"Junghan?"
Tidak ada yang menyahut. Seungcheol menyibak selimutnya lalu melongok ke kasur bawah. Kosong. Dimana Junghan?
Seungcheol mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Soonyoung tenggelam bersama dengan dengkurannya, Seungkwan bergumul ria dengan selimutnya, dan Wonwoo juga telah tertidur tenang di kasurnya.
Sudah sepi dan hembusan dingin air conditioner begitu menusuk kulit. Lampu dimatikan, namun ada seberkas cahaya redup dari bawah. Seungcheol melirik meja belajar dan menemukan sosok yang dicarinya.
Junghan ketiduran disana.
Seungcheol mendecak.
Kalau nanti Junghan sampai sakit, usahanya belajar keras akan sia-sia saja. Maka dengan kemurahan hati Seungcheol turun dari kasur. Ia tak lupa membawa selimutnya sendiri dan berjalan pelan menghampiri Junghan.
Seungcheol berdiri tepat di sisi meja belajar. Disana Junghan tertidur dengan kepala telungkup pada lipatan tangan. Wajahnya yang tenang dan damai tersorot oleh cahaya dari lampu belajar sehingga terlihat bersinar.
Cantik. Seungcheol tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok itu.
"Junghan,"
Yang dipanggil tidak menjawab. Junghan hanya bergumam sedikit lalu kembali terlelap.
"Junghan, bangun. Kau tidak bisa tidur disini, nanti lehermu sakit."
Seungcheol dikacangi.
Sang tertua hanya menghela nafas pasrah ketika ucapannya tidak digubris sama sekali. Junghan pasti sangat lelah sehingga ketiduran seperti ini.
Jam menunjukkan waktu tengah malam. Berapa lama Junghan belajar? Dia pasti tidak ingin mengecewakan teman-temannya jika nilainya sampai jelek, makanya dia sangat mempersiapkan diri untuk ujian.
Seungcheol tahu Junghan sangat ingin menjadi sosok yang membanggakan.
Karena pasrah, akhirnya Seungcheol menyampirkan selimutnya ke bahu Junghan. Ia memperbaiki lipatan lengan Junghan sedikit supaya dapat tidur lebih nyaman.
Setelah selesai, Seungcheol tidak beranjak. Sekali lagi Seungcheol tak bisa melepas pandangannya.
Coba lihat apa yang kurang dari diri Junghan? Tidak ada.
Sosok itu baik dan hangat. Hatinya tegar dibalik wajah malaikatnya. Dia bersahabat dan dapat diandalkan. Sosok yang begitu disayanginya.
Seungcheol hanya butuh satu kata untuk mendeskripsikan Junghan—sempurna.
Ah, andai Seungcheol bisa berterus terang semudah ia berkedip. Tapi sayangnya ia tidak bisa.
Pandangannya teralih pada kalender di sudut meja belajar Junghan yang penuh buku. Kalender itu tertutup jatuh, sepertinya tanpa sengaja tersenggol buku-buku yang lain dan tidak sempat dibetulkan.
Seungcheol meraihnya. Angka-angka dengan label bulan Agustus tercetak disana. Ada beberapa yang ditandai karena menyangkut acara-acara tertentu dengan pulpen hitam juga biru.
Dan... oh! Junghan menandainya! Tanggal yang akan menjadi hari favoritnya dilingkari dengan pulpen merah, berbeda dengan yang lain.
Angka delapan pada minggu ini sudah ditandai oleh Junghan sebagai salah satu acara penting. Junghan pasti tidak ingin melewatkan hari itu begitu saja.
Mengingatnya, Seungcheol jadi tersenyum sendiri.
Ah, hari itu pasti akan menjadi hari yang menyenangkan.
Namun melihat Junghan yang berjuang keras untuk belajar seperti ini, Seungcheol jadi melunturkan kembali senyumnya. Junghan pasti sudah lama tidak melihat kalender sehingga lupa tanggal, bahkan keberadaannya saja sudah terjatuh dan tertimbun buku-buku. Seungcheol akhirnya menaruh kalender di atas meja seperti semula—tertutup jatuh.
Biarlah hari itu terlewati. Seungcheol tidak mau menjadi egois dengan memaksa Junghan untuk terus bersamanya seharian penuh.
Cukup dengan melihat Junghan tersenyum di hari itu saja, pasti Seungcheol sudah bahagia.
Seungcheol mengusap rambut halus Junghan lalu menunduk mendekati telinganya.
"Jaljayo, Junghan." bisik Seungcheol.
Hawa ruangan yang tetap menusuk kulit membawa langkah kaki Seungcheol menjauh dari Junghan.
Seungcheol meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja jika Junghan memang tidak bisa terus bersamanya.
Tapi Seungcheol berharap penuh Junghan tidak melupakan hari itu untuk meluangkan waktu bersamanya.
v
v
v
© xkagehime
Seventeen – Couples – Meanie
Enjoy!
v
v
v
18 Agustus, 20xx
Minggu ujian telah berlalu, tapi Wonwoo sadar ia masih harus mengejar banyak ketinggalan.
Wonwoo menelisik kertas di hadapannya. Matanya membaca sejejer tulisan berulang-ulang. Suara ketukan jari Jihoon di meja kini membuatnya gigit bibir.
"Tiga menit..." gumam Jihoon.
Wonwoo menggaruk kepalanya kesal, lalu dengan cepat mengambil keputusan final dan mencoret jawaban di kertas—c.
"Teeeettt! Salah!" Jihoon melirik kertas miliknya sendiri. "Jawabannya a."
Wonwoo mengerang. "Ah, gimana, sih?! Padahal sebelumnya aku sudah yakin a! Haaaahhhh..."
Wonwoo menjatuhkan kepalanya ke meja diiringi kekehan Jihoon. "Tiga menit terlewatkan dan masih salah."
"Aku payah Bahasa." dengus Wonwoo.
"Benar, aku juga." Jihoon bangkit. Ia menyeruput yogurt stroberi sebelum beranjak menuju tasnya. "Mau turun?"
Wonwoo memijit pelipis. Gurunya tidak masuk lagi dan minggu ini Wonwoo sadar sudah terlalu banyak jam free. Memang minggu ujian telah selesai, namun dia adalah anak baru yang ketinggalan pelajaran. Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah Jihoon. Beruntung si pendek itu mau menemaninya.
Wonwoo menguap, ia belum menjawab tawaran Jihoon. Di satu sisi ia ingin tidur untuk sementara, tapi ia juga tidak enak untuk menolak.
Suara derap lari di koridor menjadi suara latar Wonwoo yang tetap menaruh kepala di meja.
"Hyung?!"
Wonwoo tidak menoleh—ia tidak perlu menoleh. Sedangkan Jihoon hanya menganggap lalu keberadaan makhluk di ambang pintu.
Mingyu berjalan cepat menghampiri.
"Hyung!" si Tiang itu mengetuk meja Wonwoo—membuat penghuninya yang hampir terlelap dalam tidur tersentak kaget.
"Apaan, sih?" kesal Wonwoo.
"Turun, yuk." Mingyu berjongkok di depan meja. Bibir bagian bawahnya maju sok memelas.
Mendengar itu, Wonwoo kembali menaruh kepalanya di atas meja. Tidak ingin melihat Mingyu merengek bak anak bayi seperti itu.
"Malas, ah." ujarnya.
"Hyuunggg~"
"Mau ngapain, sih?"
"Main! Kan lagi free." Mingyu nyengir. Tangannya terulur merapikan helaian poni coklat Wonwoo. "Lagian minggu ujian sudah selesai."
"Main apa?"
"Basket." senyum Mingyu terukir semakin lebar.
Wonwoo mencibir. "Ayo."
