SWORD LOVE 6 (THE TRAP)

Pair : 2MIN

.

.

.

.

Sraaaakkkkk

Kata-kata Taemin terpotong ketika ia mendengar suara gesekan Tali dan ketika iaenatap keatas, ia melihat sebuah karung besar yang akan terjatuh, dan karung itu tepat berada di atas Minho. Taemin segera meraih pedang yang berara di tangan Minho

Sriiiingggg

suara gesekan pedang dengan sarungnya terdengat nyaring ditelinga Minho, Minho merasakan tubuhnya terhempas membuatnya jatuh terduduk, dan ketika ia sadar, ia melihat benih gandum yang bertebaran diatasnya, dan Taemin yang tengah memegang pedang yang telah terlepas dari sarungnya.

"a..apa yang terjadi?" tanya Minho yang sedikit shock.

Taemin berjalan ke arah karung yang baru saja ia tebas, ia melihat tali yang menjalar pada karung itu, ia memegang ujung tali yang mengikat karung.

"dipotong!" ucap Taemin. "yang mulia, aku fikir ada yang ingin mencelakai anda!"

"apa?" kata Minho tak percaya. ia melihat Taemin yang berdiri sambil membawa tali itu.

"aku akan..."

sraakkkk...bruukk

Taemin terpleset dan terjatuh diatas pangkuan Minho, dress nya tersingkap keatas memperlihatkan paha putihnya.

sedangkan Minhl reflek menangkap Taemin, tangnnya kini berada pada paha kanan Taemin yang terekspos karena dressnya tersingkap.

"Minho apa yang terjadi?" kata seseorang yang tiba masuk. "M...Minho" kata orang itu sedikit shock melihat pemandangan didepannya.

"hyung!"

"m..maaf Minho, aku akan pergi sekarang!" kata seseorang itu

"tidak hyung! i..ini tidak seperti yang kau bayangkan." Minho mendorong tubuh taemin menjauh, kemudian berdiri.

"ee... baiklah." orang itu menggaruk tengkuknya

Taemin berdiri dan menepuk-nepuk dressnya, wajahnya memerah, ck konyol sekali fikinya, harus terjatuh diatas tubuh pangeran,

Minho melirik taemin sekilas, wajahnya sedikit merona ketika menyadari taemin masih mengenakan drees itu,

" kembali lah ke kamar dan ganti pakaian mu." ucap Minho mrnatap ke arah lain.

"N..ne yang mulia." Jawab Taemin, yang kemudian berbalik dan keluar dari ruangan itu.

"Ada apa sebenarnya Minho?" tanya Siwon yang kembali terfokus pada gandum-gandum yang berserakan di bawah Minho.

Minho menatap gandum dibawahnya. Menghampiri tali yang tadi Taemin pegang. Memang benar apa kata Taemin, tali ini dipotong.

"Aku rasa ada yang berniat mencelakai ku hyung." Ucap Minho sambil menatap Siwon.

"Apa? Kau serius Minho?" tanya Siwon tak percaya, dan menghampiri Minho. "Aku akan meminta orang untuk menyelidiki ini Minho, segera, aku tak mau ada sesuatu terjadi pada mu."

"Jangan, jangan dulu hyung, aku ingin lihat, apa ini benar-benar di sengaja dan direncanakan." Kata Minho yang kemudian berdiri.

"Kau gila Minho, bagaimana kalau ini benar-benar direncanakan, dan membuatmu celaka?" Sergah Siwon tak trima.

"Tenang saja hyung takan ada apa-apa pada ku." Minho menepuk pundak Siwon dan keluar dari ruangan itu.

.

.

.

.

.

Taemin tengah membersihkan make upnya ketika Minho masuk kekamarnya, dan membuat Taemin terkejut. Untung saja Taemin sudah mengganti bajunya tadi.

"Yang Mulia." Taemin langsung menunduk hormat pada Minho.

"Masalah yang tadi, jangan beri tahu siapapun, kau mengerti, aku tidak mau semua menjadi hanya karna karung gandum yang jatuh itu." Jelas Minho menatap tajam pada Taemin.

