Is that you?
By : Chocolate Bubbletea
Disclaimer : Semua karakter disini bukan milik saya. Saya cuma numpang pinjam nama.
Pair : Kaihun. Taohun. Slight! Kray.
Rate : T
Warning : Boys Love, OOC, Typo, dan masih banyak lagi
oOo
Chapter 6
oOo
Harus Sehun akui, ia tengah benar-benar terpesona saat ini. Bagaimana tidak? Tarian indah yang di tunjukan teman-teman satu clubnya benar-benar membuatnya tidak berkutik. Setiap tarian yang di tunjukan teman-temannya itu memiliki ciri mereka tersendiri sehingga membuat tarian mereka begitu indah dengan cara mereka sendiri. Namun satu dari semua tarian yang benar-benar membuat Sehun terpesona adalah tarian dari namja yang telah membuat jantungnya selalu berdetak lebih kencang dari sebelumnya jika ia berdekatan dengan namja tersebut.
Tarian Jongin.
Tariannya begitu indah. Caranya meliuk-liukan tubuhnya mengikuti irama. Semuanya sangat indah dan breath taking.
"Baiklah. Kalian boleh istirahat sepuluh menit! Setelah itu aku akan mengumumkan hasilnya." Ujar Kikwang setelah anggota terakhir menunjukan bakat tarinya.
Hari ini di club mereka melakukan tes untuk anak kelas satu. Dan bagi yang mendapat nilai paling tinggi maka ialah yang akan menjadi perwakilan anak kelas satu untuk mengikuti lomba yang akan di adakan sekitar dua minggu lagi.
Jika boleh jujur, Sehun sebenarnya tidak begitu yakin dengan kemampuannya sendiri. Ia tidak yakin akan lolos apalagi setelah melihat tarian teman-temannya. Terutama tarian Jongin. Tapi setidaknya ia harus mencoba untuk tetap optimis kan? Yaaa... walaupun ia sendiri tidak begitu berharap akan lolos.
Tanpa terasa waktu sepuluh menit yang diberikan Kikwang berakhir sudah. Semua anggota club sudah berkumpul dan duduk dengan manis. Kikwang menatap semua anggota clubnya satu per satu. "Baiklah. Aku akan mengumumkan siapa yang akan ikut dalam lomba. Bagi yang namanya dipanggil setelah club berakhir segera menghadapku." Ujarnya lalu ia pun melihat kertas yang tengah ia pegang.
Jantung Sehun berpacu dengan cepat. Keringat dingin mulai mengalir di tubuhnya. Ia benar-benar merasa deg-degan sekarang ini.
"Yang pertama adalah..." jeda Kikwang. Apakah ia sedang mencoba membuat suasana semakin tegang? Pikir Sehun. "Kim Jongin."
Aaah... Jongin. Tentu saja, namja tan itu pasti akan lulus. Lihat saja tariannya yang begitu flawless itu. Benar-benar indah.
"Dan yang terakhir adalah..."
Tunggu dulu? Jadi yang akan ikut serta dalam lomba kali ini hanya dua orang? Pikir Sehun. Sebelumnya ia berfikir mungkin setidaknya tiga orang yang akan ikut serta. Itu artinya...
"Oh Sehun."
Huh? Apakah Sehun tidak salah dengar. Bukan dirinya yang dipanggil kan?
"Setelah ini kalian berdua segera temui aku. Baiklah, untuk hari ini hanya sampai disini. Terima kasih banyak." Dan setelah itu semua anggota club pun meninggalkan tempat mereka. Terkecuali Sehun yang masih terdiam di tempatnya dan Taemin yang berada disampingnya itu melihatnya dengan aneh.
"Sehunnie, gwaenchana?" tanya namja manis itu khawatir.
"Gwaenchana."jawab Sehun mencoba meyakinkan temannya tersebut.
Sebenarnya jawaban Sehun tadi tidak begitu Taemin percayai terlebih keadaan Sehun yang seperti sedang panas dingin itu. Tapi ia membiarkannya saja, mungkin temannya itu sedang ada masalah atau... entahlah Taemin sendiri tidak tahu. "Kurae."
"Kalau begitu aku akan menemui Kikwang sunbae dulu."dan setelah itu Sehun pun beranjak dari tempatnya dan berjalan ke tempat Kikwang dan beberapa senior lainnya berada.
