Muahahahaha! Saya kembali~~! Sebenarnya sedikit lebih cepat dari yang saya duga sih…rencananya mau update minggu depan tapi…yah sudah lah, toh sudah ada nih…
Taufan: Author~~~
Author: Yeey! Taufan ada disini! *Peluk Taufan*
Taufan: Akkhh! S-sesak! Lepasiiiin!
Author: *Melepas pelukan dengan ogah-ogahan* Taufan ga asik…
Taufan: Uhuk…uhuk…tadi itu pelukan atau smackdown sih? Kayak 11-12 sama cengkraman Hulk…*mengelus dada*
Author: Taufan…kau sama saja dengan teman-teman sekolah author. Mereka juga bilang begitu sama pelukan author…T_T
Taufan: Hiii! Mendadak aku jadi kasihan sama teman-temanmu itu!
Author: Kejaam! *pundung di pojokkan sambil cabutin rumput(?)*
Taufan: *Sweatdrop* Well…karena si author lagi ga mood mending aku aja deh yang bales review ya~
Sandal unyu
Hahaha~! Tentu saja Kak Hali bisa sakit. Dia juga masih manusia…mungkin…ehm…saat ini Author kayaknya lagi bersemangat makanya fic nya cepet lanjut. Okay, terima kasih sudah mereview~
Silver Celestia
Hmm…hmm…Kak Hali itu memang aneh, entah apa yang membuatnya nekad hujan-hujanan di malam hari hanya karena Jump untuk Gempa. Tapi Kak Hali itu memang kakak favoritku (sebenarnya dia kakakku satu-satunya). Maaf, Silver-san, Kak Hali itu milikku jadi tidak bisa kuserahkan :v
(Author: Kyaaa! *pingsan dengan hidung berdarah*)
B-bukan itu maksudku! Akh…sudahlah, anyway…thanks for review ^^
P.S.: Yep, itu memang Nagisa sama Koro-sensei. Kebetulan author lagi galau karena ga sempat nonton season dua nya ^^.
Ahmad MahMudi
New one is here~! Terima kasih sudah menunggu dan mereview ~
Willy0610
Yah…author emang gitu orangnya jadi Kak Hali bisa jadi OOC di tangannya :v. Yep, tentu Kak Hali bisa sakit. Kalo enggak, aku bisa jadi mempertanyakan jenis spesies Kak Hali itu sebenarnya apa :v.
(Author: Taufan, mending cepetan atau kau ga bakalan selamat -_-)
Okey, trims sudah me-review~!
Famelshuimizu chan
Hmm…harus aku akui, aku sepemikiran denganmu, Mizu-chan. Kak Hali itu memang manis-manis tapi serem, kayak kecap pedas manis gitu…btw, ini udah terbit *lha?* lanjutannya. Hope you like it, and thanks for review! ^^
FireBluePhoenix
Ano…sebenarnya aku dan Gempa ga ketukaran personality. Author aja yang membuat Gempa harus memiliki double kepribadian. Aku tetap aku kok! Tapi yah…kayaknya aku kurang jahil ya? Ga pa pa. Mungkin kedepannya aku akan kembali menjadi diriku sendiri!
Thanks for review~! ^^
Annisa Wijayanti
Wow, terima kasih atas pujiannya, Annisa-san. Fic ga berkualitas kayak gini seharusnya ga pantes di puji. Bahkan, seharusnya ga ada reviewnya :v
(Author: *kembali pundung di pojokkan*)
Hehehe…bercanda. Okay, terima kasih sudah memberikan review dan nikmati chapter ini ya~^^
NaYu Namikaze Uzumaki
Okay…karena sih Author masih pundung, jadi aku saja yang akan menyampaikan pesannya. Katanya, author berterima kasih banget atas saran dan reviewnya yang langsung 6 in 1! Hebat banget, NaYu-san!
Btw, kebetulan sekali author memang ingin mengambil episode Umaru-chan yang bagian arcade itu untuk chapter ini. Harapanmu langsung terkabul NaYu-san~! Ngomong-ngomong soal hint…ah, seharusnya fic ini no pair, tapi karena si author itu juga fujo kelas kakap, jadinya hint-hint kayak gitu deh -_-. Dan soal kapan Kak Hali dan Gempa pisah dengan aku, juga kenapa Kak Hali sangat memanjakan Gempa itu akan terungkap seiring berjalannya waktu. Tapi mungkin beberapa clue sudah bermunculan.
And, karena ini udah lanjut, silahkan nikmati dan sekali lagi, terima kasih reviewnya, NaYu-san~! ^^
Mahrani29
Terima kasih sudah menunggu dan review ya~! Ehm, aku jadi malu deh…kalo Mahrani-san suka sama brotherly love kami…*mainin jari* ehm, ngomong-ngomong, misuh-misuh itu aku kurang tau bahasa darimana(?), tapi artinya kayak ngomel-ngomel atau ngomong sendiri…semacam itulah. Sisanya silahkan cari di Tante Wiki~ *plak!*
Jaa, hope you enjoy this new one~!
Arka
Hmm…hmm…Kak Hali memang aneh, tapi itulah yang aku suka dari Kak Hali. Ah, tapi saya tekankan, sebagai KAKAK ya~! Yep, cover majalah Jump chapter kemarin itu memang Nagisa sama Koro-sensei dari Anssatsu Kyoushitsu. Author emang lagi galau karena ga sempet nonton season duanya. ^^
All right, thanks udah review ya!
Lily
Begitu yah…di Negara Indo juga sebenarnya ga pernah tuh, lihat yang namanya Jump. Tapi karena keperluan cerita, jadi Author buat aja ala kadarnya.
(Author: Hwaa! Jangan ngomong gitu dong!)