"A...arraseo Yang Mulia." Jawab taemin sopan.

"Segera bersihkan make up mu dan temui aku di pinggir danau." Minho membalik tubuhnya dan hendak meninggalkan kamar Taemin. "Dan berhenti memanggilku Yang Mulia, itu terdengar kolot." Dan tubuh Minho menghilang dari balik pintu kamar Taemin.

Taeminpun segera membersihkan mukanya, dan mengganti bajunya dengan baju yang cukup santai, tapi tetap rapi. Ia melenggang ke tempat yang Minho bicarakan tadi, mungkin tempat yang sama yang Taemin kunjungi saat menemui sang Ratu.

Di lain tempat Minho tengah duduk santai di pinggir danau kerajaan, menatap lurus lotus-lotus yang masih kuncup. Tak lama setelahnya Taemin menghampirinya.

"Ya, yang mu…"

"Minho! Bisakah kau memanggilku seperti itu?" ujar Minho memotong kata-kata Taemin.

"Ya.. Yang Mulia Miho?" Taemin membenarkan Ucapannya ragu, takut jika salah lagi.

Minho memegang pelipisnya, dan meghela berat nafasnya. Taemin benar-benar seperti batu, susah sekali di beri tahu.

"Hanya Minho! Panggil saja nama ku!" Perintah Minho kemudian.

"Tidak bias Yang Mulia, anda adalah raja, dan saya pengawal, tidak sepantasnya saya memanggil nama anda saja." Jelas Taemin sopan.

"Terserah kau sajalah." Kata Minho kemudian, ia menyerahkan semua pada Taemin, malas juga Minho lama-lama memperdebatkan masalah panggilan itu dengan Taemin.

"Duduklah." Perintah Minho, menunjuk kursi di hadapannya menggunakan dagunya.

"Sa… saya?" Tanya Taemin menunjuk dirinya sendiri.

"Memang siapa lagi?"

"Ta.."

"Jangan membantahku!" gertak Minho, membuat Taemin segera mendudukkan dirinya dihadapan Minho.

Minho menelisik penampilan Taemin. Dari rambutnya yang membentuk seperti jamur, bajunya yang rapi, tingkahnya yang begitu konyul dan kolot. Minho membandingkan lagi dengan Taemin beberapa waktu lalu. Taemin dengan mata berkilat bak pembunuh yang tengah mengasah senjatanya, sifat dingin dan agresifnya berbanding terbalik dengan sifat sehari-harinya. Apakah taemin memang jenis orang dengan kepribadian ganda seperti yang di jelaskan oleh buku yang ia pelajari.

Taemin yang di tatap tajam oleh Minho hanya bisa menunduk, jujur saja Taemin bukan tipe orang yang suka di perhatikan dengan seksama seperti ini.

" Kau…" Ucap Minho tiba-tiba membuat taemin mendongakkan kepalanya. "Apa kau memiliki kepribadian ganda?" Tanya Minho.

Taemin mengerutkan keningnya. "Ma.. maksud anda tuan muda?"

"Kejadian kemarin malam, saat kau menyayat tangan mu dengan pedang itu, sifat yang sangat berbeda dengan sifatmu biasanya." Jelas Minho.

Taemin mengeratkan genggamannya pada tangan kirinya yang terbalut perban.. Pendar Taemin bergerak gelisah, mencoba memberikan alas an yang tepat pada Minho.

"I… Itu…" Gugup Taemin yang tertangkap jelas oleh Minho. Taemin tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Minho. Tak ada yang boleh tau tentang Taemin.

"Ma.. Maaf Yang Mulia, bisakah saya melaksanakan tugas tanpa anda mempertanyakan hal lain mengenai diri saya?" kata Taemin.

"Kau pengawal ku, kemana pun aku pergi kau harus tetap di sampingku, jadi akan lebih mudah jika aku mengenali pengawalku bukan?" Jelas Minho. Taemin menggigit bibirnya.

"Ma...maaf Yang Mulia, saya tidak bisa menjelaskannya, anda akan tahu sendiri seiring berjalannya waktu." Taemin berjalan meninggalkan tempat itu dengan menunduk hormat pada Minho.

