HI!!!! TUH!!! Bener kan!!! Ada yang salah! Hi!!! Ditambah lagi lama Up2dated ya!
Thanks yang dah review…jadi tau…
Hiks, telat…Updated…Hue~ gara-gara ngerenovasi rumah, ngelap barang yang tertampel debu, de el el. Enggak ada kesempatan dah karena komputer cuman satu, adek facebook terus, mam juga ikut-ikutan. Ditambah lagi, bagi rapot. Untuk saja enggak ada masalah dalam nilaiku. Fyuh~Hue…*curhat mode : On*
Ah! Lupa! Soal ini!
(1) Yangire. Ini tuh sifat orangnya lembut, innocent, penampilannya ok, baik. Tapi, diam-diam mempunyai sisi yang kelam dan menyimpang karena hal yang buruk. Psikopat termasuk hal ini lho. Tapi, untuk kasus Hiruma sepertinya dari sononya dah menyimpang =_=;
Nah~ tanpa ba bi bu bencong, kita Lanjutkan fanfic yang puanjang ini!!! I'm sorry klo kurang gimanaa gitu. Sok puitis lah. Apalah, kurang sreg lah. OOC lah. Kurang Romanlah, kurang jelaslah. Ah~ perkataanku yang tadi termasuk warning ya~ ngg…fanfic ini sedikit pendek karena ada…cek saja sendiri!
Eyeshield 21
By Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
Fanfic by Alumina Akari –chan
Kue Sus Favoritku Bab 7
.
.
.
Selasa, 15.20
Kamipun duduk di bangku sebuah taman. Jalanan becek bekas hujan. Akupun melahap beberapa kue sus sedangkan Hiruma mengunyah permen karetnya sambil melihat-lihat sekeliling. Uwa…sungguh beruntungnya diriku ini. memang sih awalnya sial terus. Tapi, bayangin deh! Dapat sekotak kue sus besar, rasanya macam-macam, dan lain-lain. Ditambah lagi…uangku tersisa cukup banyak. Yah~ lumayan. Buat beli kue lagi bulan depan ^^
"Hei! Jelek!" sahut Hiruma sembari menyilangkan kaki.
"Hwapa? Hnanthi huwlu. Haghi maham neuh." Kataku dengan mulut penuh kue sus ^^;
"Kamu ngomong apa sih?! cepat habiskan lemak itu dari mulutmu! Ane sialan! Kau seperti Kurita versi cewek!" sindirnya dengan kasar.
"Hwapa!!! Huenauk hahjha dihamahim ma Hulithua!" balasku. Habis…kesal sih. Enak aja sebut mahluk paling 'cantik' di sekolah Deimon mirip sama Kurita yang besarnya kayak TV LCD 24 inci yang dipromosiin di mall ini (Bahkan lebih!). Yah, wajar saja sih. Habis, ngomongku kayak gini =_=; Tapi…ngapain sih Hiruma nanya-nanya tadi?
Lalu, beberapa saat kemudian, setelah menghabiskan kue sus yang ada di mulutku, akupun bertanya kepada Hiruma.
"Eh, Hiruma. Ngapain tadi nanya-nanya? Kalau kamu ngejek kue sus yang ada di mulutku tadi? enggak aku ladeni!" tanyaku dengan sesekali mengelap mulutku. Siapa tahu ada serpihan-serpihan kecil kue sus. Nanti jika ada, bisa malu deh!
"Hei! Jelek! Kenapa sih sebegitu GILAnya sama kue sus atau cream puff? Apalagi kalau ada MADE IN KARIYAnya. Mang napa sih?" tanyanya. Tumben! Enggak macem-macem kayak biasanya.
"Kenapa nanya kayak gitu Hiruma?" tanyaku penasaran.
