Chap 7. Aku Hanya Ingin Bahagia

.

.
Diruang keluarga kediaman keluarga lee songhyun, terdengar tawa bahagia, mereka berbicara dan menceritakan pengalaman perjalanan, memberi kabar perkembangan bisnis dan anak paling kecil dikeluarga itu.

Mereka berkumpul ada ayah dan ibu dari stella istri lee songhyun.
Membawa banyak hadiah dan oleh oleh dari perjalanan bisnis mereka untuk sang cucu.

Nyonya cho ibu stella terlihat berbinar melihat cucu kesayangannya "Bukankah dia sangat pantas dengan baju ini?"

"Benar dia sangat cantik, " stella tersenyum, setelah memakaikan baju yg diberikan oleh ibunya untuk anaknya "berputar lah kyunie"

Kyuhyun anak terkecil dirumah itu berputar, untuk memperlihatkan pakaian yg dia pakai.

Mereka terlihat kagum, anak itu memakai gaun berwarna pink, seperti pakaian yg dipakai oleh boneka barby.

Memeluk sang nenek, "Telimakacil nenek " dan nenek membalas dengan ciuman sayang dipipi sang cucu.

"Kau sangat cantik sayang"

"Dan sekarang kyunie bukalah oleh oleh kakek" tuan cho memberikan kotak dibungkus kado berwarna ping kepada kyuhyun.

Melihat bingung, tapi kemudian tersenyum, kyuhyun menghampiri sang kakek dan berniat mengambil bungkusan kado yg dipegang kakeknya.

Menatap kado yg dipegang tuan cho dan membulatkan matanya, ada kekaguman disana "Wahh becal cekali... Apa ini kek?"

Tuan cho memberikan kado itu kepqda kyuhyun untuk dibukanya, terlihat bungkusan kado itu lebih besar dari kyuhyun.

"Bukalah sayang" berbinar, kyuhyun cepat membuka setelah tuan cho memberikan ijin, dibantu oleh sang umma karna dia tak bisa membukanya sendiri.

"Waahhhh... Boneka Ini sangat becaallll" kyuhyun terkagum melihat boneka hello kitty yg sangat besar, besarnya melebihi dirinya.

"Kyunie suka?"

"Cuka cekali kakek, telimakacih" kyuhyun langsung memeluk sang kakek, dan kakek membalas dengan senang hati.

.

.
Jalan dikomplek perumahan besar itu sangat sepi, tak ada yg berjalan kaki disana, biasanya penghuni komplek perumahan mewah itu keluar dengan mobil.

Udara siang ini juga sangat panas, mengingat ini sedang musim panas, matahari juga sudah berada ditengah langit.

Anak kecil berumur empat tahun berjalan kaki sediri dikomplek perumahan itu, bersenandung tak jelas untuk menghilangkan kesunyian, melompat lompat kecil memberitahukan jika dia sedang bahagia.

Anak itu habis dari taman didekat komplek perumahan, tak banyak yg bermain mengingat ini diperumahan besar dan hari ini juga sangat panas.

Dia bermain sendiri, bermain pasir yg ada ditaman, menggambar abstrak sambil bercerita tentang gambarnya.

Setiap pagi menjelang siang anak itu akan keluar dari rumah untuk bermain, orang yg dirumah menyuruhnya, semua itu rutin dia lakukan ketika umurnya memasuki empat tahun.

Anak itu biasanya akan pulang ketika siang meredup, karna pulang siang pun percuma tak akan terbuka pintu gerbang besar dirumahnya, tapi hari ini dia sungguh sangat lapar, jadi dia pulang untuk makan, dan berharap pintu besar itu terbuka.

Wajahnya berbinar ketika pintu besar itu terbuka sedikit "wahh hae bica macuk dali situ" terkikik sendiri, dia melangkah cepat, 'sungguh dia sangat lapar, biasanya perutnya tak selapar ini meski sampai sore dia bermain'.

Berlari menuju dapur lewat pintu belakang, tujuan cuma satu 'makanan'.

Dapur itu sepi, dia sangat beruntung akan hal itu, dan samar samar dia mendengar tawa dari ruang keluarga.

Entah mengapa, langkah kakinya berjalan sendiri, melupakan rasa laparnya, anak itu menuju sumber kebahagiaan.

