Kim Heechul
Lee Donghae
Kim Kibum
Cho Kyuhyun
And others member of Super Junior
Warning : Typo(s) , OOC , etc
A/N : maaf sebelumnya jika nanti ada kesalahan pada pendeskripsian yang berhubungan dengan medis, saya belum terlalu ahli tentang itu :)
.
.
.
The Truth :::::
Bulan bertengger kokoh pada langit malam ditemani awan gelap yang menyelimuti. Kibum masih singgah ditempatnya. Tanpa ada rasa bosan pemuda itu tetap memandangi refleksi dirinya pada permukaan kaca retak tersebut.
Wushh..
Hembusan angin menerbangkan tirai jendelanya yang sengaja ia buka. Kibum menoleh setelahnya ke arah tirai itu namun tak ada pergerakan apapun dari dirinya.
Hingga semakin lama sibakan angin semakin kencang pada tirai jendelanya, perlahan kini dirinya mulai melangkah menuju jendelanya.
Kibum mendongak. Menatap lurus ke arah sang bulan yang bertengger kokoh di langit sana. Entah kenapa hal itu bisa membuatnya merasa sedikit tenang. Maniknya kemudian menatap dedaunan kering pada halaman rumahnya yang diterbangkan oleh sang angin. Angin itu juga semakin kencang menerbangkan tirai jendela di sampingnya kini.
"Kibum?"
Ia menoleh ke belakang saat seseorang menyerukan namanya. Kyuhyun, pemuda itu kini menyembulkan kepalanya pada pintu kamar Kibum.
"Hmm"
Kibum bergumam, lantas membuat Kyuhyun kini perlahan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar itu kembali. Kibum pun kembali beralih menatap ke arah luar bersama dengan Kyuhyun yang kini berjalan menghampirinya.
"Kau sedang apa?"
Kyuhyun bertanya sekedar basa-basi. Hal itu membuat Kim Kibum berdecih.
"Langsung saja pada tujuanmu datang kemari Kyu."
Kyuhyun menatap wajah Kibum dari samping. Pemuda itu pun kemudian mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Donghae hyung berada di rumah sakit."
Lirih Kyuhyun. ia menggigit bibir bawahnya menunggu respon dari Kibum.
"Aku sudah tahu."
Kibum tersenyum menghadap ke arah Kyuhyun, ia menyandarkan tubuhnya pada tembok disampingnya dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Kau sudah tahu?" Kyuhyun membulatkan matanya.
"Kalau begitu kenapa kau tak datang ke rumah sakit huh?" lanjut Kyuhyun karena merasa Kibum tak akan menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.
"Aku tak bisa" balas Kibum singkat.
"Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Mengapa kau dan juga Heechul hyung tak bisa dekat dengan Donghae hyung seperti dahulu, seolah ada jarak pemisah yang tak kasat mata diantara kalian bertiga, oh bukan, antara kau dan Heechul hyung dengan Donghae hyung. Kenapa kalian seperti itu?"
Kyuhyun menelisik raut Kibum, sedangkan sang empunya terkekeh. Kyuhyun merasa tak suka karena sepertinya Kibum menganggap ini hanya sebuah candaan, namun Kyuhyun tak menampik jika ada sedikit kegembiraan dalam hatinya lantaran kakaknya yang dingin itu kini mau membicarakan hal tentang Donghae. Namun tetap saja Kibum itu menjengkelkan bagi Kyuhyun.
"Kibum kau bis-"
"Donghae. Nama marganya yang sesungguhnya adalah Lee"
"Huh?"
Dahi Kyuhyun semakin mengkerut bingung dengan perkataan Kibum, ia pun semakin menatap pemuda itu menuntut penjelasan darinya.
"Akan aku ceritakan alasannya. Tapi kau harus berjanji jangan bersikap sepertiku atau Heechul hyung padanya setelah mendengarnya, tetaplah menjadi Kim Kyuhyun yang hangat baginya."
…
Kyuhyun hanya bisa terdiam di tempatnya setelah mendengar cerita dari Kibum. Kibum lantas menepuk bahu adiknya itu.
"Kau baik-baik saja?"
Tak ada jawaban dari Kyuhyun. Kibum pun menghela.
"Aku akan keluar, kau tidurlah."
Kibum berjalan melewati tubuh Kyuhyun menuju pintu kamarnya.
Bugh…
Tanpa ia duga, Kyuhyun mengejarnya dan memukul wajahnya di ambang pintu kamarnya. Kibum pun terduduk dengan memegangi pipinya yang berdenyut.
