Disclaimer:

Harvest Moon bukan punya saya

Tokoh-tokohnya bukan punya saya

Ceritanya punya saya


Warning:

Segala macam OOC, OOT, typo, alur kecepetan, bahasa gak baku, bahasa gak jelas, dan sebagainya


Cerita ini merupakan cerita lanjutan dari "Tiada Lagi Kesal di Matanya", "Spring's Confession", "Hadiah Musim Panas", "Menu Musim Gugur", dan "Di Tengah Dinginnya Musim Salju". Kalo charanya bisa banyak, saya bakal bikin satu cerita berchapter-chapter (?) dan bukan kaya gini =.=a yah, sudahlah~

Serial terakhir dari "Jack Patah Hati" X'D

Enjoy!


Tahun Baru Favorit

A JackxClaire story

by reynyah

Chapter VII – Hadiah Ulang Tahun


Claire POV


Ya, pemandangan terindah adalah melihat kembang api di ujung dermaga hanya bersamamu, Jack.

Kembang api yang kami tonton musim lalu masih meledak-ledak di dalam ingatanku. Genggaman tangan Jack, bisikan lembutnya di telingaku, senyumnya, tatapannya... ah, kurasa aku mulai gila. Ekspresi-ekspresi yang Jack tunjukkan itu melekat erat di dalam otakku.

Yap, otakku memang sudah tidak normal.

Oh, bicara soal musim, musim gugur sudah tiba. Daun-daun berubah warna menjadi oranye dan jatuh perlahan-lahan. Biasanya, angin mempercepat jatuhnya daun-daun tersebut. Entah kenapa, aku menyukai musim ini. Kenapa? Sebab aku berulang tahun di bulan ini, tepatnya tanggal 16.

Dan... kebetulan, sekarang sudah tanggal 12.

Aku melangkah keluar dari rumah kecil Jack. Jack bilang, hari ini aku libur dan diperbolehkan pergi ke mana saja. Baguslah, aku ingin mengunjungi para nyonya yang ada di sini. Aku ingin sedikit bercerita, terutama soal Jack.

Aku membuka pintu dan menemukan sosok 'nyonya' berambut pirang panjang.

"Pagi, Claire," sapanya. "Ada yang mau kubicarakan denganmu, boleh?"

Aku tersenyum lalu mengangguk. "Kebetulan hari ini aku libur bekerja."

"Bekerja?" tanya Karen ketika aku sudah berdiri di hadapannya. "Memangnya kau bekerja di mana?"

"Di peternakan Jack," jawabku sambil berjalan mengikuti Karen. "Sebagai gantinya, aku boleh menginap di rumah kecilnya ini selama yang aku mau."

"Begitu rupanya," balas Karen sambil manggut-manggut. "Oh ya, ada sesuatu yang harus kau ketahui."

"Apa itu?"

"Ulang tahun Jack," jawab Karen. "Tanggal 23."

Aku tertawa. "Kenapa kalian semua—para wanita maksudku—beranggapan kalau aku menyukai Jack?"

"Bukannya sudah jelas?" Karen balik bertanya. "Kalian selalu terlihat bersama. Bagi penduduk Mineral Town, hubungan kalian sudah jelas akan berakhir ke mana. Ditambah lagi, tatapan Jack padamu itu... tatapan orang jatuh cinta," jelas Karen sambil tertawa kecil. "Masa kau tidak menyadarinya?"

Aku diam sejenak. "Mm... bolehkah aku bercerita padamu?"

"Tentu saja," jawab Karen. "Kau boleh bercerita denganku kapan saja, asal tidak pukul enam pagi, ya."

Aku terkikik. "Mm... sebenarnya Jack sudah memberiku... bulu biru itu."

Mata Karen membulat dan membesar. "Serius?!" tanyanya terkejut. "Lalu... kau terima? Atau kau tolak?"

"Dia memberinya setelah Spring Thanksgiving," lanjutku tanpa menjawab pertanyaannya. "Aku baru dua minggu mengenalnya. D-dia... dia melamar terlalu cepat... aku tidak bisa menerimanya saat itu..."