Okay, thanks for the review~!
Alyana Kagamine
Terima kasih atas reviewnya. Dan soal Collosan Titan, author ga bisa munculin itu terus. Nanti readers lainnya malah bosan jika leluconnya malah itu-itu terus. Apalagi fic ini emang udah garing dari sononya :v.
(Author: Taufan…kau benar-benar… T_T)
Jika udah punya waktu yang pas, mungkin Author akan memunculkan Titan ukuran 60 meter itu lagi…yah, secara teknis, Author juga suka sama Collosal Titan. Kak Hali memang kalo lagi sakit tampak manis ya~? Tapi entahlah…kayaknya Kak Hali ga bakalan sakit lagi. Kak Hali kan punya tenaga titan, waktu itu Kak Hali sakit karena kecapekan saja. Dan Author bilang terima kasih atas pujiannya. Jujur, sebenarnya Author sendiri itu belum lama bergabung dalam dunia fanfiction, jadi masih banyak kekurangan. Cuman…Author emang udah kenal sama sejak dulu, jadi gitu deh…kalo mau buat cerita bagus, hmm…mungkin cari saja tema apa yang disukai Alya-kun. Dan tinggal belajar deh cara penulisan yang bagus. Setiap penulis pasti memiliki ciri khas masing-masing, dan aku yakin Alya-kun juga punya. Malah, mungkin saja Alya-kun punya potensi untuk membuat fict lebih bagus dari author sableng yang ada disini, ah…bahkan mungkin author ini sama sekali tidak berbakat~!
(Author: *Kembali nangis di pojokkan*)
Oke, semoga bisa membantu, enjoy this new chapter~!
Oke, sekarang langsung saja ke cerita ya!
ENJOY!
"Aku pulang," Ucap seorang pemuda bertopi miring dengan pakaian serba biru dari ambang pintu. "Akhirnya kau pulang juga…" Pemuda lain dengan pakaian serba merah hitam keluar dari dapur dengan tangan kanan yang memegang spatula.
"Kak Hali? Mana Gempa?" Pemuda biru tersebut, Taufan bertanya.
"Biasa…dia pergi ke arcade setengah jam yang lalu. Dua jam lagi mungkin baru dia kembali" Jawab Halilintar sang kakak. Taufan menengok jam tangannya, sekarang sudah pukul setengah empat sore.
"Dia mau ngapain di arcade sampai selama itu?" Tanya Taufan heran dengan betapa maniac nya adik kembarnya itu dengan game.
"Tau tuh. Aku dengar katanya sebuah turnamen game di arcade di adakan hari ini. Aku rasa dia pergi karena itu," Jawab Halilintar sambil mengangkat bahu.
"Yang lebih penting lagi, sekarang kau pergi ganti pakaian dan bantu aku membersihkan rumah," Lanjut Halilintar kali ini dengan aura intimidasi di sekitarnya sambil menunjuk Taufan menggunakan spatula, sedangkan yang di tunjuk langsung sweatdrop.
"Aku tidak mengerti kenapa Kak Hali yang super galak itu terus membiarkan Gempa bermain-main dan memberantakan rumah sedangkan aku malah dijadikan pembantu dadakan…" Sungut Taufan-tentu saja dengan suara kecil agar tidak kedengaran sang kakak.
~Twisted~
Sementara kedua saudara kembarnya sibuk membereskan rumah, Boboiboy Gempa, pemuda SMP yang sangat disegani dan disukai di sekolah tetapi juga selalu bikin repot saudara kembarnya di rumah, kini sedang asik menggerakkan tombol-tombol di salah satu mesin game bertema action tersebut.
"Yosh! Aku dapat yang emas~!" Gempa berseru kegirangan sambil mengangkat sebuah kartu berwarna keemasan yang dia menangkan untuk yang kesekian kalinya dari game tersebut.
Memang, Gempa yang seorang gamer kelas berat merupakan pengunjung arcade yang memiliki rekor bermain tertinggi di sana. Saking tingginya, bahkan si manager arcade tersebut selalu mencoba untuk menggagalkan game yang dimainkan Gempa, sayangnya tidak pernah berhasil.
Ngomong-ngomong, jika kalian bertanya-tanya kenapa Gempa tidak ketahuan sering nongkrong di arcade oleh siswa-siswi di sekolahnya, itu karena setiap kali pergi ke arcade-atau ke tempat manapun yang biasanya di kunjungi para otaku, Gempa selalu mengenakan jubah bertudung berwarna cokelat tua dan juga sebuah topeng berwarna hitam yang digunakan untuk menutupi bagian atas wajahnya.
"Nah! Bagi semua pengunjung ClockZone, bagi yang berminat silahkan berkumpul di aula karena kini tournament besar pemain RoadFighter akan segera dimulai!"
Sebuah pengumuman dari microphone yang terletak di beberapa pilar arcade menggema, seketika Gempa yang masih joget oplosan(?) di depan mesin game pun langsung tancap gas menuju aula arcade tempat di laksanakannya turnamen besar-besaran dari game arcade terpopuler saat ini yang bernama RoadFighter.
"Wah! Sudah mulai, aku harus siap-siap!" Gempa dengan cepat lari ke backstage-dengan sedikit berdesak-desakkan karena pengunjung yang ramai menyaksikan pembukaan turnamen tersebut.
"Baiklah, sebelum kita memulai pertandingannya hari ini, saya, Probe akan menjelaskan tentang game RoadFighter ini terlebih dahulu!" Seorang pembawa acara berambut ungu dengan sunglass berwarna merah tua berteriak dengan semangatnya.
