kau, Chanyeol! Dia bukan jalang yang dengan senang hati mau tidur denganmu." umpat Kris marah. "Dia tak memiliki sanak saudara di London. Dia hanya punya kita. Dan kau mengusirnnya? Bagaimana jika ia bertemu laki-laki berbahaya di luar sana? Tidakkah kau pikirkan itu?" Kris memberondong Chanyeol dengan kemarahan yang sudah sampai di ubun-ubunnya. Dia benar-benar kesal dengan kecerobohan seorang Park Chanyeol.

Chanyeol benar-benar terperanjat mendengar luapan emosi kakaknya. Namun setelahnya lelaki itu sadar akan kebenaran ucapan Kris. Bahaya pasti sedang mengintai gadis itu diluaran sana. Namun, lagi-lagi ego Chanyeol yang berkuasa. Lelaki itu tidak mau begitu saja disalahkan oleh kakaknya.

"Aku tak mengusirnya. Bahkan pagi ini aku berencana untuk mengembalikannya ke rumahmu. Tapi tadi pagi saat aku mencarinya di kamarnya dia telah tiada, pergi entah kemana. Aku yakin dia akan baik-baik saja diluar sana." kilah Chanyeol cepat.

"Apa yang kau katakan, Chan? Kau ini manusia atau apa?" ucap Kris kesal. "Baiklah, terserah kau. Tapi jangan harap aku mau berbicara denganmu sebelum kau menemukan Baekhyun, kecuali untuk urusan pekerjaan. Jangan lagi kau mengunjungi rumahku hingga kau membawanya bersamamu. Dan sekarang, kau bisa meninggalkan ruanganku. Masih banyak yang harus aku kerjakan."

"Seriously, Kris? Aku ini adikmu, tapi kenapa kau lebih membela gadis penipu itu?" Chanyeol tak percaya akan perkataan kakaknya.

"Aku hanya membela yang seharusnya ku bela, Chan." ucap Kris acuh. "Lebih baik kau keluar dari ruanganku sekarang juga."

Mendengar pengusiran itu, Chanyeol pun berdiri dari duduknya untuk kemudian berjalan gontai, keluar dari ruang kakaknya. Sebenarnya, Kris tidak tega untuk berkata seperti itu kepada adiknya. Dia sangat menyayangi Chanyeol. Yang dilakukannya tadi hanya untuk menyadarkan playboy itu akan kelakuan salahnya selama ini. Kris pun segera menghubungi Luhan, menceritakan semua yang terjadi sepagian ini pada istrinya tersebut. Luhan marah tentu saja. Wanita dua anak itu benar-benar merasa kesal kepada Chanyeol, dan dia mendukung atas apa yang dilakukan Kris kepada adiknya. Setelah sambungan telepon itu terputus, Kris kemudian segera mentransfer uang satu juta poundsterling ke rekening Baekhyun, sesuai kesepakatan mereka dulu.

Di dalam ruangannya, Chanyeol merenungi setiap perkataan kakaknya. Harusnya disini aku yang marah. Tapi, kenapa sekarang malah aku yang merasa bersalah? pikirnya kesal. Mengingat Baekhyun sedang berada di luaran sana, sendirian, dan mungkin saja sedang berada dalam bahaya membuat perasaan bersalah itu semakin berkembang di dadanya. Aku yakin gadis itu pasti bersama Sehun sekarang, kilahnya mencoba memupuskan rasa khawatirnya. Namun, saat nama Sehun terlintas di benaknya, lelaki itu lagi-lagi mengerang kesal. Kenapa harus Sehun?

~@~@~@~@~

Sehun baru sampai di apartemennya ketika sore tiba. Lelaki itu menemukan Baekhyun di ruang tengah apartemennya sudah dalam keadaan yang jauh lebih baik dari saat ia tiba subuh tadi.

Melihat Sehun yang baru saja tiba, senyum itu terulas di bibir Baekhyun. Ia pun menyuruh lelaki itu untuk duduk di sebelahnya. Memandangnya sesaat lantas mulai menceritakan kisahnya tanpa ada yang ditutupinya. Entah kenapa gadis itu percaya bahwa Sehun adalah orang yang tepat untuk menumpahkan semua kisahnya.

Baekhyun memperhatikan semua reaksi Sehun. Lelaki itu bahkan langsung menyambar ponselnya untuk mengecheck kebenaran situs yang dimaksud Baekhyun. Dan seketika itu pula Sehun nampak sangat terkejut melihat profil gadis-gadis pada laman utama web tersebut.

"Sialan, jika seperti ini harga yang mereka tawarkan mana mungkin aku sanggup menebus mereka. Bahkan untuk mendapatkan yang termurah mungkin aku harus menjual aset orang tuaku." sungutnya kesal. Tak ayal tingkah Sehun tersebut mengundang gelak tawa dari seorang Byun Baekhyun.

