"Hey, aku belum pernah melihatmu di sini sebelumnya." Pemuda bermata semerah darah itu tersenyum simpul pada Ino, rambut kemerahannya terlihat berkilau diterpa cahaya matahari pagi itu, "siapa yang akan kau wawancarai hari ini?"
Belum sempat Ino menjawab, seorang pemuda lagi muncul di belakang pemuda berambut merah itu. Kali ini iris kebiruannya menangkap seorang pemuda berambut klimis keperakan.
"Hey Sasori! Aku belum pernah melihat gadis ini sebelumnya." Ujar si pemuda berambut klimis itu pada pemuda yang dipanggilnya Sasori barusan.
Ino tersenyum kikuk.
"Akupun baru melihatnya, Hidan bodoh." Ucap Sasori datar namun kembali manis saat melihat ke arah Ino, "nona manis, siapa namamu kalau boleh tahu?"
"Aku—"
Belum selesai gadis itu berujar, ia merasa seseorang merangkulnya.
"Dia Yamanaka Ino. Reporter yang akan mewawancaraiku!" Didengarnya suara baritone seseorang yang tengah merangkulnya. Seseorang yang dikenalnya.
Sasuke?!
Sweet Scandal
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Happy Reading
.
.
.
[Chapter 7:Bad Feeling]
Melihat Sasuke merangkul Ino, Sasori lantas mengrenyit.
"Tidak kusangka reporter yang akan mewawancaraimu secantik ini."
Sasuke terdiam mendengar salah satu rivalnya sejak lama itu berbicara.
"Apakah kau kesulitan mewawancarai orang seperti dia?" Tanya Sasori pada Ino, "jika kau kesulitan, lebih baik kau mewawancaraiku saja."
Baru saja Ino akan menjawab, Sasuke sudah membawa Ino pergi.
"Tidak ada untungnya Ino berbicara dengan orang sepertimu, Sasori."
Sasori mendecih melihat Sasuke membawa pergi Ino, sementara Ino berusaha mengatur debaran jantungnya akibat rangkulan Sasuke yang tiba-tiba.
"Kau tidak perlu memerdulikan orang seperti itu. Fokuslah dengan liputanmu."
Sasuke meninggalkan Ino yang memerhatikannya bersiap untuk pertandingan di area khusus peserta. Benar apa kata Sasuke, Ino seharusnya fokus terhadap pertandingan dan meliputnya. Ino pun mencari tempat strategis yang tidak jauh dari area peserta agar dapat meliput pertandingan dengan baik.
Terdapat 16 peserta yang akan bertanding dalam turnamen itu dan hanya peringkat 5 terbaik di semi final ini saja yang akan masuk ke babak final. Para peserta sudah siap pada perahunya masing-masing, terdengar aba-aba bersiap bagi peserta sebelum pertandingan benar-benar dimulai. Ino merasa tegang meskipun ia bukanlah peserta, ia merasa seakan berada di posisi sasuke saat itu. Turnamen dimulai dengan ditiupnya sebuah peluit dengan nyaring oleh wasit. Perahu peserta melaju kencang secara stimultan. Para peserta tertutup wajahnya dengan helm, menutupi ekspresi mereka. Perahu-perahu yang melaju itu seakan membelah lautan. Euphoria yang ditimbulkan begitu menegangkan terlebih saat memerhatikan 3 peserta yang berusaha saling menyusul, dan salah satu di antara tiga peserta itu adalah Sasuke dan pemuda yang tadi mengajak Ino mengobrol, Sasori.
Jantung Ino berdebar saat melihat kedua pembalap itu saling menyusul bahkan perahu mereka hampir bertabrakan.
"AH!" Pekik Ino saat perahu milik Sasuke terguling karena benar-benar menabrak perahu milik Sasori. "SASUKE!"
Ino yang saat itu seharusnya bertugas mengambil foto Sasuke selama pertandingan justru berlari, berusaha sedekat mungkin dengan tempat di mana Sasuke terjatuh agar ia dapat dengan jelas mengetahui bagaimana keadaan Sasuke saat itu. Pembalap lain sudah berkumpul di area tersebut, termasuk tim penyelamat.
"Aku harap dia baik-baik saja.." Gumam Ino khawatir. Ia mendadak teringat saat Sasuke bercerita mengenai mendiang kakaknya yang tewas karena kecelakaan saat turnamen. Gadis itu pias, lantas berharap Sasuke selamat.
Sasuke berhasil diselamatkan oleh tim penyelamat. Ino segera menghampiri perahu yang membawa Sasuke hingga keluar dari area pertandingan. Reporter muda itu harap-harap cemas saat melihat keadaan Sasuke yang basah kuyup dan sedang di tanagni oleh tim penyelamat. Banyak reporter lain dan pembalap lain yang memadati area di mana Sasuke diberikan pertolongan pertama. Tanpa pikir panjang, Ino segera menyalip orang-orang tersebut.
