Hope is a Dream That Doesn't Sleep

Chapter 6

-o-

Seorang lelaki mengenakan mantel hitam tengah meminum wine seorang diri. Ia memandangi malam kota Seoul yang berkerlap-kerlip dengan tatapan dinginnya.

"Cho Kyuhyun telah ditemukan," kata salah seorang di ruangan tersebut.

Lelaki itu menghabiskan wine-nya. Tersenyum manis. "Bawa dia ke hadapanku."

-o-

Lelaki bemata hijau itu memperhatikan Kyuhyun yang tengah memakan santapannya. Tatapan itu sedikit menganggu pemuda berambut coklat karamel tersebut. Ia melirik ke arah Alex dengan heran.

Alex menangkap tatapan pemuda yang duduk di hadapannya. "Apa ada sesuatu yang menganggumu, Kyuhyun?" tanya Alex. Kyuhyun menggeleng pelan. "Aku hanya heran, kenapa kau terus menatapku?" Alex tertawa kecil. "Tidak ada apa-apa. Aku sudah lama tidak melihatmu makan dan caramu makan begitu berbeda sekarang."

Kyuhyun menyelesaikan makannya."Apa yang ingin kau katakan?"

Alex menghela nafas panjang. "Sebenarnya, mengetahui bahwa kau tidak mengingatku lagi membuatku bingung harus mulai dari mana." Alex mendekatkan tubuhnya pada Kyuhyun. "Kurasa lebih baik jika kita mulai dari awal, di hari kita bertemu."

Ia menatap Alex bingung. "Tapi, apa kau merasa mengenalku saat aku berdiri di depan apartemenmu, Kyuhyun?"

Kyuhyun diam. Ia tidak mengingatnya, melainkan mengenalnya di dalam mimpi. "Aku mengingat wajahmu," jawabnya kaku.

Lelaki bermata hijau itu memberi senyuman puas. "Syukurlah. Pantas saja kau tidak ragu mengikutiku tadi."

Pemuda bermata coklat itu hanya diam. Sejak mimpi itu membayanginya setiap malam, rasa percayanya pada lelaki bermata hijau itu semakin kuat. Seolah-olah mimpi itu menjadi perantara bagi mereka.

"Sebelum aku memulai ceritanya, apa ada hal yang ingin kau ketahui terlebih dahulu, tuan muda?" Sebutan itu semakin membuatnya merasa aneh.

Sebelum Kyuhyun menjawab, ponsel Alex berbunyi. Ia memberi ekspresi yang tidak yakin. Lelaki bermata hijau itu meminta maaf pada Kyuhyun bahwa ia harus kembali bekerja. Pemuda itu mengangguk mengerti. Alex mengantar Kyuhyun kembali ke apartemennya sebelum mereka berpisah.

"Jaga dirimu baik-baik, tuan muda. Kalau terjadi sesuatu, jangan ragu untuk menghubungiku."

-o-

Seseorang berpakaian kasual dengan wajah polosnya bersiul ria. Ia sibuk melayani para pelanggan di pagi hari itu dengan senyum manisnya. Sebagai pelayan kafe, bisa dibilang ia termasuk tipe yang penyantai.

Menjelang malam, ia mulai membersihkan kafe dan matanya mendapati salah satu meja masih ditempati oleh pelanggan. Ia menghela nafas ketika menyadari siapa pelanggan itu. Pelayan itu ingat tuan itu selalu memesan menu yang sama dan pulang ketika kafe akan tutup. Pelayan itu pun menghampirinya.

"Maafkan saya, tuan. Tapi kami sudah tutup."

Tuan yang berada di meja itu lalu beranjak dari tempatnya, meminta maaf sebelum keluar.

"Terima kasih, tuan. Hati-hati di jalan." Pelayan itu membungkuk pada pelanggan terakhir tersebut.

Pelayan itu keluar dari kafe tersebut dari pintu belakang. Memperhatikan langit malam yang begitu gelap. Ia mengambil ponselnya.

"Yeoboseyo?"

-o-

Pemuda bermata coklat itu menatap kosong pemandangan di hadapannya. Ia menyindiri dalam kegelapan di apartemennya. Mata coklatnya memperhatikan kota Seoul malam hari. Kulit pucatnya memutih ketika merasakan angin malam menyentuh kulitnya. Kyuhyun merasakan ponselnya berbunyi. Ia segera mengeceknya.