Mingyu bangkit dan meraih tangan hyungnya. Ia berjalan bersama Wonwoo keluar kelas—Soonyoung sudah membawa Jihoon.
Wonwoo melirik langit-langit koridor. Tak jauh dari sana ada kamera pengawas. Tersembunyi di dekat salah satu pilar.
Sudah selama ini dia bersekolah di Sowon. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan terjadi. Kamera pengawas itu juga tidak menunjukkan bahwa benda itu berkaitan dengan sesuatu yang dicurigainya. Tidak ada apapun, semua tetap aman dan damai.
Wonwoo masih berusaha mencoba mengorek kebenaran dibalik rasa penasarannya. Ia ingin bertanya kembali pada Jihoon soal anggota para donatur dan komite, namun ia takut terlihat mencurigakan.
Ia ingin bertanya pada orang lain, tapi pada siapa?
Bahkan hingga sekarang Wonwoo sama sekali belum menyapa ketua kelasnya. Jika ia tiba-tiba datang ke sosok itu dan bertanya 'hei, apa kau tahu siapa anggota donatur dan komite sekolah?' seperti itu, pasti hanya akan dibalas dengan wajah penuh tanda tanya. Wonwoo akan dicap bodoh dan itu akan merusak image-nya.
Masa ganteng-ganteng punya gelar idiot.
Wonwoo melenggang menuju arah yang berlawanan dengan kamera pengawas. Rasanya ia sudah tidak perlu ekstra hati-hati sekarang. Ia bisa mulai beradaptasi dan bersenang-senang—semoga saja.
Mengingat suatu hal yang terjadi dua minggu lalu sama sekali tidak mengganggunya.
Semua baik-baik saja.
Begitu juga hubungannya dengan Mingyu. Bocah itu baik-baik saja.
Ya, benar.
Tidak ada yang berubah.
Mingyu di depannya tidak melepaskan genggaman, di satu sisi Wonwoo juga tidak ingin melepasnya.
-0-0-0-
Wonwoo menangkup kedua tangannya di atas kepala. Sinar senja begitu menyorot diatas sana. Dedaunan bergoyang pelan tertiup angin dan suasana begitu tenang. Kecuali suasana itu dirusak oleh suara-suara ribut dua belas kepala di depannya.
"Ayo, hyung! Sini!" Mingyu melambai.
"Panas, tahu!" seru Wonwoo dari tempatnya.
"Tidak apa-apa! Habis ini ditraktir Seungcheol hyung—"
"Ditraktir matamu," Seungcheol mendorong bahu Soonyoung yang hanya bisa memasang wajah kecewa.
Lapangan belakang sekolah agak berbeda dari lapangan utama. Keadaanya persis halaman belakang rumah mereka sendiri, jadi tidak membingungkan mengapa anak-anak sangat nyaman berada disini.
Wonwoo melangkah mendekat. Saat memasuki lapangan, sebuah bola melayang kepadanya. "Kau yang pegang dulu, hyung."
"Timnya yang sabtu kemarin,"
"Tidak mau!" seru Seungcheol mendadak.
"Soonyoung dan Mingyu berisik sekali kalau mereka satu tim!"
"Benar! Aku tidak mau!"
Pertentangan kedua belas orang itu berlanjut.
Wonwoo hanya mengangkat bahu tak peduli. Ia men-dribble bola dengan tenang.
Diam-diam Mingyu—yang seharusnya menjadi pusat pertentangan—keluar dari kerumunan. Ia menghampiri Wonwoo dan merebut bolanya.
"Hei, mau lihat aksi keren?"
Wonwoo memeletkan lidah. "Tidak mau."
"Aku bisa shoot tinggi, lho!"
"Eiiitttsss... kau pikir hanya kau yang bisa?" Soonyoung datang dan menghancurkan momen berdua Mingyu dengan Wonwoo.
"Lihat ini!"
Di balik punggung Soonyoung yang berlagak sok keren, Mingyu mencibirnya habis-habisan.
Soonyoung melempar bola dari tempatnya. Bola melesat lurus masuk ke ring di seberang lapangan. Soonyoung tersenyum bangga pada Jihoon yang hanya memutar mata dan melempar senyum mengejek pada Mingyu.
"Aku juga bisa!"
Mingyu melempar bolanya overpower. Bola melesat seolah slow motion, melayang dari tempatnya berdiri menuju ring.
Tidak, ternyata bukan menuju ring.
Sesuai dugaan Wonwoo, Mingyu memang hanya ingin sok keren. Bolanya melayang dengan sasaran yang berubah. Jendela ruang guru yang terbuka kini dilintasi oleh bola berkecepatan tinggi.
Suara bukkk keras dari dalam sana membuat seluruh orang di lapangan belakang tersentak kaget.
Mingyu jaw-drop.
"Mampus! Mati kau, Mingyu!" Soonyoung menunjuk-nunjuk wajah Mingyu yang mengkeret di tempatnya.
"YA!" jerit Seungcheol. Ia yang semula anteng berdiri di sebelah Junghan tiba-tiba kaget ketika sebuah bola melesat melewati sisi kepalanya dengan jarak yang tipis—dramatis.
Joshua memijit pelipisnya sedangkan Junghan hanya melotot di tempat tak bisa berkata apapun.
"Mati aku!" Mingyu mendecak. "Mianhae, hyung!"
"Kau tahu kan, kalau sampai ada apa-apa kami yang akan dipanggil?!" Seungcheol mencak-mencak.
"Biar aku yang ambil." Wonwoo berbalik. Ah, hatinya memang mulia.
"Tidak, hyung!" seru Mingyu mencegah.
"Hei, Kim Mingyu. Sini kau!"
Mingyu malah berakhir berlutut di depan ketiga hyung tertuanya.
-0-0-0-
"Permisi..."
Wonwoo membiarkan kepalanya masuk duluan dari ambang pintu. Sepi. Tidak ada siapapun di ruang guru. Wonwoo akhirnya melangkah masuk dengan segenap keberanian.
Matanya menelisik keadaan khas ruang para guru. Kertas-kertas terhampar di meja mereka masing-masing. Wonwoo mencari dimana benda bulat oranye itu mendarat dengan tidak mulus.
Sudut ruangan dekat jendela menjadi perhatian Wonwoo. Benar saja, sebuah meja tampak sangat berantakan disana. Tempat pensil terjatuh dan beberapa kertas juga berserakan di lantai. Wonwoo kembali berjalan semakin masuk ke ruang guru.
Sesampainya di meja itu, Wonwoo segera membereskan beberapa benda yang terjatuh. Ia menata kembali kertas-kertas dan memasukkan pensil. Semua ia taruh ke tempat yang seharusnya.
"Semoga saem tidak bingung mengapa ada tatanan mejanya yang berubah."
Saat Wonwoo hendak berlalu, komputer dengan tampilan screen saver menyita perhatiannya. Pasti komputer itu sempat terantuk bola sehingga jadi menyala seperti itu.
Wonwoo mendekat, iseng-iseng menggesek tangannya di kursor agar tampilan desktop-nya terlihat. Tanpa di duga, bukan wallpaper yang muncul, melainkan tampilan sebuah dokumen yang berisi beberapa file words.
Wonwoo menelisik nama-nama file tersebut. Dan matanya terbelalak kala menemukan sebuah file ber-tag 'DAFTAR NAMA DONATUR DAN KOMITE' disana.
Jantungnya mendadak berdegup. Nafasnya menderu. Wonwoo tidak bisa beranjak begitu saja.
Tidak.
Karena akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya.
Wonwoo tidak tahu segala perjuangan untuk memecahkan rasa penasarannya akan berakhir seperti ini.