"Hentikan bualanmu, semua itu tak mungkin. TIDAK MUNGKIN!"
Kyuhyun membuka pintu kamar Kibum lantas segera berlari menuju kamarnya sendiri.
Setelahnya Kibum beranjak, sekali lagi ia hanya bisa menghela. Ia kemudian meraih kunci motor yang ada di meja nakasnya.
"Oh Kibum!"
Tak ia hiraukan seruan Heechul, kakaknya yang berada pada pijakan ketiga anak tangga yang dekat dengan pintu kamarnya sendiri. Kibum terus melangkah menuju pintu rumahnya tanpa memperdulikan sang kakak yang kini merutuknya.
"Ya! Dasar tidak sopan."
Kibum melangkah dengan tergesa menuju garasi untuk mengambil motornya. Ia pun tak sadar jika luka pada punggung jemarinya masih terus mengeluarkan darah.
"Ah sial!"
Kibum menyadari lukanya saat ia telah menaiki motornya dan akan menyalakan mesin motornya itu, ia lantas dengan cepat merobek ujung kaos yang tengah dipakainya dan menjadikannya sebagai penutup lukanya. Ia tak perduli jika nantinya infeksi atau apa, yang terpenting luka sialan itu tak mengeluarkan darah lagi.
Setelahnya Kibum pun menyalakan motornya dan mulai melajukannya di tengah gelapnya hari yang kian larut.
.
.
.
The Truth :::::
Wanita paruh baya itu menjerit histeris di hadapan para pelayannya, ia melemparkan setiap benda yang ada di sekitarnya.
"Aku akan membunuhnya. Bawa aku pulang!"
Ia mengacungkan sebuah pisau ke udara. Semua pelayannya yang ada nampak ketakutan sekaligus khawatir dengan keadaan majikannya. Tak hentinya mereka melontarkan beberapa kalimat mencoba untuk menenangkan sang wanita.
"Ada apa ini?"
"Tuan"
Seseorang lain masuk ke dalam ruangan tersebut dengan raut keterkejutannya.
"Tenanglah"
Lantas ia segera menghampiri sang wanita yang masih mengacungkan pisaunya itu. Tanpa rasa takut sedikitpun, pria itu mendekati sang wanita.
"Tenanglah"
Ia mendekap tubuh sang wanita. Perlahan akhirnya sang wanita mulai menjatuhkan pisaunya ke lantai. Ia menangis dalam pelukan itu kemudian.
"Hiks… bawa aku kembali ke Korea."
Zhoumi, pria berketurunan China yang sekaligus orang yang selama ini merawat sang wanita semakin mendekap tubuh wanita tersebut. Ia nampak berpikir, apakah sudah waktunya ia membawa wanita itu kembali ke Korea?
"Tenanglah terlebih dahulu, Jihyun-ah."
Zhoumi mengusap lembut punggung sang wanita yang ia panggil Jihyun itu. Membuat sang wanita akhirnya perlahan dan perlahan mulai kembali tenang, tangisnya pun berhenti walau masih tersisa beberapa isakan.
"Bagus Jihyun-ah"
Ia tersenyum. Entah kenapa Zhoumi sangat menyayangi wanita dalam dekapannya itu walau mereka hanyalah dua orang asing pada awalnya. Zhoumi yang juga berprofesi sebagai seorang dokter beberapa tahun silam tak sengaja bertemu dengan Jihyun yang kondisinya sangat mengenaskan dengan keadaan nyawa Jihyun yang di ujung tanduk. Tanpa berpikir ia lalu membawa Jihyun. Dan seiring berjalannya waktu ia akhirnya memutuskan membawanya ke Amerika meninggalkan tanah kelahirannya karena kondisi Jihyun yang semakin memburuk saat keduanya masih berada di Korea.
Hingga kini kondisi Jihyun semakin membaik meskipun seringkali wanita itu menjerit histeris karena mengingat anaknya.
"Baiklah, jika itu inginmu. Besok kita akan kembali ke Korea"
.
.
.
The Truth :::::
Detak jantung Donghae nyaring terdengar pada alat ECG; electro cardio graph yang terletak di samping ranjangnya. Dapat terlihat dari alat itu bahwa kondisi Donghae semakin membaik meski pemuda itu tak kunjung membuka kedua matanya.
Masih ingat dengan pria serba hitam? Ya, pria itu ada disana, tepat disamping ranjang Donghae.
