Disclaimer : I DO NOT OWN NARUTO.. Kishimoto owns Naruto..(T_T)

Don't like don't read!

Warning: Perhatian cerita ini mengandung unsur seksualitas, umpatan, dan kekerasan. Untuk pembaca usia 18+.

.

.

SPECIAL THANKS TO:

Mizzy - Tempat Author mengadu dan memohon. Ide dan Saranmu Berarti Banget. Semoga tidak capek dengan gangguan Author.. Hehehe

Uciharuno Kagome, Iya risaskey, Pink Uchiha, halspen1-24, garoo, Uchiha Sakuya-Chii, quu-kun, Hanya readers abal, Lady lollipop, Aiko JoonBe Hachibi-chan, Sasusaku, memey, gum, wilnayna, kabuki huyga, narunata, ritaro, jaehe, uharu, twotwo, kyu, Sky pea-chan, Arzhetty, Y0uNii D3ViLL, Bella UchiHaruno, Vany Rama-kun, Ruki Matsumoto, Sagaarayuki, Arale Takanori Vortex, noonaSyea, Ayano Hatake, Dark Angel, Zoroutecchi, reinnne, clary008, valentina14, eet gitu, Mona Rukisa-chan, Mochi-boo, Tabita Pinkybunny, Yue Heartphilia, Kirei kazuhito, Just putri, Yuki Aiko, Valkyria Sapphire, 4ntk4-ch4n, chie hatake, mayu akira, vvvv, sora akira, Riku Aida, hitsuga, chia, aino, laluna, kyubi, usagi, yuza, len t, mikan, Rizuka Hanayuuki, yoyoi, ss holic, Cutie white, Kenshin, Himeka Kenta, sasukehot uchiha, Hime Youichi Uchiha, kana seiran:

Ini update chapter terbarunya. Mudah-mudahan menjawab beberapa pertanyaan dari sebagian readers. Oh ya. Ada sebagian permintaan readers yang belum ada di chapter ini. Author mengusahakannya di chapter2 selanjutnya. Silahkan dibaca! (^-^)

...

Slave of Your Love

AU, OOC, Miss Typo, Gaje

Rate : M

Genre : Angst/Hurt/Comfort/Romance

...

Summary:

Aku tidak pernah bermimpi untuk menjalani hidup seperti ini. Menjadi jaminan atas hutang ayahku dan hidup layaknya seperti seorang wanita penghibur. Bahkan hidup seorang wanita penghibur lebih baik dari apa yang kurasakan. Aku hanyalah seorang budak dan aku tidak bisa lari dari nasib hina yang mengikat hidupku ini. Bisakah aku keluar dari kehinaan ini? Ataukah takdirku yang sudah harus begini?

Recap:

Sakura tidak ingin tubuhnya mengikuti kehendak Sasuke. Sakura terus meronta, berusaha menjauhkan tubuhnya dari Sasuke, menghindari ciuman yang bertubi-tubi Sasuke berikan di sekujur tubuhnya, walaupun ia tahu usahanya itu sia-sia.

Sasuke tidak mampu menahan gejolak nafsunya yang dibangkitkan wanita itu, ia mengangkat tubuhnya sedikit, memberi ruang baginya untuk menyingkirkan seluruh pakaian Sakura.

"JANGAN! KUMOHON. HENTIKAN!" teriak Sakura sekencang mungkin saat Sasuke mulai melepaskan dengan paksa yukata yang melekat di tubuhnya. Sakura berharap ada yang mendengarnya dan datang menolongnya.

"Lepaskan dia, Sasuke!" suara bariton terdengar dari belakang punggung Sasuke.

.

.

Chapter 7. Anger, Regret, and Denial.

.

.

NORMAL POV

Tangan Sasuke berhenti menarik yukata Sakura yang hampir lepas dari tubuhnya, namun Sasuke tidak beranjak dari tempatnya.

"Kenapa, Gaara? Kau mau juga?" tanya Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Sakura.

Gaara diam tidak membalasnya. Suasana hening menyelemuti ruangan itu. Hanya suara desah nafas Sasuke dan isakan kecil Sakura yang terdengar. Ketiga penghuni perpustakaan itu tidak bergerak dari posisi masing-masing. Selang beberapa menit kemudian, Sasuke beranjak dari sofa dan membalikkan tubuhnya menghadap Gaara. Sasuke melemparkan tatapan menantang dan tersenyum sinis pada Gaara.

Sakura secepat kilat merapikan kembali yukatanya, bangkit dari sofa, dan lari keluar dari perpustakaan, meninggalkan Gaara dan Sasuke. Gaara tidak sedikit pun menggubris Sasuke yang berdiri di depannya. Ia memilih lari mengejar Sakura yang telah menghilang di balik pintu perpustakaan.

=/=

Gaara perlahan-lahan masuk ke kamar Sakura yang terbuka. Ia menjumpai Sakura duduk di lantai sambil bersandar di kaki ranjangnya. Kedua tangannya menutup wajahnya. Isakan-isakan kecil masih terdengar dari balik tangannya. Sakura terus menangis tersedu-sedu tanpa menyadari ada penghuni lain yang sedang menghampirinya.

Gaara berjalan mendekati Sakura dan berjongkok di depannya. Gaara mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh pelan bahu kanan Sakura. "Sakura, kau baik-baik saja?" tanya Gaara pelan.

Sakura tidak menjawab. Ia, sedikit demi sedikit, menghentikan tangisannya tanpa menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. Ia malu mengetahui Gaara ada di hadapannya. Sakura malu dengan keadaannya. Apalagi, setelah Gaara melihat peristiwa di perpustakaan tadi. Sakura masih tidak sanggup melihat wajah Gaara yang ada di hadapannya sekarang.

"Jangan menyembunyikan wajahmu, Sakura. Bicaralah padaku," suara Gaara terdengar khawatir. Gaara menyentuh tangan Sakura yang menutupi seluruh wajah Sakura dan menurunkannya perlahan-lahan. Gaara lalu menyentuh dagu Sakura dan mengangkatnya, membuat pandangan mereka berdua bertemu.

"Kau tidak apa-apa kan, Sakura?" tanya Gaara sekali lagi dengan lembut.

Sakura mengganguk sembari menahan airmatanya agar tidak menetes kembali di pipinya. Namun, Airmata terus menggenang di pelupuk matanya. Perasaan sakit dan malu masih memenuhi hatinya. Kesedihan masih terpancar di matanya.

Gaara menangkap ekspresi kesedihan yang terpancar di mata Sakura. Perasaan ingin melindungi wanita yang ada di hadapannya ini muncul. Ia tidak ingin Sakura menangis. Ia tidak suka melihat Sakura terluka. "Jangan menangis lagi. Semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak akan terluka lagi. Aku janji," Gaara meyakinkan Sakura. Gaara telah berjanji pada dirinya. Ia tidak akan membiarkan Sasuke terus melukai wanita yang sangat istimewa di hatinya.

=/=

Gaara menghampiri Sasuke yang duduk diam di perpustakaan. Melihat Gaara menghampirinya, Sasuke bangkit berdiri, mengirimkan tatapan kesal ke arah Gaara, yang hanya dibalas dengan tatapan dingin dari mata jade Gaara. Keduanya saling menatap dengan diam.

"Kenapa kau menggangguku tadi, Gaara? Bukannya kau seharusnya sudah kembali ke Suna?" tanya Sasuke dingin memecahkan kesunyian yang sedari tadi meliputi ruangan itu.

"Aku berniat menemui Sakura sebelum aku pergi," jawab Gaara dingin.

"Oh. Jadi, kau ingin bercumbu dengannya di rumahku sebelum kau pergi!" tuduh Sasuke marah.

"Kau terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, Sasuke. Lagipula, apa yang kulakukan dengan Sakura, itu bukan urusanmu," ujar Gaara datar.

Sasuke segera mendekati Gaara, menarik kerah kemeja Gaara kasar, membuat jarak wajah mereka semakin dekat. "Tentu saja itu urusanku. Aku tidak suka kau dekat dengan Sakura. Kau bahkan menidurinya, bukan?" ucap Sasuke tajam.

"Apa pun yang kau tuduhkan itu sama sekali tidak benar. Kau pikir aku sama sepertimu yang hanya menggunakan tubuh Sakura untuk kepuasanku?"

"Jangan membohongiku Gaara. Untuk apa kalian sering bertemu di sini. Aku melihat kalian berdua berciuman kemarin," Sasuke mempererat cengkraman jarinya di kerah Gaara.

"Kalau kau mau tahu, kami hanya membaca buku di sini. Tidak lebih," jawab Gaara datar. "Kau cemburu ya sampai memata-matai kami, Sasuke?" Gaara mengejek. Gaara tetap tenang, tidak terpancing dengan cengkraman Sasuke yang semakin erat di kerahnya.

"Tch, jangan bercanda," Sasuke tertawa menghina.

"Oh ya. Kau tidak sadar kalau kau sekarang seperti seorang suami yang cemburu pada selingkuhan istrinya," jawab Gaara dengan senyum sinis di bibirnya.

