Yui: "Kyahaha… yihaaa.. hahaha… Hore! Hore! Hore! Lalalala.." (teriak-teriak plus nyanyi dan nari gaje).
Naruto: "Kenapa tuh author gaje. Nari-nari gak jelas."
Shion: "Itu tarian kebahagiaan ala Ten Ounomiya, tau! Dia kesenengan dapat 60 review lebih."
Naruto: "Ten Ounomiya? Siapa dia? Terus, elo ngapain disini?"
Shion: "Ten Ounomiya itu dari manga Almighty X 10. Gue disini diundang author gila itu." (nunjuk Yui yang masih nari gaje)
Yui: "Kyaaa… Shion-chan! Akhirnya datang juga! Yui seneng banget lho dapet banyak review. Para reader and reviewernya pada baik deh. Padahal Yui cuma minta review sampai 60 review, eeh.. malah dapet 70 review lebih. Kyaaa.. seneng banget deh. Ok! Target berikutnya adalah 100 review, hahaha…." (ngancungin tangan ke udara)
Naruto: "Gak mungkin, gak mungkin! Jangan mimpi deh! Elo gak mungkin dapet 100 review dalam chapter ini," (ngipas-ngipasin tangan plus ngeremehin)
Yui: (pundung bentar, terus bales ngeledek) "Yeee.. siapa bilang pengen dapet 100 review dalam chapter ini. Maksudnya sampai fic ini selesai tau,"
Naruto: "Emang sampai chapter berapa sih fic ini selesai?"
Yui: (mikir bentar) "Ng.. mungkin sampai 10 chapter." (pose mikir Detective Conan)
Naruto: "Pantes!"
Shion: "Udah selesai basa basinya? Kita mulai aja chapter 7 ini,"
Yui & Naruto: "PLEASE ENJOY OUR 7th CHAPTER! HAPPY READING AND HERE WE GO!"
.
Disclaimer:
Naruto punya Yui! (dilempar laptop ma Masashi Kishimoto). Yeay! Yui dapet laptop! (laptopnya diambil balik ma Om Kishimoto). (Yui pundung) T.T
Summary:
Kencan! Kencan! Kencan? Naruto mau kencan sama siapa, ya? Sama Hinata atau sama cewek yang baru datang?
Warning:
AU, OOC, gaje, abal, misstypo bertebaran, tanda baca nyasar, sedikit crack pairing, dwwl (dan warning-warning lainnya).
.
My Enemy My Love
By: Yui Hoshina
.
Chapter 7
.
Seorang anak perempuan berambut pirang bermata violet keluar dari bandara, didepannya sekarang ada seseorang yang mengaku bernama Sasori yang akan membawanya ke suatu tempat.
"Shion-sama, mobil untuk anda sudah siap," kata Sasori sopan sambil membukakan pintu penumpang.
"Sasori-san, tolong bawa aku ke tempat Naru-chan," kata Shion seraya memasuki mobil yang telah dibukakan pintu oleh Sasori. "Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Naru-chan secepatnya,"
"Baik, Shion-sama," ucap Sasori seraya menutup pintu yang telah ditawarkan tadi dan beralih ke kursi pengemudi.
"Sasori-san.."
"Ya, Shion-sama," sahut Sasori yang sekarang sedang menyalakan mesin mobil. Setelah mesin menyala, Sasori pun memacu mobilnya.
"Sasori-san.. berhentilah memanggilku 'Shion-sama'. Kita sudah lama tidak bertemu kan?" Shion merengut kesal.
Sasori tertawa kecil, "Baiklah, Shion. Terserah kau saja." Kata Sasori mengalah dan masih tetap fokus dengan pekerjaannya. Shion tersenyum senang.
.
.
Bel norak khas SMA Konoha Gakuen berbunyi, menandakan pelajaran yang ada disekolah itu telah selesai dilaksanakan. Naruto tidak menyia-nyiakan waktu untuk segera meminta maaf pada Hinata. Ia segera merapikan peralatan sekolahnya karena Hinata telah keluar dari kelas.
Naruto segera berlari mengejar Hinata, ia langsung mencari-cari Hinata dan tatapannya tertuju pada seorang anak perempuan berambut indigo yang sekarang berjalan keluar dari gerbang sekolah.