Ini ilegal, memang. Tidak sopan dan tidak patut dilakukan. Tapi Wonwoo harus melakukannya kali ini.
Hidup butuh pertaruhan, dan Wonwoo yakin ia bisa menanggung resikonya.
Matanya menatap langit-langit hingga ke pojok. Tidak ada kamera pengawas seperti yang sudah diceknya bahkan saat hari pertama bersekolah.
Wonwoo akhirnya menggenggam kursor dengan tangan gemetar. Ia mengarahkan tanda panah pada file itu dan membukanya.
Loading terasa begitu menyebalkan diantara degup jantungnya yang terus berpacu. Setetes keringat meluncur melintasi pelipisnya. Wonwoo tahu ia melankolis, tapi ia jujur bahwa sekarang ia begitu terdesak dan deg-degan.
File terbuka. Wonwoo menahan jeritannya.
Jemarinya men-scroll tulisan yang ternyata berbentuk tabel itu. Nama-nama asing beserta keterangan terdapat disana. Tapi entah mengapaWonwoo merasa dirinya hanya perlu melewatinya tanpa curiga sama sekali.
Tangannya terus bergerak. Tidak tahu nama siapa yang dicarinya.
Wonwoo tidak tahu apa yang dicarinya dan apa yang ingin ia buktikan sekarang. Isi kepalanya seketika blank.
Sedari tadi ia hanya terus melewati nama-nama bahkan sebelum selesai membacanya.
Dan ketika tangannya berhenti men-scroll karena menemukan sebuah nama, Wonwoo segera menutup mulutnya menahan kaget.
Tidak mungkin.
Ia tidak percaya ini.
Donatur Utama, Ketua Komite; Kim Minwoo.
Wonwoo merasakan matanya memanas karena terus melotot tanpa sadar.
"Si brengsek itu...!"
Wonwoo menggigit bibirnya keras-keras. Tangannya terkepal dan nafasnya memburu kesal. Segera saja Wonwoo membaca keterangan yang ada.
Namun berbeda dengan yang lain, tidak ada keterangan yang memuaskan tentang Kim Minwoo disana. Sosok itu terlihat sengaja ditutupi identitasnya.
Wonwoo mendecak. "Sialan!"
Ketika Wonwoo hendak menutup file itu, sesuatu kembali menyita perhatiannya. Di kolom paling pojok, Wonwoo menemukan angka-angka yang berderet.
Wonwoo menyeringai.
Bagaimana pun mereka bodoh. Menyertakan nomor telepon berarti mengundang banyak orang untuk menguak identitasnya. Wonwoo segera mengambil pulpen dan menuliskan nomor itu di telapak tangannya.
"Mati kau! Aku akan menemukanmu, Kim Minwoo!"
Setelahnya, Wonwoo kembali mematikan komputer itu dan melenggang dengan bola di genggamannya seolah tidak ada apapun yang terjadi.
-0-0-0-
Wonwoo melempar bola yang dipegangnya tepat ke kepala Mingyu.
Diiringi ringisan sakit, Mingyu mengambil bola yang telah menggelinding di tanah itu. "Maaf, hyung..."
Wonwoo hanya menggumam. "Bolanya nabrak meja guru, tahu!"
"Serius? Ada yang rusak atau pecah gitu?"
Wonwoo menggeleng. Seungcheol menghela nafas lega. Dengan begitu tabungannya tidak akan terkuras hanya untuk ganti rugi.
Soonyoung mendekat. "Mau keluar?" tawarnya.
"Kemana?"
"Di belakang kan, ada bukit."
Wonwoo menaikkan alis. "Benarkah? Wow."
"Memangnya boleh di tengah jam pelajaran seperti ini?" Minghao menggaruk tengkuknya ragu.
"Jam pelajaran apaan. Kita sedang free, tahu."
"Kita gimana?" seru Hansol. Ia menunjuk Seungkwan dan Dino seolah mempertanyakan nasib.
"Ya kalian tinggal ikut, lah!" Soonyoung membuka pagar kawat diam-diam.
Dino menyela. "Ehh... hyungdeul! Nanti tidak dianggap membolos?"
"Peduli amat."
"Kapan-kapan aku akan mengajakmu untuk meminta ampun atas seluruh dosamu, Soonyoung." Joshua Hong urut dada di tempatnya.
"Oke. Kapan-kapan ya, hyung."
Joshua hanya memutar mata jengah. Ujung-ujungnya ia juga mengikuti seluruh dongsaengnya untuk menembus pagar tersembunyi di balik semak-semak.
"Waaahhh...!"
"Hush! Jangan berisik! Nanti ketahuan!" Soonyoung menaruh telunjuknya di depan bibir.
Mereka berjalan menjauh dari pagar. Di depan sana terhampar padang rumput dan bukit kecil dengan sebuah pohon rindang besar. Keadaannya begitu alami dan menyenangkan. Wonwoo tidak tahu ada bukit seperti ini di pinggiran Seoul.
Soonyoung berjalan di depan mereka, setelah agak jauh, si idiot itu malah berteriak keras. "WAAAAHHH...!"
Semua hanya bisa geleng kepala.
"Hyung!" Mingyu menghampirinya, lalu terkekeh. "Long time no see...!"
"Hai," tak disangka, Wonwoo tersenyum kecil.
Mingyu semakin menggenggam tangannya. Menarik Wonwoo menuju bukit lebih cepat.
"Lihat! Pemandangan dari sini cakep, ya?"
"Hmmm..."
Sinar senja lebih terlihat dari sini—menyorot dengan indah dan menawan. Sebentar lagi jam pulang sekolah, mungkin mereka bisa menatap sunset jika berada lebih lama.
"Sudah lama tidak lihat yang seperti ini," ujar Wonwoo. Kini ia mendudukkan diri di atas rerumputan.
"Di tengah Seoul tidak akan ada yang seperti ini." Mingyu mengikuti sang hyung duduk berselonjor.
Selanjutnya tidak ada yang berbicara. Wonwoo diam menghayati setiap hembusan angin yang menerpa wajah dan rambutnya. Mingyu di sisinya juga tidak berbicara, mungkin melakukan hal yang sama—menghayati sekitar.
Lima menit terlewat. Mingyu menoleh menatap hyungnya.
Jeon Wonwoo.
Nama itu seolah sudah terpatri dalam ingatan dan hatinya. Seolah sudah menjadi sesuatu yang penting dan berharga dalam hidupnya.
Sejak kapan Mingyu terpikat pada Wonwoo?
Apa yang membuat Mingyu bisa terpikat pada sosok itu?
Wonwoo itu menakjubkan di matanya.
Penuh hal ajaib yang bisa membuatnya bahagia walau hanya sekedar secuil senyum.
Membuat Mingyu ingin sekali selalu ada di sampingnya, bersamanya, menjaganya, menyemangatinya, dan menggenggam tangannya.
Bahkan jika bisa, Mingyu ingin Wonwoo menjadi miliknya.
Wonwoo tidak pernah terlihat lemah—ia tidak ingin terlihat lemah. Mingyu belum pernah melihatnya menangis, padahal Mingyu tahu Wonwoo telah kehilangan sesuatu yang bisa membuat kehidupannya berguncang hebat.
Sekali lagi, Wonwoo itu menakjubkan.
Mingyu tidak akan pernah mau menjauh dari Wonwoo.
Dan Mingyu tidak akan pernah bisa melepas pandangannya dari sosok itu.
"Lihat apa, hah?"
Mingyu nyengir. "Aku melihat duniaku,"
"Gombal." Wonwoo mendengus sambil menahan tawa.
"Hyung... sepertinya ada yang salah dengan mataku."
"Jangan lanjutkan."
"Karena aku tidak bisa melepas pandangan darimu."