"RoadFighter adalah game yang selama beberapa tahun ini menduduki peringkat pertama dalam game arcade terpopuler. Dan di turnamen kali ini, kami mengumpulkan setiap gamers di Malaysia dengan peringkat tertinggi di arcade mereka masing-masing, dan mereka akan bertanding untuk menentukan siapa player RoadFighter terbaik tahun ini!" Lanjut Probe di sambung teriakan ricuh dari para penonton yang sudah tidak sabar.
"Baiklah kalo begitu, kini akan saya panggil satu per satu para peserta yang akan bertanding dalam turnamen ini!" Probe kemudian membaca secarik kertas yang berada di genggaman tangan kanannya, lalu menyebutkan nama samara para peserta yang ikut dalam turnamen tersebut.
"Wah…para penantangnya kelihatan hebat. Mereka pasti berasal dari kota-kota besar," Gumam Gempa yang mengintip dari balik tirai.
"Peserta selanjutnya, yang merupakan gamer dengan skor tertinggi selama tiga kali berturut-turut di ClockZone, kita sambut, GMA!" Gempa sedikit tersentak kemudian buru-buru berlari memasuki panggung.
Melihat para penonton yang menatap kagum ke arahnya, langsung membuat nyali Gempa berlipat ganda, "Tentu saja, aku tidak boleh mengecewakan para penggemarku di turnamen ini. Tidak peduli sekuat apapun peserta-peserta ini, tapi aku pasti akan menang!" Batin Gempa dengan seulas senyum maniac, tanpa mengetahui kalo sebenarnya yang ditatap oleh penonton itu dengan kagum adalah trailer dari game RoadFight yang ditayangkan di layar raksasa di belakang mereka.
"Baiklah, sekarang kita menuju peserta terakhir. Dia mungkin masih tergolong pemula, tapi rekor yang dia tunjukan di ClockZone tidak bisa dipandang sebelah mata! Ini dia kita sambut, BAZ!" Seru Probe dengan semangat yang mungkin menyaingi Taufan di pagi hari.
Sedetik kemudian, seorang pemuda-yang kira-kira seumuran dengan Gempa, dengan jubah berwarna merah tua dengan hoddie yang menutupi kepalanya, juga topeng berwarna orange yang menutupi wajahnya.
"BAZ?! Dia itu kan…orang baru yang mencapai peringkat kedua di sini…aku hampir lupa dengan dia!" Teriak batin Gempa dengan mata yang terus memperhatikan langkah kaki peserta dengan code name BAZ yang kini berdiri di sampingnya tersebut.
"Pokoknya aku harus menang! Apapun yang terjadi! Jika aku menang, aku pasti bisa menunjukkan pada Kak Halilintar dan Kak Taufan betapa hebat dan kerennya aku ini!" Batin Gempa berapi-api.
"Sekarang semua peserta sudah berkumpul, mari kita mulai turnamennya!" Probe mengangkat tangannya ke atas, menandakan turnamen tingkat nasional game RoadFight dimulai.
~Twisted~
Sudah satu setengah jam setelah Gempa pergi, kini Taufan sedang tiduran di sofa sambil mengipasi dirinya dengan kipas kertas buatannya sendiri. Di meja juga terdapat segelas es buah-yang di paksa Taufan agar Halilintar mau membuatkannya.
"Hah…capek…aku mau pizza…" Gumam Taufan mulai ngawur.
"Hentikan ocehanmu itu. Mengganggu saja," Halilintar yang baru kembali dari dapur mendudukkan dirinya di karpet kemudian menyalakan TV.
"Kak Hali~ aku bosan. Ayo lakukan sesuatu yuk~!" Rengek Taufan.
"Ck! Lakukan sendiri. Lagipula kau mau apa? Bukankah kau bilang tadi kalo kau capek?" Jawab Halilintar tanpa menoleh.
Taufan menggembungkan pipinya dengan kesal, lalu kemudian mendapat ide untuk mengusir kebosanannya.
Dengan perlahan tapi pasti, Taufan bangkit dari sofa, lalu berpindah ke karpet tepatnya di samping Halilintar yang sedang serius menonton film entah apa. Taufan melirik sedikit ke arah sang kakak, kemudian menyeringai jahil.
Dengan sigap, Taufan langsung menjatuhkan kepalanya ke bahu Halilintar, sedangkan tangan kanannya mengipasi sang kakak yang masih diam di tempat.
1 menit
Masih belum ada perubahan.
5 menit
Oke, Halilintar mulai merasa risih.
10 menit
Baiklah, Halilintar sudah tidak tahan dan akhirnya meledak.
"Kau ngapain sih?!" Bentak Halilintar dengan wajah merah.
"Mencoba mendinginkan kepala kakak. Tapi yang ada malah Kak Hali makin kepanasan ya," Goda Taufan dengan wajah :3.
"Grrrr! Baiklah, baiklah! Kau mau apa? Katakan cepat sebelum aku mencincang badanmu!" Sembur Halilintar kesal.
"Tidak perlu semarah itu juga kan? Aku hanya mau Kak Hali menemaniku memainkan ini," Jawab Taufan sedikit ketakutan kemudian mengeluarkan sebuah game dari saku jaketnya.
"Hah? Sidney Infinity?" Halilintar membaca judul yang tertera di kotak game tersebut dengan bingung.
"Gimana mau nggak?" Tanya Taufan antusias.
"Nggak ah! Merepotkan," Tolak Halilintar tanpa pikir panjang kemudian meminum es buah yang terletak di meja-tanpa sadar sama sekali kalo itu sudah diminum oleh Taufan.
"Hee?" Taufan menggembungkan pipinya kesal lagi. Ingin sih dia ngambek, tapi itu bukan gayanya sama sekali. Lagipula, ada kemungkinan jika dia ngambek malah akan membuat Halilintar tambah panas. Namun mendadak ide yang lebih gila melintas di otaknya yang entah waras atau tidak(?) itu.