"Aku tidak mungkin cemburu padamu. Aku hanya tidak suka berbagi barang dengan orang lain."

"Aku tidak terima kau memperlakukan Sakura seperti itu, Sasuke. Kau telah menyakitinya," Gaara mengirimkan tatapan marah pada Sasuke. Gaara memegang erat tangan Sasuke yang ada di kerah bajunya dan melepaskannya dengan kasar.

"Dia milikku. Aku berhak melakukan apa pun yang kuinginkan padanya. Kau tidak tahu ya, Sakura sama sekali tidak keberatan," seringai angkuh terbentuk di wajah Sasuke.

"Jangan bercanda! Kau memaksanya dan membuatnya menangis. Aku melihatnya sendiri, Sasuke!" bentak Gaara tidak senang.

"Kau berarti tidak mengenalnya, Gaara. Sakura hanya berpura-pura menangis di depanmu. Dia memang suka memberontak. Semakin dia berontak, semakin hebat kenikmatan yang dia rasakan. Kasar atau pun lembut, Sakura sangat menyukai sentuhanku," Sasuke menyeringai sombong. "Sakura tidak mungkin menolakku. Tubuhnya tidak bisa lepas dariku. Aku yakin dia tergila-gila padaku."

"Kau yakin sekali Sasuke," Ada nada menghina di balik suaranya. "Buktikan padaku kalau Sakura tergila-gila padamu. Kalau tidak, aku akan membawa Sakura pergi," tantang Gaara. Mata Sasuke melebar kaget mendengarnya. Sasuke sangat terkejut mendengar kata-kata Gaara yang akan mengambil Sakura. Sedetik kemudian, Sasuke memasang ekspresi dinginnya kembali. Ia mencoba tidak terpengaruh dengan kata-kata itu.

"Oke. Tidak masalah. Aku akan tunjukan padamu bahwa Sakura benar-benar menyukaiku," kata Sasuke sombong.

"Tapi ada syaratnya Sasuke. Kau tidak boleh berbuat kasar padanya dan tidak boleh tidur dengannya," Gaara melipat kedua tangannya di dadanya. "Aku akan berhenti membantu kalian dan menolak bekerja sama lagi dengan Shinobi, apabila kau masih memperlakukan Sakura dengan buruk. Kalian bisa mencari orang lain menggantikanku menjadi hacker," Gaara menyeringai puas.

Sasuke menatap Gaara marah, tidak menyetujui syarat yang diajukan Gaara. Kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. Sasuke ingin menghajar pria brengsek di depannya ini untuk menghapus seringai angkuh itu. Pria ini benar-benar licik. Tetapi, Sasuke berusaha menahan diri. Bagaimana pun juga, bantuan Gaara sangat dibutuhkan oleh Shinobi. Sasuke akui, tidak ada hacker lain yang kemampuannya lebih hebat daripada Gaara. Demi kerjasama Shinobi dengan Suna, Sasuke menahan emosinya agar tidak meledak.

"Bagaimana Sasuke? Kau takut?" Gaara sengaja menyindir Sasuke untuk memancing Sasuke. Gaara yakin, Sasuke tidak akan menolaknya karena ego yang dimiliki Sasuke Uchiha, lebih tinggi dari Mount Everest.

"Tidak akan, Gaara," Sasuke membantah. "Baiklah. Aku tidak keberatan dengan syaratmu."

"Jangan pikir aku tidak mengawasimu selama aku tidak ada. Kau tahu aku kan, Sasuke," ujar Gaara dingin yang membuat Sasuke tersentak sejenak. Seringai Gaara belum menghilang dari bibirnya. Sasuke berpikir dalam hatinya, apa yang sedang direncanakan Gaara. "Dalam waktu sebulan, jika kau tidak berhasil menunjukkan padaku kalau Sakura tergila-gila padamu, dia akan jadi milikku."

"Hn. Lihat saja. Dalam waktu sebulan, Sakura telah jatuh cinta padaku," jawab Sasuke penuh percaya diri.

'Lihat saja nanti, Sasuke. Siapa yang bakal jatuh,' Gaara balas melemparkan seringai pada Sasuke yang membuat Sasuke merinding.

=/=

Sakura berdiri sendirian di teras belakang rumah, menatap ke arah danau yang sekarang ini telah membeku akibat suhu rendah yang sangat dingin. Perasaan Sakura sudah cukup membaik setelah Gaara tadi menenangkannya. Sekarang, Sakura merasa kesepian. Gaara telah meninggalkannya untuk kembali ke Suna. Tidak ada lagi orang yang akan menemaninya. Tidak ada lagi orang yang akan membuatnya tersenyum senang. Kehadiran Gaara di hidupnya, Sakura sadari telah memberikan warna yang berarti dalam kehidupannya. Ada perasaan rindu yang kini muncul di hatinya. Padahal, belum sehari lamanya Gaara meninggalkannya.

Matahari mulai tenggelam. Hari akan berganti menjadi malam. Sakura memandang pemandangan putih yang terbentang di hadapannya terakhir kali, kemudian berbalik untuk kembali menuju ke kamarnya. Pada saat Sakura membalikkan badannya, ia mendapati Sasuke sedang berdiri dengan jarak yang tidak jauh darinya. Sasuke memandang Sakura dengan pandangan yang tidak bisa Sakura artikan. Mata onyx -nya memandang lurus ke wajahnya. Raut wajahnya tanpa ekspresi. Mereka berdua berdiri saling menatap, tanpa ada suara yang keluar dari mulut masing-masing.

Sakura memandang Sasuke dengan tatapan marah. Kebisuan Sasuke semakin membuat Sakura kesal. Sakura tidak bisa lagi memendam perasaan sakit dan bencinya kepada pria di hadapannya itu. "Anda puas dengan membuatku sengsara, Sasuke-sama?" tanya Sakura dengan nada suara yang meninggi.

Sasuke diam tidak menjawab pertanyaan Sakura.

"Selamat! Tujuan Anda menghancurkan hidup Saya benar-benar berhasil," ujar Sakura dengan nada sinis. Sakura tidak peduli lagi dengan status mereka berdua. Melihat wajah Sasuke di hadapannya sekarang ini, membuat Sakura ingin meneriakkan seluruh kepedihan yang selama ini ia pendam.

"KAU BENAR-BENAR PRIA TIDAK BERPERASAAN, KEJAM, PEMBUNUH, PENYIKSA, PEMERKOSA, PENJAHAT, HANYA BERANI PADA WANITA! KAU BUKANLAH LELAKI SEJATI!" Sakura meneriakkan hinaan dan umpatan pada Sasuke. "AKU YAKIN TIDAK AKAN ADA SATU PUN WANITA DI DUNIA INI YANG AKAN MENCINTAI PRIA BRENGSEK SEPERTI KAU!"

Sasuke diam seribu bahasa. Kata-kata Sakura yang terus mengalir dari bibirnya entah mengapa seperti belati yang tertancap dan terus ditusuk-tusukkan ke dalam hatinya tanpa henti.

"AKU MUAK DENGANMU! AKU TIDAK LEBIH DARI SAMPAH UNTUKMU! AKU TIDAK TAHU APA SALAHKU SEHINGGA KAU MEMBUAT HIDUPKU SEPERTI INI!" teriak Sakura marah. Airmata kemarahan mengalir di pipinya.

Sasuke tidak membalas. Ia tetap diam dengan wajah tanpa ekspresinya. Ekspresi Sasuke itu malah semakin membuat Sakura kesal.

"TIDAK HANYA ITU. KAU JUGA SUDAH MEMPERMALUKANKU DI DEPAN GAARA-SAMA!" Sakura semakin meracau marah.

"Jika kau tidak tidur dengannya. Aku tidak akan menyakitimu," balas Sasuke tiba-tiba kesal mendengar Sakura mengungkit tentang Gaara.

Sakura tidak menerima tuduhan Sasuke yang tidak benar. Sakura melangkah mendekati Sasuke kemudian menampar wajah Sasuke keras. 'PLAK!'

"AKU MEMBENCIMU!" teriak Sakura sekali lagi kemudian lari meninggalkan Sasuke sendirian.

Sasuke tidak bergerak walaupun Sakura telah pergi. Ia tetap diam di tempat. Sasuke tidak mampu mengungkapkan alasan dia mendatangi Sakura. Kata 'Maaf' terasa sangat berat diucapkan. Ia hanya mampu diam mendengarkan luapan emosi wanita tadi. Ia seperti seorang pengecut yang hanya mampu mendengar tanpa bertindak apa-apa. Rasa sakit akibat tamparan Sakura tadi mulai menusuk di pipinya. Belum pernah sekali pun dalam hidupnya, ada seorang wanita berani menamparnya. Namun, ada perasaan lain yang muncul di hatinya sekarang ini. Perasaan aneh yang sangat menyiksa hatinya.

