Disclaimer : Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Warning : Sho-Ai, Gaje, Typo (s)

Rated : T


.

.

.

Kuroko's Dizzy Fever Day

By : Sukikawai-chan

.

.

.


Seventh Medicine : Ogiwara Shigehiro

To : Ogiwara Shigehiro

From : Kuroko Tetsuya

Subject : Maaf

"Maaf, Ogiwara-kun. Aku tidak bisa menjemputmu di bandara hari ini. Akashi-kun tiba-tiba saja memintaku datang untuk latihan basket. Maaf,"

Bunyi flip keras ponsel yang tertutup mengakhiri isi pesan yang diterima Ogiwara Shigehiro dari teman masa kecilnya itu. Ogiwara mengerang kesal, bagaimana tidak? Padahal hari ini adalah hari yang dinanti-nantikannya. Hari dimana ia bertemu kembali dengan teman masa kecilnya. Dan oh! Tapi momen yang ditunggunya itu harus hancur gara-gara sebuah pesan yang mengabarkan Kuroko tidak akan menjemputnya di bandara. Yang artinya Ogiwara belum bisa bertemu dengan pemuda dengan rambut berwarna baby blue itu saat ini juga. Tidak ada senyuman yang terlihat datar. Tidak ada ekspresi yang menunjukan rasa rindu. Juga tidak ada ucapan, 'Lama tidak bertemu, Ogiwara-kun'.

Semua itu benar-benar membuat Ogiwara uring-uringan.

Kesal karena tidak tahu harus berbuat apa—termasuk ia tidak mungkin meminta Kuroko untuk membantah perintah Akashi—Ogiwara berjalan cepat ke arah pintu keluar Bandara Narita. Tidak ada gunanya menunggu seseorang yang tidak akan datang. Ck! Apa Kuroko sudah tidak peduli lagi padanya? Pemain sixth phantom itu lebih mendahulukan latihan basket dibandingkan menyambut kedatangan temannya. Dan jika sudah seperti ini, Ogiwara bingung harus pergi ke mana. Menyebalkan!

"Sekarang aku harus ke mana? Mengunjunginya saat ia latihan basket?" tanya Ogiwara pada diri sendiri. Tiba-tiba saja gagasan itu melintas di benaknya. Setelah beberapa menit berperang dengan batinnya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengerang kesal, mengentakkan kaki, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Tidak ada tujuan lain selain bertemu Kuroko di sekolahnya.

.

.

.

"Oh, bukankah kau…."

Ogiwara tersentak pelan begitu sensor pendengarannya menangkap suara nyaring yang terdengar familiar. Laki-laki itu berbalik, mencari seumber suara sampai mendapati seorang gadis yang dikenalnya sebagai manager klub basket Teiko, Momoi Satsuki.

"Ah…maaf mengganggumu di saat latihan." Sahut Ogiwara sambil membungkuk sopan, "Aku—"

"Ogiwara Shigehiro bukan? Teman masa kecilnya Tetsu-kun?" sela Momoi cepat, namun begitu ia menyadari sudah memotong pembicaraan, cepat-cepat ia menambahkan. "Tetsu-kun pernah bercerita padaku tentang teman masa kecilnya,"

Sebelah alis Ogiwara terangkat, "Benarkah? Kuroko pernah bercerita tentangku?"

Ogiwara bisa melihat kalau gadis yang bernama Momoi itu mengernyit samar. Dan begitu sadar apa yang aneh, ia mengutuk dirinya habis-habisan karena baru saja menanyakan pertanyaan bodoh yang sedikit…privasi.

"Lupakan saja pertanyaanku tadi." Sahut Ogiwara kemudian, merasa malu, "Aku kemari karena ingin bertemu dengan Kuroko. Ia tidak bisa menjemputku di bandara hari ini karena katanya ia sedang latihan basket. Jadi, boleh aku bertemu dengan Kuroko sebentar?"

Kembali Momoi mengernyit. Kali ini keningnya berkerut dan menatap Ogiwara heran. Oh…apa ada yang aneh lagi dengan pertanyaannya?

