Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.

.


Chapter 7 : Ketika Mencari Naginata Tapi Drop Tachi Ganteng Gimana Gitu Rasanya


.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa majikan mereka paling sayang dengan para tantou.

Tentu saja perempuan itu menyayangi dan memperhatikan mereka semua, tapi afeksinya kepada para tantou lebih terlihat jelas karena seluruh tsukumogami yang memiliki perawakan anak kecil itu tidak ada yang protes setiap menerima serangan pelukan dan ciuman.

Karena faktor sikap sang saniwa yang nyaris seperti ibu-ibu padahal punya anak pun belum inilah Yamanbagiri Kunihiro sering terseret dalam percakapan tidak masuk akal yang selalu membuatnya mengurut kening.

Untungnya kali ini ia cukup mendengar saja tanpa perlu terlibat langsung dalam dialog sang saniwa dengan Konnosuke.

"Persediaan citadel ini sudah melebihi batas yang sudah ditentukan. Tetsudai dan Irai banyak, arang sangat banyak, bijih besi banyak, air berlimpah, batu asah banyak. Kurang apa lagi?"

"Mungkin anda harus punya lebih banyak ema juga?"

"Bah! Tak ada efeknya. Non. Nada."

"Dicoba lagi?"

Suara ratapan terdengar.

"Berapa kali lagi?"

"Entahlah, tapi bukannya memang harus berkali-kali?"

Yamanbagiri Kunihiro sudah menarik kain tudungnya jauh-jauh agar tidak dipakai untuk mengelap air mata sang saniwa.

"Jangan memandangku seperti itu!" Ujar uchigatana itu dengan kesal karena akhirnya tersseret dalam dialog yang sudah terjadi entah berapa kali. "Aku sudah tidak melarangmu untuk pergi ke ruang penempaan lagi kan?"

Program berhemat yang dijalankan dibawah pengawasan ketat ala Kasen Kanesada membuahkan hasil, dan kini Yamanbagiri Kunihiro sudah tidak mengkhawatirkan keadaan ekonomi citadel mereka.

"Iya, tapi aku trauma melihat angka 0 dan 3 dan 0."

Otegine yang ada di seberang Yamanbagiri Kunihiro berusaha menahan tawa sambil menepuk-nepuk kuda yang sedang ia beri makan, lebih terlihat seperti menghindari mulut kuda yang berusaha menggigitnya.

"Hatiku hampa meski sudah ada Jiji." Sang saniwa bergumam.

"Tapi Mikazuki Munechika itu harta nasional, nasional!" Ujar Konnosuke.

Otegine berpindah ke samping sang saniwa. "Coba saja lagi minggu depan, mungkin hari ini kau kurang beruntung."

Perempuan itu malah semakin murung.

Otegine mengerjapkan mata. "...Apa aku salah bicara?"

"Abaikan saja dia." Jawab Yamanbagiri Kunihiro.

"Segaiwa… Ima-chan semakin sering mengambek… Bagaimana ini…"

Sang saniwa mulai curhat pada kuda dan memonyongkan bibir seperti hendak mencium kuda tersebut. Di mata Otegine sekarang keduanya mirip seperti binatang bernama unta. Yamanbagiri Kunihiro bergulat dengan ekspresi wajahnya antara hendak tertawa dan memberengut.

Konnosuke berpindah dari bahu sang saniwa ke pundak sang Otegine.

"Hanya masalah yang biasa, nanti dia tenang sendiri."

Otegine langsung mengerti. Itu berarti Ima no Tsurugi sedang menagih janji sang saniwa lagi. Sementara itu Yamanbagiri yang sudah melihat tingkah sang saniwa berkali-kali seperti ini menghiraukan ocehan putus asa perempuan itu.

"Haah… Iwatooshi, kapan kau mau datang…"

"Kenapa kau tidak suruh atasanmu untuk langsung saja memberikan semua tsukumogami yang mereka punya?"

Sang saniwa menganggap itu sebuah ide yang sangat jenius sebelum Konnosuke mendepak ke arah telinga sang saniwa dengan kaki-kaki kecilnya.