Ino bernapas lega saat melihat Sasuke yang baik-baik saja dan sedang berusaha untuk duduk.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Ino khawatir sembari duduk sedekat mungkin dengan Sasuke.
"Hanya terkilir sedikit." Jawabnya santai. Ino mengerutkan keningnya saat memerhatikan Sasuke yang memegangi bahu kirinya seakan menahan sakit.
"Kau harus kerumah sakit.."
"Tidak, ada pertandingan lain yang harus aku hadiri hari ini." Sasuke mengelap wajah dan rambutnya yang basah dengan handuk yang disodorkan oleh tim penyelamat, dans egera berdiri.
Ino menggeleng, "tidak.." Ia lantas menyusul Sasuke yang dipikirnya terlalu memaksakan diri. Ia tidak yakin bahwa pemuda itu baik-baik saja. Namun saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain meliput seluruh kegiatan Sasuke. Lagipula pemuda itu tidak akan mendengar seluruh ucapan Ino meskipun dia memaksa.
"Kau nona Yamanaka, kan?" Seseorang menepuk bahu Ino, "aku tadi melihatmu saat mendampingi Sasuke sebelum pertandingan dimulai."
Ino yang menoleh ke arah seseorang yang menepuk bahunya mengrenyit, "apa?"
"Eh, Naruto-san?" Ino cukup kaget saat didapatinya pemuda pirang yang kemarin bertemu dengannya di bengkel milik Sasuke.
"Baguslah kau mengenalku."
"Sasuke, dia—"
"Jangan khawatir, dia baik-aik saja. Syukurlah dia tidak tersangkut di perahunnya dan tidak ada kerusakan mesin. Jika hal itu sampai terjadi akan benar-benar sangat berbahaya." Terang Naruto, "kalau sampai Sasuke tersangkut di perahu saat terguling tadi, dia akan benar-benar terluka parah atau bahkan bisa mati karena akan sulit mengeluarkannya dari perahu dan dia akan terluka parah saat terkena baling-baling perahu."
Penjelasan panjang lebar Naruto sukses membuat bulu kuduk Ino meremang memikirkannya. Saat itu Ino mengerti betapa mengerikan dan berbahaya dunia boat racing itu, dan disaat bersamaan ia teringat akan ekspresi kesakitan Sasuke saat menyentuh bahu kirinya.
"Ah, iya! Permisi Naruto-San!"
Naruto yang awalnya berniat meninggalkan tempat itu terhenti karena panggilan Ino yang langsung menghampirinya dan membungkuk di hadapannya.
"Ada banyak hal yang ingin ku tanyakan mengenai pertandingan ini, apakah anda bersedia saya wawancarai?"
.
Sasuke telah seselai diberikan pertolongan pertama di ruang medis dan kini sudah berada di maintenance area untuk para peserta agar dapat menunggu pertandingan selanjutnya. Ino penasaran apa yang sedang dilakukan Sasuke saat itu namun ia kesulitan mengecek keadaan Sasuke karena banyak sekali orang yang mengerubungi tempat itu. Lagipula yang dapat masuk ke area itu hanyalah petugas pertandingan dan juga peserta saja. Tetap saja, Ino merasa khawatir. Meskipun ia tidak dapat masuk ke area tersebut, ia berdiri sedekat mungkin dengan pintu masuknya, mencoba memastikan keadaan Sasuke sebisanya.
Sudah lebih dari satu jam berlalu. Lagi-lagi seseorang menepuk punggungnya.
"Kau menunggu di sini sejak tadi?" Naruto terkaget dengan adanya Ino yang menunggu di depan pintu masuk maintenance area. Ino menoleh ke arah Naruto. Naruto sendiri sudah selesai dengan pertandingannya sehingga dia dapat bebas keluar masuk area manapun dan istirahat.
Ino mengangguk, menjawab pertanyaan Naruto.
"Tunggu sebentar di sini."
"Apa?"
Naruto segera masuk ke maintenance area tanpa mengatakan apapun lagi pada Ino. Gadis itu juga tidak tahu pasti apa yang sebenarnya ia tunggu tapi ia tetap berada di sana. Setelah beberapa lama menunggu, Sasuke keruar dari area tersebut bersama Naruto.
"Ada apa? Masih ada pertandingan yang harus aku ikuti, aku sangat sibuk." Ujar Sasuke.