"Ngg….Tetsu-kun tidak bercerita padamu?"

Sepasang alis Ogiwara menyatu, "Eh?"

"Hari ini Tetsu-kun tidak bisa latihan karena demam. Akashi-kun sudah memberinya izin untuk istirahat di rumah," jelas gadis itu dengan ekspresi sedih, namun tetap tersenyum.

Ogiwara tertegun di tempatnya. Detik berikutnya, ia membungkuk sopan sambil mengucapkan terima kasih, lalu setelah itu berjalan pergi dengan ekpresi keheranan tercetak di wajah Momoi.

"Dasar bodoh," bisik Ogiwara lebih kepada dirinya sendiri.

.

.

.

Telepon tidak diangkat. Pesan tidak dibalas. Dan pintu tidak dibuka padahal bunyi bel yang menoton terus terdengar.

Ogiwara berdecak dengan kesal. Kenapa pintunya tidak dibuka-buka?! Padahal ia sudah menekan bel interkom beberapa kali. Nyaris puluhan kali. Tapi belum ada pemiliki rumah yang membukakan pintunya untuk masuk. Kembali Ogiwara menekan bel pintu, kali ini lebih cepat. Seperti terburu-buru.

Beberapa detik berjalan dengan hening. Samar-samar Ogiwara bisa mendengar suara langkah kaki, semakin dekat, dekat, lalu kembali hening. Wajahnya menatap pintu yang sejurus kemudian mengeluarkan bunyi 'clek, disusul oleh keritan badan pintu yang terbuka secara perlahan-lahan.

"Iya. Dengan kediaman—eh?"

Oh! Kebetulan sekali yang membuka pintu adalah Kuroko Tetsuya. Karena tepat pada saat itu, tanpa menunggu dipersilahkan masuk oleh pemilik rumah—bahkan tidak memberi kesempatan Kuroko untuk berbicara, Ogiwara langsung melangkah masuk ke dalam rumah, membuat Kuroko mundur beberapa langkah, setelah itu pintu tertutup kembali. Tidak sopan, memang. Tapi hanya ini cara yang bisa Ogiwara pikirkan sebelum pemuda bermata baby blue melarang dirinya untuk masuk.

Hening. Beberapa menit menyelimuti mereka.

Di dalam keheningan itu, diam-diam Ogiwara menatap Kuroko dari atas ke bawah, lalu kembali ke wajah tanpa ekspresi itu. Bisa dilihat wajah Kuroko yang memerah, rambutnya yang tidak tertata rapi, kedua matanya yang terlihat sayu, dan bahkan suara nafasnya yang tidak teratur. Kuroko benar-benar demam.

"Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya?" tanya Ogiwara to the point, kedua lengannya terlipat di depan dada. Sedangkan matanya menatap Kuroko tajam. Mengacuhkan pertanyaan tadi, Kuroko hanya memandang Ogiwara dengan bingung. Tidak biasanya ia mendapati sikap teman masa kecilnya itu seperti ini. Terlebih lagi menerobos langsung ke dalam rumahnya.

"O-Ogiwara-kun, kenapa…kau kemari?"

Ogiwara mengerutkan keningnya begitu mendengar nada suara Kuroko. Terdengar lemah dan serak. "Kenapa tidak bilang kalau kau demam, Kuroko?"

"Dari mana kau tahu kalau aku demam, Ogiwara-kun?"

"Jangan membalik pertanyaan." Ogiwara membuang napas lelah, benar-benar dengan tingkah temannya itu. "Karena kau tidak bisa menjemputku di bandara, aku memutuskan untuk ke sekolahmu dan bertemu di sana. Tapi begitu aku sampai di sana, manager klub basket-mu mengatakan kalau kau tidak ikut latihan karena—Ah! Kuroko!"

Nyaris. Begitu nyaris. Jika tidak dengan sigap dan secara refleks kedua tangan Ogiwara langsung menangkap tubuh yang jatuh di depannya, pasti sekarang ini Kuroko sudah membentur dinginnya lantai. Ya ampun! Tubuh Kuroko yang sekarang ini berada dalam dekapannya begitu ringan dan terlihat sangat lemah.