"Bukan seperti itu cara kerjanya!"

"Iya, iya! Aku tahu!"

Otegine dan Yamanbagiri ingin segera pergi dari tempat yang penuh dengan pertengkaran manusia dan rubah virtual serta ringkikan kuda-kuda yang ikut meramaikan suasana.

###

Sehari penuh, rasanya satu hari ini kepala Yamanbagiri Kunihiro tidak diberikan kesempatan untuk tenang.

Semua dimulai dari pagi itu.

Saniwa mereka punya kebiasaan untuk selalu memeriksa kalender hologramnya sebelum menentukan kapan mereka harus ekspedisi atau turun ke lapangan langsung. Ia tak terlalu mengerti apa pentingnya.

"Untuk jaga-jaga saja." Jawab sang saniwa ketika ditanya mengenai hal itu.

Ia hanya menyadari kalau sang saniwa jarang mengajak Ima no Tsurugi dalam teritori waktu tertentu ke Atsukashiyama, daerah dengan kesulitan cukup tinggi, tempat mereka yang sudah memiliki level tinggi dilatih berulang kali sampai Sayo pun sudah bisa mengalahkan oodachi musuh dengan sekali tebas saja.

Dua hari sudah berlalu sejak ocehannya di istal dan Yamanbagiri Kunihiro baru mengerti kenapa mereka turun lagi ke area ini.

"Kau ini tak pernah menyerah."

Komentar dari toudanshi yang sering ia tunjuk menjadi pemimpin pasukan utama membuat sang saniwa tertawa.

"Yang bilang aku menyerah siapa?"

"Semua ocehanmu kemarin lusa itu." Balas Yamanbagiri.

"Kau tahu aku bagaimana kan. Harus mengomel dulu sebelum merasa lega." Sang saniwa menarik kekang kuda, memelankan lajunya. "Kenapa? Apa kau sudah capek? Kita kembali saja, masih ada banyak waktu."

"Bukan begitu." Yamanbagiri Kunihiro memperhatikan area yang sedang mereka lewati. Jalan tanah berbatu di dataran tinggi menuju area pegunungan, dengan kata lain tembok tanah tinggi di seluruh sisi kanan mereka, serta pepohonan dengan berbagai ukuran yang meski tidak rimbun, bisa menyembunyikan keberadaan mereka dan begitu pula musuh dari pasukan mereka.

Dulu mereka pernah melewati daerah seperti ini, dilain waktu mereka melewati daerah Atsukashiyama lain yang lebih terbuka. Namun Yamanbagiri Kunihiro selalu meningkatkan kewaspadaannya dengan area seperti ini.

Lalu ada satu hal yang masih ia pertanyakan.

"Ini bukan teritori waktu yang seperti biasa." Yamanbagiri Kunihiro memulai. "Bukan zaman Muromachi-Kamakura."

"Aku dapat laporan ada kelompok musuh di daerah ini pada teritori waktu tahun 1500-an." Jawab sang saniwa. "Semoga saja tidak berpengaruh pada acara mencari Iwatooshi ini."

"Tapi jangan berharap terlalu tinggi."

Sang saniwa mengerti akan kekhawatiran uchiagatana itu, dan seperti biasa, hanya tertawa ringan.

Mereka melewati jalan yang terjal dan sempit itu berdua-dua. Horikawa dan Souza mengikuti di belakang mereka, lalu Akita dan Nikkari Aoe, dan di akhir barisan ada Kousetsu.

"Kyoudai, apa kau melihat sesuatu?"

Yamanbagiri Kunihiro belum sempat menjawab pertanyaan dari saudara wakizashi-nya ketika gerakan pepohonan di atas kiri memperlihatkan sekelebat bayangan yang terlihat jelas bagi mereka semua.

"Bukan waktu yang bagus untuk bertarung." Nikkari Aoe berkata. "Setidaknya untuk Kousetsu. Jalan ini terlalu sempit."