Brakkk...

Minho menggebrak meja di hadapannya, nafasnya tak beraturan, bisa-bisanya pengawal barunya berkata seperti itu pada Minho. Bagaimana pun caranya Minho harus tau mengenai Taemin. Minho menghela nafas dalam, mencoba menetralkan kembali emosinya.

Minho berjalan pergi meninggalkan danau kecil itu. Mungkin istirahat sebentar bisa membuatnya terlepas dari pikiran mengenai Taemin. Minho berjalan melewati lorong-lorong kerajaan, terkadang ia melihat beberapa murid lain yang tengah mengamati benda-benda bersejarah di kerajaan ini, Minho baru ingat masih 5 hari lagi tour mereka di kerajaan ini. Saat akan sampai di lorong menuju kamarnya ia melihat Taemin yang lagi-lagi tengah memandangi pedang peninggalan pengawal pangeran Jung itu. Hey bukankah ruangan itu tak boleh di masuki secara sembarangan. Minho menghampiri Taemin yang sekarang sudah memegang pedang dengan tali merah itu.

"Taemin apa yang kau lakukan dengan pedang itu?"

Taemin melirik Minho yang berjalan menghampirinya, Taemin segera berbalik dan menarik Minho kebelakang tubuhnya.

Prang..

Prang..

Prang..

Minho di kejutkan oleh beberapa belati yang ditangkis dengan pedang yang di pegang oleh Taemin. Belati itu bisa saja mengenai kepalanya jika saja Taemin tidak menariknya. Taemin berjalan ke sudut ruangan, menelisik sudut ruangan itu, memegang sesuatu yang minho tak bisa melihatnya.

"Apa yang mulia tidak melihat tali ini tadi?" Taemin mengarahkan tangannya ke tempat yang tersinari cahaya, dan terlihatlah tali transparan yang mengkilat terkena cahaya.

"I... Itu, aku tidak melihatnya tadi." Gugup Minho, nyawanya hampir saja melayang beberapa detik yang lalu.

Taemin menelusur tali transparan itu. Taemin segera membuka pintu bilik itu, membuat Minho menatap aneh dirinya.

"Apa yang kau lakukan Taemin?" Tanya Minho heran.

"Tali ini masih kaku, jika benar, tali ini masih tersambung ke tempat lain, dan itu artinya, masih ada jebakan di lain tempat." Taemin membuka semua gorden ruangan itu.

Dan benar saja dugaan Taemin, tali itu masih tersambung melewati sebuah celah dinding kayu disana. Taemin segera keluar dari ruangan itu. Walaupun tak mengerti, tapi Minho segera mengikuti kemana Taemin pergi. Taemin membuka bilik sebuah kamar setelah ruang penyimpanan pedang tadi. Seperti tadi ia membuka seluruh pintu dan jendela di sana. Benar saja, tali transparan itu terhubung kemari. Taemin menelusuri tali itu, dan tali itu masih terhubung melewati celah kecil di dinding kayu ukiran disana.

"Jika benar tali ini akan melewati ruangaan guci disebelah, setelahnya akan melewati ruang permaisuri, di sebelah ruang permaisuri utama adalah ruangan pribadi raja yang jarang di buka, dan jika benar tali ini berakhir dikamar anda, Yang Mulia." Jelas Taemin sambil menatap Minho.

Minho memperhatikan Tali yang ada di hadapan Taemin. "Kenapa tidak kau potong saja kalau begitu?" tanya Minho.

"Saya harus memastikan bahwa di ujung tali ini tidak ada senjata, dan di kamar anda tidak ada orang, jika ada jebakan dan di kamar anda ada orang, dia akan terluka." Jawab Taemin.

Taemin kembali memperhatikan tali itu. Tapi ia tak mendapati tali transparan itu dihadapannya, ia melihat tali itu telah kendor. Taemin langsung menatap Minho, begitu pula dengan Minho yang balik menatap taemin.

"Talinya terputus." Kata mereka bersama. Minho dan Taemin segera berlari keluar dari ruangan itu dan menuju kamar Minho.