"HINATA!"
Hinata yang merasa dipanggil, secara reflek menengok kebelakang. "Naruto-kun.."
"Haah.. haah.. syukurlah kau belum pulang." Naruto terlihat kelelahan. Yah, wajar saja, dia kan habis lari-lari.
'Mau apa?" tanya Hinata sinis.
"Ano...ng.. i-ini!" Naruto menyerahkan sebuah kertas pada Hinata. Hinata menerimanya karena ia penasaran, kertas apa yang diberikan Naruto.
"Tiket bioskop?" ucap Hinata bingung.
"Maafkan aku, Hinata! Kau pasti marah sekali padaku karena perbuatanku tadi. Aku sangat menyesal." Pinta Naruto memelas sambil mengatupkan tangannya didepan wajahnya.
"Lalu?" tanya Hinata dingin. Ugh.. pandangan mata Hinata benar-benar dingin, sampai membuat Naruto menggigil.
"Ano.. ng.. kebetulan aku mendapat tiket itu dari temanku tadi pagi. Jadi.. kau mau kan nonton bersamaku. Yah, untung-untung sebagai permintaan maafku," kata Naruto canggung sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah yang memerah.
Hinata kembali memperhatikan tiket yang diberikan Naruto. Ia mengerutkan dahinya, merasa heran dengan tiket yang diberikan Naruto.
"Kau yakin mau nonton bersamaku?" tanya Hinata meminta kepastian. Jujur saja, Hinata merasa heran Naruto mengajaknya nonton bioskop dengan tiket yang nggak jelas.
"Tentu saja! Memangnya ada masalah?" tanya Naruto polos.
Hinata memperlihatkan kembali tiket yang diberikan Naruto tadi dan berkata, "Ini tiket film horor. Dengan kata lain, film hantu."
EH? Naruto terkejut. Seketika tubuhnya langsung mematung. Seluruh bulu kuduknya berdiri. Wajahnya langsung pucat pasi. Dengan gerakan kaku, ia mundur beberapa langkah hingga ia tersudut di pohon halaman sekolah. Ia diam tak bergerak, bagaikan patung yang ada di museum.
Hinata yang menyadari reaksi Naruto, tanpa sadar tertawa kecil dengan menyentuh mulutnya dengan tangan kanan, "Ufh.. Hihihi... dasar kumis kucing! Padahal kau yang mengajak nonton pertama kali tapi sekarang kau yang sepertinya ketakutan, hihi.." Hinata tidak tahan untuk tertawa lebih keras karena merasa geli dengan tingkah Naruto.
Naruto yang menyadari reaksi Hinata, tersenyum lembut. "Kau manis jika tertawa."
DEG! Wajah Hinata memerah.
"Wajahmu merah. Kau semakin manis saja," kata Naruto bergombal ria.
"Dasar kumis kucing sialan!" Hinata tidak tahan untuk memukul Naruto dengan tas sekolahnya. BRUUUAAAGH! Naruto terlempar. Hinata cengok. Masa iya, tasnya bisa memukul Naruto hingga terlempar begitu saja.
"A-aduh! Kepalaku sakit!" ringis Naruto. "Hinata, apa isi tasmu sih!"
Hinata memeriksa tasnya, dan wajahnya sedikit memucat. "Go-gomenasai, Naruto-kun. A-aku lupa kalau sekarang aku bawa kamus." Kata Hinata merasa bersalah sambil memperlihatkan kamus tebal bahasa inggris-jepang. Ketebalannya mungkin sebesar printer komputer (?). (wow! Berarti tebel banget dong).
Naruto mendelik, "Syukurlah, aku tidak sampai gegar otak gara-gara kamus sialan itu!" keluh Naruto dalam hati. (WHAT! Sejak kapan Naruto ketularan virus Hiruma dari Eyeshield 21? -Nunjuk-nunjuk kata 'sialan'- *dibom Hiruma*).
"NA-RU-CHAAAAAAN!"
DEG! Naruto langsung merinding mendengar panggilan 'Naru-chan'.
