BTS - Big Hit Entertainment

Penulis tidak mengklaim apapun selain plot cerita

.

.


.

.

"Oh Tuhan, aku benci bulan Desember," Seokjin menggerutu, kakinya dihentak-hentakkan ke tanah, berharap gesekan antara sol sepatu laras serta tanah keras akan menjadikan tubuhnya sedikit hangat. Wujudnya sudah hampir tak bisa dibedakan dengan beruang kutub, terbungkus mantel tebal dengan tudung menutup hampir seluruh kepala, menyisakan muka dan beberapa helai rambut yang tertiup pasrah. Matanya menelisik tajam pada sosok lain di kursi dekat pintu bus, sibuk berkutat dengan ponsel sambil memeluk ransel erat-erat bagaikan jimat, "Kuharap kau mampu memberi alasan yang masuk akal tentang kenapa aku harus patuh untuk mengikutimu ke tempat seperti ini."

Seokjin terus meracau meski sadar dirinya tak digubris, Namjoon hanya menoleh sekilas lalu menghela napas. Kacamatanya melorot mengekor gerakan. Bukannya tak tahu Seokjin benci udara dingin, tapi apa boleh buat. Mereka terjebak di dalam bus dan tak bisa berbuat banyak.

Awalnya baik-baik saja, sungguh. Dia berhasil mengajak seniornya tersebut pergi jalan-jalan sepulang kuliah dengan menumpang bus, pun menyaksikan bagaimana Seokjin merapatkan mantel sambil terus berkomentar pedas mengenai cuaca dan membuat Namjoon berpikir, apakah itu sebuah pelampiasan karena dosen filsafat mendadak memberi tes esai yang mengharuskan mahasiswanya menjawab pertanyaan sebanyak dua halaman, atau hanya karena kedai roti bakar di kantin kampus tutup selama musim dingin. Biasanya Seokjin tidak secerewet itu meski angin berhembus sekencang topan. Entahlah.

Kondisi dalam bus berangsur nomal seiring mesin pemanas yang bekerja penuh, menilai dari gerutuan Seokjin yang akhirnya berhenti dan beringsut menanyakan kemana mereka akan pergi.

"Nanti juga tahu," Namjoon tersenyum simpul, sukses membuat Seokjin melirik, meski segera berkedik masa bodoh. Namjoon memasukkan kedua lengannya di saku jaket, tampak gugup. Sesekali berniat mencuri pandang, pura-pura menaikkan kacamata, namun Seokjin terlampau sibuk menggeretakkan gigi-gigi dan menggosok telapak tangan, mencoba mengusir rasa beku meski caranya klasik. Sudut bibir Namjoon membentuk ringis tipis, rencananya bisa berjalan lancar.

Harusnya.

Sampai pada kesimpulan bahwa dewa-dewa langit sedang tak berminat merestui harapannya. Bus yang mereka naiki mendadak mengeluarkan suara gerung keras sebelum mendadak berhenti, di tengah jalan, tiga puluh menit dari keberangkatan, di tengah turunnya salju dan jauh dari pemukiman.

"Astaga," gerung Seokjin terdengar lagi, sesuai perkiraan. Keduanya menatap keluar jendela dimana asap hitam menguar dari belakang bus, tercengang sembari menebak-nebak apa yang terjadi. Supir tergopoh-gopoh keluar untuk memeriksa kerusakan sambil terbatuk-batuk, diikuti petugas lain yang turut melesat kaget. Sejenak, yang terdengar hanya bunyi berisik bercampur desisan dan keluh penumpang, disusul supir yang kembali ke bangku kemudi dengan ekspresi panik. Kemejanya penuh bekas asap.

"Maaf, mesinnya rusak," tukasnya penuh nada menyesal, lalu membungkuk minta maaf pada sejumlah penumpang yang ada di dalam bus, termasuk dua mahasiswa yang mengerjap bingung di kursi mereka. Satu terlihat menganga, atau lebih tepatnya, sedang mengutuk waktu menjelang senja yang harus dihabiskan di jalanan. Sementara yang satu lagi mencoba mencari solusi bagaimana cara menyusun rencana cadangan—sekaligus menghindar kalau-kalau sang senior bermaksud menusuk perutnya memakai gunting kertas yang selalu dibawa Seokjin di ransel depan.