Pria itu kini telah menancapkan suntiknya pada selang infus Donghae yang ada pada pergelangan tangan Donghae. Ia pun akan menekannya namun,
Bugh..
Tubuh pria itu tersungkur di atas lantai saat dengan tiba-tiba seseorang menendang punggungnya. Suntiknya pun terlepas dari genggamannya.
Pria itu lantas berdiri dan
Bugh..
Satu tendangan ia dapatkan lagi, kini mengenai perutnya, membuatnya jatuh ke arah tembok.
Ia terbatuk.
"Aa.. ahh.. arght"
Nafasnya tercekat saat seseorang dihadapannya mencekik lehernya dengan kuat. Ia pun mencoba dengan sekuat tenaga melepaskan cekikan itu dari lehernya.
"Tsk, kau ingin membunuhnya?"
Ucap seorang di hadapannya dengan wajah meremehkan. Pria itu tak bisa menjawab karena cekikan itu semakin kuat.
"Sebaiknya persiapkan dirimu terlebih dahulu sebelum datang. Karena mungkin, kau yang akan mati terlebih dahulu, Choi Siwon."
"Arght!"
Siwon memekik tertahan saat seseorang itu tiba-tiba menyuntikkan sesuatu pada bahunya. Ia kemudian perlahan menutup kedua matanya. Sosok itu terlihat jelas di mata Siwon walau penglihatannya kini semakin memburam. Ia tengah menyeringai menatap ke arah Siwon.
"Bre… brengsek k.. kau, Kim Kibum."
.
.
.
The Truth :::::
Leeteuk membawa satu buah kantong pada masing-masing tangannya yang berisi beberapa makanan ringan dan minuman untuk dirinya dan juga Hyukjae nanti. Setelah mendapat pesan dari Hyukjae, pemuda itu lekas kembali ke kamar inap Donghae. Senyuman hingga menampilkan satu dimple yang terletak di sebelah bibirnya selalu Leeteuk tampilkan, di sepanjang koridor rumah sakit tak hentinya ia tersenyum dan membungkuk pada setiap suster atau dokter yang ia temui.
"Syukurlah."
Leeteuk mengurut dadanya lega melihat Donghae masih ada di atas ranjangnya. Leeteuk pun segera masuk, menutup pintunya kembali dan menghampiri Donghae setelah sebelumnya ia letakkan belanjaannya pada sofa yang ada.
"Tidak terjadi apa-apa kan?" Tanya Leeteuk dengan mengelus lembut salah satu pipi Donghae yang terasa hangat saat kulit telapaknya bersentuhan dengan kulit wajah Donghae.
Leeteuk tersenyum geli mengingat pertanyaannya yang ia tahu tak akan terjawab itu.
Mata Leeteuk menelusuri setiap sudut kamar inap Donghae. Tak ada yang aneh. Namun entah mengapa ia merasa telah terjadi sesuatu disini. Mungkin hanya perasaannya.
"Donghae kapan kau membuka matamu hmm? Kau selalu tak suka jika kami semua mengataimu dengan kata lemah. Jika kau tak kunjung bangun, maka mau tak mau kau harus menerima jika kita melemparkan cercaan itu padamu."
Leeteuk terkekeh sendiri. Ia mengucapkan kalimat itu dengan mengingat raut Donghae yang biasanya merajuk lucu saat menerima sebutan itu.
Cklek..
Leeteuk menoleh ke arah pintu saat ia mendengar suara pintu itu terbuka.
"Maaf, saya ingin memeriksa kondisi pasien."
"Silahkan."
Leeteuk mempersilahkan dan tersenyum hangat pada seseorang yang ternyata adalah salah satu suster di rumah sakit itu. Ia hanya diam menyimak sang suster yang memeriksa kondisi Donghae dengan detail. Senyumnya terus terpatri sampai saat sang suster selesai memeriksa.
"Terima kasih." Leeteuk ucapkan pada sang suster.
Leeteuk lantas kembali duduk di sebelah ranjang Donghae saat suster itu telah keluar.
Sibakan angin pada pepohonan di luar kamar inap Donghae sukses membuat perhatian leeteuk tersita olehnya. Ia lantas beranjak menuju jendela untuk melihat lebih dekat, entah mengapa ia tertarik dengan bunyi yang ditimbulkan akibat gesekan angin dengan ranting pohon tersebut. Sungguh unik.
Hanya bunyi detak jantung Donghae pada ECG yang terdengar oleh Leeteuk diselingi dengan suara gesekan angin dengan ranting pepohonan. Leeteuk masih singgah menatap ke luar melalui jendela yang terlapisi kaca itu.