Kini Sehun dan Jongin -yang terlihat kembali memasang ekspresi datarnya itu sudah berdiri di hadapan Kikwang. Ketua club itu menjelaskan peraturan dan teknis dalam lomba yang akan mereka ikuti nantinya.
"Kalian mengerti?" tanya Kikwang dan baik Sehun maupun Jongin hanya mengangguk dan mengatakan 'iya'. Setelah itu Kikwang mempersilahkan Sehun dan Jongin untuk meninggalkan ruang club.
Di sepanjang perjalanan dari meninggalkan ruang club sampai ia pulang ke rumah, Sehun hanya terdiam. Di dalam pikirannya terus berputar 'Aku akan menari duet dengan Kai?' dan juga 'Bagaimana ini? aku tidak siap.'
.
.
.
Tatapan tajam. Geraman pada satu sama lain. Hal-hal berbau negatif yang terus di lakukan kedua namja berkulit tan tersebut membuat tiga namja –yang kembali- tidak tahu menahu dengan hal yang sebenarnya terjadi itu harus merasa tak nyaman. Dua orang yang seharusnya ada dan membuat suasana mengerikan ini menghilang entah berada dimana.
"Um... kalau aku boleh bertanya, kalian berdua ini sebenarnya kenapa?" tanya Baekhyun yang memberanikan dirinya untuk bertanya pada dua namja yang terlihat saling ingin membunuh itu. Terlebih dengan garpu yang mereka pegang dengan erat, membuat tiga namja itu harus menelan ludahnya keras.
Tak lama sosok namja manis bersurai coklat pun datang dengan langkah lemas. Wajahnya terlihat lesu. Namun mereka sama sekali tidak melihat sosok namja manis yang selalu ia seret-seret bersamanya.
Kemanakah perginya namja manis bernama Oh Sehun itu pergi?
Taemin mendudukan dirinya di dekat Jongin dan menatap kedua namja yang masih belum mau menghentikan acara tatap menatap geram itu. Ia menghela nafasnya panjang. "Bisakah kalian hentikan itu."
Namun ucapan Taemin tadi sama sekali tidak membuat mereka berhenti. Dan kembali Taemin menghela nafasnya panjang dan mulai memakan roti isi miliknya dengan lemas.
"Kau kenapa Taemin-ah? Lalu... kemana Sehun-ah? Apa dia tidak ikut makan dengan kita?" tanya Chanyeol sembari menengokan kepalanya ke kanan dan kiri mencari-cari sosok tinggi kurus Sehun.
Kembali Taemin menghela nafasnya. Ia memandang Chanyeol dengan tatapan sedihnya yang terlihat seperti anak anjing yang bersedih, sangat manis. Dalam hati tiga namja berstatus seniorya itu berteriak 'Aigoo.. manisnya. Ingin aku bawa pulang saja!'
"Hari ini Sehunnie tidak masuk sekolah... huee~" Taemin pun memeluk tubuh Jongin yang kebetulan berada di sampingnya.
"YA! Apa yang kau lakukan? Kau mengotori bajuku!" protes Jongin yang tidak terima seragamnya harus basah gara-gara tingkah kekanakan sepupunya itu.
Taemin yang terlihat cemberut diperlakukan dengan sangat tidak berprikesaudaraan seperti itu oleh Jongin pun beralih memeluk Chen yang juga ada di sebelahnya. Chen hanya bisa kalang kabut karena banyak murid yang melirik ke arahnya sekarang.
"Um... memangnya Sehun kenapa?" Baekhyun yang memang memiliki sifat mudah penasaran bertanya pada Taemin yang masih menangis sembari memeluk Chen.
"Sehunnie sakit..." ucap Taemin masih sembari sesenggukan.
Tao yang sedari tadi diam mendecih kesal mendengar penuturan Taemin. "Tentu saja dia sakit kalau harus hujan-hujanan hanya karena seorang namja sok tampan yang membuatnya berlari menerobos hujan." Ujarnya ketus sembari menatap Jongin dengan sangat tajam.
"SIAPA YANG KAU SEBUT NAMJA SOK TAMPAN EOH?!"bentak Jongin. Tao yang merasa tidak rela di bentak seperti itu oleh Jongin balik membentaknya sambil menunjuk tepat di wajah Jongin.
"KAU PIKIR SIAPA LAGI EOH?"
