Disclaimer : Masashi Kishimoto, Something About Lola and some ideas are from GTV^^ -akibat kebanyakan nonton drama Taiwan yang ditayangin di TV tiap Sabtu n Minggu- *sapa yang nyuruh loe promosi????* juga terinspirasi dari videoklip endingnya Naruto Shippuden yang Nagareboshi… trus juga terinspirasi dari fic-nya Raven-sama yang judulnya Some Necklases, Some Promises… sumpah… bagus banget, senpai….saia terharu bacanya….
Summary : And so they fought. And so they laughed. Friends. Before they knew it… they were inseparable.
Rate : T
Warning : AU. POV yang berubah-ubah terus, jadi harap teliti. OOCness yang amat sangat sekali. ^^ . Untuk warning-warning lain coba cari tahu dengan baca ini fic… ahaha~
Pairing : jangan ketipu sama bagian awal, readers rahu sendiri saia bukan penganut straight^^
Inspired by : judul-judul lagunya Something About Lola dan salah satu drama Taiwan yang tadi saia sebutin di atas…nyohohoho… trus jangan lupa juga ama fic-nya Raven-sama…^^
-
-
-
_Seiba Asuka's Present_
_The Best Part of This Life is Him_
_Chapter 7_
-
-
-
Keterangan :
*Italic* = normal's POV
Saia tekankan sekali lagi, font italic yang diapit tanda bintang itu NORMAL'S POV. Padahal kan uda saia kasi keterangan ini tiap chapter, kok masih ada yang tanya ya? O.o –garuk2 kepala bingung-
Happy reading! XD
-
-
-
Akhirnya hari pertandingan final tiba. Begitu pula hari deadline yang dijanjikan ayahku. Sudah selama seminggu ini aku mencoba untuk menolak, melakukan berbagai macam cara untuk membuatnya menurutiku, tapi semuanya sia-sia. Dia tetap saja bertahan dengan keputusan konyolnya. Dia hanya memberi satu kelonggaran : aku diijinkan untuk bermain di pertandingan final ini.
"Sebenarnya apa alasan ayahmu melakukan itu?" bisik Temari padaku. Kami semua sedang melakukan persiapan di ruang ganti dan semua orang sedang sibuk dengan keperluannya masing-masing. Temari memanfaatkan hal itu untuk mengajakku bicara. Dia satu-satunya orang di tim yang kuberitahu mengenai keputusan ayahku.
"Dia tahu aku masih main basket," aku balas berbisik sambil mengikat tali sepatuku. "Dan dia tidak suka itu."
Temari memandangku prihatin. "Tumben kau tidak menurut padanya. Waktu dipindahkan ke kota kecil ini, kau pasrah saja kan?" tanya Temari, akhirnya duduk di sebelahku. "Kalau aku boleh tanya… kenapa?"
Pertanyaan itu membuatku menoleh ke arahnya. Entah kenapa aku merasa kalau Temari sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan itu, tapi dia sengaja memancingku untuk mengatakannya dengan mulutku sendiri. Kalau memang keinginannya begitu.
"Alasanku…"
-
"Jangan lupakan kerjasama tim. Sasuke, Naruto, kalian bertugas sebagai penyerang kali ini. Neji, kau yang mengatur semua serangan dan pertahanan. Kiba, Sai, kalian lapis terakhir. Pertahankan dengan baik. Jangan gegabah. Kita sama sekali tak punya pemain cadangan," Temari mengingatkan. Beberapa menit lagi pertandingan mulai. Aku melirik ke arah tim lawan yang sedang mengatur strategi juga.
Lawan kami kali ini adalah tim Universitas Oto. Permainan mereka terkenal licik dan entah bagaimana selalu bisa lolos dari pengawasan wasit. Mereka juga juara bertahan di kejuaraan ini selama tiga tahun berturut-turut. Salah besar kalau kami meremehkan mereka.
"Lakukan yang terbaik. Mengerti?"
"Siap, Pelatih!" seru kami berlima.
"Sasuke," panggil Temari sebelum aku memasuki lapangan. Aku berhenti dan menoleh ke arahnya. "Aku ingin kau fokus pada pertandingan kali ini."
Aku tersenyum padanya. "Tenang saja, aku tak akan melewatkan pertandingan ini dengan memikirkan ayahku. Ini juga pertandingan penting bagiku."
