Title: Test for Kira

Disclaimer: Gundam Seed/Destiny, sekali lagi, punya BANDAI DAN SUNRISE! SAYA GAK NOEL-NOEL!

Genre: Romance/Humor/Frienship/Suka/Suka/Saya/Aja/Lah

Plak!

Pairing : KiraXLacus, KiraXMeer

Warning : AU, OOC, Abal, norak, gaje, jayus, alur satsut (?), gak nyambung. Gitu deeeh

A/N: Haloo minna-saaaan~~ Ketemu lagi dengan saya si author gaje penelantar fic (lho?) Seperti yang saya katakan, saya telah menelantarkan fic ini selama berbulan-bulan yang saya sendiri sampe males ngitungnya. *taboked*

Nah, karena sudah lumayan lama gak buat fic lagi, semoga episode kali ini nggak begitu mengecewakan dan bisa menghibur readers semua ^^ walau saya jamin pasti ada kerenyes di dalamnya. Nah, daripada saya kebanyakan bacot lagi...

Enjoy, all! ^^

.


Test for Kira

Chapter 7


.

"Dan sekarang saat yang ditunggu-tunggu telah tiba! Pengumuman pemenang akan diumumkan sekarang juga dari keputusan para juri kita yang terhormat—dengan penilaian objektif tentunya! Mr. Andrew Walablawaf... saya serahkan keputusannya pada anda!" Suara sang pembawa acara menggelegar di aula gelap yang penuh sesak dengan beberapa pelajar dan pejabat kelas atas. Pria bertampang sangar itu naik ke panggung dan melancarkan death glare pada MC kurang asem yang menyebutkan namanya dengan asal-asalan. Namanya 'kan tidak sesusah itu disebutkan, pikirnya.

Orang-orang bertepuk tangan menyambut kedatangan Andrew dari pinggir aula. Suasana semakin riuh sampai tak ada peserta yang tak tegang.

"Aku yakin kau pasti menang, Lacus!" seru Cagalli dengan cengiran lebarnya saat menepuk bahu kanan sobatnya.

"Um! Doakan aku, Cags!" balas Lacus dengan wajah berseri-seri. Sebutir keringat mengalir menyusuri lekuk pipinya.

"Lacus!"

Cagalli dan Lacus segera menoleh ke belakang untuk melihat si pemanggil. Berdiri Meer dengan nafas tak beraturan sambil menyerahkan sebuah ponsel. "Kau ini daritadi kupanggilin! Nih, ponselmu bunyi terus. Mau kujawab gak enak. Nitip, sih nitip, tapi jangan sampai lupa gitu, dong!" gerutunya.

Lacus pun hanya nyengir tak berdosa dan mengambil ponsel merah muda yang diserahkan Meer. Ponselnya berbunyi lagi. Dilihatnya nama yang tertera di layar dan tanpa banyak berpikir, dijawabnya panggilan itu. "Moshi-moshi, Athrun.. dou—"

"Lacus, dengarkan dengan tenang. Tadi Kira kecelakaan saat menuju ke tempatmu. Sekarang sedang dirawat di klinik Akatsuki dan baru saja dipindah ke ruang 108, tak jauh dari balai kota..."

Deg!

Tubuh Lacus menegang. Matanya membelalak dan mulutnya terkatup rapat. Ia terus memegangi dadanya yang mulai sesak. "Ke..kecelakaan Athrun?"

Cagalli dan Meer ikut kaget mendengar kalimat itu dari bibir Lacus. Mereka saling bertatapan dan bertanya siapa yang dimaksud.

"Hei, hei, tenanglah! Kau harus tenang, lombamu sudah selesai? Kau...eh, sebentar..."

Tak diacuhkan lagi kalimat Athrun yang masih terdengar dari seberang telepon. Dengan segera Lacus menjatuhkan ponselnya begitu saja dan menghambur ke pintu keluar khusus peserta.