Dia berhenti, ketika melihat kebahagiaan yg berada didepannya, berdiri ditempat biasa dia melihat kebahagiaan keluarganya diruang keluarga.

Ada keluarganya sedang tertawa bahagia, adiknya sedang memeluk boneka duduk didekat ibunya, yg sedang memperlihatkan beberapa mainan kepada adiknya, adiknya memakai baju yg sangat cantik, dia menatap bajunya, melemas bajunya sangat kotor dan celananya pun sudah sobek, dia iri dan dia ingin mempunyai baju seperti adiknya, ada ayah, kakek dan juga neneknya, mereka terlihat bahagia.

Menghela nafas, semua hanya angan untuk donghae, wajahnya masam, dia sungguh ingin berada diantara mereka.

"Apa yg kau lakukan disini?"

Donghae menaikan wajahnya, mendongak melihat maid yg tadi bertanya padanya, entah sejak kapan maid itu ada dihadapannya.

"Hae lapal ajuma"

Maid itu memutar malas matanya, "dari mana kau masuk? "

"Pintu telbuka tadi, hae macuk dali pintu becal"

"Baiklah ikut kedapur, ini hari beruntung mu karna tuan siwon tak ada disini"

Donghae mengikuti maid yg berjalan didepannya, dia melirik keruang keluarga, sungguh dia ingin berada disana.

.

.

AKU HANYA INGIN BAHAGIA...

.

.

Udara pagi ini sangat sejuk, menikmati pagi sambil berolah raga, siwon berlari untuk menyagarkan tubuhnya, dia berlari disekitar rumahnya, dia tak perlu keluar untuk berlari, karna halaman rumahnya sudah sangat luas.

Melihat jam ditangannya, 'saatnya dia bersiap siap untuk kekantor' tersenyum siwon meninggakan halaman rumahnya dan masuk kedalam rumahnya.

Berhenti didepan pintu donghae, semalam mereka berdua tidur terlalu larut karna donghae sungguh banyak bicara.
Siwon tersenyum menatap pintu donghae "mungkin lain kali aku akan mengajaknya berolah raga"

.

.
Pusat perbelanjaan terbesar disoul itu terlihat ramai dengan pengunjung, pakain dan makanan bahkan tempat hiburan ada didalamnya.
Jung mall adalah mall terbesar di korea, milik keuarga jung, sudah banyak cabang di berbagai kota dikorea dan beberapa di negara tetangga.

Jung yunho adalah anak dari sang pemilik, pria tampan bermata musang, pemilik bibir hati, badan putih dan bertubuh tinggi meski tak berotot.

Pria itu berjalan, diikuti oleh beberapa karyawan berjabatan tinggi dimallnya, para karyawan menunduk hormat padanya.
Dia hanya ingin mengecek keadaan dan pelayanan di mallnya.

Langkahnya terhenti ketika melihat pria paruh baya dihadapannya, pria itu tak lagi muda dan ada rambut putih dikepalanya, pria paruh baya itu tersenyum melihat betapa gagahnya jung yunho yg berdiri tak jauh darinya.

.

.

Ruang rapat itu ramai dengan suara tepuk tangan, mengagumi seorang pria tampan yg selesai dengan presentasinya, dia seorang ceo tapi dia harus memperestasikan hasil kinerjanya kepada para pemilik saham dan sang presedir.
Semua terkagum dengan pencapaian siwon, selama menjabat sebagai ceo, pria itu membuat kenaikan penjualan dan memberikan banyak keuntungan.

"Kau sungguh luar biasa siwon"
Pria paruh baya, menepuk pundak siwon dan memberikan rasa kekaguman nya pada pria yg kini berdiri dihadapannya

"Trimakasih"

.

.
Donghae sedang berjalan mengelilingi rumah keluarga choi, dia sungguh bosan karna ketika dia bangun tadi sudah tak ada orang dirumah besar itu, hanya para maid yg sibuk dengan kegiatannya masing masing.
Ini masih siang, dia hampir mati jenuh karna tak ada satupun yg bisa dia kerjakan
Biasa bekerja dirumahnya dulu, disini dia tak melakukan apapun, awalnya menyenangkan, tapi setelah tiga hari tinggal, ini sungguh menyebalkan untukknya.