Tubuhnya menegang saat diantara dua bunyi yang ia dengar tadi, terdapat satu bunyi lagi yang tertangkap indra pendengarnya. Suara langkah kaki.
Leeteuk segera menoleh ke belakang, matanya menyusuri seisi kamar inap Donghae.
'Mungkin hanya perasaanku.'
Leeteuk menepis pikiran negatif yang sempat terlintas. Namun tak dapat ditampik jika Leeteuk memang benar merasakan kehadiran seorang lagi selain dirinya dan juga Donghae.
Leeteuk pun kembali menatap keluar melalui jendela di hadapannya.
Sret (?)..
Suara derap langkah kaki itu terdengar kembali, namun kali ini ia tak menoleh ke belakang, ia tetap dengan posisinya. Leeteuk merasakan bahwa orang itu menghampirinya, terdengar dari derap langkahnya yang kian terdengar jelas.
Leeteuk di tempatnya telah bersiap dengan tinjunya. Ia memasang siaga satunya.
Orang itu menepuk bahu Leeteuk dan,
"Arght! Sakit sakit, lepaskan hyung."
Ia mengaduh karena Leeteuk memelintir tangannya.
"Hyukjae?"
"Iya ini aku Lee Hyukjae, lepaskan tanganku hyung, sakit!"
Leeteuk segera melepaskan tangan Hyukjae karena Hyukjae yang meringis kesakitan.
"Oh maaf Hyuk-ah, aku kira siapa hehe"
Leeteuk tertawa kikuk dan meminta maaf pada pemuda blonde di hadapannya yang masih saja memegangi pergelangan tangannya yang masih terasa sakit itu.
"Kau pikir aku siapa hyung? Hantu? Tsk, padahal aku ingin mengejutkanmu, malah ini yang kudapat."
Pletak..
"Ya!"
"Salah siapa berjalan mengendap-ngendap seperti itu huh? Aku sangat peka jadi jangan coba-coba mengagetkanku." Ucap Leeteuk, membuahkan rajukan di raut Hyukjae.
"Baiklah." Sahut pemuda blonde itu.
Leeteuk lantas berjalan menuju sofa dengan Hyukjae yang mengekori. Keduanya dengan segera meletakkan tubuh pada sofa tersebut.
"Hahh.. lelahnya."
Nafas Hyukjae sedikit memburu, pemuda itu memejamkan kedua matanya dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Masih, pemuda itu masih mencoba menstabilkan nafasnya.
"Kau darimana?"
Hening. Tak ada jawaban atas pertanyaannya, Leeteuk lantas menolehkan kepalanya ke arah samping.
Ia pun berdecak. Hyukjae, pemuda itu telah terlelap dalam tidurnya.
"Padahal dia belum makan." Lirih Leeteuk.
"Ya sudahlah."
Pemuda berdimple satu itu akhirnya memutuskan untuk tidur juga, mengingat malam sudah semakin larut.
.
.
Esok hari pun tiba dengan matahari yang menyembul dengan semangat dari ufuk timur. Matahari kini telah lumayan tinggi terletak di atas langit sana, yang dimana mengingatkan bahwa hari sudah lumayan siang.
Leeteuk, ia masih tertidur di atas sofa kamar inap Donghae. Bias sinar matahari yang menyusup masuk ke dalam kamar itu sama sekali tak mengganggunya.
Pintu kamar terbuka menampilkan sosok Kyuhyun yang hadir disana,
"Dia masih tertidur?"
Ia menatap sosok Leeteuk yang masih terlelap tak terganggu sama sekali bahkan oleh hadirnya.
Kyuhyun kemudian tersenyum hangat menatap Donghae yang juga masih 'tertidur' di atas ranjangnya. Ia lantas menuju ke arah Donghae.
"Hyung, aku datang."
Ia genggam telapak tangan Donghae yang selalu terasa hangat itu. Ia juga kemudian memilih duduk dengan masih menggenggam telapak Donghae.
'Donghae. Ayahnya adalah pembunuh ayah kita.'
Bulir air mata jatuh membasahi pipi Kyuhyun saat lontaran Kibum semalam terngiang kembali di telinganya. Ia kini lebih erat menggenggam telapak Donghae. Mengisyaratkan ia ingin memberi kekuatan untuk kakaknya itu agar lekas siuman dan segera menjelaskan semuanya padanya, Kyuhyun sendiri masih belum percaya dengan semuanya jika itu tidak keluar dari mulut Donghae sendiri.