"Jangan berhenti." Sang saniwa membuka sebuah hologram dan segera menutupnya. "Sedikit lagi harusnya ada jalan yang lebih lebar."

Semua kuda mereka pacu dengan cepat dan waspada.

"Hei, terakhir kali kita berhenti lama untuk istirahat, waktu itu Ima-chan gembira sekali ketika melihat pohon pinus merunduk itu-"

"Saya tahu anda berusaha mencairkan suasana, tapi sebaiknya kita segera sampai di area terbuka." Souza berkata, menggantikan Yamanbagiri Kunihiro yang sudah siap menegur sang saniwa kapan saja.

Suara-suara berdesing memenuhi udara selama beberapa saat.

Sang saniwa berhasil menghalau beberapa anak panah dengan tessen yang ia keluarkan tepat waktu. Tak perlu diragukan lagi bahwa para toudanshi juga berhasil menangkis serangan tadi. Para kuda meringkik panik namun hanya sebentar, dengan segera kembali tenang mengikuti arah tarikan kekang, hasil dilatih berulang kali untuk menghadapi keadaan seperti ini.

Tapi siapa yang tak akan kaget jika sesuatu menabrak saat berkuda dengan kecepatan tinggi.

Kudanya mengangkat kedua kaki depan tinggi-tinggi, tapi sang saniwa sudah menghantam tanah dengan punggung terlebih dahulu dan meluncur di atas akar-akar kasar dan tumpukan tumbuhan liar yang mengikuti tanah menurun.

Secara bersamaan para musuh lainnya bermunculan, mengepung mereka.

"Keparat!"

Yamanbagiri Kunihiro merutuk dan itu bukanlah hal yang bagus.

"Kyoudai, tenanglah." Horikawa tengah menangkis serangan tachi musuh yang melompat ke arahnya, mereka semua sudah turun dari kuda, jelas tak bisa melanjutkan ke area yang lebih luas. Prioritas sudah berubah untuk membantu sang saniwa yang beberapa kaki berada di bawah sana. Ia hanya bersyukur bentuk menurun tanah tidak curam sehingga sang saniwa tidak terluka parah.

"Akita, mohon bantuannya!"

"Baik!" Tantou Awataguchi itu sudah melesat untuk membantu sang saniwa, melewati musuh-musuh yang ditahan oleh para anggota pasukan lain.

Sementara itu sang saniwa berusaha bangkit berdiri, kepala dan punggungnya masih berdenyut. Udara seakan dipaksa keluar lewat mulutnya ketika tadi punggungnya bertemu tanah dan tertindih uchigatana musuh yang langsung menghunuskan pedang ke arah lehernya.

Untung tenaga terakhirnya ia gunakan untuk menahan bilah pedang dengan tessen dan berguling, memaksakan otot-ototnya bergerak dari rasa nyeri untuk menghindari serangan, membiarkan lengannya tergores dan gravitasi menghantamkan uchigatana musuh itu terlebih dahulu ke batang pohon besar dan tak berkutik ketika Akita datang dan menebasnya sebelum sempat berdiri lagi.

"Anda tidak apa-apa, shukun?"

Sang saniwa mengernyit, menepuk wajahnya yang kotor oleh tanah dan terhuyung ketika berusaha berdiri, Akita memegangi lengannya dengan cemas.

"Aaah, lenganku yang malang- Bercanda, bercanda. Aku tidak apa-apa.""

Melihat ekspresi horor dari sang tantou mencegah sang saniwa untuk bercanda lebih lanjut. Lengan atasnya perih, bukan sesuatu parah. Punggungnya berdenyut luar biasa sakit namun ia tidak ingin membuat Akita khawatir.

"Lihat! Setidaknya dia menjatuhkan sesuatu… Dan bukan naginata."

"Shukun…" Akita hanya bisa geleng-geleng kepala.

Bukan bilah naginata seperti yang ia harapkan, tapi ia belum pernah melihat tachi seperti ini, jadi ini pasti pedang baru.

"Awas!"