Temari mengelus pundakku sekilas dan membiarkanku memasuki lapangan. Aku menatap kelima anggota tim lawan sebelum berlari menyusul Sai ke lapangan. Salah seorang di antara mereka balas menatapku dengan seringai licik. Aku merasakan firasat buruk mengenai pertandingan kali ini.
-
"Selamat sore semuanya!! Mari kita sambut pertandingan final penentuan ini dengan semangat masa muda yang membara!!!"
Kalimat itu membuat kami berlima sontak menoleh ke arah sumber suara. Seorang cowok berpakaian serba hijau, beralis tebal dan berpotongan rambut seperti batok kelapa duduk di kursi komentator sambil terus mengoceh tentang semangat masa muda. Kami langsung sweatdropped.
"S-siapa orang norak itu?" tanya Kiba cengok.
"Kalau tidak salah namanya Rock Lee. Dia komentator terkenal katanya," jawab Sai. "Ternyata masih ada orang yang lebih norak dari Naruto…"
"Siapa yang kau bilang norak, hah???" sembur Naruto tidak terima. "Semangat masa muda itu keren tahu!"
Aku dan Neji hanya bisa menggeleng melihat kelakuan mereka bertiga.
Priiiit!!
Wasit meniup peluitnya, menandakan pertandingan dimulai dan juga mengakhiri perdebatan tak penting antara Naruto, Sai dan Kiba. Kami memutuskan untuk memilih Naruto untuk melakukan jump ball.
"Serahkan saja padaku!" katanya sombong. Ia maju ke depan, berdiri berhadapan dengan seseorang yang kukenali sebagai adik Temari yang lain, Kankurou. Aku tak menyangka bahwa adiknya bergabung dengan tim yang mengandalkan kecurangan untuk menang. Aku menoleh ke arah Temari. Ia tampak sedang mengawasi adiknya dengan sinis. Aku bisa menduga bahwa mantan pelatih NBA terkenal seperti dia malu punya adik macam Kankurou.
Aku mengalihkan pandanganku dari Temari dan beralih ke tribun penonton. Aku tidak melihat Sakura, terang saja, dia pasti berada di rumah sakit sekarang ini, menemani ayahnya. Alih-alih melihat Sakura, yang kulihat adalah… ayahku. Dia duduk bersama dengan Paman Iruka, orang kepercayaan ayahku, menatapku dengan sinis. Bertolak belakang sekali dengan Paman Iruka yang tersenyum ramah padaku. Kehadirannya seakan mengingatkanku pada deadline yang diberikannya untukku. Sialan.
Tapi aku sudah berjanji pada Temari akan fokus pada pertandingan. Aku tak akan mengecewakan siapapun kali ini.
"Bisa kita lihat Uzumaki Naruto, pemain dari Universitas Konoha sedang berhadapan dengan Sabaku no Kankurou! Salah satu pemain andalan dari Universitas Oto! Mengingat bahwa Oto sudah menang tiga kali berturut-turut, mereka bukanlah lawan yang ringan bagi Konoha!" Lee mulai mengomentari pertandingan. "Tapi jangan salah! Tim Konoha juga mempunyai pemain andalan yang tak kalah kuat, yaitu Uchiha Sasuke yang merupakan mantan pemain nasional Jepang. Dan jangan pula lupakan tentang Inuzuka Kiba yang sudah melegenda di kalangan para pebasket freestyle! Seperti apakah jadinya pertandingan hari ini? Mari kita saksikan!"
Wasit meniup peluitnya lagi dan bersamaan dengan itu, dia melemparkan bola basketnya ke atas. Naruto langsung melompat tinggi di udara, mencoba menyaingi lompatan Kankurou yang jauh lebih tinggi darinya. Dan Naruto memenangkan pertarungan itu. Ia menyambar bolanya, dan menjatuhkannya kepada Kiba yang sudah siap di bawahnya. Kiba menerima bola itu, dan langsung melakukan serangan dadakan ke garis pertahanan lawan. Gerakannya cepat dan gesit sekali.
"Kiba mendrible dengan cantik dan penuh semangat masa muda ke garis pertahanan Oto! Ia membuat para pemain Oto kelabakan berusaha memblokirnya, tapi tetap saja Anjing Liar itu tidak menyerah begitu saja! Ia sudah sampai di bawah ring, berkelit dari hadangan pemain belakang Oto, Pein, dengan pierching-pierching-nya yang mengerikan… Kiba melompat… ia akan melakukan dunk!"