Sasuke memegang kencang dadanya yang terasa menusuk. Rasa sakit itu terus membesar dan sangat menusuk, lebih menusuk dari nyeri di pipinya— yang sekarang ini telah memerah. Rasa sakit yang muncul setelah melihat kesedihan dan luka yang terpancar dari mata Sakura. Rasa sakit itu semakin menusuk ketika mendengar kata-kata Sakura, 'AKU MEMBENCIMU'. Kata-kata itu mengiris dan menghancurkan hatinya. Dan sekarang, seorang Sasuke Uchiha baru sadar bahwa ia terluka.


Keesokan harinya, waktu seolah berjalan sangat lambat. Tidak ada lagi semangat dalam diri Sasuke. Kata-kata yang dilontarkan Sakura kemarin, terus terngiang-ngiang di pikirannya. Perasaan bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri menghantui benaknya. Perasaan itu membuatnya tidak bisa tidur tadi malam. Perasaan itu membuat Sasuke tidak bisa konsentrasi pada pekerjaan yang ada di hadapannya saat ini. Ia menjadi tidak berminat untuk melakukan pekerjaannya. Sasuke bahkan meminta Tenten untuk menunda seluruh rapat yang terjadwal hari ini.

Sasuke menggerak-gerakkan screen ipad apple-nya tanpa sebab. Matanya tertuju pada layar ipad-nya, tapi pikirannya melayang jauh entah kemana. Sasuke tidak seperti biasanya. Wajahnya kusut dan lelah. Penampilannya sangat berantakan. Dasinya terpasang longgar di kerah kemeja dan dua kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka. Sebagian lengan kemejanya, dilipat tidak beraturan hingga ke sikunya. Sasuke yang biasanya selalu menomor satukan penampilannya, sekarang bahkan tidak peduli dengan keadaannya. Ia seperti berubah menjadi orang lain.

Sasuke tidak mengerti apa yang sudah dilakukan wanita itu padanya. Sasuke tidak pernah merasakan perasaan sangat bersalah pada orang lain. Sasuke biasanya tidak akan mempedulikan perasaan orang lain yang disakitinya. Tapi, hal itu ternyata tidak berlaku untuk Sakura. Hanya melihat wajah Sakura yang menangis dan terluka, membuat Sasuke ingin menghukum dirinya sendiri. Kejadian kemarin terus berputar-putar di otaknya.

'Sial. Kenapa dia tidak bisa hilang dari kepalaku? Pergi! pergi dari pikiranku! Lupakan dia! Lupakan dia!' umpatnya kesal. Sasuke mencengkram mejanya erat-erat dan membenturkan kepalanya berkali-kali di mejanya seraya memerintahkan kata-kata 'LUPAKAN DIA' ke otaknya tanpa henti.

=/=

Malam semakin larut. Suasana rumah kediaman Uchiha telah sepi. Jam sudah menunjukkan pukul 23.30. Sebagian besar penghuni telah terlelap di kamar untuk beristirahat, terkecuali sang pemilik rumah yang tidak jelas berjalan mondar-mandir di kamarnya. Pikirannya masih berlabuh pada kejadian yang belum lama terjadi.

Tepat setelah Sasuke selesai menyantap makan malamnya, saat ia kembali ke kamarnya, Sasuke tanpa sengaja bertemu dengan Sakura – sedang menyiapkan air untuk Sasuke mandi. Sakura tidak menatapnya ketika Sasuke masuk. Sakura bahkan seolah menganggapnya tidak ada, kemudian segera keluar dari kamarnya setelah ia menyelesaikan tugasnya. Sakura terlihat jelas tidak tahan berada satu ruangan dengannya.

Sasuke benar-benar kesal. Sebegitu buruknya Sasuke bagi wanita itu, sehingga Sakura tidak tahan bersamanya dalam satu ruangan? Apakah dia tidak lebih dari seorang penjahat di mata wanita itu? Sakura terlihat menganggap dirinya seperti penyakit menular yang harus dihindari.

Sasuke sekuat tenaga mengacuhkan sikap dingin wanita itu kepadanya walaupun ada perasaan risih di hatinya. Sasuke malah harus menahan diri untuk tidak menangkap Sakura, mendongakkan wajah Sakura agar menatap matanya, menggendong tubuhnya ke tempat tidur, dan bercumbu dengannya tanpa batas sampai Sakura tidak bisa bergerak dan tertidur di pelukannya. 'Damn! Wanita itu makin membuatku gila,' umpatnya kesal.

Sasuke dengan cepat, keluar dari kamarnya dan menuju ke arah dapur. Perlahan-lahan ia menyelinap menuju kamar Sakura. Di depan pintu kamar Sakura, Sasuke berdiri diam sejenak. Ia memutar otaknya dengan keras, berpikir alasan apa yang akan ia katakan saat ia membangunkan Sakura. Sasuke mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu. Tangannya terhenti sebelum kepalan tangannya menyentuh pintu itu. Ada yang menahan Sasuke untuk mengetuk pintu.

Sasuke lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, mencari benda-benda aneh semacam kamera yang mungkin terletak di lantai, dinding, atau pun di langit-langit rumahnya. Bisa saja si hacker gila –Gaara– itu memasang kamera di rumahnya untuk mengawasi gerak-geriknya. Tch, Sasuke tidak akan membiarkan hacker berambut merah itu menertawakan kelemahannya. Sasuke akan menunjukkan pada pria itu, siapa yang paling hebat. Padahal, jelas sekali bukan kehebatan yang Sasuke cari sebenarnya. Ego Sasuke terlalu tinggi untuk mengakui bahwa dia sebenarnya tidak ingin kehilangan Sakura di hidupnya.

Akhirnya tanpa berbuat apa-apa, Sasuke berjalan kembali ke kamarnya. Ketika Sasuke meninggalkan dapur, Sasuke bertemu dengan Genma yang sedang memeriksa keadaan rumah.

"Sasuke-sama, Anda belum tidur?" tanya Genma begitu melihat Sasuke keluar dari dapur. Di matanya tersirat pertanyaan, apa yang dilakukan Sasuke malam-malam di dapur. "Hn. Aku mengambil air minum," jawab Sasuke dan langsung berjalan menuju ke kamarnya. Genma hanya bisa melongo dengan sikap Sasuke yang tergolong 'aneh' itu.

'Bukannya air minum selalu tersedia di kamarnya' pikir Genma heran. Tidak mau berpikir panjang, Genma kemudian kembali melakukan aktivitas rutinnya di malam hari.


Malam berikutnya, Sasuke masih terjaga di tempat tidurnya. Sasuke hanya mampu membolak-balikkan tubuhnya yang terbaring di ranjang, ke kiri dan kanan, mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Rasa kantuk belum juga datang. Untuk ketiga kalinya, Sasuke terjaga di malam hari. Hawa panas dari perapian yang mengalir ke seluruh penjuru ruangan, tidak mampu memberikan rasa kantuk pada Sasuke. Pikirannya untuk kesekian kalinya berlabuh pada wanita sial –menurut Sasuke, Sakura. Entah mengapa perasaan sepi terus melandanya. Kamarnya terasa sepi, sunyi, gelap dan mencekam oleh karena didominasi dengan warna-warna gelap, hitam dan biru tua. Sangat menakutkan kelihatannya. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, saat wanita pink itu berbaring di kamarnya.

Dua hari tanpa kontak fisik dengan wanita itu sudah membuat Sasuke frustasi. Sasuke sering marah-marah tidak jelas, mengumpat, bahkan membanting laporan yang diberikan karyawannya –karena tidak sesuai dengan permintaannya. Sasuke, selama satu hari penuh dijuluki 'Black Demon' sehingga tidak ada yang berani mendekati atau berhadapan dengannya. Semakin hari semakin gila Sasuke dibuat Sakura.

Sasuke masih belum mau mendekati Sakura. Perasaan egoisme seorang pria yang membuatnya, menahan diri untuk mendekati wanita itu dan meminta maaf. Ditambah dengan sikap Sakura yang mengacuhkan dan tidak peduli padanya, semakin membuat Sasuke uring-uringan. Sasuke ingin melabrak Sakura tetapi itu akan melanggar perjanjiannya dengan Gaara. Ia tidak akan membiarkan pria brengsek itu membawa Sakura pergi. Tidak akan pernah. Karena bagi Sasuke, Sakura itu miliknya. Hanya miliknya.

Sasuke tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana mungkin ia bisa menunjukkan pada Gaara kalau Sakura itu menyukainya, jika wanita itu membencinya, bahkan tidak sudi berada di dekatnya. Sasuke pun tidak mampu berpikir cara untuk mendekatinya. Ia tidak bisa berpikir jernih dengan kondisinya yang seperti ini. Ia seperti orang bodoh yang hanya mampu menatap wanita itu dari jauh. Pria bodoh yang menginginkan -ehm- perhatian dari wanita itu.

'Alasan apa yang harus aku gunakan untuk mendekatinya?" pikir Sasuke frustasi. Kepalanya pening memikirkan hal itu.

Ia tidak pintar merayu wanita karena wanita datang sendiri padanya. Ia juga bukan orang yang suka banyak bicara. Sasuke bahkan tidak mungkin langsung meminta Sakura tidur dengannya. Cih, Sasuke benar-benar frustasi dan gila.