Teriakan peringatan yang berasal dari Horikawa terdengar mendekat. Akita sendiri berhasil berekasi tepat waktu, namun karena ukuran tubuhnya yang kalah besar dari oodachi musuh, tantou itu hanya memperlambat gerakannya sebelum terhempas ke samping.

"Akita!"

Bunyi dentang besi membuat telinganya berdenging.

Refleks pertama sang saniwa adalah menarik keluar pedang baru yang masih berada di tangan, tepat waktu menahan bilah musuh yang datang.

Bahkan ia sendiri pun nyaris terhempas.

Namun ia terkejut ketika merasakan berat pedang di tangannya yang terurai menjadi kelopak-kelopak sakura menghalangi pengelihatan, otomatis ia melepaskan pedang itu, dan detik berikutnya giliran oodachi musuh yang terjungkal kebelakang.

Horikawa dan Kousetsu datang dan menghabisi oodachi musuh itu.

"Anda tidak terluka kan?"

"Hah?" Sang saniwa melongo, menatapi sebuah sosok asing yang berdiri di depannya.

Sang saniwa tak sengaja memanggil sebuah tsukumogami di tengah pertarungan. Biasanya ia akan melihat dulu, tapi karena tadi ia bergerak secara insting, sekarang ia tahu siapa pedang di hadapannya ini.

"Menahan serangan dan membuat musuh lengah, hal yang cukup keren, bukan?" Pria berpakaian dengan nuansa hitam itu tertawa. Mata emasnya menyiratkan keramahan, didukung dengan uluran tangan hendak membantu sang saniwa berdiri.

"Ah, maaf. Namaku adalah Shokudaikiri Mitsutada. Aku bisa menebas tempat lilin perunggu… Ya, itu sama sekali tidak keren..."

"...Oh..."

"A..Aruji, tidak boleh begitu." Tegur Horikawa melihat wajah sang saniwa mengharapkan sebilah naginata.

.


.

Empat hari telah berlalu sejak pasukan mereka membawa Shokudaikiri Mitsutada ke citadel.

Satu hal positif yang terus-terusan dikatakan sang saniwa pada toudanshi terbaru itu adalah bahwa ia malaikat penyelamat dapur bersama Horikawa. Mau bagaimana lagi, satu-satunya tempat pelarian sang saniwa dari acara mengambek Ima no Tsurugi adalah makanan enak atau jubah kain Yamanbagiri Kunihiro.

Bagi para penghuni citadel ini, sudah biasa ramai di hari pertama kedatangan seorang toudan baru, sebelum kemudian hari-hari berjalan seperti biasa. Yang dulu pernah berada di bawah naungan satu keluarga atau saling kenal akan disuruh oleh sang saniwa untuk membantu membiasakan diri hidup di lingkungan baru ini.

Begitu pula kasusnya saat ini bagi Ookurikara.

Bukannya ia tidak suka. Ia memang kenal Mitsutada, bahkan cukup lama. Mungkin karena mereka sudah lama tidak bertemu saja, mungkin ada beberapa hal yang sudah tak diingatnya lagi. Hal-hal kecil seperti melihat penutup mata yang selalu dipakai Mitsutada bahkan saat tidur, Horikawa yang mengtakan bahwa ia tak pernah melihat tachi itu lepas dari sarung tangannya setiap saat, membuat sesuatu di dalam pikirannya berkata bahwa ada sesuatu yang berubah.

"Apa Sada-chan sudah datang ke tempat ini?"

.Mungkin memang hanya efek sudah lama tidak bertemu.

"Belum." Ookurikara memunggungi lawan bicaranya, tampak tak tertarik untuk berbicara. Ia masih memandangi seekor harimau milik Gokotai yang mengendap-endap di depannya, sekedar mencari kesibukan.

"Oh begitu?"

Toudanshi yang baru datang itu sudah lama rasanya tidak dipelototi oleh Ookurikara ketika ia duduk disampingnya.

"Kau ada disini saja sudah mengejutkannya."

Shokudaikiri Mitsutada tertawa lepas.