Bukan hal menyenangkan untuk jalan kaki menuruni tanjakan menuju halte terdekat, apalagi dinaungi bulir-bulir salju yang turun perlahan. Indah, namun sayang waktunya tidak tepat. Empat-lima penumpang mengatasi kebosanan dengan menelusuri ponsel masing-masing, selagi sisanya mencari kehangatan dengan bergerombol di pinggir jalan. Hamparan salju memperlambat langkah, beberapa kali Seokjin terhuyung, oleng tak tentu arah, sampai akhirnya terpeleset dan jatuh beralas pantat.

Keras.

Pemuda itu kembali mengumpat sambil melempar sorot penuh napsu membunuh pada Namjoon yang mengulurkan tangan ingin membantu. Kedua lengannya terentang di sekeliling Seokjin, berjaga mencegah seniornya agar tak hilang keseimbangan. Seokjin meraih bahunya, berpegangan, kemudian berdiri usai berterima kasih, nyaris tanpa suara.

Sekitar lima belas menit kemudian, mereka tiba di halte yang, mujurnya, berdekatan dengan sebuah kafe kecil. Sederhana, tapi lebih dari cukup untuk berlindung dari angin. Namjoon tergopoh-gopoh melepas mantel, mengibas butiran salju dari lipatan lengan, kantong, juga tudungnya. Seokjin mengikuti dari belakang seraya bernapas lega karena mereka tak berakhir menjadi gelandangan dan meringkuk kedinginan di sudut lembah. Kelompok penumpang lain yang tiba lebih awal sudah sibuk memesan kopi sambil berkasak-kusuk menelepon kenalan.

Namjoon meminta minuman serupa, sementara Seokjin memesan dua cangkir teh camomile serta dua cangkir teh hijau panas. Telapak tangannya digosok-gosok berulang kali, lalu ditiup sambil menggigil, mengacuhkan pertanyaan dari sang junior tentang mengapa dia memesan begitu banyak minuman dalam satu nampan.

"Haus, kedinginan, dan supaya mulutku bisa diam. Kau mau protes?"

Namjoon menggeleng, menyesap kopinya perlahan-lahan usai diberi pelototan yang efeknya setara tiga nilai C di daftar indeks semester. Seokjin menangkupkan kedua tangan di sekitar cangkir, mengambil kehangatan yang menjalar dari benda mati itu sambil menarik napas panjang.

"Jadi, karena sepertinya kita tak akan kemana-mana sampai bus berikutnya datang, apa kau sudah memutuskan untuk bercerita kenapa kau ingin membawaku ke tempat seperti ini? Oh, oke. Mungkin bukan persis di sini, tapi aku tak peduli, kemana juga sama saja," sergah Seokjin, bayangan rambut yang menutup wajah membuat ekspresinya semakin berbahaya, "Harusnya sekarang aku ada di rumah, mengerjakan tugas atau mengecek jadwal drama di televisi. Atau bisa juga ngaso di kamar, menunggu jam makan malam sambil memikirkan cara untuk mengempeskan ban mobil dosen filsafat, misalnya."

Namjoon berkedik gelisah di permukaan kursi, sukar mengakui kalau rencananya gagal total dan hancur berantakan, "Tidak ada tujuan khusus, sungguh. Aku hanya berpikir kalau kita, maksudku, aku dan senior Seokjin, bisa jalan-jalan sebentar di lembah dekat rumah pamanku. Pemandangannya cukup bagus meski tertutup salju dan, eh, kebetulan ada yang ingin kubicarakan."

Sepasang mata Seokjin menyipit maksimum, "Kau ini jenis orang yang tidak bisa berbohong kan, Namjoon? Kalau cuma berniat bicara saja sih tidak perlu sampai pergi ke rumah pamanmu. Apa gunanya jam istirahat dan jeda kuliah siang tadi? Lagipula salju turun begini banyak, memangnya kau tidak sadar?"

"A, aku tidak memperkirakan yang satu itu, maaf," aku Namjoon, menggaruk tengkuk sembari menunduk. Semalaman berdoa, mendengarkan perkiraan cuaca esok hari dengan teramat cermat di radio, dan mencatat informasi bila temperatur hawa akan berputar pada kisaran medium. Siapa yang menyangka jatuhnya tetap hujan salju bercampur angin kencang?

"Ya terserahlah, toh sudah terlanjur," Seokjin meneguk habis isi cangkir, ujung-ujung jarinya tak lagi terasa kaku dan hal tersebut membuat emosinya berangsur reda. Lebih-lebih setelah melihat respon Namjoon yang tak berusaha membela diri maupun mencari pembenaran atas ajakan anehnya. Pemuda itu terus saja menunduk dan Seokjin tidak bisa mencela lebih banyak.