Sasuke kemudian membalikkan badannya ke samping kanan —ke tempat yang biasanya ditiduri Sakura setelah mereka habis bercumbu. Perasaan rindu tiba-tiba menyerangnya.

Sasuke heran dengan perasaan ini. Dia sudah terbiasa tidur sendirian. Namun, setelah kehadiran Sakura, ranjangnya terasa sangat luas dan sepi. Seperti ada satu kepingan puzzle yang hilang dari bentuk lengkapnya. Akan lebih baik jika wanita itu ada di sini, di sampingnya, dan di pelukannya.

Sasuke bergerak mendekati bagian samping kanan ranjang, membenamkan dalam-dalam wajahnya di bantal –yang sering dipakai Sakura, dan menghirup aroma cherry blossom yang samar-samar tertinggal di bantal itu. Dia rindu menyentuh, memeluk, membelai, dan memanjakan tubuh Sakura.

Sasuke mengangkat tangan kanannya, menyusuri jari telunjuknya di kasur itu, membayangkan tubuh Sakura yang ada di situ. Rasa lapar akan tubuh Sakura tiba-tiba muncul. Gairah memancar dari tubuhnya. Sasuke mengutuk Gaara yang memberikan syarat gila yang tidak bisa dipenuhinya.

"Gaara, brengsek!" umpatnya marah. Tubuhnya terasa panas dan tidak ada Sakura yang akan mendinginkannya.

Dengan berat, Sasuke kembali menjalani malam tanpa tidur untuk kedua kalinya.

"Sakura," gumam Sasuke penuh rindu ketika ia membenamkan kembali wajahnya di bantal itu, berharap aroma wanita itu bisa menenangkan tubuhnya yang semakin menggila.


"Kau baik-baik saja, Sasuke?" tanya Madara saat ia melihat ekspresi Sasuke yang terlihat tidak fokus dalam pembicaraan. Madara dan Kakashi sedang berkunjung ke kantor Sasuke; membahas kelanjutan masalah yang berkaitan dengan Shinobi.

"Tidak apa-apa, Ojiisan. Hanya kelelahan dengan jadwal yang padat," jawab Sasuke datar.

"Aku tahu perusahaan kita terus berkembang pesat, Sasuke. Kau perlu mendelegasikan sebagian tugasmu pada Juugo. Ambillah waktu untuk libur dari kesibukanmu. Kau terlalu memaksakan diri, Sasuke," saran Madara. "Maaf, jika aku tidak bisa membantumu karena kesibukanku di parlemen."

"Tidak apa, Ojiisan. Aku bisa melakukannya sendiri."

"Kata Madara-san ada benarnya. Kau butuh waktu bersenang-senang, Sasuke. Kau bisa mati di usia muda jika terlalu sibuk bekerja," kata Kakashi dengan senyum mengejek.

"Hn," Sasuke menatap Kakashi kesal.

"Baiklah. Aku pergi dulu. Aku ada rapat parlemen sejam kemudian," Madara bangkit berdiri, melirik sekilas ke jam tangannya, dan merapikan pakaiannya. Ia berjalan mendekati Sasuke dan menepuk bahunya pelan. "Jaga dirimu baik-baik. Jika ada apa-apa, kau harus segera menghubungiku, Sasuke."

"Aa," jawab Sasuke.

"Jangan lupa mengirimkan kabar terbaru Shinobi kepadaku, Kakashi." Madara menatap Kakashi sejenak lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

"Ya," jawab Kakashi sembari mengeluarkan buku favoritnya dari tasnya. "Apa yang terjadi padamu, Sasuke? Aku mengenalmu sangat baik. Kau tidak bisa membohongiku," kata Kakashi kemudian, sambil membuka-buka halaman novel favoritnya tanpa memandang sedikit pun ke arah Sasuke.

"Tidak ada," jawab Sasuke dingin.

Sasuke tahu Kakashi —walinya— memiliki insting yang sangat tajam. Kakashi sangat mengenal baik Sasuke karena Kakashi ditunjuk Madara menjadi wali Sasuke setelah kematian kedua orangtuanya. Kakashi juga merupakan pelatih Sasuke dan Naruto saat mereka mengikuti pelatihan militer, yang diwajibkan pemerintah Konoha kepada seluruh pemuda yang berusia 17 tahun; selama 1 tahun.

"Kau tidak bisa membohongiku, Sasuke. Aku yakin ada yang mengganggu pikiranmu," Kakashi menatap selidik pada Sasuke. "Ada hal lain yang mengganggumu, Sasuke. Dan aku yakin, hal itu tidak berkaitan dengan masalah perusahaanmu ataupun Shinobi. Aku baru tahu kalau kau sekarang punya hobi melamun," ada nada mencibir tersirat di suara Kakashi.

"Tch. Aku tidak melamun. Aku memikirkan masalah perusahaanku."

"Aku tidak percaya. Kau selalu bersemangat jika membicarakan masalah Shinobi maupun Orochimaru. Hari ini kau terlihat tidak berminat membicarakannya. Aku tebak yang kau pikirkan seorang wanita, bukan," Kakashi hanya menebak asal. Namun, reaksi Sasuke cukup mengejutkan. Kakashi bisa menangkap ekspresi Sasuke walaupun hanya sedetik saat ia menyebutkan kata 'wanita'.

"Kau mengada-ada, Kakashi," Sasuke mengelak sambil bangkit berdiri kemudian berjalan menghampiri meja kerjanya, sedangkan Kakashi tidak beranjak sedikit pun dari sofa.

"Kudengar dari Naruto, putri Shouji ada di rumahmu. Kalian menjadikannya jaminan Shouji, bukan?" tiba-tiba Kakashi mengangkat topik tentang putri Shouji sembari asyik membuka-buka halaman novelnya, mencari bab yang akan ia baca. "Naruto juga bilang, gadis itu masih muda dan sangat cantik. Aku jadi penasaran ingin melihatnya."

Sasuke diam tidak menjawab. Ia malah sedang memikirkan cara untuk membunuh pria blonde cerewet yang disebut sahabatnya itu, antara menyiksanya perlahan-lahan lalu membunuhnya atau langsung membunuhnya di tempat. Sasuke menyeringai senang membayangkan teriakan-teriakan kesakitan Naruto sewaktu ia menghajarnya. Pria blonde itu memang tidak bisa menjaga mulutnya.

"Sasuke, apa kau mendengarku?" tanya Kakashi kemudian.

"Hn. Dia bekerja padaku."

"Baguslah kalau dia ada padamu. Daripada ia jatuh ke tangan Orochimaru, aku yakin ia malah dijadikan salah satu wanita penghiburnya."

Sasuke terenyak dan terdiam tanpa kata-kata. Kata-kata Kakashi cukup menusuk Sasuke. Sasuke merasa dia tidak ada bedanya dengan Orochimaru. Ia telah menjadikan Sakura tidak lebih dari seorang pemuas kebutuhan pria. Perasaan bersalah kembali datang. Perasaan bersalah yang belum mampu ia lupakan dari pikirannya. Pengaruh wanita itu terlalu kuat padanya.

"Sasuke, kau kenapa? Kau sedang memikirkan gadis itu?" tanya Kakashi langsung pada sasaran seraya menatap tajam Sasuke. Ekspresi wajah Sasuke cukup aneh menurutnya.

"Tidak," elak Sasuke terburu-buru. Sasuke memasang wajah dinginnya, tetapi tangannya mengepal tidak tenang. Keringat dingin mulai bermunculan di kepala dan di tangan Sasuke. Malangnya bagi Sasuke, Kakashi terlalu pintar untuk termakan jawaban Sasuke. Dia mampu membaca raut wajah seseorang yang bahkan lebih dingin dari es.

Kakashi yakin, gadis Haruno itu ada hubungannya dengan perubahan sikap Sasuke. Perubahan yang menurut Kakashi sangat menggelikan untuk seorang Sasuke Uchiha. Senyum geli terbentuk di bibir Kakashi— di balik maskernya, melihat ekspresi Sasuke yang tersembunyi. Sepertinya, Sasuke Uchiha sedang terserang penyakit yang berkaitan dengan namanya 'JATUH CINTA'. Memang belum nampak jelas, tapi ada signal-signal kecil yang muncul dari gerak tubuh Sasuke. Dan, Sasuke terlihat berusaha menutupinya.

Kakashi memang bisa memaklumi gelagat aneh Sasuke karena Sasuke belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Sasuke memang pernah berpacaran, tetapi tidak satu pun wanita yang dikencaninya itu membuat Sasuke seperti ini. Gerak tubuh Sasuke seperti pemuda yang baru menginjak pubernya. Kakashi ingin tertawa tetapi ditahannya. Ia tidak akan mengorbankan wajah tampannya ini untuk dihajar Sasuke.

