Chapter 7

"Nanoha?"

"Fate-chan, aku kangen..akhirnya bisa bertemu lagi.." wajah Nanoha terlihat lega.

"Nanoha.."

Mata mereka saling bertemu. Fate merasa tidak tega melihat air mata Nanoha. Nanoha berusaha menutupi wajahnya. "Haha..aku cengeng sekali ya?"

Fate memegang tangan Nanoha, menghentikannya dari menutupi wajahnya.

"Tidak apa-apa, kamu gadis yang kuat Nanoha.."

"Aku bisa kuat karena kamu selalu mendukungku Fate-chan.."

Fate begitu terpesona melihat wajah Nanoha yang lembut dan penuh kasih sayang dan…Fate mencium bibir Nanoha. Nanoha tidak menyangka Fate akan melakukan hal itu tapi dia membiarkan Fate menciumnya.

Selesai mencium Fate berbisik padanya. "Kamu tidak menamparku seperti dulu?"

Nanoha menggeleng dan balas mencium Fate. "Aku suka Fate-chan.."

"Nanoha.." Fate memeluk Nanoha.

"Hei..maukah kamu menjadi pacarku sekali lagi?"

"Iya.." Nanoha menjawab dengan cepat yang membuat Fate kaget.

"Kamu yakin?"

"Sangat yakin"

"Tapi Nanoha..kalau kamu menjadi pacarku kita tidak akan bisa sering bertemu, apa kamu tidak apa-apa dengan itu?"

"Fate-chan..aku begitu menantikan saat dimana kita bisa menjadi sepasang kekasih lagi..dan aku sudah siap untuk itu.."

"Nanoha..aku juga.."

Wajah Nanoha mendadak terlihat tidak enak.

"Nanoha, kenapa?" tanya Fate dengan lembut.

"Fate-chan..aku benar-benar merasa tidak enak.."

"Tidak enak kenapa?"

"Tidak enak padamu"

"?"

"Aku seperti membuat harga dirimu jatuh Fate-chan…aku juga sudah berulang-ulang melukaimu.."

"Tidak apa-apa…karena aku sayang kamu Nanoha…kamu tidak perlu merasa tidak enak jadi, lupakan saja semua itu ya.." Fate memeluk Nanoha lagi untuk menenangkannya.

'Kamu benar-benar orang yang baik Fate-chan.. walaupun sudah tersakiti.. aku janji aku tidak akan pernah menyerah lagi soal kamu..'

________________________________________________________

Nanoha POV

Sudah 2 bulan berlalu sejak kami jadian.

"Nanoha kenapa akhir-akhir ini kamu terlihat lesu? Kamu sakit?" tanya Fate cemas.

"Tidak, bukan begitu..hanya saja.. meskipun kita sudah jadian tapi kita tidak pernah berkencan sekalipun.."

"Apa boleh buat, waktunya selalu saja bentrok dengan waktu kamu melatih, tugas, dan juga misiku."

"Tapi Fate-chan.. aku ingin.."

"Aku juga Nanoha.."

Kami berjalan melewati lorong markas sambil berpegangan tangan berusaha saling menghibur diri kami yang sedih.

Aku sudah tidak mempedulikan perkataan orang tentang hubungan kami.

Waktu-waktu untuk berduaan dan beromantis-romantis hanya sedikit untuk kami jadi kami menghabiskannya dengan sebijaksana mungkin.

Malam ini pun kami tidur bersama sambil berpegangan tangan. Aku menatap Fate yang tertidur pulas.

'Dipikir-pikir aku dan Fate sama sekali belum melakukan seks ya.. aku sudah dewasa.. aku juga memiliki kebutuhan macam ini.. rasanya malu juga.. tapi aku ingin Fate yang duluan mengajakku.. aku ingin suasananya juga romantis..'

Setelah berpikir itu aku berusaha mencoba untuk tidur meskipun susah, karena yang ada di pikiranku hanyalah melakukan seks dengan Fate. Aku benar-benar porno, rasanya malu sekali..

Fate POV

Ketika aku terbangun aku sedang terikat oleh rantai besi dan berada di tempat yang sepertinya adalah gudang, aku sendiri tidak tahu kenapa bisa ada disini dan juga apa yang terjadi dan aku juga tidak bisa melepaskannya karena di ruangan ini seperti ada sihir yang membuat aku tidak dapat mengeluarkan sihirku.

Aku mencoba melihat sekeliling dan aku melihat Nanoha yang juga sedang terikat oleh rantai besi dalam keadaan berdiri yang kira-kira berjarak 5 meter dariku. Aku memanggil-manggil namanya, tapi jawaban Nanoha terdengar lemah.

Tiba-tiba pintu terbuka. 4 orang laki-laki masuk yang tampaknya mereka juga seorang penyihir.