'Kau jangan bercanda Kibum'
'Aku tidak bercanda Kyu. Itulah salah satu dari sekian banyaknya kebenaran yang masih belum kau ketahui. Seiring berjalannya waktu. Kau pasti akan mengetahui segalanya.'
"Benarkah itu?"
Kyuhyun semakin menggenggam telapak Donghae, dadanya kini terasa sesak.
'Tapi aku harap kau menjaga Donghae untuk saat ini, karena sekali lagi, aku tak bisa.'
Kyuhyun menenggelamkan wajahnya diantara lengan Donghae yang ia genggam. Ia terisak.
Leeteuk, samar ia mendengar seorang menangis. Ia lantas mengerjapkan matanya kemudian. Ia mengucek kedua matanya saat bias sinar matahari terlalu menyilaukan, masuk ke dalam retinanya.
'Kyuhyun?'
Leeteuk masih ragu dengan sosok itu. Ia pun memicingkan matanya untuk menatap lebih ke arah sosoknya. Setelah nyawanya telah lumayan kembali, pemuda itu lantas beranjak dan menghampiri sosok yang duduk di samping ranjang Donghae.
"Kyuhyun?"
Ia kembali memastikan sekali lagi bahwa benar itu adalah Kyuhyun, dan ternyata ia benar. Leeteuk terfokus pada Kyuhyun tanpa sadar bahwa Lee Hyukjae, rekannya yang semalam tidur di sampingnya telah tak ada ditempatnya saat ini. Sungguh sosok Kyuhyun telah menyita perhatian Leeteuk.
Karena tak ada jawaban dari sang empunya, Leeteuk pun memegang bahu Kyuhyun dan mengguncang tubuhnya sedikit. Kyuhyun kemudian segera menegakkan tubuhnya kembali dan mengusap air matanya kasar.
"Ada apa?"
Kyuhyun bungkam dan sama sekali tak memandang ke arah Leeteuk yang sedang bertanya padanya. Ia hanya memandang wajah Donghae.
"Apa ada hubungannya dengan kondisi Donghae?"
Leeteuk masih mencoba membuat pemuda ikal itu bersuara. Leeteuk pun lantas juga turut memandangi Donghae kini.
"Dia berhasil."
Leeteuk mengernyit lantaran suara Kyuhyun yang sangat lirih. Pemuda itu lebih terlihat seperti bergumam daripada berbicara. Bahkan Leeteuk masih belum yakin apa barusan Kyuhyun bersuara atau tidak.
"Dia berhasil menutupi segalanya dengan wajah polosnya."
"Apa?"
Pertanyaan Leeteuk lagi-lagi terbang sia-sia, karena tak ada jawaban dari Kyuhyun. Hal itupun kini membuat Leeteuk berpikir. Apa Kyuhyun tak menyadari kehadirannya? Apa dirinya kini telah meninggal karena semalam terjadi gempa bumi saat ia tidur di samping Hyukjae? Oh yang benar saja Leeteuk -_-.
Setelah itu keduanya bungkam, tak ada pembicaraan satupun yang keluar.
Dan setelah sepersekian detik jarum jam berputar. Mata Kyuhyun kini membulat sempurna lantaran obyek yang tengah di genggamnya menunjukkan suatu pergerakan, jemari Donghae mulai bergerak perlahan.
"Hyungie?"
Kyuhyun berjingkat kemudian menatap wajah Donghae lebih dekat.
"Ada apa Kyu?"
Leeteuk segera menghampiri Kyuhyun saat mendengar seruan Kyuhyun walau itu bukan tertuju padanya. Ia yang baru saja duduk di sofa itu pun kini kembali berdiri menuju ranjang Donghae.
"Donghae hyung, dia bangun."
Leeteuk bergerak menuju sisi kiri ranjang Donghae yang dimana tidak ada Kyuhyun disana, karena Kyuhyun berada pada sisi sebaliknya.
Keduanya berdiri dan menatap wajah Donghae lekat-lekat. Jantung Kyuhyun berpacu lebih cepat melihat bola mata Donghae yang bergerak-gerak dalam pejamannya, ia gugup menanti kelopak mata Donghae terbuka.
"Donghae?"
Ini suara Leeteuk. Ia hampir menitikkan air matanya saat akhirnya kini kedua kelopak mata Donghae terbuka dengan sangat perlahan.
"Akan aku panggilkan dokter, kau jaga dia hmm."
Leeteuk pun berlari keluar memanggil dokter, meninggalkan Kyuhyun dengan Donghae disana.