"Ah~ pengen tahu aja kok. Mungkin ada sesuatu ato…apalah! Ke ke ke…" jawabnya sambil menyeringai. Huh! bilang saja kamu ingin nambah Black Mail padaku. Hah…tapi kuceritakan saja deh. Apalagi enggak ada yang berbahaya. Yah! Menurutku…=_=;
"Ya udah deh! Tapi jangan motong-motong jalan ceritaku ya! Begini…ini saat 10 tahun lalu…"
------- Senin, 12 Juli tahun XXXX ------
Hari itu…aku bersama ayah dan ibu pergi ke mall disalah satu kota Tokyo. Mall itu besar sekali. Apalagi hari itu sedang ada pameran kue. Banyak sekali kue-kue yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Aku kagum sekali dan tanpa sadar aku terpisah dari kedua orang tuaku. Saat itu…ramai sekali. Aku yang waktu itu belum tahu apa-apa dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku mencari orang tuaku kesana kemari sampai kakiku pegal. Ditambah lagi, aku lapaaar sekali. Aku takut, lapar, dan sendirian. Disaat itu, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang lewat dan menemaniku dan memberikan sekotak kue. Dan itu adalah kue sus dan beberapa cream puff. Aku senang dan memakannya. Rasanya…bagaikan setitik cahaya menerangi kegelapan. Dan…
"Cut!!! Cut!!! Stop!!! Jangan ceritakan bagian itu Ane sialan. Butuh 5 jam untuk menjelaskannya!!! Dasar!!!" potong Hiruma sembari berteriak tidak terlalu keras.
"Uh..uh! sudah kubilang jangan memotong ceritaku! Kan sudah kubilang…Huh!" kataku sembari menunjukkan muka kesal. Habis…menurutku itulah yang paling seru. (Yah…menurutku ^^) Lalu, akupun melanjutkan ceritaku. Oh, ya? sampai dimana tadi? kalau tak salah…
Rasanya…bagaikan setitik cahaya menerangi awan hitam. Dan…(A/N : 5 jam kemudian…ha ha…:)Lalu, akupun bersama anak laki-laki itu. Dia membantu untuk menemukan orang tuaku. Aku yang tadinya histeris enggak jelas, perlahan-lahan tenang dengan adanya dia. Yah, bisa dibilang, dia cinta pertamaku ^^. Tapi, sayangnya dia enggak bisa menemaniku untuk beberapa waktu karena dicari-cari oleh ayahnya. Maka, akupun berpisah dengannya. Ditambah lagi, aku mau menanyakan namanya tapi sudah keburu pergi. Sepertinya aku sih tahu karena ayahnya teriak-teriak namanya. Tapi aku lupa…Lalu, tak lama kemudian, akupun bertemu orang tuaku di salah satu toko pakaian. Dan hari itu, menjadi hari yang selalu kuingat dan sejak saat itu, aku menyukai kue sus yang dia berikan untukku. Dan kue sus itu selalu mereknya Kariya Bakery karena kue merek itu rasanya sama persis dengan kue sus pemberian anak itu. Makanya, aku jadi Otaku kue buatan Kariya karena dia…
"Oh…begitu toh. Ngomong-ngomong, anak laki-laki itu kayak gimana?" tanya Hiruma.
Akupun menjawab pertanyaan Hiruma tadi. "Anak itu rambutnya hitam, jabrik, yah…rada-rada mirip kamu lah. Bedanya sih paling-paling sifatmu yang terlanjur setan itu dibanding dia. Selain itu…uhm…ayahnya mirip dengan dia dan dia rada-rada gimana…gitu. Bisa dibilang, punya aura hitam kayak kau. Trus…"
"Cih! Itu kan…" kata Hiruma tiba-tiba. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu. Aku mau tahu.
"Ada apa Hiruma?" tanyaku.
"Enggak kok, jelek! Ke ke ke…kalau ketemu dia aku mau tanyain kenapa enggak kue ketan lengket rasa asem saja yang diberi supaya kecerewetanmu berkurang, Ane sialan?" katanya sembari mengejek dan terkekeh.