"Jangan bilang kalau suara itu adalah.." Naruto berbalik untuk melihat siapa yang mempunyai teriakan tadi dan...
GREB! BRUUUUKK!
"SHI-SHION~?" Naruto berteriak kaget dengan serangan Shion yang tiba-tiba memeluknya dari arah depan. Jadi, posisinya sekarang, Naruto yang sedang duduk tengah dipeluk Shion. Hinata hanya diam saja karena tidak mengerti situasi.
"Naru-chan! Aku sudah rindu sekali padamu! Kita kencan sekarang, yuk!" ajak Shion seraya bangun dan menyeret Naruto. (heeehh? Baru ketemu aja, kok, langsung ngajak kencan? –ditendang Shion-)
"O, oi! Tunggu Shion!" protes Naruto seraya melepas tangan Shion yang menyeretnya.
"Ada apa, Naru-chan? Kau tidak menyukaiku, ya?" tanya Shion berkaca-kaca.
"Bu-bukan itu. Ng.. itu... kenapa kau ada disini? Lalu, kapan kau pulang?" tanya Naruto heran dan merasa tidak nyaman dengan keberadaan Shion.
"Naruto-kun, Siapa dia?" tanya Hinata tiba-tiba. Ia merasa keberadaan Shion sangat mengganggu. Entah kenapa dadanya terasa sakit.
"Kenalkan, namaku Shion. Aku adalah tunangannya Naru-chan." Kata Shion memperkenalkan diri seraya memeluk Naruto dan tersenyum manis. Naruto yang merasa risih, melepas pelukan Shion. Shion hanya cemberut.
"Tunangan..?" ucap Hinata datar.
"Tentu saja! Kalau begitu, ayo Naru-chan, kita kencan!" ajak Shion lagi sambil menyeret Naruto.
"Shion, lepaskan!" bentak Naruto seraya melepaskan diri dari Shion. Shion terkejut dengan penolakan Naruto.
Hinata yang merasa tidak dipedulikan beranjak pergi. Tapi, baru beberapa langkah saja, ia sedikit terhuyung.
"Ah.. gawat! Pandanganku mulai kabur," batin Hinata yang merasa sebentar lagi ia akan terjatuh. Ia merasa tidak kuat lagi menahan tubuhnya sendiri.
GREB! Tiba-tiba saja, ada yang menarik lengannya. Hinata kaget dan melihat siapa yang menahan dirinya.
"Naruto-kun.."
"Kalau kau ingin mengajakku kencan, kau harus mengajak dia dan mereka berdua," tawar Naruto sambil menunjuk Hinata dan kedua temannya. Ya, siapa lagi kalau bukan Sakura dan Temari yang baru saja lewat.
"EKH?" Hinata, Sakura dan Temari serempak kaget.
"Tunggu Naruto. Kau mau mengajak kami bertiga?" tanya Sakura memastikan.
"Tentu saja! Memangnya kalian keberatan?" tanya Naruto balik.
"Aku yang keberatan. Aku dan Sakura akan pulang bersama!" kata Sasuke yang tiba-tiba saja muncul dari arah samping Sakura.
"Sasuke-kun.."
"Lho, Teme! Kapan kau pulang Study Tour dari peternakan ayam?" tanya Naruto heran.
"Kemarin. Dan aku tidak mau membicarakannya lagi, Dobe! Ayo Sakura!" kata Sasuke. Sakura mengikuti dengan wajah yang meminta maaf..
"Lalu kau Temari?"
"Maaf Naruto. Aku sudah janji dengan Shikamaru untuk merawat Rusa peliharaannya," kata Temari seraya pergi.
"Lalu kau, Hinata?" tanya Naruto harap-harap cemas.
"Eh, aku.. aku akan pulang." Jawab Hinata seadanya.
"Ayolah, Hinata! Tolong temani aku, ya?" pinta Naruto memelas.
"Naru-chan! Kenapa harus mengajak orang lain sih? Kita kan mau kencan berdua," protes Shion.
"Aku akan kencan denganmu jika Hinata ikut!" tawar Naruto tegas.
Shion hanya cemberut, " Baiklah, jika itu maumu," kata Shion akhirnya.
"Naruto-kun, aku ingin pulang!" kata Hinata tegas.