Mungkin mereka akan melakukan aksi saling memukul jika saja tidak ada Chanyeol yang memegangi tubuh Tao dan Taemin yang memegangi tubuh Jongin. Walaupun begitu kedua namja itu masih tetap menggeram pada satu sama lain.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih?" tanya Baekhyun semakin bingung.
.
.
.
Dokter bernama Lee Donghae kini tengah memeriksa keadaan seorang namja berkulit pucat yang terlihat enggan-engganan saat dokter tampan itu mengecek suhu tubuhnya. Wajahnya terlihat masam dan juga tatapan tidak senang yang ia tunjukan pada eomma dan hyungnya itu membuat ekspresinya semakin kacau –walaupun di mata kedua orang yang ia tatap itu ia justru terlihat manis.
"Kenapa eomma dan hyung sampai memanggil Donghae hyung sih? Dan lagi, kenapa hyung juga mau saja dipanggil oleh dua orang itu?" tanya Sehun masih dengan nada kesalnya. Donghae hanya tertawa mendengar penuturan Sehun, ia telah selesai mengecek keadaan namja manis itu.
"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai dokter pribadimu saja." Tutur Donghae. Ia pun mulai membereskan barang-barangnya. "Nah, kalau begitu aku pulang dulu. Istirahatlah yang cukup, mungkin besok panasmu akan turun dan kau bisa bersekolah kembali." Dan setelah itu sang dokter tampan pun berpamitan pada Nyonya Oh dan juga Kris.
"Sehunnie~ eomma hanya mengkhawatirkanmu chagi." Tutur sang eomma begitu melihat ekspresi Sehun yang masih masam itu. Yeoja itu terlihat mulai mengeluarkan air matanya karena putra bungsunya itu sama sekali tidak mempedulikan penjelasannya. "Yifaaan~" rengeknya pada sang putra sulung.
Kris menghela nafasnya dan tersenyum pada eomma tercintanya. "Biar aku yang bicara pada Sehunnie, eomma turun saja dulu ne? Bukankah sebentar lagi akan ada Fashion week yang akan eomma ikuti?"
Yeoja paruh baya itu pun mengangguk mengerti dan keluar dari kamar putra bungsunya itu dengan sedih. Kris hanya menggelengkan kepalanya saja melihat ekspresi yeoja yang paling ia cintai itu. "Sehunnie, jangan terus cemberut seperti itu. Nanti kau tidak akan manis lagi loh?" bujuk Kris pada sang dongsaeng tercinta, namun Sehun masih terlihat cemberut. "Baiklah baiklah... aku menyerah. Katakan apa maumu?"
"Aku ingin di traktir terus selama seminggu penuh!" baru saja Kris akan protes karena tidak terima jika uangnya akan habis sia-sia karena permintaan konyol dongsaengnya itu, Sehun sudah lebih dahulu memotongnya. "Kalau tidak aku akan terus marah pada hyung dan juga eomma!"
Bang. Kris tidak dapat berkutik mendengar penuturan Sehun. Sebenarnya ia tidak masalah jika dongsaengnya itu marah padanya, toh pada akhirnya ia juga akan bosan dan kembali lagi bersikap manja terhadapnya. Tapi eommanya?
Sehari saja Kris sudah sangat kewalahan karena yeoja paruh baya itu terus saja merengek padanya. Sekarang Sehun mengatakan ia akan terus marah pada eommanya. Itu berarti Kris akan terus menjadi pelampiasan rengekan eommanya disaat sang appa tengah berada di luar kota entah untuk berapa lama. Hell no!
"Baiklah baiklah. Hyung mengerti, tapi hanya satu minggu ne?"
Sehun pun mengangguk penuh semangat dan Kris harus meratapi nasib dompetnya yang akan tipis untuk setidaknya seminggu kedepan.
Setelah hyungnya itu keluar dari kamarnya, Sehun hanya bisa terdiam di ranjangnya sembari memperhatikan langin-langit kamarnya. Ia teringat kejadian kemarin saat ia dan Jongin melakukan latihan menari untuk kolaborasi menghadapi lomba nanti.
~FLASHBACK
Hari ini adalah hari pertama Sehun akan latihan menari bersama Jongin. Latihan pertama mereka dilakukan di rumah Jongin. Sebenarnya di rumahnya ada sebuah studio menari yang sengaja ia buat kalau-kalau ia ingin latihan namun setelah dipikir-pikir lagi lebih baik mereka latihan di rumah Jongin saja. Jika mereka latihan di rumahnya, entah apa yang akan dilakukan oleh eommanya pada Jongin nantinya. Ia tidak bisa membayangkannya.