"HIRUMA!!!"
Comment from SenaSuzu :
Suzuna : Sena, kamu tau siapa cowok yang kak Mamo maksud?
Sena : E, enggak tahu. Kayaknya tahu tapi kayaknya…pernah deh apa~ gitu.
Suzuna : iya. Bener juga.
Selasa, 16.14
Lalu, aku dan Hiruma berjalan-jalan. Sesekali aku atau Hiruma terkena percikan air akibat genangan air yang diinjak oleh pengunjung lainnya. Dan sesekali Hiruma mengomel enggak jelas dengan menyebutkan semua hewan yang ada di kebun binatang. Lalu, kamipun masuk ke dalam mall. Disana…huff, ramai deh. Terus, berisik lagi soalnya banyak yang ngobrol dan promosi. Terlihat seorang salesman lagi menawarkan produk sembari mengangkat kakinya yang lentur. Kayaknya pernah lihat deh kebiasaan itu. Tapi, siapa ya? Lalu, aku melihat sosok. Sosok yang kukenal tapi…siapa ya? Duh! Apa gara-gara aku cerita tentang kue sus itu jadi enggak nyambung ini otak? Dan ternyata…itu temanku, Ako! Cewek kacamata itu lagi ngapain? Bawa cowok lagi. Apa itu pacarnya? Setahuku dia masih jomlo. Penasaran, akupun menghampiri dia.
"Hai!" sapaku.
"Hai juga, Mamori. Eh, ngomong-ngomong…siapa yang ada di sampingmu??? u fu fu…" kata Ako sambil tertawa kecil. Sepertinya aku mengenali gaya ketawa itu tapi entah siapa. Dan dari ketawanya itu, sepertinya ada firasat buruk. Entah apa.
"Oh, ini. dia teman jauhku. Namanya Youri Himura." Jawabku.
"Teman? Kalian hanya temanan? Pengangan tangan gitu dari tadi. E he he…" ujar Ako. "I, ini…a…aku…"
"Stop! Stop! I now, I now. He he…memang susah ya jadi murid terpopuler di SMA Deimon. Selalu dikejar, selalu digosipin yang macem-macem, bahan tatapan sinis bagi yang kontra kamu, dan lain-lain. Tidak heran kamu harus Backstreet (1)dari kita semua. Trus, sama cowok ganteng yang sengaja dari tempat lain supaya tidak ketahuan. U fu fu…" jelas Ako. Eh, sepertinya ada kesalahpahaman disini. Mana sebut Hiruma tadi cowok ganteng lagi. Apakah Hiruma yang biasanya dibilang ganteng? Kurasa tidak. Malah nakutin. Makin gaje saja nih hari ini.
"E, he…trus, siapa yang bersamamu ini? kalian Backstreet ya?" kataku sambil berusaha memojokkan dia.
Lalu, cowok yang bersama Ako pun berbicara. "Masa enggak tahu sih? ini aku, Mamori. Aku sengaja menyamar supaya dapat diskon dress setengah harga! He he…" kata cowok itu. Eh, ralat! Cewek.
"Sa, Sara…" kejutku. Ternyata…sampai inginnya dapat diskon sampai menyamar segala. Mana mirip lagi sama cowok sungguhan. Dan Hiruma mengeluarkan buku ancamannya dan menuliskan sesuatu. Ternyata dia menemukan bahan ancaman baru. Sungguh malangnya nasibmu…terikat benang merah berdarah dengan setan…
"Tenang saja, Mamori! Aku bakal rahasia-in kok! he he…tenang saja!" kata mereka berdua. Tapi…tetap saja khawatir.
"Hei, jelek! Apa maksudmu tentang hal yang tadi mereka bicarakan? Disangka Backstreet? HAH?" protes Hiruma. "Cih! Tapi nanti aku ancam mereka sebagai pasangan lesbi. Ke ke ke…" senyumnya pun kembali menyeringai.