"Lacus!" panggil Cagalli yang ditinggal begitu saja. Ia menoleh ke arah Meer yang berdiri mematung, "Meer-san, kau tetap di sini! Aku akan kejar Lacus." Pernyataan tadi adalah sebuah perintah yang tak bisa dibantah karena Cagalli lebih dulu berlari mengejar Lacus.

Sesampainya di depan gerbang Gedung Seni, Lacus langsung mencegat taksi, disusul Cagalli di belakangnya, dan langsung melesat ke klinik Akatsuki yang kalau ditilik lagi, sih cuma berjarak lima puluh meter dari tempat ini. Meer yang ditinggal begitu saja hanya dapat mematung sambil memegang ponsel Lacus—yang lagi-lagi 'dititipkan' padanya.

"...dan sang juara pertama yang meraih nilai tertinggi dari para juri dan respon yang tak kalah hebat dari para penonton, peserta nomor empat belas, Lacus Clyne!"

Meer hanya mampu menelan ludah. Ini gawat...

.


Derap langkah kaki yang saling berlomba memecah keheningan di koridor klinik yang tak begitu besar. Mata Lacus dan Cagalli dengan lincah membaca tiap nomor yang ada di pintu sepanjang koridor. Cagalli sudah diberitahu apa yang terjadi dan kini ia tak bisa berhenti khawatir. Saudara kembar sekaligus saudara satu-satunya kini entah bagaimana nasibnya karena kecelakaan. Cagalli bersumpah dalam hati ia akan memukul Kira begitu mereka bertemu karena berhasil membuatnya cemas setengah matang, ditambah kecap dan diolesi saus tomat.

"Di sana!" seru Cagalli sambil menunjuk ke arah kamar di sisi kiri, dua pintu dari tempatnya sekarang.

Tanpa membuang waktu, Lacus segera berbelok dan membuka kasar pintu itu, menimbulkan suara keras tanpa memikirkan konsekuensinya. "Kira!"

SIIIING...

Hanya kesunyian yang menghampiri. Lacus dan Cagalli terpana dengan apa yang ada di depannya. Pikirannya benar-benar kacau. Tangannya terlepas dari kenop pintu dengan gemetar. Tanpa dikomando kakinya melangkah mundur. Tidak tahan. Ia benar-benar tidak tahan...

...ia tidak tahan malunya salah masuk kamar orang!

Ia segera membungkuk cepat dan menutup pintu sambil menyahutkan kata maaf berulang kali yang dibalas bentakan terganggu dari si empunya kamar. Padahal tadi sudah keren-kerennya kayak di film-film. Lacus menyandarkan punggungnya ke dinding dan menutup wajahnya sembari mengambil nafas dalam-dalam.

"Kita memang harus tenang, Lacus. Kejadian tadi...err...anggap saja tidak ada. Ya! Tidak ada," hibur Cagalli dengan seulas senyum simpul sambil menepuk-nepuk bahu temannya itu.

Lacus mendesah lalu menurunkan tangannya. "Terima kasih, Cagalli. Kau benar-benar membuatku lebih baik." Majas ironi tentu saja. Dalam hati Lacus mengutuk, siapa yang bilang kamar itu, hah? Lacus mengedarkan pandangannya ke papan nomor yang ada di pintu. Tidak salah, kok. 108.

Kedua gadis itu menoleh saat sebuah pintu tepat di samping tempat yang mereka tuju tadi terbuka pelan, menimbulkan decitan kayu.

"Lacus, Cagalli? Kalian sudah di sini?" Sosok remaja berambut biru itu muncul dari celah yang terbuka. Wajahnya kusut dan rambutnya acak-acakan. Wajahnya juga sedikit pucat.

"Athrun!" seru keduanya bersamaan. Mereka langsung menghambur ke arah Athrun yang langsung mundur beberapa langkah karena bobot tubuh Cagalli yang langsung menubruk dan memeluknya.

"Kira... apa yang terjadi padanya? Bagaimana bisa kejadian seperti itu? Bagaimana keadaannya?" Pertanyaan Cagalli terus menghujaninya, membuatnya bingung.