Karena itulah, mereka sekarang tengah berada di gudang kediaman Kim dengan nafas tersenggal karena sudah dua jam lamanya mereka berlatih. Menyesuaikan gerakan tari yang sudah mereka buat kemarin. Dan juga mengetesnya apakah gerakan itu bagus atau tidak.
"Kai, kurasa aku akan pulang sekarang." Ujar Sehun saat ia rasa nafasnya sudah berjalan seperti semula.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu."
"Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri." Ujar Sehun sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jongin kini menatapnya dengan tatapan datar khas miliknya. Taemin pernah mengatakan padanya jika Jongin sudah menatap seseorang seperti itu, itu artinya ia tidak menerima penolakan atau apapun itu. Dan Taemin juga pernah mengatakan padanya agar menurut saja apa yang Jongin katakan saat ia menatapmu seperti itu, karena kalau tidak... entahlah, Taemin tidak pernah mengatakan konsekuensi jika Sehun tidak menuruti Jongin. Tapi ia yakin itu bukanlah hal yang baik.
Sehun hanya menghela nafasnya dan menurut saja. Dan setelah Sehun mengganti pakaiannya dan berpamitan pada Nyonya Kim akhirnya mereka berjalan berdua ke halte yang jaraknya cukup jauh. Sehun sebenarnya tidak mengerti saat tiba-tiba saja Jongin memegang tangannya. Tapi ia hanya terdiam saja karena Jongin masih memasang wajah datarnya dan ia masih ingat pesan Taemin padanya.
Jantung Sehun sudah berdetak cepat sekali semenjak Jongin memegang tangannya. Wajahnya sudah sangat memerah. Ditambah dengan tatapan orang-orang ke arah mereka, ini benar-benar memalukan.
"Kai." Ujar Sehun pelan sekali namun masih dapat Jongin dengar.
"Jongin..."
Huh? Apa yang tadi dikatakannya? Sehun menatap ke arah Jongin dengan tatapan bingung. Jongin tiba-tiba saja berhenti dan kini menatap Sehun dalam.
"Mulai saat ini kau harus memanggilku Jongin." Ultimatumnya. Dan reaksi yang dapat Sehun berikan hanyalah terdiam dengan wajah terkejutnya yang –menurut Jongin *dan saya* sangatlah manis.
Dan setelah itu Jongin kembali berjalan dengan sedikit menyeret Sehun. Persis seperti apa yang selalu dilakukan sepupunya. Sedangkan Sehun masih bengong. Dalam pikirannya terus berputar 'Apa yang sebenarnya terjadi disini?'
Sehun hanya bisa bengong sampai tiba-tiba saja ia melihat dua orang yang sangat ia kenali berada di ujung jalan berduaan. Pikirannya mulai kembali dan dengan cepat ia menarik tangannya dari Jongin.
"Um... baiklah, kurasa aku bisa pergi ke halte sendiri sekarang. Kamsahamnida." Ujar Sehun dengan cepat sembari membungkukan tubuhnya. Lalu ia pun berlari meninggalkan Jongin yang terlihat sangat terkejut.
"Sehun, itu-" Jongin terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi Sehun sudah berbelok. "Jalan yang salah. Aish... jinjja!"
Sehun terus saja berlari tanpa mempedulikan panggilan Jongin tadi. Ia panik. Benar-benar panik. Bagaimana tidak? Hampir saja hyungnya dan Lay hyung melihatnya berjalan berdampingan dengan Jongin berdua, terlebih dengan Jongin yang memegang tangannya. Ia tidak bisa membayangkan reaksi apa yang akan hyungnya tunjukan saat melihatnya.
Tapi tunggu dulu, kenapa mereka berjalan berduaan seperti itu?
Sehun mengacak-acak rambutnya frustasi. Kenapa juga ia harus berlari seperti itu dan tiba-tiba saja meninggalkan Jongin seperti itu. Pasti dia marah. Bagaimana ini?
Sehun tiba-tiba merasakan tangannya basah. Ia menengadahkan kepalanya dan melihat langit yang berwarna gelap. Kenapa ia tidak menyadarinya? Dan sepertinya tuhan sedang membencinya karena tiba-tiba saja hujan lebat turun. Membuat seluruh tubuhnya basah kuyup karena ia sama sekali tidak membawa payung. Dan bodohnya bukannya berlari, ia malah terdiam di tempat. Entahlah Sehun juga tidak mengerti.