"Oh? Jadi Kak Hali memang se-kuper itu ya sampai game sederhana kayak gini saja nggak bisa?" Kalimat Taufan tadi sontak membuat telinga Halilintar membesar.
"Sayang sekali. Ternyata kakakku ini sangat tidak berpengalaman dalam game…aku mendadak jadi malu dengan diriku sendiri," Taufan bergumam dramatis sambil memeluk dirinya sendiri.
"Mungkin aku ajak Gempa saja ya? setidaknya dia lebih berpengalaman dalam game dan tidak KUPER…" Taufan bergumam lagi, kali ini dengan seulas seringai tipis. Dan sesuai dugaannya, Halilintar mulai mengeluarkan asap dari kepalanya, seperti tabung jeritan di dunia monster sana yang akan meledak kalo kelebihan energi.
"Gaaah! Siapa yang kau sebut kuper hah?!" Halilintar akhirnya meledak dengan kepala yang membesar.
"Berikan padaku! Akan aku tunjukkan padamu siapa yang kuper disini!" Bentak Halilintar lagi sambil merebut game tersebut dari tangan Taufan kemudian menyalakan PS 4 yang biasa dimainkan Gempa.
Melihat reaksi kakaknya tersebut, Taufan tersenyum jahil, "Hihihi…sepertinya mengganggu Kak Hali akan menjadi hobi baru ku sekarang," Batin Taufan nista kemudian mengambil salah satu controller game.
Permainan panasnya dengan Halilintar kini memasuki ronde pertama~ (Entah kenapa terdengar agak ambigay…)
BACK TO CLOCKZONE
"Tak terasa sudah hampir satu jam turnamen berlangsung, kini semua peserta telah gugur, meninggalkan dua peserta final yaitu GMA dan BAZ!" Teriak Probe antusias memperhatikan kedua pemuda yang saling berhadapan dengan controller game mereka masing-masing.
"Astaga! Aku tidak menyangka akan melawannya secepat ini!" Batin Gempa sedikit cemas, apalagi memperhatikan gaya bermain BAZ sebelumnya yang hampir mirip dengannya.
Di sisi lain, pemuda bertopeng orange dengan code name BAZ itu menatap Gempa dengan serius, "Maaf, GMA…tapi aku lah yang akan memenangkan turnamen ini," Ucapnya, sedikit membuat Gempa tersentak karena tidak menyangka BAZ akan mengajaknya bicara duluan.
"Hmph, kita lihat saja," Balas Gempa dengan seulas senyum tipis.
Probe segera mengangkat tangan kanannya, bersamaan dengan bunyi terompet tanda pertandingan di mulai.
Kedua peserta pun mulai menggerakkan karakter mereka masing-masing. Setiap duel, tersedia waktu 90 detik untuk mereka menjatuhkan lawan mereka. Dan 15 detik telah berlalu, Gempa mulai terpojok karena BAZ terus melancarkan serangan kombo bertubi-tubi.
"Sial…dia lebih hebat dari yang aku kira…" Gumam Gempa merasa cemas karena tidak bisa melakukan apapun selain bertahan dan menangkis serangan lawannya. Waktu tersisa 20 detik, HP dari kedua karakter kini seimbang.
"Uwwo! HP kedua karakter seimbang di waktu yang sedikit! Benar-benar pertarungan kelas atas!" Seru Probe bersemangat diiringi teriakan penonton yang tak kalah semangatnya.
"Aku harus lakukan sesuatu…" Gumam Gempa lagi, kemudian teringat sesuatu… "Combo yang diajarkan Kak Taufan itu…" Gempa dengan sigap melancarkan serangan combo untuk yang 5 kalinya, dan sama seperti sebelumnya, BAZ menangkis semuanya.
"Hmmph, aku sudah menghapal semua gerakan combo mu, GMA. Kau tidak bisa menyerangku dengan cara yang sama lagi," Ucap BAZ sambil tersenyum kemenangan.
"Oh ya? Bagaimana dengan ini?" Tepat ketika karakter BAZ menurunkan pertahanannya, di situ lah celah yang dimanfaatkan Gempa untuk menyerang lawannya.
Satu serangan berhasil, membuat HP BAZ berkurang 10 persen.
"Yes! Kesempatanku!" Gempa baru saja akan melancarkan serangan penutup, sedangkan BAZ sudah siap untuk menangkis serangan itu, sampai akhirnya iris matanya yang samar-samar berwarna orange kecokelatan itu menangkap seseorang di antara kerumunan penonton.
"A-apa…?" BAZ terkejut dan dengan sigap langsung berlari menuju belakang panggung, meninggalkan Gempa dan Probe yang melongo di atas panggung.
Suasana aula saat itu terasa begitu sunyi sampai akhirnya waktu duel berakhir.
"Yak! Dengan ini dinyatakan pemenang turnamen RoadFight kedua ini adalah, GMA!" Seruan Probe tersebut disambut teriakan semangat dari para penonton. Gempa yang kini tujuannya sudah tercapai, tidak merasa senang atau bangga dengan pencapaiannya, dan malah merasa bingung dengan lawannya yang tiba-tiba melarikan diri tanpa alasan yang jelas itu.
"Emm…mungkin sebaiknya aku pulang saja…" Gempa berjalan menuruni panggung tanpa menggubris ucapan selamat yang diberikan oleh penonton.
~Twisted~
"Yihaa! Aku menang lagi!" Taufan langsung joget selebrasi karena dirinya memenangkan game Sidney Infinity yang dimainkannya bersama Halilintar tersebut, sedangkan sang kakak hanya mendengus sebal kemudian beranjak dari karpet ruang TV karena telepon rumahnya berdering.
