Sepenggal cerita...

.

.

.

Wish

Pair : NaruSasu

Genre : Romance & Friendship

Warning : BL, Shounen ai, OOC, Miss typo, Semi-Canon, dll.

.

.

.

.

Petang hari, Sasuke menyibukkan diri di dapur apartemennya. Ia berkutat dengan peralatan masak untuk membuat menu makan malam yang spesial. Ya, khusus disantap dirinya dan kekasih tercintanya. Sang Hokage muda, Uzumaki Naruto.

Sambil memakai celemek putih bermotif garis kotak-kotak biru yang menutupi kaus crimson dan celana hitamnya, Sasuke memegang pisau siap mengiris daging yang menjadi bahan hidangan utama. Manik Onyx-nya menyorot tajam. Selagi tangannya terampil memotong daging sapi berbumbu rempah harum. Rencananya ia akan memasak yakiniku.

Belakangan ini Naruto sering pulang malam. Katanya sibuk mengurus berkas dokumen yang menumpuk di meja kantornya. Entah berisi catatan pembangunan desa, progam kerjasama antar desa ninja lain, atau laporan misi yang diselesaikan para shinobi Konoha. Yang pasti, putra keturunan Hokage Keempat Namikaze Minato itu harus merampungkan pekerjaannya sebelum tanggal tutup buku tiba. Makanya, dia hampir tak bisa meluangkan waktu untuk berdua dengan Sasuke. Sehingga menumbuhkan rasa kesepian dalam hati lelaki bersurai raven.

Hari ini adalah satu malam musim dingin di bulan Desember. Naruto berjanji padanya untuk pulang jam 6 setelah pekerjaannya usai. Dan Sasuke tahu janji tersebut akan ditepati pacarnya apapun yang terjadi. Karenanya, ia mau masak besar. Berniat mengejutkan remaja blonde kesayangannyasaat pulang nanti. Berharap hasil karyanya ini dapat membuat Uzumaki senang dan bisa menghilangkan letihnya.

Dua panci kecil berisi saus niku tare dan soto taredi atas kompor sudah mengepul. Sang penerus Uchiha terakhir mematikan api dan mengaduknya perlahan. Begitu mencicipi rasanya telah pas, ia menuangkannya ke dalam dua mangkuk kecil. Lalu membawanya ke atas meja makan yang ditengahnya ada alat pemanggang kecil dari arang. Kemudian kembali ke counter dapur mengambil piring berisi irisan daging sapi, serta piring ceper tempat daun selada segar, irisan bawang, dan tomat. Menyajikannya di meja bersama nasi dan minuman hangat.

Sasuke mengembangkan senyum puas ketika melihat susunan makanan tersebut. Ia menghapus peluh di sisi wajah putihnya. Rupanya aktivitasnya ini cukup menguras tenaga. Sambil melepas celemeknya, Sasuke berlalu ke ruang tengah untuk menunggu kepulangan Naruto. Namun niatnya batal lantaran mendengar deritan pintu depan apartemennya terbuka.

"Tadaima..." suara familiar itu membahana dari ruang tamu.

Sasuke berbalik arah, menghampiri sosok jangkung yang berdiri di ambang pintunya. "Okae ri?" ia menjawab salam dengan mata membulat terkejut.

Lelaki berambut pirang cepak, menoleh sembari menutup pintu rapat. Bibir Naruto mengukir senyum, menjadikan guratan kumis kucing di muka tan-nya agak menebal. Mata Shappire-nya berbinar mendapati sang tambatan hati menyambut kedatangannya. "Hai, aku tidak terlambat, kan?" tanyanya kalem.

Iris hitam Sasuke mengerjap. "Kau potong rambut?" balasnya merujuk ke model rambut Naruto yang berbeda dari biasanya.

"Ooh ini," Hokage muda meraba kepalanya sambil nyengir. "Ya, aku ingin ganti suasana. Gimana menurutmu?"

Sasuke mendekat. Menilik penampilan Naruto lebih jelas. "...Lumayan," ucapnya mengangguk kecil.

Respon kaku itu memicu Naruto menyeringai ganjil. "Hmm, kenapa? Terpesona oleh ketampananku?" godanya.

"Ngaco," sahut Uchiha mendelik tajam. Berlawanan dengan ekspresinya yang bersemu tipis. Ya, batin Sasuke tidak sanggup menampik kebenarannya. Figure Naruto saat ini sangat seksi dan menawan.

Si blonde terkekeh geli. "Syukurlah, aku tidak telat lagi," katanya begitu melihat jam dinding. Pukul 6 tepat. Bila lewat sedikit saja, berarti sudah masuk kategori terlambat.

"...Hampir. Baguslah kau menepati janjimu," jawab Sasuke tersenyum ejek.