"Untuk kali ini saja, Hinata." Pinta Naruto sambil menarik lengan Hinata. Hinata hanya pasrah ditarik seperti itu, ia seakan tidak punya kekuatan untuk menolak.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganku?"
.
.
Naruto, Hinata dan Shion pergi ke Supermarket Konoha. Selain banyak toko-toko yang lengkap, banyak juga anak-anak remaja yang berkeliaran disana. Mirip dengan Mall lah.
"Naru-chan, kita kesana ya?" ajak Shion yang sekarang asyik menggandeng Naruto. Naruto terlihat pasrah dengan gandengan Shion.
"Shion, berhentilah memanggilku 'Naru-chan', " protes Naruto yang merasa malu.
"Memangnya kenapa?" tanya Shion manja.
"Aku tidak suka!" kata Naruto.
Hinata hanya diam dengan perdebatan dua orang yang ada didepannya. ia seakan tidak dibutuhkan sekarang.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Mengapa dadaku terasa sakit melihat mereka berdua yang terlihat dekat. Rasanya sakit sekali. Aku tidak tau apa yang terjadi. Aku..."
"Hinata!" Hinata kaget dari lamunannya begitu seseorang memanggilnya.
"A-ada apa, Naruto-kun?" tanya Hinata terbata-bata.
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto cemas.
"A-apa maksudmu?" tanya Hinata heran.
"Wajahmu terlihat pucat. Kau sakit, ya?" tanya Naruto dengan nada khawatir.
"Eh.. aku tidak apa-apa?" kata Hinata tersenyum walaupun dipaksakan.
"Benarkah? Shion, sebaiknya kita pulang sekarang!" kata Naruto. Shion ingin protes tapi tidak bisa.
"Aku baik-baik saja. Jangan pedulikan aku. Aku..." Hinata terhuyung. Tubuhnya seakan tidak sanggup lagi untuk berdiri. "Gawat! Pandanganku.. gelap..."
"HINATA!" Naruto langsung menahan tubuh Hinata yang roboh setelah melepas gandengan Shion.
Shion terkejut dengan reaksi Naruto yang tiba-tiba dan ia merasa tidak nyaman melihat Naruto kini memeluk Hinata.
.
Hinata's POV
"HINATA!"
Suara Naruto-kun.. apa yang sebenarnya terjadi denganku? Aku merasa lemas tidak bertenaga sama sekali. Seluruh tubuhku gemetar dan mengeluarkan keringat dingin.
Tubuhku terasa melayang, aku bisa merasakan seseorang memelukku. Tapi, siapa? Apakah Naruto-kun? Apakah benar-benar dia? Entahlah, yang kuketahui sekarang, aku merasa detak jantungnya berdetak cepat sekali ditelingaku.
Aku menyadari bahwa ada seseorang yang mengangkat tubuhku, tapi kesadaranku hilang selagi detak jantungnya masih menggema ditelingaku.
End POV
.
Hinata membuka matanya perlahan, ia melihat sekelilingnya. Sebuah ruangan dengan cat berwarna ungu pucat. Ya.. itu adalah kamarnya.
"Aku.."
"Hinata! Syukurlah kau sudah sadar!" kata seseorang yang yang ada disebelah Hinata. Hinata mengalihkan pandangannya kesumber suara.
"Naruto-kun..." ucap Hinata lemah. Pandangannya masih sedikit kabur. Walaupun tidak jelas, ia dapat melihat bahwa Naruto terlihat khawatir sekali.
"Hinata, kenapa kau tidak bilang kalau kau sakit?" tanya Naruto cemas.
"Sakit? Memangnya aku sakit?" tanya Hinata heran. Naruto hanya bisa sweetdrop dengan perkatan melantur Hinata.
"Yah.. kau pingsan saat kita jalan-jalan tadi. Sepertinya, kau terserang demam. Pantas saja, wajahmu pucat." kata Naruto.
"Jalan-jalan?.. AH! Lalu, bagaimana dengan Shion?" tanya Hinata tiba-tiba dan tanpa sadar bangun dari tidurnya.