Kakashi jadi penasaran untuk bertemu dengan gadis itu. Seberapa istimewanya gadis itu sehingga membuat Sasuke Uchiha 'aneh' seperti ini. 'Harus ada penyelidikan lebih lanjut,' gumam Kakashi tertawa dalam hati.

Sasuke, yang melihat Kakashi yang diam dan menatapnya tajam, merasa panik. Sasuke tahu Kakashi sedang membaca pikirannya. Sasuke berusaha menutupinya dengan bersikap setenang mungkin, berharap Kakashi tidak mengetahui keanehan pada dirinya. Sasuke bersikap santai. Ia mengambil gelas air putih dan meneguknya, menyegarkan kerongkongannya yang terasa kering.

"Sasuke, aku rasa kau sepertinya jatuh cinta pada gadis Haruno itu," Kakashi tiba-tiba menyimpulkan setelah dari tadi diam sejenak.

"BRUUKHHHHH! Uhhuuuk… Uhuuk… Uhhuuk," Sasuke menyemburkan air yang sedang dia minum ke lantai dan terbatuk-batuk karena kaget mendengar Kakashi. Kakashi menutup mulutnya, menahan tawanya yang hampir lepas dari mulutnya melihat reaksi Sasuke.

"JANGAN SEMBARANGAN MENYIMPULKAN, KAKASHI!" teriak Sasuke kesal. Wajah Sasuke merah padam, entah karena marah atau malu. "AKU BAHKAN TIDAK MUNGKIN MENYUKAI WANITA SIAL ITU!"

"Ya. Terkadang seorang pria suka mengelak jika sedang menyukai seseorang," goda Kakashi sembari kembali asyik dengan buku bacaannya. "Kau tahu, Sasuke. Orang jenius itu belum tentu pintar dalam hal percintaan."

"Kau menyindirku ya," balas Sasuke tidak terima.

"Hm. Tidak Sasuke. Aku hanya menyampaikan fakta. Dari kalian berempat, hanya Naruto yang baru berhasil mendapatkan cintanya," Kakashi kembali menatap geli Sasuke yang mendengus kesal. "Sasuke, kau mau kuberi tips untuk mendekati wanita?" tawar Kakashi.

Sasuke awalnya ingin menolaknya, tetapi teringat dengan hubungannya dengan Sakura yang semakin merenggang. Ditambah lagi, Sasuke telah menerima tantangan Gaara sebelumnya, membuat dirinya –dengan terpaksa— menganggukkan kepala dan mendengarkan tips dari Kakashi.

"Kau yakin, itu semua akan berhasil?" tanya Sasuke tidak percaya. Tips yang dia terima dari Kakashi terdengar sangat aneh.

"Jangan meragukan kemampuanku, Sasuke. Aku ini hebat dalam menaklukkan hati wanita," Kakashi membanggakan diri.

"Hah! Mana mungkin. Kau sendiri belum punya kekasih sampai sekarang."

"Itu karena aku belum menemukan yang cocok untuk dijadikan kekasih. Aku juga belum mau terikat dengan wanita," kata Kakashi membela diri sembari mengangkat kedua bahunya. Kakashi kemudian bangkit berdiri, merapikan seragam militernya dan bersiap-siap pergi dari ruangan Sasuke.

'Tch. Banyak alasan,' pikir Sasuke

"Aku pergi dulu. Ada penyelidikan yang harus diselesaikan," Kakashi berjalan menuju pintu. Sebelum membuka pintu, Kakashi menatap Sasuke kembali. "Sasuke, semoga kau berhasil mendapatkan hati gadis Haruno itu dan segera menikah. Aku yakin Madara-san ingin menimang Uchiha kecil sebelum dia meninggal," Kakashi tersenyum jahil.

Kakashi segera membuka pintu dan menghilang di balik pintu. Sasuke yang ada di situ hanya mampu menatap marah ke pintu yang baru saja tertutup.

=/=

Sasuke menatap ke bawah dari lantai teratas kantornya. Sasuke memandang mobil-mobil dan orang-orang yang sibuk lalu lalang di jalanan. Benda-benda yang terletak di bawah sana terlihat seperti mainan kecil, dilihat dari ruangannya yang terletak di lantai teratas gedung itu. Ia menatap pemandangan di bawah sana dengan bosan dan lelah.

Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka tapi Sasuke tidak mempedulikannya. Ia sibuk memelototi pemandangan ramai yang ada di bawah sana.

Langkah sepasang kaki mendekati Sasuke. Sepasang tangan kemudian melingkar di pinggangnya dengan erat. Tubuh seseorang melekat di punggungnya.

"Sasuke-kun, kau sedang melihat apa?" bisik seorang wanita manja di telinganya.

Sasuke menghembuskan nafasnya pelan. Ia sadar tamu yang sedang ada di belakangnya adalah kekasihnya yang bahkan sudah ia lupakan.

"Tidak ada," jawab Sasuke datar seraya membalikkan tubuhnya ke wanita yang baru saja datang. Ami segera mendekatkan wajah mereka berdua dan mencium ganas bibir Sasuke. Sasuke membalasnya dengan malas. Tangan Ami tanpa malu mulai menggerayangi tubuh Sasuke. Ia mulai membelai dada Sasuke yang bidang dan bergerak turun ke celana panjang Sasuke.

"Ummm— Ami, aku sedang tidak berminat. Aku lelah," Sasuke melepaskan ciuman dan menahan tangan Ami yang mulai membuka sabuk celananya.

"Tenang saja. Aku akan menghilangkan rasa lelahmu," rayu Ami manja. Ami tidak berhenti. Ia secepat kilat membuka sabuk dan restleting celana Sasuke, menurunkan celana panjang dan celana boxer Sasuke dan berlutut di depan Sasuke. Sasuke yang lelah dan benar-benar membutuhkan pelepasan, membiarkan Ami melanjutkan aktivitasnya.

Ami memajukan kepalanya dan mulai menggunakan mulutnya, memuaskan Sasuke. Lidah dan mulutnya digerakkan sedemikian rupa untuk memberikan rasa nikmat pada kekasihnya. Sasuke memejamkan matanya, merasakan kenikmatan yang mulai datang dari pangkal pahanya. Ami memang ahli menggunakan seluruh tubuhnya untuk memuaskan pria. Hal itu juga yang membuat Sasuke menjadikan wanita itu kekasihnya.

Ami mulai mempercepat temponya. Ia menggerakkan kepalanya ke depan dan ke belakang sembari menggerakkan tangan kanannya untuk ikut bermain dengan mulutnya. Sasuke tidak lama lagi mencapai klimaksnya. Pinggulnya ikut bergerak dan ditekan kuat ke mulut wanita di bawahnya. Sasuke menahan kepala Ami keras ke pangkal kepalanya, sedangkan Ami terus memainkan lidahnya dengan ganas untuk menambah kenikmatan yang dirasakan Sasuke.

Sasuke semakin bernafsu menikmati gerakan mulut Ami. Suara desahannya mulai mengalir dari mulutnya. Sasuke membuka matanya, menatap lembut wajah wanita yang berlutut di hadapannya. Mata hijau emerald-nya yang balik memandang nafsu padanya dan rambut pink-nya yang tergerai di punggungnya. Mulutnya yang ranum bergerak semakin cepat memberikan kenikmatan pada kekasihnya. Bunyi basah gerakan mulutnya menggema di ruangan itu. Tidak tahan lagi, Sasuke menangkup erat kepala wanita itu dan mengeluarkan seluruh nafsunya dalam klimaks yang dirasakannya. Erangan kepuasan mengalir keras dari bibir Sasuke.

"Damn! Sa-Sakura—AAHHH!" erangnya nikmat menyebut nama wanita yang ada di bayangannya.

Ami tersentak kaget mendengar Sasuke menyebut nama orang lain yang keluar dari mulut kekasihnya. Ami bangkit berdiri, mengelap bibirnya dengan tangannya dan memandang Sasuke marah. "Siapa Sakura itu, Sasuke?" tanya Ami menuduh.

"Bukan siapa-siapa," jawab Sasuke datar. Ia memakai kembali celananya dan tidak peduli dengan Ami yang memandang marah ke arahnya. Mata cokelatnya yang penuh api kemarahan memandang ke arah Sasuke. Rambut hitamnya berantakan di pundaknya. Ami saat ini terlihat seperti macan lepas yang siap menerkam mangsanya.

"SIAPA SAKURA YANG BERANI-BERANI MENDEKATIMU, SASUKE?" tanya Ami marah dengan suara yang melengking tinggi.

"Tidak perlu kau pikirkan. Aku hanya salah menyebut nama," jawab Sasuke cuek seraya kembali ke meja kerjanya dan mulai membaca dokumen yang ada di hadapannya tanpa sedikit pun menoleh ke arah Ami. Ia malah menunggu Ami meneriakkan kata 'berpisah' dan meninggalkannya sendiri. Jujur, Sasuke mulai bosan dengan sikap Ami yang ingin memilikinya. Dia bahkan tidak serius menjalin hubungan dengan Ami. Sasuke memang lebih suka, jika kekasihnya yang mengakhiri hubungan mereka. Bukan dirinya. Dengan begitu, wanita itu tidak akan mengejar dirinya lagi.