"Maaf…" Kuroko bergumam pelan dalam sisa-sisa kesadarannya, berusaha untuk bangkit berdiri. "Aku tidak…ingin merepotkanmu, Ogiwara-kun. Jadi…"

Tidak ada ucapan, ataupun suara yang keluar. Tanpa ada protes, bantahan, dan luapan kekesalan, Ogiwara lebih memilih melingkarkan sebelah tangannya di bahu Kuroko, lalu menuntunnya kembali ke kamar tidur di lantai dua—yang memang Ogiwara tahu letaknya dimana. Dilirknya sekilas Kuroko, menghela napas panjang, lalu berkata,

"Jangan pernah lagi memberi pesan yang isinya palsu," mereka berdua sudah berada di depan kamar tidur Kuroko. Dibukanya pintu itu, lalu berjalan menuju tempat tidur. Semuanya seperti dilakukan di luar kesadaran Ogiwara, ia membantu Kuroko merebahkan tubuhnya, menyelimutinya sampai leher, tidak lupa setelah itu ia menempelkan tangannya di kening Kuroko. Begitu panas.

"Di mana orang tuamu?" tanya Ogiwara, menatap cemas begitu mendengar suara napas Kuroko yang tersengal-sengal. Kedua pipinya terlihat merah namun wajahnya pucat. Keringat dingin mulai mengalir di seluruh tubuhnya.

"Pergi. Mereka…akan pulang malam nanti," kelopak mata itu terbuka sedikit, menampakkan iris biru langitnya, lalu setelah itu kembali tertutup. Oh! Ogiwara benar-benar khawatir sekarang.

Panik mendapati keadaan Kuroko saat ini, Ogiwara hanya bisa terdiam menunggu Kuroko sampai tertidur dengan lelap. Diusapnya pelan surai biru Kuroko dengan pelan. Berusaha memberikan rasa nyaman sehingga membawa Kuroko jauh ke alam mimpi. Sesekali mengusap pipi Kuroko lembut, atau bahkan hanya sekadar menyentuh bibirnya.

Beberapa menit keheningan menyelimuti mereka berdua. Yang terdengar hanyalah suara deru napas Kuroko yang perlahan-lahan mulai teratur. Ogiwara menatap wajah tertidur Kuroko dalam diam. Pemandangan yang tidak ada bosan-bosannya ketika ia lihat. Merasa tidak tahan dengan wajah Kuroko saat ini, iseng—Ogiwara sedikit membuka selimut tebal yang menutupi tubuh Kuroko, meraih sebelah tangan Kuroko yang tidak jauh darinya, lalu mengusapnya pelan agar tidak berkeringat dingin. Layaknya seorang pangeran dan seorang putri dalam negeri dongeng, diciumnya pelan punggung tangan Kuroko, setelah itu menggenggam erat tangan yang terasa dingin itu dengan kedua tangannya. Menyalurkan kehangatan yang dimilikinya. Dan jujur saja, entah mengapa, hal itu membuat Ogiwara seperti utuh kembali.

Ia terkekeh geli ketika matanya kembali menatap wajah Kuroko yang tertidur.

"Selalu seperti ini jika demam. Tersenyum seperti itu sambil bermimpi ketika aku menggenggam tanganmu. Kau tidak pernah berubah, Kuroko."


A/N : Hehehe, Suki kelamaan update ya?/dicekek. Gomennn... ini gara-gara tugas numpuk ditambah WB yang suka datang pas gak diundang/ngeles. Udah ah...ini buat minna yang me-request Shigehiro. Arigatou yang sudah membaca dan me-review chapter sebelumnya (Gomen gak dibales, hehehe). Oh, ya, sebenernya Suki bingung sama sifat Shige, ya...jadinya gini ('3'). Oke, sankyuu yang udah membaca sampai akhir di chapter ini.

And...

review please? :D