"Apa yang harus aku lakukan disini?"

Menatap jenuh pada lapangan luas dibelakang rumah ini, dia sungguh sangat jenuh.

Matanya membulat ketika melihat nara berjalan didepannya, nara sedang membawa vas bunga ditanganya, donghae tersenyum, setidaknya dia memiliki teman sekarang.
"Naraa" donghae memanggil nara, dan menghampirinya ketika nara melihatnya.

.

.
Yunho duduk disofa ruangannya, menyilangkan kakinya, menatap angkuh pria paruh baya yg ada dihadapannya "Apa yg kau lakukan disini?"

Pria itu hanya tersenyum "melihat anakku, seperti apa dia sekarang, karna aku merindukannya"

Yunho memutar malas matanya "sudah 4 tahun kau meninggalkan anak mu, dan kau bilang kau baru merindukannya, menggelikan"

"Aku merindukannya dari awal aku meninggalkannya"

"Lucu sekali" yunho tertawa meremehkan

Pria paruh baya itu menghela nafas, dia terlihat lelah, menyandarkan tubuhnya disofa yg ada dihapan yunho "tidakkah kau terima saja kepulanganku yun, aku sedang tidak ingin berdebat"

Menatap tajam pria yg dihapannya"aku tak ingin berbaikan denganmu"

Pria itu terkekeh "kau tetap tak berubah"

Menatap jengah pria yg dihapannya "kau kembali, sudah kau temukan yg kau cari?"

Pria itu menggeleng"sangat sulit menemukannya"

"Kau memiliki namanya, tapi mengapa kau tak menemukannya?"

Pria itu menatap jengah yunho "Aku hanya tau nama ibunya, tidak anaknya," menghela nafas kembali "Itu sangat sulit yun, tidak semudah perkiraan mu"

"Kau payah"

Pria paruh baya itu mengangkat bahunya acuh, yunho menyandarkan tubuhnya disofa, menyilangkan kedua tangannya.

"Apa perlu aku membantu mu?"

"Jika kau tak keberatan"

Yunho menatap serius pria paruh baya dihapannya."Tapi ada syaratnya"

"Apa?" pria itu mengangkat satu alisnya, perasaan tidak enak melihat bagaimana pria muda dihadapannya melihatnya dengan tampang serius dan menakutkan.

"Yahh appa kembalilah keruamah, aku bosan hidup sendiri" suara yunho terdengar merajuk.

Ayah yunho, tuan jung yonchun pria paruh baya yg duduk didepan yunho tertawa.
"Berhenti merajuk, kau tak pantas melakukan itu diusiamu yg sekarang yun"

"Aku tak perduli selama kau bisa kembali kerumah"

Yonchun berdiri menghampiri anaknya, dan memeluknya ketika anaknya ikut berdiri"aku merindukanmu yun"

Yunho membalas pelukan appanya yg pergi setelah sang ibu meninggal karna sakit, mencari seseorang yang membuat hidup yonchun resah selama beberapa tahun, tak bisa mencarinya ketika sang istri hidup karna takut menyakitinya, tapi sang istri justru marah padanya karna dia baru tau dihidupnya yg tak akan lama lagi.

Ibu yunho bilang, mengapa tak memeberi tahu dari awal, dia akan menerima dan tidak akan marah jika orang itu hadir diantara mereka.

"Aku juga merindukanmu appa"

.

.

Berada diruang kerjanya, siwon terlihat sibuk dengan beberapa pekerjaannya, sudah sore ketika dia mendapat pesan yg membuat dirinya tersenyum.

From: my bumie

'Kau bilang akan menjemputku hari ini, aku menunggu mu dikampus, jangan telat, atau akan ada yg menggantikan mu menjemput ku'

Siwon terkekeh membaca pesan dari yg terkasihnya.

To: my bumie

'Tak akan ku biarkan orang lain membawa my princess, oleh karena itu aku akan berangkat setelah ini'

Siwon merapikan mejanya, hari ini dia ada janji dengan kekasihnya, menjemput dan mengantarkan kebutik sahabatnya kim heechul.

.