"Hmmph, jangan sombong karena kedudukan seri, tau!" Ucap Halilintar dengan kesal-yang malah menurut Taufan itu terlihat manis-sambil berjalan untuk mengangkat telepon rumah mereka yang berdering.
"Yah…Kak Hali ngambek. Aku main sendiri deh," Taufan menyengir jahil kemudian memulai kembali game yang dimainkannya, lalu matanya tanpa sengaja melihat jam dinding yang tergantung tepat di atas TV.
"Jam 5 lewat…kapan Gempa akan pulang…?" Gumam Taufan sedikit merasa bosan.
"Halo? Ya, aku Halilintar. Ada apa?" Halilintar kini mulai sibuk berbicara dengan seseorang dari seberang telepon. Wajahnya datar seperti biasa, namun lama kelamaan wajah tersebut lenyap digantikan ekspresi bingung bercampur kaget.
"A-apa? Jangan bercanda. M-mereka disini…?" Kaget Halilintar.
Taufan samar-samar bisa mendengar suara kakak tertuanya yang semakin lama semakin meninggi itu.
"Cih…aku sedang malas menerima tamu. Kenapa harus aku?" Ucap Halilintar lagi.
"Tamu…?" Taufan mengernyitkan alis bingung.
"Dengar, aku tau kalian sibuk…tapi tidak usah mendadak begini. Bahkan Taufan baru saja pindah ke sekolah kami," Bentak Halilintar dengan volume suara makin besar namun tutur katanya masih terdengar sopan.
Mendengar namanya disebut, Taufan jadi semakin penasaran dengan siapa kakaknya itu berbicara.
"Baiklah, aku mengerti. Tapi aku tidak akan menghubungi mereka, biar mereka yang datang sendiri ke sini. Aku yakin kau pasti sudah mengirimkan alamat rumahku pada mereka bukan?" Ucap Halilintar panjang lebar.
"Kak Hali kan tidak punya teman selain Yaya, Ying, Gopal, dan Fang…lalu siapa yang berbicara dengan Kak Hali itu? Apa Kakak kelas?" Inner Taufan mulai bingung sendiri, bersamaan dengan itu, pintu rumah pun terbuka.
"Aku pulang…" Ucap Gempa lesu dari ambang pintu.
"Oh, okaeri," Balas Taufan mulai mengikuti kebiasaan Gempa jika menyambut kakaknya pulang.
Melihat kepulangan Gempa, Halilintar buru-buru pamit dan kemudian menutup telepon tersebut.
"Kak Halilintar? Siapa itu yang ditelepon?" Tanya Gempa sambil membuka jubah dan topengnya.
"Ah…bukan siapa-siapa," Jawab Halilintar cuek kemudian beranjak menuju dapur, meninggalkan Gempa dan Taufan yang masih dalam keadaan melongo di ruang tamu.
~Next Day~
Sepulang sekolah, Gempa segera melemparkan tas sekolahnya dan segera menyambar jubah dan topengnya, hendak kembali ke arcade.
"Hee? Kau sudah mau pergi? Ini bahkan belum jam tiga," Tanya Taufan yang sedang tiduran di sofa sambil nonton DVD yang di sewanya pulang sekolah tadi.
"Mmm…aku penasaran dengan kondisi arcade sekarang. Kak Taufan tau? Aku menang turnamen lho~" Gempa mulai pamer.
"Oh…begitu kah?" Respon Taufan datar.
"Hey! Kenapa hanya itu?" Protes Gempa.
"Mmm…memang aku harus lari keliling Pulau Rintis sambil berteriak 'Gempa menang!' berkali-kali selama 3 putaran?" Jawab Taufan cuek.
Gempa pun sweatdrop di tempat, "Terserah ah, aku pergi dulu dan katakan pada Kak Halilintar aku akan makan siang di luar," Pamit Gempa dan tanpa menunggu jawaban dari Taufan, Ketua OSIS SMP Pulau Rintis tersebut langsung tancap gas keluar.
"Hah…dasar anak itu…" Taufan menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan acara nontonnya.
Sedang enak-enaknya menonton DVD, Taufan tiba-tiba mendapat sebuah ide, "Mmm…arcade yah…tidak ada salahnya di coba," Gumam Taufan dengan seringai jahil andalannya.
~Twisted~
Baiklah, kita kembali ke malam sebelumnya tepat setelah Halilintar mendadak memutuskan sambungan telepon.
"Hah…" Seorang pria paruh baya berambut hitam kehijauan mendesah karena pembicaraan di telepon di putuskan secara sepihak.
"Ada apa? Kau gagal membujuknya?" Seorang pria tua berkemeja biru muda menghampari pria berambut hijau tua dengan iris mata semerah darah tersebut.
"Bisa iya, bisa juga tidak," Jawab pria tersebut seadanya.
"Maklumlah. Halilintar bukanlah tipe orang yang mudah di bujuk," Ucap pria tua yang mungkin sudah berumur di atas 70 tahun tersebut.
"Dia memang benar-benar cucu anda, Tok Aba," Sindir pria itu lagi.
"Aku anggap itu pujian, Ejo jo," Tok Aba tersenyum.
"Jadi, bagaimana dengan mereka berdua?" Lanjutnya kembali ke topic semula.
"Mereka sudah di Pulau Rintis sekarang. Bukankah anda sendiri yang meminta ku mengirim mereka ke sana?" Tanya balik Ejo jo.
"Iya, tapi kau mengirim mereka ke sana tanpa pengawasan?" Tanya Tok Aba lagi.
"Jangan khawatir. Lagipula, anda sendiri meninggalkan Halilintar dan Gempa di Pulau Rintis di usia mereka yang baru 11 tahun bukan?" Sekali lagi pertanyaan balik dari Ejo jo.