Ami masih marah. Ia tidak terima jika kekasihnya didekati wanita lain. 'Lihat saja. Jika aku menemukan wanita bernama Sakura itu, aku akan membuat perhitungan dengannya,' geram Ami dalam hatinya. 'Sasuke milikku. Tidak akan kuserahkan pada siapa pun.'

Ami yang melihat Sasuke mengacuhkannya, berusaha menenangkan diri. Ia tidak mau melepaskan Sasuke begitu saja. Ia tahu jika ia terus mendesak Sasuke, Sasuke malah akan meninggalkannya. Sekarang ini, dia akan membiarkan Sasuke. Dia sudah menyusun rencana untuk mencari siapa 'Sakura' dan menghancurkan hidup wanita itu. Tidak ada satu wanita pun yang berani mendekati Sasuke dan lolos dari tangannya.

Ami tidak berkata sepatah kata pun. Ia memilih pergi dan meninggalkan ruangan itu.


Tenten mengeringkan rambut cokelat sepunggungnya, di depan cermin kamar mandi. Tubuhnya yang sebelumnya lelah karena sehabis membersihkan apartemennya dan menyiapkan perlengkapan untuk keberangkatannya ke Amegakura. Tubuhnya menjadi segar kembali setelah ia berendam dalam air panas. Otot-ototnya yang sebelumnya menegang, kini kembali rileks.

Tenten sudah berencana akan segera tidur setelah selesai mandi. Besok, ia harus menjalankan misi bersama timnya. Untungnya, Sasuke— bosnya mengijinkan ia mengambil tambahan cuti sehari sebelum ia akhirnya berangkat ke Amegakure. Ia membutuhkan istirahat yang cukup untuk menjalankan misinya. Ia melirik ke arah jam digital yang ada di kamar mandinya. Jam menunjukkan pukul 19.00. Masih terlalu cepat untuk tidur. Tenten melilitkan handuk ke tubuh yang sudah kering kemudian keluar dari kamar mandi.

Tenten terkejut melihat seorang pria yang sedang berdiri di balkon apartemennya. Di luar udara sangat cerah. Salju telah berhenti berjatuhan. Bulan bersinar dengan terangnya. Sinar bulan menerpa sosok pria tinggi itu. Rambut hitam sebahunya dan jaket abu-abu—yang dikenakannya, berkibar-kibar di terpa angin malam yang bertiup kencang. Pintu kaca yang menghubungkan balkon dengan kamarnya terbuka lebar sehingga mampu menampakkan wajah sang pria yang berdiri di balkon itu. Pria itu terlihat sangat menawan dengan cahaya bulan yang menerpa wajahnya.

"Neji, kenapa kau ada di situ?" tanya Tenten heran dengan kehadiran Neji tiba-tiba ada di balkonnya.

"Aku janji mengunjungimu, bukan?" balas Neji cuek dan melangkah masuk menuju kamar Tenten.

"Kau bisa mengetuk pintu dulu, Neji. Bukan masuk lewat balkon," Tenten terdengar jengkel.

"Hanya ingin mencoba masuk dengan cara lain," jawab Neji datar sambil mendekati Tenten yang masih mengenakan handuk. Matanya menatap lapar ke tubuh Tenten.

Tenten benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan kekasihnya ini. "Kau gila, Neji. Ini lantai 10!"seru Tenten khawatir. Tenten menatap kekasihnya yang kini berdiri di hadapannya.

Neji tidak merespon. Neji terlihat tidak peduli dengan cara kedatangannya yang bisa dikatakan tidak normal itu. Ia malah asyik mengerayangi tubuh kekasihnya dengan matanya. Wajah Tenten memerah malu melihat tatapan dari Neji. Ia ingin berbalik untuk menghalangi tubuhnya dari tatapan Neji. Tetapi Neji menghentikannya sebelum Tenten bisa membelakanginya.

Neji mendekap erat tubuh Tenten. Neji mendekatkan wajahnya ke wajah Tenten dan menempelkan kedua dahi mereka. "Kau terlalu banyak bicara," bisiknya pelan. Tenten yang kesal ingin memarahi Neji. Sebelum suaranya keluar dari mulutnya, bibir Neji telah mengunci bibir Tenten dengan ciuman panasnya.

Bibir mereka saling bertautan dan saling mengecap. Lidah mereka bertemu dan beradu dengan ganas. Desahan nikmat Tenten terdengar dari balik ciuman mereka. Hanya sinar bulan yang memberikan cahaya di kamar yang gelap itu.

Tubuh mereka semakin lama semakin panas dengan rasa lapar. Neji membuka handuk Tenten yang melilit di tubuh Tenten, menampakkan seluruh tubuh polos Tenten. Neji memandang tubuh ramping Tenten yang berkilau indah ditimpa sinar bulan. Rambut coklat panjangnya yang agak basah tergerai indah di punggungnya.

Neji kemudian menggendong Tenten dan meletakkannya perlahan di atas kasur. Tenten berbaring dengan malas sambil memandang penuh kerinduan pada Neji yang sedang melepaskan satu per satu pakaiannya. Tatapan mata mereka sama sekali tidak lepas satu sama lain. Setelah ia melepaskan semua pakaiannya, Neji menghampiri Tenten, mendekap tubuh Tenten erat dan menyatukan kembali bibir mereka dalam ciuman yang penuh gairah. Tangan Neji bergerak menyentuh, membelai, dan memanjakan seluruh tubuh Tenten, yang dibalas dengan desahan kenikmatan dari wanita itu. Tenten tidak diam saja, kedua tangannya juga bergerak membelai tubuh Neji untuk memuaskan kebutuhan kekasihnya.

Tubuh mereka berdua semakin lama semakin panas akibat gairah yang bangkit dari belaian dan ciuman yang tanpa henti saling diberikan kedua insan itu. Keduanya butuh pelepasan.

Neji segera mengangkat tubuh Tenten, membalikkan badan Tenten menghadap ke arah ranjang dan membelakanginya. Tenten secara refleks menopang tubuhnya dengan kedua tangannya di atas ranjang. Tenten menoleh wajahnya ke arah belakang dan menatap Neji. Tenten menatap Neji penuh gairah dan cinta.

Tanpa menunggu lama, Neji menyatukan tubuh mereka perlahan-lahan dari belakang Tenten. Tangannya membelai tulang punggung Tenten untuk menenangkan tubuh Tenten saat ia memasukinya.

"Aa-aahh.. Ne-Neji!" desah Tenten ketika merasakan tubuh Neji memasuki tubuhnya.

Neji mendekatkan wajahnya ke wajah Tenten. Tubuh Neji yang jauh lebih tinggi dari Tenten, membuat Neji dengan mudah mencium Tenten tanpa membuat leher Tenten kesakitan; membalas ciumannya. Neji melumat bibir Tenten dengan penuh perasaan.

"Ughh! Akhirnya aku bisa merasakanmu lagi, Tenten—" bisik Neji menahan erangannya di bibir Tenten sambil mulai mengerakkan pinggulnya. Mereka berdua segera hanyut dalam kenikmatan yang sudah lama tidak mereka rasakan.

Neji memegang paha Tenten dan membukanya lebar untuk memudahkannya memberikan kenikmatan pada Tenten. Dengan posisi ini, Neji mampu mengatur tempo sesuai keinginannya. Ia memompa pinggulnya dengan pelan dan dalam.

"Oo-oohh! Neji.. Le-lebih cepa-pat.. Uhh—Ahh," Tenten memohon di sela-sela ciuman.

"Hmmm—Uhh. Seperti ini—?" tanya Neji dengan suara parau lalu menambah temponya lebih cepat dari sebelumnya.

"Ahh! uhhh —Hmmh. Aahh! Ya—Aahh!" Tenten menarik ciumannya dan mengerang akibat rasa nikmat yang semakin lama semakin membesar. Tenten memejamkan matanya dan mendongakkan wajahnya ke atas, menikmati apa yang diberikan Neji pada tubuhnya. Tenten mengalungkan tangan kirinya ke leher Neji yang dekat dengan wajahnya; memperkecil jarak kepala mereka berdua. Tenten menggigit bibirnya kencang untuk memperkecil suara rintihannya.

Neji menyingkirkan sebagian rambut Tenten yang menghalangi wajah Tenten, menatap wajah kekasihnya. Rasa bangga menjalar di hatinya ketika melihat wajah senang dan nikmat Tenten di hadapannya. Wajah kenikmatan Tenten membuat Neji semakin ingin segera mengantar keduanya pada puncaknya.

Neji kemudian memindahkan kedua tangannya yang berada di paha Tenten ke dada Tenten. Ia memijat pelan dan memainkan puncaknya yang membuat Tenten mengerang nikmat. Neji mempercepat gerakan pinggulnya semakin cepat dengan tempo yang akan membuat Tenten semakin menggila. Lidah Neji membelai dengan lembut leher jenjang Tenten sembari menggigitnya pelan.