Karen menghela napas. "Ternyata ini," katanya. "Pantas saja kau kelihatan aneh saat festival kembang api musim lalu."

"Eh? Kau menyadarinya?"

"Semua perempuan sadar, kok."

Aku menghela napas. "Yah, aku memang masih memikirkan hal itu."

"Sampai sekarang?"

Aku mengangguk.

Karen tertawa. "Claire, kurasa kau hanya perlu mengakui kalau kau menyukai Jack dan semua akan baik-baik saja," nasihat Karen. "Jack juga menunggu itu."

"Aku... entahlah," balasku sambil mengangkat bahu. "Maksudku, aku tahu aku menyukainya. Sangat menyukainya. Tapi aku masih ragu dengan perasaanku sendiri dan tidak mau membebani Jack dengan keraguanku, jadi... yah, begitu."

Karen tersenyum. "Ikuti saranku, kau hanya perlu menyatakan perasaanmu dan semuanya akan baik-baik saja."


SKIP, YAK. KEESOKAN HARINYA~~~


"Claire," panggil Jack ketika aku tiba di depan rumahnya hari itu. "Aku menugaskanmu untuk pergi ke Mother's Hill malam ini, pukul enam sore."

"Apa kali ini akan ada kembang api di gunung?"

Jack tertawa. "Tidak, tidak," jawabnya. "Lihat saja nanti."

Aku melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah kecil Jack. Hari ini aku tidak bersemangat untuk pergi ke manapun, jadi sebaiknya aku menunggu pukul enam di rumah kecil Jack saja.

...

Atau aku sebaiknya pergi ke kolam Goddess? Kata para wanita, tempat itu membawa keberuntungan.

...

Oke, aku akan pergi ke sana sekarang juga. Setidaknya berada di sana lebih baik daripada berada di rumah sendirian dan hanya bisa menatap jam dengan sendu.

...

Oke, mungkin aku terlalu melankolis. Intinya, lebih baik aku tidak jauh-jauh dari Mother's Hill kalau Jack memang 'menugaskanku' untuk pergi ke sana malam ini. Memangnya hari ini ada apa, sih? Apa ada perayaan lagi? Kenapa Mineral Town senang sekali dengan yang namanya perayaan? Apalagi festival-festival seperti festival kuda, anjing, domba, ayam, dan sapi. Maksudku, sebenarnya festival itu untuk apa? Hanya buang-buang waktu saja.

Mm... mungkin tidak untuk penduduk sini.


Aku tiba di Mother's Hill pukul enam lewat sedikit. Hanya sedikit kok, kurasa tidak akan begitu terlambat. Jack juga biasanya datang terlambat, kan? Untuk apa aku buru-buru? Hahaha.

Hei, rupanya aku salah.

Jack sudah tiba.

Aku berlari menghampirinya dan bertanya, "Kau sudah di sini?"

"Kelihatannya bagaimana?"

Aku menarik napas panjang. "Oke, aku terlambat."

Jack tertawa. "Tidak apa-apa," katanya. "Festivalnya juga belum mulai."

Aku memiringkan kepalaku. "Festival apa kali ini?"

"Bulan penuh," jawab Jack. "Kita—kau dan aku—akan melihat bulan purnama bersama malam ini."

"Hanya berdua?"

"Tentu saja tidak," jawab Jack lagi. "Tapi semua orang datang berpasangan."

Aku tersenyum. "Kau... mengajakku lagi?"

"Memangnya aku harus mengajak siapa lagi?" Jack balik bertanya. "Aku bisa dipukuli massa kalau mengajak perempuan yang sudah menikah."

Aku tertawa. "Baiklah, aku pilihan terakhirmu, kan?"

"Sekaligus orang yang kusayangi, tentu saja," lanjut Jack. Kemudian, dia mengalihkan tatapannya dari wajahku ke bulan. "Sepertinya sudah mulai."

Aku mendongakkan kepala, melihat bulan purnama. "Indah."