Lebih baik ia segera ke halte. Sehun berjalan kembali. Ia melihat ke sekitar namun ia sama sekali tidak mengenali tempat ini. Sehun menghela nafasnya. Sepertinya ia salah berbelok tadi dan sekarang ia tersesat dan... basah. Benar-benar nasib buruk.
"Sepertinya kau tersesat." Tiba-tiba saja Sehun merasakan ada seseorang yang melindunginya dari hujan. Sehun membalikan badannya dan melihat namja yang ia kenal tengah tersenyum padanya.
"Tao?" Sehun benar-benar merasa bingung. Kenapa namja ini selalu ada dimana pun ia tersesat seperti ini? "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sehun penasaran.
"Aku kebetulan sedang mencari peralatan wushu baru dan sayang sekali aku tidak menemukan sesuatu yang bagus jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan saja." Jelas Tao.
Sehun tiba-tiba saja teringat kejadian saat di taman waktu itu. Sehun pun segera menjauh dari lindungan payung Tao dan menatap namja china itu dengan tatapan bingungnya. Sehun sebenarnya masih bingung dengan perkataan Tao atas dirinya saat itu.
Tao menghela nafasnya mengerti keadaan Sehun yang menjadi kebingungan atas dirinya semenjak kejadian saat itu. Ia pun menarik tangan kecil namja manis di hadapanya ini dan mendekapnya dalam pelukannya, tidak peduli kalau bajunya akan basah karena namja manis yang ia peluk ini sudah sangat basah kuyup. "Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak ingin kau berubah membenciku." Ujarnya pelan. "Sebaiknya kita pulang. Aku akan mengantarmu." Dan setelah itu Tao pun menuntunnya berjalan menuju ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.
~END OF FLASHBACK
Sehun kembali mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar bingung sekarang. Pertama Jongin, namja yang selalu ingin ia lihat kembali setelah sekian lama yang membuatnya bingung dengan perasaannya sendiri. Dan sekarang sahabat kecilnya juga membuatnya sama frustasinya.
"Aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini."
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Apa hyungnya kembali lagi untuk mengeceknya atau eommanya yang kembali untuk merengek padanya?
"Tuan muda, ada teman-teman anda yang ingin menjenguk." Ujar suara seorang maid dan setelah itu pun pintu kamarnya terbuka. Memperlihatkan teman-teman sekolahnya yang datang menjenguknya. Walaupun dalam hatinya ini adalah sesuatu yang sia-sia karena mugkin besok ia sudah bisa bersekolah kembali.
"Sehunnie~" Taemin lah yang pertama kali berlari ke arahnya dan memeluknya erat seperti yang biasa ia lakukan. "Aku merindukanmu." Rengeknya. Sehun hanya bisa tertawa mendengar penuturan temannya itu.
Di belakang Taemin terlihat Chen, Baekhyun, Chanyeol dan ... Jongin dan Tao?
Sebenarnya yang membuat Sehun bingung adalah kenapa kedua namja itu terlihat seperti ingin membunuh satu sama lain dan tiba-tiba saja berubah ekspresinya saat melihat dirinya. Ia tidak mengerti.
.
.
.
Jongin sama sekali tidak mengerti mengapa dirinya dan empat orang temannya ini berada di dalam mobil namja yang paling ia benci saat ini. Padahal ia berniat menjenguk Sehun seorang diri. Ya, hanya seorang diri.
Kalau saja Taemin tidak memaksa untuk ikut Tao dan kalau saja namja china itu tidak mengetahui rumah Sehun mungkin saat ini ia sedang berduaan dengan namja manis itu. Ah... ia lupa mengatakan bahwa sekarang sudah menerima keadaannya yang menyukai namja manis itu. Toh percuma saja terus-terusan menyangkal kalau tubuhnya terus saja menunjukan reaksi aneh itu.
"Kita sudah sampai, tuan muda." Ujar sopir pribadi namja china itu. Dengan segera kelima namja yang berada di dalam mobil tersebut berterima kasih pada sang sopir lalu keluar dengan tidak sabaran.