"Hyung, kau bisa melihatku?"
Tanpa sadar suara Kyuhyun bergetar entah karena ia terharu lantaran Donghae akhirnya siuman atau karena dirinya yang gugup, mungkin keduanya. Kyuhyun sebenarnya belum siap, ia belum siap jika nantinya Donghae mengatakan sama persis seperti apa yang dikatakan Kibum padanya semalam.
"Kyu.."
Air mata Kyuhyun kembali jatuh saat Donghae kini menatapnya, bibir pucat Donghae juga menyerukan namanya dengan sangat lirih dari balik masker oksigennya.
.
.
.
The Truth :::::
"ARGHT!"
Pria paruh baya itu membanting segala sesuatu yang ada di atas mejanya, ia tengah mengamuk.
"Bajingan!"
Jemarinya mencengkram sebuah kertas hingga membuat kertas itu lusuh. Ia menggertakkan giginya.
"Bos"
Seorang pemuda salah satu anak buahnya masuk menemui sosok yang ia panggil bos tersebut. Ia membungkuk dengan hormat sebelum mengatakan sesuatu yang ingin ia sampaikan.
"Choi Siwon, dia sudah mati ditangan Kibum."
"AKU TAHU!"
Pria itu berteriak keras hingga suaranya menggema di ruangan itu. Sang anak buah yang merasa terkejut hanya semakin menundukkan kepalanya.
"Dari awal aku sudah menduga ia akan menjadi batu sandungan. Cepat habisi Kim Kibum, kerahkan semua rekanmu!"
Titahnya yang segera disanggupi oleh sang anak buah yang kemudian berlalu dari hadapannya.
"Brengsek kau, Kibum!"
…
Brakk..
Pintu itu terpelanting oleh tendangan seseorang, membuat semula yang nampak baik kini menjadi tak berbentuk.
Pria yang duduk dalam ruangan itu pun tak pelak terkejut dan memandang ke arah pintunya.
Matanya terbelalak saat anak buah yang ia suruh untuk membunuh Kibum kini jatuh tersungkur di depannya dengan luka yang luar biasa pada seluruh wajahnya.
"Melihat reaksimu, sepertinya benar bahwa kau lah yang mengutusnya."
Mata pria itu kembali terbelalak saat sosok Kibum tiba-tiba muncul dari sana. Pemuda itu berdiri angkuh dengan seringai yang terpatri di wajahnya.
Pria yang duduk itu menatap Kibum sengit, lantas membuat Kibum membuang ludahnya sebelum kembali berucap,
"Hadapi aku. Jangan hanya duduk anggun di singgasanamu. Tuan Jang yang terhormat."
.
.
.
The Truth :::::
Bandara Incheon Seoul nampak sangat ramai walau hari sangatlah terik. Banyak orang berlalu lalang entah itu akan pergi atau baru saja sampai. Di antara banyaknya orang, dari jalur pendaratan tujuan Amerika-Seoul, nampak seorang wanita yang masih terlihat cantik di tengah usianya yang tak lagi muda. Ia berjalan beriringan dengan seorang pria jangkung dan juga tampan yang terbalut dalam pakaian formalnya.
"Kita akan kemana?" Ucapnya pada sang wanita.
Wanita itu lantas membuka kacamata hitamnya dan tersenyum ke arahnya.
"Ke anakku, Lee Donghae."
.
.
.
The Truth :::::
Jarum jam menunjukkan pukul tiga sore. Donghae duduk bersandar di atas ranjangnya ditemani oleh Sungmin. Masker oksigen tidak lagi tertempel pada wajahnya karena kata dokter kondisinya semakin membaik pasca ia siuman beberapa jam yang lalu, walau tetap saja fisiknya masih lemah.
Donghae terus saja tersenyum dan terkadang terkekeh mendengar setiap ocehan Sungmin disampingnya yang tengah sibuk mengupas beberapa buah untuknya. Ia merindukan temannya itu. Seolah-olah ia telah tertidur selama bertahun lamanya, ia sangat merindukannya.
"Cha~ kau harus makan yang banyak agar cepat sembuh dan lekas keluar dari rumah sakit."
Sungmin menyuapkan sepotong jeruk ke dalam mulut Donghae yang dengan senang hati diterima oleh Donghae.
"Terima kasih." Ucapnya.
Sungmin hanya tersenyum.
"Leeteuk hyung dan yang lain kemana huh? Apa mereka tak akan datang kemari?" ucap pemuda bergigi kelinci itu.
