Title: Under The Rain, We Met
Genre: Crime/ Drama
Rated: T
Pairing: Zoro x Robin
A/N: Ah, sebelumnya, maaf karena saya sudah seenak jidat ngubah genre fic ini dan penghilangan pairing yang slight. Saya sadar kalo Zoro nya masih kecil, ga mungkin bisa ada romance diantara mereka. Saya bingung genrenya lebih ke Crime atau Suspense karena Robin yang misterius. Setelah saya pertimbangkan, sepertinya fic ini lebih cocok ke Crime. Mungkin reader bisa memberi saran tentang genre fic ini? Ah, list permintaan maaf saya ada di bawah. Maaf!
Disclaimer: Punya Oda Nobunaga *plak*, Oda Eiichiro maksud saya...
-Ippon Matsu's Weapon Shop-
"K-Kau... N-Nona muda?"
Ippon-Matsu membelalakan matanya, tak memercayai orang itu berada didepannya sekarang. Orang yang dinyatakan tewas selama delapan tahun kini berdiri dihadapannya. Toko senjata Ippon Matsu merupakan toko yang bekerja sama dengan keluarga Robin karena kualitas pedang-pedang miliknya adalah yang nomor satu. Selama generasi ke generasi toko ini sudah menjadi langganannya.
"Ya, saya Nico Robin."
"B-bukankah no..na suda-..."
Keringat dingin berucucran deras dari wajah Ippon Matsu,ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Hal ini membuat Robin tersenyum kecil. Ia senang membuat orang lain terkejut dan ketakutan. Robin mendekati Ippon Matsu dan membisikan sesuatu di telinganya, agar orang selain dirinya dan pria paruh baya didepannya ini tidak mendengarkan apa yang ia bicarakan.
"Aku punya alasanku sendiri. Jangan sampai orang lain selain anda mengetahui aku masih hidup."
Ippon-Matsu mengangguk dengan cepat, tak berani membantah kata-kata mantan nona mudanya ini. Ippon-Matsu berusaha menghilangkan rasa takut dari pikirannya. Ia mengenal baik tentang klan Nico. Terakhir kali ia melihat sang nona muda dan klannya terasa sudah lama sekali, 10 tahun berlalu sudah, dan semenjak insiden itu terjadi, ia putus kontak dengan klan Nico. Ippon-Matsu berusaha memulai topik.
"Err... Lalu, ada hal penting apa sampai nona muda repot-repot datang ke sini?"
"Aku ingin melihat-lihat pedang yang cocok untuk anak ini."
Ippon-Matsu mengamati anak berambut hijau yang berdiri dibelakang nona mudanya ini. Sekilas dari penilaiannya, anak ini tidak punya sesuatu yang spesial. Tapi ia tidak bisa menilai sebuah buku dari covernya saja kan? Apalagi Robin menyuruhnya merekomendasikan pedang untuk anak ini, pastilah ia punya suatu kelebihan.
Ippon-Matsu berjalan menuju tempat pedang-pedang antik koleksinya dipajang dan mengambil sebuah pedang pernis hitam kesayangannya. Ia kembali ke tempat Robin dan Zoro berdiri menunggu dan menyerahkannya ke Zoro. Zoro melihat pedang itu, kualitasnya benar-benar bagus. Ia mendongak dan menatap Ippon-Matsu.
"Anu...Ossan, aku membutuhkan tiga buah pedang."
Ippon-Matsu mendelik. Tiga pedang? Yang benar saja.
"Hah? Kau bercanda bocah? Pedang bukan untuk main sirkus." Ketus Ippon-Matsu.
"Kalau kau belum melihat teknik miliku, kau taakan mengerti."
Ippon-Matsu merasa tertantang. "Kuladeni tantanganmu, anak kecil."
Robin menghela nafas. Sungguh konyol, pikirnya. Robin mengangkat tangannya di depan Ippon-Matsu.
"Biar aku saja, pinjamkan sebuah pedang untukku, dan dua buah pedang lagi untuknya."