Keempat namja yang baru pertama kali datang ke rumah keluarga Oh hanya mampu terbengong saat masuk ke dalam rumah megah nan mewah tersebut. Mereka disambut oleh maid-maid yang sepertinya sudah mengetahui kedatangan mereka. Sepertinya si namja china yang memberitahu para maid itu.
Salah satu maid pun mempersilahkan kelima namja itu untuk mengikutinya menuju ke kamar Sehun begitu Tao selesai berbicara dengannya. Keempat namja itu mengangguk –masih dengan keadaan terbengong- terkecuali Jongin yang memang pernah kemari sebelumnya. Dan sepertinya beberapa maid masih mengingatnya jika dilihat dari sikap mereka yang –agak- berbeda terhadapnya.
Begitu sampai di kamar Sehun, maid tersebut mengetuknya dan meminta izin pada sang tuan untuk memasukinya. Maid tersebut membuka pintunya perlahan dan dapat Jongin lihat Sehun yang tengah terduduk di ranjangnya. Taemin langsung berlari ke arahnya dan memeluk namja manis itu erat.
"Sehunnie~ aku merindukanmu."
Jongin memutar matanya mendengar rengekan sepupunya itu. Jongin pun mengalihkan pandangannya dari Taemin yang tengah memeluk Sehun erat pada sang namja china, mencoba melihat ekspresi apa yang akan ditunjukan namja itu. Dan entah ini kebetulan atau apa, pandangan mereka bertemu dan itu membuat Jongin merasa kesal. Bagaimana tidak? Tatapan namja itu seolah berkata 'Lihatlah-perbuatanmu-ini-namja-kepedean!'
Cih, dia pikir ini salahnya. Bukan salahnya kalau namja manis itu sakit. Salahkan cuaca yang tidak menentu dan sikap sang namja manis yang tiba-tiba berlari meninggalkannya. Dan jangan lupakan fakta bahwa namja manis itu salah berbelok hingga ia tersesat dan membuat Jongin harus mencarinya dengan susah payah karena ternyata namja itu berlari sangat cepat. Jadi ini bukan sepenuhnya salahnya kan?
Tapi tentu saja bukan hanya itu alasan yang membuat Jongin sangat kesal pada sang namja china.
~FLASHBACK
Saat itu Jongin berlari dengan sekuat tenaga. Ia berniat menyusul Sehun yang salah berbelok dan pastinya akan tersesat. Tapi ia tidak menyangka bahwa lari namja manis itu akan sangat cepat. Jadilah ia kehilangan jejaknya.
Jongin melihat ke arah langit yang sudah sangat gelap. Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Dan seingatnya Sehun sama sekali tidak membawa payung. Dengan perasaan sedikit panik Jongin terus mencarinya. Entah mengapa hari ini banyak sekali orang berkeliaran.
Rintik hujan mulai turun dengan sangat cepat. Jongin semakin panik saja karena hujan lebat tiba-tiba saja turun. Ia semakin menggencarkan pencariannya hingga akhirya ia dapat melihat baju biru sang namja manis yang ia cari-cari. Namun ada hal yang membuatnya terkejut.
Kehadiran seorang namja china yang saat ini tengah memeluk Sehun. Jongin menatap kedua namja itu dengan terkejut. Sang namja china yang bernama Tao itu melihat ke arah Jongin. Ia menatapnya dengan tatapan dingin namun Jongin tahu benar apa maksud dari tatapan itu.
Itu adalah tatapan deklarasi perang.
Jadi namja itu bermaksud mendeklarasikan perang dengannya untuk memperebutkan Sehun? Ia pikir dia takut apa.
Baru saja Jongin akan menghampiri kedua namja itu namun sang namja china sudah membawa Sehun menjauh.
~END OF FLASHBACK
Sepertinya itu menjelaskan kenapa mereka saling menatap dengan tatapan ingin membunuh satu sama lain. Dan saat mereka menatap Sehun ekspresi mereka akan langsung berubah 180 derajat.
Setelah sekitar satu jam mereka berada di rumah Sehun akhirnya mereka memutuskan untuk pulang saja. Walaupun dalam hati Taemin masih ingin tetap disini untuk menemani temannya itu.
"Kalian pulang duluan saja, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan Sehun." Ucap Jongin saat Taemin mengajaknya pulang. Ketiga namja –yang sama sekali tidak mengetahui apapun itu menatap Jongin dengan terkejut. Pasalnya seingat mereka Jongin terlihat selalu menghindar untuk berduaan saja dengan Sehun. Dan sekarang?