"KAI!" triak Minho ketika mendapati Kai yang bersimbah darah, pinggangnya terluka. Minho menegang, Dia memilih sedikit menjauh. Minho menutup mulutnya dengan lengannya, bau darah itu sangat kuat. Minho bingung harus bagaimana, ia hanya bisa bertriak dari luar, memanggil seseorang yang bisa membantu mereka.

"AKKKHHHH..." Triak Kai ketika Taemin mengikat pinggang atas Kai dengan Kain.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Minho melihat Taemin yang sedang sibuk mengikat pinggang Kai.

"Menghentikan pendarahannya." Taemin menegakkan tubuh Kai dengan meletakkan bantal di belakang tubuh Kai.

"Tuan Kim!" Seru Yunsik yang kemudian segera masuk dengan beberapa orang dibelakangnya. "Tolong angkat dan bawa Tuan Kim ke rumahsakit segera!" Perintah Yunsik dan segera menghampiri Minho untuk membawanya pergi dari sana. "Tuan Lee, Sebaiknya basuh tangan anda dan ganti pakaian anda terlebih dahulu!" Kata Yunsik pada Taemin sebelum ia pergi bersama Minho.

Taemin menatap Kai yang tengah di angkat oleh beberapa orang. Ia juga melihat Kyuhyun dan Jonghyun yang terlihat cemas dengan Kai. Taemin Melihat sebuah pisau yang tertancap pada pintu kayu kamar Minho. Ia mencabut pisau itu membungkusnya dengan kain dan menghampiri Kyuhyun.

"Tenang saja, Kai tidak mengalami pendarahan arteri, dia akan baik-baik saja." Kata Taemin pada Kyuhyun dan Jonghyun.

"Bagaimana ini bisa terjadi Taemin?" Tanya Jonghyun

"Ada seseorang yang ingin mencelakai Yang Mulia Minho." Ucap Taemin memandang lurus pada lorong istana itu.

"Apa? Gila, selama ini belum pernah ada kejadian sampai separah ini."

"Sudah, saat Minho masih kecil, ada yang mencoba membunuhnya." Sergah Ratu, yang tak lain adalah Eomma Minho.

"Yang Mulia." Kata Taemin menunduk Hormat, begitu juga dengan Kyuhyun dan Jonghyun.

"Aku ingin berbicara dengan mu tuan Lee." Ucap Eomma Minho menatap Taemin.

"Ne Yang Mulia. Sebelumnya." Taemin menyerahkan Pisau itu pada Eomma Minho. "Ini Pisau buatan Jerman."

Eomma Minho melirik pisau yang di balut kain itu, kemudian mengambilnya. "Trimakasih tuan Lee." Eomma Minho lalu berjalan pergi, diikuti oleh Taemin.

Eomma Minho dan Taemin berada di aula pertemuan kerajaan, Eomma Minho berdiri membelakangi Taemin.

"Dia sudah memulainya, Taemin." Ucap Eomma Minho. "Aku ingin kau menjaga putra ku lebih dari ini, kemanapun dia pergi kau harus ada bersamanya!" Ucap Eomma Minho yang menjadi perintah telak kepada Taemin.

"Jika perlu, saat Minho Tidur kau juga harus ada!" Timpal suara berat yang tengah berdiri gagah di pintu Aula. Appa Minho atau Raja Choi tengah berjalan menghampiri sang istri dan Taemin. Taemin menunduk hormat pada Appa Minho.

"Malam ini, kau harus berjaga semalaman bersama Yunsik, kau akan menjaga Minho tidur, dan Yunsik akan mengawasi dari luar!" tegas Appa Minho, yang dijawab dengan anggukan hormat oleh Taemin. "Kembalilah ke kamar mu, sebentar lagi petang, kau harus bersiap dikamar Minho!" Perintah Appa Minho menatap Taemin.

"Ne, Yang Mulia." Taemin beranjak dari ruangan itu, meninggalkan Raja & Ratu Korea itu.

"Kau yakin dia bisa melindungi putra kita?"

"Memamng kapan pilihanku membuat Minho terluka? Aku tidak seperti mu Yang Mulia Choi."

"Mulutmu selalu tajam Ratu ku."