Pelipis Naruto berkedut. "Dasar. Apa kau tahu seberapa susahnya aku berusaha memenuhi janjiku padamu, Teme? "

"Makanya aku memujimu, Dobe."

"Gezz," Uzumaki menghela nafas. Mulai melepas sepatu dan mantelnya bergantian. "Baiklah aku mengaku. Sebenarnya pekerjaanku sudah selesai kemarin, dan tadi aku pulang dua jam lebih cepat. Tapi karena ada perlu dengan Hinata-chan, jadinya aku baru datang sekarang."

Sang raven mengerutkan alis curiga. "Kau sengaja pulang jam segini untuk menghabiskan waktu bersama gadis Hyuuga itu?"

"Jangan cepat cemburu, Teme. Ini tidak seperti yang kau duga," sanggah Naruto.

"Aku tidak cemburu, Dobe!" bantah Sasuke melotot kesal.

"Ya, ya," pemuda sunkiss menarik pinggang ramping uke-nya. Mendaratkan kecupan singkat di pipi kirinya sayang.

"Lalu, mengapa kau bertemu dia?" Sasuke balas melingkarkan lengannya ke sekeliling bahu Naruto.

"Hanya ingin mengobrol saja," gumam Hokage seraya mengendus wangi papermint dari ceruk leher kekasihnya. Kedua tangan besarnya meraba punggung Uchiha pelan. Sebisa mungkin, Naruto tidak ingin memberitahu apa isi pembicaraannya dengan Hinata. Dia tidak mau mengundang kesalah-pahaman.

"Mm, kau bau keringat, Dobe. Bersihkan dirimu dulu," tahan Sasukemenghentikan gerakan seduktif tersebut.

"Nanti saja," namun sang dominan malah mengeratkan pelukan mereka. Memerangkap tubuh langsing itu dalam kehangatan badan kekarnya. "Aku sangat merindukanmu Sasuke. Aku rindu sentuhan dan rasamu," bisik Naruto menjilat sebelah kuping telinga pacarnya sensual.

"Hnngg," Sasuke mendesah lirih untuk meredam getaran dalam dada yang muncul tiba-tiba. Tangannya mencengkram lengan Naruto kuat. "He-hentikan, kau bisa membuat masakanku dingin."

"He-?" kalimat itu langsung mengalihkan fokus Naruto. Dia melonggarkan rengkuhan dan menatap Sasuke kejut. "Kau sudah masak makan malam?"

"Hn, yakiniku."

Senyum sumringah langsung terbentuk di bibir Uzumaki. "Wohoo, pesta yakiniku berdua~" dia kembali mencium pipi Sasuke mesra. "Arigatou, Suke-chan."

Membuat Uchiha membuang muka tersipu malu.

Dengan antusias, Naruto berlari masuk ke kamar mandi. Selagi menunggu doi-nya selesai, Sasuke kembali ke ruang makan untuk menyalakan arang dan memanaskan alat panggangan. Beberapa menit kemudian, Naruto muncul dalam balutan kaus coklat tua selengan siku dan celana krem pendek. Ikut duduk di kursi yang berada di seberang Sasuke. Melihat makanan yang tersuguh di hadapannya, iris biru Hokage muda terus mengerjap senang. Tidak sabar ingin segera menyantapnya. Aah, calon istrinya ini memang sangat perhatian. Tahu bagaimana cara melepas penatnya.

"Tahan Dobe. Biar aku yang memanggang dagingnya. Kalau kau yang melakukannya bakal hangus nanti," Sasuke menyentak tangan Naruto yang hendak menyumpit seiris daging sapi. Ia mengambil alih kerjanya. Mencelupkan sejumlah potongan daging ke saus niku tare, dan meletakkannya di atas alat panggang.

Naruto menyipitkan mata ngambek. "Kau jahat sekali..."

"Hentikan sikap kekanakanmu!" sambil menanti makanannya matang, Sasuke menuangkan teh hangat ke dua gelas untuk diminum masing-masing.

"Suke..."

Suara berat yang terlantun dari arah depan, membuat Uchiha mendongak. Memandang Naruto yang ternyata balas menatapnya lurus. Bibir yang sering mengumbar senyum itu kini mendatar. Raut wajah tan-nya nampak kalem, tapi terkesan serius seolah ingin mengutarakan hal penting. Membuat sang raven heran.

"...Apa?" tanya Sasuke sesudah menaruh segelas teh di depan Naruto.

Uzumaki diam sejenak sebelum berujar tegas. "...Ayo kita tinggal bersama."

Ucapan tadi menimbulkan keheningan sesaat terjadi di antara keduanya. Sasuke melebarkan kelopak matanya sebentar sebelum berujar, "...kenapa tiba-tiba-?"

"Aku menginginkannya," Naruto menyela. Tetap memaku tajam ke manik Onyx kekasihnya. "Sudah lama kita menjalin hubungan, tapi kita tinggal berpisah. Bukankah menurutmu merepotkan terus pergi menghampiri apartemen satu sama lain?"