"Oo—OHH K-KAMI! Mmmhh.. Ne-Neji! AAH—AAAHH! NEJI!" rintihan lembut Tenten berubah menjadi teriakan nikmat. Kenikmatan bertubi-tubi melanda pangkal pahanya akibat gerakan cepat dan keras kekasihnya yang membuat dirinya mabuk kepayang.

Tenten serasa tidak berdaya. Tubuh rampingnya hanya mampu menerima kenikmatan yang diberikan tubuh kekar dibelakangnya. Teriakan kenikmatannya dan bunyi decitan ranjang menggema di seluruh ruangan itu. Tenten bahkan tidak peduli jika tetangganya mendengarkan suara-suara gaduh yang berasal dari kamarnya.

Keduanya sudah di ambang batas. Pinggul keduanya bergerak seirama, menambah rasa nikmat yang dirasakan keduanya. Rintihan dan teriakan nikmat tidak berhenti mengalir dari mulut keduanya. Neji mendekap erat tubuh Tenten dan mempercepat temponya dengan sangat cepat.

"AA-AAAHHH! NEJ—' teriakan kepuasan Tenten—saat klimaks menghantam dirinya, terhenti ketika Neji melumat ganas bibirnya. Kedua tangannya mencengkram erat seprai di bawahnya menahan tubuhnya tidak jatuh karena klimaks hebat yang melandanya.

Tenten mendesah pelan di bibir Neji ketika merasakan tubuh kekasihnya menegang dan memperoleh puncaknya. Selang beberapa detik, tubuh Tenten jatuh ke atas kasur setelah ia mengarungi pelepasannya.

"Tenten," gumam Neji pelan setelah klimaks yang ia rasakan mulai mereda. Neji kemudian menarik tubuhnya keluar dari tubuh Tenten, menjatuhkan tubuh lelahnya ke samping Tenten, mendekatkan tubuh Tenten ke pelukan hangatnya, dan menarik selimut untuk melindungi tubuh mereka dari udara dingin. Tenten secara refleks mendekatkan wajahnya ke dada Neji dan kemudian jatuh tertidur mendengarkan degupan jantung Neji yang tidak beraturan.

=/=

Neji mengeratkan pelukannya pada tubuh telanjang Tenten yang terbaring lelah di pelukannya. Wajah wanita itu terbenam di lehernya. Tangannya kirinya memeluk pinggang Neji erat. Neji menatap lembut wajah Tenten yang tertidur sembari mengusap pipi kirinya pelan. Tenten membuka matanya perlahan dan menatap wajah pria yang dicintainya.

"Kembalilah tidur. Besok pagi, kau harus segera berangkat ke Amegakure," ucap Neji terus mengusap pipinya pelan.

"Kau membangunkanku, Neji," jawab Tenten sambil tersenyum pada kekasihnya.

"Kau butuh istirahat yang banyak untuk misi besok," Neji menyapukan bibirnya lembut di bibir Tenten. Ekpresinya datar tetapi ada kekhawatiran yang terlihat di mata lavender-nya.

"Salah siapa yang mengajakku bercinta sebelumnya?" Tenten membalas mencium lembut bibir Neji. Bibir mereka berdua saling memanjakan satu sama lain.

"Hn," balas Neji sembari terus mencium bibir Tenten. Lidah mereka kemudian saling bertemu. Ciuman mereka lembut dan penuh kasih sayang.

"Kau benar-benar tertular gaya bicara Sasuke-san, Neji," Tenten tersenyum geli di sela-sela ciuman mereka. Tenten menghentikan ciumannya dan menatap mata Neji dalam-dalam. "Neji, sepulangku dari Amegakure, bisakah kita mengambil libur berdua beberapa hari? Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua."

Neji balas menatap mata Tenten dengan penyesalan. "Maaf, Tenten. Dalam waktu dekat, kita tidak bisa terlihat bersama lagi."

"Kenapa?" tanya Tenten menatap Neji bingung. Matanya melebar keheranan.

Neji menarik napasnya dalam-dalam. Neji sebenarnya tidak ingin mengatakannya. Namun, mata Tenten yang meminta penjelasan memaksa Neji mengatakan alasannya.

"Pamanku tidak menyetujui hubungan kita. Aku tidak tahu mengapa."

"Kau akan meninggalkan aku?" Tenten menjauh dari Neji dan melepaskan pelukannya.

Neji menahan tubuh Tenten pergi dari pelukannya. Neji kembali mengeratkan pelukannya di tubuh Tenten. "Tentu saja tidak, Tenten. Kita akan terus merahasiakan hubungan kita dari yang lain," Neji menatap Tenten lembut. "Maaf Tenten. Aku mungkin tidak bisa sering menghubungi dan mengunjungimu lagi. Aku juga akan bersikap dingin padamu pada saat kita bersama yang lain. Aku tidak ingin Paman Hiashi mengetahui hubungan kita. Dia bisa menyakitimu."

Tenten hanya tersenyum miris. Airmata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Bersabarlah. Aku akan berusaha keras agar hubungan kita direstui keluargaku."

"Tapi, bagaimana kalau pamanmu tetap tidak merestuinya. Kau bisa dikeluarkan dari keluargamu, Neji!" Airmata Tenten mengalir di kedua pipinya. "Bagaimana pun juga, Hiashi-sama adalah walimu semenjak orang tuamu meninggal. Kau tidak boleh mengecewakannya," Tenten berbalik membelakangi Neji. "Aku tidak apa-apa, jika kau meninggalkanku," Suaranya terdengar dingin.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Tenten. Itu tidak ada dalam pikiranku," Neji mencium bahu Tenten pelan. Neji lalu membalikkan kembali tubuh Tenten ke arahnya, mengusap airmata yang jatuh di pipinya. "Jangan menangis. Aku akan membereskannya. Aku hanya ingin kau bersabar dengan keadaan ini," Neji memandang Tenten dengan tatapan meyakinkan.

Tenten hanya bisa mengangguk lemah sambil menatap Neji nanar.

Neji kemudian mencium lembut bibir Tenten dengan penuh perasaan. Lidah mereka kemudian bertemu dan saling memanjakan satu sama lain. "Aku mencintaimu –Nmhhh—" gumam Tenten di sela-sela ciumannya. Neji mendekap erat tubuh Tenten dan tangan kanannya membelai lembut punggung telanjang Tenten. Ia mencurahkan seluruh perasaannya lewat ciumannya yang lembut, kepada wanita yang sangat ia cintai. Tidak perlu kata-kata untuk mengucapkannya. Ciuman itu sudah menunjukkan cinta yang hanya ia rasakan untuk wanita itu seutuhnya.

Ciuman itu mampu menghapus seluruh ketakutan Tenten, akan kehilangan pria yang amat sangat dicintainya. Tenten berharap, semoga saja ia tidak hanya diperbudak oleh cinta.


-Amegakure-

Seorang wanita berambut cokelat panjang menatap sendu bayangan wajahnya yang terpantul dari cermin di hadapannya. Ia sedang mendandani wajahnya di depan cermin rias. Riasan wajahnya lebih banyak menggunakan warna-warna soft natural dan tidak mencolok. Hanya lipstik merah terang di bibirnya yang dipoles cukup tebal untuk memberikan kesan penuh pada bibirnya. Wajah cantiknya sekarang terlihat lebih menawan dan mampu menarik lawan jenisnya dengan hanya menatapnya. Ia berbeda dengan teman-teman lainnya yang harus memakai riasan wajah yang tebal untuk terlihat cantik.

Wanita itu merupakan primadona dari seluruh wanita penghibur —kasarnya pelacur, yang bekerja di Klub Bloody Ring. Setiap pria yang ingin dilayani olehnya, harus mengeluarkan uang yang lebih mahal dibandingkan wanita-wanita lainnya. Wajah cantik yang terkesan polos dan tubuh seksi idaman seluruh wanita, merupakan daya tarik wanita itu. Tak heran banyak pria yang tertarik untuk menidurinya. Tetapi, tidak sembarang pria yang bisa mengencaninya. Hanya orang-orang penting dan memiliki uang banyak yang bisa menikmati wanita itu. Semua orang yang pernah menidurinya akan selalu kembali padanya karena wanita itu, mampu memberikan pelayanan yang diinginkan seluruh pria.

Saat ini, sebagian wanita penghibur yang bekerja di Klub Bloody Ring, diminta berdandan yang tebal dan memakai kimono yang indah. Tidak seperti di hari-hari biasa, di mana mereka harus memakai gaun minim atau pun pakaian yang sangat terbuka. Hari ini adalah hari spesial bagi seluruh pengunjung Klub itu. Hari yang di sebut 'Slave Day' dimana setiap pengunjung dapat membeli seorang wanita dengan harga tertentu untuk di bawah pulang dan di jadikan apa pun. Mereka di sebut budak karena mereka bisa dijadikan apa pun sekehendak pemilinya. Seorang budak tidak akan bisa menolak apa pun yang diperintahkan pembelinya.