"Aku juga ingin, uhm, menanyakan sesuatu," Namjoon menanggapi, nadanya teramat santun hingga Seokjin sedikit merasa bersalah. Tapi bagaimanapun, dia juga berhak marah karena pemuda itu tampak berusaha menyembunyikan sesuatu.

"Sudahlah, tak usah diperpanjang."

"Sebenarnya, aku..."

"Tidak apa-apa kok, aku sudah tidak marah."

"Tapi..."

"Besok pagi belikan selusin mister donat dan empat kotak jus nanas, sekalian tambah ayam goreng di kedai dekat kampus kedokteran dan kau akan kumaafkan."

"Senior, aku..."

"Kau tahu kalau aku paling tidak suka dikerjai, Namj—"

"AKU SEDANG BERUSAHA UNTUK MENGAJAK KIM SEOKJIN KENCAN SORE INI DAN MEMINTANYA MENJADI PACARKU!"

Namjoon menyambar tak sabar, suaranya memekik begitu nyaring di tengah keheningan kafe. Pemuda itu spontan mengerjap kaget begitu mendapati seluruh pengunjung memandang ke arahnya, memergoki dirinya ditatap berpasang-pasang mata, tak terkecuali Seokjin yang sontak terpaku sambil memegang cangkirnya di udara.

Kim Namjoon, menjelang dua puluh tahun, segera membungkuk ke segala penjuru, meminta maaf dengan wajah dan telinga merah padam. Kalau sudah begini tentu tidak bisa lebih buruk lagi. Di sebuah kafe, entah berapa jauhnya dari pusat kota, bersama kakak angkatan berusia tiga tahun lebih tua yang sedari tadi mengomel akibat tenaga yang terbuang, dan mempermalukan diri sendiri dengan nekat mengutarakan perasaan tanpa pikir panjang.

Kalau ada jurang yang sedang menganga, Namjoon akan langsung terjun tanpa diminta.

"Oh, jadi begitu..." Seokjin berdehem, Namjoon mengedarkan mata ke bawah meja, menatap penuh kecemasan pada lantai keramik dan jari-jarinya yang berkeringat dengan ajaib. Mendapat nilai sempurna dalam ulangan tataran semantik terdengar jauh lebih mudah dibanding mengangkat kepala dan menatap Seokjin yang kini termangu. Cangkir diletakkan di atas meja, sebelah lengan menopang dagu. Jari-jarinya mencubiti bibir bawah dan sorotnya tertuju lurus seperti melucuti Namjoon sampai ke tulang rusuk.

"Sejak kapan?"

Batin Namjoon mencelos, "Sejak senior membantuku menyelesaikan esai pengantar linguistik. A, aku tahu ini sangat tidak sopan dan terdengar klise, tapi senior Seokjin adalah salah satu alasanku tetap menghadiri kuliah meski sama sekali tak berminat pada sastra. Maksudku, eh, bagaimana cara menjelaskannya? Tiap kali ingin mangkir dan titip absen, aku selalu teringat senyummu dan tiba-tiba saja aku sudah berdiri di depan pintu sambil menelepon Hoseok kalau aku akan datang setengah jam lebih dulu. Terutama di kelas Fonologi."

Kepala Seokjin miring ke kiri, kening berkerut, akhirnya menemukan sebab mengapa dia dan Namjoon sering bertemu di kelas serupa meski tanpa rencana. Juga kerap mendapatinya duduk diam menanti di barisan depan ditemani ransel yang menempati salah satu kursi tanpa penghuni, sebelum memindahkan benda tersebut lalu menyilakan Seokjin duduk. Namjoon mengijonkan kursi untuknya, paham Seokjin kerap datang terlambat di beberapa mata kuliah akibat kewajiban mendampingi dosen naskah kuno yang gagap teknologi.

"Apa kau juga dalang di balik semangkuk stew daging babi yang selalu diberikan cuma-cuma oleh bibi penjaga kantin akhir-akhir ini?" delik Seokjin curiga, mengingat menu istimewa yang hanya diberikan untuknya setelah menggantikan tugas mengajar Fonologi, "Apa kau juga yang menaruh teh oolong kalengan dan kantong penghangat di meja asisten dosen telaah naskah?"

Namjoon tidak menggeleng.

"Kalau arti pemberianmu adalah ucapan terima kasih karena sudah diladeni berdiskusi di jam kosong, aku akan menendangmu keluar dari jendela. Serius."