Jack mengangguk. "Tahun lalu, aku tidak pergi ke festival ini," ujar Jack. "Yah, sakit hati karena putus cinta."

Aku tertawa. "Lalu bagaimana dengan tahun-tahun sebelumnya?"

"Bersama Ann," jawab Jack. "Sebelum dia memutuskanku dan menikahi Cliff."

Aku manggut-manggut. Sesaat kemudian, pundakku terasa berat. Aku menoleh cepat dan menemukan kepala Jack ada di sana.

...

Aduuuh, wajahku memanas. Aku yakin wajahku pasti merah sekarang.

"J-Jack?"

"Biarkan aku begini," katanya. "Sebentar saja."

Aku mengangguk pelan lalu kembali menatap bulan purnama yang malam itu rasanya lebih indah daripada malam-malam lainnya. Tentunya karena...

bersama Jack.


Jack POV


Ini sudah tanggal 16 dan... dasar Jack! Dasar lamban!

Aku belum menyiapkan apa-apa untuk Claire! Gawaaaat!

Buru-buru kusibakkan selimut dan memeriksa kulkasku. Tidak ada makanan yang menarik perhatianku, akhirnya aku mengalihkan perhatianku ke lemari. Di dalam sana ada banyak permata indah, tapi aku tidak tahu Claire suka yang mana. Akhirnya setengah putus asa aku mengambil sebuah kalung yang kubeli dari Saibara—tadinya kalung ini akan kuberikan pada Popuri—dan membungkusnya dengan kertas kado. Aku tidak boleh terlambat lagi, aku harus segera pergi!

Aku berlari, berlari, dan berlari hingga aku tiba di depan rumah kecilku. Ah, pas sekali! Claire baru saja keluar dari rumahku. Bagus, aku akan segera memberikan hadiah ini!

"Jack? Kenapa kau ada di sini?" tanya Claire begitu keluar dari rumahku.

"Mm..." Aku menggumam tidak jelas sambil mengambil sebungkus kado yang ada di dalam tasku. "I-ini," ucapku gugup sambil memberikan kado itu. "S-selamat ulang tahun."

Mata Claire melebar dan wajahnya seketika memerah. "Jack..." ucapnya sambil menerima kado yang kuberikan. "Kau tahu kapan ulang tahunku?"

Aku tersenyum kecil. "Kalau aku tidak tahu, kenapa aku memberimu hadiah?" Aku balik bertanya. "Lagi pula, aku kan, sudah mengucapkannya tadi."

Claire tersenyum manis. "Terima kasih, ya," ucapnya. "Mm... boleh kubuka?"

"Tentu saja," jawabku. "Aku juga ingin tahu kau menyukainya atau tidak."

Claire mengangguk lalu membuka bungkusan berisi kalung tersebut. Setelah berhasil menemukannya, dia mengambil kalung tersebut, l-lalu menatapnya tanpa berkedip, lalu matanya m-melebar, kemudian... kemudian...

"Jack," panggilnya. "Ini... kalung?"

Aku mengangguk takut. "Bagaimana?"

"Bagaimana apanya?" Claire balik bertanya. "Jack... ini mahal."

"Lalu...?"

"Kau tahu ulang tahunku," ucapnya, tidak menjawab pertanyaanku. "Dan kenapa kau bisa tahu juga hadiah favoritku?!"

Hah?

"K-kau m-menyukainya?"

"Tentu saja!" pekik Claire girang sambil menggenggam kalung yang kuberikan. "Astaga! Ini hadiah paling menakjubkan yang pernah kudapat seumur hidupku!" serunya kelihatan bahagia. "Terima kasih, Jack..."

Aku mengangguk pelan. "Kau... mau kupakaikan?"

Claire diam sejenak sebelum menyerahkan kalung yang telah kuhadiahkan padanya itu. Aku menerimanya lalu menyuruh Claire membelakangiku. Setelah itu, aku menyibak rambut pirang indahnya dan memasang kalung merah jambu itu di lehernya. "Bagaimana?" tanyaku setelah selesai memasangkan kalung itu di lehernya. "Kau suka?"