"Jadi, selama ini kau kerepotan saat harus datang ke tempatku?" duga Sasuke.

"Tidak juga, hanya saja aku ingin kau selalu ada di sisiku," sangkal Naruto. "Aku ingin tiap pagi ketika aku bangun, kau yang pertama kali kulihat. Selalu menyambutku saat aku pulang bekerja dan memelukmu sepanjang malam waktu aku tertidur," terangnya. "I wanna be with you, Suke... always and forever until I die..."

Ungkapan tersebut membuat Sasuke terperanggah. Walau ia tahu seberapa besar rasa cinta Naruto kepadanya, ia tidak habis pikir jika pacarnya itu juga berpikiran sama dengannya. Memang selama ini Sasuke juga ingin tinggal bersama sang terkasih. Tetapi ragu mengatakan karena dirinya takut apa pendapat orang-orang kalau Naruto setuju. Sebab, masih ada sebagian warga Konoha yang belum bisa menerima keberadaannya kembali ke desa ini seperti Sakura dkk. Dan pastinya mereka tidak mau sang Hokage terlalu dekat dengannya. Makanya Uchiha terus menahan diri untuk tidak mengutarakan keinginannya tersebut. Baginya, biarlah mereka tinggal berpisah. Asal ikatan antara dirinya dan Naruto tidak pudar.

Satu tangan Sasuke terkepal. Sambil menundukkan kepala sedikit, ia mencoba menjawab pernyataan Naruto. "Naru-aku..."

"Jangan menolak, Sasuke," Naruto mencegah Sasuke berkata lebih lanjut. Gestur ragu pemuda ramping itu memberitahunya kalau akan ada penolakan. "Walaupun kau tidak mau, aku akan memaksa agar kau menuruti keinginanku," tukasnya.

"Mengapa ?" Sasuke mendongak, menatap Naruto getir. "Kau tahu kalau sebagian warga Konoha belum bisa menerimaku, kan? Mereka tidak akan membiarkanmu terlalu dekat denganku meski kita sudah menjalin hubungan," tuturnya.

"Ooh, jadi itu alasannya..." Naruto tersenyum miring. Menyandarkan punggung di kursi sembari melipat kedua tangan depan dada. "Tidak biasanya kau memikirkan pendapat orang lain, Suke."

"Kasus ini berbeda dengan yang lain. Ini menyangkut nama baikmu di mata masyarakat," sergah Sasuke menyorot kesal.

"Aku tidak peduli," Naruto menekankan suaranya. Shappire-nya mengkilat dingin. "Sama seperti katamu beberapa waktu lalu. Bagiku asal kau ada di sampingku, aku tidak perlu mengurusi hal-hal yang lainnya."

"..."

"Atau... kau memang tidak mau tinggal bersamaku?"

Sasuke menggeleng pelan. "...bukan, aku mau tapi-"

"Kalau begitu, ayo kita lakukan," Uzumaki bangkit dari duduknya. Memutari meja dan berdiri di samping kanan Sasuke. Dia berlutut, menyentuh sebelah tangan milik belahan hatinya lembut. "Buanglah keraguanmu, Suke. Aku sangat ingin berbagi hidupku denganmu..." ucapnya memandang teduh.

Tidak kuasa menolak lagi, akhirnya Sasuke luluh. Ia menganggukkan kepala setuju, membuat Naruto memunculkan cengiran lebar. Lelaki blonde segera memeluknya erat. Mencium ceruk lehernya penuh sayang.

"Arigatou, Suke-chan..."

"Hn," Sasuke menutup mata tersenyum kecil. Tidak apa-apa. Semua pasti baik-baik saja. Karena Naruto akan selalu ada di sisinya apapun yang terjadi.

Nggiiiiikkk!

"Ng? Suke, bunyi apa itu?" telinga Naruto terasa gatal akibat bunyi mendengung yang mengganggu acara keromantisan mereka. Dan mendadak, hidungnya mencium bau tidak sedap. "Kok, ada bau hangus?"

Mendengar itu, Sasuke langsung mendorong Naruto menjauh. Ia menoleh ke arah alat panggangan di tengah meja. Ouch, daging-daging sapi yang dimasaknya kini berwarna coklat kehitaman dengan asap kelabu mengepul pekat.

"Dobe, dagingnya gosong!"

"Uwaahhh! Gimana nih Sasuke?!"

"Ini gara-gara kau membahas hal serius! Aku jadi lupa, kan?"

"Kok, aku yang salah?!"

"Memang kau, usuratonkachi!"

"Tegaa!"

.

.

.

.

End

.

.

.

Nyehehe... #tawangakak

Arigato bagi kalian yang mengikuti kelanjutan fic ini ^_^*