"Hei! Jangan kayak gitu dong! Enak saja!" belaku.
"Enak-enak saja terserahku dong! Salah sendiri!" balasnya.
Huh, daripada bentrok enggak ada jelasnya, mending aku jalan-jalan lagi. Yah, mall ini baru setengah aku jelajahi.
"Eh, Hiruma. Ke lantai atas yuk! Ke Timezone." Ajakku.
"Terserah deh. Asal jangan ke Kariya Bak sialan itu." Jawabnya. Heh! Lagi-lagi mengejek hal favoritku itu. Alhasih, kami bentrok dengan noraknya di tengah ramainya mall.
Comment from SenaSuzu :
Suzuna : huh, ayah jangan malu-maluin napa! Dicengirin orang tau!
Sena : jadi itu ayah Suzuna?
Suzuna : daripada itu, kayaknya mulai menarik nih…
------------------
Ah~ segini saja ah~ Hmmm pendek sekali =_=;banyak kerjaan. Mulai dari mandi, makan, les padahal sedang liboer. Lalu..de el el. Saia jelasin yang dikasih nomor ah~ takutnya kayak chap sebelumnya TT^TT
(1) Backstreet. Pacaran sembunyi-sembunyi. Enggak ada orang yang tahu selain pacar kita sendiri. Biasanya beda sekolah, beda tempat kerja supaya tidak dicurigai. Kurasa para readers dah tahu apa artinya ini. jadi, saia jelasin dikit saja ya.
Cerita Tambahan :
Ini hanya sebuah coretan saja kok dari jaman penjajahan Belanda(?) cemoga kalian bisa memahaminya….YA HA!
Warning : tuh liat diatas…
Hiru_chan POV. Ke ke ke…Hiru_chan kayak nama cewek saja *digebuk Hiruma pakai barbel(?)*
10 tahoen jang laloe…
"TIDAK MAU!!!" teriakku kepada ayah dan ibuku.
"Tapi Yoichi…kan jarang-jarang kita bersama. Ayolah…pasti bosan kan dirumah?" kata ayahku yang cerewet ini.
"Memangnya kenapa, Yoichi? Hari ini cerah lho. Apalagi disana mungkin ada barang yang ingin kau beli." Tawar ibuku. Hah…menyebalkan.
Baiklah, mungkin para readers sialan belum mengerti. Ok, aku Yoichi Hiruma. Bocah berumur 7 tahun. Salah satu murid paling pintar dan…yah, gitu deh. Hari ini orang tuaku mengajakku jalan-jalan. Cih! Merepotkan saja. Padahal, hari ini aku mau dirumah untuk menamatkan game PSP yang aku beli kemarin(?). terus, main komputer dan hal-hal yang ingin dilakukan oleh murid sekolah dasar pada masa liburan. Jalan-jalan sih oke. Tapi, malas ah. Apalagi ada acara yang bagus di TV. Kenapa sih enggak besok saja? Jangan-jangan ulah peramal cuaca aneh itu. Dengan sintingnya ia meramalkan bahwa besok akan hujan. Atau…yah, orang tuaku sibuk. Ayahku pemain shogi sekaligus kerja dan ibuku berkerja. Dan hari ini mereka cuti dan besok mereka kerja lagi.
"Yoichi, bagaimana?" tanya ibuku sekali lagi.
"Ayo dong. Nanti ayah belikan yang kau mau." Tawar ayah.
Gimana ya? apa boleh buat. Daripada tawaran mereka bisa membuat telingaku panas, ya sudah deh. Sebagai pelampiasannya, aku bakal beli sebanyak-banyaknya.