.
Donghae terlihat serius, dia sedang sibuk memotong dan merapikan tangkai bunga untuk dimasukkan didalam vas.
Sudah lebih dari dua jam dia menekuni pekerjaannya itu, selesai satu dia akan membuatnya lagi.

Nara dan maid yg lain yg sudah beberapa kali melewati donghae hanya bisa menggelengkan kepal.
Rumah ini sangat luas, dan tadi ada banyak kiriman bunga dari kekasih henri.
Entah untuk merayakan apa, jadi hasilnya bunga harus segera diletakkan di vas bunga sebelum layu.
Donghae tak mengijinkan satupun yang membantu dia, setelah tadi diajari oleh nara cara meletakkan bunga didalam vas, jadilah sekarang dia yg melakukannya sendiri tanpa mau dibantu oleh siapapun.
Donghae menyukai bunga, jadi donghae senang menatanya.

"Kau tidak lelah nona?"

Donghae menatap nara yg berdiri dihadapannya, tangannya masih sibuk dengan bunga., dia tersenyum.
"Aku belum lelah nara, dan aku menyukainya, jadi kau kerjakanlah pekerjaanmu"

Nara tersenyum, berpamitan setelah memberi hormat kepada donghae.

.

.
"Bagaimana, kau menyukainya?"

Kibum tersenyum, menatap dirinya dicermin, dia sedang mencoba gaun yg dibuat oleh heechul khusus untuknya.

"Aku menyukainya, kau memang yg terbaik dalam hal ini unnie"

"Aku tau itu" heechul tersenyum, dan melihat keseluruhan, dari atas sampai bawah gaun yg digunakan oleh kibum.
"Kau berputarlah dulu kibum"

"Baiklah" kibum berputar secara perlahan, heechul memperhatikan seluruhnya. Semua terlihat pas dan indah.

Heechul terlihat puas"baiklah, kuharap kau akan memakainya dipesta Ulang tahunku"

"Bukannya itu tujuanku minta dibuatkan gaun baru pada mu"

Mereka berdua terkekeh, "besok kau berangkat bersama ku, kita akan memberikan kejutan untuk para pria" kim heechul berbicara, ketika dia akan kembali duduk dibangku kerjanya.

"Baiklah, ku harap mereka tak akan pingsan melihat kita"

Heechul menatap kibum, yg sedang bercermin diruang kerja heechul, dan terkekeh.

.

.
.

Melihat lihat sekeliling butik heechul, dia hanya berjalan jalan mengelilingi butik yg berisi gaun untuk wanita, dia sungguh bosan, salahkan kekasihnya yg tak mengajaknya masuk kedalam ruangan sahabatnya.

Siwon menghela nafas, menatap ruangan heechul masih tertutup rapat, entah apa yang sedang mereka bicarakan.

Siwon kembali melangkah, hingga pandangannya terhenti pada gaun pendek berwarna biru langit, entah mengapa gaun itu mengingatkannya pada seseorang.
Sangat cocok digunakan oleh tamu yang ada dirumahnya, mengingat tamu itu suka sekali menggunakan dress selutut.

Tersenyum, 'tak ada salahnya membelikan satu baju untuk wanita yg ada dirumahnya.'

.

.
Donghae sedang berdiri menatap foto besar diruang keluarga, foto keluarga choi, ada siwon disana, terlihat sangat tampan dengan jas hitamnya.

Entah sudah berapa lama dia berdiri, setelah meletakan semua vas bunga pada tempatnya, donghae berdiri disini setelahnya.
"Hufs.. Aku sangat merindukan siwonie.."

.

.
"Kau membeli sesuatu?"

Siwon tersenyum "hmm.. Baju untuk tamu ku"

Kibum terkekeh, dia berjalan disamping siwon menuju mobil, ini sudah malam, dan mereka butuh makan setelahnya.
"Tamu? Teman kecil mu itu?"

Siwon mengangguk, membukakan pintu untuk kekasihnya.
"Besok ulang tahun heechul, dan dia mendapat undangannya"

Menutup pintu setelah kekasihnya masuk, dan dia berjalan untuk membuka pintu sebelahnya untuk duduk dikursi pengemudi.