Wonwoo memukul lengan Mingyu. "Geli dengarnya, tahu!"
"Hehehe... nge-blush dong, hyung!" Mingyu balas menyenggol hyungnya.
"Mana nge-blush? Kau kira aku yeoja?!" kata Wonwoo cemberut.
"Itu ngambeknya saja kayak yeoja."
"Tutup mulutmu, Mingyu!"
"Aduh! Iya, iya! Woles dong..." Mingyu mengelus tangannya yang dicubit Wonwoo.
Wonwoo merebahkan tubuhnya. "Haaahhh... aku ingin tidur!"
Mingyu menatap Wonwoo yang berada tepat di sampingnya. Bagaimana bisa ia tidak tersenyum melihat Wonwoo yang rebahan dengan mata tertutup namun dengan wajah yang berseri-seri layaknya anak kecil seperti ini?
Wonwoo manis sekali sekarang.
Ah, Wonwoo memang selalu manis di matanya.
"Hyung banyak pikiran, ya? Nanti cepat tua, lho." Mingyu sekali lagi iseng membereskan poni Wonwoo.
Wonwoo membuka sebelah matanya. "Apa masalahmu kalau aku banyak pikiran? Walau aku keriput juga nanti jodoh tidak kemana."
Tentu saja karena jodohmu itu aku, hyung, itu hanya gumaman dalam hati Mingyu.
"Ya, kan... kau bisa cerita padaku, gitu?"
Wonwoo bangkit dari rebahannya. Ia kini duduk kembali menatap Mingyu dalam-dalam.
Ditatap seperti itu, Mingyu jadi merasa ada sesuatu.
Wonwoo tidak berbicara, seolah dalam hatinya sendiri sedang bergulat dengan rasa ragu.
Mingyu sudah berharap Wonwoo mau berbagi masalah dengannya.
Beberapa detik kemudian sebelum akhirnya yang lebih tua buka suara.
"Yang perlu kau pikirkan sekarang adalah nilai-nilai ujianmu." Wonwoo mengangkat bahu acuh.
Mingyu mendengus mendengar jawaban itu. "Apaan, sih. Nilaiku pasti baik-baik saja."
"Kalau nilaimu bagus semua, aku akan melakukan apapun yang kau mau."
"Benar, ya?" Mingyu spontan menatap Wonwoo dengan mata bulat membinar—persis bocah yang diiming-imingkan hadiah.
"Iya." kata Wonwoo.
"High-five!"
Wonwoo mengangat tangannya dan melakukan high-five dengan senyum kecil yang terukir.
-0-0-0-
"Itu Mirabilis jalapa."
"Aku tidak peduli."
"Kau tidak asyik."
"Sebenarnya kau mau apa disini, Han?"
"Main. Bersenang-senang. Guling-guling kalau bisa. Tapi aku tidak mau."
"Terus kenapa mengajakku?"
"Tidak boleh?" setengah bagian tubuh Junghan menoleh ke belakang. Tubuhnya yang tertimpa cahaya matahari senja begitu memikat atensi Seungcheol saat itu juga.
"Tidak apa-apa, sih. Tapi yang ada disini hanya bunga," Seungcheol menggaruk tengkuknya kikuk ketika tanpa sadar ia sudah menatap Junghan terlalu lama.
Junghan berjongkok, menyentuh satu kelopak bunga putih yang bergoyang tertiup angin. "Kalau kau mengerti bahasa bunga, kau pasti akan senang."
"Bunga tidak berbicara."
Junghan mendengus. "Karena itu kubilang kau sama sekali tidak asyik."
"Baik, baik. Ajarkan aku bagaimana caranya menjadi asyik hanya dengan mengerti bahasa bunga."
Seungcheol berjongkok disebelah Junghan. Tangannya ikut terulur menyentuh sebuah bunga.
"Mau merangkai bunga?"
Seungcheol menoleh dengan alis terangkat. "Kau bisa merangkai bunga?"
"Tentu saja." Junghan tersenyum.
Tangannya dengan lihat memetik beberapa tangkai bunga sambil berkomat-kamit kecil—seperti meminta maaf karena telah mencabut mereka dari kehidupan, itu yang sempat didengar Seungcheol—lalu mulai tenggelam dalam dunianya sendiri.
Otomatis Seungcheol, yang diduga seorang manly, cepat bosan hanya dengan duduk di tengah taman bunga dan memperhatikan orang lain yang mengajaknya datang ke sini malah tenggelam dalam kesibukan sendiri.
"Hei, Junghan." ujar Seungcheol pelan.
"Ya?"
"Apa kau punya waktu?"
Junghan mengangkat pandangan. "Kenapa?"
"Nanti mau keluar bersamaku?"
Junghan mengernyit. "Boleh. Tapi... tumben?"
Seungcheol terkekeh melihat Junghan yang harus membagi-bagi perhatian kepadanya dan rangkaian bunga setengah jadi itu.
"Aku hanya ingin bersamamu."
Junghan tertawa mendengarnya. "Aku mengerti."
"Kau tidak mengerti." gumam Seungcheol dengan suara sangat kecil.
"Jangan bergumam, aku tidak mendengarmu."
"Kau melupakannya."
"Apa? Jangan setengah-setengah!" Junghan sedikit menaikkan oktafnya.
"Aku paham kau sibuk, jadi aku berusaha mengerti mengapa kau melupakannya."
"Lupa apa?"
"Kau tidak melihat kalender akhir-akhir ini." Seungcheol menunjuk Junghan tepat ke hidungnya.
"Jelaskan padaku sekarang, Seungcheol."
"Kau," Seungcheol mendekatkan wajahnya pada Junghan lalu menyentil dahinya. "Kau melupakan ulang tahunku."
Beberapa detik hening sebelum akhirnya Junghan membuka mulut kaget tak percaya.
"ASTAGA!" jerinya tiba-tiba, membuat Seungcheol tersentak mundur.
"Astaga! Demi apa?! Aku sudah menandainya di kalender—"
"Kubilang kau tidak melihat kalender akhir-akhir ini."
"Bagaimana bisa aku melupakannya?!"
"Kau sibuk, Junghan. Aku mengerti."
"Padahal aku hingga larut ada di meja belajar! Mengapa bisa aku tidak mengingat atau bahkan melihatnya?"
"Kalendernya jatuh tertimpa buku-bukumu." jelas Seungcheol angkat bahu.
Junghan terdiam. Sosok angelic itu tampak kecewa dan sedih pada dirinya sendiri. Rangkaian bunga di tangannya terlupakan begitu saja. Bibir manis Junghan menurun ke bawah dan ia menunduk.
"Maafkan aku..."
"Tidak apa-apa," Seungcheol mengelus surai madu Junghan. "Makanya nanti kau mau keluar tidak?"
"Aku tidak memiliki hadiah untukmu."
"Kau yang menjadi hadiahku saja sudah cukup, kok." Seungcheol nyengir modus.
"Benarkah?" Junghan mengangkat wajahnya yang bersinar senang.
Melihat itu, Seungcheol menahan tawa. "Tentu saja,"
"Kalau begitu... jjaaa~" Junghan memakai hasil rangkaian bunga-bunga berkelopak putih itu di kepalanya. "Kalau begitu, aku akan menjadi hadiahmu. Yoon Junghan akan menjadi hadiah untuk Choi Seungcheol di hari ulang tahunnya!"
Seungcheol tersenyum.
Benar. Ini ulang tahun paling indah.
Pada tahun yang hanya dilalui sekali seumur hidup ini, ia mendapat Yoon Junghan sebagai hadiahnya walaupun telat.
"Ngomong-ngomong kenapa dongsaeng-mu yang lain juga tidak ingat?"