"Sangat," jawabnya dengan wajah merona. "Terima kasih banyak, Jack. Aku sangat berutang budi padamu."

Aku menggeleng. "Ini hadiah, bukan sesuatu yang layak dijadikan sebagai utang," tegasku. "Aku memang berniat memberikannya padamu. Kau sudah tahu kenapa."

Dia mengangguk kecil sebagai jawaban.

"Aku hanya ingin tahu, kapan kau akan menerima perasaanku?" tanyaku. "Aku sudah melamarmu sejak musim semi, Claire. Kau tentunya tahu musim apa sekarang."

Claire bergerak-gerak gelisah. "Jack... aku tidak siap," ujarnya. "Aku masih ragu dengan... perasaanku sendiri. Aku tidak mau kau merasa terbebani dengan keraguan perasaanku ini, j-jadi... kurasa akan jadi lebih baik kalau kita berteman biasa saja dulu."

"Sampai kapan?" tanyaku lagi setengah mendesak. "Kau pikir aku tahan dengan hanya berteman denganmu saat aku tahu kalau perasaanku mengharapkan lebih?"

Claire menggigit bibir bawahnya. "A-aku juga tidak tahan," akunya. "T-tapi Jack, k-kau tahu ini terlalu cepat... kita bahkan belum satu tahun saling kenal..."

"Haruskah satu tahun?"

Claire mengangguk. "Kau ingin menguji seberapa kuat perasaanku, bukan?"

Aku mengangkat kedua bahuku. Claire menunduk, mungkin bingung. Aku sendiri bingung. Ya, harus kuakui aku memang mencintai Claire. Saaangat mencintainya. Hanya saja... kenapa dia tidak kunjung mengerti? Kenapa dia selalu memikirkan perasaannya saja? Kenapa dia tidak memerhatikan perasaanku? Aku yang lebih dulu menyukainya, aku yang lebih tahu rasanya. Kenapa dia tidak mengerti juga? Haruskah aku menjelaskannya?

"Ah ya," ucapku teringat sesuatu. "Ada yang mau kutunjukkan padamu."

Claire memiringkan kepalanya. "Apa?"

"Rahasia," jawabku. "Akan kutunjukkan, tapi nanti. Tanggal 23 nanti, oke?"

Claire tersenyum kecil. "Oke."


Claire POV


Yap, tanggal 23 akhirnya tiba setelah sekian lama aku menunggu.

Hadiah untuk Jack? Hahaha. Tenang saja, sudah kusiapkan sejak kemarin, kok. Hadiah ini memang sederhana, tapi para 'nyonya' bilang kalau Jack menyukai benda ini. Sebelumnya, aku 'menumpang' di dapur penginapan—dibantu Ann dan ketiga nyonya yang lain, Popuri sudah pergi lagi bersama Kai—untuk memasak makanan ini. Makanan sederhana, hanya mie goreng dengan berbagai isi. Mereka bilang sih, Jack suka semua makanan. Hmm... tak kusangka laki-laki itu rakus juga.

Aku membungkus makanan itu perlahan karena takut merusaknya. Setelah dibungkus, aku berjalan keluar dari rumah kecil Jack dan tentunya, aku melangkah ke rumah 'besar'-nya. Biasa kalau masih pagi, Jack masih sibuk di dalam rumahnya, mengurus Og, sarapan, dan mandi. Ketika aku tiba di sana, aku akan mengetuk pintu rumahnya, memberi hadiah ini, lalu memaksanya menunjukkan 'sesuatu' yang dia bilang ingin dia tunjukkan pada ulang tahunku tempo hari. Hihihi. Rencana yang brilian, bukan?

Aku mengetuk pintu rumah Jack ketika sudah tiba di depannya. Sambil menunggu pintu dibuka, aku merapikan rambutku yang berantakan gara-gara diterbangkan angin saat aku berlari tadi. Tak lama kemudian, Jack membuka pintu dan menyambutku dengan hangat. "Claire! Ayo masuk! Di luar dingin."