"Tadi heechul unnie tak bilang sesuatu padaku, ku kira mereka belum bertemu"

Siwon menatap kibum, tersenyum setelah menyalakan mobil.
"Aku mengajaknya kecafe jaejong ketika awal kedatangannya, mungkin dia lupa memberitahu"

Kibum mengangguk. "Besok aku akan berangkat bersama heechul unnie dan jaejong unnie, kau berangkatlah bersama teman mu"

"Kau tidak cemburu?" siwon menggoda

Mengangkat bahu, kibum mentap kekasih yg sedang mengemudi.
"Mungkin, tapi heechul unnie memaksaku untuk datang lebih awal kepesta"

"padahal aku ingin berangkat bersamamu " siwon memasang wajah memelas.

Kibum terkekeh, "kau tak pantas dengan wajah seperti itu,"

.

.
Ini sudah malam, ketika donghae sedang menikmati udara malam ditaman belakang, duduk dibangku ayun, menatap langit sambil bersenandung.
Dia tersenyum, dia sangat menyukai bintang bintang diangit.
Sudah jam 9 malam tetapi rumah itu masih saja sepi, entah kemana mereka semua.

.

.
Pintu garasi terbuka, ketika mobil siwon masuk, membuka pintu setelah mobil terparkir dengan rapi.
Dia keluar ditangannya ada tas kerja dan tas berisi pakaian yg tadi dia beli ditempat heechul.
Dia tersenyum ketika maid menyambutnya setelah membukakan pintu rumahnya.
"Appa dan umma sudah pulang?" Siwon membuka sepatu rumahnya, dibantu oleh maid.

"Belum tuan, mereka akan pulang larut malam ini"

Siwon mengangguk, setelah mengganti sepatu dengan sendal rumah "lalu henri?"

"Nona juga belum pulang tuan"

Siwon menatap maid yg berdiri disampingnya "lalu dimana donghae?"

"Nona donghae ada ditaman belakang tuan"

Siwon tersenyum, "baiklah, siapkan air hangat untuk aku mandi, dan letakkan tas ku dikamar" siwon memberikan tasnya kepada maid yg berdiri disampingnya, dan maid menerimanya "aku akan bertemu donghae terlebih dahulu"lanjutnya.

"Baik tuan"
Maid pergi setelah meminta ijin kepada siwon.
Siwon tersenyum melihat tas berisi pakaian ditanangannya "ku harap kau menyukainya"

.

.
Donghae sedang bersenandung ketika terhenti setelah melihat siapa yg melangkah kearahya, dia memberi senyum bahagia diwajahnya, berdiri kemudian menghampri cepat siapa yg sedang berjalan kearahnya.
"Siwoniee.. Aku merindukanmu"
Donghae memeluk siwon, dan siwon tersenyum menerima pelukan donghae.

"Aku juga merindukan mu hae"

Melepaskan pelukan bersama mereka saling menatap dan tersenyum.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku sedang melihat bintang, mereka sangat indah"

Siwon tersenyum dan menatap langit"mereka memang sangat indah"

Donghae mengikuti jejak siwon, melihat bintang dilangit.

"Kemarilah" siwon menarik tangan donghae untuk mengikutinya mereka duduk diayunan yg tadi diduduki oleh donghae.

Siwon memberikan tas belanjaan kepada donghae setelah mereka duduk, donghae hanya menatap bingung siwon.

Siwon tersenyum melihat wajah donghae yg sangat polos seperti anak kecil.
"Bukalah, ku harap kau suka, aku ingin kau memakai ini diacara ulang tahun heechul besok"

Dengan ragu dia membuka, dan berbinar ketika melihat dan menaikkan isinya.
Gaun cantik berwarna biru langit, "wahhh cantik sekali.. "

"Kau suka?"

menatap siwon penuh binar."aku sangat suka, terimakasih siwonie" donghae langsung memeluk siwon.

Siwon tertawa, donghae benar benar seperti anak kecil, dia sungguh lugu dan polos.

Siwon membalas pelukan donghae, "aku senang jika kau senang hae"
Mengelus rambut donghae, siwon menyayangi donghae seperti dia menyayangi adiknya.

Donghae merasa nyaman, dia sungguh menyukai perlakuan siwon padanya, sesuatu yang tak pernah dia dapatkan sebelumnya.