"Apakah saat itu kau berpose seperti mereka, Baekhyun?" tanya Sehun iseng.

"Tentu saja tidak. Jika aku berpose seperti mereka, pasangan Park tidak akan mungkin menaruh minat padaku." jelas Baekhyun setelah tawanya sedikit mereda.

"Aah~ benar juga." Sehun mengangguk, paham dengan maksud Baekhyun.

"Hmm, Sehun. Kau tidak menganggapku gadis murahan, kan?" tanya Baekhyun ragu.

"Astaga, Baekhyun. Apa yang kau bicarakan. Kau melakukannya karena terpaksa, Baekhyun. Aku paham. Jangan merendahkan dirimu. Aku tak suka melihatnya." seloroh Sehun. Gadis itu tersenyum mendengar jawaban Sehun. Benar kata batinnya lelaki ini adalah tempat ternyaman untuknya bercerita.

"Okey, sekarang beritahu aku apa rencamu untuk kedepannya nona Byun?"

"Entahlah, mungkin aku akan pulang ke Korea." ucap Baekhyun sedih.

"Bukankah dari ceritamu tadi, kau mengatakan bahwa pasangan Park telah mentransfer uang itu padamu. Lantas kenapa kau tak tinggal saja disini? Bukankah biaya kuliahmu sudah menjadi tanggungan mereka? Dengan uang itu, aku rasa kau bisa bertahan hidup di London selama lima tahun." ucap Sehun hati-hati.

"Entahlah, Sehun. Aku merasa sangat tak mungkin untukku tinggal di kota yang sama dengan lelaki yang tak menginginkanku tapi dengan bodohnya aku mencintainya. Aku hanya tak ingin tenggelam dalam harapan untuk bertemu setiap harinya, Sehun. Kau paham kan maksudku?" Kesedihan sangat kental tergambar di wajah Baekhyun.

"Aku mengerti, Baekhyun." mendadak kekecewaan hinggap di hati lelaki itu.

"Oh, tunggu. Bukankah kau bisa mengambil cuti kuliah, Baekhyun? Kau tak harus keluar dari Oxford. Bagaimana?"

"Tapi, Sehun..."

"Oh, ayolah Byun. Kondisi kejiwaanmu saat ini sedang tidak stabil. Aku hanya tak ingin kau mengambil keputusan yang kelak akan kau sesali. Ingatkan aku tentang perjuanganmu untuk bisa berkuliah disana, apa tidak sayang jika kau melepasnya semudah itu?" bujuk Sehun.

Baekhyun terdiam setelah mendengar perkataan Sehun. Ia merasakan kebenaran dalam setiap kata yang terucap dari mulut lelaki itu. Sangat disayangkan jika harus melepas kuliahnya hanya karena seorang Park Chanyeol. Apalagi ini adalah kampus dan jurusan impiannya. Toh, lelaki itu pasti tidak akan pernah peduli pada keberadaannya, bukan?

"Baiklah, besok aku akan pergi ke kampus untuk mengurus cuti kuliahku. Dan satu lagi, aku mohon padamu agar tak mengatakan apapun pada yang lain."

"Percaya padaku, Baek. Rahasiamu aman di tangan Oh Sehun. Asal kau tau, aku seorang penyimpan rahasia yang hebat." sombong Sehun, tak pelak kembali menimbulkan tawa di bibir Baekhyun.

"Baiklah, aku percaya padamu tuan Oh." jawabnya diselingi tawa.

"Bagaimana jika sekarang kita makan di restoran langgananku. Tempatnya tak jauh dari sini. Aku sudah sangat lapar jika kau ingin tau."

"Baiklah, tapi biarkan kali ini aku yang mentraktirmu, Sehun."

"Cih, mentang-mentang baru mendapatkan satu juta poundsterling di rekeningmu, sekarang kau berlagak kaya huh? Sekalian saja aku minta traktir di restoran mewah, bagaimana?" goda Sehun

"Apa? Kau jangan melunjak, Sehun. Lagipula aku..." Baekhyun tak kuasa untuk melanjutkan perkataannya.

"Aku tahu, aku tahu. Kau takut bertemu kekasihmu, kan?"

"Dia bukan kekasihku, Sehun!" bentak Baekhyun. Gadis itu terkejut dengan bentakannya sendiri.

Sehun terkejut mendengar bentakan Baekhyun. Lelaki itu hanya tak menyangka seorang Byun Baekhyun bisa semarah itu hanya karena membicarakan sosok yang bahkan eksistensinya tidak ada di ruang yang sama dengan mereka.

"Sudahlah Sehun, jangan membuat aku kehilangan napsu makanku hanya karena kita membicarakan lelaki tak berperasaan itu. Dan aku benar-benar minta maaf telah membentakmu tadi. Aku tak bermaksud marah kepadamu. Hanya saja, kau tau aku sedikit sensitif jika kita membicarakan 'dia'. Maafkan aku Sehun."