Rasanya sudah lama ia tidak berada dalam suasana santai seperti ini. Selalu mengingatkan akan waktu dimana ia atau Sadamune berusaha mengajaknya untuk menikmati kudapan dan secangkir teh, hal-hal seperti itu. Ditambah lagi suasana tenang tanpa teriakan-teriakan galau sang saniwa yang masih belum mendapat naginata, sungguh sebuah hari yang langka untuk bersantai.

"Rasanya seperti dulu saat kita semua berkumpul."

"Kita sudah tidak berada di Sendai lagi."

Ookurikara yang selalu berkata langsung pada pokok permasalahan, semakin membuatnya mengingat kehidupannya dulu.

"Aku tahu."

Ekspresi datar Ookurikara tampak semakin suram. Sang mumeito semakin merasa ada yang aneh, ia tak tahu apa. Dari mulutnya sendiri tadi ia berkata bahwa mereka sudah tidak berada dalam keadaan mereka yang dulu, tapi ia ingat bahwa tachi ini memprioritaskan diri sendiri paling belakang.

Ini dia sebabnya Ookurikara tidak mau memikirkan tentang orang lain, otaknya lelah sendiri.

Perbincangan mereka berhenti dan Mitsutada mengerjapkan mata.

"Ada apa?"

"Kau menyebalkan setiap menyimpan masalah sendiri."

Jawaban yang semakin membuatnya bingung.

"Apa maksudmu, Kara-chan?"

Ookurikara sudah siap melempar benda terdekat di tangannya sebelum menyadari yang sedang menyundul telapak tangannya sekarang adalah salah satu macan Gokotai.

Keramaian yang datang dari arah kebun juga ingin membuatnya segera pergi mencari tempat yang lebih sepi.

"Ooh, Mitsutada! Ookurikara- Yah malah pergi." Mutsu membawa keranjang penuh sayuran di satu tangan sekaligus Sayo yang duduk di pundaknya.

"Banyak juga panennya, Mutsu-kun." Mitsutada menerima bawaan Mutsu itu. "Ah, kalian belum makan siang kan? Aruji juga, dimana dia?"

"Masih di pantai. Kau tahu lah, dia masih belum menyerah soal waktu yang tepat untuk berpose membelakangi debur ombak raksasa."

"Jangan tanya." Sayo melompat ke tanah, menjawab pandangan penuh tanya Mitsutada. "Aruji memang selalu ke pantai setelah selesai membuat laporan."

"Apa masih lama?"

"Biasanya sih iya." Mutsu no Kami Yoshiyuki menoleh ke arah barat sambil tersenyum. "Tapi aku tidak menyalahkannya, pemandangan pantai memang yang paling bagus!"

"Ah, kalau begitu biar aku saja yang mengantar makan siangnya." Kata Mitsutada akhirnya. "Lagipula aku belum pernah pergi ke sana."

"Benar juga." Mutsu mengangguk-angguk. "Tunggu dulu, apa kau tahu arah ke pantai?"

"Aku baru mau bertanya." Toudanshi yang mengenakan penutup mata itu tertawa.

"Hrmm, aku akan latih tanding dengan Horikawa setelah ini. Oh, Sayo bisa menunjukkan jalannya. Iya kan?"

Sayo Samonji mengangguk.

"Baiklah, aku ke dapur sebentar." Mitsutada bermaksud untuk sekalian meletakkan keranjang yang sedang dibawanya. "Mutsu-kun, jangan lupa makan siangmu!"

"Tenang sajaa!"

###

Tempat ini sangat aneh.

Bila keluar ke sisi lain akan mendapat pemandangan berkesan hijau. Bila Berjalan keluar sedikit dari sisi lain, menuruni jalan berkelok-kelok dan menemukan pemandangan pantai dari tebing tinggi, lalu ada jalan turun lagi dari batuan alami yang diapit seperti gua dan ketika sampai di dasarnya seperti memasuki tempat rahasia. Di dasarnya batu-batu karang tajam semakin sedikit dan lantai pasir halus mulai mendominasi.