Zoro tersenyum menyeringai. Ini pertama kalinya ia melawan wanita lain selain Kuina. Ia tahu bahwa melawan wanita bukanlah sikap yang baik, namun ia mau mencoba kekuatannya dan kekuatan lawannya. Robin mengambil acak sebuah Katana yang ada di etalase toko, saat ia menyentuh Katana itu, ia merasakan perasaan yang aneh. Entah perasaan apa itu, yang jelas pedang itu mengeluarkan aura negatif. Robin hendak mengembalikan pedang itu ke tempatnya semula, namun Zoro menghentikannya.
"Hei, pedang itu kupakai saja."
"Tidak! Pedang itu pedang terkutuk!" Ippon-Matsu menghentikan Zoro yang sudah setengah jalan meraih Katana itu. "Pedang itu selalu membawa nasib buruk kepada pemiliknya. Taakan kubiarkan bocah sepertimu mati seenaknya saja. Itu sudah takdir bahwa yang memakai pedang itu akan tertimpa musibah."
Zoro tidak peduli dan tetap meraih pedang itu. "Bukan pedang yang menentukan nasib tuannya, tapi tuannya lah yang akan menentukan nasibnya bersama pedang itu. Aku akan menentukan nasibku sendiri."
Ippon-Matsu terbelalak mendengar ucapan bocah dihadapannya itu. Robin tersenyum. Benar-benar bocah yang tidak membosankan.
"Baiklah, pakailah Shisui, Sandai Kitetsu, dan ini...- Muramasa " Robin mengambil dua buah pedang lagi dari etalase toko. Robin melemparkan Muramasa itu ke arah Zoro, dan ia sendiri memakai pedang yang hampir serupa, Masamune. Robin mengeluarkan pedang itu dari sarungnya dan mulai memutar-mutar Katana tersebut. Zoro melakukan hal yang sama, Sandai Kitetsu di tangan kanan, Shisui di tangan kiri, Muramasa di mulutnya. Mereka berdua sudah siap bertarung.
"Errr... Tolong jangan lakukan di ruangan ini, sudah sempit, banyak daganganku pula... " Ippon-Matsu sweatdropped. Robin merilekskan badannya dan berjalan ke luar ruangan, diikuti oleh Zoro dan Ippon-Matsu. Zoro dan Robin dalam posisi siap bertempur, layaknya seorang pendekar pedang sejati.
"Aku tidak akan mengalah loh." Robin sengaja memprovokasi Zoro.
"Heh, jangan remehkan aku."
Zoro tersenyum sinis. Sudah lama ia tak sesemangat ini. Darahnya mulai bergejolak, keringat dingin menetes di keningnya. Dalam sekejap ia melaju dengan kecepatan tinggi kearah Robin, menebaskan pedangnya kearah perut sang lawan. Sedangkan targetnya bersikap santai saja dan mulai menepis setiap serangan yang dilancarkan Zoro. Robin tidak menyerang, hanya bertahan, dan Zoro menyadari hal itu, membuat ia naik pitam. Zoro melancarkan jurus andalannya. Onigiri. Robin mulai melancarkan serangan balik, Masamune yang ia gunakan, kini menari dengan indahnya mengikuti irama tebasan pedang, di sisi lain, Zoro mengalami kesulitan dalam menangkis serangan Robin.
Robin menilai kemampuan Zoro, bagi anak seumuran bocah itu, kemampuannya sungguh hebat, ia masih bisa menangkis serangan-serangannya lebih dari beberapa menit. Sedangkan para agen Baroque Works yang terlatih saja tidak mampu menahan serangannya selama lebih dari dua puluh detik. Robin menyudahi sparring ini, dengan katananya, ia menyerang dengan kuat pada sisi pipih pedang Zoro, sehingga Shisui pun terlepas dari genggaman sang bocah. Ia merengut kesal. Ia menyerang sekuat tenaga, dengan marah ia menyerang Robin secara bertubi-tubi, namun segala serangannya itu tak membuat Robin kewalahan.
Robin sekali lagi menyerang sisi pipih Sandai Kitetsu sehingga pedang terkutuk itu terlempar dari tangan Zoro. Zoro berkonsentrasi, kalau sampai ia kehilangan pedang terakhirnya ini, habislah sudah. Ia dengan perlahan mengambil Muramasa di mulutnya, berkonsentrasi dengan gerakan lawannya.
"Ittoryuu...Shishi Sonson!"