"Maafkan aku atas tadi pagi. Apa kau marah? Padahal aku yang mengajakmu untuk bertemu. Bagaimana kalau kita melanjutkan pembicaraan kita lain waktu? Aku janji tak akan ada yang mengganggu kita. –Alex.

Pemuda itu menghela nafas panjang. Ia tidak marah. Lebih tepatnya kecewa. Ia kira Alex dapat menceritakan masa lalunya saat itu juga. Kyuhyun berniat membalas. Tapi ia berpikir untuk menundanya. Dan ia ingin tahu, kenapa Alex tadi memanggilnya 'tuan muda'?

Memikirkan Alex, Kyuhyun merasakan kepalanya semakin sakit dan kelopak matanya yang memberat. Tiba-tiba ia merasa lega dan begitu mengantuk. Pemuda itu mengambil obat nya sebelum mandi dan tidur lebih awal.

-o-

Keesokan harinya, Kyuhyun terbangun oleh suara ponselnya yang terus berbunyi sejak setengah jam yang lalu. Merasa jengkel, ia memaksakan dirinya bangun dan menjawab telepon tersebut.

"KYUHYUN-AH! Kau baik-baik, saja!? Aku ada di depan apartemenmu! Kenapa ka—"

Tidak menunggu lama, Kyuhyun segera mematikan ponselnya. Ia tahu siapa itu. Pemuda itu berusaha berdiri, membukakan pintu sebelum pintunya rusak dan mengganggu tetangga juga temannya yang histeris karena khawatir.

Begitu pemuda itu membukakan pintu, ia mendapati Changmin dengan raut yang begitu khawatir menerobos masuk ke apartemennya. Kyuhyun mendengus. Ia lebih memilih membawakan Changmin minuman daripada mendengar ocehannya.

"Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?! Kau tahu aku sangat khawatir padamu! Kau tidak mengalami panic attack, kan Kyu? Depresimu tidak—"

"Aku sedang tidur, Shim Changmin." Kyuhyun menekan perkataannya. Ia menatap Changmin serius.

Lelaki tinggi itu memperhatikan Kyuhyun dari kepala sampai kaki. Ia merengut. Dari ekspresi Kyuhyun jelas-jelas ia baru bangun tidur. "Kau bisa tidur nyenyak, Kyuhyun?"

"Ya, sampai kau menggangguku dengan telepon beruntunmu."

Changmin menghembus nafas lega. "Syukurlah kau bisa tidur. Obat yang diberikan dr. Park padamu berhasil?" Pemuda itu menggeleng. "Tidak. Aku tidak mengambil obat tidur. Aku hanya merasa begitu lelah dan terlelap begitu saja." Lelaki tinggi itu memberi senyum bangga pada Kyuhyun. "Apa ini artinya penyakitmu membaik?"

Kyuhyun mengidikkan bahunya. "Ada apa kau kemari pagi-pagi begini?"

Changmin merengutkan keningnya. "Pagi? Ini sudah lewat jam satu siang, Kyuhyun! Kau tidak datang untuk kuliah lagi! Karena itu aku mendatangimu dan berencana membawamu menemui dr. Park. Pemuda itu mengerjabkan mata coklatnya. "Benarkah? Aku tidur selama itu?"

-o-

Kyuhyun dan Changmin disambut hangat oleh dr. Park. Wanita itu merasa heran ketika Changmin datang bersama Kyuhyun. Lebih tepatnya melihat Kyuhyun yang tenang dan masuk ke ruangannya tanpa diseret oleh Changmin.

"Dr. Park, apa ini artinya Kyuhyun membaik dari depresinya? Dia tidur dengan nyenyak malam ini. Dia bahkan tidak menolak untuk datang ke sini!" seru Changmin.

Pemuda bermata coklat itu mendesah. Ia memperhatikan ekspresi dr. Park yang mendengarkan cerita Changmin dengan seksama. Lalu dokter wanita itu melirik ke arah Kyuhyun dengan senyum yang merekah di wajah cantiknya.

"Benarkah itu, Kyuhyun-ssi? Kau tidak mengambil obat yang kuberikan padamu?" Kyuhyun mengangguk pelan. "Artinya positif, kan dokter? Positif? Positif?" rengek Changmin.

Dokter Park hanya mengangguk sebagai jawaban. Membuat lelaki tinggi itu begitu senang seolah-olah itu urusannya. "Apakah ada yang ingin kau sampaikan padaku, Kyuhyun-ssi? Sebelum kita memulai sesi berikutnya."

Pemuda itu melirik ke arah Changmin, lalu menatap dr. Park ragu. "Aku ingin mengingat masa laluku."

-o-