"Tak kesini juga tidak apa-apa kok hyung, mereka mungkin sedang lelah."
Sahut Donghae yang masih menerima suapan buah dari Sungmin.
"Begitukah? Tapi tetap saja." Sungmin menjeda, "Oh ya Hae, pada saat kau tertidur kau bermimpi apa hmm? Kami semua menunggumu bangun tapi kau tak kunjung bangun juga. Ya walaupun kau kini telah bangun, namun tetap saja aku penasaran alasan apa yang membuatmu betah tertidur."
Sungmin kini menyuapkan buah jeruk ke dalam mulutnya sendiri lantaran Donghae yang nampak mengingat kembali mimpinya.
"Aku bertemu dengan eomma, hyung."
Donghae tersenyum lebih lebar saat ia teringat pertemuannya dengan sang ibu kandung dalam mimpinya itu. Matanya nampak berbinar.
"Benarkah?"
Hanya itu tanggapan Sungmin, Donghae pun hanya mengangguk semangat menanggapi Sungmin. Sungmin lantas tersenyum bahagia melihat keceriaan Donghae. Oh ya, sebenarnya Sungmin dan juga teman Donghae yang lain dalam kelompoknya tidak mengetahui jika Donghae bukanlah anak kandung dari Nyonya Kim.
"Donghae-ah"
Tiba-tiba dari arah pintu muncul pemuda blonde yang langsung saja menerjang tubuh Donghae, memeluknya erat dalam dekapannya.
"Ahh sakit Hyuk."
Donghae memukul-mukul punggung Hyukjae mengisyaratkan agar pemuda itu melepaskan pelukannya.
"Ya! Luka Donghae masih belum kering bodoh! Dan keadaannya juga belum terlalu pulih."
Sungmin pun menarik tubuh Hyukjae menjauh dari Donghae hingga membuat pelukan itu terlepas.
"Oh maafkan aku Hae. Aku tak sengaja sungguh. Sangat sakitkah? Dimana huh?"
Hyukjae pergi memeriksa setiap inci tubuh Donghae dengan raut khawatir sekaligus bersalahnya.
Plak..
"Ya!"
Hyukjae berjengit kesal menatap Donghae yang memukul kepalanya dengan tiba-tiba. Sedangkan sang pelaku hanya tersenyum misterius.
"Bukan aku saja yang sakit, sepertinya kau juga."
"Huh?"
"Otakmu itu sakit, Lee Hyukjae."
Ucap Donghae dengan tertawa terbahak hingga membuat perutnya sakit.
"Dasar, masih sakit tapi tetap ingin mengajak ribut hmm? Tsk."
Hyukjae berdecak lantas ikut tersenyum melihat sahabatnya itu. Hyukjae tak berbohong jika ia sangat merindukan tawa Donghae dan pertengkaran mereka.
"Kalian ini, seperti anak kecil." Protes Sungmin di tempatnya melihat kelakuan Hyukjae dan juga Donghae.
.
.
.
The Truth :::::
Tuan Jang berhasil lolos dari Kibum dengan bantuan anak buahnya yang tak terhitung itu. Ia kini menaiki mobilnya bersama dengan anak buahnya yang lain.
"Kau sudah mendapatkan nomor ponsel Donghae?"
Ia bertanya pada seorang anak buahnya yang tengah menyetir di depannya.
"Sudah bos"
Lantas hal itu membuat Tuan Jang menyeringai penuh arti.
.
.
.
The Truth :::::
Kini malam kembali tiba. Giliran Leeteuk dan juga Yesung yang menemani Donghae di rumah sakit. Sebenarnya Donghae telah menyuruh Leeteuk untuk tak usah datang karena ia merasa tak enak jika harus terus merepotkan. Namun Leeteuk tetaplah Leeteuk, ia tak akan pernah mau. Ia akan menyalahkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Donghae saat ia tak ada, itulah alasan Leeteuk pada Donghae.
Donghae kini tengah asyik membaca komiknya di atas ranjang. Ia sangat serius sampai-sampai tak menoleh ke arah lain barang sedetik pun.
"Sudah malam Hae, kau tidak tidur?"
Donghae hanya bergumam menanggapi Yesung, Yesung pun menggelengkan kepalanya melihat pemuda itu.
Selanjutnya Yesung menuju ke arah sofa dan meletakkan tubuhnya disana, ia lantas membuka ponselnya dan mengutak-atik benda kotak tersebut. Ia sedang menunggu Leeteuk yang masih keluar entah kemana.