"Ya sudah." Jawabku kemudian. Hah…merepotkan. Lalu, akupun segera ke mobil.
oooooOOOOOooooo
Tch! Ramai sekali sih. siapa sih yang mau datang kesini jika ujung-ujungnya hilang atau kecopetan? Yah, kami berada di sebuah mall. Pada awalnya dih mau ke kebun binatang. Tapi…bosan ah. Bisa liat di internet hewan-hewan sialan itu. Dan lalu ke taman ria tapi malas ah. Belum boleh naik Jet Coaster sih…masa, mau naik komidi putar dan pesawat berputar sialan itu? Itukan buat bocah (sendirinya juga bocah lhooo) Lalu, pada akhirnya, kamipun ke mall ini.
Singkat saja, ngeliat barang-barang yang dipromosiin, nolak sales-sales sialan itu yang dari tadi ngikutin mulu. Pengen beli senjata tapi yang ada hanya senjata tiruan enggak asli. Dasar mall abal! Yah…akupun hanya membeli CD PS2 dan beberapa komik shounen. Padahal sudah tekad untuk beli banyak barang supaya uang mereka bangkrut. Tapi, malas ah. Enggak ada barang yang menarik.
"Yoichi, mama mau ke departement Store dulu. Mau ikut?" tanya mama.
"Emangnya aku bocah metro seperti mama? Enggak ah. Baju dah banyak." Jawabku kepada wanita yang amat-sangat-rajin membelikan baju. Paling sedikit 10 buah. Kalau banyak bisa lebih dari itu.
"Kalau begitu ikut ayah saja. Kalau mau apa-apa minta ayah." Kata ibuku.
"Baiklah." Daripada jadi korban kekerasan ibu-ibu berburu sale karena diinjak-injak, dan korban ibuku untuk mendapatkan baju yang dia inginkan dengan memanfaatkanku karena aku bisa menyusup, akupun pergi ke toko eletronik, toko tempat ayah berada.
OOOOOoooooOOOOO
"Yoichi, mama dimana?" tanya ayah sambil mencoba laptop dan diam-diam menghacknya.
"Di tempat ibu-ibu berperang demi baju murahan sampai mati. Ke ke ke…" jawabku. Ayah pun mengerti tempat yang aku sebutkan tadi. "Ayah, aku lapar. Mau makan." Kataku kemudian.
"Baiklah. Kita beli kue saja, ya. tadi ayah lihat restoran penuh semua." Jawab ayah.
"Sama saja." Sahutku.
Lalu, kamipun membeli kue di toko yang enggak terlalu rame kelihatannya. Kayaknya masih tahap promosi. Lalu, kami membeli sekotak besar. Kata ayah, itu buat ibu jika kelelahan di tempat berperang nanti.
"Ah, Yoichi. Tunggu disini. Ayah mau ke toilet dulu." Kata ayah sambil pergi dan menitipkan kue yang diketahui adalah kue sus dan beberapa cream …bosan. Males ah liat orang-orang lalu-lalang kayak setrikaan gini. Lalu, akupun pergi ngeloyor sendirian. Nanti kalau dicari, tinggal panggil mereka dari ruang informasi atau hack ajah kamera pengawas yang tersebar di seluruh mall.
Dan akupun jalan-jalan sambil ngemil. Lumayan enak juga. Enggak kalah dari permen karet yang biasa kumakan. Rasanya lumayan dan manisnya pas. Terutama cream puffnya. Yah, lumayan. Bisa liat barang-barang bagus dan sesekali mencuri makanan sales yang dijajakan. Kalau ketahuan, tinggal teriak-teriak 'mama!!! Ada makanan enak nih!' sambil ngeloyor pergi, kabur. Ke ke ke…salah sendiri ditaruh sembarangan. YA HA!
Ah~ lelah juga…untuk sementara, aku duduk disini dulu deh. Di kursi yang dipinggirnya adalah pagar kaca yang pemandangannya adalah ke bawah. Dan suara pengumuman yang kehilangan anak atau anggota keluarga makin ramai. Sepertinya orang tuaku belum tahu kalau aku ngacir sendirian. Lalu, aku mendengar suara, suara anak perempuan menangis. Dan karena penasaran, akupun menghampiri asal suara itu dan berasal dari sebuah toko kue.