.

.
Ruang makan dirumah keluarga choi kini terlihat ramai, mereka sedang makan bersama, ada nyonya dan tuan choi beserta kedua anaknya, ini hari sabtu, jadi tak perlu terburu untuk sarapan.

"Kudengar kemarin banyak bunga yang datang?" leetuk bertenya, setelah menyiapkan makanan untuk sang suami.

Menjawab malas, henri fokus dengan makanan dihadapannya "zoumi oppa yg memberikan, aku sedang marah padanya"

Mereka terkekeh, "kau selalu seperti itu, kali ini kau marah karena apa?" siwon duduk disamping henri, bertanya pada sang adik, ada nada mengejek dikalimatnya.

Menatap jengah sang kakak "bukan urusan mu" henri mempotkan bibirnya.

Kangin menggelengkan kepalanya, "kau itu kebiasaan, nanti kalau zoumi pergi kau akan menangis seperti anak kecil"

"Yak appa"
Ruang makan itu menjadi ramai, mereka tertawa melihat anak gadis dimeja makan itu merajuk.

Hingga tawa mereka terhenti ketika donghae berjalan menghampiri mereka, terlihat terkejut, karna baru kali ini donghae bangun pagi.

Leetuk yg pertama tersenyum "kau sudah bangun hae?"

Dongae mengangguk, "iya ajuma"

"Duduklah" leetuk mempersiahkan donghae untuk duduk disampingnya.

Dia duduk disamping leetuk, berhadapan dengan siwon yang sedang tersenyum kepadanya.

"Ada angin apa nona besar bangun sepagi ini, biasanya dia akan bangun disiang hari seperti putri tidur"
Henri fokus dengan makannya, menyindir, ada nada tak suka dikalimatnya.

Donghae menatap bingung henri 'apa yg dibicarakannya?'.
Siwon menatap tak percaya, sang ibu menatap tajam.

"Jaga ucapanmu henri"
Kangin mengintrupsi, dia tau sebab nya, diberi tahu oleh sang istri.

Memutar malas matanya, henri menyudahi makannya.
"Aku selesai"

Leetuk melihat henri yg hendak berdiri"Habiskan dulu makananmu henri"

"Nafsu makanku hilang"

Henri pergi setelahnya, nyonya dan tuan choi mengela nafas, siwon menatap penuh tanya.
"Ada apa dengannya?"

Leetuk berusaha tersenyum "tidak ada masalah apa apa, kau makanlah"

Menatap donghae yang masih memproses, leetuk menyentuh lengannya "kau juga makanlah, ku harap tak kau masukan kedalam hati, aku minta maaf atas nama henri"

Metap leetuk, donghae mengangguk, meski kenyataannya dia tak mengerti apa yang barusan henri katakan.

.

.

Tok tok tok.

Siwon berdiri didepan pintu henri, mengetuk berharap sang adik mau membuka.

"Masuklah~" suara henri terdengar dari dalam, siwon tersenyum dan membuka kamar adiknya, dia tersenyum melihat adik sedang duduk didepan meja, ada laptop menyala dihadapannya.

"Apa aku mengganggu mu?"
Siwon bertanya setelah duduk dipinggir kasur, dekat dengan bangku yg diduduki oleh henri.

"Tidak, ada apa oppa kemari?"

"Kau ada masalah?"

Henri mnatap kakanya yg duduk dikasur"apa aku seperti orang bermasalah"

Siwon mengangguk "kau tak sopan dimeja makan tadi, meninggalkan meja makan sebelum appa beranjak, dan tak menghabiskan makananmu"

Menghela nafas, henri kembali fokus pada laptopnya
"Aku hanya malas bertemu dengannya"

Siwon mengkerutkan keningnya"Siapa yang kau maksud? Donghae"

"Hmm.."

"Kenapa?"

Menghentikan ketikannya, henri kembali menatap sang kakak.
"Kau tau mengapa dia datang kesini?"

"Untuk berlibur"

"Sudah ku duga kau berfikiran seperti itu"

"Maksudmu?"

"Dia kemari, karna umma ingin menjodohkan kalian berdua"

Siwon membulatkan matanyanya, dia terkejut "APA?"

.

.

Tbc.