"Itu karena Halilintar dan Gempa sudah dewasa. Mental mereka berkembang lebih cepat dari yang aku kira," Ucap Tok Aba.
"Begitu? Lalu anda pikir mereka berdua juga tidak berkembang? Anda tau, mereka sekarang sudah 13 tahun," Jelas Ejo jo.
"Itu terserah padamu. Tapi yang pasti, kau harus tanggung jawab jika sesuatu terjadi, atau anakku tidak akan memaafkanmu, Ejo jo," Tukas Tok Aba menyerah.
Mendengar penuturan Ayah dari 'majikan'nya tersebut, Ejo jo membalasnya dengan senyum bisnis, "Jangan khawatir Tok Aba. Cucu anda akan selalu di bawah tanggung jawabku,"
~Twisted~
Oke, kembali ke waktu sekarang, di ClockZone, Pulau Rintis
Begitu Gempa menginjakkan kakinya di dalam arcade, sontak seluruh pasang mata langsung tertuju padanya, dan tepat setelah itu bisik-bisikkan mulai terdengar di sana-sini.
Melihat itu, Gempa hanya mendengus, "Apanya yang harus dibanggakan jika menang dengan cara seperti itu…?" Batin Gempa tidak suka lalu memutuskan untuk melampiaskan perasaannya dalam Crane(*) Game.
"Ah…aku terlambat, padahal itu mesin crane favoritku…" Desah Gempa begitu melihat mesin Crane Game nya sudah dimainkan oleh orang lain. Gempa kemudian memutuskan untuk menunggu dengan berdiri di samping orang tersebut.
"Huh…" Pemuda yang memainkan Crane Game tersebut mendesah karena tidak kunjung mendapatkan hadiah yang dinginkannya.
Gempa yang merasa kasihan, memutuskan untuk membantunya.
"Anu…kalau kau tidak keberatan aku bisa memberitau mu bagaimana caranya bisa mendapatkan hadiah dalam mesin crane," Ucap Gempa.
"Eh? Benarkah?" Pemuda tersebut beralih menatap Gempa dengan antusias, namun dengan cepat ekspresi wajahnya berubah menjadi terkejut, begitu pun dengan Gempa.
"B-BAZ…?" Kaget Gempa.
"Ah…halo, GMA. Senang bisa bertemu lagi," Sapa BAZ dengan penampilan serupa dengan Gempa, yaitu jubah dan topeng.
"Kau belum melepaskan jubahmu? Turnamennya sudah selesai kan?" Tanya Gempa.
"Memang, aku hanya ingin saja. Lagipula, kau juga," Balas BAZ.
"Ah…aku juga hanya ingin," Jawab Gempa sedikit gugup.
"Jadi…kau mau membantu ku menyelesaikan crane ini kan?" Tanya BAZ kembali ke topic.
"Ah…baiklah. Aku akan membantumu," Gempa kemudian memasukkan koin ke dalam mesin tersebut dan mulai menggerakkan claw yang terdapat dalam mesin tersebut.
"Begini, agar kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan, kau harus menutup matamu dan jadilah mesinnya," Jelas Gempa.
"Hah?" BAZ memiringkan kepala bingung.
"Ahahaha…aku hanya bercanda. Yang harus kau lakukan adalah konsentrasi, lalu carilah sudut pandang yang tepat untuk mengambil hadiah yang kau inginkan, misalnya yang satu ini," Gempa menggerakkan tuas pengendalinya sehingga claw(**) di dalam mesin tersebut pun ikut bergerak ke sudut kanan, dimana sebatang cokelat berukuran cukup besar berada.
"Bagaimana caramu mengambilnya?" Tanya BAZ.
"Hehehe…kau harus melakukan ini!" Gempa dengan cepat menurunkan claw mesin tersebut, namun tidak langsung mencengkram cokelat yang tepat berada di antara claw tersebut.
"Seperti yang aku katakan tadi, kau harus kosentrasi untuk menemukan sudut pandang yang tepat," Setelah memperhatikan setiap sudut dari batangan cokelat tersebut, Gempa langsung menekan tombol merah yang ada di samping tuas sehingga clawnya pun langsung mencengkram cokelat itu.
Perlahan tapi pasti, cokelat yang telah di cengkram oleh claw tersebut terangkat dan bergerak menuju tempat terakhir, yaitu sebuah bagian dalam mesin berupa lubang yang digunakan untuk menjatuhkan hadiah yang diperoleh oleh pemain.
"Wow! Kau hebat, GMA!" Seru BAZ menatap kagum cokelat yang kini sudah berpindah ke tangan Gempa tersebut.
"Aku sudah biasa. Kalo kau bisa melakukan seperti yang aku katakan tadi, aku yakin kau pasti bisa," Ucap Gempa sambil menyodorkan cokelat tersebut pada BAZ.
"Eh? Tidak apa-apa? GMA yang berhasil mendapatkan cokelat itu," Kaget BAZ.
"Tidak apa-apa. Ambil saja, anggap saja sambutan dariku," Jawab Gempa dengan cengiran lebar di wajahnya-yang membuatnya terlihat mirip Taufan.
"Terima kasih, GMA. Tidak salah aku menjadi lawanmu kemarin," Ucap BAZ sambil mengunyah cokelat pemberian Gempa tersebut.
"Sama-sama. Ah…ngomong-ngomong, kenapa kau tiba-tiba melarikan diri kemarin? Padahal kalo kau tetap tinggal, mungkin saja kau bisa mengalahkan ku," Tanya Gempa.
"Emm…bagaimana yah…? Aku kemarin bisa dibilang ada urusan mendadak…jadi begitulah," Jawab BAZ seadanya.