"Tenanglah Baekhyun, seharusnya aku yang meminta maaf padamu tentang kejadian tadi. Aku benar-benar ceroboh. Maafkan aku. Lebih baik kita berangkat sekarang, perutku benar-benar melilit hingga rasanya aku tak memiliki tenaga untuk berjalan. Maukah kau mengendongku, Byun?" Sehun dengan senyum jahilnya kembali.

"Dalam mimpimu, tuan Oh." jawab Baekhyun sambil menjulurkan lidahnya. Gadis itupun berlari menghindari Sehun yang mulai mengejarnya karena tak terima dengan ejekan Baekhyun. Hingga beberapa saat kemudian suara tawa mereka menggema di lorong apartement Sehun.

~@~@~@~@~

Semua urusan cuti kuliah itu, Baekhyun selesaikan dengan cepat. Gadis itu benar-benar meninggalkan London untuk pulang ke Korea sehari setelah ia menyelesaikan semua urusannya. Kedatangan Baekhyun tak pelak membawa kebahagiaan tersendiri bagi kedua orang tua beserta adik semata wayangnya. Meskipun gurat curiga itu menghiasi wajah Hanggeng dan Heechul atas kepulangan putrinya yang tiba-tiba, namun mereka tak berusaha mencari tau. Mereka hanya berharap yang terbaik untuk Baekhyun, membiarkan Baekhyun menikmati masa liburnya di Korea. Beberapa hari kemudian, gadis itu berniat untuk mengunjungi neneknya di Busan selama beberapa hari. Yap, Baekhyun ingin mencari suasana yang lebih tenang. Nyatanya Seoul tidak banyak memberikan ketenangan yang Baekhyun butuhkan. Ia pun meminta ijin kepada orang tuanya dengan alasan rindu pada neneknya. Apalagi yang bisa orangtua Baekhyun lakukan selain mengijinkan anaknya untuk mengunjungi neneknya. Toh, ini sudah terbilang sangat lama Baekhyun tak pergi kesana. Gadis itupun segera mempersiapkan segala keperluannya, dan berangkat hari itu juga dengan kereta tercepat yang bisa di dapatkannya untuk bisa sampai ke rumah neneknya.

Pasangan Kris dan Luhan sudah mengetahui kabar kepulangan Baekhyun ke Korea. Gadis itu sendiri yang memberitahu mereka melalui email beberapa hari setelah ia tiba di Korea. Pasangan Park itu lega saat mengetahui Baekhyun tak berhenti dari kuliahnya, gadis itu nyatanya hanya mengambil bagian cuti kuliahnya. Meskipun mereka tak tahu kapan Baekhyun akan kembali ke London, setidaknya email dari Baekhyun mengatakan bahwa gadis manis itu baik-baik saja disana. Dan setelah membaca email itu Kris dan Luhan berjanji untuk tidak memberitahukan Chanyeol tentang keberadaan Baekhyun. Mereka harus memberi sedikit pelajaran pada playboy itu.

Keadaan Chanyeol sendiri sebenarnya membuat prihatin pasangan Park. Menurut mereka, Park Chanyeol yang dulu telah kembali. sifat liar lelaki itu kembali. Ia kembali melakukan one night stand dengan jalang-jalang koleksinya. Kris, yang notabene adalah kakaknya bahkan tak mampu untuk sekedar menegur seorang Park Chanyeol. Kris sadar dia sudah salah mengambil langkah dengan berucap tidak ingin berbicara dengan Chanyeol lagi hingga Baekhyun ditemukan, kecuali urusan pekerjaan. Jika kondisinya seperti ini siapa yang harus disalahkan?

Luhan pun berusaha membujuk suaminya, Kris agar mengalah pada Chanyeol. Mengajaknya berbicara berdua dari hati ke hati sebagai kakak adik. Luhan yakin Chanyeol akan luluh jika mereka mau mengalah dan memberikan hati pada Chanyeol. Seketika itu pula Kris menyetujui usulan istrinya, Luhan. Ia hanya tak ingin melihat Chanyeol semakin liar dengan jalang-jalangnya. Lelaki itu hanya ingin yang terbaik bagi adik tersayangnya.

"Baiklah, besok aku akan coba untuk berbicara dengannya."

Usapan lembut di pipi Kris itu menjadi penyemangat yang Luhan beri pada suaminya. Mereka pun mencoba tidur dan berdoa agar setidaknya Chanyeol malam ini tidak melakukan one night stand dengan jalangnya. Berharap besok Chanyeol berubah menjadi lebih baik. Harapan-harapan baik itu terus terpanjat untuk adik semata wayang Kris hingga pasangan itu terlelap di alam mimpinya

To Be Continue...

Yaah, gak jadi ending.