Tak perlu seorang komentator untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Kiba tiba-tiba terjatuh , gagal dalam melakukan dunk-nya. Ia tergeletak di lapangan dan wajahnya mengernyit menahan sakit. Aku yang sedang dijaga Kankurou bersumpah melihat Pein tersenyum licik dan mencemooh ke arah Kiba. Untungnya sebelum Kiba meninju wajah penuh pierching itu, Neji sudah berlari menghampirinya dan membantunya berdiri.
"Sayang sekali Kiba terjatuh dan gagal melakukan dunk-nya! Apakah pelanggaran oleh Oto?? Ternyata tidak! Pertandingan tetap berlangsung seperti seharusnya dan sekarang giliran tim Oto yang melakukan serangan! Pein, yang merupakan ujung tombak tim ini maju menerjang! Kiba berusaha menghalanginya… tapi sekali lagi dia terjatuh! Apa yang terjadi dengan keseimbangan anjing liar itu???"
Komentar-komentar Lee membuat keadaan semakin bertambah buruk. Aku dan Naruto bertukar pandang. Tidak salah lagi, Pein sudah menyikut Kiba hingga dia terjatuh. Aku berusaha mengejar Pein, tapi dua pemain Oto menghalangiku, membatasi gerakku. Naruto juga tidak bisa apa-apa, Sai dan Neji kurang cepat. Pein sudah melakukan shoot sebelum Kiba bangkit berdiri lagi.
"Skor untuk Oto!!!" suara Lee membahana mengalahkan sorakan-sorakan dari bangku pendukung Oto.
Pein menyeringai meremehkan ke arah kami dan ber-high five dengan teman-teman setimnya.
"Apa maumu, hah!!?" seru Kiba sambil mencengkram kerah kaos Pein.
Sial.
"Apa yang terjadi di lapangan? Tampaknya Kiba memprovokasi Pein!" seru Lee dari balik mikrofonnya.
Aku langsung berlari menghampiri Kiba sebelum dia sempat menyerang Pein lebih jauh. Bersama Naruto, aku menarik Kiba mundur. Temari memberiku tatapan peringatan ketika aku menoleh ke arahnya. Jangan sampai emosi Kiba meluap.
"Jangan terpancing. Memang itu tujuannya, kau harus tetap berkepala dingin," kataku, mencoba menenangkannya. Kiba menggeram dan akhirnya menuruti kata-kataku.
Pertandingan dimulai lagi.
"Pemain Oto yang bernama Sasori menerobos melewati Neji! Ia terus melaju ke garis wilayah Konoha!"
Melihat Neji kalah oleh Sasori itu, aku segera menghadangnya. Ia mencoba berkelit, tapi aku lebih cepat. Aku berhasil meraih bola yang di-drible-nya dan langsung melakukan serangan balik.
"Ow! Bola di tangan Sasuke sekarang! Sang panglima perang! Kita lihat apakah dia akan mencetak skor!"
Aku terus bergerak maju. Melakukan elakan yang sempurna melewati salah satu pemain Oto, tinggal sedikit lagi dari ring.
"Kankurou menghadangnya! Apa yang akan dia lakukan untuk menghadapi Kankurou???"
Aku tersenyum licik ketika Kankurou berhenti tepat di hadapanku, memblokirku. Bodoh. Kalau gerakan itu aku sudah mengantisipasinya dari awal. Kalau tak bisa mendrible melewatinya, tinggal shoot saja kan?
Aku melompat melampaui Kankurou, tapi ternyata ia menarik bagian depan kaosku sehingga aku merosot turun dan terbanting ke lantai lapangan. Ia nyengir puas. Bahuku menghantam lantai dengan keras.
"Teme!" Dobe berlari ke arahku dan membantuku bangun. "Kau baik-baik saja?" tanyanya, memandang Kankurou dengan jengkel.
Aku mengangguk. "Dobe, aku punya satu permintaan," bisikku padanya.
"Apa?"
"Awasi semua gerakan pemain Oto. Pelajari bagaimana cara mereka melakukan pelanggaran dan kuasai itu," kataku. "Jangan lakukan apapun selain mengawasi, Dobe. Sisanya serahkan pada kami."
-
[Naruto's POV]
Aku sama sekali tak paham apa tujuan Teme menyuruhku mengawasi pelanggaran-pelanggaran tim Oto. Tapi sebelum aku sempat bertanya, dia sudah berlari menjejeri Sai, dan membisikkan sesuatu pada cowok penuh senyum itu. Aku yakin dia punya rencana.
Yosh! Aku akan mendukung Teme!