"Aku akan menangih hanwoo pada mereka, tenang saja." Seungcheol tersenyum jahat.
-0-0-0-
Soonyoung mengerang dari tempat persembunyiannya di balik pohon.
"Kukira Seungcheol hyung akan menagih ciuman pada Junghan hyung! Ahhh... Seungcheol hyung tidak seru!"
Jun tertawa sambil menepuk bahu si sipit itu. "Seungcheol hyung itu tidak sepertimu, ya."
"Aku juga ingin diberi hadiah oleh Jihoon." Soonyoung cemberut.
"Jadian sana." Seokmin menaburkan dedaunan di atas rambut putih kepirangan Soonyoung.
"Kau pikir semudah itu apa?"
"Yaelah... memangnya situ tidak capek ngode terus? Tiap hari rangkulan, nyapa maniiiss sekali, terus sering mengoceh 'aku tidak bisa hidup tanpa Jihoonie', bahkan sampai mengajak sekasur berdua... please ya, Soonyoung hyung!"
Seokmin memberikan wajah derp-nya tepat di hadapan si sipit.
Soonyoung makin cemberut. "Jihoon yang tidak peka." Mendadak ia curhat.
"Peka kali. Atau mungkin justru kau yang tidak peka."
"Capek ya, ngomongin soal ngode-peka terus. Biarin saja. Tunggu waktunya."
"Tunggu waktu juga kapan kalau tidak dimulai, kapan kalau tidak ada satu dari kalian yang berani confess."
"Please, Seokmin. Kau bukan pakar cinta jadi diam saja, oke?" Soonyoung memutar mata.
"Aku jujur, lho. Aku hanya memberi nasihat."
"Jangan berbicara soal hubungan tanpa statusku dengan Jihoon—"
"Kalian sedang apa?"
Ketika eksistensi mungil Lee Jihoon tiba-tiba muncul, Soonyoung segera memberikan senyum super lebarnya pada Jihoon dengan dedaunan kering tersangkut di rambutnya. "Bukan apa-apa, Jihoonie."
"Oh, yasudah."
Jihoon berlalu begitu saja.
"Dih? Gitu doang? Tidak menyapa atau apa, gitu? Tidak menanyakan kabar? Tidak tanya-tanya sudah makan belum, sudah mandi belum..."
"Sudah selesai ngomong belum?"
Soonyoung pundung seketika. "Jihoonie... untung sayang, ya."
Jihoon hanya mengangkat bahu acuh.
-0-0-0-
Bel akhir sekolah sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu.
"Pulaaaanggg...! Hyung, ayo pulang bersamaku!"
Wonwoo berhenti melangkah. Jantungnya kembali berdegup. Dengan gerakan pelan ia menoleh pada Mingyu—berusaha mengontrol ekspresinya.
"Aku tidak bisa pulang denganmu sekarang..."
Mingyu menaikkan alis. "Mengapa?"
"Aku ada sedikit urusan, begitulah..." Wonwoo tampak ragu. Hyung-nya itu bahkan tidak berani menatap matanya.
Mingyu terdiam. Ia tahu Wonwoo menyembunyikan sesuatu.
Mungkin ini balasan yang harus diterimanya. Mingyu sudah membohongi Wonwoo dan tidak ingin berbagi rahasia dengannya. Maka ia juga harus merelakan Wonwoo melakukan apa yang diinginkan sekarang—sendirian.
"Baiklah. Cepat pulang, ya." ujar Mingyu final.
Wonwoo mengangkat kepala tak percaya. Mingyu dapat dengan mudah melepaskannya... ada apa sebenarnya dengan anak itu?
"Aku menunggumu, hyung."
Mingyu menyempatkan diri untuk menggusak rambut halus Wonwoo sebelum berlalu keluar gerbang. Meninggalkan Wonwoo yang masih terkejut di sana tanpa bisa melakukan apapun.
"Mian..."
Wonwoo berbalik arah dan berlari.
Kali ini ia tidak bisa kehilangan kesempatan begitu saja!
Wonwoo menembus segala kerumunan sore hari. Ia menuju alun-alun. Ia tidak mengerti dengan jalan pikirannya yang memaksakan diri untuk berlari kesana—ia merasa gila, namun ia juga tidak peduli.
Wonwoo melihat tangannya, memastikan apa yang sebelumnya ia tulis disana tidak pudar bahkan sebelum ia mencapai telepon umum. Daerah pinggiran Seoul memang masih memiliki beberapa telepon umum tua.
Yang ia butuhkan sekarang adalah kepastian.
Wonwoo tidak bisa menghubungi Kim Minwoo begitu saja dengan nomor ponsel pribadi atau masalah akan berkembang dengan cepat. Bagaimana pun Wonwoo harus punya taktik untuk dapat menang dari si brengsek itu sebelum ia tertangkap bagaikan tikus.
Wonwoo menyandarkan tubuhnya di salah satu tiang telepon. Nafasnya menderu lelah. Ia berlari kencang sekali agar dapat menyelesaikan masalahnya dengan cepat.
Wonwoo meraih gagang telepon. Tangannya gemetar ketika akan memencet angka-angka. Setiap tombol yang disentuhnya selalu membuahkan rasa ragu dan pergulatan batin hebat antara ia harus melakukan ini atau tidak.
Wonwoo tahu jika ia melakukan ini, ada kemungkinan luka yang tergores di hatinya akan kembali terbuka dan semakin lebar. Tapi jika ia tidak melakukan ini, maka Wonwoo akan mengecap dirinya pengecut—dan ibunya tidak ingin ia menjadi pengecut.
Nada sambung pertama dan Wonwoo semakin was-was.
Keadaan sekitar sepi, jadi Wonwoo tidak perlu cemas apabila ia akan teriak-teriak karena jengkel.
"Hmmm... yeoboseyo?"
Wonwoo menahan nafas.
Mendadak rasa sesak menguasai dirinya. Ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata dan hanya terdiam dalam kagetnya. Mulutnya mengeluarkan suara terbata-bata.
Dicekik oleh kenyataan itu ternyata sangat menyakitkan.
"K-kau..."
"Ya? Yeoboseyo? Siapa ini?"
"Ki-Kim... Kim—"
"Halo? Akan saya tutup."
Wonwoo mendadak geram. Seenaknya saja ia berkata santai seperti itu.
"Brengsek! Dengarkan aku dulu, sialan!" akhirnya, Wonwoo berteriak bahkan sebelum membalas salam.
"Ohoho... ada apa? Sepertinya kau hanyalah anak muda yang akan membuang-buang waktuku."
"Kim Minwoo kau brengsek sialan!" bentak Wonwoo.
Suara hembusan cerutu terdengar dari seberang. "Oh, aku tahu siapa dirimu."
"Kau sadar apa yang telah kau lakukan selama ini pada keluargaku, bukan?!" Wonwoo menahan amarahnya dengan suara menggebu-gebu.
"Ahahaha... aku benar, kan! Kau anak dari si Jeon pengkhianat itu." tawa mencela Kim Minwoo benar-benar menghancurkan pertahanan Wonwoo.
"Jangan asal bicara sebelum kau berkaca melihat dirimu sendiri! Kau yang pengkhianat, brengsek!" Wonwoo tidak bisa menahan sumpah serapahnya. "Kau harusnya malu atas segala perbuatanmu!"
"Anak muda, kau bisa jelaskan padaku perbuatan apa yang membuatku harus malu?"
"SUDAH KUBILANG KAU BERKHIANAT—"
"Tutup mulutmu, bocah!" Kim Minwoo habis kesabaran.
"Kau menyedihkan, Kim Minwoo." lirih Wonwoo.