Athrun berpaling sebentar untuk menata kata-katanya. Saat itulah sudut matanya mendapati Lacus yang sudah berada di samping ranjang Kira dimana pemuda berambut coklat itu terlihat begitu tenang. Tangan itu perlahan membelai rambutnya, mengalir ke pipinya, lalu terakhir bermuara di dagunya. Tak ada reaksi. Kira hanya diam seakan terlelap adalah satu-satunya yang paling ia nikmati di dunia ini.

Ehem! Dari sini kita melenceng dulu ke genre hurt/comfort *halah*

Perlahan air mata itu menetes juga. Membasahi pipi kanan sang kekasih.

(Jeda sebentar! Author gak kuaat! *bgm: Playboy -7icons )

Baiklah, kita ganti lagi bgm-nya: Before you go - DBSK

"Kira...kenapa kau begitu bodoh, sih sampai beradu dengan mobil begitu...?" ujarnya lirih. Suasana sungguh sunyi. Hanya terdengar desisan nafas teratur Kira, isak tangis Lacus, dan suara ramai dari tv yang menyala di sudut atas dinding.

"La—" Ucapan Athrun tak sempat ia selesaikan karena Cagalli lebih dulu membekap mulutnya dan mengirim death glare yang berarti: Biarkan saja bodoh! Biarkan mereka berdua saja saat ini!

Saat hendak menyeret Athrun ke luar, Athrun tetap bersikukuh untuk tinggal dan mengucapkan sesuatu. Kini Cagalli mendesah dan membekap mulut pacarnya itu lagi. Sekali lagi, ia memberi death glare: Kau ini benar-benar manja! Baiklah kita tidak ke luar, tapi bisakah kau diam?

"Kira...jawab aku, bodoh! Kau mau meninggalkanku begitu saja, ya!" seru Lacus sambil mengguncang-guncangkan tubuh itu kuat di bagian kerahnya.

"La—"

"KUBILANG BANGUN!"

Plak!

Plak! Plak! Plak! Plak! Plak! Plak!

Cagalli dan Athrun hanya dapat menganga bin cengo melihat aksi tamparan beruntun dari Sang Dewi Sekolah yang menampakkan keganasan dan keteguhannya untuk membangunkan Sang Pangeran.

"Hm? Lacus?"

Dia bangun! Jerit mereka berdua dalam hati.

Kira melepaskan jeratan kerah bajunya dari tangan Lacus perlahan dan memasang posisi duduk. Diedarkan pandangannya ke sekitar dan ia garuk-garukkan kepalanya tanda bingung. Seolah tak pernah terjadi apa-apa dan dia benar-benar hanya baru bangun dari tidur. Tanpa luka, tanpa cacat.

"Athrun...?" Cagalli akhirnya melepas bekapannya dan mendongak untuk meminta jawaban.

"Makanya daritadi aku mau ngomong dihalangin mulu, sih!" gerutu Athrun, melepaskan tangan Cagalli dan mulai merapikan bajunya. "Pertama, maaf tadi aku memberitahu nomor kamar yang salah, di telepon tadi aku mau kasih ralat tapi keburu dimatiin. Lalu, sebenarnya siapa, sih yang bilang kalau Kira kecelakaan mobil? Dia cuma nabrak sepeda tukang antar sayur yang lewat. Itu juga mau kuberitahu keburu dimatiin," jelas Athrun gemas. Ia menjauh dari Cagalli dan membanting dirinya sendiri di bangku penjenguk. "Sudah kusuruh tenang 'kan sejak awal!"

"Heee? Ketabrak sepeda aja pingsan? Kira, aku tak tahu kau selemah itu," celetuk Cagalli. Tak ada maksud jahat dari kata-kata tajamnya.

"Eh? Aku nabrak sepeda, ya? Yang terakhir kuingat, sih sewaktu lari keluar dari gang tiba-tiba semuanya gelap," gumam Kira tenang.