Mereka menggoda Nanoha, memegang wajahnya yang membuatku ingin menghajar mereka. Karena Nanoha sedang lemas dia tidak berbuat apa-apa. Tiba-tiba yang membuatku terkejut mereka mulai merobek-robek baju Nanoha, menelanjanginya, dan mereka sendiri mulai melucuti pakaian mereka. Lalu mereka mulai menyentuh-nyentuh tubuh Nanoha.

"Hei! Apa yang kalian lakukan?!! Lepaskan dia!!"

Tapi mereka seolah tidak mendengar kata-kataku. Mereka meraba-raba dadanya..menciumi bibir dan tubuhnya dengan bernafsu.

"Kalian brengsek!! Hentikan sekarang juga!!" kataku dengan sangat marah.

Tapi mereka mulai memasuki daerah Nanoha yang paling berharga dengan barang milik mereka itu.

"Fate!" teriak Nanoha kesakitan. Dadaku terasa sakit mendengarnya. Mereka bergantian memperkosa Nanoha dengan kasar.

"Hahahaha menyenangkan sekali, Nanoha-san milikmu benar-benar nikmat" kata penyihir A.

"Tak kusangka aku bisa memperkosa Takamachi Nanoha yang dijuluki Ace of Aces." Kata penyihir B.

"Bagaimana? Nikmat kan? Ayolah akuilah, sekuat apapun tanpa sihir kamu hanyalah gadis biasa yang memerlukan seks" kata penyihir C.

"Kamu benar-benar gadis yang porno, lihat kamu basah begini hahaha" kata penyihir D.

"Fate-chan.." kata Nanoha lemah.

Aku yang tadinya begitu marah dan berapi-api sekarang berubah.. aku.. malah menangis melihat Nanoha. Melihat mereka menyetubuhi Nanoha dengan kasar.. aku melihat ada darah di selangkangan Nanoha.

"Sakit.." rintih Nanoha.

"Hentikan..kumohon..hiks"

Aku tidak bisa berbuat apa-apa..

"Kalau kalian mau..denganku saja...jangan Nanoha..jangan sakiti dia…" pintaku sambil menangis.

"Fate-chan.." Nanoha menangis ketika mendengar aku berkata begitu.

Tanpa sihir aku hanyalah gadis biasa.

Mereka tidak berhenti memperkosa Nanoha meskipun aku sudah berkata begitu. Mereka seperti sengaja menyakitiku juga, karena bagiku melihat Nanoha diperkosa jauh lebih menyakitkan daripada diri sendiri yang diperkosa.

Aku tidak ingin melihatnya meskipun mau tidak mau aku harus mendengar suara-suaranya.

Setelah mereka semua melepaskan nafsunya pada Nanoha mereka mulai berpakaian lagi. Sementara tatapanku sudah kosong. Mereka meninggalkan Nanoha yang masih telanjang dan terikat. Lalu mereka keluar. Dan tak lama kemudian aku merasa suhu di dalam ruangan ini meningkat dan aku sadar kalau mereka membakar gudang ini.

'Celaka!'

Aku berusaha melepaskan diriku tapi tetap sia-sia. Aku melihat ke Nanoha yang masih tetap diam saja.

"Sial!" aku berusaha menarik sekuat tenaga. Rantai itu diikat pada sebuah benda yang berat. Aku berusaha menariknya dan akhirnya benda itu bergeser. Aku menyeretnya sedikit demi sedikit dan mendekat pada Nanoha.

"Hah..hah..Nanoha"

Ketika aku sampai di depan Nanoha aku menangis lagi.

"Nanoha..huu.." aku menyandarkan kepalaku di badannya, tanganku tetap terikat di belakang badanku.

"Maafkan aku.."

Di kepalaku terlintas banyak sekali pikiran-pikiran.

'Percuma..kami tidak akan bisa lari dengan terikat rantai besi seperti ini..'

"Fate-chan..cepat lari..kamu masih bisa bergerak kan.."

"Aku tidak akan meninggalkanmu.." Sementar kami sudah dikepung api.

"Tidak..jangan begitu..selamatkan dirimu Fate.."

Tapi aku tetap diam saja. "Aku rela jika harus mati bersamamu Nanoha dan aku tidak rela kalau harus menyelamatkan diriku sendiri.."

"Fate-chan, kamu bodoh.." Nanoha menangis lagi.

"Aku memang bodoh.." kataku sambil tersenyum meskipun sedang menangis. Aku tidak tahu kenapa tapi aku masih bisa tersenyum.

"Fate-chan, aku mencintaimu.."

"Aku juga Nanoha.."

"Maafkan aku.."

"Ini bukan salahmu.."

'Biarkan aku bersamamu..'

A/N: Mudah-mudahan tidak terlalu vulgar..