"Istirahatlah. Ini, minum obatnya dulu," kata Naruto memberikan obat pada Hinata. Hinata menerimanya dan meminumnya. Setelah tenang, Naruto menidurkan Hinata dengan sedikit dorongan pada bahu Hinata.
"Tidurlah. Jangan banyak bicara dulu, soal Shion jangan dipikirkan. Dia sudah kusuruh pulang," kata Naruto seraya menyelimuti Hinata.
"Iya," sahut Hinata lemah. "Aneh.. dadaku sekarang tidak terasa sakit lagi. Apa itu karena efek sakit, ya? Yah.. mungkin juga."
"Naruto-kun..." Naruto menoleh. "Arigatou gozaimasu.." ucap Hinata tersenyum lembut dan memejamkan matanya. Tertidur lelap.
Naruto terkejut dengan ungkapan Hinata barusan tapi, akhirnya. "Sama-sama.." ucap Naruto tersenyum lembut dan mencium kening Hinata. "..dan.. Oyasuminasai.. Hinata."
.
.
Bandara Narita
"Kau benar-benar akan pulang?" tanya Naruto pada Shion. Naruto dan Hinata kini sekarang berada di bandara, mengantar kepergian Shion.
"Ya. Aku hanya ingin bertemu Naru-chan saja." Kata Shion.
"Gomenasai, Shion. Aku mengganggu saat-saat kau bersama Naruto-kun." Ucap Hinata merasa bersalah.
Shion menggeleng lemah, "Tidak apa-apa. Lagipula, aku jadi tau sekarang perasaan Naru-chan." Kata Shion lagi.
"Perasaan?" ucap Hinata bingung.
"Naru-chan, kau harus lebih berhati-hati menjaga putrimu. Jangan sampai kau biarkan pangeran negeri seberang menculiknya. Kau mengerti?" Pesan Shion.
Naruto tersenyum lembut. "Tentu saja!"
Hinata tidak mengerti arah pembicaraan dua orang yang ada didepannya. ia hanya heran ketika Shion mulai mendekatinya.
Shion kemudian memeluk Hinata. "Kau lulus ujian, Hinata-chan." Ucap Shion tersenyum seraya mengangkat barang-barangnya dengan dibantu oleh pemuda berambut merah, Sasori.
"Lulus?" ucap Hinata bingung.
"Naru-chan, tolong katakan pada Oka-san dan Otou-san, aku setuju dengan perjodohan itu," ucap Shion. Hinata tambah bingung dengan ungkapan Oka-san dan Otou-san yang diucapkan Shion. Apa saking dekatnya mereka, hingga Shion memanggil orang tua Naruto dengan sebutan Oka-san dan Otou-san? Sungguh membingungkan.
"Baiklah,"
"Jaa ne, Hinata-chan, Naru-chan. Ayo, Sasori-san," kata Shion.
"Iya." Sahut Sasori.
Setelah kepergian Shion, Hinata langsung bertanya pada Naruto karena penasaran.
"Naruto-kun! Apa maksud Shion soal kelulusan? Lalu, apa maksudnya dengan oka-san dan Otou-san itu? Siapa sebenarnya Shion?" tanya Hinata penasaran.
"Ekh!" Naruto langsung blushing. "Ng.. itu.. sebenarnya.. Shion itu.. adik perempuanku," ucap Naruto akhirnya.
"Eh... APAAAA? ADIK?" teriak Hinata terkejut. Naruto hanya senyam-senyum gak jelas. "Lalu.. apa maksudnya perjodohan tadi?" tanya Hinata lagi.
"Kau tau pemuda berambut merah tadi?" tanya Naruto.
"Ya. Kalau tidak salah dengar, namanya Sasori." Kata Hinata.
"Dialah tunangan Shion yang sebenarnya," kata Naruto datar.
"HEEEEEE! Kalau begitu, soal tunangan denganmu itu juga bohong?" tanya Hinata bingung.
"Ya!" jawab Naruto singkat.
"Oh.. begitu. Lalu, apa maksudnya aku lulus ujian?" tanya Hinata lagi.
"Ekh.. itu.." Naruto terdiam sejenak dan mengingat perkataan Shion tadi malam.