"Ya bisa pingsan. Habis nabraknya pas stamina memang lagi sekarat-sekaratnya. Hari panas, habis tanding bola satu setengah jam-an malah lari-lari berapa kilometer buat ke balai kota. Lalu aku yang udah 'ngap' itu malah harus gendong seorang cowok berbobot sekitar itulah buat ke klinik. Terima kasih, Kira."

Yang disindir—tiga orang itu—hanya bisa nyengir. Athrun bangkit dari bangkunya dan berjalan menuju ranjang Kira sambil mengucapkan 'perintah' tukaran tempat. Kira yang notabene merasa sedikit bersalah langsung mengiyakan dan bangkit dari tempatnya.

"Ah, hei Lacus. Itu liputan tentang lombamu 'kan?" tanya Kira dengan seulas senyum kecil dibibirnya sembari menunjuk ke arah tv di sudut atas.

Keempat orang itu menoleh. Di layar sebesar empat belas inchi itu terpampang suasana ramai di panggung yang sedang dihujani potongan-potongan kertas kecil berwarna-warni—meski tv itu sendiri tv hitam putih, apa yang kau harapkan dari sebuah klinik kecil? Tepuk tangan membahana beserta sorak-sorai penonton. Terlihat tiga orang remaja berdiri di tengah panggung sambil menggenggam sebuket bunga, medali, papan gabus berisi nominal uang yang berbeda-beda, dan sebuah piala yang digenggam oleh seorang gadis. Gadis itu cukup mencolok, selain karena rambutnya yang panjang lurus berwarna merah jambu, pakaian gadis itu pun kasual sendiri sedangkan kedua remaja lain berpakaian formal.

Gawat! pekik Cagalli dan Lacus dalam hati.

"Waah~ Lacus, selamat, ya kau menang!" seru Kira girang sambil menyalami gadisnya dengan wajah berseri-seri. "Maaf, ya aku tidak bisa datang," lanjutnya dengan wajah sedikit mengkerut.

"Aa...mmm...ya..." Lacus speechless. Cagalli hanya shock di dekat pintu karena kali ini ia benar-benar menyadari betapa buoduoh kembarannya ini.

"Nona Lacus Clyne, bagaimana perasaan Anda setelah berhasil merebut piala bergilir kota Orb tercinta kita dalam kontes menyanyi yang sangat bergengsi di tiga tahun terakhir ini? Dan satu hal yang membuat saya penasaran sejak tadi, sepertinya Anda sudah berganti pakaian. Apa Anda sedang terburu-buru untuk pergi ke suatu tempat?" Si Pembawa acara melangkah dengan penuh percaya diri sambil menyodorkan mikrofonnya.

"Tentu saja saya senang sekali! Sampai sekarang saya tak percaya piala ini ada di tangan saya. Dan masalah pakaian, ya, saya memang hendak pergi ke Stadion karena teman-teman satu sekolah saya sedang bertanding, jadi saya ingin mendukung mereka setelah selesai lomba. Jujur saja, saya tidak menyangka akan menang," jawab gadis itu—siapa lagi kalau bukan korban keadaan, Meer—dengan senyum lebar di bibirnya. Profesional sekali. Tapi kalau diperhatikan, sebutir keringat mengucur di pelipisnya.

Kembali ke tempat kejadian sebenarnya.

"Kira. Kurasa ada yang aneh di sini. Bagaimana bisa Lacus dengan pakaian kasual berdiri di sana sedangkan Lacus yang memakai dress ada di sampingmu?" tanya Athrun serius. Ia menunda sejenak hasrat tidurnya.

"Eh? Mudah saja. Itu siaran ulang, kru tv sudah merekamnya terlebih dulu dan sekarang kita menontonnya. Kau tidak pernah belajar, ya, Ath?" jawab Kira santai.

"Enak saja. Kau yang tidak pernah belajar. Siaran ulang tidak punya tanda 'Live' di sudut atas liputannya!"

Kini Kira menyipitkan matanya untuk melihat tanda yang dimaksud Athrun. Lacus gelagapan. Ia benar-benar lupa soal lombanya dan Meer. Dicengkramnya kedua bahu Kira dan ia putar agar berhadapan dengannya. "Eeh, itu bukan lombaku, kok Kira. Itu lomba menyanyi yang lain," dalihnya agak terbata.