Tantou Samonji yang berjalan di depan Mitsutada memperlambat langkahnya, mendekat ke satu-satunya sosok yang sedang duduk di tepi tebing. Awalnya mengira sang saniwa akan ada di bawah sana.

"Hmm? Kalian berdua, ada apa?"

Perempuan itu menyadari keberadaan keduanya, berpaling dari hologram di depannya. Ekor Konnosuke menyembul, tampaknya rubah itu bergelung dipangkuan sang saniwa..

"Makan siang." Sayo mengulurkan dua kotak kayu yang dibungkus kain.

"Aah, maaf jadi merepotkan kalian."

"Tidak apa, lagipula aku belum pernah kesini." Mitsutada masih mengamati pemandangan disekitarnya. Memang pemandangan seperti ini memberikan suatu ketenangan tersendiri, ia mulai mengerti antusiasme Mutsu.

Sementara itu sang saniwa sudah merasa berada di surga. Perut kosongnya yang mulai terisi dengan makanan rasa kualitas tinggi, mata berkaca-kaca menahan haru, rasanya ingin berguling-guling kegirangan.

"Anda sedang apa sih?" Konnosuke menjejak pundaknya.

"Hrrmp! Hmmmf!"

"Aruji, ditelan dulu." Ujar Sayo, tersenyum sedikit.

"INI APA ENAK SEKALI!"

"Ahahaha, terima kasih, hanya tofu dengaku biasa."

"Pokoknya enak~" Kata sang saniwa. "Apa kau sendiri sudah makan?"

"Sudah- Oh?"

Sang saniwa mengikuti arah yang dipandang oleh sang toudanshi. Dua kapal besar dengan desain lama seperti yang sering ia lihat pada ilustrasi buku, muncul dari balik tebing diseberang dan berlayar cukup dekat dengan pantai tempat mereka berada. Pemandangan yang tak biasa karena pantai dekat citadel mereka ini tak pernah dipenuhi orang dari alur waktu lain.

"Tidakkah kita akan dilihat ?"

"Tenang saja, ada barrier pelindung. Kerjanya seperti kaca satu arah."

Konnosuke menggerakan telinganya. "Terlalu besar untuk kapal nelayan."

"Hmm, entahlah. Tahun berapa di luar sana, masih akhir 1500-an? Aku tak boleh ikut campur." Sang saniwa menghabiskan sisa makanannya. "Yang pasti bukan untuk perang. Mungkin mereka menyelundupkan sesuatu."

"Kenapa begitu?" Tanya Mitsutada, tangan memainkan tali pengikat penutup matanya.

"Armada untuk perang tahun segini mungkin sibuk di daerah barat sana, sedang berusaha menguasai Joseon dan Ming."

Sayo telah menghabiskan makanannya juga, kini tengah memperhatikan hologram sang saniwa yang masih melayang di udara. Salah satu kotak pada bagian ekspedisi berubah warna berkali-kali.

"Yamanbagiri Kunihiro dan yang lain sudah kembali." Tantou itu memberitahu sang saniwa.

Tangan sang saniwa menyapu udara, menutup hologram. Diliriknya sang tachi pendatang baru yang masih memperhatikan pantai, entah benar-benar menikmati pemandangan atau sedang memikirkan hal lain.

"Mitsutada, masih mau disini? Aku dan Sayo akan kembali ke citadel."

"Ah, aku ikut."

Kelompok kecil itu kembali ke dalam bayangan teduh pepohonan yang berbaris mengiringi jalan menanjak menuju citadel, Konnosuke berlari kecil, susul menyusul dengan Sayo. Beberapa kaki dibelakang ada sang saniwa dan Shokudaikiri Mitsutada yang berjalan sedikit di belakang.

Perempuan itu melambatkan langkah kakinya. Kedua tangan ditangkupkan di belakang punggung.

"Ada masalah apa? Katakan saja."

Mitsutada mengerjapkan mata. "Aku tidak-"

"Eits, aku tahu ekspresi semacam itu." Sang saniwa nyengir lebar. "Ayolah, aku tidak menggigit kok."