Ino tidak menyangka bahwa Naruto memanggil Sasuke agar dapat bertemu dengannya. Ino juga merasa Sasuke sedang tidak sabar menunggu jawaban Ino, pemuda itu ingin tahu seceatnya apa yang ingin Ino sampaikan padanya. Namun sayangnya, Ino sendiri bingung karena ia sama sekali tidak terpikirkan apapun untuk disampaikan pada Sasuke, dan akhirnya yang dilakukannya hanya terdiam.
"Maaf, tapi aku hanya ingin tahu keadaanmu." Hanya kalimat itu yang dapat Ino lontarkan pada Sasuke.
Sasuke mengerutkan dahinya, "hanya itu yang ingin kau sampaikan? Yang benar saja! Kau berdiri di depan pintu ini hampir sepanjang hari!"
Ino terdiam mendengar ucapan Sasuke.
"Kau ini bodoh?"
"Aku tahu kakakmu meninggal karena kecelakaan saat turnamen, dan aku—"
"Oh itu.." Sasuke langsung mengerti apa yang sebenarnya ada di pikiran Ino saat itu, "kau berpikir kejadian yang sama akan menimpaku? Kau tidak usah memikirkannya karena aku tidak mau ambil pusing dengan kejadian tadi. Lagipula tadi hanya membuat bahuku terkilir, tidak separah apa yang dialami kakakku."
Ino mengangguk, "baiklah." Sebenarnya jawaban Sasuke sama sekali tidak membuatnya tenang. Terlebih saat pemuda itu memutuskan untuk kembali ke maintenance area dan berjalan meninggalkannya. Namun baru saja Sasuke akan kembali memasuki area tersebut, ia membungkukkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu pada Ino.
"Tapi tidak buruk punya seseorang yang merasa khawatir pada keadaanku." Sasuke membisikkannya pelan dengan nada yang seduktif hingga mampu menggelitik telinga Ino.
Bisikkan Sasuke itu sukses membuat Ino tidak dapat berkata dan berdegup reaksi Ino, Sasuke terkekeh dan kembali berjalan menuju maintenance area. Sesampainya Sasuke di area tersebut, ia segera memasang kembali peralatan tandingnya, bersiap untuk mengikuti pertandingan selanjutnya.
Ino menghela napas berat, "dia bilang, dia baik-baik saja. Aku harus memercayainya." Bagaimanapun Ino berusaha menghapuskan Sasuke dalam ingatannya, kejadian yang ia alami bersama Sasuke beberapa hari ini justru semakin memenuhi pikirannya, terlebih saat Sasuke mengalami kecelakaan tadi.
Namun Ino mengerti, tidak seharusnya ia khawatir berlebihan pada Sasuke sehingga ia memutuskan untuk mencatat informasi apa saja yang tadi didapatnya selama berbicara dengan Naruto dan apa saja yang terjadi pada Sasuke. Saat ia sedang menekuri tulisannya di buku catatan kecilnya, seseorang lagi-lagi menepuk pundaknya.
Kali ini ia melihat pria paruh baya yang dikenal sebagai 'Kaisar Boat Racing," Jiraiya. Ino bingung mengapa pria itu mengenali dirinya, namun yang pasti Ino tahu seorang Jiraiya karena ia pernah menjadi asisten reporter saat reporter seniornya mliput kegiatan pria tersebut.
"Apa kabar Jiraiya-san! Senang bertemu dengan anda lagi." Sapa Ino sopan.
"Ah, tidak kusangka kita bertemu lagi di sini. Wajahmu benar-benar familiar! Kau sama sekali tidak berubah, tetap cantik dari pertama kali kita bertemu."
Ino tersenyum, "terimakasih banyak, Jiraiya-san."
"Apa yangs edang kau lakukan hari ini? Meliput kegiatan si Uchiha itu?" Tanya Jiraiya seraya memandang maintenance area. Ino mengangguk, "iya, benar."
Mendengar jawaban Ino, terjadi perubahan ekspresi pada pria paruh baya itu. Jiraiya lantas membawa Ino ke area yang dekat dengan tempat pertandingan. Ino kebingungan, padahal saat itu pria tersebut akan mengikuti pertandingan untuk pembalap senior. Ino takut akan memengacaukan jadwal pertandingan Jiraiya. Saat Ino akan bertanya mengenai alasan mengapa ia dibawa ke sana, Jiraiya tertawa.
"Tenang saja, kau tidak perlu khawatir dengan pertandinganku. Aku sudah bersiap." Ino tersenyum lega.
"Selama pertandingan, anak itu sangat serius. Tenang saja, aku yakin kau pasti khawatir dengan cedera di bahunya. Kau tidak perlu memikirkan hal itu." Jiraiya terkekeh, "anak itu sangat beruntung memiliki reporter dengan hati yang sangat baik sepertimu."