"Kau tahu kalau kau bisa hidup hingga saat ini juga karena aku, bukan?! Dengar, bocah kecil. Jika ayahmu tidak mengemis harta padaku, kau pasti sudah menjadi tulang belulang bersama keluargamu yang harmonis itu. Terlalu harmonis hingga membuatku jijik setengah mati."
Wonwoo menahan rasa sesaknya. "Kau tahu... ayah sudah banyak berterima kasih padamu... ayah sangat mengagumi kebaikan hatimu... tapi kenapa kau membalasnya seperti itu, hah?! Kau tidak berperikemanusiaan!"
"Jaga mulutmu!"
"Kau tahu kalau kau tidak hanya merebut dua nyawa dariku, kan?! KAU TAHU KAU TELAH MEREBUT SEGALANYA DARIKU!"
Rasa sesak dan kesal itu tidak bisa di tahan. Segala yang Wonwoo rasakan saat ini tidak bisa digambarkan. Ia lelah.
Kim Minwoo malah tertawa di ujung sana. "Oh... benarkah? Bagus kalau begitu. Aku senang melihatmu menderita, bocah."
Tangan Wonwoo mengepal. Gagang telepon itu terasa akan retak karena terus digenggamnya.
"Mati kau, Kim Minwoo!"
"Asal kau tahu, bocah. Aku tidak peduli berapa nyawa yang kuambil untuk duniaku sendiri. Tapi yang pasti jika kau ingin selamat, maka datanglah kepadaku." kata Kim Minwoo tenang.
"Aku punya harga diri. Aku tidak akan pernah merendah padamu hanya untuk selamat dari hidup!"
"Sayang sekali..." Kim Minwoo menghembuskan cerutunya kembali. "Kalau begitu, aku akan mengincar lebih banyak nyawa milikmu. Milik orang-orang yang berharga bagimu."
Wonwoo memukul dinding di sebelahnya. "Coba saja kalau bisa, sialan!"
"Ups, aku lupa. Memangnya siapa lagi orang berharga milikmu? Bukankhn mereka sudah mati semua yaa..."
"MATI KAU, MATI!" teriakkan Wonwoo menggema. Ia geram bukan main.
"Dengar, Kim Minwoo! Aku tidak akan melepaskanmu! Kau sentuh orang-orang berhargaku sekali lagi, maka aku akan membunuhmu!" bentak Wonwoo.
"Ini akan menjadi sesuatu yang menarik, anak muda."
Wonwoo membanting telepon. Mematikan sambungan secara sepihak sebelum ia lepas kendali berakhir mengambil benda tajam. Kemudian jatuh merosot ke tanah sambil meremas kepalanya sendiri.
Frustasi. Wonwoo sangat frustasi.
Sekarang dunianya hancur. Wonwoo tidak tahu harus melakukan apalagi.
Kim Minwoo terlalu brengsek untuk dihadapi. Bagaimana bisa orang seperti itu hidup di dunia ini?
Luka lama terbuka lagi. Wonwoo yakin Kim Minwoo berkhianat. Wonwoo tidak salah untuk terus mengutuknya seumur hidup.
Perasaannya tidak menentu sekarang.
Jantungnya berdegup keras dan ia tidak bisa memikirkan apapun.
Tapi Wonwoo bertanya-tanya mengapa air matanya tak kunjung menetes hingga saat ini.
-0-0-0-
Perjalanan pulang kali ini terasa sepi sekali.
Tentu saja. Tanpa Jeon Wonwoo yang selalu digodainya, Kim Mingyu hanya bisa diam kicep di tengah keramaian trotoar sore itu.
Tidak ada kerjaan, Mingyu menatap jam tangannya. Sudah hampir lima belas menit ia berjalan dan itu terasa lama sekali. Padahal jika ia bersama Wonwoo, maka perjalanan satu hari pun akan terasa menyenangkan.
"Sebenarnya apa urusan Wonwoo hyung?"
Sekali lagi pikiran itu berputar. Mingyu menggeleng ketika hampir saja negative thinking hinggap di kepalanya.
Mingyu merongoh saku celana seragam dan tidak menemukan ponselnya disana. Langsung saja ia dilanda panik. Buru-buru tiang itu berhenti berjalan dan mengubek tasnya.
Menemukan ponsel itu berada diantara tumpukan buku membuat senyum Mingyu terkembang lega.
Ia akan menelepon Wonwoo. Mumpung di luar, ia ingin mengajak Wonwoo jalan-jalan. Semoga saja hyung itu telah menyelesaikan urusannya.
Namun ketika ia menyalakan ponsel, yang muncul adalah pemberitahuan adanya pesan suara. Seseorang menelepon saat ponsel tidak dalam genggamannya dan memutuskan untuk meninggalkan pesan suara.
Mingyu memiringkan kepala, pasti ini menyangkut hal penting.
Mingyu mengenakan earphone dan mendengarkan pesan itu.
Untaian kalimat singkat dari suara yang begitu dikenalnya menghentikan langkah Mingyu.
"Mingyu-ah, appa akan dari pulang Jepang sekarang. Kau tidak melakukan hal-hal buruk, bukan?"
Mingyu mendadak dilanda kegelisahan. Segera ia mencabut earphone dari telinganya dan berlari untuk mencari taksi.
Ia harus segera ke gedung. Ia melupakan sesuatu yang sangat penting!
Mingyu sengaja tidak melakukan hal ini dari jauh-jauh hari karena memang tidak bisa. Sekarang saat ayahnya berkata ia akan pulang dari Jepang, Mingyu kelabakan bagai tersambar petir.
Selama di dalam taksi, Mingyu sama sekali tidak bisa berhenti cemas. Berkali-kali ia meminta sang supir untuk melaju lebih cepat. Ia harus mencapai gedung secepat mungkin walau Mingyu tidak tahu kapan ayahnya akan menguasai kembali ruangannya.
Mingyu menghela nafas dan menubrukkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menatap jendela. Huru-hara manusia yang berlalu-lalang terlewati sekejap mata. Wajahnya menyendu.
Ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Mingyu menunduk dan tatapan beralih pada telapak tangannya.
Saat ber-high five, Mingyu yakin dirinya tidak salah lihat. Wonwoo menuliskan sesuatu di telapak tangannya dan tulisan itu adalah angka-angka membentuk suatu nomor.
Sekarang Mingyu menerka-nerka apakah benar Wonwoo menulis nomor Kim Minwoo di telapak tangannya.
Seketika lamunan Mingyu buyar ketika mobil berhenti mendadak. Mingyu memandang keluar jendela dan menemukan pemandangan gedung bertingkat telah ada di sisinya. Segera ia keluar dan membayar lalu melesat kesana.
"Mingyu-ssi?" seseorang di meja informan tampak terkejut ketika Mingyu seenaknya menuju lift.
"Aku ada urusan penting!"
"Tapi Tuan sedang tidak ada—"
Mingyu tidak mengubrisnya dan segera menutup lift. Lantai 23 terasa sangat lama kali ini, berbeda dengan biasanya yang terasa begitu cepat.
Mingyu gigit bibir. Kakinya mengetuk-ketuk tak sabaran.
"Aku harus sempat... aku pasti sempat..." gumaman itu tak henti-hentinya diucapkan.
Sesampainya di koridor sepi melompong yang sudah sangat familiar itu, Mingyu segera berlari menuju ruangan ayahnya. Dan tepat seperti dugaannya, dikunci.
Mingyu tidak kehabisan akal. Ia akan menggunakan cara ala para pencuri tidak modal di TV—menggunakan kawat pengait. Ia tidak peduli lagi dengan apapun.
Sepuluh menit berlalu. Kepala Mingyu memanas dan akhirnya pintu terbuka. Mingyu merangsek masuk dan menemukan ruangan besar yang begitu dingin dan sepi.