Tuannya yang sekarang ini memang serba tahu, atau mungkin dirinya yang menjadi lebih mudah dibaca. Ookurikara memang sudah curiga tapi ia tak menyangka sang saniwa juga akan menanyakan langsung padanya.

Tachi itu mengalihkan pandangan ke depan, melihat Sayo dan Konnosuke yang sekarang melompat ke bahu Sayo. Sang saniwa masih menunggu.

"Apakah anda tidak ingin mengubah masa lalu…?"

"Tentu saja tidak."

"Kalau begitu… Apa anda pernah ingin kembali ke masa lalu?"

"...Apa kau sedang serius?"

Mitsutada memegangi kepalanya, sisi mata yang tertutup.

"Tidak, tidak. Lupakan saja."

"Kalau kau sedang serius, tak apa kok. Kau tahu tidak, hari pertama Ima-chan datang dia mengira sudah kembali ke masa Yoshitsune, lalu setelah kukatakan bukan, ia mengurung diri di kamar selama 2 hari." Sang saniwa menendang kerikil kecil. "Baru ada Yamanbagiri Kunihiro dan Gokotai saat itu, ah gara-gara kamu aku jadi ingat saat itu."

Mitsutada terdiam. Kenangan masa lalu seperti itu selalu mendatangi sejak pertama kali sampai di tempat ini. Terutama masa ketika ia berada dalam klan Date, karena meski sebelum itu ia berada di tangan Oda Nobunaga bahkan termasuk favorit, ia nyaris tak melakukan apa-apa.

"Aku merasa lebih hidup jika mengingat kejadian-kejadian di masa lalu." Ujar Mitsutada. "Seperti ada sesuatu yang membuatku ingin kembali ke saat-saat seperti itu."

"Awalnya memang akan sulit. Memori yang paling menyenangkan juga dapat menahanmu untuk menerima kenyataan."

"Tapi hanya itu yang kupunya, aruji."

"Aku tidak bilang kau harus melupakan memori masa lalumu." Kata sang saniwa. "Buat saja yang baru, sekarang, di citadel ini."

Mitsutada tertawa mendengar itu. "Kalau anda mengatakannya seperti itu, memang benar juga."

Tembok luar tempat tinggal mereka mulai terlihat. Sang saniwa melambaikan tangan, mengizinkan Sayo dan Konnosuke untuk berlari ke dalam mendahului mereka.

"Mitsutada."

Sang saniwa menghentikan langkahnya, maka Mitsutada pun ikut terdiam di tempat.

"Sebenarnya aku tak menyangka akan menemukanmu."

Ketika sang saniwa mengulurkan tangan hendak menyentuh penutup mata Mitsutada, toudanshi itu mundur mendadak. Tinggi mereka berbeda cukup jauh namun Mitsutada merasa sang saniwa benar-benar bermaksud meraih mata kanannya. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan di depan orang lain.

Perempuan itu juga diam, tangan masih di udara. Senyuman yang terukir di wajahnya penuh pengertian.

"Bolehkah?"

Mitsutada ragu. Ia sedang tidak bertarung melawan musuh namun saat bertarung pun ia tak pernah merasa- Takut? Khawatir? Dia tahu pasti mengapa ia merasa takut, tapi ia tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.

Kembali matanya menangkap senyuman itu dan rasa ragunya mulai menghilang.

"...Baiklah."

Sang saniwa berharap ia akan menemukan pasangan mata kuning emas yang sama. Jemarinya menyentuh kulit kasar gelap berkeriput yang mengelilingi pasangan mata emas yang nyaris tak bisa terbuka.

"Banyak bilah pedang yang sudah hilang. Orang-orang atasan itu punya berbagai cara untuk mendapatkan data, baik dengan yang asli, duplikat, bahkan hanya dari gambar di buku-buku tua." Kata sang saniwa. "Jadi kurasa mereka memakai data dari bilah aslimu..."