Ino blushing seketika mendengar ucapan pria yang ada dihadapannya tersebut.
"Ya, cedera pasti terjadi pada semua pembalap. Apakah itu terkilir, patah tulang atau lainnya. Kau benar-benar tidak perlu khawatir dengan hal seperti ini karena dengan cedera lah kami sebagai pembalap harus terus belajar waspada agar hal seperti ini tidak lagi terjadi dengan kami."
"Saya paham." Ino sekali lagi mengangguk.
"Ahahaha, Uchiha Sasuke adalah pemuda yang baik, bukan?"
"I-iya.." Ino tidak menyangkal hal yang dikatakan oleh Jiraiya.
"Dia benar-benar sangat baik, namun terlalu serius. Kau sebaiknya bilang padanya untuk lebih rileks. Ah, aku sudah berbicara banyak sampai lupa waktu."
"Terimakasih banyak, Jiraiya-san. Senang berbicara dengan anda."
Jiraiya lagi-lagi terkekeh, "aku selalu baik dengan gadis secantik kau. Kalau begitu sampai jumpa!"
Ino tersenyum, ia tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang menyenangkan seperti Jiraiya. Setelah kepergian Jiraiya, Ino dapat dengan mudah memerhatikan jalannya pertandingan terutama memerhatikan Sasuke yang sedang bersiap dengan perahunya, memakai peralatan khusus untuk balapannya seakan ia tidak menderita cedera, terlihat sehat dan santai.
Selama Sasuke melakukan persiapan tadi, beberapa teman pembalapnya menghampiri. "Sasuke, bagaimana dengan bahumu?"
"Sakitnya sudah tidak terasa, aku rasa akan baik-baik saja." Jawab Sasuke kepada para rekan pembalapnya.
Sasuke memang merasa baik-baik saja dan tidak terlalu memikirkan kejadian yang tadi menimpanya, namun di tempat lain, Ino senantiasa berdoa karena khawatir akan keadaan Sasuke.
Pertandingan selanjutnya akan segera dimulai, pemuda bermarga Uchiha itu sudah siap di perahunya. Ino memerhatikan Sasuke dari tempatnya berdiri saat itu, mengembuskan napas dan berharap Sasuke akan baik-baik saja. Ia percaya Sasuke melakukan yang terbaik, dan saat ini yang dapat Ino lakukan adalah menonton pertandingannya, meliputnya, dan membuat artikel yang bagus.
Saat Ino memerhatikan jadwal pertandingan di papan yang terdapat di tempat tersebut, seseorang menghampirinya.
"Wah, wah.. tidak ku sangka, reporter majalah QUEEN ada di sini."
Ino menoleh ke sumber suara, lalu menelengkan kepalanya bingung saat melihat seorang pria yang sedang tersenyum aneh dan berdiri di hadapannya.
"Maaf, anda siapa?" Tanya Ino.
"Oh, aku lupa memeperkenalkan diri. Aku Kabuto dari Ladies Week." Kabuto memeberikan kartu namanya pada Ino.
"Darimana kau tahu siapa aku?"
Kabuto tersenyum, menguarkan aura misterius. "Aku sempat melihatmu dengan Hatake Kakashi, jadi aku pikir kau bekerja dengannya."
Ino mengangguk mengingat Kakashi memang terkenal di industry publishing, menurutnya adalah wajar jika pria di depannya ini mengenali atasannya itu.
"Kau sedang meliput pertandingan hari ini?" Tanya Ino.
Kabuto terkekeh, "tidak, aku kemari hanya karena ada sesuatu hal yang membuatku tertarik. Oh omong-omong, kau sedang meliput Uchiha Sasuke, bukan?"
"Darimana anda tahu?"
"Aku tahu karena beberapa orang sempat mengatakannya sekilas."
Mendengar jawaban Kabuto, Ino mulai merasa ada yang tidak beres.
"Bukankah dia subjek yang bagus untuk dibuat sebuah pemberitaan? Bukan begitu? Sayangnya dia tidak pernah tertarik untuk diliput siapapun. Ah tapi, untuk gadis secantik kau, wajar dia menerima tawaran meliputmu."
Kabuto memerhatikan Ino dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya dengan tatapan yang tidak mengenakkan, membuat Ino tidak nyaman. Ino benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan pria itu.
Kabuto mendengus pelan, "kheh, kuharap artikel buatanmu bagus. Aku akan menunggu hasilnya. Sampai ketemu!" Saat Kabuto pergi, sesaat Ino melihat bahunya bergetar seakan-akan Kabuto sedang tertawa.
Ino benar-benar merasa ada yang tidak beres dengan Kabuto namun teringat akan tugasnya di sana, ia segera menfokuskan diri pada pertandingan.
TBC