.

.

.

.

.

Minho memasuki ruangan dimana anak-anak berkumpul, disana ada beberapa guru yang mengumumkan mengenai kepulangan mereka besok. Karna kejadian Kai beberapa waktu yang lalu, Tour sekolah yang seharusnya masih 4 hari lagi di hentikan, dan besok semua sudah harus berkemas dan pulang.

"Sekian pengumumannya, kalian boleh beristirahat dan bersiap untuk besok." Jelas seorang guru, dan semua murid berhambur krluar. Minho, Taemin, dan Kyuhyun juga meninggalkan tempat itu.

"Bagaimana keadaan Kai kata Jonghyun?" Tanya Minho pada Kyuhyun yang berjalan di sampingnya.

"Tak apa-apa, pendarahannya tidak sampai arteri karna tali yang diikatkan di pinggang atasnya. Jonghyun bilang itu membantu menghentikan pendarahan Kai."

Minho melirik Taemin yang berjalan di belakangnya. "Lalu kapan dia akan pulang?"

"Molla, selama 2 minggu ini dia harus istirahat total di rumahnya."

"Dia akan mati bosan disana."

"Minho!" Kyuhyun menghentikan langkahnya. "Kau harus berhati-hati, jika kejadian yang Kai alami ini menimpamu, Paman mu akan mengambil alih semuanya." Ujar Kyuhyun pada Minho.

"Jadi menurutmu ini ada hubungannya dengan Appa Siwon Hyung?" tanya Minho pada Kyuhyun

"Kau fikir siapa lagi yang menginginkan nyawa mu selain mereka?"

"Entahlah, aku tidak yakin tentang itu."

"Tak ada salahnya kau berhati-hati!"

"Baiklah, Gomawo!" Ucap Minho menepuk pundak Kyuhyun sebelum Kyuhyun berbelok dan masuk ke kamarnya. Karna kamar Minho sudah di pindah, jadi Kamar Kyuhyun dan Minho berbeda arah sekarang.

Minho berjalan ke kamarnya. Terkadang ia melirik pengawalnya yang sedari tadi diam di belakangnya.

"Kau sedang memikirkan apa Taemin?" tanya Minho membuat Taemin menatap kaget Minho.

"Tidak ada Yang Mulia."

"Bukankah hari ini kau akan tidur dengan ku?"

"Bu.. Bukan tidur dengan anda Yang Mulia, tapi hanya menjaga anda."

"Apa bedanya? Kau juga akan tidur di kamarku bukan?"

"Sa...saya tidak akan tidur yang mulia."

"Kalau aku memaksa mu untuk tidur kau juga tidak akan tidur?" Minho menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Taemin menabrak pelan punggungnya.

"Saya hanya menerima perintah dari Ratu yang mulia, dan beliau menyuruh saya untuk menjaga anda semalaman yang mulia."

Braakkkk

Minho menggebrak tembok disebelahnya, ia berbalik, menatap tajam Taemin, tangan kirinya mendorong sedikit tubuh Taemin, tangannya mengurung Taemin dengan menumpukan ke dua tangannya pada Taemin.

"Kau pengawalku, kenapa harus ibu ku yang kau turuti?" Tanya Minho tajam, pada taemin

Mata Taemin memandang lurus ke pupil Minho, ia seperti tidak takut padanya. "Maaf Yang Mulia, yang mempekerjakan saya adalah Ratu, jadi saya hanya menerima perintah Ratu." Tegas Taemin sekali lagi.

"Ehhmmm..."

Minho dan Taemin menengok bersamaan ketika mendengar suara deheman tak jauh dari mereka. Yunsik yang tengah berdiri di ambang pintu itu mengintrupsi Minho untuk menegakkan dirinya dan melepaskan Taemin dari kungkungannya.

"Tuan Muda, kamar anda sudah siap, Jika anda ingin beristirahat." Ucap Yunsik sopan.

"Baiklah, terimakasih Yunsik." Minho berjalan meninggalkan Taemin dan memasuki kamarnya untuk segera beristirahat.