Penutup mata terpasang kembali, sang saniwa juga menebak kondisi tangan Mitsutada. Awalnya ia tak menyangka akan ada efek dari data bilah asli, dari hologramnya pun menunjukkan tak ada masalah dengan performa Mitsutada. Sang saniwa punya beberapa informasi mengenai sistem mengolah data para toudanshi namun ia tak tahu mengapa hal seperti ini bisa terjadi.

"Apa terasa sakit?"

"Tidak sama sekali." Gumam Mitsutada. "Tapi jadi terlihat tidak keren...kan?"

Hening.

"HAAAAA?"

Pandangan mata sang saniwa dan ekspresi sang saniwa yang begitu spontan membuat Mitsutada semakin memalingkan wajah. Sang saniwa sudah memperkirakan apa yang terjadi pada mata dibalik penutup itu namun jawaban yang biasanya ia kira akan dapat dari seseorang seperti Kashuu membuatnya terperangah.

"Mitsutada, sini kamu." Sang saniwa menarik lengan tachi yang hendak berbalik pergi itu . "Shokudaikiri Mitsutada!"

Kedua tangannya memegangi bahu dan memaksa toudanshi itu untuk menyamakan tinggi mereka.

"Bilahmu yang sekarang, hitam legam, pangkalnya berkarat, tumpul. Sebuah keajaiban kau bisa bertahan, ya."

"Anda tak perlu menyebutnya dengan detail." Mitsutada meringis.

"Bagiku semuanya itu menunjukkan kegigihanmu bertahan dalam keadaan berat sekali pun." Suara sang saniwa terdengar serius. "Benar-benar keren."

Mitsutada terkesiap.

"Benarkah?"

"Yep. Super keren. Bahkan caramu muncul pertama kali di depanku sangat keren." Ditepuknya bahu Mitsutada berkali-kali. "Jadi jangan berpikiran seperti itu lagi, oke?"

"Baiklah." Jawab Mitsutada masih dengan wajah terkejut.

"Sudah lega?" Sang saniwa tersenyum lebar ketika tachi terbarunya itu mengangguk. "Bagus. Lain kali kalau ada apa-apa bicarakan saja padaku atau yang lain ya."

Sang saniwa berbalik dan berjalan melewati pintu luar yang terbuka lebar. Mitsutada masih terdiam di tempat, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

Satu kesimpulan yang ia dapat bahwa tuannya yang kali ini pun sangat keren.

"Setelah ini kurasa kau harus konsultasi dengan Kashuu."

"...Eh?"

.


.

AN :

AAAAAAAHHHAAAAA MAAF BARU UPDATE SOBS

Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi yang merayakan, mohon maaf lahir dan batin.

Jadi headcanon saya untuk para toudan di fic ini sebenarnya baru kepikiran. Para toudanshi yang status bilah fisiknya itu hilang tergabung antara roh dan data yang dikumpulkan. Lalu para toudanshi yang bilahnya masih ada ya diambil datanya dari sana.

[Tapi jangan terlalu dipusingkan, saya sering ga tahu juga siapa yang masih ada siapa yang hilang wwwwwwwww]

Setelah tanya sana-sini, cari referensi, dan (ga kuat) main hitung-hitungan... Headcanon saya jadi seperti ini ; CCP dan Tsuru ketemunya di Oda, CCP datang ke Date tahun 1596, Kuri-chan datang tahun 1620 katanya, Sada-chan saya kurang tahu kapan, lalu CCP diberikan ke cabang keluarga Tokugawa yang Mito tahun 1600an? Tsurumaru yang datang ke Date antara 1710-1730an pergi lagi tahun 1901, jadi yang tersisa di Dategumi itu Ookurikara dan Sada-chan yang sekarang jadi koleksi pribadi.

Jadi Tsuru sama CCP ketemunya itu bukan di Date tapi di Oda meski kayaknya cuma sebentar.

[[Tahu siapa lagi yang ada di Oda waktu itu? ONI(ry]]

Chapter depan odoroita, ditunggu yaa :3

Terima kasih atas read, review, dan fav anda! (´)*:・゚✧