Taemin hanya tersenyum kecil saja. Ia mengangguk mengerti dan menyeret trio beagle line itu untuk ikut dengannya.
"Aku juga akan tetap disini." Kini giliran Tao yang angkat bicara, ia sepertinya tidak ingin membiarkan Jongin berduaan saja dengan Sehun. Terlihat dari tatapan dinginnya pada sang namja tan yang juga menatapnya dingin.
"Kau harus mengantarkan kami!" ujar Taemin saat mendengar penuturan Tao. Ia dengan susah payah menyeret Tao pergi dari kamar Sehun yang tentu saja mendapat protes tidak ingin dari Tao.
"Kalian bisa pulang sendiri! Ada sopirku yang akan mengantar kalian!" Tao masih terlihat meronta diseret oleh Taemin, sebenarnya ia terkejut dengan kekuatan yang dimiliki namja manis yang jauh lebih kecil darinya ini. "YA! LEE TAEMIN LEPASKAN AKU!"
Akhirnya setelah Taemin berhasil menyeret Tao yang terlihat masih meronta akhirnya ia berdua juga dengan Sehun. Sebelum meninggalkan mereka berdua, sepupunya itu mengedipkan matanya dahulu pada Jongin. Dan Jongin terlihat menyeringai mendapatkan kedipan itu. Sepertinya ia dapat pendukung dalam perangnya dengan Tao.
Jongin pun menatap Sehun yang menatapnya dengan tatapan bingungnya. Jongin mengambil kursi yang berada di dekat meja belajar Sehun dan mendudukan dirinya di samping ranjang Sehun. Ia memegang tangan Sehun dalam genggamannya dengan erat. Ia ingin memastikan sekali lagi jika perasaannya tidak salah.
Jongin menatap Sehun dalam dan kembali ia merasakan jantungnya berdetak dengan cepat namun ia menyukainya. "Sehun."
"N-ne?"
Jongin masih tetap menatapnya, kali ini ia tersenyum pada sang namja manis yang wajahnya sudah sangat memerah. Ia mendekatkan tangan Sehun pada jantungnya. "Kau merasakannya?" tanya Jongin. Sehun mengangguk pelan. "Apa kau tahu artinya?" tanya Jongin sekali lagi namun kali ini Sehun menggelengkan kepalanya. Jongin pun melepaskan genggamannya.
Ia kini berdiri di hadapan Sehun dan kembali tersenyum pada sang namja manis. Ia mendekat ke arah ranjang sang namja manis itu dan mendekatkan kepalnya pada Sehun.
Jantung Sehun berdetak sangat cepat saat Jongin mendekatkan kepalanya. Ia menutup matanya dengan kuat, takut-takut Jongin berniat menciumnya –walaupun ia sendiri tidak yakin. Namun ia tidak merasakan apapun, ia hanya mendengar suara berat Jongin yang berada tepat di telinganya.
"Kurasa... aku menyukaimu Oh Sehun." Dan setelah itu Jongin pun mengecup Sehun di keningnya. Lalu berjalan pergi keluar kamarnya. Namun sebelum pergi ia melirik ke arah Sehun yang kini tengah memegangi keningnya yang tadi di cium Jongin. "Dan akan aku pastikan kau menjadi milikku."
Jongin pun keluar dari kamar Sehun, meninggalkan pemiliknya yang hanya bisa terdiam dengan wajah yang sangat merah dan jantung yang berdetak tidak karuan.
"Bagaimana ini?"
.
TBC
oOo
Sorry for the late update -_-
Gak tahu kenapa tiap mau ngerjain fic ini, mood saya selalu ilang. Dan ujung-ujungnya saya cuma bisa diem di depan laptop tanpa bisa ngetik sepatah katapun.
Mian, kalo misalnya chapter yang ini tidak memuaskan.
Saya ngerasa kalo chapter yang ini itu... a bit jumbled *you know what i mean right?*. idenya kacau balau kalo menurut saya -_-
Mianhae karena lagi-lagi saya gak bisa bales review. Entahlah, pikiran saya sedang kacau saat ini dan saya malas –lagi-. Tapi saya baca kok setiap reviewnya dan saya merasa terharu membacanya karena saya masih gak nyangka ada yang bakal review FF yang idenya kacau kayak gini.
Sekali lagi kamsahamnida bagi yang telah membaca dan mereview FF ini
For last
If you don't mind
Review please?