"Halo...?"
Tidak ada kamera pengawas. Mingyu semakin melangkah ke dalam setelah menutup pintu rapat-rapat.
Ia akan menyelidiki apakah benar-benar Kim Minwoo yang memasang kamera pengawas di Sowon High School. Apa Kim Minwoo memang benar-benar mengincarnya kali ini?
Tidak banyak yang tahu sela-sela rahasia disini. Karena Kim Minwoo itu licik—namun bagaimana pun Mingyu adalah anaknya—dia pasti memiliki banyak tempat tersembunyi. Salah satunya adalah celah kecil di samping lemari buku besar. Tidak akan ada yang tahu tempat ini.
Sebuah meja dengan komputer sederhana terletak mati disana. Mingyu mendekat, tangannya terulur menyalakan komputer dengan nafas tak kunjung berhenti menderu.
Dalam ruangan penuh aura mencekam ini, Mingyu hanya ditemani oleh detik jarum jam. Matanya lihai melirik tulisan-tulisan dan tangannya sibuk membuka banyak folder.
Hingga ia sampai di satu folder tersembunyi yang berhasil di-hack-nya, Mingyu menahan nafas.
Puluhan video berlatar belakang keadaan sekolah tersimpan disana. Mingyu menggertakkan gigi geram. Kim Minwoo memang sangat licik.
Tidak sedikit pula video yang menampilkan dirinya dan teman-temannya, termasuk Wonwoo—bahkan beberapa tampak di-close up walau hasil video itu tidak terlalu jelas.
Dibukanya satu video dengan suasana kantin. Mingyu merasa bodoh karena ia bahkan tidak menyadari ada yang memperhatikannya disana.
Tanggal yang tertulis disana adalah tanggal hari pertama Wonwoo masuk Sowon. Hyung-nya itu tampak melirik ke langit-langit, sekilas melakukan kontak mata dengan kamera sebelum akhirnya menunduk dan kembali berjalan mengikuti dirinya yang bahkan ada di depan Wonwoo.
Bagaimana bisa ia tidak menyadari hal ini?
Buru-buru Mingyu menghapus seluruh video dalam folder itu. Ia memastikan tidak ada sedikit pun jejak disana dan di recycle bin sebelum akhirnya mematikan komputer.
Tiba-tiba jam tangannya berbunyi. Pukul lima sore. Mingyu segera menghentikan jamnya sebelum ada yang menyadarinya disini.
Setelah yakin semua urusan selesai, Mingyu menghela nafas lega. Untung ia sempat menghapus video-video kamera pengawas itu sebelum Kim Minwoo melihatnya.
Ia tidak bisa menyerahkan Wonwoo begitu saja.
Tapi ia tidak boleh lengah. Mingyu berlari menuju lift. Kaki panjangnya menyusuri koridor lantai bawah dengan cepat.
Ia masih berada dalam lingkup arena pribadi Kim Minwoo. Dan ayahnya berkata ia tidak perlu ke gedung sebelum sang ayah kembali ke ruangannya terlebih dahulu. Namun Mingyu memberontak, ia memiliki sesuatu yang harus diperjuangkan daripada nasibnya sendiri.
Ponselnya berdering. Mingyu memastikan ia melihat called ID dan yakin matanya membaca tulisan 'Wonwoo hyung' disana. Tapi bukan telepon yang diterimanya, melainkan pesan singkat.
Pesan itu terbuka.
"Mingyu..."
Hanya itu tulisan disana.
Mingyu mendadak senyam-senyum sendiri di tempat. Walau bukan sesuatu yang berarti, tapi ketika Wonwoo memutuskan untuk mengiriminya pesan duluan bukankah itu pertanda baik bahwa mereka kini semakin dekat?
Ah, Mingyu sama sekali tidak bisa melepaskan senyumnya mengingat wajah manis Wonwoo.
Mingyu mempercepat larinya. Ia ingin segera bertemu Wonwoo!
"Mingyu-ssi!" suara wanita di meja informan kembali menyapanya. Mingyu menoleh.
"Urusanku sudah selesai, terima kasih!" Mingyu melambai dengan senyum kekanakkan. Bahkan matanya berbinar cerah ketika lanjut berkata. "Aku akan bertemu hyung-ku! Aku senang sekali, lho!"
"Bukan, bukan itu maksud saya." sang informan menjeda, namun Mingyu tidak menghentikan larinya. "Tuan sudah—"
Percuma saja.
Mingyu telah mencapai pintu dan keluar.
Namun ketika ia sampai di lobby, Mingyu mendadak berhenti.
Kim Mingyu menemukan Kim Minwoo berdiri disana—tepat lima meter di hadapannya, di lobby gedung yang seharusnya tidak didatanginya.
.
.
.
.
.
To be continued~
A/N:
FINALLY!
Saya tahu saya masokis menyatukan fluff dengan adegan villain seperti di atas tapi yehet yaaaa bisa apdet akhir tahun, yuuuhuuu~
Maapin Hime kalo bikin kalian campur aduk banget sama fic ini muehehehehee
AND HAPPY BELATED BIRTHDAY FOR URI JISOO OPPA YANG SERING SENYUM TIPIS TIPIS TAPI KECENYA TEBEL TEBEL HUAAA MUAAHH DARI SAYA YA :* Moga makin + + ya bang tetep jadi Joshua-nya svt dan tolong itu bantuin dongsaengs lo yang pada miring-miring biar lurus lagi /tabok/
Last chapter update for 2015 and hello 2016, we'll wait every good things happen next year~
DaeMinJae: Yosh, hai kamuuu~ wah, makasih banget sudah mencintai epep abal ini :^) weess drama on the way wkwkwk. Yup, bener sekalee! Oke, new chap update, thanks for review~
XiayuweLiu: mereka emang begitu, saya mah bisa apa atuh... oiya dooongg pasti jadi hehe thanks for review kak :*
mingyuxwonwoo: sebenernya saya juga masih mikir endingnya mau bagemana /author ga bener/ tapi dienjoy aja yaaa misterinya nanti juga kebongkar, kok! hihi, thanks for review. Fighting!