"BAZ, kau tinggal dengan siapa?" Tanya Gempa lagi.
"Ah…aku…tinggal dengan adikku," Jawab BAZ gugup.
"Kau punya adik? Mmm…berapa umurmu?" Gempa kembali bertanya.
"Aku…13 tahun. Tapi karena aku baru saja tiba di kota ini, jadi aku dan adikku belum mendaftarkan diri ke sekolah," Jelas BAZ.
"Oh? Kalian memangnya berasal darimana?" Kali ini, BAZ terdiam cukup lama, dan buru-buru Gempa melanjutkan, "Ah…maaf aku terkesan ingin tau…habisnya, kau orang yang menarik," Ucap Gempa panik kalo teman barunya ini malah marah.
"Ah…tidak apa-apa. Aku…mungkin bisa dibilang berasal dari tempat yang jauh," Jelas BAZ.
"Begitu yah…Mirip Kak Taufan," Sahut Gempa dilanjutkan dengan innernya.
"Baiklah, cukup sesi Tanya jawabnya, bagaimana kalo kau menemaniku main?" Ajak Gempa.
"Eh? Boleh nih?" Kaget BAZ.
"Tentu saja. Aku selama ini sering main sendirian, jadi aku sangat senang bisa bermain bersamamu," Ucap Gempa antusias.
"GMA…memangnya tinggal dengan siapa?" Kali ini BAZ yang berbalik menanyai Gempa.
"Eh…aku punya dua orang kakak, tapi keduanya sibuk jadi yah…" Jawab Gempa dengan suara pelan.
"Hee? Siapa bilang? Kau sendiri yang tidak pernah mengajakku," Gempa dan BAZ tersentak, dan menoleh ke sumber suara.
"K-kak Taufan? Kenapa Kakak bisa disini?" Tanya Gempa kaget.
"Arcade ini hanya berjarak beberapa blok dari sini, tau…" Jawab Taufan sweatdrop dengan reaksi lebay adiknya.
"Ah…" BAZ masih tidak bisa berkata-kata dengan fenomena(?) di depannya.
"Ah iya, Kak Taufan, dia teman mainku yang baru, BAZ. BAZ, ini salah satu saudara kembarku, Kak Taufan," Gempa buru-buru mengenalkan saudaranya dan teman barunya tersebut.
"Oh, hai, terima kasih karena sudah mau bermain dengan adikku," Sapa Taufan dengan senyum cerahnya.
"…" BAZ hanya diam di tempat, lalu dengan cepat berbalik dan lari.
"Eh? BAZ, kenapa?" Kaget Gempa.
"Emm…aku baru ingat sesuatu. Aku akan bertemu denganmu lagi, daah~! Dan terima kasih cokelatnya!" Seru BAZ tanpa menoleh.
"Dia…kenapa?" Kaget Taufan.
"Itu karena Kak Taufan muncul tiba-tiba sih…aku yakin dia pasti gugup," Sahut Gempa poker face.
"Kok aku yang salah sih?" Taufan sweatdrop.
"Huh, yasudah…kalo begitu Kak Taufan harus menemani aku main sebagai hukuman karena sudah membuat teman baruku kabur," Ucap Gempa.
"Hey! Kenapa begitu?" Protes Taufan. Dirinya memang datang ke arcade untuk bermain, tapi bukan berarti dia mau menemani adik twist nya ini.
"Aku kan sudah bilang, ini hukuman. Perkataanku adalah mutlak. Karena aku selalu benar, maka aku selalu menang," Ucap Gempa angkuh.
"Sungguh, Gempa…itu tidak cocok. Lagipula, kenapa kau mau meniru si kapten juragan gunting itu? Dia sudah kalah di season tiga, tau!" Sindir Taufan sweatdrop.
"Kak Taufan kejam. Nanti di lempar gunting lho~" Sahut Gempa poker face.
"Terserah…kalo kau mau main, aku ikut, tapi aku tidak akan mengalah," Taufan tersenyum menantang.
"Oke, tantangan di terima," Balas Gempa ikut memasang senyum.
~Twisted~
"Gempa? Kakak pulang," Seorang anak berusia 11 tahun berucap setelah membuka pintu.
"Oh, Kak Halilintar…okaerinasai," Sambut bocah lainnya yang sedang bermain dengan sebuah famicom(***).
"Kau tidak merasa kesepian kan, selama kakak pergi?" Boboiboy Halilintar berjalan menghampiri adik kembarnya kemudian mengelus kepalanya dengan lembut.
"Un. Jangan khawatir, aku tidak kesepian lagi. Dan terima kasih sudah mau memberikan ku mainan baru," Ucap Boboiboy Gempa disertai senyum manis yang membuat Halilintar tidak tahan untuk tidak tersenyum.
"Tidak usah dipikirkan. Seperti yang sudah aku katakan, jadilah dirimu sendiri, karena apa pun yang terjadi kau tetaplah adikku," Balas Halilintar yang masih betah mengelus kepala adik yang hanya berbeda beberapa menit darinya itu.
Mendengar penuturan sang kakak, Gempa pun tersenyum lebih lebar, "Un! Terima kasih, Kak Halilintar…!"
"…lintar…"
"…Halilintar…"
"Kak Halilintar!"
Halilintar langsung membuka matanya, dan yang di pandangannya sekarang adalah kedua adik kembarnya yang menatapnya dengan bingung.
"Eh…?" Halilintar bergumam pelan sambil memegang kepalanya.
"Kak Halilintar tidak biasanya ketiduran di siang bolong begitu. Tidurnya di sofa lagi. Ada apa?" Tanya Gempa langsung.
"Kak Hali kalo capek tidurnya di kamar dong. Sepatunya juga belum dilepas," Sambung Taufan yang sedang sibuk membereskan consol-consol game milik Gempa yang berserakan.