Aku tersenyum, mengangguk, lalu mengikuti Jack masuk ke dalam. Jack mempersilakan aku untuk duduk di kursi meja makannya dan aku menurut. Kemudian, Jack menaruh dua cangkir teh di atas meja dan menyerahkan salah satu cangkir padaku.

"Terima kasih," ucapku sambil meraih cangkir teh tersebut. "Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot menyediakan minum, Jack."

Jack menggeleng. "Tidak apa-apa, kok," katanya. "Ada perlu apa pagi-pagi datang ke sini? Aku sudah bilang kalau seminggu ini kau libur kerja, kan?"

"Mm... memang," jawabku. "Kau sudah memberi tahuku soal itu, kok. Aku datang ke sini bukan untuk urusan pekerjaan."

"Oke." Jack menarik kursi di depanku lalu duduk di hadapanku. "Jadi, sebenarnya kau ada perlu apa?"

Aku mengambil sebungkus kado yang kuletakkan di tas, menaruhnya di atas meja, lalu menggesernya supaya Jack bisa menjangkaunya. "Selamat ulang tahun."

Jack mengangkat alisnya. "Claire? Bagaimana kau bisa tahu hari ulang tahunku?"

Aku tersenyum kecil. "Itu rahasia, dong," jawabku sekaligus 'membalas' perlakuannya pada hari ulang tahunku tempo hari. "Buka hadiahnya. Aku ingin tahu kau menyukainya atau tidak."

"Dasar plagiat," ejeknya sambil tersenyum kecil. Dia membuka bungkusan itu dan menemukan sepiring mie goreng disertai beragam sayuran. "Wow, Claire..."

Aku menatapnya heran. "Apa?"

"Kau membuat mie goreng?"

"Kelihatannya seperti apa? Telur rebus?"

Jack menggaruk kepalanya sambil terkekeh pelan. "Tentu saja tidak," jawabnya agak salah tingkah. "Aku coba, ya!"

"Silakan."

Jack mengambil sendok dan garpu dari dapurnya kemudian mulai memakan mie goreng buatanku. Dia makan dengan lahap sampai hanya tersisa setengahnya. Padahal aku yakin dia sudah sarapan pagi. Dasar rakus.

"C-Claire..." ucapnya perlahan. "K-kau harus mencobanya..."

"Kenapa? Tidak enak, ya?" tanyaku. "Kau kelaparan, Jack?"

Lagi-lagi Jack menggaruk kepalanya. "Bukan lapar, aku sudah sarapan tadi." Ah, sudah kuduga. "Mie buatanmu enak sekali, Claire. Sungguh."

"Oh ya?"

"Coba sendiri kalau tidak percaya," ujar Jack sambil menggeser piring mie itu supaya lebih dekat denganku. "Aku tidak akan berbohong kalau memuji seseorang atau sesuatu."

Aku mencicipi mie goreng buatanku yang memang belum sempat kucicipi. Rasanya... hmm... aku jenius! Tidak kusangka aku bisa membuat makanan seenak ini. Ini baru namanya Claire!

"Enak, kan?" tanya Jack. "Kau jenius."

Aku terkekeh pelan. "Terima kasih."

"Oh ya, sesuatu yang mau kutunjukkan itu—"

"Oh ya!" potongku cepat. "Apa itu?"

Jack tersenyum, beranjak dari kursi, lalu membuka lemarinya. Kemudian dia mengeluarkan...


Bersambung...


Yes! Chapter ini beres, yes! Penasaran, kan? Yes! *digampar massa*

Yap, akhirnya sesi ulang tahun kedua sejoli itu beres juga~ gimana selanjutnya? Kapan mereka nikah? Barang apa yang mau ditunjukkin Jack? Kenapa kalian banyak nanya? Kenapa Rey nanya-nanya melulu? Kenapa Rey malah bikin pembaca kepo?

Intinya, review dulu, kawanddd :3

Sekian!