"Tuan Lee, saya menitipkan Tuan Minho pada anda Malam ini." Ucap Yunsik yang di jawab anggukan sopan dari Taemin.

Taemin memasuki kamar Minho, ia melepas sepatunya dan membuka bilik pintu kamar Minho. Taemin membulatkan matanya ketika mendapati Minho melepas bajunya dan menampakkan punggung besar dan berototnya. Taemin langsung berbalik dan menutup lagi bilik kamar Minho.

"Taemin? Apa itu kau?" tanya Minho dari balik pintu kamarnya.

"N.. Ne yang Mulia." Taemin menggigit bibirnya, pipinya sedikit merona, kenapa dengannya, padahalkan Minho juga namja, apa bedanya dengannya?

"Kenapa kau keluar?"

"Ka... karna Yang Mulia sedang berganti pakaian."

"Memang kenapa jika aku berganti pakaian? Kau malu melihat ku telanjang?"

Blusshh

Wajah Taemin benar-benar merah matang sekarang, Minho mengetahuinya. Taemin menepuk keningnya sendiri. Bagaimana dia harus menjawabnya.

"Kau seperti seorang gadis saja"

Sraakkkkkk

Minho membuka pintu kamarnya dan menarik Taemin kedalam kamarnya. Ia melihat Taemin yang memejamkan mata sangat erat.

"Buka saja matamu, aku tidak telanjang." Ucap Minho yang membuat Taemin sedikit demi sedikit membuka matanya.

Taemin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "M...Mianhamnida Yang Mulia." Kata Taemin sambil membungkuk hormat.

"Sudahlah, aku ingin istirahat." Minho berjalan ke kasur yang telah disiapkan dan membungkus tubuhnya dengan selimut. "Kau tidak mengganti pakaian mu?" Tanya Minho dengan matanya yang tertutup.

"N..ne yang mulia, nanti saja." Jawab Taemin yang kumudian duduk di depan meja kecil yang tak jauh dari tempat Minho tidur.

Tik

Tok

Tik

Tok

Jam menunjukan pukul 11.30 p.m, Taemin melihat Minho yang telah terlelap. Ia berdiri dan membuka lemari pakaiannya, mengambil celana panjang dan sweaternya. Taemin kembali melihat Minho, ia taku jika Minho terbangun, dan melihatnya sedang berganti pakaian. Ia mulai melepas kancing kemejanya dan melepasnya.

Minho membuka matanya pelan, hanya sekedar melihat apa yang Taemin lakukan, apa ia benar-benar tidak Tidur selama menjaga Minho. Minho sedikit terkejut ketika melihat Taemin yang tengah membuka pakaiannya, bukan karna Taemin yang telanjang, tapi karna bekas luka sayatan yang menghiasi punggung Taemin. Mino kembali memejamkan matanya ketika melihat Taemin mulai memungut pakaiannya dan membalik tubuhnya.

Taemin menatap Minho lagi, memastikan bahwa ia tidak terbangun. Setelah Taemin meletakkan pakaiannya di tempatnya, ia kembali duduk dan memperhatikan sekitar. Sesekali ia menghembuskan nafas. Ini bukan pertama kali untuk dirinya menjaga seorang pangeran sampai harus tidak tidur, 4 tahun yang lalu ia juga menjaga seorang pageran di jepang yang tengah di incar oleh beberapa yakuza, di sanalah Taemin mendapatkan tanda di punggunggnya. Taemin memegang pundaknya ketika mengingat bagaimana sakitnya sayatan katana legendaris jepang itu. Pendar Taemin tak sengaja menangkap wajah tenang Minho yang tengah tertidur. Taemin sedikit mendekatkan dirinya pada Minho. Mengamati tiap inchi wajah tegas itu. Lekuk mata yang memiliki alis tegas, setegas sifat pemiliknya, lekuk mulut manis yang menggambarkan kata-kata bijak yang selalu keluar dari mulutnya. Taemin menelusuri lekuk hidung Minho.

Grepp

Brukk

Minho tiba-tiba memegang tangan Taemin dan menarik tubuhnya, membuat tubuh Taemin terjatuh di atas tubuh Minho.

"Y...Yang Mulia."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

tbc