Halilintar terdiam, memang hari ini dirinya pulang lebih cepat, tetapi cukup merasa lelah karena sibuk mengatur kegiatan club karatenya sepanjang hari sehingga hampir tidak ikut kegiatan belajar sekolah. Jadi sepulang sekolah, Halilintar hanya melempar tasnya sembarang arah dan langsung tertidur di sofa.
"Ukh…ngomong-ngomong, kalian berdua darimana?" Tanya Halilintar mencoba mengalihkan topic.
"Aku ikut sama Gempa ke arcade. Dan tau tidak? Dari 6 game yang kami mainkan, aku menang 4 kali!" Jawab Taufan antusias.
"Hmph! A-aku sengaja mengalah dari Kak Taufan karena Kak Taufan itu masih baru!" Elak Gempa sambil membuang muka.
"Iya lah tuh," Taufan memutar matanya bosan.
Halilintar menghela napas kemudian berdiri dari sofa dan berjalan menuju dapur.
"O iya, Kak Halilintar!" Halilintar langsung menoleh ke arah Gempa yang sedang tersenyum lebar dengan kedua tangan yang menenteng dua tas belanjaan besar, sedangkan Taufan yang berdiri di belakang hanya memasang senyum sweatdrop.
"Coba lihat, aku sangat beruntung kan?" Ucap Gempa dengan senyum lebar sampai kedua matanya menyipit.
"K-kau…berapa banyak uang yang kau ambil untuk menang sebanyak itu?!" Kaget Halilintar.
"Mmm…aku meminjam separuh uang tabungan Kak Halilintar," Jawab Gempa enteng, disambut facepalm dari Taufan yang sangat menyesalkan tingkah adik kembarnya yang kelewat innocent(?) tersebut.
"A-apa…" Halilintar syok, kemudian perlahan aura-aura hitam mulai menguar dari tubuhnya, bersamaan dengan urat-urat persimpangan yang bermunculan di dahi sang ace karate tersebut.
"Hehehe…nanti aku ganti, Kak Halilintar~" Sambung Gempa masih dengan senyum lima jarinya, tapi malah membuat meter kesabaran Halilintar makin naik hingga mencapai batasnya.
"AKKHH! DASAR KAU, GUTOUTO!"
"AAH! KAK HALILINTAR BERUBAH JADI TITAN!"
"HWAA! KAK HALI! AKU BARU SAJA MEMBERESKAN RUANG TAMUNYA!"
T
B
C
(*) Crane itu adalah salah satu mesin game paling di minati di arcade. Di dalam mesin crane, ada banyak hadiah entah itu berupa boneka, camilan, dan sebagainya. Untuk mendapatkan hadiah di dalam mesin crane bisa kita gunakan tuas dan tombol yang tersedia di luar mesin untuk menggerakkan claw agar bisa mengambil hadiah yang diinginkan. Game ini memang membutuhkan kosentrasi dan tingkat kefokusan yang tinggi. Lebih jelasnya sih, jika kalian pernah nonton Spongebob episode Skill Crane, maka begitulah mesin crane di arcade (Author sebenarnya pernah mencoba tapi jarang berhasil T_T)
(**) Claw itu mirip pengangkut yang ada di eskafator. Emm…saya sebenarnya bingung mau sebut apa kalo dalam bahasa Indonesia, jadi saya tetap gunakan claw saja. Claw itu fungsinya untuk mengangkat hadiah dalam mesin Crane.
(***) Famicom adalah sejenis Nitendo. Saya ga tau kalo itu beneran ada, soalnya hanya copas dari Himouto!Umaru-chan. Nitendo sendiri adalah game yang serupa dengan PlayStation, tapi lebih sederhana. Game-game yang biasa Author mainkan di Nitendo sih banyak, salah satunya Super Mario Bros (Lainnya udah lupa namanya).
O iya, karena chapter ini tentang arcade, jadi saya meminjam beberapa game dan arcade terkenal kemudian saya jadikan parody. Saya melakukannya semata-mata karena keperluan cerita, karena kalo saya gunakan sensor, malah terkesan aneh. Jadi saya parody kan saja. Nama mungkin beda, tapi fungsi dan jenis dari arcade dan game tersebut hampir sama.
ClockZone: Time Zone
RoadFight: Street Fighters
Sidney Infinity: Disney Infinity
Yeaay! Another gaje ending! Kayaknya saya menyelesaikan chapter ini terlalu cepat. Ehm, btw, beberapa karakter baru untuk conflict berikutnya muncul tuh. Oke, karena kali ini saya kebetulan bisa update lebih cepat, bukan berarti akan begitu seterusnya. Saya masih harus nyari waktu dan ide yang pas untuk update selajutnya.
Taufan: Endingnya makin lama makin ga bener…
Author: Gomen ne, Taufan~ abis author juga ga tau mau gimana nih…
Taufan: Kalo ga tau mending ga usah buat.
Author: Hidoi-ssu T_T
Taufan: Hee? Meniru kalimatnya tukang tiru? Hebat!
Author: Kalo orangnya denger entah akan gimana jadinya *facepalm* ngomong-ngomong Taufan, berhentilah nge-bashing character dong!
Taufan: Tapi aku bicara jujur kok *Innocent*
Author: Akhh! Bakalan ga selesai nih! Oke, readers, terima kasih lagi karena sudah menyempatkan waktu membaca cerita yang makin gaje ini ya~ tetap nantikan chapter selanjutnya ya~~~!
Taufan: Nah, cukup sampai situ author. Okay, readers! Saatnya pamitan. Sampai jumpa di chapter selanjutnya~! *Pasang senyum matahari sambil melambaikan tangan*
Review please~