Sistem pembelian budak, dilakukan dengan cara 'pelelangan'. Siapa yang menawarkan harga tertinggi, dialah yang berhak menjadi pemilik budak yang dilelang tersebut. Budak yang ditawarkan pun merupakan wanita yang sudah dianggap berpengalaman di klub itu. Dengan menjual wanita yang telah tergolong berpengalaman, pemilik klub itu bisa mencari wanita penghibur baru yang masih polos—yang merupakan incaran para pria-pria mesum tua dan berduit.

Suara gaduh terdengar dari luar ruang rias klub tersebut. Terdengar sorak-sorai dan iringan musik cepat dari balik pintu tersebut. Satu per satu wanita yang akan di jual, keluar dari ruangan itu untuk segera dilelang. Teriakan-teriakan pria-pria yang menawarkan harga untuk setiap budak terdengar sampai ke dalam ruangan itu.

Wanita itu menunduk sedih sambil menunggu saatnya tiba. Wanita itu telah berdoa terus-menerus kepada Kami-sama agar hari ini tidak pernah datang. Namun, doanya tidak terkabul. Dia harus menghadapi takdirnya untuk menjadi budak yang akan dijual pada pengunjung Klub itu. Dia yakin setelah hari ini, hidupnya akan lebih sengsara dari hidupnya saat ini.

Wanita itu hanya bisa menghitung waktu. Teman-temannya yang lain telah keluar dan sudah terjual pada pembelinya. Tinggal sedikit lagi waktu yang tersisa untuknya berada di sini. Ia memang sengaja dijadikan budak terakhir oleh pemilik Klub.

Pintu ruangan itu terbuka lebar. "Hana, giliranmu keluar!" seru seorang pria, yang merupakan pemilik Klub itu, memanggilnya keluar. Hana bangkit berdiri, merapikan kimono cokelat muda polos yang dipakainya, dan berjalan keluar. Sebelum sampai di pintu, ia berhenti sejenak. Ia menarik nafas dalam-dalam, menyiapkan diri dan mentalnya untuk menghadapi nasibnya yang akan datang, dan melangkah keluar dari pintu itu.

Suara musik disko kencang memenuhi seluruh penjuru Klub itu. Suara sorak-sorai dan siulan yang berasal dari kerumunan orang-orang terdengar, ketika Hana berjalan melewati mereka. Hana berjalan mendekati panggung yang terletak di tengah-tengah Klub itu. Sesampai di panggung, ia berdiri sambil menundukkan kepalanya, menunggu saat dimana dia akan dilelang.

"HADIRIN SEKALIAN. TIBALAH PADA SAAT YANG DI TUNGGU-TUNGGU!" suara pemilik Klub menggema dari mic yang ada di tangannya. Pria pendek itu berdiri di samping Hana. "WANITA DI SAMPING SAYA ADALAH WANITA TERAKHIR YANG KAMI LELANG UNTUK ANDA SEKALIAN. WANITA INI SANGAT ISTIMEWA KARENA DIA ADALAH PRIMADONA KLUB BLOODY RING INI. SAMBUTLAH PRIMADONA KITA, HANA!"

Suara sorak-sorai dan tepuk tangan dari seluruh pria-pria yang berkerumun di hadapannya. Mereka menatap Hana dengan pandangan senang bercampur nafsu untuk memiliki dirinya.

"BAIKLAH. TIDAK USAH MENUNGGU LAMA LAGI. KITA MULAI LELANG KALI INI. KITA BUKA HARGA 1 JUTA YEN UNTUK PENAWARAN PERTAMA!" seru pemilik Klub sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. "ADA YANG BERANI MENAWAR LEBIH?" tanya pria itu kepada seluruh pengunjung di situ.

"1,2 juta yen!" tawaran pertama di lontarkan seorang pria muda.

"1,5 juta yen!" balas seorang pria muda lainnya.

"2,5 juta yen!" seorang kakek tua mengajukan penawaran. Hana yang berdiri di situ memohon pada Kami agar ia tidak jatuh pada kakek itu.

"5 juta yen!" balas pria muda yang pertama tadi.

Harga yang ditawar semakin tinggi. Pria-pria baru yang menawar pun semakin banyak. Ada yang masih muda dan ada yang sudah tua. Ada yang masih lajang dan ada juga yang sudah beristri. Mereka sepertinya ingin sekali memilikinya. Mereka tidak peduli walaupun harus membuang uang banyak. Hana merasa jijik dengan pria-pria ini.

"7,5 JUTA YEN!" teriak pria botak gendut dengan suara penuh nafsu.

"10 juta yen!" suara pria muda yang baru pertama kali mengajukan harga.

"15 juta yen!" suara kakek sebelumnya.

"25 JUTA YEN!" teriak pria botak gendut sebelumnya.

"30 juta yen!" balas seorang pria muda yang kedua tadi.

Hana membelalakkan matanya kaget. Tidak percaya dirinya akan dihargai dengan harga setinggi itu.

"35 juta yen!" pria botak gendut tidak mau kalah.

Harga yang diajukan semakin lama semakin tinggi. Pria muda dan pria botak gendut terlihat tidak mau kalah. Mereka saling bertarung menawarkan harga yang paling tinggi. Kedua penawar itu ternyata merupakan pelanggan tetap Hana—yang berusaha mendapatkan Hana.

Hana sudah pasrah dengan nasibnya. Sepertinya, ia akan jadi budak dari salah satu dari kedua penawar tadi.

"100 juta yen!" suara berat seorang pria yang baru pertama kali menawarkan harga, terdengar dari belakang kerumunan orang-orang di depan Hana.

Semua orang yang berkerumun di situ kaget mendengar harga yang ditawarkan. Tidak ada lagi yang berani menawarkan harga lebih dari yang diucapkan pria tadi. Kedua penawar sebelumnya juga tidak sanggup menawarkan harga lebih tinggi lagi. Mereka berdua terlihat kecewa karena tidak berhasil mendapatkan Hana.

"HANA TERJUAL DENGAN HARGA 100 JUTA YEN KEPADA TUAN YANG ADA DI BELAKANG SANA. SELAMAT!" seru pemilik klub itu kemudian. "HADIRIN SEKALIAN, ACARA LELANG KITA HARI INI TELAH SELESAI. SAMPAI JUMPA DI ACARA LELANG TAHUN DEPAN."

"SILAHKAN BERSENANG-SENANG KEMBALI!" teriakan pemilik Klub itu disambut dengan teriakan gembira dari pengunjung yang ada di situ yang mulai bergoyang diiringi musik disko yang mengalun cepat.

Hana menengadahkan wajahnya ke depan, mencari tahu pria yang telah mengeluarkan sejumlah uang yang sangat besar untuk membelinya. Pria yang di maksud sedang berdiri tidak jauh itu sama sekali asing bagi Hana. Pria itu sepertinya bukan pengunjung Klub itu. Pria itu mengenakan pakaian serba hitam. Jaket hitamnya menutupi tubuh atletisnya sampai lutut.

Pria itu balas memandangnya. Pria itu terlihat sangat misterius dan berbahaya. Tetapi, hal itu tidak memudarkan ketampanan pada wajah putih pucatnya, yang sedang memandang Hana dengan ekspresi dingin.

Ada satu hal yang membuat Hana tidak mampu memalingkan wajahnya dari pria itu. Tatapan mata onyx yang menatap Hana lekat-lekat, mampu menembus kalbunya dan menarik dirinya dalam pesona yang tidak bisa Hana artikan dengan kata-kata.

'Siapa dia?" tanya Hana dalam hatinya.

.

.

TBC

.

.


Hallo Minna-san! Author kembali lagi

Makasih buat para readers yang telah memberi review. Gak nyangka lebih dari 60 review untuk chapter kemarin. ARIGATOU GOZAIMASU untuk kalian semua.. Untuk tebakan mengenai mata-mata Oto di Shinobi kita lihat di chapter-chapter selanjutnya. Kita lihat siapa yang tebakannya paling benar.

Chapter ini lebih banyak pergolakan hati Si Sasuke Uchiha. Mungkin agak membosankan, tapi semoga para readers menyukainya. Lemon dibuat untuk NejiTen dulu ya. Mudah2an semuanya suka dengan pairing ini. SasuSaku-nya ditunggu ya! Di chapter ini juga tidak ada perkelahian SasuGaa. Hanya pertengkaran sengit aja.

Mohon maaf atas keterlambatan updatenya. Tapi mudah-mudahan sesuai dengan harapan Readers yang terus menunggu Fic ini.

Author masih mengharapkan review dari para readers sekalian. Review anda sangat berarti untuk kelangsungan dan kelanjutan cerita ini. Juga PENYEMANGAT bagi author mengupdate cerita ini *Memohon sambil berlutut. Readers: Lebay Ah!

Please Don't Flame!

Akhir kata : "Semakin banyak Review Semakin Cepat Chapter Terbaru Update" BAHAHAHAHAHAHA

SASUSAKU: Author Stress -o.O

*Niwa Sakura

FYI: Bagi Readers yang mau, bisa add FB Author di profil Author.

R&R (^-^)