~Flashback~
"Naru-chan, apakah orang itu yang kau sukai?" tanya Shion menunjuk Hinata yang sedang berbaring di kamarnya. Sekarang Naruto dan Shion ada di depan kamar Hinata. Sebenarnya, waktu Naruto bilang bahwa Shion sudah pulang, padahal ada di depan kamarnya.
"Ya. Bagaimana pendapatmu?" tanya Naruto.
"Entahlah. Aku baru pertama kalinya bertemu dengannya. Aku tidak bisa berkomentar apa-apa. tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi, melihat kau begitu mengkhawatirkan keadaannya, aku tau bahwa kau sangat menyayanginya. Aku tidak pernah melihatmu begitu mengkhawatirkan seseorang sebelumnya," ucap Shion lirih.
"Shion.."
"Aku sebenarnya sedih karena posisiku digantikan olehnya tapi, apa boleh buat, kau menyukainya." Ucap Shion lirih.
"Maafkan aku, Shion." Naruto tertunduk.
"Sudahlah, Naru-chan. Sebenarnya, aku ingin mengatakan hal ini padamu. Aku akan kembali ke Paris besok." Kata Shion.
"Eh? Secepat itu?" tanya Naruto heran.
"Ya. Aku hanya ingin tau keadaanmu saja. Lagipula, sepertinya aku sudah tidak dibutuhkan lagi disini." Kata Shion lirih.
"Aku pasti akan merindukanmu lagi, Shion. Posisimu sebagai adik perempuanku tidak akan tergantikan oleh siapapun." Ucap Naruto lagi.
"Arigatou. Naru-chan, karena dia calon kakak ipar yang sangat penting dan juga sangat manis, aku harap kau terus menjaganya," kata Shion sedikit menggoda. Naruto sedikit blushing dengan kata-kata 'calon kakak ipar'.
"Arigatou gozaimasu, Shion. Tapi, kau harus janji, jangan beritahukan Hinata soal ini. Aku ingin mengatakan langsung padanya." Ujar Naruto.
"Tenang saja. Mulutku terkunci, hehe.. tapi jangan salahkan aku jika keceplosan mengatakannya, hihi.." goda Shion lagi.
"Kau memang adik yang menyebalkan."
~End Flasback~
"Naruto-kun, apa maksudnya Shion tadi?" tanya Hinata penasaran.
Naruto tersenyum jahil, "Itu.. Ra-ha-si-a.." ucap Naruto mengedipkan mata.
Hinata mau tak mau jadi kesal. "DASAR KUMIS KUCING MENYEBALKAN!"
Bagaimana, ya, perjuangan Naruto untuk mendapatkan hati Hinata? Apakah Hinata akan jatuh kepelukan Naruto atau tidak? Tunggu chapter selanjutnya! ^^
.
.
~Tsuzuku~
Yui: "Huaaaaahh.. akhirnya selesai juga. Yui nggak terlalu berharap dapat review banyak pada chapter ini karena kayaknya gak terlalu bagus. Dan dalam fic sedikit crack pairing SasoShion, hehe... ada gak ya, yang buat pairing ini. Kalo nggak ada, berarti Yui dong yang pertama kali buat, hehe.."
Naruto: "Dasar author gila. Ya udah deh, daripada nganggur, lebih baik bales review. Kebanyakan review gak login nih." (bawa-bawa kertas gaje).
Yui: "Iya, ya. Oke, karena keterbatasan waktu, Yui cuma bisa bales review yang belum Yui bales lewat PM."
Shion: "Ok. Aku baca review dari wong brebes. Ng.. oi author! Gue kagak bisa bahasa jawa. Elo aja nih yang bales." (nyerahin naskah gaje -?-)
Yui: "Oh, iya, iya. ng.." (baca review) "Oh, matur suwen atas repiune, hehe... Ok! Selanjutnya dari Micon, hm, makasih atas informasi genre silumannya. Ini udah di update!"
Hinata: *sweetdrop* "Ok, review selanjutnya dari Naruto. Ekh? Naruto? Naruto-kun ikutan review juga, ya?"
Yui: "Naruto! Elo kan pemain fic ini, elo nggak boleh ikutan review!" (ngancungin Zanpakuto).