Zoro dengan gerakan secepat kilat menyerang Robin. Sang target yang terkejut dengan kecepatan serang Zoro yang bertambah, hanya sempat menghindar sedikit, menyebabkan lengannya mengeluarkan cairan merah pekat.
Robin menerjang kearah Zoro, lengannya berdenyut-denyut, tapi tak ia pedulikan. Ia menyerang pedang terakhir yang dibawa bocah itu, namun kali ini bocah itu masih bisa menahannya. Tetapi, perbedaan tenaga orang dewasa dan anak kecil memang berbeda, Zoro tak bisa menyaingi tenaga Robin. Pedangnya mencuat keluar dari genggamannya, dan perlahan-lahan jatuh ke tanah. Ia menganga mentap pedang itu.
Ujung pedang yang tajam ditujukan di leher Zoro. Ia kalah lagi dari seorang perempuan. Ia sudah menduga hal ini. Ia malu, kesal, marah. Ia juga telah melukai lengan lawannya itu. Ia sudah siap menerima kemarahan dari lawannya itu. Namun yang terjadi berbeda dari bayangannya. Wanita itu membuang pedangnya dan mengulurkan tangannya ke arah Zoro. Robin tersenyum .
"Kau hebat sekali, aku salut padamu."
Zoro menganga tak percaya. Bukankah seharusnya wanita itu membencinya karena telah melukai lengannya?
"Teruslah berlatih, suatu saat kau akan lebih unggul dariku."
Zoro tersenyum. Ia harus menerima kekalahannya kali ini dengan lapang dada. Pertarungan ini akan menjadi pelajaran yang berharga untuknya. Ia harus terus berlatih dan tak boleh melibatkan emosi dalam pertarungannya.
Ippon-Matsu tercengang. Baru kali ini ia melihat ada orang yang sanggup membuat mantan Nona mudanya itu kewalahan. Ia cepat-cepat masuk kedalam tokonya dan mengambil sebuah pedang yang paling berharga miliknya. Zoro dan Robin kembali masuk ke dalam toko itu dan melihat Ippon-Matsu membawa sebuah pedang yang sangat bagus dan tajam. Ippon-Matsu menyerahkan pedang tersebut pada Zoro.
"Ini pedangku yang paling berharga, Yubashiri. Ambilah, aku merelakan pedang itu agar ia bahagia bersama tuannya yang berbakat. Tolong jaga baik-baik."
Zoro menerima pedang itu. Ia tersenyum. "Terima kasih, Ossan. Akan kujaga pedang ini."
"Ah, berapa total semuanya?" Robin mengeluarkan dompetnya dari dalam tas.
"Tidak usah, nona. Aku sudah cukup senang bila pedang-pedang itu ada ditangan orang berbakat."
Robin berpikir sejenak. "Terima kasih banyak, Ippon-san, kami pamit dulu." Robin beranjak keluar toko menuju mobilnya. Zoro mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Ippon-Matsu. Ia lega sekarang sudah memiliki tiga pedang, dan semuanya berkualitas. Zoro masuk ke mobil dan melihat Robin memakai hanphone nya. Ia menyadari Zoro sudah naik ke mobil. Ia tersenyum.
"Sekarang kita pulang, yuk." Mobil itu melaju kencang menuju apartemen Robin.
Hari itu, jumlah rekening seorang pria bernama Ippon-Matsu, bertambah satu juta yen.
A/N: Satu, Maafkan Apdetnya yang amat sangat super terlambat! Saya lagi dicekokin sama tugas, ulangan, dan game online *plak*.
Dua, Maafkan saya kalo banyak typo, dan salah di nama-nama pedangnya. Muramasa dan Masamune memang ada.
Tiga, Maafkan saya kalau adegan pertarungannya cacad, saya paling ga bisa buat adegan action.
Empat, Sekali lagi saya minta maaf atas perubahan genre dan penghilangan pairingnya. Saya berpikir bahwa cerita ini makin lama makin bertele-tele, jadi sehabis ini saya mau langsung ceritanya to the point aja, ntar kepanjangan malah makin bosen. Tapi saya janji di sekuelnya, bakal ada pairing SanNa dan LuHan, maaf ya!