"Tentu saja bukan!" Namjoon menyanggah, kacamatanya kembali melorot kendati pemiliknya tak peduli, "Mulanya juga kukira instingku hanya berdasar kekaguman, tapi lama-kelamaan aku tidak bisa lagi berbicara kepada senior Seokjin tanpa memukul dada beberapa kali atau menampar pipiku sendiri."

Kening Seokjin terlipat, "Kenapa?"

"Karena dadaku berdebar, tidak mau berhenti."

Raut pemuda di hadapannya tak bisa lebih merah lagi, dan Seokjin reflek mengatupkan bibir rapat-rapat untuk mencegah tawanya menyembur keluar. Tidak, dia tak merasa ada yang terlalu lucu atau menerbitkan ragu. Dia hanya tak habis pikir bila mahasiswa berwajah lugu yang hobi berjongkok mencari binatang kecil di sekitar ruang dosen itu ternyata bisa bertindak romantis meski kejutannya gagal dengan dramatis. Bukan satu-dua kali Seokjin menangkap tatap penuh arti dari Namjoon yang sigap menutupi muka memakai buku bacaan, tak ingin terpergok memperhatikan.

Baiklah, anggap Seokjin lamban.

Tapi hei, tidak semua orang bisa membaca situasi tanpa penjelasan. Seokjin itu tipikal wujud manusia yang tak akan mengerti apapun bila tak dijabarkan tepat di depan muka.

Dan ngomong-ngomong, kenapa dia baru sadar bahwa mata Namjoon berwarna coklat muda dan bukan hitam jelaga?

"Dari angka satu sampai sepuluh, usahamu adalah lima koma," tukas Seokjin menyela sunyi, ditariknya selembar tisu dari atas meja dan sibuk menyeka tangan sebelum menegakkan punggung, pangkal hidungnya dipijat perlahan sambil mengulum senyum, "Aku berharap kencan berikutnya tak akan seperti ini. Minimal tidak dengan bus yang tiba-tiba mogok di tengah jalan dan cuaca yang lebih bersahabat," Seokjin menyibak rambutnya ke belakang, tertawa lirih, "Paham, Namjoon-ah?"

Pemuda itu bergeming meremas cangkir, terperangah.

"Senior Seokjin tidak bercanda kan?" tanyanya, melongo. Seokjin benar-benar ingin terbahak kali ini, perutnya bak digelitik melihat ekspresi Namjoon.

"Sumpah, perlu diulang?" cengirnya gemas, "Seharusnya kau bisa langsung bilang padaku di kampus atau jika perlu, di kelas. Kalau begini kan malah susah. Biarpun aku lebih tua, tapi kau tak perlu repot-repot menyiapkan rencana. Gaya sok puitis itu mirip ciri-ciri playboy kacangan dan aku kurang suka, jangan ditiru," Seokjin mengulum senyum, telunjuknya menggaruk pipi yang menggoda Namjoon sedari tadi.

"Atau mungkin sebaiknya kau jangan coba-coba lagi merencanakan sesuatu yang romantis. Demi apapun, Namjoon, jangan pernah," sergahnya, menyunggingkan sudut bibir kanan yang terlihat seperti tanda bahwa Namjoon akan menerima omelan yang berkali-kali lipat lebih mengerikan jika dia berani membantah. Namun saat ini, pemuda itu enggan menerima reaksi dari otaknya yang dipenuhi gumpalan merah muda, lantas membeku karena terlalu gembira. Kendati telinganya sudah nyaris tuli akibat kalimat umpatan dari Seokjin beserta gerutuan sepanjang jalan menuju tempat ini, dan biarpun berpasang mata sedang melihat keduanya penuh arti dan bisik-bisik mereka membuatnya agak risih, Namjoon sanggup bertingkah tak peduli.

Karena pengunci fokusnya sudah tersemat pada Seokjin, sosok seindah amarilis yang beralih menyodorkan cangkir teh hijau sambil mengangkat alis, "Kau tahu hal apa yang paling menyebalkan sekarang, Namjoon-ah?"

"Bulan Desember?"

"Bukan, bodoh," Seokjin memukul tangannya lalu berkedik keluar jendela, menudingkan dagu pada sebuah kendaraan panjang yang melaju menghampiri halte, "Aku benci karena busnya datang secepat ini. Tidak lihat aku sedang minum teh bersama calon kekasih?"

Dan Namjoon pun tersenyum manis sekali.

.

.


.