Aku berlari ke pinggir lapangan, mengawasi mereka semua dari luar area pertarungan. Teme mengandalkanku, maka aku tak akan mengecewakannya.
"Konoha menyerang lagi! Kali ini Neji yang menerjang maju dengan kecepatan luar biasa!"
Aku berdiri diam, mendengarkan komentar Lee dengan seksama. Neji bisa menghindari hampir semua pemain. Ia akan melakukan shoot ketika seorang pemain Oto yang rambutnya sama panjangnya dengan Neji tapi berwarna keperakan memblokirnya. Aku yakin dia melakukan sesuatu pada Neji yang membuat Neji terjatuh juga. Tapi wasit sama sekali tidak meniup peluitnya. Ia membiarkan bola jatuh ke tangan pemain Oto itu. Jelas-jelas pelanggaran.
"Hidan berhasil merebut bola dari Neji! Dan ia sekarang berlari ke ring Konoha! Oh, gerakan yang sangat cantik sekali!"
Cowok yang ternyata bernama Hidan itu menyeringai ketika Kiba berdiri di depannya, mencoba membloknya. Hidan melakukan gerak tipu seolah akan mengoper bolanya ke Pein, tapi yang dilakukannya adalah : ia menghantamkan bola itu ke wajah Kiba, membuatnya terjatuh dan langsung melakukan shoot.
"Lima lawan nol untuk Oto! Pertandingan yang sangat panas!"
Kiba bangkit berdiri. Ia sudah menghampiri Hidan dengan niat meninju wajah sok alim cowok itu kalau saja Sasuke dan Sai tidak mencegahnya.
"Sepertinya Kiba juga mulai memanas lagi! Tapi Sasuke dan Sai mencegahnya melakukan serangan yang tak perlu… dan kita kembali ke pertandingan! Bola masih di tangan Oto! Sasori mendrible dengan tekniknya yang elegan! Ia melewati Neji yang tersungkur karena mencoba untuk menghalanginya! Ia mengoper kepada Kankurou!" Lee mengomentari dalam satu tarikan napas. "Tapi apa yang terjadi? Kiba lagi-lagi sudah menghadang!"
Aku mengamati Kankurou dengan teliti. Ia pasti akan… benar saja, ia melakukan lompatan yang mirip dengan teknikku dan teknik si Teme, membuat Kiba juga melompat untuk menghadangnya, tapi Kankurou sama sekali tidak berniat melakukan shoot. Ia menyikut kepala Kiba, menjatuhkannya dengan mudah, dan langsung mengoper bolanya ke Hidan yang langsung melakukan shoot.
"Hidan melakukan shoot dan….. masuk!!!! Delapan lawan nol untuk Oto!!!"
Kelakuan tim Oto kali ini benar-benar keterlaluan. Kiba memegangi puncak kepalanya yang tadi diserang Kankurou dan mengernyit kesakitan. Tapi sekarang ia sudah bisa mengendalikan emosinya. Ia hanya memandang Kankurou dengan sengit. Keadaan semakin parah untuk kami.
Selanjutnya, keadaan tidak juga membaik. Oto sudah berhasil mencapai angka dua puluh sembilan sementara kami tertinggal jauh dengan skor lima, semua skor yang dicetak oleh Sasuke.
Priiiitt!
Peluit wasit berbunyi.
"Konoha minta time out! Mari kita break dulu selama dua menit…" kata Lee.
"Dobe, apa yang kau dapat?" tanya Sasuke sementara Temari menjelaskan rencananya ke Neji dengan cepat.
"Aku…" aku ragu-ragu. "Mereka melakukan setiap pelanggaran dengan sangat sempurna, tanpa melakukan kesalahan sedikit pun, bahkan tidak tertangkap oleh wasit."
Sasuke mengangguk, tersenyum menyetujui. "Aku yakin kau sudah punya rencana kan? Jalankan itu, Dobe. Permainan kali ini bergantung padamu."
Priiit!!
"Pertandingan dimulai lagi! Apa yang akan dilakukan Konoha untuk memenangkan pertandingan akbar ini?" suara Lee kembali berkumandang.
Aku menatap punggung Sasuke yang telah berlari lebih dulu di depanku. Aku memang punya rencana, rencana yang hanya cocok untukku yang staminanya di luar kewajaran. Kalau Teme bilang itu oke…
Aku mengangguk, menyemangati diriku sendiri.