"Hei, ada apa hah?" tanyaku kepada anak perempuan itu. Dia menangis.
"I, ibu…enggak ada. Ayah, kemana?" jawab anak itu sambil menghapus air mata dengan tangannya. Sepertinya ia seumur denganku meskipun tubuhnya kecil tapi itu bisa didengar melalui cara bicaranya. Tapi, cengeng sekali sih. padahal aku terpisah dari orang tuaku saja masih tenang-tenangnya.
Gimana ya? aku enggak ada waktu nih buat ngeladenin anak cengeng ini. Tapi…oke juga. Siapa tahu ortunya ketemu terus dikasih apaa gitu. Sekalian keliling-keliling mall ini. lalu, ke tempat informasi.
"Ya sudah. Aku bantu cari orang tua kamu. Nih, untukmu." Kataku sambil memberikan sekotak kue yang dari tadi berada di tanganku.
"E, enggak apa-apa nih?" tanya anak perempuan itu. Aneh, matanya biru lho. Terus rambutnya coklat. Mungkin anak ini blasteran negeri asing.
"Enggak apa-apa. Asal kamu jangan nangis terus." Jawabku kepada anak itu. Dan anak itu pun memakan kue yang ada di dalam kotak itu. Lahap sekali. Mungkin dia sudah kehilangan orang tuanya dari tadi dan ia kelaparan karena enggak ada uang untuk beli makanan. Lalu, akupun menemani anak itu. Sepertinya, ia sudah enggak nangis lagi.
oooooOOOOOooooo
singkat, singkat. Malas ah ngejelasinnya sama para readers sialan. Aku bersama dia ke toko pakaian. Siapa tahu ibunya sama GILANYA dengan ibuku. Mempertaruhkan seluruh jiwa dan raga untuk baju impor. Tapi ternyata enggak ada. Mungkin di toko pakaian yang lain. Dan ibuku enggak ada juga. Bah! Paling-paling di ruang informasi. Lalu, kamipun pergi ke toko eletronik, ke toko buku, kaset, dan lain-lain. Dan aku mendengar suara. Suara…yang aku kenal…
"Yoichi! Yoichi! Kamu tuh ya…kalau ingin pergi bilang ayah dong." Teriak ayahku. Berisik!
"Iya, iya…dasar." Sahutku. "Hei, kamu enggak apa-apa kan ditinggal disini?" tanyaku kepada anak perempuan blasteran itu.
"Ng…enggak apa-apa kok. makasih ya kak, sudah ditemani. Aku enggak apa-apa kok. karena kakak, aku enggak nangis lagi." Kata anak perempuan blasteran itu sambil tersenyum. Sepertinya ia enggak tahu kalau aku dan dia seumuran karena dia panggil aku kakak. Biarin saja. Daripada dipanggil om-om. Ke ke ke…
"Kalau begitu, kamu ke toko pakaian yang ada disana saja. Siapa tahu ada orangtuamu. Kalau enggak ada, ke lantai bawah. Jika takut, minta sama om satpan saja." Kataku sambil menunjuk seorang satpam.
"Terima kasih ya kak!" kata anak perempuan blasteran itu. Lalu, akupun ke tempat ayah. Sempat ada suara dari anak perempuan itu tapi…enggak dengar ah. Habis ramai banget neh mall.
"Ng…Yoichi, tadi kamu ngapain?" tanya ayah.
"Keliling-keliling dan curi makanan contoh. Ke ke ke…" jawabku.
"Ngomong-ngomong soal makanan, mana kotak kue yang tadi ayah titipkan?" tanya ayah.
"Aku habiskan semua." Jawabku singkat, padat dan jelas.
Dan hari itu menjadi hari yang…yah, bisa keliling-keliling tanpa omelan ortu. Okelah.
Waduh, panjang skalee. Lepiew yah…