: Kim Minwoo minta dikulitin emang ya banyak rahasia wkwkw doain wonu supaya dia kagak kenapa-napa ya... thanks for review :D
sehan: yeeeyyy sekarang apdet lagiiii... wkwkwk maap kalo chap ini bikin makin tegang tapi saya kuatkan kokoromu dengan meanie lopey dopey diatas, moga enjoy ya :D wah, kalo channel yutub-nya aku juga gatau soalnya aku cuma liat-liat di instagram sama tumblr /saya juga kangen uji duuuhh tuh anak makin unyu aja perharinya kokoro lemah kalo udah nyangkut dia mah/ sebenernya di konser kemaren yang pada nonton dilarang ngambil pics, fancam, atau audio streaming soalnya kan konsernya tentang unreleased track jadi kayak ada hak cipta dari svt-nya gitu. Bahkan katanya ada yang sampe diusir gara-gara ketahuan ngambil fancam /saya tahu dari rumor-rumor sekitar, entah benar atau tidak/ tapi justru karena dilarang ambil fancam katanya sih yaaa bakal ada CD konsernya tapi belum verif dari Pledis ( maap balesannya kepanjangan, kalo bisa lewat PM aku udah fangirl kali sama kamuuu~ makasih ya beb! Hihiw~
tinkuerbxlle: oke siippp terus manggilnya apa ya hehehe... bentaran lagi kebongkar niih wonu udah calling-calling sama babeh minwoo terus mingyu udah kepergok berontak sama babehnya. Mingyu mah emang kampret aslinya aja begitu untung cakep tuh anak :') sudah apdet yaa, thanks for review~
baskoro alham: APA KABAR KAK KOKORONYA? SAYA BALIK LAGI NIIIHHH hehehehe kali ini makin bikin greget gak yaa~ /saya jahat banget astagah maapkeun/ kan kita harus membuat gebrakan yang WAAAH gitu loh /anjir ini apaan sih ngomong ga jelas. Iyup, pas liat langit-langit kantin hmzzz makanya wonu gamau duduk ngadep itu cctv dia maunya ngadep tembok aja jadi mukanya ga kesorot. Makasih kak udah nungguin nih epep saya juga kejer kalo liat kakak ripiu tau gak, senengnya ga ketulungan. Thanks for reviewwww~
KureyRey: malu malu kucing dia bhaakkk hhmmm... ketauan ga yaaa... di chap ini dan chap depan ada jawabannya /spoiler/ adooohh gimana ya nasibnya sedih juga saya bikin wonu menderita begini wkwkwk greget ditunggu nextnya aja, oke? Thanks for review kaakkk~
5F17Mansaee: Waaahhh... makasiiiih bangeettt udah suka sama epep ini, jimayu saya hihi :D saya emang mandang dari real life anak anak svt ngebayangin gimana gokilnya mereka tinggal satu atap bertiga belas omegat bayangin bertiga belas! /bhak/ terus yaaa karena saya newbie jadi idenya masih cetek-cetek ngasih misterinya juga ga terlalu ntaps banget jadi ya... maafin kalo masih banyak kesalahan :)) sip, pasti end dengan menenangkan, kok. cuma ya kalo lagi konflik ati-ati aja bikin disko mendadak hehe :v saya juga baru ngeh pas udah rilis tuh chap awal munculnya kim minwoo, baru nyadar minwoo bisa aja singkatan mingyu-wonwoo padahal awalnya itu nama cuma numpang lewat gegara saya writer block. Hehehe makasih banget reviewnya bikin semangat apdet lagi loh. sudah next ya, thanks for review~
wonuugyu: anak polos emang kagak pernah bisa boong kak /mingyu mana polos/ GYAAHH MANTEP DAH SAYA JERIT LIMA OKTAF LIAT WONU SHITLESS OMG SAYA LANGSUNG FANGIRL GULING-GULING /maafkan mendadak caps/ kangen meanieeeee akhir-akhir ini lagi ga banyak moment tapi sekalinya ada overload cuteness kyaahhh aduh disitu saya gakuat lihat jihun mungil banget minta dibawa pulang ;"D udah ya maap mendadak berisik saya fangirl gini juga karena ngebaca review kamu lagi kaann bikin saya seneng hehehe~ btw thanks for review {}
korokurakwayun: ndak popo kak saya tetep seneng kok kaaakkk~ aiiiihhhh makasih ya padahal saya hanya newbie yang ndak ada apa-apanya :") semoga endingnya ga bakal ngecewain ya soalnya saya bingung mau bagemana juga nih ujung cerita hehehe. sudah next, ya! saya udah pulang, saya udah balik fangirl svt dan saya senaaaanggg~ /apalah/ thanks for review~ betewe pen name kamu unyu sekaliiihh hihi :D
AllSoo: boleh kok, boleh silakan aja haha itu mah udah bukan modus pen ngode, itu gombalan orang udah jadian bhak. Hehehe saya pernah kejadian abis tahun ajaran baru eh disambutnya sama bola kelempar pas masuk kelas -_- sudah next ya kaaakkk tengkyuu ripiunya :*
shinhy: hai hai haaaaiii juga kaaaakk bisa ngobrol lewat ripiu lagi sama kakak muaahhh :* gausah jauh jauh cctv aja udah bener kok hehehe. Yup, dia tau makanya pen wonu tetep bareng dia biar ga diapa-apain sama minwoo. Greget yaaa saya juga gemes pas ngetiknya pengen ninju mingyu seriusan dah tuh anak gak bisa diem emang. Coba aja kalo wonu ngebuka dikit soal masalahnya sama anak-anak laen, atau bahkan sama mingyu, dia pasti ga bakal potek sepotek-poteknya huhu :v tuh di atas dia udah teriak-teriakan sama minwoo tinggal tunggu tanggal maennya aja ampe itu anak meledak gara-gara tau kenyataan :'D ahaha mereka bedua emang unyu kadang suka nyita perhatian... betewe kemaren joshua ultah saya jerit ngeliat v apps-nya josh ganteng banget pake snapback /mulai lagi/ saya juga udah kepanjangan kak ini maapin dah ini. thanks for review kak, hwaiting!
wulancho137: hai anataaa~ nice to meet you :* daijoubu kokkk saya tetep seneng soalnya reviewers nambah :D ahahaha, makasih ya padahal saya juga masih newbie terharu saya~ yup, sekarang udah mulai konflik dan diatasssss wonu sama mingyu mulai kejerat jaringnya kim minwoo. Kim Minwoo emang lagi nyariin wonu soalnya masalah masa lalu mereka kan berkaitan erat dan minwoo gamau ngelepas wonu gitu aja. YEEEE KITA SAMAAN FANS KnB dan betewe kita samaan loh biasnya aku juga suka kise hehe :D otp disono ya yang pada official, AkaKuro, AoKise, MidoTaka, MuraHimu, dan embel-embelnya mereka imutz dah kalo lovey dovey. Ehehe, oke, thanks for review kamuu~
ujiihun96: aaaaa nongol juga dah nih kamuu yang pen namenya jihuun hihiw :3 gemes kaan mereka mah emang udah tinggal nunggu jadian. KESIAN YA WONU SAYA JUGA PENGEN MATIIN MINWOO hahahaha kalo dia ampe tau kebenarannya ya udaahhh... ends of his lyfe karena ternyata minwoo itu babeh dari bocah yang sering ngodein dia wkwkwk udahlah ya thanks for review kamu!
Svtmeanie: ahahaha... sip deh kalo penasaran. diikutin terus yaaa~ thanks for review!
Jxngwoo: gado-gado banyak rasa makanya enak di baca :D kan mereka anak esempe anak sekolahan mana ada yang kagak gaul bhahahak. Untung modus kaga denda yaaa bakal jadi apa dah si Mingyu sama hoshe kalo keterusan doyan gombal wkwkwk om jojo mah bae makanya begitu. serba salah ya saya juga jadi bingung... mau diapain yaaa~ okelah, sudah next kak! Tengkyuuu ripiunya~
Jellyeoreum: ya kaga papa kokkk... yah, namanya juga drama kan ga seru kalo ga ada yang boong dan ga ada yang dikecewain /tabok/ oke, thanks for review! Happy new year juga buat kamuuu~
.
.
Oke, gosh. Ini emang panjang atau sayanya aja yang manjang-manjangin. Tapi saya enjoy kok ngebalesin ripiu kalian satu-satu KARENA HIME SAYANG KALIAANN~ /slapped
.
Betewe kakak shinhy nanya line saya~ jimayu niihhh XD Hime 01 liner kaaakkk~
gapapa kok manggil saya dede jadi berasa mudaan banget ya wkz.
.
heeyyy, let's chit-chat more about everything! Let's be friends so we can share anything and fangirl overload through kpop or else. U can send me PM or add my personal account line:
* sebenernya saya disitu juga jarang ngapa-ngapain, biar notif line saya penuh aja gitu haha bhak gara-gara twitter saya lagi baal sekarang*
.
HAPPY NEW YEAR AND GOOD NIGHT FELLAS. Please throwback my English wkwk. Itu depan rumah petasan udah meledak yeeeeyyy!
.
.
.
I'm so happy bcs not so long again until I get 100 reviews, thanks for everything :)
At last, review please?