Naruto: "O, Oi! Gue kagak ikut review! Mana mungkin gue bilang takut ma Hinata!" (nunjuk kertas review)
Yui: "Harukaze.. HIKARIZU HANA!" (jurus zanpakuto Yui, ilusi musim semi, hehe..)
Naruto: "HUWAAAAAAA!" (terlempar ke dunia ilusi).
Shion: "Genjutsu yang hebat! Review selanjutnya dari Seichi, waaa.. gue bukan calon perusuh! Gue calon pengantinnya Sasori!" (dilempar sandal ma FG Sasori).
Yui: "Review selanjutnya dari Magrita. Hoeee.. gomen kalo kelamaan. Soal status aktif, maksudnya aktif untuk fic yang lain, hehe... kalo sekarang sih mau hiatus dulu."
Hinata: "Next dari good air malass log in, heee.. seneng liat fic yang unik ya? Berarti fic author gaje ini termasuk unik dong."
Shion: "Review selanjutnya dari reno. Yup! Emang kejadian itu yang dimaksud Hinata. Wah, tebakan anda juga benar, emang gue yang dateng, hehe.. si author males buat oc. Ngapain buat oc kalo chara Naruto dah bejibun kecuali untuk oc anak-anak para chara Naruto."
Hinata: "Review selanjutnya dari TaMuRaMarO Fujimaki. Huft.. untung Naruto-kun lagi terjebak di dunia ilusi bikinan author, kalo nggak, eh... lho? Kok Naruto-kun jadi mode kyuubi. Maro-kun, aku saranin siapin air es yang banyak buat mode kyuubi Naruto-kun yang panas, ya, ato sekalian sewa Hitsugaya Toshiro kapten divisi 10 dari soul society dari film Bleach buat bekuin Naruto-kun ya."
All: *Sweetdrop* "Ngaak nyangka, Hinata tega nyuruh bekuin Naruto."
Yui: "Ya udah deh. Review selanjutnya dari Ai Odagiri. Eeeehh! Waaaah... makasih dah puji Yui! Nih dah di update. Gomen kalo kelamaan, hehe.." (Narsis tingkat akut)
Shion: "Dasar Author narsis. Selanjutnya dari Aburame anduts, beneran bagus? Syukur deh. Nih dah di apdet."
Hinata: "Next dari HinamE HiMe cHan, ini dah di update!"
Yui: "Yui lagi! Selnjutnya dari ng.. gak ada namanya tapi makasih dah ikutan review. Lanjut deh dari Natakira20, uwaaa... makasih atas pujiannya!" (penyakit narsis stadium akhir) "eh.. yang bener tuh Naruto yang agresif bukan Hinata. Tapi, ya nggak apa-apalah. Namanya juga review, hehe..."
Hinata: "Review dari cionenk, ficnya tetep Naruhina kok. Gimana chapter ini? Makasih dah review!"
Shion: "Selanjutnya dari paink, nih dah di apdet. Makasih dah nunggu. ^^ authornya sempet was-was nggak ada yang nungguin ficnya, hehe.."
Naruto: "Review terakhir dari Zephyramfoter, namanya sulit banget. Makasih atas reviewnya."
Yui: "Eeehh! Bukannya tadi kejebak ma jurus Yui. Kok bisa?"
Naruto: "Ya bisalah. Gini-gini gue juga diajarin ma Ero-sennin ngalahin genjutsu. Siap-siaplah, author sialan!" (kyuubi mode: on).
Yui: "Eeehh! Ya udah deh minna-san. Ini untuk chapter terakhir sementara waktu, Yui bakalan hiatus beberapa minggu karena mau ujian semester. Do'ain Yui moga nilainya bagus semua, ya, hehe.." (keluar keringat dingin)
Naruto: "Bersiaplah, author sialan!"
Yui: "J-jaa matte Minna-san. Jangan lupa tinggalin reviewnya! Kritik maupun saran yang membangun diterima. Bagi yang belum dibales reviewnya mohon dimaafin dan semua kesalahan dalam fic ini."
Naruto: "RASENGAN!"
Yui: "HUWAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
All: "REVIEW PLEASE!"
Cute smile..
Yui hoshina ^^v