Jadi, ini yang akan kulakukan. Sederhananya, aku akan menjadi tameng yang melindungi tim-ku dari para pemain brutal Oto. Aku harus berada di antara salah satu pemain tim-ku yang sedang memegang bola dan pemain tim Oto untuk mencegah mereka melakukan pelanggaran pada anggotaku. Intinya, aku mengorbankan diriku sebagai korban pelanggaran agar anggotaku selamat. Entah kenapa aku menyukai ide itu. Hanya aku yang bisa melakukannya.
"Bola sekarang berada di tangan Sasori! Dan ia mengoper bolanya ke Pein, tapi, woopss…. Jalur operan berhasil dipotong oleh Sasuke! Dan Sasuke mulai menyerang sekarang!"
Ini saatnya, aku berlari di depan Sasuke yang sedang mencoba melewati Kankurou yang menghadangnya. Tindakanku membuat Kankurou bingung. Ia hendak menyikut Teme, tapi karena aku terlalu dekat, akulah yang menerima serangan itu seutuhnya sementara Teme langsung memanfaatkan kelengahan Kankurou untuk menghindar darinya.
"Trims," bisik Sasuke di telingaku sebelum ia melewati Kankurou.
Aku memegangi rahang kiriku yang kena sikut Kankurou dan tersenyum padanya.
Sasuke berhasil menghindar dengan sempurna dan mengoper bolanya ke Kiba. Aku langsung mengejar Kiba, waspada terhadap serangan lawan. Lagi-lagi aku membantu. Kiba berhasil meloloskan diri dari Sasori karena aku yang menerima tubrukannya sepenuhnya dan terjatuh. Kiba mengembalikan bolanya ke Sasuke.
Aku langsung bangkit berdiri, mengabaikan rasa sakit di rusukku. Tapi aku terlambat. Sasuke terlalu jauh, padahal Pein sedang membayang-bayanginya sekarang. Aku tak akan sampai di tempatnya tepat waktu. Sial!
Aku langsung mengubah arah lariku, menyejajarkan diri dengan Teme di seberang lapangan. "Teme! Oper padaku!" setidaknya kalau aku gagal menjadi tamengnya, biarkan saja aku yang jadi sasaran empuk.
Teme melirikku, dan langsung mengoper bolanya padaku.
Atau kupikir begitu.
"Gerak tipu yang sangat sempurna dari pemain muda legandaris kita! Ia berhasil melewati penjagaan Pein!"
Ternyata gerak mengoper tadi hanya tipuan. Memanfaatkan kelengahan Pein, Sasuke langsung meloloskan diri, dan melakukan tembakan three point yang tanpa cela.
"Delapan lawan dua puluh sembilan untuk Konoha!! Gerakan yang cantik sekali dari Uchiha…"
Aku langsung berlari menghampiri Teme untuk ber-high five dengannya.
"Woi… kenapa kau tadi tidak oper bolanya padaku? Kalau kau terluka bagaimana?" tanyaku cemas.
Teme hanya membalas ucapanku dengan senyum dinginnya dan berkata, "Terimakasih," lalu langsung berlari ke arena pertandingan lagi.
-
*"Woi… kenapa kau tadi tidak oper bolanya padaku? Kalau kau terluka bagaimana?" tanya Naruto cemas. Sasuke, yang sedikit terkejut mendengar Naruto yang mencemaskan dirinya, hanya membalas perrtanyaan itu dengan senyum stoic-nya dan berkata, "Terimakasih," lalu langsung berlari ke arena pertandingan lagi.
Jauh di lubuk hatinya, ia benar-benar senang mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Naruto, bukan orang lain.*
_To Be Continued_
-
-
-
Anggota tim Oto : Pein, Kankurou, Sasori, Hidan, Tobi.
Saia nggak terlalu ngerti basket… hehehe… jadi gomen kalo agak ngawur… tapi udah saia usahan yang sebaik-baiknya kug…u.u
Perasaan Sasuke sudah mulai terlihat! Senangnya…XD
*deg-degan karena belum bikin apapun buat tanggal 10juli dan sama sekali nggak ada ide dan kalaupun ada ide, pasti jadinya multichap dan tanggal 10juli kian dekat dan—*
Sasuke : (ngebekep Asuka) daripada deg2an nggak jelas gitu mending nyari inspirasi kan?!
Asuka : males gua… xp. Next chapter is the last chapter! Tapi berhubung ini fic terakhir saia sebelum saia pergi ke Merapi, maka last chapter apdet-nya setelah saia turun gunung! XD
Mind to review?^^