Namun kini ekspresi Kira berubah. Ia lepaskan perlahan cengkraman Lacus dengan tatapan masih ke arah tv. Saat Lacus mulai ingin memegang kedua pipinya untuk mengalihkan kepalanya, Kira menolak. Ia sedang serius. Dan Lacus sedikit banyak merasa ngeri jika Kira sudah seperti itu. Tatapannya akan tajam dan fokus, bibirnya terkatup rapat, dan kesan kekanakannya akan menghilang.

"Lacus Clyne..."

Cagalli dan Lacus menelan ludah. Athrun juga ikut-ikutan menelan ludah karena terbawa suasana. Suara dingin dan datar itu benar-benar membuat bulu roma merinding.

"Lacus Clyne...," Kira mengulang panggilannya dengan nada yang lebih tegas.

Lacus mengerti kalau ia harus memberi jawaban kalau tidak mau membuat pacarnya lebih marah dari ini. "Y-ya, Kira...?"

Kepala berambut coklat itu menoleh, menatap mata Lacus lekat-lekat.

"Jelaskan padaku."

.


Sekian untuk hurt/comfortnya (?)...


Hari minggu itu adalah hari yang mengubah keadaan seluruh Orb High School. Bagaimana tidak? Pasangan yang terbilang 'paling' populer selain AsuCaga di Orb High School, kini sedang perang dingin. Ya, tiga hari telah berlalu namun suasana masih mengeruh. Lacus telah menceritakan semuanya. Sejak kapan ia merencanakan dan memulai semuanya. Apa tujuan dan motifnya. Bahkan Meer juga sudah ikut datang bersama Lacus untuk meminta maaf di apartemen si doi. Tapi reaksinya hanyalah...

Hayooo apaaa?

Tebak dong.

Ih, masa gak tau.

Udah tau be—digeret, dibuang jauh-jauh ke tebing.

Baiklah, kita lanjut lagi...

.

Yang dikatakan oleh Kira yang awalnya diam hanyalah, "Oke."

Dan pintu langsung ditutup. Sampai sekarang tidak jelas maksud oke itu apa karena sengaja atau tidak, Kira menghindari Lacus. Kenapa sampai mengubah suasana di Orb High? Jelas saja, teman-teman Kira tak lagi bisa mengerjai atau meledeknya karena sifat Kira yang kini serius dan terkesan datar, setara dengan sang berandal penguasa halaman belakang sekolah, Yzak Joule. Bahkan rumor kalau Kira sudah bergabung dengan komplotan itu sudah menyebar (padahal nggak).

Tapi keadaan ini juga membuat beberapa pihak bersyukur. Contohnya pelatih klub sepak bola, Mwu La Flaga. Setelah kejadian itu kemampuan kontrol bola, konsentrasi, dan ketepatan sasarannya meningkat. Julukan The Lost Chicken? Ah, buang saja deh.

Apalagi Mrs. Murrue—kalian bisa mengira-ngira apa keuntungan yang dia dapat. Apa? Tidak tahu? Ah, lupakan.

Keadaan berbalik pada The Angel Voice kita. Selain pelajaran dan berbagai hal lainnya seperti diam dalam antrian kantin sehingga membuat murid-murid yang mengantri di belakang dongkol—kalau tidak karena kecantikan dan reputasinya selama ini, Lacus pasti sudah habis kena omel—karena kebanyakan melamun.

Dampak yang luas, 'kan?

.


TBC


.

Bagaimanaaa? Gajekaaannn? Abalkaaan? Saya sudah peringatkan! *plak*

Tolong sadarkan saya kembali atau paling tidak tabok saya dengan mengklik ikon balon di bawah (red: minta review) *digetok baskom*

Terima kasih, hounto ni, terima kasih banyak sudah mampir dan meluangkan waktunya untuk membaca fic abal saya ini! Beneran, saya seneng! XD