Akhirnya acara dengan komiknya telah usai, Donghae menutup komiknya dan menaruhnya pada atas meja di sebelahnya. Ia kemudian memikirkan Kyuhyun. Kenapa ia tak datang? Dan kenapa Kyuhyun langsung berlari keluar saat ia menyerukan namanya seusai ia siuman? Donghae mengkhawatirkannya.
Kemudian lamunan Donghae buyar, ia menatap Yesung yang kini sibuk dengan ponselnya.
"Hyung, ponselku mana?"
Yesung segera menghentikan kegiatannya dan melangkah ke arah Donghae.
"Sepertinya disini Hae."
Ia mengobrak-abrik tas yang ada di meja di sebelah ranjang Donghae guna mencari ponsel Donghae, Donghae ditempatnya hanya menunggu tanpa ada niatan untuk membantu.
"Ini."
Yesung menyerahkannya pada Donghae.
"Terima kasih."
Ia tersenyum melihat Donghae yang juga tersenyum.
…
Jam kini cepat berlalu, jarum jam menunjukkan pukul 11 malam. Leeteuk, Yesung dan juga Hyukjae yang baru beberapa jam yang lalu turut hadir kini terlelap dalam tidurnya masing-masing. Donghae sendiri masih mencoba memejamkan matanya namun tetap tak bisa. Ia masih menunggu balasan dari Kyuhyun.
"Ada apa dengan Kyuhyun?" gumamnya.
'Donghae!'
Kejadian sebelum insiden dirinya tertembak atau lebih tepatnya ditembak itu kemudian muncul dalam pikiran Donghae. Ia teringat dengan seorang yang memanggil namanya dan memeluknya saat tembakan itu terjadi.
"Kibummie."
Donghae kini juga penasaran dengan keadaan Kibum. Apa ia baik-baik saja?
Donghae lantas akan mengirim teks ke Kibum namun ponselnya telah terlebih dahulu bergetar akibat pesan dari seseorang. Ia pun membukanya.
'Lee Donghae, ini eomma. Eomma datang sayang, keluarlah.'
Raut kebingungan muncul di paras Donghae setelah membaca pesan dari nomor yang tak dikenalnya itu. Ia pun menatap ke arah pintu kamar inapnya.
'eomma? Eomma masih hidup? Benarkah dia datang?'
Tanpa berpikir panjang Donghae mulai menuruni ranjangnya dengan perlahan tanpa menimbulkan suara agar ketiga rekannya tak terbangun. Ia meletakkan ponselnya di atas ranjang dan mulai melangkah menuju pintu dengan langkah perlahan karena fisiknya masih lemah.
Jemarinya membuka pintu itu. Ia melongokkan kepalanya dan melihat ke kanan dan ke kiri pada koridor rumah sakit tersebut. Namun tak ada siapa-siapa, hanya koridor sepi yang berhiaskan kursi tunggu disepanjangnya.
Tanpa ada rasa takut, Donghae melangkah keluar. Walau ia sudah mendapati tak ada siapa-siapa disana. Dirinya masih saja tetap penasaran. Benarkah sang ibu masih hidup dan datang menemuinya?
Dengan membawa infus pada telapak kirinya. Donghae berjalan menyusuri koridor itu dengan perlahan.
"Eomma?"
Panggilnya dengan intonasi rendah.
Donghae menghentikan langkahnya saat ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Lantas dengan perlahan ia mulai membalikkan tubuhnya ke belakang.
"Hmmpptt"
Kesadarannya terenggut saat orang itu membekap mulutnya dengan tiba-tiba menggunakan sebuah sapu tangan. Donghae telah tak sadar saat tubuhnya kini dibawa oleh orang tersebut.
-TBC-
Halo, maaf untuk update nya yang lama. sebelum tugas semakin bertambah menumpuk, saya putuskan untuk melanjutkan cerita ini dulu selagi ada waktu luang.
Sebenarnya niatan saya mau end chapter ini, tapi ternyata kepanjangan jadi saya potong. tapi belum pasti juga jika chapter depan bakalan end, lihat nanti saja kalau itu mah hehe
Terima kasih bagi yang sudah review /tiap chapter saya mengucapkan ini, pasti yang baca pada bosan/ oh ya buat new reader, halo selamat datang di cerita absurd saya, semoga suka ya dan makasih juga sudah review :)
Enaknya happy end atau sad end nih, hehe.
Udah segini dulu ya, makasih pokoknya untuk semua yang nyempetin baca dan review, buat siders juga dah /kalau ada/
Mind to RnR?
